Sejarah krisis ekonomi dunia sudah cukup panjang. Pada dekade-dekade sebelumnya krisis ekonomi seperti mempunyai siklus. Krisis ekonomi akan terjadi berulang setiap tujuh tahun dan proses recovery akan berjalan dalam 10 bulan. Dalam era chaos sekarang ini, seperti yang disampaikan Philip Kotler dalam bukunya “Chaotics”, siklus ekonomi tersebut sudah tidak bisa diprediksi lagi. Jadi belajar memahami krisis sangat penting dalam proses belajar marketing dan sharing marketing ideas.

Dalam krisis ekonomi antisipasi dari berbagai perusahaan yang sering kita dengar adalah cost-cutting. Apakah cost-cutting memang mampu memeberikan kontribusi signifikan dalam sustainability usaha dalam masa krisis? Inilah fokus dapa posting blog belajar marketing dan sharing marketing ideas kali ini.

Dalam Wall Street Journal hari ini (22/7), dilaporkan bahwa Starbucks berhasil membukukan profit di atas ekspektasi pada kuartal ketiga periode fiskalnya, walaupun terdapat penurunan trafik pelanggan dan rata-rata penjualan. Jadi pasti pencapaian profit ini dibantu oleh aktivitas dan kebijakan cost-cutting. Hal ini memang dilakukan oleh Howard Schultz yang kembali menjadi CEO Starbucks pada Januari 2008. Beberapa aktivitas cost-cutting yang dilakukan Starbucks antara lain: menutup beberapa outletnya, negosiasi ulang beberapa perjanjian sewa, mengurangi jumlah bakery suppliers, dan meningkatkan efisiensi dari tokonya. Aktivitas ini diimbangi dengan secara paralel melakukan revitalisasi toko dengan mengembalikan aroma dan image dari toko-tokonya menjadi seperti awal kejayaan Starbucks dengan cara mengubah cara Starbucks menyiapkan dan menyajikan kopi kepada pelanggannya.

Pada BtoB Magazine juga dilaporkan trend belanja iklan di Amerika juga menurun menunjukkan bagaimana kebijakan cost-cutting dilakukan banyak pelaku usaha. Kondisi ini diwakili oleh Daily Alert majalah tersebut pada tanggal 13 Juli 2009 yang didominasi oleh trend tersebut: “Magazine ad pages continue to decline”, “Magna says U.S. ad spending will fall 14.8% this year”,”Report: “BusinessWeek’ for sale”, “Study: Social network ad spending tapers off”. Bahkan belanja iklan pada media yang sedang tumbuh sekarang: situs social media, juga diprediksi mengalami penurunan sebesar 3% pada tahun ini.

Bertolak belakang dengan kondisi ini, terdapat survey yang dilakukan oleh BtoB Magazine yang dirilis pada reportnya kemarin (21/7). Dilaporkan dari survey terhadap 979 business executives pada berbagai industri, terdapat trend optimisme sehingga 42% menyatakan akan meningkatkan marketing budget-nya, sedangkan 43% menyatakan akan mempertahankan budget marketing. Pernyataan ini dibarengi oleh ekspektasi perbaikan pada kinerja penjualan. Hanya 15% yang menyatakan prediksi penjualan akan turun, dibandingkan dengan survey sebelumnya di mana terdapat 37% responden yang menyatakan penjualan akan turun.

Jadi apakah crisis = cost cutting, dan kalau cost cutting harus dilakukan, bagaimanakah sebaiknya dilakukan? What do you think? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini