Kali ini posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas mengenai Perbankan Syariah. Berbicara mengenai tantangan Perbankan Syariah pada masa yang akan datang, tidak lepas dari perkembangan industri perbankan sekarang ini. Kondisi dan perkembangan industri perbankan juga tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi global yang dipicu salah satunya dari sektor finansial yang lekat dengan industri perbankan pada tahun 2008. Kemudian, bagaimanakah perkembangan industri ini dalam masa krisis ekonomi global yang diprediksi berbagai pihak masih akan terus berlanjut?

perbankan Gambaran yang bisa dijadikan referensi salah satunya dari Deloitte ( klik http://www.deloitte.com ), sebuah kelompok kantor akuntan internasional besar di dunia. Terdapat beberapa perubahan paradigma dalam perkembangan dewasa ini, salah satunya adalah pergeseran fokus perbankan dari “alpha-market” ke “beta-market”. Alpha merupakan istilah untuk produk yang mempunyai profil high return / high risk. Menurut New York Times pada laporannya tanggal 16 April 2009, industri perbankan di Amerika Serikat telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk dua bank yang mendapat dampak sangat besar dari krisis ekonomi global, Citigroup dan Bank of America. Walaupun dikatakan beberapa sektor masih banyak mengalami kesulitan, antara lain layanan kartu kredit dan private equity.

New Wave Marketing

Nah… saya kira akan menarik kalau kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mencoba menerapkan new wave marketing dalam mendukung perkembangan perbankan syariah. Perkembangan yang juga harus menjadi perhatian kita adalah pasar atau pelanggan itu sendiri. Thomas L. Friedman, dalam bukunya mengungkapkan “The World is Flat” untuk menggambarkan dunia sebagai “level playing field” di mana semua kompetitor mempunyai kesempatan yang sama di pasar global. Kemudian Hermawan Kartajaya dalam bukunya “New Wave Marketing” mengungkapkan, “the world is still round, but the market is already flat”. Konsekuensinya terdapat perubahan paradigma dalam pemasaran menuju “many to many marketing” atau New Wave Marketing”, di mana interaksi antar pelanggan menjadi penting. Interaksi ini sebelumnya dikenal dengan istilah words of mouth atau buzz. Fenomena buzz menjadi lebih dominan dengan adanya perkembangan telekomunikasi yang memungkinkan interaksi yang luar biasa, terutama didukung oleh perkembangan internet.

Formulasi strategi marketing yang meliputi segmentasi, targeting dan positioning (STP) ditransformasikan menjadi Communitization, Confirming dan Clarifying. Pada level taktik: diferensiasi, marketing mix (yang terdiri dari 4P: Product, Price, Place, Promotion) dan Selling menjadi Coding, Crowd Combo (terdiri dari 4C: Co-Creation, Currency, Communal Activation dan Conversation) dan Commercialization. Pada tataran Value, yang meliputi Brand, Service dan Proses menjadi Character, Caring dan Collaboration. Sehingga secara keseluruhan bertransformasi menjadi formulasi 12C.

Kemudian bagaimana Perbankan Syariah menjawab tantangan perubahan di pasar tersebut? Implementasi New Wave Marketing menjadi salah satu jawaban dalam menghadapi tantangan tersebut. Pertanyaan berikutnya, bagaimana implementasi spesifik dari konsep tersebut dalam Perbankan Syariah? Apa potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank konvensional dalam menerapkan New Wave Marketing?

Karakter perbankan syariah yang spesifik dan citra layanan yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat memungkinkannya untuk lebih cepat diterima di beberapa komunitas, terutama di Indonesia. Sehingga seperti yang dirilis gulfnews.com pada tanggal 1 Agustus 2009, market share perbankan syariah Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia di kawasan Asia Tenggara. Dalam many to many marketing, peran komunitas menjadi sangat penting. Potensi besar ini menjadi tantangan perbankan syariah untuk menerapkan New Wave Marketing.

Seperti yang saya ulas dalam tulisan sebelumnya di blog ini, salah satu tantangan terbesar dalam implementasi New Wave Marketing adalah perubahan cara berpikir atau mindset. Konsep baru tersebut melibatkan perubahan paradigma dalam beberapa aspek pemasaran, mulai dari tahap strategis sampai taktis. Sehingga untuk bergeser diperlukan perubahan budaya organisasi, karena paradigma yang baru mungkin berbeda dengan espoused belief atau underlying assumptions yang berkembang dalam suatu organisasi, dalam hal ini perbankan.

Budaya organisasi menurut Edgar H. Schein, dapat direpresentasikan dalam tiga level, yaitu Artifacts, Espoused Beliefs and Values dan Underlying Assumptions. Artifacts adalah struktur dan proses dari suatu organisasi yang mudah dilihat dan dikenali. Espoused Beliefs and Values merefleksikan nilai-nilai yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah dalam praktek suatu organisasi. Atau apa yang merupakan kegiatan yang efektif dan yang tidak efektif. Sedangkan Underlying Assumptions adalah asumsi-asumsi implisit yang menjadi panduan dalam perilaku organisasi. Asumsi yang mendasari cara anggota organisasi tersebut dalam merasakan dan memikirkan mengenai sesuatu.

Tantangan berikutnya adalah dukungan Sharia Core Banking System (SCBS) terhadap implementasi New Wave Marketing. SCBS merupakan kolaborasi antara sistem perbankan dengan teknologi informasi yang terpadu. Berbeda dengan Core Banking System (CBS) untuk bank konvensional, SCBS menyesuaikan dengan prinsip-prinsip Sharia dan peraturan dari bank sentral. SCBS harus mampu mengantisipasi dan mendukung inovasi produk perbankan syariah yang customized untuk bisa mengoptimalkan pemasaran pada komunitas-komunitas yang menjadi sasaran.

Contoh lain tantangan dalam penerapan konsep tersebut adalah aspek Co-Creation yang menggantikan pilar Product dalam konsep pemasaran ‘konvensional’. Konsep ini sebenarnya sesuai dengan salah satu pilar dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yaitu “Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan”. Salah satu pemberdayaan yang bisa diwujudkan adalah melalui proses co-creation. Pertanyaannya adalah bagaimanakah mekanisme co-creation bersama nasabah dalam perbankan syariah? Kedekatan perbankan syariah dengan komunitas-komunitas tertentu bisa merupakan potensi bagi inovasi produk yang mempunyai diferensiasi terhadap produk bank konvensional terutama pada segmen beta-market. Tetapi secara lebih rinci, kita perlu mempelajari rantai nilai perbankan syariah untuk mengidentifikasi peluang co-creation dengan lebih baik.

Agar perbankan syariah bisa meraih keunggulan, terutama dibandingkan dengan bank konvensional, mereka perlu memanfaatkan karakter spesifiknya untuk menerapkan konsep New Wave Marketing. Karakter yang kuat tersebut akan menjadi kompetensi dan diferensiasi yang susah untuk bisa ditiru oleh bank konvensional. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kedekatannya dengan komunitas-komunitas yang menjadi kunci dalam penerapan many to many marketing.

Tetapi bagaimana menurut Anda? Bagaimanakah tantangan perbankan syariah dalam implementasi komponen lain dari 12C dalam New Wave Marketing? Silakan masukan, komentar dan marketing ideas Anda melalui blog ini, klik http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.