Kaos Wedus JogjaPhilip Derrice Frankfureter Kotler atau yang sering dikenal dengan Philip Kotler, salah satu Global Marketing Guru, pada tahun 2009 menjadi co-author buku “Chaotics: The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence” bersama John Caslione. Kemudian disusul pada tahun 2010, bersama Global Marketing Guru dari Indonesia: Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyusun buku “Marketing 3.0”. Apa hubungan kedua buku yang diterbitkan pada waktu yang berdekatan tersebut? Dalam Chaotics, Kotler menyampaikan bagaimana dalam era sekarang adalah era turbulensi di mana terjadi banyak ketidakpastian pada banyak aspek, yang ditandai terutama pada ketidakpastian siklus ekonomi dunia dan perubahan perilaku serta preferensi pelanggan. Nah…. Marketing 3.0 sangat tepat untuk menyikapi perubahan perilaku dan preferensi pelanggan dalam era turbulensi tersebut.

Posting kali ini akan mengupas apa tantangan mendasar dalam menerapkan konsep marketing yang baru ini, seperti posting sebelumnya mengenai tantangan implementasi konsep New Wave Marketing: “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”. Studi kasus marketing yang akan digunakan untuk belajar Marketing 3.0 adalah perjalanan awal kaos khas Jogja dengan brand ”Wedus” dalam menembus kompetisi pasar kaos khas Jogja yang cukup ketat.

Perkenalan saya dengan kaos ”Wedus” terjadi dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jogja, tempat kelahiran kaos ”Wedus”. Ternyata perjalanan mudik selalu membawa banyak inspirasi dalam proses belajar marketing, seperti studi kasus marketing “Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant”, “Low Cost Carrier versi Jogja” dan “Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik”.

Perubahan mendasar pada perilaku dan preferensi pelanggan akhir-akhir ini adalah pelanggan yang semakin cerdas dan semakin kurang percaya dengan aktivitas pemasaran dari produsen. Hal ini didukung oleh pelanggan yang semakin terhubung dalam banyak jaringan dan komunitas, terutama melalui media internet. Oleh karena itu, konsep marketing pun juga harus ikut berubah agar produsen mampu mempertahankan kelanjutan bisnisnya. Dalam Marketing 3.0, konsep intinya adalah evolusi dari product-driven market pada Marketing 1.0, menjadi Differentiation pada Marketing 2.0 dan kemudian pada Marketing 3.0 bergeser ke Value of Product to Consumers Emotion. Jadi salah satu kata kuncinya adalah ”emosi”, seperti pada sub judul bukunya, “From Products to Customers to the Human Spirit”.

Tantangan mendasar penerapan Marketing 3.0 adalah bagaimana menciptakan keterkaitan emosi dengan pelanggan melalui value yang ditawarkan melalui produk dan layanan secara keseluruhan. Dengan dasar itulah, maka salah satu dari 6 penggerak utama kredibilitas brand dalam konsep Marketing 3.0 adalah “Authenticity”. Di mana untuk mencapai authenticity diperlukan nilai-nilai real & sincere atau ketulusan dari produsen. Bagaimana mungkin kita berusaha menciptakan keterkaitan emosi antara value dari produk dengan pelanggan kalau produsen tidak mempunyai keterkaitan emosi yang tulus dengan produknya sendiri? Inilah tantangan mendasar dan terberat, karena di dalam setiap bisnis, obyektif finansial hampir selalu menjadi yang terdepan, menggerus idealisme dan ketulusan, yang sering terjadi seiring berkembangnya bisnis dan struktur organisasi.

Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan Kaos “Wedus”. Saya sempat berdialog dengan penggagas konsep kaos “Wedus” tersebut dan mengamati bagaimana desain dan aktivitas pemasarannya yang baru berusia 2 bulan. Yang kemudian saya tangkap adalah, usaha ini berawal dari idealisme penggagasnya yang mempunyai obyektif bukan hanya finansial. Konsep kaos ini merupakan bagian dari perjalanan emosi para penggagasnya dalam proses menjadi diri sendiri. Emosi dan nilai-nilai tersebut coba digali dan dituangkan dalam karakter desain yang menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dan menjadi media “update status” penggunanya, seperti biasa dilakukan banyak orang melalui social media, seperti facebook atau twitter. Penggunaan bahasa Jawa, sesuai dengan bagaimana mereka melihat pasarnya, yaitu orang Jawa, orang yang berbahasa Jawa, Javanese people atau mereka yang mempunyai keterkaitan emosi dengan Jawa, khususnya Jogja. Berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa (seperti terjadi juga pada bahasa lain) memang terkadang sangat susah untuk diterjemahkan dalam bahasa lain, karena konteks dan filosofi yang berbeda. Penggunanya diharapkan mampu menggunakan kaos ini sebagai media komunikasi kepada lingkungannya yang berpijak dari kebutuhan target pasarnya untuk bereksistensi dalam komunitas dan lingkungannya..

Uniknya lagi konsep distribusinya adalah menggabungkan outlet kaos dengan coffe shops. Saat ini sudah ada 3 coffee shops dengan brand “NYOHI NYOHI”. Lokasinya di kompleks kaki lima Jalan Demangan Baru Jogja, Jalan AM Sangaji utara STM Jetis Jogja dan Jalan Raya Yogya – Klaten. Dalam bahasa plesetan Jogja, Nyohi Nyohi berarti Kopi Kopi. Salah satu counternya juga hadir di deretan kaki lima jalan Malioboro, salah satu tujuan utama wisata di Jogja.

Dalam persaingan kaos khas Jogja yang ketat, mereka berusaha konsisten menjadi dirinya sendiri dan menjaga keterkaitan emosi dengan value produk dan pelanggannya. Terus menghindarkan diri dari kecenderungan menjadi sekedar komoditas kaos oleh-oleh. Walaupun demikian, dalam usianya yang baru 2 bulan, tentu saja ada beberapa peluang pengembangan yang terbuka. Antara lain penajaman targeting dan positioning, meningkatkan brand awareness di pasar melalui desain dan komunikasi pemasaran, dan integrasi promosi melalui media konvensional dan new media. Tetapi sesuai kredo kedua dari 10 kredo Marketing 3.0, penggagas kaos Wedus menyatakan terus berusaha berinteraksi dengan pelanggannya dan siap berevolusi sesuai perubahan landskap bisnisnya. Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai tantangan dan fondasi Marketing 3.0? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.