“Izin RIM Indonesia” sempat masuk dalam trending topics di Twitter beberapa waktu lalu. Berawal dari ultimatum Menkominfo, Tifatul Sembiring kepada RIM (produsen BlackBerry) untuk segera mematuhi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, atau pemerintah akan memblokir layanan browsing BlackBerry pada 21 Januari 2011.

Terdapat tujuh tuntutan utama yang disampaikan Menkominfo. Dari tujuh tuntutan tersebut, pada saat ultimatum tersebut diberikan, empat poin telah dipenuhi oleh RIM, yaitu pembangunan service center di Indonesia, pendirian perwakilan resmi, penyerapan tenaga kerja Indonesia secara layak dan proporsional dan penggunaan konten lokal. Tiga tuntutan yang belum dipenuhi adalah RIM harus patuh pada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, pemblokiran situs porno dan pembangunan server di Indonesia. Tuntutan dari pemerintah untuk blokir situs porno sudah ditekankan sejak bulan Agustus tahun lalu.

Respons pro dan kontra pun berlangsung cukup seru, walaupun ternyata respons negatif lebih mendominasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertama karena pengguna BlackBerry di Indonesia yang terancam terpengaruh kebijakan pemerintah tersebut cukup banyak. Diperkirakan terdapat 2,5 juta pelanggan BlackBerry melalui beberapa operator telekomunikasi.Kedua, bisnis beberapa operator telekomunikasi bisa terganggu. Hal ini diperkuat pernyataan dari Telkomsel, Indosat dan XL yang ditemukan di beberapa media. RIM dan operator telekomunikasi bisa kehilangan potensi pendapatan 200 miliar rupiah lebih tiap bulan. Ketiga, karena sebagian masyarakat ternyata belum paham seluruhnya mengenai permasalahan yang terjadi. Contoh kecil, sebagian belum mengetahui kalau ultimatum blokir tersebut diarahkan pada layanan browsing, sehingga layanan lain seperti BlackBerry Messenger akan tetap bisa digunakan. Begitu juga pemahaman terhadap tujuh tuntutan tersebut, pembahasan pro dan kontra lebih berpusat pada tuntutan blokir situs porno. Padahal esensinya adalah pada tuntutan yang pertama, yaitu RIM seharusnya patuh pada peraturan perundangan di Indonesia. Peraturan yang terkait adalah UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Nah, ijinkan dalam tulisan ini tidak membahas konten dari pro dan kontra tersebut, tetapi lebih membahas konteksnya, yang sangat terkait dengan esensi tuntutan Menkominfo. Terlepas dari pro atau kontra terhadap ultimatum tersebut, pertentangan antara RIM dan Menkominfo ini hanyalah sebagian dari beberapa cerita konflik sebelumnya yang melibatkan RIM dengan otoritas di berbagai negara. Sebut saja pemerintah Uni Emirat Arab, India, Pakistan, Aljazair atau Arab Saudi, seperti dikutip dari pemberitaan di detikinet. Prancis dan Jerman juga dikabarkan melarang penggunaan Blackberry di sebagian jajaran pemerintah, dengan alasan keamanan.

Catatan panjang pertentangan RIM dengan otoritas lokal tersebut, berpotensi membatasi pertumbuhan BlackBerry. Dari laporan penjualan ponsel pintar pada triwulan ketiga 2010 yang dirilis Gartner, penjualan BlackBerry terus anjlok. Blackberry hanya mampu mengambil 14,8% pangsa pasar, turun dari 20,7% dari periode yang sama tahun 2009. Pangsa pasar yang hilang tersebut, terutama dilibas oleh Apple (16,7%) dan ponsel pintar berbasis Android (25,5%) yang terus tumbuh.

Gejala ini mau tidak mau harus menjadi perhatian dari RIM. Yang harus dilakukan pertama kali oleh RIM adalah melihat kembali orientasi bisnisnya. Di dalam pasar yang semakin horizontal, tuntutan terhadap bisnis yang lebih berorientasi secara proporsional terhadap ProfitPeople dan Planet seperti yang digagas dalam konsep Marketing 3.0 semakin besar. Marketing 3.0 adalah konsep marketing yang berfokus pada kemanusiaan, atau human-centricity.

Profit yang diperoleh RIM di pasar Indonesia, menurut Sekjen Indonesia Telecommunications Users Group M. Jumadi, berkisar 20 juta dollar per bulan, tanpa membayar pajak dan biaya internet service provider. Jumlah yang tidak sedikit. Kini saatnya RIM untuk mau lebih mengarahkan orientasi bisnisnya kepada People dan Planet untuk membangun bisnis yang berkelanjutan. Orientasi kepada People menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam bisnis RIM yang terus mendunia. Salah satunya harus diwujudkan dalam keberpihakannya juga pada kepentingan lokal, antara lain diwakili oleh otoritas telekomunikasi negara setempat. Jadi, apa kabar RIM, sudahkah Anda menerapkan Marketing 3.0?