(cdn.pocket-lint.com)

(cdn.pocket-lint.com)

Beberapa tahun terakhir, Nokia tampak kewalahan menghadapi fenomena serbuan Apple iPhone, Android dan Blackberry pada pasar ponsel pintar. Pangsa pasar ponsel pintar Nokia terus tergerus. Akhirnya gelar penguasa pasar harus diserahkan kepada ponsel pintar berbasis Android pada kuartal IV 2010. Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu yang lalu, adalah apa langkah strategis yang akan diambil Nokia menghadapi tantangan tersebut. Dan akhirnya terjawab dengan langkah Nokia menggandeng Microsoft, seperti diulas dalam “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”. Windows Phone akan menjadi platform andalan pengembangan ponsel pintar atau smartphone Nokia berikutnya.

Tetapi langkah tersebut memicu berbagai pertanyaan lain. Efektifkah langkah strategi kemitraan dengan Microsoft tersebut? Mampukah Nokia membalikkan keadaan, kembali mencetak pertumbuhan positif dalam meraih pangsa pasar. Kenyataannya, keraguan masih meliputi para investor, yang diindikasikan dengan harga saham Nokia yang masih cenderung turun setelah pengumuman kerjasama dengan Microsoft. Sebetulnya apa saja tantangan kerjasama strategis Nokia dan Microsoft dalam memenangkan pasar ponsel pintar? Berikut beberapa hal yang bisa menjadi tantangan Nokia dan Microsoft.

Tantangan pertama justru datang dari internal Nokia. Kerjasama strategis dengan Microsoft menguatkan arah Nokia untuk kembali ke kompetensi kuncinya di pengembangan perangkat keras. Hal ini membawa konsekuensi bagi Nokia untuk mengurangi jumlah karyawan. Potensi pengurangan karyawan terjadi khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pengembangan berbagai perangkat lunak. Sebelum ini pengembangan sistem operasi Symbian dan MeeGo menjadi tumpuan Nokia, sebelum beralih ke Windows Phone. Ovi Store dan Ovi Maps juga direncanakan menjadi bagian dari pengembangan aplikasi Microsoft. Kebijakan ini langsung mendapatkan penolakan dari karyawan Nokia. Seperti diberitakan gadgetell.com, karyawan di fasilitas Nokia di Tampere, Finlandia melakukan aksi protes. Aksi protes ditujukan untuk menentang kebijakan Nokia untuk mengadopsi platform Windows Phone pada sebagian besar ponsel pintarnya.

Tantangan berikutnya juga datang dari pihak yang selama ini dekat dengan Nokia, yaitu Intel. Pengembang teknologi prosesor ternama ini terlibat penuh dengan Nokia untuk mengembangkan MeeGo. MeeGo adalah sistem operasi berbasis Linux yang disiapkan sebagai platform untuk perangkat mobile, dan salah satunya adalah ponsel pintar Nokia. Keputusan Nokia untuk fokus pada Windows Phone, tentu saja akan menghentikan penggunaan MeeGo lebih jauh. Pasti, keputusan ini disesalkan oleh Intel yang mengembangkan prosesor Atom untuk ponsel pintar dan Netbook. Sebelumnya Nokia sudah mempunyai satu seri ponsel pintar berbasis MeeGo, yaitu Nokia N9-00. Berakhirnya kemitraan strategis dengan Intel ini pasti akan mempengaruhi perkembangan Nokia.

Kemudian yang patut diperhatikan adalah relatif terlambatnya keputusan strategis ini. Apple, Google dan RIM sudah terlebih dahulu saling berpacu di pasar ponsel pintar. Bukan hanya Nokia yang terlambat. Microsoft pun juga bisa dibilang terlambat mengembangkan Windows Phone 7. Penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Windows Phone sampai dengan saat ini diberitakan baru mencapai 2 juta unit. Angka yang jauh di bawah penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Apple iOS, Android atau BBOS. Tantangan bagi Nokia dan Microsoft untuk membangun diferensiasi yang nyata bagi pengalaman pelanggan melalui produk dan layanan mereka. CEO Nokia, Stephen Elop bercita-cita membangun diferensiasi tersebut dengan bergabung dalam ekosistem Microsoft yang punya brand kuat di dunia industri ICT (Information and communication technology).

Sebagai market challenger atau market follower, mereka harus menentukan strategi yang tepat. Segmen manakah yang akan mereka tuju menjadi krusial. Berdasarkan beberapa survey, Apple dan Android kuat pada segmen muda, sedangkan Blackberry lebih kuat pada segmen yang lebih dewasa. Referensi: Today’s iPhone Users are Young, Rich, and Technically Savvy, Android is for Boys? Segmen mana yang akan ditetapkan sebagai tempat bermain akan sangat menentukan strategi berikutnya. Karena di tiap segmen, terdapat lawan-lawan yang kuat dan terus memacu inovasi produk dan layanannya. Beberapa waktu yang lalu Apple akhirnya menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat meluncurkan Verizon iPhone. Penawaran ini menyita perhatian besar dari pasar di Amerika Serikat. Seri terbaru iPhone, yang diberi nama iPhone 5 dikabarkan sudah siap segera meluncur. Aplikasi di Apple AppStore mencapai 300.000 aplikasi. Google Android yang didukung banyak pabrikan ponsel, seperti Samsung, HTC, LG, Motorola juga tidak berhenti berinovasi. Pengembangan customized dari masing-masing pabrikan ponsel justru menjadi kelebihan Android menjangkau kebutuhan dan keinginan pasar. Antara 150.000 sampai 200.000 aplikasi di Market Android menjadi salah satu sumber customer experience andalannya. Google juga diberitakan mengincar akuisisi Twitter, bersaing dengan Facebook. Ekosistem Apple dan Android terus berkembang. Sistem open-innovation yang dipraktekkan Apple dan Google terbukti ampuh memberi kontribusi bagi kemajuan keduanya.

Tantangan selanjutnya sebagai follower, bagaimana mendapatkan dukungan dari operator telekomunikasi untuk mempercepat penyerapan pasar. Skema penawaran iPhone, Android dan Blackberry saat ini sudah sangat berkembang. Beberapa di antaranya merupakan bundling dengan layanan broadband dari berbagai operator telekomunikasi. Nokia perlu mempertimbangkan dukungan dari para operator untuk bisa membuat skema penawaran yang menarik dan punya diferensiasi bagi pasar. Ekosistem device, aplikasi dan network kini menjadi penting dalam memenangkan kompetisi di industri ICT.

Nah, apabila kerjasama Nokia & Microsoft ini belum bisa menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah godaan untuk berpaling ke lain hati. Misalnya kerjasama dengan Google untuk menggunakan platform Android. Konsekuensi bila bergabung dengan Google, adalah bersaing dengan pabrikan lain yang sudah lebih dahulu melejit, khususnya rivalnya dari Korea dan Cina: Samsung dan HTC.

Tetapi peluang selalu ada. Nokia dan Microsoft juga pasti mempunyai rencana untuk mengembangkan fitur-fitur dan layanan yang akan membentuk ekosistem dan value-chain unggulan. Strategi market follower yang digagas Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya “Marketing Warfare” juga bisa jadi referensi. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Apa tantangan lain bagi Nokia dan Microsoft dan bagaimana peluang mereka dalam persaingan di pasar smartphone? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.