Tulisan studi kasus pemasaran kali ini ditulis setelah pada hari ini (26/09/2011), Inc. Magazine merilis sebuah artikel yang berisi tantangan. Tantangan tersebut ditujukan untuk segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM): “A Challenge to the Small Business Image”. Dari hasil survey University of Chicago Booth School of Business, hanya 5% – 6% UKM yang mendaftarkan paten, copyright atau trademark dalaam 5 tahun pertama. Bahkan 80% pemilik UKM menyatakan tidak berniat berinovasi dengan mengembangkan teknologi atau proses baru.

Survey ini memang dilakukan terhadap UKM di Amerika Serikat dan sayangnya saya tidak menemukan referensi mengenai survey mengenai inovasi UKM di Indonesia. Ada yang mau membantu berbagi informasi? Tetapi Bappenas mengemukakan bahwa diakui daya saing UKM Indonesia masih rendah dibandingkan UKM di kawasan regional Asia Pasifik. Bahkan di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia atau Philippines. Apalagi pemerintah Cina dikabarkan akan meningkatkan fokusnya kepada UKM. Menurut survey Doing Business 2011 versi International Finance Corporation (IFC), peringkat daya saing UKM Indonesia turun. Hal ini dirilis oleh kantor berita Antara di antaranews.com. Daya saing sangat erat kaitannya dengan inovasi. Proses inovasi adalah bentuk daya saing yang berkelanjutan, karena berlandaskan pada transformasi.

Kemudian, apa hambatan dalam proses berinovasi di UKM? Silakan sebut berbagai macam sebabnya, mulai dari tingkat pengetahuan dan ketrampilan sampai iklim usaha . Tetapi yang hampir pasti selalu dikeluhkan sebagai hambatan atau tantangan adalah sumber daya, terutama dari sisi keuangan. Tetapi tantangan yang mendasar adalah fokus terhadap proses inovasi itu sendiri. Dengan asumsi yang terus bertahan bahwa inovasi membutuhkan sumber daya yang besar, maka bisa saja UKM memalingkan diri dari fokus dan upaya dalam proses inovasi. Menyerah sebelum berperang. Terbukti dari hasil survey di atas.

Kemudian saya teringat akan istilah Elegant Solutions yang digagas oleh Matthew E. May. Coba perhatikan data ini. Toyota berhasil mengimplementasikan 1 juta ide tiap tahun, berarti sekitar 3.000 ide per harinya. Jadi sumber inovasi ini dihasilkan bukan dari kemampuan finansial Toyota yang hebat. Tetapi sumbernya adalah fokus dan kedisiplinan Toyota dalam menjalankan proses berinovasi, yang dilakukan oleh semua jajaran di organisasi tanpa kecuali. Menghasilkan ide perbaikan sekecil apa pun selalu dimotivasi dan dihargai. Inilah jalan awal dari proses inovasi Toyota yang sering menjadi panutan di berbagai organisasi di seluruh dunia.

Inovasi jangan dipandang sebagai sesuatu yang megah dan mewah, sebuah solusi yang memecahkan masalah besar dengan cara yang luar biasa sehingga menguras sumber daya yang sangat banyak. Inovasi bukanlah hasil super team yang hanya berisikan orang-orang pilihan yang brilian di dalam suatu organisasi. Inovasi tidaklah selalu melibatkan teknologi super canggih. Inovasi lebih merupakan solusi pada masalah-masalah yang nyata yang dihadapi setiap hari. Proses yang menuntut setiap orang tanpa kecuali untuk berperan serta. Seperti studi kasus pada Toyota di atas. Perbaikan yang berkelanjutan, hari demi hari. Ide demi ide. Sedikit demi sedikit. Kekuatan dalam sebuah kesederhanaan. Angka 3.000 implementasi ide per hari di Toyota adalah angka yang fantastis. Tetapi dengan pemahaman tersebut angka tersebut bukanlah mustahil. Istilah disruptive innovation adalah sesuatu yang mewah, tetapi hanya bisa dihasilkan dari kedisiplinan pada continuous innovation. Oleh karena itu lingkungan kondusif harus dibentuk dengan dipimpin oleh keteladanan para leader dalam mengambil resiko dan disiplin berinovasi.

Seperti pada konsep elegant solutions, merujuk kepada solusi yang optimal yang dicapai dengan usaha dan sumber daya yang minimal. Konsep yang memberi inspirasi bagi UKM bahwa kekuatan finansial bukanlah suatu hambatan. Mungkinkah elegant solutions hadir dalam kehidupan yang nyata di dalam organisasi? Asumsi dan belief yang berkembang dan selalu kita dengar adalah solusi = sumber daya besar, yang membuat rintangan di dalam pikiran kita. Rintangan yang kita bangun sendiri. Tetapi organisasi seperti Toyota telah membuktikannya. Sebuah penelitian tentang inovasi yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 juga menunjukkan bahwa masalah besar bukan pada kekuatan finansial yang diperlukan. Masalah utama adalah pada keteladanan dan kurangnya pendekatan inovasi kesisteman yang disiplin.

Lalu, bagaimana mencapai dan menemukan elegant solutions? Dari berbagai studi dan penelitian yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 tersebut, salah satu pendekatan yang efektif adalah systems thinking. Systems thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang didahului dengan identifikasi masalah secara komprehensif. Memperhatikan dinamika berbagai faktor yang terlibat yang saling mempengaruhi dalam suatu sistem. Sehingga solusi yang dihasilkan akan mampu menyelesaikan inti atau sumber permasalahan dengan tepat. Solusi yang tidak harus rumit, tetapi efektif. Saya juga akan coba membahas systems thinking dalam beberapa posting selanjutnya di blog ini. Karena saya secara pribadi juga sangat tertarik dan mencoba menerapkannya dalam berbagai masalah. Anda juga penasaran dan tertarik? Mari berbagi, dan berdialog dan menunjukkan bahwa UKM Indonesia juga mampu berinovasi dan meningkatkan daya saing di level global. Bagaimana menurut pendapat Anda, mampukah UKM Indonesia berinovasi, dan bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam menumbuhkan inovasi di UKM. Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional ini: http://kopicoklat.com.