Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka Lebaran tahun ini diwarnai dengan persaingan bisnis di jalur mudik. Persaingan ini cukup menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Berbagai posko layanan mudik bertebaran di sepanjang jalur mudik di seluruh Indonesia. Persaingan tampak lebih seru dengan pertempuran media promosi below the line, mulai dari spanduk, umbul-umbul, banner sampai digital signage.

mudikAgen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) mobil berlomba menyediakan jasa layanan purna jualnya. Sebagian di antaranya beroperasi 24 jam penuh. Nissan Motor Indonesia menyediakan 5 lokasi Nissan Rest Point (NRP) yang beroperasi 24 jam. NRP melengkapi 27 bengkel siaga yang beroperasi pada jam kerja biasa. Isuzu menyiapkan 8 lokasi posko siaga 24 jam, melengkapi 23 lokasi bengkel siaga. Dealer terbesar mobil Toyota, Auto2000 menyebar 11 lokasi posko siaga dan 4 bengkel siaga yang beroperasi 24 jam. PT Indomobil, ATPM dari mobol Suzuki menyiapkan 25 posko siaga di lima wilayah di Indonesia. Tiap posko biasanya juga dilengkapi berbagai layanan gratis, seperti kursi pijat, TV kabel, takjil gratis, dan lain-lain. Beberapa ATPM juga menyediakan mobile services yang siap melayani pemudik.

ATPM motor juga tak kalah seru bersaing, apalagi jumlah pemudik yang menggunakan motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Yamaha menyediakan 3 pos jaga dan 8 bengkel jaga. TVS menggelar 4 posko di Jawa. Suzuki mendirikan 37 posko siaga di berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakannya dengan posko mudik ATPM mobil adalah adanya layanan pengawalan bagi rombongan pemudik yang menggunakan motor.

Persaingan posko layanan mudik yang juga tampak mencolok adalah antara operator telekomunikasi. Telkom Group menggelar 26 posko Telkom Peduli. Indosat menyediakan 138 posko mudik di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Posko Mudik XL didirikan di 27 lokasi di jalur utama arus mudik. Posko mudik operator telekomunikasi biasanya banyak dilengkapi dengan fasilitas gratis yang bersifat umum melayani kebutuhan pemudik (pijat, tempat istirahat, takjil, minuman, dll), melengkapi layanan spesifik terkait produk dan layanan telekomunikasi.

Persaingan yang juga tak kalah seru juga terjadi di produsen mie instan, minuman dalam kemasan, produk minuman suplemen dan beberapa produk lain.

Selain untuk meningkatkan company atau product image dan sebagai media promosi, ritual tahunan ini juga merupakan pasar yang potensial. Perkiraan jumlah uang yang dibawa para pemudik bias mencapai triliunan rupiah. Sehingga selain menyediakan fasilitas gratis, banyak posko mudik yang ditujukan untuk meningkatkan penjualan.

Sekilas skema layanan posko mudik dari berbagai produsen tidak jauh berbeda, membuka peluang untuk diferensiasi. Tetapi pada tahun ini diwarnai juga oleh perubahan skema layanan mudik yang disiapkan menuju skema yang lebih efektif dan efisien, belajar dari implementasi pada tahun-tahun sebelumnya. Honda, misalnya, tidak menyediakan posko siaga seperti beberapa tahun sebelumnya. Tahun ini, Honda lebih memilih mengoptimalkan bengkel resminya untuk menyediakan bengkel siaga di jalur mudik, terdiri dari 52 bengkel yang beroperasi pada jam kerja dan 13 bengkel yang beroperasi 24 jam. Suzuki mengalokasikan separo dari jumlah poskonya untuk fokus di jalur pantai utara Jawa. Mazda hanya fokus di H-3 sampai dengan H+3, saat posko layanan mudik lainnya biasanya digelar selama 2 minggu, dari H-7 sampai dengan H+7.

Lokasi posko layanan mudik pun terus dimodifikasi. Pada tahun ini, menurut pengamatan saya, tampak peningkatan jumlah posko layanan mudik yang ditempatkan di SPBU. SPBU memang merupakan salah satu tempat berhenti favorit bagi banyak pemudik, mengingat bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan penting dalam perjalanan. Selain itu, SPBU biasanya dilengkapi dengan toilet dan area parkir yang memadai. Sasaran berikutnya yang menjadi lokasi posko layanan mudik adalah rumah makan atau rest area di jalan tol, terutama rumah makan yang selama ini menjadi preferensi banyak pemudik. Untuk tujuan mudik yang memakan waktu lama, rumah makan memang menjadi tempat penting untuk beristirahat dan mengisi perut. Beberapa lokasi lain yang dipilih antara lain: masjid, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, alun-alun kota dan daerah rawan kemacetan seperti Nagrek, Kanci dan kawasan Puncak.

Jadi, dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di blog belajar marketing & sharing marketing ideas ini, tampak bahwa skema, lokasi dan bahwak objective dari posko layanan mudik ini terus berevolusi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangannya adalah produktivitas, efisiensi, persaingan atau gerakan dari para kompetitor dan identifikasi kebutuhan dari pemudik. Posko layanan mudik juga menjadi langganan dari industri-industri tertentu, membuka peluang bagi pemain di industri yang selama ini belum terjun untuk membuat posko layanan yang baru dan unik. Beberapa pemain di industri yang menjadi langganan penggelar posko mudik pun tampak tidak banyak ikut bertempur di jalur mudik.

Bagaimanakah sebenarnya skema posko layanan mudik yang efektif, sesuai objective dari pendirian posko tersebut? Atau posko layanan mudik mana yang menjadi favorit Anda selama ini? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. Masukkan pendapat Anda dengan klik “tinggalkan komentar” atau “leave a comment” di bagian atas tulisan ini, atau cukup isi Fun Polling di menu sebelah kanan bawah blog ini.

Many to Many Marketing Gaya Paris van Java Mall Bandung?

Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.

pvj-mallDiferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.

Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.

Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.

Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.

Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.

Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?

Posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas kali ini mengenai salah satu trend di pasar gadget telekomunikasi sekarang adalah Blackberry. Demam Blackberry juga terjadi di Indonesia. Karena harganya masih relatif cukup tinggi, maka pada beberapa segmen pelanggan mencari alternatif untuk memperoleh “Blackberry” dengan membeli gadget serupa dari produsen selain RIM (Research In Motion). Produsen yang merilis gadget serupa kini cukup banyak, baik produsen lokal maupun beberapa produsen dari Cina, Korea dan Eropa. Gadget serupa dari produsen lokal atau dari Cina dicari karena memberikan harga yang jauh lebih ekonomis. Beberapa jenis gadget serupa yang dirilis bundling dengan layanan dari beberapa operator telekomunikasi tersedia dengan harga di kisaran 1 juta-an, jauh dari harga Blackberry RIM yang ada di kisaran 4 juta-an atau lebih, tergantung tipe. Walaupun ada beberapa Blackberry ilegal yang dijual di bawah harga 4 juta, terutama Blackberry Curve.

blackberryTetapi perang antara RIM dan Apple dalam memasarkan Blackberry dan iPhone memberikan alternatif pembeli untuk memperoleh Blackberry RIM dengan harga jauh lebih ekonomis, bahkan setara dengan gadget serupa produksi lokal atau Cina. Seperti di Indonesia saat ini, di pasar global Blackberry mulai mendapatkan tantangan dari Apple iPhone di pasar smartphone. Baru-baru ini di Amerika Serikat, Apple iPhone 3G dirilis dengan harga US$ 99 setelah disubsidi. RIM beraliansi dengan Verizon, salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Amerika Serikat, merespon dengan meluncurkan Blackberry Storm dengan harga senilai US$ 99 atau turun 50% dari harga sebelumnya, dengan mekanisme penawaran “Buy One, Get One Free”.

Fenomena price war ini sangat menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Bahkan pada bulan ini, menurut consumerreports.org, T-Mobile meluncurkan paket baru Blackberry Curve 8520 seharga US$ 50. Dengan asumsi kurs US$ 1 sekitar 10.000 rupiah, maka harganya “hanya” sekitar 500.000 rupiah. Harga ini bahkan lebih rendah dari smartphone produksi Cina atau Korea. Di Amerika Serikat paket HTC Touch Pro dan Samsung Omnia pada paket bundling dengan layanan dari Verizon dijual pada harga US$ 100. Pada kuartal pertama tahun ini, penjualan Apple iPhone berada di posisi kedua penjualan smartphone di Amerika Serikat, terus membuntuti Blackberry Curve yang masih memimpin. Sedangkan posisi ketiga diisi oleh Blackberry Storm (hasil riset NPD Group).

Salah satu tujuan penurunan harga Blackberry tersebut, tentunya untuk mempertahankan market share dengan berusaha meningkatkan jumlah penjualan, mengantisipasi serangan kompetitor. Tetapi pola pricing dari T-Mobile tersebut juga mengantisipasi customer lifetime value-nya dengan memperpanjang periode kontrak berlangganan dan meningkatkan biaya paket penggunaan bulanan pada jumlah tertentu. T-Mobile menyediakan paket berlangganan unlimited seharga US$ 125 per bulan dengan komposisi US$ 100 untuk unlimited domestic voice, US$ 25 untuk unlimited Blackberry/Internet. Harga ini jauh lebih tinggi dari harga penjualan Blackberry Curve-nya yang “hanya” US$ 50. Paket loyalty plan-nya pun masih lebih tinggi dari US$ 50, yaitu senilai US$ 85 yang ditujukan untuk pelanggan tertentu yang memenuhi syarat. Jadi dengan penawaran paket tersebut, selain berusaha meningkatkan jumlah customer base-nya, mereka juga mencoba mempertahankan customer base dari serangan kompetitor dengan menciptakan switching barriers.

Latar belakang lain penurunan harga Blacberry Curve oleh Verizon dan RIM adalah adanya rencana peluncuran model baru Blackberry (Storm 2) yang diprediksi akan dirilis bulan November tahun ini. Dalam forum online pelanggan Verizon (forums.verizon.com), beberapa pelanggan sudah mampu membaca hal ini, karena pola penurunan harga paket Blackberry biasanya memang hampir selalu terkait munculnya model atau tipe baru dua sampai tiga bulan kemudian. Sehingga mereka mempunyai waktu beberapa bulan sebelum peluncuran model atau paket baru, yang dipergunakan untuk membersihkan inventori dari paket lamanya.

Bagaimanakah pendapat Anda mengenai respon dari Blackberry terhadap serangan kompetitornya tersebut? Please share your marketing ideas @ my marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Film “Meraih Mimpi”: Harapan Bangkitnya Kreativitas di Industri Film Indonesia

Peran diferensiasi sangat besar dalam menentukan keberhasilan pemasaran. Sehingga diferensiasi menjadi pokok bahasan yang menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Dari sembilan elemen dalam konsep pemasaran yang diusung Hermawan Kartajaya, strategi kuncinya dirumuskan lebih sederhana dalam segitiga PDB (Positioning, Differentiation, Branding) di mana tampak bahwa Diferensiasi menjadi salah satu elemen dalam core strategy. Dalam konsep New Wave Marketing, sembilan elemen pemasaran tersebut bertransformasi menjadi 12C. Diferensiasi bertransformasi menjadi Coding atau lebih lengkapnya “Coding Your DNA”. Diferensiasi atau Coding memegang peranan penting dalam membentuk pembeda yang otentik dari suatu produk, layanan atau perusahaan yang membedakannya dari produk, layanan atau perusahaan lain sehingga akan mampu menarik bagi target market tertentu. Pada akhirnya, diferensiasi akan berkontribusi dalam sustainability dari perusahaan tersebut karena merupakan sumber dari keunggulan kompetitif dari perusahaan.

meraih_mimpiDi dalam era hyper-competition seperti sekarang, diferensiasi sangat membutuhkan kreativitas. Bagaimana dengan industri film Indonesia sekarang ini? Beberapa pakar dan media akhir-akhir ini memandang industri film Indonesia mulai bangkit, setelah terpuruk sejak krisis ekonomi di akhir dekade 90-an. Pendapat ini dikuatkan dengan mulai meningkatnya komposisi film Indonesia di berbagai bioskop di tanah air. Tetapi data dari Lembaga Sensor Film Indonesia pada awal bulan Agustus 2009 menunjukkan bahwa pada tahun ini lebih dari separuh film Indonesia bertema horor. Dan dari separuh sisanya, didominasi dari kloning film-film India, Hongkong, China, Thailand, Korea atau Amerika. Dari data tersebut, belum nampak kreativitas dan diferensiasi kuat dari film Indonesia. Sehingga sustainabilitas dari “kebangkitan” industri film Indonesia masih diragukan. Salah satu sutradara film Indonesia, Jose Poernomo juga berpendapat dalam pernyataannya di showbiz.liputan6.com bahwa saat ini industri film Indonesia belum bisa dikatakan bangkit, karena kreativitas belum berkembang. Kurangnya kreativitas tersebut merupakan masalah sistemik yang kompleks, karena dengan sistem yang ada sekarang, aliran dana pembuatan film akan terfokus pada genre atau jenis film tertentu yang sempit, misalnya film horor. Sehingga perkembangan kreativitas akan terhambat.

Oleh karena itu apresiasi bagi Infinite Works (IFW) yang memproduksi film “Meraih Mimpi”, bekerja sama dengan The Media Development Authority of Singapore (MDA) dan MediaCorp Raintree Pictures. Film ini merupakan film animasi 3D pertama yang diproduksi Indonesia. Versi pertama dari film ini diluncurkan di Singapura, dan diproduksi bersama beberapa artis Singapura untuk pengisi suara, dengan judul “Sing to the Dawn”. Menurut IFW, hal ini dilakukan karena mereka mentargetkan pengakuan internasional terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke pasar domestik.

Uniknya, dalam sebuah liputan media Singapura, MDA, sebuah institusi di bawah koordinasi Kementrian Infokom Singapura, mengatakan bahwa film ini merupakan inisiatifnya yang didukung dengan alokasi dana sebesar 40% dari total biaya produksi. Sumber ceritanya sendiri memang dari novel karya penulis Singapura, Minfong Ho, dengan judul “Sing to the Dawn” yang dirilis tahun 1975. Novel ini merupakan buku wajib bagi beberapa sekolah dasar di Singapura. Tetapi faktanya, 80% produksinya dikerjakan oleh Indonesia dan dilakukan di studio animasi di Batam. Sekitar 150 orang dari Jogja, Bandung, Solo direkrut di Batam sebagai animator, dibantu lima orang asing. Versi Indonesianya dengan judul “Meraih Mimpi” disutradari oleh Nia Dinata dan direncanakan akan premier pada tanggal 8 September 2009. Erwin Gutawa berperan untuk melakukan komposisi ulang musiknya. Pengisi suara diperkuat oleh Gita Gutawa, Cut Mini, dan Shanty.

Apresiasi bagi IFW, karena dari berbagai aspek, film ini seperti oasis dalam industri film Indonesia. Sumbangan kreativitas dari film ini diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam pembentukan diferensiasi dan kekuatan dari film Indonesia. Juga sumbangan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Walaupun dari beberapa komentar penonton film versi bahasa Inggrisnya, “Sing to the Dawn”, film ini belum bisa dibandingkan dengan film animasi 3D produksi Pixar atau DreamWorks, tetapi kreativitas tema dan penggarapannya kita harapkan akan mampu menjadi salah satu pemicu kreativitas lain dalam industri film nasional. Menurut Nia Dinata, film ini mengandung unsur pendidikan, komedi dan kesadaran akan lingkungan hidup dalam kemasan cerita tentang kakak beradik yang berusaha melindungi tempat tinggal dan lingkungan mereka dari kontraktor penipu. Bagi yang penasaran dengan film-nya bisa cek movie trailernya di youtube http://www.youtube.com/watch?v=0XsgYZRyWIM

Ruang bagi kreativitas industri film nasional sebenarnya terbuka lebar. Apalagi dari menurut laporan JPNN, dalam dua tahun belakangan ini, pasar film nasional lebih diramaikan dengan tambahan penonton dari segmen ibu-ibu rumah tangga, serta komunitas yang sebelumnya tidak masuk dalam segmen pasar perfilman nasional.

Bagaimanakah menurut Anda? Apakah kira-kira potensi diferensiasi bagi film Indonesia? Perlukan peran pemerintah dalam mengembangkan kreativitas di industri film nasional dengan fakta bahwa film “Meraih Mimpi” justru merupakan inisiatif dan sebagian dananya berasal dari pemerintah Singapura padahal 80% produksinya oleh dan di Indonesia? Please share your comments dan marketing ideas @ marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Mbah Surip dan Fenomena Angsa Hitam

Mbah Surip adalah sosok yang mampu memberi inspirasi, termasuk memberi inspirasi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas mengenai industri musik Indonesia. Bagaimanakah kita bisa menggambarkan industri musik Indonesia saat ini? Beberapa kondisi yang bisa mewakili antara lain: industri musik Indonesia saat ini didominasi oleh group band muda, artis atau presenter tenar yang kemudian terjun ke dunia nyanyi dan pada umumnya mengusung aliran musik pop dengan beberapa variasi. Group band atau penyanyi akan mencapai puncak popularitas saat usia muda dan mulai menurun saat usia beranjak senja, tidak terkecuali misalnya salah satu diva musik pop Indonesia: Kris Dayanti atau KD. Lagu, baik single maupun dalam album akan tenar saat awal perilisannya yang dibarengi dengan promosi yang gencar. Tarif lagu maupun artis musisi akan berbanding lurus dengan tingkat popularitasnya.

reggae Tetapi mbah Surip yang bernama lengkap Urip Ariyanto dan lahir pada tanggal 5 Mei 1949, merupakan pengecualian dari semua kondisi di atas. Beliau bagaikan “pencilan” dalam statistik di industri musik Indonesia. Beliau mencapai puncak popularitas justru di saat usianya senja, 60 tahun. Lagu-lagunya baru saja populer pada tahun ini, 2009, padahal sudah dirilis sejak beberapa tahun silam. Sebagai contoh lagu “Tak Gendong” sudah dirilis tahun 2003 dalam album dengan judul yang sama. Di dalam album tersebut juga terdapat lagu “Bangun Tidur” yang juga tidak kalah populer baru-baru ini. Menurut salah satu versi media, RBT lagu “Tak Gendong” dipakai oleh jutaan pelanggan layanan komunikasi seluler yang bernilai ratusan juta rupiah lebih bagi penyanyinya. Nilai RBT lagu tersebut akan jauh lebih besar bagi operator, karena operator seluler memperoleh 63% lebih dari nilai penjualan RBT, sedangkan artis / penyanyi hanya memperoleh 4,5%. Di saat popularitasnya mencapai puncak, harga CD album mbah Surip tetap dijual dengan harga Rp 20.000,- Harga ini jauh lebih murah dari harga CD album penyanyi lainnya yang biasanya dijual pada kisaran Rp 40.000,- atau lebih. Harga CD album mbah Surip yang jauh lebih murah tersebut tidak lepas dari komitmen beliau yang tidak ingin meraup untung terlalu besar dari penjualan albumnya.

Kemudian bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena mbah Surip tersebut di tengah industri musik Indonesia? Karena fenomena ini sangat menarik bagi kita untuk belajar marketing, apalagi untuk sharing marketing ideas. Dalam salah satu wawancara di stasiun televisi swasta kemarin, Minggu, 9 Agustus 2009, seorang sahabatnya menyampaikan pada awalnya banyak yang pesimis akan nilai komersial dari lagu-lagu mbah Surip, bahkan dikatakan produsernya pun tidak yakin. Hal ini menunjukkan fenomena mbah Surip pada awalnya susah untuk diprediksi akan bisa terjadi dengan lonjakan popularitas seperti sekarang ini. Beberapa pakar di industri musik Indonesia kemudian mencoa menjelaskan fenomena tersebut. Bisnis RBT menyebabkan beberapa pergeseran, antara lain lagu yang sederhana dan kuat pada bagian refrain-nya akan lebih menjual, sehingga lagu-lagu mbah Surip yang berkesan sederhana sesuai dengan selera pasar. Tetapi penjelasan ini masih parsial, belum bisa menjelaskan bagaimana popularitasnya melambung sebagai pribadi. Topik mengenai wafatnya beliau sempat menjadi “Trending Topics” di twitter mengalahkan topik mengenai Michael Jackson. Masyarakat Mojokerto berencana membangun monumen mbah Surip. Sebuah jalan di Belitung (cmiiw) yang penuh dengan penjual minuman kopi, yang menjadi inspirasi istilah “I Love You Full”, akan dinamakan Jalan Mbah Surip. Sebuah liputan di salah satu stasiun TV swasta kemarin membahas kepergian dua seniman: WS Rendra dan Mbah Surip. Hal ini secara implisit membuktikan pengakuan kontribusinya terhadap dunia seni di Indonesia, hampir sejajar dengan nama besar WS Rendra.

Beberapa penjelasan lain akan fenomena tersebut terus digali. Tetapi menurut saya, Mbah Surip tetaplah “pencilan”. Beliau tetaplah “Black Swan” atau Angsa Hitam dalam industri musik Indonesia. Istilah “Black Swan” dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya “The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable”. Dalam bukunya tersebut, Taleb menyatakan sejarah tidak merangkak tetapi melompat, sehingga sebetulnya banyak hal yang tidak bisa kita prediksi dan tidak bisa kita jelaskan dengan baik. Penjelasan lebih banyak digali setelah esuatu terjadi, seakan-akan kita bisa memahaminya secara komprehensif dan seakan-akan kita bisa memprediksinya. Taleb menyebutnya dengan Triplet of Opacity, yaitu pertama adalah ilusi dari pemahaman manusia, atau bagaimana manusia berpikir mereka memahami betul apa yang terjadi yang sebetulnya jauh lebih kompleks dari yang disadarinya. Kedua, retrospective distortion (maaf saya belum bisa memperoleh terjemahan yang pas), yaitu kecenderungan di mana manusia lebih bisa menjelaskan suatu kejadian setelah semuanya terjadi. Ketiga, kecenderungan overvaluasi dari informasi faktual.

Fenomena Mbah Surip saya kira dekat dengan gambaran tersebut, karena seakan-akan kita memahaminya setelah popularitasnya mencapai puncaknya. Seakan-akan penjelasan-penjelasan tersebut bisa dengan tepat memprediksi bila terdapat seniman lain yang sesuai dengan kriteria tersebut akan juga mampu mencapai puncak popularitas di industri musik Indonesia. Fenomena mbah Surip lebih mirip dengan fenomena Black Swan yang sebetulnya tidak bisa kita pahami secara menyeluruh dengan tepat.

Tetapi bagaimanakah pendapat Anda? Apakah fenomena ini termasuk Black Swan atau sebetulnya fenomena ini sederhana saja, dan bisa dijelaskan dengan tepat dan mudah? Sehingga fenomena Black Swan adalah sekedar ilusi? Ataukah pemahaman kita akan fenomena inilah yang merupakan ilusi? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!

Bagi kita yang sedang belajar marketing, mungkin sudah cukup familiar dengan istilah “New Wave Marketing”, yang dipopulerkan oleh Hermawan Kartajaya. Jadi sekarang mari kita sharing marketing ideas mengenai implementasi new wave marketing. Formulasi strategi marketing yang meliputi segmentasi, targeting dan positioning (STP) ditransformasikan menjadi Communitization, Confirming dan Clarifying. Pada level taktik: diferensiasi, marketing mix (yang terdiri dari 4P: Product, Price, Place, Promotion) dan Selling menjadi Coding, Crowd Combo (terdiri dari 4C: Co-Creation, Currency, Communal Activation dan Conversation) dan Commercialization. Pada tataran Value, yang meliputi Brand, Service dan Proses menjadi Character, Caring da Collaboration. Sehingga secara keseluruhan bertransformasi menjadi formulasi 12C.

mindset Dalam belajar marketing, khususnya new wave marketing, sangat penting untuk memahami latar belakang munculnya konsep tersebut. Salah satu esensi dari transformasi ini adalah perubahan dari era vertical marketing menuju horizontal marketing. Era horizontal ini salah satunya bisa kita pahami dari buku Thomas L. Friedman berjudul “The World is Flat”. Saat ini konsep new wave marketing sudah mulai berkembang secara komprehensif dari berbagai sumber. Kita sudah bisa menemukan berbagai referensi yang gres dari konsep dalam tiap aspek 12C tersebut. Best practices juga sudah mulai banyak kita temukan mengenai implementasi dari horizontal marketing tersebut. Contohnya adalah bagaimana Starbucks dan Coca Cola membangun conversation melalui facebook. Member dari Starbucks pages sudah mencapai 3,7 juta orang dan tercatat sebagai tertinggi di facebook. Member Coca Cola pages mencapai 3,5 juta orang.

Kemudian, pertanyaannya adalah apakah tantangan implementasi dari new wave marketing ini? Imho, tantangan terbesar dari suatu organisasi yang telah mempraktekkan dan menikmati buah dari horizontal marketing adalah mengubah mindset!

Budaya organisasi menurut Edgar H. Schein, dapat direpresentasikan dalam tiga level, yaitu Artifacts, Espoused Beliefs and Values dan Underlying Assumptions. Artifacts adalah struktur dan proses dari suatu organisasi yang mudah dilihat dan dikenali. Espoused Beliefs and Values merefleksikan nilai-nilai yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah dalam praktek suatu organisasi. Atau apa yang merupakan kegiatan yang efektif dan yang tidak efektif. Sedangkan Underlying Assumptions adalah asumsi-asumsi implisit yang menjadi panduan dalam perilaku organisasi. Asumsi yang mendasari cara anggota organisasi tersebut dalam merasakan dan memikirkan mengenai sesuatu.

Salah satu contoh tantangan mengubah mindset dalam menjalankan fungsi marketing dan mengembangkan new wave marketing ideas dalam suatu organisasi adalah dalam aspek promosi. Bila penjualan suatu produk mulai menurun, maka dalam aspek promosi biasanya akan disikapi dengan peningkatan intensitas promosi melalui iklan. Hal ini bisa terjadi karena sudah tertanam espoused beliefs bahwa peningkatan intensitas promosi melalui iklan berkorelasi tinggi terhadap volume penjualan. Espoused beliefs tersebut berkembang dari pengalaman anggota organisasi dalam menjalankan fungsi marketing. Dan pengalaman ini telah melampaui social validation, melalui sharing pengalaman dan keyakinan akan hal tersebut dari anggota-anggota organisasi. Dalam periklanan, espoused beliefs yang biasanya berkembang juga adalah iklan melalui media above the line adalah sangat ampuh dan efektif mampu mencapai target yang luas. Sehingga organisasi akan ‘rela’ membayar mahal untuk melakukan komunikasi pemasaran melalui iklan di media above the line.

Sehingga usaha penerapan Conversation (yang menggantikan Promotion) akan menemui tantangan untuk mengubah espoused beliefs dalam organisasi tersebut. Conversation akan mengubah preferensi komunikasi pemasaran dari fokus pada media above the line kepada media below the line atau ke media-media alternatif, seperti social networking. Conversation lebih menuntut organisasi untuk lebih mengenali pelanggannya dan lebih konsisten dalam membangun komunikasi dua arah. Dua tuntutan tersebut sangat bertolak belakang dengan metoda yang sebelumnya telah diyakini ampuh, yaitu iklan above the line yang lebih bersifat mass dan komunikasi vertical satu arah. Apalagi perubahan orientasi komunikasi pemasaran tersebut akan mengubha juga orientasi alokasi sumber daya organsasi, termasuk sumber daya finansial. Faktor tranformasi kompetensi individu dan organisasi juga akan menjadi penentu dalam mendukung perubahan mindset.

Untuk mengubah mindset tersebut diperlokan change management yang menuntut komitmen seluruh anggota organisasi, terutama dari para senior leaders. Mengapa senior leaders? Karena dinamika dari proses pembentukan dan manajemen budaya organisasi adalah esensi dari kepemimpinan.

Tetapi, bagaimana menurut Anda? What do you think? Apakah tantangan terbesar dalam implementasi new wave marketing? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Customer Loyalty Program Sudah Kehilangan Kesaktiannya?

Customer loyalty merupakan bagian dari value dari proses marketing yang penting. Mari kita coba share marketing ideas mengenai customer loyalty dan tantangannya untuk belajar marketing. Berapa dari kita yang menggunakan credit card, secara aktif melakukan cek poin reward? Berapa yang kemudian dengan aktif dan konsisten menukarkan poin reward tersebut dengan hadiah? Apakah bila ada provider credit card lain yang memberi penawaran bebas iuran tahunan untuk tahun pertama dan diskon langsung di beberapa merchant, misalnya sejumlah restoran favorit dan toko elektronik ternama, kita tetap bertahan, loyal kepada provider existing, karena sudah ada program poin reward dari provider existing?

Saya coba search beberapa artikel marketing di internet, dan saya belum mendapatkan cerita sukses akhir-akhir ini dari customer loyalty program dengan model ini.

frequent-flyers Program mileage atau frequent flyer dari berbagai maskapai penerbangan pun kini menghadapi tantangan baru, sehingga dituntut marketing ideas untuk mengantisipasi tantangan tersebut. Low fares airlines menjadi fenomena baru di industri penerbangan komersial. Tehran Times, dalam laporannya tanggal 25 Juli 2009, menyebutkan bahwa Singapore Airlines semakin kehilangan pelanggan loyalnya karena adanya persaingan dari low fares airlines, atau yang mereka sebut dengan ”McDonald’s Model Carriers”. Singapore airlines diprediksi akan membukukan profit tahunan paling buruk dalam dua dekade terakhir, sebagai efek dari kehilangan banyak pelanggannya. Di sisi yang lain, Jetstar Asia dan Air Asia terus menambah pesawat-pesawatnya dengan pesawat baru karena market share yang tumbuh dua kali lipat sejak 2005.

Sebuah penelitian terhadap Tesco, international supermarket chain yang bermarkas besar di Inggris, menunjukkan bahwa Tesco Club Card sudah tidak efektif dalam lingkupnya sebagai customer loyalty program. Loyalitas pelanggan lebih ditentukan oleh kondisi dan lokasi dari supermarket yang mampu memenuhi ekspektasi pelanggan.

Seorang pakar marketing yang punya banyak pengalaman dalam melakukan customer loyalty program sehingga kita bisa banyak belajar marketing, Peter G. Wray, juga menyebutkan bahwa cara-cara lama dalam customer loyalty program sudah tidak ampuh lagi.

Apakah memang customer loyalty program dengan metode lama sudah kehilangan kesaktiannya? Dari rekomendasi hasil penelitian terhadap Tesco Club Card yang telah disebutkan di atas, memang perlu dilakukan transformasi terhadap Tesco Club Card agar kembali efektif. Peter G. Wray juga mengusulkan perlunya skema baru dari customer loyalty program yang berbasis pada permission marketing. Dan kuncinya adalah pada customer perceived value. Dalam teori Service Relativitiy, rumus dari customer perceived value (V) sama dengan result (R) dikurangi ekspektasi (E), atau V = R – E. Kumar & Tushoo dalam tulisannya mengani customer loyalty program di abad ke-21, merekomendasikan pemanfaatan teknologi tinggi untuk meningkatkan customer experience. Customer loyalty program juga diarahkan untuk melibatkan experiential reward sebagai diferensiasi dan antisipasi terhadap kebosanan pelanggan terhadap cara lama dari program loyalitas.

What do you think? Bagaimana sebetulnya cara yang ampuh untuk memperoleh customer loyalty program yang efektif? Please share your opinions and marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Film “Merah Putih”: Nasionalisme dalam Industri Film Indonesia

“Merah Putih”, sebuah film yang merupakan awal dari Trilogi Merdeka akan segera dirilis pertengahan bulan Agustus 2009 dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-64. Film ini disutradari oleh Yadi Sugandhi dengan produser Jeremy Steward. Trilogi Merdeka merupakan hasil kerjasama Margate House dan PT Media Desa. Di belakang PT Media Desa adalah pengusaha yang tercatat dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Globe Asia, Hasyim Djojohadikusumo. Hasyim adalah saudara dari Prabowo Subianto, calon wakil presiden dari partai Gerindra yang berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri dalam Pemilihan Presiden tahun 2009 yang baru lalu.

merah-putih Biaya yang dikeluarkan untuk trilogi tersebut cukup fantastis untuk ukuran film Indonesia: 60 milyar rupiah. Jumlah dana tersebut memang sebanding dengan ambisinya untuk mampu menghadirkan film yang tidak kalah kualitasnya dengan film produksi Hollywood. Special effect diserahkan kepada Adam Howard, yang pernah menangani film “Saving Private Ryan”, “Harry Potter: Secret of the Sorcerer’s Stone” dan “Black Hawk Down”. “Saving Private Ryan” dan “Black Hawk Down” adalah film produksi Hollywood yang bergenre sama dengan film “Merah Putih”, yaitu berlatar belakang masa perang. Skenario ditulis oleh Rob Allyin, seorang jurnalis New York Times. Yadi Sugandhi sebelumnya adalah penata gambar untuk salah satu film terpopuler di Indonesia saat ini: “Laskar Pelangi”. Para aktor yang membintangi film ini juga cukup dikenal dalam industri film Indonesia: Lukman Sardi, Doni Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, T Rifnu Wikana, dan didukung aktris pendatang baru Rahayu Saraswati dan Astri Nurdin.

Bagi yang ingin cari informasi lebih jauh mengenai film tersebut, jangan ragu-ragu, klik saja gambar poster film di tulisan ini. Bagi yang sudah nonton, boleh juga share komentar di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas ini.

Ambisi dari pembuatan film ini tidak berhenti di situ, promosi dari film ini direncanakan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia, Australia, Perancis, Inggris, Belanda dan Amerika. Penayangan perdana film tersebut akan digelar secara serentak di seluruh jaringan bioskop 21 dan Blitzmegaplex pada 13 Agustus 2009.

Terlepas dari rencana promosi film tersebut ke sejumlah kawasan, bagaimanakah muatan nasionalisme dalam film ini mampu memberi pengaruh dalam pemasarannya di dalam negeri? Terus terang saya agak kesulitan mencari kajian atau hasil penelitian untuk belajar marketing khususnya mengenai pengaruh muatan nasionalisme dalam pemasaran suatu produk. Padahal sejauh yang saya ketahui, cara ini sudah banyak digunakan oleh para pemasar. Beberapa contoh yang masih segar dalam ingatan kita antara lain pemasaran Maspion dan Pertamina,.

Dalam sebuah penelitian pengaruh nasionalisme dalam pemasaran brand China di pasar dalam negerinya, nasionalisme merupakan positive force. Tetapi pengaruhnya dalam brand biasanya adalah dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, pengaruhnya tetap akan ditentukan oleh customer experience dalam interaksi dengan produk atau brand tersebut. Penelitian tersebut dilakukan oleh Ogilvy & Mather, sebuah perusahaan internasional yang bergerak di di bidang advertising, marketing dan public relation, yang bermarkas besar di New York, Amerika Serikat.

Untuk marketing ideas dalam film “Merah Putih”, nasionalisme bisa juga menjadi positive force dalam pemasarannya di dalam negeri. Momen yang dipilih pun sangat relevan, yaitu dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64. Saat ini masyarakat Indonesia juga sedang diusik rasa nasionalismenya dengan beberapa kejadian, antara lain insiden bom bunuh diri di hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott, Mega Kuningan, 17 Juli 2009, insiden masuknya kapal-kapal Malaysia ke blok Ambalat, dan pengakuan sepihak dari Malaysia terhadap beberapa seni budaya tradisi rakyat Indonesia (Batik, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, dan lain-lain). Saat ini gerakan Indonesia Unite! juga sedang mendapat perhatian masyarakat.

Bagaimana customer experience yang akan mendukung pemasarannya dalam jangka panjang, mengingat film ini adalah bagian dari sebuah trilogi? Sepintas apresiasi penonton film di Indonesia terhadap produksi film dalam negeri tampak meningkat. Proporsi film Indonesia dalam beberapa jaringan bioskop tampak terus meningkat. Apalagi penggarapan film ini yang didukung beberapa ahli yang terlibat dalam beberapa film box office produksi Hollywood diharapkan akan meningkatkan kualitas dari customer experience.

Indonesia memang mempunyai catatan sejarah yang panjang dalam heroisme para pahlawan pejuang kemerdekaan. Makanya saya sedikit heran mengapa film Indonesia masih sedikit yang terinspirasi karya-karya pahlawan tersebut. Saya membayangkan film epik kolosal berjudul “Diponegoro”, “Sudirman”, “Gadjah Mada”, “Puputan Margarana”, “Hasanudin” dan sebagainya yang tidak kalah dengan film epik kolosal lain seperti “Patriot”, “The Alamo”, “Saving Private Ryan” atau “The Last Samurai”. Saya juga bermimpi bagaimana tema ini menjadi salah satu ciri khas film Indonesia, dan kemudian menjadi pesaing film India dengan ciri khas goyangan tari India-nya. Hingga suatu saat salah satu film epik kolosal Indonesia tersebut mengikuti “Slumdog Millionaire” meraih Oscar atau memenangi Festival Film Cannes. Who knows….

What do you think? Bagaimanakah sebetulnya pengaruh nasionalisme dalam pemasaran? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Penjualan Kindle melampaui iPod?

Cerita iPod dan tantangannya menjadi sumber banyak marketing ideas dan membuat belajar marketing menjadi menarik. Tantangan berikutnya dari iPod adalah Kindle. Kindle adalah sebuah e-reader yang dikembangkan atau dipopulerkan oleh amazon.com. Kindle menyediakan akses yang mudah dan cepat ke perpustakaan e-book yang sangat besar untuk didownload ke alat tersebut, sekaligus dengan mudah membaca e-book tersebut. Pada saat membaca e-book menggunakan Kindle, pengguna dapat melakukan text highlight, menambah catatan pribadi dan lookup informasi terkait melalui internet. Pada saat peluncurannya terdapat 90.000 pilihan buku.

Mungkin beberapa tahun yang lalu alat seperti ini baru muncul di beberapa film bertema science-fiction. Tetapi tahun 2008 kurang lebih 500.000 unit kindle terjual. Tahun 2009 Citi Investment Research membuat estimasi penjualan Kindle akan naik menjadi 1.027.000 unit dan pada tahun 2010 menjadi 3.533.000 unit.

Jadi dibandingkan dengan penjualan iPod pada tahun 2008 dan estimasi tahun 2009, maka penjualan Kindle telah melampaui iPod. Tetapi pada tahun 2010 penjualan iPod diestimasikan akan kembali mengungguli Kindle. Walaupun masih ada yang meragukan estimasi penjualan Kindle pada tahun 2009 dan 2010 akan meningkat setajam itu, tetapi penjualan tahun 2008 sudah menunjukkan angka yang fantastis. Perlu diketahui harga Kindle masih tergolong mahal. Versi pertama Kindle dijual dengan harga USD 350 – 379 pada tahun 2008, bandingkan dengan iPod Shuffle yang ‘hanya’ USD 99. Harga Kindle diprediksikan akan terus turun seiring kencangnya adoption rate Kindle di pasar. Harga rata-rata per buku (USD 9.99) juga lebih tinggi dari harga per lagu di iTunes.

Walaupun secara fungsional Kindle dan iPod mempunyai diferensiasi, tetapi ada beberapa karakter di antara keduanya yang mirip. Keduanya adalah ‘player’ yang dilengkapi akses yang mudah ke konten. Salah satu faktor yang membuat iPod perkasa adalah ekosistem yang dikembangkan. Ekosistem iPod (ada juga yang menyebut ekosistem iTunes) adalah ekosistem antara iPod, iTunes, internet dan jaringan content provider. Bahkan ekosistem ini terus berkembang, dengan bergabungnya radio melalui layanan iTunes tagging dan produsen aksesori iPod. iTunes tagging memungkinkan pendengar radio untuk secara lanngsung memperoleh informasi mengenai lagu yang didengarnya di HD Radio Receiver, transfer info tersebut ke iPod, masuk ke playlist di iTunes di mana kita bisa memperoleh preview, membeli dan mengunduh lagu tersebut.

Pertanyaanya adalah bagaimana Kindle mampu menjawab keraguan sebagian pengamat terhadap estimasi pertumbuhan penjualannya? Apakah dengan menurunkan harga yang masih jauh lebih tinggi dari iPod, membuat variasi produk yang lebih banyak yang disesuaikan dengan beberapa karakteristik komunitas penggunanya, atau membangun ekosistem yang lebih luas dan kuat seperti iPod? Share your marketing ideas! Ini tantangan bagi kita yang ingin belajar marketing.

Bagaimana menurut Anda, please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Belajar Marketing dari Kasus Prita vs RS Omni: The Power of Wisdom of the Crowd?

Pasti kita sudah sering mendengar kasus Prita Mulyasari vs RS Omni International Alam Sutera, Tangerang. Mari kita gali marketing ideas untuk belajar marketing bersama. Cerita berawal dari ketidakpuasan pasien / pelanggan RS Omni International bernama Prita Mulyasari terhadap layanan dokter dan administrasi di Rumah Sakit tersebut. Setelah pindah ke RS lain karena ketidakpuasan tersebut, Prita menceriterakan keluhannya melalui e-mail kepada 20 temannya. Tetapi kemudian e-mail tersebut dengan cepat menyebar luas, terutama melalui media internet. Beberapa dokter yang disebut dalam e-mail tersebut dan pihak RS OMni Internasional merasa keberatan dengan kata-kata dalam e-mail tersebut yang sempat menyebutkan bahwa Prita merasa “tertipu”.

Untuk mengantisipasi berkembangnya image negatif terhadap perusahaan, dokter dan pihak RS Omni International menuntut Prita dalam kasus perdata, dan memenangkan kasus tersebut. Permasalahan belum berhenti, tuntutan kepada Prita berlanjut ke kasus pidana pencemaran nama baik. Dalam proses peradilan, Prita sempat dimasukkan dalam tahanan. Sampai titik tersebut, publikasi terhadap kasus ini belumlah “meledak” seperti sekarang. Tetapi setelah penahanan Prita, kasus tersebut menyebar ke berbagai media massa baik media cetak maupun elektronik. Yang fenomenal adalah dukungan kepada Prita yang terus mengalir melalui “cause” di facebook yang hari ini (Rabu, 10/6/2009) pagi sudah melampaui 250.000 orang. Fantastis!

Publikasi kasus inipun menjadi luar biasa. Perhatian berbagai lapisan masyarakat pun tertumpu pada kasus ini. Presiden, wakil presiden, para capres, Komnas HAM, Depkominfo, dan lain-lain menyoal masalah ini. Dan semuanya lebih cenderung medukung Prita Mulyasari. Komisi IX DPR pun sampai memberi rekomendasi Departemen Kesehatan untuk mencabut ijin RS Omni International. Di media internet, berbagai forum diskusi pun tidak kalah serunya, hampir semuanya menyudutkan RS Omni International. Publikasi yang luar biasa ini lebih merupakan publikasi negatif buat RS Omni International.

Tiga hal yang menarik untuk dibahas dalam blog belajar marketing dan sharing marketing ideas ini adalah (1) Sudah tepatkah langkah RS Omni International mengantisipasi publikasi dan berkembangnya image negatif yang berkembang dari surat keluhan pelanggannya melelui media internet dengan cara menuntut Prita, atau bagaimanakah seharusnya? (2) Bagaimanakah langkah yang tepat bagi RS Omni International sekarang, saat publikasi negatif justru lebih dahsyat setelah menuntut Prita? (3) Analisa mengenai peran dan pengaruh online “crowd” dalam era many to many marketing sekarang ini?

Bagaimana menurut Anda? Please feel free to express your marketing ideas and share with us at http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. More marketing cases at http://kopicoklat.com