Mari Berbagi sambil Belajar Marketing Bersama

Untuk merayakan proses belajar kita dalam memahami pemasaran, hari ini diluncurkan versi ebook dari studi kasus pemasaran Indonesia dan Internasional yang kita diskusikan dalam blog http://kopicoklat.com ini.

eBook 43 Studi Kasus Pemasaran Indonesia dan Internasional

E-book ini disusun dari posting dari penulis pada blog di http://kopicoklat.com pada kurun waktu Juni 2009 sampai dengan Juli 2011. Jadi e-book ini dibuat dalam rangka merayakan ulang tahun kedua http://kopicoklat.com bersama teman-teman dan para sahabat. Blog ini merupakan ajang bagi penuangan ide dan pemikiran yang fokus pada studi kasus pemasaran, baik di Indonesia maupun internasional. Pada awalnya, blog tersebut ditujukan untuk bersama-sama belajar tentang pemasaran.

Oleh karena itu untuk menjangkau teman-teman yang ingin belajar pemasaran dengan lebih luas, e-book ini bisa diunduh kapan pun dan oleh siapa pun. Lalu, berapa harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan atau mengunduh e-book ini? Sesuai semangat belajar yang menjadi fondasi blog http://kopicoklat.com, maka Anda bebas menentukan sendiri harga e-book ini. Dan berita gembiranya, kisaran harganya dimulai dari NOL rupiah, atau gratis 🙂

Untuk melakukan pembayaran setelah mengunduh e-book ini, silakan melakukan transfer ke rekening:

Bank Mandiri KCP Jkt Grha Citra Caraka
Nomor Rekening: 070-00-0653258-9
a.n. Arif Swasono

Tentu saja, transfer pembayaran perlu dilakukan hanya apabila Anda menentukan harga e-book ini lebih dari NOL rupiah. Karena petugas bank atau aplikasi e-banking akan menemui kesulitan bila Anda ingin melakukan transfer pembayaran sebesar NOL rupiah 🙂
.
Semua hasil penjualan e-book ini kemudian akan digunakan untuk proses penerbitan sendiri buku ini dalam versi cetak. Buku versi cetak akan didistribusikan secara gratis kepada para pelajar, mahasiswa atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), khususnya Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang membutuhkan. Berdasarkan studi salah satu lembaga riset di Indonesia, salah satu kendala yang umum ditemui di UMKM adalah aspek pemasaran yang belum dikelola dengan baik. Oleh karena itu sebagai kontribusi kita bagi pengembangan UMKM yang berkontribusi 53,1% dari PDB nasional atau sekitar Rp 3.466,4 triliun pada tahun 2010. Kontribusi ini terus menunjukkan pertumbuhan dan bisa menjadi fondasi yang kuat bagi perekonomian nasional.

Dengan cara ini, diharapkan bisa lebih banyak lagi teman-teman dan para sahabat yang kita ajak bersama untuk belajar pemasaran dan berbagi ide dan pemikiran. Semoga cara ini dapat diterima dengan baik, dan berguna bagi kita semua untuk bisa lebih maju, dan ikut sedikit berperan serta memajukan nusantara Indonesia.

Silakan dapatkan, baca, download bukunya di http://www.scribd.com/doc/99665431/The-Right-Marketing-Questions-43-Studi-Kasus-Pemasaran-Indonesia-dan-Internasional atau di  http://kopicoklat.com/download/The_Right_Marketing_Questions.pdf. Have a great and joyful learning, please feel free to give any comments and feedbacks.

Meningkatkan Penjualan dengan Berbagi

Salah satu fenomena di dalam ekonomi Indonesia saat ini adalah lonjakan jumlah kelas menengah. Jumlah kelas menengah tumbuh seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita yang diindikasikan dengan peningkatan GDP (Gross Domestic Product) perkapita Indonesia yang melampaui angka $ 3.000 pada tahun 2011 yang lalu. Dengan meningkatnya kekuatan ekonomi dari kelas menengah akan diikuti dengan fokus pemenuhan kebutuhan hidup yang bergeser. Kebutuhan dasar yang relatif sudah terpenuhi, akan menggeser fokus kelas menengah untuk memenuhi kebutuhan pada level berikutnya, seperti pada hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow. Kebutuhan hidup pada level berikutnya lebih erat dengan aktualisasi diri dan kesadaran manusia sebagai bagian diri dari lingkungan.

Kesadaran akan lingkungan tersebut membuka peluang baru bagi para pelaku bisnis. Peluang ini juga sejalan dengan salah satu tanggung jawab pelaku usaha, yaitu corporate social responsibility. Beberapa perusahaan berusaha menggabungkan tanggung jawab sosial tersebut dalam proses penjualan. Mereka mencoba memanfaatkan kesadaran sosial dari target marketnya untuk bersama melakukan kegiatan berorientasi sosial, tetapi sekaligus mendukung proses penjualan. Cara ini sering disebut juga dengan cause related marketing, yaitu program pemasaran yang diarahkan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah dengan kampanye kesadaran sosial dengan cara menyumbangkan sejumlah uang untuk setiap produk yang dibeli. Salah satu studi kasus pemasaran yang bisa menjadi contoh dari cara ini adalah sabun mandi Lifebuoy dari Unilever. Mulai tahun 2004, Lifebuoy mengkampanyekan gerakan Lifebuoy Berbagi Sehat. Lifebuoy Berbagi Sehat telah mencoba gerakan sosial untuk menggalang sumbangan bagi peningkatan fasilitas kesehatan di daerah yang membutuhkan, antara lain daerah dengan insiden diare tertinggi di Indonesia. Sumbangan ini digalang dengan cara menyisihkan Rp 10,- untuk setiap pembelian sabun mandi Lifebuoy. Pada tahun 2007, Aqua memulai gerakan sosial untuk penyediaan air bersih di daerah yang membutuhkan. Skemanya adalah dengan menyumbangkan 10 liter air bersih untuk setiap pembelian Aqua 1 liter. Coca-cola juga pernah menggunakan skema ini. Bentuk ini menjadi salah satu bentuk yang paling lazim dalam skema cause related marketing.

Bentuk lainnya adalah dengan melakukan gerakan sosial yang terkait dengan solusi yang didukung oleh produk atau brand. Pada tahun 2007, masih dengan Lifebuoy Berbagi Sehat, Lifebuoy menangkap momentum Gerakan Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun yang dicanangkan pemerintah. Lifebuoy mengadakan berbagai kegiatan dalam mendukung gerakan nasional tersebut. Tentu saja ini sejalan dengan komunikasi pemasaran produk sabun mandinya yang sangat terkait dengan gerakan ini. Beberapa jenis kegiatannya meliputi Workshop Guru, Dokter Kecil, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat melalui School Program, Pembinaan Kader Kesehatan dan Mass Media Competition yang berupa lomba liputan berita dengan tema “Sehat Ada di Tangan Kita”. Tentu saja kegiatan ini lebih dekat dengan usaha memperkuat brand daripada pengaruhnya terhadap penjualan langsung.

Gramedia pernah mencoba bentuk yang lebih langsung, yaitu menawarkan kepada para pembeli untuk secara langsung menyumbangkan barang yang dibelinya. Melalui jaringan toko buku Gramedia yang tersebar di seluruh Indonesia, Gramedia menawarkan para pembeli buku di tokonya tersebut untuk membeli beberapa buku yang akan disalurkan oleh Gramedia untuk daerah yang membutuhkan. Jadi pada salah satu sudut di toko bukunya, Gramedia menyediakan berbagai buku, khususnya buku anak-anak yang dapat dibeli dan langsung dimasukkan dalam kotak sumbangan buku yang tersedia di sebelahnya.

Masih ada beberapa bentuk yang lain, tetapi bagaimana dengan efektivitas cause related marketing? Walaupun kegiatan ini lebih banyak dikaitkan dengan benefit bagi pelaku usaha dalam meningkatkan positive public relation, corporate image dan usaha memperkuat brand, tetapi juga bisa secara langsung berpengaruh pada peningkatan penjualan. Dari beberapa studi kasus pemasaran di atas bisa kita lihat bahwa ada peluang besar dalam peningkatan penjualan dari berbagai jenis bentuk cause related marketing.

Pada tahun 1997, Coca-cola menyumbangkan 15 sen untuk tiap pembelian dalam jangka waktu 6 minggu masa promosi di jaringan retail Wal-Mart. Hasilnya, penjualan Coca-cola naik 490% selama masa promosi di Wal-Mart. Pada tahun 1995 Caphalon Corporation bekerjasama dengan gerakan sosial “Share Our Strength”. Caphalon melakukan co-branding menggunakan logo dan nama “Share Our Strength” dan menyumbangkan $5 untuk setiap penjualan produk panci yang sebelumnya menunjukkan penjualan yang kurang bagus. Hasilnya, penjualan panci tersebut naik 250%.

Beberapa studi memperkuat pendapat bahwa terdapat korelasi dari cause related marketing terhadap peningkatan penjualan. Salah satunya, sebuah penelitian mengenai perilaku konsumer dari Cone Communication yang pernah dimuat di Reuters pada tahaun 2008, mengkonfirmasi bahwa cause related marketing mampu secara signifikan meningkatkan penjualan. Jadi, berbagi bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan penjualan.

7 Fakta Unik di Era Broadband

Indonesia menjadi salah satu tempat pertumbuhan layanan broadband tertinggi di dunia. Menurut reportase Radio Australia, pertumbuhan pengguna broadband di Indonesia pada tahun lalu mencapai 142%, walaupun dari tingkat penetrasi terhadap populasi masih rendah. Sedangkan pengguna internet di Indonesia diprediksi mencapai 30.000.000 orang, menurut internetworldstats.com. Hal ini, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap perilaku atau gaya hidup kita. Nah… berikut beberapa cerita unik dan ringan mengenai perubahan gaya hidup kita sehari-hari yang dipengaruhi internet dan broadband, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sharing bersama teman-teman, baik secara offline maupun online. Fakta unik dan ringan dalam studi kasus marketing ini hanyalah indikasi dari banyak perubahan karakter di era broadband economy. Semoga memberikan penyegaran dan wawasan bagi kita untuk belajar marketing dan menangkap peluang dari perubahan perilaku pasar.

Fakta Satu. Tampaknya kita harus mulai mengantisipasi fenomena yang satu ini, yaitu tingkat okupansi toilet yang bertambah. Akses internet dan broadband yang semakin lancar, ditambah berbagai macam aplikasi yang tersedia melalui smartphone ternyata membuat banyak orang tertarik untuk mengisi waktu di toilet menggunakan smartphone. Kalau dahulu, beberapa orang membawa koran atau merokok saat melakukan “kegiatan wajib” di toilet, maka beberapa orang kini tidak lupa membawa smartphone ke toilet. Entah itu untuk sekedar main game, browsing, chatting, facebook-an, twitter-an atau bahkan download aplikasi atau content di internet.

Fakta Dua. Berbagai tipe smartphone, sekarang dilengkapi dengan fungsi GPS dan aplikasi navigasi berbasis GPS. Dikombinasikan dengan browser, maka smartphone telah menjadi sumber informasi dan panduan yang luar biasa dalam mencari dan menemukan berbagai macam point of interest, mulai dari lokasi ATM, hotel, gedung, tempat ibadah, tempat belanja sampai tujuan wisata kuliner.
Dalam suatu perjalanan ke Jogja, berdasarkan rekomendasi yang saya temukan di internet, saya mencoba menemukan Bakmi Goreng Jawa “Pak Pele” dengan dipandu GPS. Ternyata aplikasi navigasi GPS berbasis Android yang saya gunakan, memaksa saya memutar kendaraan, karena aplikasi tersebut memandu ke arah jalan di lingkungan Kraton Yogyakarta yang ternyata malam itu menjadi jalan buntu, karena terdapat pintu gerbang yang ditutup. Uniknya, waktu memutar kendaraan, dari arah berlawanan bertemu dengan dua kendaraan lain dengan plat nomor luar kota Jogja, yang ternyata juga harus memutar setelah “tersesat” karena juga dipandu navigasi berbasis GPS. Cerita unik berikutnya, adalah seorang teman yang terpaksa menempuh perjalanan Jogja – Jember melebihi waktu tempuh normal, justru setelah menggunakan navigasi berbasis GPS. Salah satu sebabnya adalah kemungkinan kesalahan dalam melakukan setting “routing options” pada alat navigasi GPS yang digunakannya.

Fakta Tiga. Berdasarkan hasil salah satu riset pasar, pada segmen pelajar, internet dan broadband telah menjadi salah satu kebutuhan utama. Beberapa pelajar mengaku, memilih menggunakan uang sakunya untuk membeli “pulsa” daripada untuk “jajan” membeli makanan atau minuman. Pulsa yang dimaksud, tentu saja sebagian untuk tetap bisa mengakses internet, terutama untuk tetap bisa update status di beberapa social media seperti facebook atau twitter.

Fakta Empat. Pengguna e-commerce diprediksi akan terus meningkat di tahun 2011. Salah satunya ternyata dikontribusi oleh pembelian secara online melallui social media. Segmen potensialnya adalah segmen wanita, yang berdasarkan hasil survey pada beberapa periode sebelumnya sebetulnya bukanlah segmen potensial dalam e-commerce. Akhir-akhir ini bisa kita lihat di facebook, banyak teman kita dari segmen ini, para ibu-ibu atau remaja wanita yang di-“tag” pada foto produk yang di-share oleh para penjual berbagai macam produk secara online. Mulai dari produk kosmetik, fashion sampai berbagai produk kesehatan.

Fakta Lima. Di beberapa kota besar, terutama Jakarta, mulai marak café yang beroperasi 24 jam. Café tersebut tetap ramai, walaupun waktu sudah menunjukkan melewati tengah malam. Beberapa orang tampak tetap mencoba produktif, baik diskusi, meeting atau sibuk di depan komputer pribadinya dengan dukungan internet hotspot di lokasi tersebut atau USB modem di komputernya. Beberapa tempat makan yang dulu biasa kita temui di dalam mall, kini beberapa di antaranya mulai mencari tempat operasi di luar mall, demi untuk bisa beroperasi 24 jam.

Fakta Enam. Ada yang berubah dalam kegiatan sarapan di pagi hari. Bukan menunya, dan bukan waktu sarapannya. Tetapi banyak orang kini saat sarapan di pagi hari, di sampingnya terdapat smartphone atau bahkan mungkin tablet PC yang tetap aktif dioperasikannya. Beberapa orang menggunakannya untuk browsing berbagai berita terbaru di media online, seperti detik.com, kompas.com, vivanews.com atau di social media, sambil terus melakukan update status atau sharing berita baru yang ditemukannya melalui akun social medianya.

Fakta Tujuh. Banyak akun palsu di social media. Twitter pun menyediakan tambahan informasi “verified account” untuk membedakan official twiiter account dengan akun-akun lain yang serupa. Identifikasi ini sangat penting, terutama bagi entitas bisnis atau selebritis yang sering menjadi target akuisisi nama akun yang serupa. Tempo Interaktif, pada hari Rabu, 5 Januari 2011 memberitakan bahwa terdapat ratusan akun di facebook yang menggunakan nama “Gayus Tambunan”. Gayus Tambunan adalah tersangka kasus korupsi pajak yang kini sedang menjalani sidang. Berbagai macam motif menjadi latar belakang orang mengakuisisi akun social media, mulai dari iseng sampai dengan untuk keperluan pembajakan informasi atau merusak citra individu atau entitas bisnis.

Bagaimana dengan Anda? Ada cerita unik yang ingin Anda share? Please give comments or share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas untuk memanfaatkan perubahan perilaku ini.

Apa kabar Amazon vs Google?

Ramainya kompetisi di kategori tabletPC dan smartphone, selalu membawa kita mengarah ke tiga pemain besar: Apple, RIM dan Google. Kenapa? Karena ketiganya memang mempunyai pengaruh besar dalam industri tersebut. Ketiganya juga sukses membangun model bisnis yang memanfaatkan ekosistem perangkat keras, perangkat lunak dan berbagai konten internet. Apple menjadi pelopor dengan iTunes ecosystem yang terus berkembang dalam Apple App Store. RIM mengembangkan Blackberry App World, dan kemudian Google mempunyai Android Market yang bisa diakses oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi Android.

Bagaimana jalannya kompetisi antara tiga pemain besar tersebut sekarang? Trend menunjukkan Android tumbuh paling cepat, dan sudah melampaui market share Blackberry di Amerika Serikat. Dari sisi penjualan, Android dikabarkan telah mendominasi. Menurut AC Nielsen, sebesar 40% pembeli smartphone di Amerika Serikat memilih Android.

Di tingkat global, penjualan smartphone berbasis Android sudah melampaui Apple dan Blackberry, wlaupun masih di bawah Symbian-nya Nokia. Menurut Gartner, pada triwulan III tahun 2010, penjualan smartphone Android sudah mengambil porsi 25,5%. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,5%. Nokia memang masih memimpin dengan 36,6%, tetapi turun drastis dari tahun sebelumnya, 44,6%. Demikian juga dengan Blackberry, turun dari 20,7% menjadi 14,8%. Sedangkan Apple dengan sistem operasi iOS berhasil sedikit menahan serbuan Android, turun sedikit, dari 17,1% ke 16,7%.
Salah satu kekuatan Android adalah keterbukaannya terhadap penggunaan dan pengembangan oleh beberapa pabrikan smartphone, seperti HTC, Samsung, LG dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan Apple dan RIM yang secara eksklusif memproduksi smartphone-nya sendiri. Kekuatan lainnya ada pada model bisnisnya yang berbeda dengan dua pesaing utamanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Amazon? Amazon adalah nama besar dalam bisnis online retail. Tetapi di awal tahun 2011 ini, Amazon mulai membuka Amazon application store untuk para pengembang lunak. Uniknya, application store yang disiapkan Amazon ini adalah untuk aplikasi berbasis sistem operasi Android. Padahal Google sudah memiliki sendiri application store Android melalui Google Android Market.

Jadi menarik untuk kita perhatikan bagaimana Amazon akan memposisikan application store-nya terhadap Google Android Market dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kita kali ini. Kita coba lihat apa saja yang bisa menjadi keunggulan kompetitif application store Amazon tersebut. Pertama, Amazon mempunyai pengalaman luar biasa dalam bisnis online retail. Hampir semua produk retail bisa kita dapatkan di Amazon. Tetapi sebetulnya kekuatan besarnya adalah di customer base-nya.

Kedua, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi Amazon juga menguasai bagaimana cara memahami karakter para pelanggannya. Amazon mampu membuat kustomisasi layanan dan penawaran kepada para pelanggannya berdasarkan perbedaan karakter dan perilakunya. Bayangkan bila pemahaman ini diterapkan saat mereka memberikan penawarannya melalui application store. Sehingga, Amazon dinilai mampu mengatasi kekurangan Android Market dalam memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menemukan aplikasi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya. Saat ini aplikasi di Android Market sudah lebih dari 100.000 buah. Dan sebuah paradoks akan berlaku, di mana terdapat sesuatu yang berlebih, akan terdapat kelangkaan. Dengan ketersediaan aplikasi yang berlebih, orang akan menemukaan kesulitan dalam memperoleh aplikasi yang berkualitas dan relevan. Saat ini bila kita melihat Android Market, belum bisa kita temukan recommended item yang customized untuk setiap penggunanya. Para penggunanya lebih mengandalkan review dari pengguna lainnya.

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan untuk studi kasus marketing kita ini 🙂 Co-opetition bisa menjadi istilah yang lebih tepat. Kerjasama di dalam suatu kompetisi, antara Amazon application store dengan Google Android Market. Bagaimana menurut Anda, apa keunggulan kompetitif yang bisa menjadi andalah Amazon di pasar aplikasi ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas. Untuk memahami industri ini, silakan baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet dan Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Revolusi Layar Kaca

Dalam era pemasaran vertikal, media broadcast menjadi salah satu primadona. Slot iklan di televisi atau radio pada jam-jam yang disebut dengan “prime time” mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Efektivitas yang diharapkan dari promosi yang dipasang pada saat prime time pun begitu tinggi. Program televisi unggulan dengan rating tinggi pun sangat erat hubungannya dengan alokasi waktu saat prime time. Teknologi pada media yang berkarakter komunikasi satu arah menjadi salah satu faktor penentu kuatnya pengaruh prime time. Layar kaca pada ribuan dan bahkan jutaan pemirsa televisi menampilkan sajian yang sama, menyebabkan promosi yang ditampilkan pada prime time bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan pemirsa, baik yang merupakan target pasar maupun yang bukan target pasar dari produk terkait.

Tetapi dengan perkembangan teknologi sekarang, ada satu hal yang berubah. Kini sajian program televisi yang hadir di masing-masing layar kaca pemirsa bisa berbeda-beda walaupun pada stasiun televisi dan waktu yang sama. Teknologi IP-TV salah satunya, mempunyai fitur TV on Demand, memungkinkan pelanggannya untuk memilih menonton acara yang disukainya pada waktu yang ditentukan sendiri. Teknologi siaran televisi digital yang saat ini sedang trial di Jakarta, juga mempunyai fasilitas merekam siaran yang dipilih dengan cara sangat mudah. Kondisi ini menyebabkan prime time semakin lurang efektif. Lunturnya kesaktian prime time pada media broadcast ini juga diakui oleh Presiden CNN Jon Klein pada waktu itu : “ …. it’s hard to say there’s one particular daypart or hour of the day that matters more”.

Berkembangnya “new media” seperti online social media (facebook, twitter, friendster, hi5, dll) semakin membuat media broadcast tradisional semakin kehilangan kesaktiannya. Bagi kita yang belajar marketing sudah banyak membaca artikel atau buku yang menyajikan studi kasus mengenai kesaktian social media tersebut dalam membangkitkan buzz atau words of mouth. Dalam konsep new wave marketing dari Hermawan Kartajaya, dikenal dengan istilah many to many marketing atau era horizontal marketing. Kemudahan dalam mengakses online social media di manapun kita berada dengan semakin menjamurnya Blackberry, iPhone atau smartphone yang lainnya semakin membuat banyak pemirsa televisi yang beralih ke media baru (baca artikel sebelumnya Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone. Tumbuh pesatnya smartphone ini juga dipicu oleh kompetisi yang semakin ketat, seperti diungkap pada artikel Blackberry Baru 500 ribu-an, Tertarik?.

Fenomena ini juga diikuti dengan mulai lunturnya kesaktian rating. Content dengan rating tinggi tidak lagi bisa mendominasi seperti dahulu. Chris Anderson dalam bukunya “The Long Tail” menunjukkan kepada kita bahwa beberapa produk atau content dengan demand yang rendah atau mempunyai volume penjualan yang rendah, secara kolektif bisa bersaing atau bahkan melampaui market share dari produk atau content best seller atau box office. Kondisi ini tentunya dipicu antara lain oleh berkembangnya media yang lebih interakti, terutama yang berbasis internet.

Hasil riset The Nielsen Company pada tahun 2009 menunjukkan bahwa game console PlayStation 3 dan Xbox 360 pun berperan mengurangi jam menonton televisi, termasuk pada prime time. Dari hasil survey, para gamers lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain game daripada menonton televisi pada prime time. Survey Nielsen pada bulan Mei 2008 juga menemukan bahwa 6 juta pemirsa televisi di Amerika Serikat pada prime time telah beralih ke media lain. Sebagian dari 6 juta pemirsa tersebut masih menonton acara yang sama tetapi telah memilih waktunya sendiri melalui TiVo atau digital video recorder lainnya, streaming video di internet atau cable video on demand.

Kondisi ini semakin menambah keyakinan perlunya mulai fokus pada mengelola “conversation” dalam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya. Dalam conversation, peran social media dan komunitas menjadi penting, dibandingkan media vertikal yang pada era sebelumnya mendominasi pengelolaan promosi. Bagaimana mengelola conversation? Sekarang telah cukup banyak referensi dan buku marketing yang membahasnya, atau Anda sudah membaca atau mengimplementasikannya? Please share with us, atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant

Bagi yang sering traveling melalui jalan darat di jalur pantura atau jalur selatan Jawa, pasti akan banyak menemukan banyak pilihan tempat makan. Bagi orang yang sedang traveling, tempat makan bukan hanya diperlukan untuk tempat makan pagi, siang atau malam, tetapi juga merupakan momen untuk istirahat, ke kamar mandi / kamar kecil, sholat bagi yang muslim, cek kondisi kendaraan atau bahkan sekaligus tempat rekreasi untuk melepas kebosanan selama perjalanan. Beberapa kebutuhan sekaligus dari konsumen tersebut memerlukan komunikasi yang baik dari restoran atau tempat makan kepada target marketnya, yaitu terutama para traveler.

Pilihan cara mengkomunikasikan positioning dan diferensiasi kepada traveler tersebut cukup menantang antara lain karena persaingan yang cukup ketat dan beragamnya karakter dan kondisi traveler. Diperlukan cara komunikasi yang mampu membangun kepercayaan konsumen dan menciptakan keberadaan dan kredibilitas di benak konsumen di sepanjang jalur perjalanan. Bagi pengguna kendaraan pribadi, sebagian belum merencanakan tempat untuk berhenti, beristirahat dan makan dalam menempuh perjalanan. Sebagian lagi cenderung memilih tempat makan berdasarkan kebiasaan, pada tempat yang sudah dikenal, karena konsumen pasti tidak akan hafal atau mengenal dengan baik tempat-tempat makan di sepanjang jalur perjalanan. Hal ini menyebabkan sebagian traveler lebih memilih tempat yang sudah dikenal dan menurutnya relatif kredibel sesuai kebutuhan / keinginannya daripada mencoba tempat baru yang belum tentu sesuai selera atau fasilitas yang belum tentu lengkap dan nyaman.

Tantangan tersebut dicoba dijawab oleh Pringsewu Restaurant yang dikelola oleh PRSG (Pringsewu Restaurant Group) yang berpusat di Purwokerto dengan menciptakan gaya komunikasinya sendiri. Pertama kali saya menyaksikan gaya komunikasi Pringsewu Restaurant adalah saat menempuh perjalanan di jalur selatan Jawa, yaitu Pringsewu Restaurant yang berada di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Puluhan kilometer sebelum lokasi resturant, kita sudah bisa menemukan papan reklame pertama yang berisi informasi lokasi Pringsewu. Setelah itu selama perjalanan mengarah ke lokasi resturant kita bisa melihat puluhan sampai ratusan papan reklame Pringsewu yang khas berwarna dominan kuning. Informasi yang disampaikan berupa positioning dan diferensiasi Pringsewu lengkap dengan jarak menuju lokasi restaurant. Informasinya cukup beragam dari menu utama atau menu unggulan, fasilitas atau layanan dari Pringsewu yang unik, misalnya Magic Box, pijat elektrik, kamar mandi bersih, musholla dan lain-lain. Komunikasi pemasaran ini mendapatkan penghargaan rekor dari MURI dengan Nomor MURI No. 2108 untuk kategori “Papan Reklame Terpanjang”, yaitu 116 buah sepanjang 88 kilometer, khususnya untuk Pringsewu Tegal. Sensasi yang diciptakan melalui pengakuan dari MURI ini akan mampu meningkatkan “buzz” tanpa harus membuat kontroversi (see Miyabi Marketing)

Walaupun begitu banyak pesan dalam ratusan reklame di puluhan kilometer, Pringsewu tampak fokus pada mengkomunikasikan competitive advantage-nya, antara lain pada aspek service excellence dan menu unggulannya. Fokus ini sangat berguna untuk mencegah “confused positioning” karena terlalu menekankan kepada banyak atribut pada produk atau layanannya. Desain komunikasinya fokus pada aspek rational yang menyampaikan keunggulan produk dan layanan, serta pada aspek moral dengan munculnya beberapa pesan layanan masyarakat bagi pengguna jalan. Belum terlihat secara jelas pendekatan emosional dalam ratusan reklame tersebut.

Berbeda dengan tempat makan yang lain yang relatif hanya menempatkan beberapa reklame pada lokasi di sekitar restaurant, maka Pringsewu membangun kredibilitasnya pada sasaran pasar para traveler dengan intensitas komunikasi yang tinggi dalam bentuk sederhana yang mudah dibaca dan dimengerti. Pesan yang sederhana dengan intensitas tinggi ini sangat penting, mengingat sasaran pasar yang bergerak di sepanjang jalur pantura atau selatan Jawa. Beragam informasi keunggulan yang menjadi positioning dan diferensiasi juga menjadi mungkin untuk disampaikan sesuai dengan beragamnya atribut produk / layanan tempat makan yang menjadi bahan pertimbangan traveler seperti diceritakan di awal tulisan ini. Beragam atribut ini memang agak susah disampaikan dalam satu reklame besar kepada traveler yang bergerak, apalagi untuk membangun kredibilitas.

Untuk meningkatkan customer experience, Pringsewu juga aktif membuat event. Pada saat hari Ibu tahun ini, Pringsewu memberikan layanan istimew kepada ibu-ibu yang datang berkunjung, dengan memberi bunga dan kue tart. Konsumen yang berulang tahun pada saat berkunjung ke Pringsewu juga mendapatkan layanan khusus antara lain berupa seremonial, souvenir atau birthday beverage gratis. Beberapa layanan lain pun dipersiapkan untuk memperkuat diferensiasinya, seperti pertunjukan sulap gratis table to table.

Cukup menarik, cara Pringsewu menyiasati kondisi sasaran pasarnya untuk membangun kredibilitasnya di benak pelanggan. Akan lebih menarik kalau Pringsewu mulai memanfaatkan media horizontal untuk membangun komunitasnya, karena traveler di jalur pantura dan selatan Jawa merupakan pasar yang potensial, terbukti dari posting sebelumnya Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Share

Miyabi Marketing

Bila kita cermati beberapa studi kasus marketing, sejak lama kontroversi telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu cara dalam mencuri perhatian pasar. Banyak sekali contoh marketing ideas yang kontroversial atau mendekati kontroversial digunakan para pemasar dalam menarik perhatian dan membangkitkan words of mouth, menjadikan topik ini cukup menarik bagi kita yang belajar marketing. Words of mouth atau buzz adalah mesin dari new wave marketing yang bersifat horizontal marketing. New wave marketing adalah konsep marketing yang dipopulerkan oleh Guru marketing: Hermawan Kartajaya.

Pada bulan Februari tahun ini, Southwest Airlines (SWA) pernah memancing kontroversi saat menghias badan pesawat Boeing 737 nya dengan foto besar model majalah “Sports Illustrated” yang cukup ternama asal Brasil, Bar Rafaeli, yang mengenakan bikini. Tentu saja kontroversi langsung mencuat, perdebatan di berbagai media bermunculan, baik respon negatif, netral maupun respon positif. Menurut pengakuan public relation dari SWA, seperempat respon yang masuk adalah respon negatif. Langkah maskapai ini terbilang cukup unik, karena 19 bulan sebelumnya kontroversi bertema bikini juga menghiasi publikasi SWA. Waktu itu seorang Flight Attendant SWA sempat menolak seorang penumpang wanita yang mengenakan mini skirt, karena dianggap terlalu mini sehingga kurang pantas masuk dalam pesawat dari maskapai yang memposisikan diri sebagai “family airline”.

Di dunia entertainment, episode sebuah serial dengan penonton paling banyak biasa terjadi pada episode kontroversial. Episode yang mengakhiri riwayat serial drama televisi “Friends” mencatat rekor jumlah penonton sebanyak 52,5 juta penonton saat ditayangkan pada tahun 2004 (tertinggi dalam kurun waktu 6 tahun). Komik seri Superman dari DC Comics mencatat rekor penjualan pada seri berjudul “The Death of Superman” pada tahun 1992, yang menceritakan matinya sang jagoan.

Beberapa judul buku marketing yang populer pun tidak lepas dari kontroversi, seperti “The End of Marketing, As We Know It” dan “The End of Advertising, As We Know It”, keduanya karya Sergio Zyman. Judul senada juga menjadi karya pakar marketing dan branding, Al Ries dan Laura Ries, yaitu “The Fall of Advertising, the Rise of PR”.

Bagaimana dengan studi kasus marketing atau marketing ideas yang berkembang di Indonesia? Beberapa waktu yang lalu Bakrie Telecom, operator telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, meluncurkan fitur atau layanan “esia Bispak”. Dengan fitur tersebut, pengguna esia dapat membandingkan tarif beberapa operator telekomunikasi berbasis teknologi GSM secara langsung melalui simulasi. Serangan frontal ke operator GSM ini tentu saja memicu kontroversi, belum lagi pemilihan nama “Bispak” yang juga mengandung kontroversi. Penggunaan inisial 5 operator GSM di simulasi esia tersebut pun menambah kontroversi. 5 huruf yang digunakan sebagai inisial tersebut berturut-turut adalah B, A, S, M, I. Salah satu operator GSM, yaitu XL, segera bereaksi dengan meluncurkan “Paket XL Harga CDMA”.

Yang tidak kalah serunya, adalah kalau kita belajar marketing melalui studi kasus marketing rencana produksi film layar lebar berjudul “Menculik Miyabi”. Kontroversi timbul saat ada rencana mendatangkan Miyabi, bintang film porno asal Jepang, ke Indonesia untuk ikut membintangi film tersebut. Beberapa elemen masyarakat terlibat dalam kontroversi yang seru, sampai akhirnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, memutuskan bahwa Miyabi tidak akan datang ke Indonesia. Padahal menurut beberapa sumber, naskahnya pun masih dalam proses pengerjaan oleh Raditya Dika, novelis yang mulai populer di tanah air. Coba bayangkan bagaimana serunya kontroversi yang terjadi kalau Miyabi jadi datang ke Indonesia dan syuting film “Menculik Miyabi”?

Publisitas negatif, tetaplah sebuah publisitas, dan sangat potensial dalam menarik perhatian dari publik. Pada beberapa studi kasus marketing, kontroversi cukup efektif dalam mendukung usaha pemasaran. Tetapi potensi backfire juga harus dipertimbangkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bagi kita yang belajar marketing, tampaknya sebelum memulai upaya marketing bergaya kontroversi, perlu pertimbangan segmen apa yang menjadi target market kita dan kontroversi yang dipicu akan paling besar menyinggung pada segmen pasar yang mana. Karena respon negatif dari kontroversi pada target market atau pelanggan kita bisa berpotensi pada keputusan pelanggan kita untuk tidak lagi menggunakan produk atau layanan kita. Hal tersebut terjadi pada beberapa pelanggan Southwest Airlines setelah “kontroversi bikini” seperti diceritakan di atas.

Tetapi, bagaimana menurut Anda, apakah betul potensi kontroversi dalam marketing layak untuk dipertimbangkan? Please share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar bersama di blog marketing ini.

Augmented Reality? Definisi Baru bagi Realitas!

virtualWaktu saya kecil, salah satu game yang pertama kali saya kenal adalah Donkey Kong. Pada masa itu – di saat computer belum terlalu memasyarakat – bermain game yang sangat sederhana tersebut melalui game console yang sering disebut game watch sungguh sudah terasa luar biasa. Tampilan grafis di console tersebut sudah terasa begitu menghibur. Sejak masa itu, teknologi computer graphics terus berkembang. Salah satu yang fenomenal adalah Augmented Reality.

Dalam posting belajar marketing kali ini, kita akan mencoba melihat aplikasi teknologi ini dalam mengembangkan atau menyampaikan marketing ideas. Tetapi sebelumnya akan kita lihat apa yang dimaksud dengan augmented reality. Teknologi ini menggabungkan tampilan grafis tiga dimensi yang direkayasa menggunakan computer dengan tampilan lingkungan nyata. Dengan semakin canggihnya tampilan grafis tiga dimensi, maka teknologi ini akan semakin mengaburkan batas antara tampilan yang maya dan yang nyata. Lebih dahsyat lagi, augmented reality bisa menambahkan elemen-elemen yang bisa diaplikasikan untuk semua panca indera kita. Augmented reality bisa menambahkan grafis, suara, haptic, dan bahkan bau ke dalam rekayasa computer. Haptic merupakan elemen yang diaplikasi melalui indera sentuhan. Bayangkan, dengan teknologi ini, cukup menggunakan alat seperti kaca mata dan beberapa interface atau antar muka ke beberapa indera kita seperti headset dan interface ke indera sentuhan dan penciuman, maka kita bisa memasuki alam maya. Salah satu contoh aplikasi augmented reality membutuhkan tiga komponen utama yaitu: head-mounted display, tracking system dan mobile computing power.

Pemanfaatan teknologi ini antara lain untuk bidang kesehatan, manufaktur dan reparasi, simulasi serta tentu saja…. hiburan! Salah satu bentuk sederhana yang bisa kita lihat adalah saat berita laporan cuaca di televisi. Pembawa acara berdiri dengan dikelilingi oleh tampilan virtual dari peta cuaca yang berubah-ubah. Atau bagi para penggemar sepak bola, pada beberapa siaran langsung sepakbola, kita sering melihat iklan yang seakan-akan ditempel di lapangan sepakbola.

Nah… bagaimana aplikasinya di dunia hiburan? Pengembangan video atau computer games, film dan bahkan siaran langsung hiburan di televisi bisa menggunakan teknologi ini. Salah satunya, bila Anda penasaran bisa menyaksikannya di Trans TV nanti malam, Jumat, 23 Oktober 2009 pukul 20.30 – 21.30 WIB. Acara tersebut terkait live show bertajuk “The World in Your Hand” yang merupakan rangkaian marketing event dalam acara peluncuran corporate identity baru dari Telkom Indonesia.

Bagaimana menurut Anda, ada aplikasi lain yang mungkin bisa dikembangkan untuk marketing event lainnya? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka Lebaran tahun ini diwarnai dengan persaingan bisnis di jalur mudik. Persaingan ini cukup menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Berbagai posko layanan mudik bertebaran di sepanjang jalur mudik di seluruh Indonesia. Persaingan tampak lebih seru dengan pertempuran media promosi below the line, mulai dari spanduk, umbul-umbul, banner sampai digital signage.

mudikAgen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) mobil berlomba menyediakan jasa layanan purna jualnya. Sebagian di antaranya beroperasi 24 jam penuh. Nissan Motor Indonesia menyediakan 5 lokasi Nissan Rest Point (NRP) yang beroperasi 24 jam. NRP melengkapi 27 bengkel siaga yang beroperasi pada jam kerja biasa. Isuzu menyiapkan 8 lokasi posko siaga 24 jam, melengkapi 23 lokasi bengkel siaga. Dealer terbesar mobil Toyota, Auto2000 menyebar 11 lokasi posko siaga dan 4 bengkel siaga yang beroperasi 24 jam. PT Indomobil, ATPM dari mobol Suzuki menyiapkan 25 posko siaga di lima wilayah di Indonesia. Tiap posko biasanya juga dilengkapi berbagai layanan gratis, seperti kursi pijat, TV kabel, takjil gratis, dan lain-lain. Beberapa ATPM juga menyediakan mobile services yang siap melayani pemudik.

ATPM motor juga tak kalah seru bersaing, apalagi jumlah pemudik yang menggunakan motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Yamaha menyediakan 3 pos jaga dan 8 bengkel jaga. TVS menggelar 4 posko di Jawa. Suzuki mendirikan 37 posko siaga di berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakannya dengan posko mudik ATPM mobil adalah adanya layanan pengawalan bagi rombongan pemudik yang menggunakan motor.

Persaingan posko layanan mudik yang juga tampak mencolok adalah antara operator telekomunikasi. Telkom Group menggelar 26 posko Telkom Peduli. Indosat menyediakan 138 posko mudik di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Posko Mudik XL didirikan di 27 lokasi di jalur utama arus mudik. Posko mudik operator telekomunikasi biasanya banyak dilengkapi dengan fasilitas gratis yang bersifat umum melayani kebutuhan pemudik (pijat, tempat istirahat, takjil, minuman, dll), melengkapi layanan spesifik terkait produk dan layanan telekomunikasi.

Persaingan yang juga tak kalah seru juga terjadi di produsen mie instan, minuman dalam kemasan, produk minuman suplemen dan beberapa produk lain.

Selain untuk meningkatkan company atau product image dan sebagai media promosi, ritual tahunan ini juga merupakan pasar yang potensial. Perkiraan jumlah uang yang dibawa para pemudik bias mencapai triliunan rupiah. Sehingga selain menyediakan fasilitas gratis, banyak posko mudik yang ditujukan untuk meningkatkan penjualan.

Sekilas skema layanan posko mudik dari berbagai produsen tidak jauh berbeda, membuka peluang untuk diferensiasi. Tetapi pada tahun ini diwarnai juga oleh perubahan skema layanan mudik yang disiapkan menuju skema yang lebih efektif dan efisien, belajar dari implementasi pada tahun-tahun sebelumnya. Honda, misalnya, tidak menyediakan posko siaga seperti beberapa tahun sebelumnya. Tahun ini, Honda lebih memilih mengoptimalkan bengkel resminya untuk menyediakan bengkel siaga di jalur mudik, terdiri dari 52 bengkel yang beroperasi pada jam kerja dan 13 bengkel yang beroperasi 24 jam. Suzuki mengalokasikan separo dari jumlah poskonya untuk fokus di jalur pantai utara Jawa. Mazda hanya fokus di H-3 sampai dengan H+3, saat posko layanan mudik lainnya biasanya digelar selama 2 minggu, dari H-7 sampai dengan H+7.

Lokasi posko layanan mudik pun terus dimodifikasi. Pada tahun ini, menurut pengamatan saya, tampak peningkatan jumlah posko layanan mudik yang ditempatkan di SPBU. SPBU memang merupakan salah satu tempat berhenti favorit bagi banyak pemudik, mengingat bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan penting dalam perjalanan. Selain itu, SPBU biasanya dilengkapi dengan toilet dan area parkir yang memadai. Sasaran berikutnya yang menjadi lokasi posko layanan mudik adalah rumah makan atau rest area di jalan tol, terutama rumah makan yang selama ini menjadi preferensi banyak pemudik. Untuk tujuan mudik yang memakan waktu lama, rumah makan memang menjadi tempat penting untuk beristirahat dan mengisi perut. Beberapa lokasi lain yang dipilih antara lain: masjid, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, alun-alun kota dan daerah rawan kemacetan seperti Nagrek, Kanci dan kawasan Puncak.

Jadi, dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di blog belajar marketing & sharing marketing ideas ini, tampak bahwa skema, lokasi dan bahwak objective dari posko layanan mudik ini terus berevolusi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangannya adalah produktivitas, efisiensi, persaingan atau gerakan dari para kompetitor dan identifikasi kebutuhan dari pemudik. Posko layanan mudik juga menjadi langganan dari industri-industri tertentu, membuka peluang bagi pemain di industri yang selama ini belum terjun untuk membuat posko layanan yang baru dan unik. Beberapa pemain di industri yang menjadi langganan penggelar posko mudik pun tampak tidak banyak ikut bertempur di jalur mudik.

Bagaimanakah sebenarnya skema posko layanan mudik yang efektif, sesuai objective dari pendirian posko tersebut? Atau posko layanan mudik mana yang menjadi favorit Anda selama ini? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. Masukkan pendapat Anda dengan klik “tinggalkan komentar” atau “leave a comment” di bagian atas tulisan ini, atau cukup isi Fun Polling di menu sebelah kanan bawah blog ini.

Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?

Posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas kali ini mengenai salah satu trend di pasar gadget telekomunikasi sekarang adalah Blackberry. Demam Blackberry juga terjadi di Indonesia. Karena harganya masih relatif cukup tinggi, maka pada beberapa segmen pelanggan mencari alternatif untuk memperoleh “Blackberry” dengan membeli gadget serupa dari produsen selain RIM (Research In Motion). Produsen yang merilis gadget serupa kini cukup banyak, baik produsen lokal maupun beberapa produsen dari Cina, Korea dan Eropa. Gadget serupa dari produsen lokal atau dari Cina dicari karena memberikan harga yang jauh lebih ekonomis. Beberapa jenis gadget serupa yang dirilis bundling dengan layanan dari beberapa operator telekomunikasi tersedia dengan harga di kisaran 1 juta-an, jauh dari harga Blackberry RIM yang ada di kisaran 4 juta-an atau lebih, tergantung tipe. Walaupun ada beberapa Blackberry ilegal yang dijual di bawah harga 4 juta, terutama Blackberry Curve.

blackberryTetapi perang antara RIM dan Apple dalam memasarkan Blackberry dan iPhone memberikan alternatif pembeli untuk memperoleh Blackberry RIM dengan harga jauh lebih ekonomis, bahkan setara dengan gadget serupa produksi lokal atau Cina. Seperti di Indonesia saat ini, di pasar global Blackberry mulai mendapatkan tantangan dari Apple iPhone di pasar smartphone. Baru-baru ini di Amerika Serikat, Apple iPhone 3G dirilis dengan harga US$ 99 setelah disubsidi. RIM beraliansi dengan Verizon, salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Amerika Serikat, merespon dengan meluncurkan Blackberry Storm dengan harga senilai US$ 99 atau turun 50% dari harga sebelumnya, dengan mekanisme penawaran “Buy One, Get One Free”.

Fenomena price war ini sangat menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Bahkan pada bulan ini, menurut consumerreports.org, T-Mobile meluncurkan paket baru Blackberry Curve 8520 seharga US$ 50. Dengan asumsi kurs US$ 1 sekitar 10.000 rupiah, maka harganya “hanya” sekitar 500.000 rupiah. Harga ini bahkan lebih rendah dari smartphone produksi Cina atau Korea. Di Amerika Serikat paket HTC Touch Pro dan Samsung Omnia pada paket bundling dengan layanan dari Verizon dijual pada harga US$ 100. Pada kuartal pertama tahun ini, penjualan Apple iPhone berada di posisi kedua penjualan smartphone di Amerika Serikat, terus membuntuti Blackberry Curve yang masih memimpin. Sedangkan posisi ketiga diisi oleh Blackberry Storm (hasil riset NPD Group).

Salah satu tujuan penurunan harga Blackberry tersebut, tentunya untuk mempertahankan market share dengan berusaha meningkatkan jumlah penjualan, mengantisipasi serangan kompetitor. Tetapi pola pricing dari T-Mobile tersebut juga mengantisipasi customer lifetime value-nya dengan memperpanjang periode kontrak berlangganan dan meningkatkan biaya paket penggunaan bulanan pada jumlah tertentu. T-Mobile menyediakan paket berlangganan unlimited seharga US$ 125 per bulan dengan komposisi US$ 100 untuk unlimited domestic voice, US$ 25 untuk unlimited Blackberry/Internet. Harga ini jauh lebih tinggi dari harga penjualan Blackberry Curve-nya yang “hanya” US$ 50. Paket loyalty plan-nya pun masih lebih tinggi dari US$ 50, yaitu senilai US$ 85 yang ditujukan untuk pelanggan tertentu yang memenuhi syarat. Jadi dengan penawaran paket tersebut, selain berusaha meningkatkan jumlah customer base-nya, mereka juga mencoba mempertahankan customer base dari serangan kompetitor dengan menciptakan switching barriers.

Latar belakang lain penurunan harga Blacberry Curve oleh Verizon dan RIM adalah adanya rencana peluncuran model baru Blackberry (Storm 2) yang diprediksi akan dirilis bulan November tahun ini. Dalam forum online pelanggan Verizon (forums.verizon.com), beberapa pelanggan sudah mampu membaca hal ini, karena pola penurunan harga paket Blackberry biasanya memang hampir selalu terkait munculnya model atau tipe baru dua sampai tiga bulan kemudian. Sehingga mereka mempunyai waktu beberapa bulan sebelum peluncuran model atau paket baru, yang dipergunakan untuk membersihkan inventori dari paket lamanya.

Bagaimanakah pendapat Anda mengenai respon dari Blackberry terhadap serangan kompetitornya tersebut? Please share your marketing ideas @ my marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.