<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Kopicoklat.com</title>
	<atom:link href="http://kopicoklat.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kopicoklat.com</link>
	<description>Studi Kasus Pemasaran Indonesia &#38; Internasional</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 09:39:25 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>Comment on Cerita Kesaktian Brand Apple by arifswa</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2012/01/cerita-kesaktian-brand-apple/comment-page-1/#comment-800</link>
		<dc:creator>arifswa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 09:39:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kopicoklat.com/?p=565#comment-800</guid>
		<description>Betul Pak Pandu, CES semakin crowded, katanya tahun ini ada 3.000 lebih partisipan. Sehihngga di 1 sisi memperkuat klaim sebagai yang terbesar di dunia, tetapi di sisi yang lain, justru akan menjadi tantangan bagi penyelenggara untuk mempertahankan value bagi partisipan. Microsoft sudah mengumumkan mengikuti jejak Apple untuk tidak hadir di CES 2013, dengan latar belakang seperti alasan Apple no. 2 versi P Pandu pd komen di atas.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Betul Pak Pandu, CES semakin crowded, katanya tahun ini ada 3.000 lebih partisipan. Sehihngga di 1 sisi memperkuat klaim sebagai yang terbesar di dunia, tetapi di sisi yang lain, justru akan menjadi tantangan bagi penyelenggara untuk mempertahankan value bagi partisipan. Microsoft sudah mengumumkan mengikuti jejak Apple untuk tidak hadir di CES 2013, dengan latar belakang seperti alasan Apple no. 2 versi P Pandu pd komen di atas.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Cerita Kesaktian Brand Apple by Pandu</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2012/01/cerita-kesaktian-brand-apple/comment-page-1/#comment-799</link>
		<dc:creator>Pandu</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 05:57:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kopicoklat.com/?p=565#comment-799</guid>
		<description>Salah satu alasan mengapa saya senang mengikuti perkembangan Apple adalah strategi bisnis mereka yang luar biasa. Mulai dari brand architecture yang begitu lugas, kemampuan mereka untuk memprediksi kebutuhan konsumen sebelum konsumen sendiri menyadarinya, hingga &lt;i&gt;supply chain management&lt;/i&gt; yang menjadi keahlian CEO baru Apple, Tim Cook.

Ini tidak berarti semua strategi Apple selalu berhasil. Banyak pemerhati bisnis mengkritisi bagaimana Apple menangani masalah &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/IPhone_4#Antenna&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Antennagate&lt;/a&gt; tahun 2010 silam. Hingga hari ini, Apple TV juga masih dinilai banyak kalangan sebagai salah satu produk Apple yang belum berhasil. Namun satu hal yang pasti, di balik &lt;i&gt;blunder-blunder&lt;/i&gt; itu Apple tetap berhasil menjadi perusahaan teknologi dengan nilai kapitalisasi pasar paling tinggi di dunia. Banyak pengamat bahkan memprediksi bahwa Apple akan melampaui (&lt;a href=&quot;http://www.guardian.co.uk/business/2011/aug/09/apple-pips-exxon-as-worlds-biggest-company&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;lagi&lt;/a&gt;) nilai kapitalisasi pasar dari perusahaan paling berharga di dunia: ExxonMobil.

Seperti yang sudah Pak Arif kemukakan, &lt;i&gt;brand value&lt;/i&gt; Apple mengalami peningkatan yang luar biasa tahun lalu. Walhasil, Apple sekarang bertengger di posisi 8 di &lt;i&gt;Best Global Brand 2011&lt;/i&gt; dari Interbrand dengan &lt;i&gt;brand value&lt;/i&gt; $33.492M . Kenyataan inilah yang membuat mereka mampu untuk tidak mencantumkan stiker &quot;&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;http://www.intel.com/pressroom/intel_inside.htm&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Intel Inside&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&quot; di lini produk komputer mereka (padahal Intel sendiri bertengger di posisi 7 BGB 2011 dengan &lt;i&gt;brand value&lt;/i&gt; $35.217M). Alasan yang sama juga membuat mereka mampu untuk (sekali lagi sejalan dengan pendapat Pak Arif) tidak ikut berpartisipasi di pagelaran pameran elektronik akbar yang dihadiri hampir semua pemain teknologi penting di dunia.

Jika kita telaah lebih jauh, ada beberapa hal yang mendorong produsen elektronik untuk terlibat di dalam CES. Yang pertama adalah liputan dari media internasional. Yang kedua adalah kesempatan untuk memberikan impresi lebih dalam kepada konsumen dan industri. Yang ketiga dan yang lebih bersifat emosional adalah masalah gengsi.

Sayangnya, seiring dengan semakin banyaknya peserta CES, tantangan dari para pemilik merek untuk mendiferensiasikan penawaran mereka di ajang tersebut semakin sulit. Perhatian konsumen, media, dan dunia &lt;i&gt;consumer electronic&lt;/i&gt; diperebutkan dalam waktu beberapa hari saja. Alih-alih menjadi channel komunikasi yang efektif, trade show yang terlampau besar beralih fungsi menjadi ajang pembuktian kehebatan suatu merek atau lebih parah lagi: &lt;i&gt;being there for the sake of being there&lt;/i&gt;. Sama seperti perusahaan yang masuk Facebook / Twitter hanya karena kompetitor mereka juga hadir di sana atau karena trend pasar sedang demikian.

Berkaitan dengan hal sebelumnya, untuk mendiferensiasikan penawaran mereka, perusahaan-perusahaan yang terlibat di CES sering kali berlomba-lomba untuk memperlihatkan semua kemampuan / keunikan produk mereka. Hal ini lumrah namun ada resiko yang melekat: kompetitor bisa dengan mudahnya melakukan “studi banding”.

CES juga sering kali menjadi ajang demonstrasi suatu produk / teknologi baru. Namun ini agak kontra produktif jika kita lihat dari sisi bisnis. CES selalu diadakan pada bulan Januari; tepat pada saat siklus retail konsumen dunia mengalami penurunan (puncak pembelian biasanya terjadi di bulan Desember karena Natal dan akhir tahun). Alasan yang sama juga menyebabkan Apple memutuskan untuk tidak berpartisipasi lagi di Macworld (trade show khusus untuk produk-produk Macintosh dan Apple) sejak tahun 2009. Padahal dalam satu dekade terakhir, banyak sekali produk Apple yang &lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Macworld_-_iWorld%231998&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;diperkenalkan di MacWorld&lt;/a&gt; (termasuk iPhone di tahun 2007; Btw, jika belum sempat, teman-teman marketer harus menonton video keynote Steve Jobs pada saat dia memperkenalkan iPhone untuk pertama kalinya &lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=x7qPAY9JqE4&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini&lt;/a&gt;. World. Class. Product Launch.).

Jadi menurut saya ada tiga hal yang menyebabkan Apple enggan untuk berpartisipasi baik di CES maupun di Macworld:
1. Kedua &lt;i&gt;tradeshow&lt;/i&gt; tersebut tidak lagi bisa memberikan kontribusi yang cukup untuk menjustifikasi investasi &lt;i&gt;budget&lt;/i&gt; untuk mengkomunikasikan produk-produk mereka. &lt;i&gt;Channel&lt;/i&gt; komunikasi mereka yang lain (seperti &lt;i&gt;Apple retail store&lt;/i&gt;) bisa dengan jauh lebih jelas menyampaikan apa saja yang menjadi &lt;i&gt;brand promise&lt;/i&gt; maupun &lt;i&gt;value proposition&lt;/i&gt; setiap produk yang mereka keluarkan.
2. Dengan tidak berpartisipasi di CES / Macworld, Apple tidak perlu menyesuaikan jadwal peluncuran produk baru mereka dengan jadwal trade show tersebut. Hal ini menjadi semakin penting dengan semakin banyaknya lini produk yang Apple miliki dengan &lt;i&gt;refresh cycle&lt;/i&gt; yang sangat beragam. Lebih dari itu, tanpa harus ikut tradeshow apapun, perkenalan produk baru Apple sudah selalu dinanti-nantikan oleh berbagai kalangan.
3. Seperti di alinea terakhir &lt;i&gt;blog post&lt;/i&gt; Pak Arif, tanpa harus berpartisipasi langsung di CES, Apple tetap bisa melakukan “studi banding” mengenai dinamika industri dan penawaran kompetitor.


Ngomong2, sepertinya studi kasus co-branding di industri teknologi bisa menjadi ide yang baik untuk artikel Pak Arif yang selanjutnya. Kapan perusahaan menilai co-branding berguna untuk kedua belah pihak (mis: sebagian besar produsen smartphone ber-OS Android yang mencantumkan logo Google atau si robot hijau di produk mereka) dan kapan perusahaan menilai strategi co-branding tidak begitu menarik (mis: Apple dan &quot;Intel Inside&quot; tadi).</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu alasan mengapa saya senang mengikuti perkembangan Apple adalah strategi bisnis mereka yang luar biasa. Mulai dari brand architecture yang begitu lugas, kemampuan mereka untuk memprediksi kebutuhan konsumen sebelum konsumen sendiri menyadarinya, hingga <i>supply chain management</i> yang menjadi keahlian CEO baru Apple, Tim Cook.</p>
<p>Ini tidak berarti semua strategi Apple selalu berhasil. Banyak pemerhati bisnis mengkritisi bagaimana Apple menangani masalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/IPhone_4#Antenna" rel="nofollow">Antennagate</a> tahun 2010 silam. Hingga hari ini, Apple TV juga masih dinilai banyak kalangan sebagai salah satu produk Apple yang belum berhasil. Namun satu hal yang pasti, di balik <i>blunder-blunder</i> itu Apple tetap berhasil menjadi perusahaan teknologi dengan nilai kapitalisasi pasar paling tinggi di dunia. Banyak pengamat bahkan memprediksi bahwa Apple akan melampaui (<a href="http://www.guardian.co.uk/business/2011/aug/09/apple-pips-exxon-as-worlds-biggest-company" rel="nofollow">lagi</a>) nilai kapitalisasi pasar dari perusahaan paling berharga di dunia: ExxonMobil.</p>
<p>Seperti yang sudah Pak Arif kemukakan, <i>brand value</i> Apple mengalami peningkatan yang luar biasa tahun lalu. Walhasil, Apple sekarang bertengger di posisi 8 di <i>Best Global Brand 2011</i> dari Interbrand dengan <i>brand value</i> $33.492M . Kenyataan inilah yang membuat mereka mampu untuk tidak mencantumkan stiker &#8220;<i><a href="http://www.intel.com/pressroom/intel_inside.htm" rel="nofollow">Intel Inside</a></i>&#8221; di lini produk komputer mereka (padahal Intel sendiri bertengger di posisi 7 BGB 2011 dengan <i>brand value</i> $35.217M). Alasan yang sama juga membuat mereka mampu untuk (sekali lagi sejalan dengan pendapat Pak Arif) tidak ikut berpartisipasi di pagelaran pameran elektronik akbar yang dihadiri hampir semua pemain teknologi penting di dunia.</p>
<p>Jika kita telaah lebih jauh, ada beberapa hal yang mendorong produsen elektronik untuk terlibat di dalam CES. Yang pertama adalah liputan dari media internasional. Yang kedua adalah kesempatan untuk memberikan impresi lebih dalam kepada konsumen dan industri. Yang ketiga dan yang lebih bersifat emosional adalah masalah gengsi.</p>
<p>Sayangnya, seiring dengan semakin banyaknya peserta CES, tantangan dari para pemilik merek untuk mendiferensiasikan penawaran mereka di ajang tersebut semakin sulit. Perhatian konsumen, media, dan dunia <i>consumer electronic</i> diperebutkan dalam waktu beberapa hari saja. Alih-alih menjadi channel komunikasi yang efektif, trade show yang terlampau besar beralih fungsi menjadi ajang pembuktian kehebatan suatu merek atau lebih parah lagi: <i>being there for the sake of being there</i>. Sama seperti perusahaan yang masuk Facebook / Twitter hanya karena kompetitor mereka juga hadir di sana atau karena trend pasar sedang demikian.</p>
<p>Berkaitan dengan hal sebelumnya, untuk mendiferensiasikan penawaran mereka, perusahaan-perusahaan yang terlibat di CES sering kali berlomba-lomba untuk memperlihatkan semua kemampuan / keunikan produk mereka. Hal ini lumrah namun ada resiko yang melekat: kompetitor bisa dengan mudahnya melakukan “studi banding”.</p>
<p>CES juga sering kali menjadi ajang demonstrasi suatu produk / teknologi baru. Namun ini agak kontra produktif jika kita lihat dari sisi bisnis. CES selalu diadakan pada bulan Januari; tepat pada saat siklus retail konsumen dunia mengalami penurunan (puncak pembelian biasanya terjadi di bulan Desember karena Natal dan akhir tahun). Alasan yang sama juga menyebabkan Apple memutuskan untuk tidak berpartisipasi lagi di Macworld (trade show khusus untuk produk-produk Macintosh dan Apple) sejak tahun 2009. Padahal dalam satu dekade terakhir, banyak sekali produk Apple yang <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Macworld_-_iWorld%231998" rel="nofollow">diperkenalkan di MacWorld</a> (termasuk iPhone di tahun 2007; Btw, jika belum sempat, teman-teman marketer harus menonton video keynote Steve Jobs pada saat dia memperkenalkan iPhone untuk pertama kalinya <a href="http://www.youtube.com/watch?v=x7qPAY9JqE4" rel="nofollow">di sini</a>. World. Class. Product Launch.).</p>
<p>Jadi menurut saya ada tiga hal yang menyebabkan Apple enggan untuk berpartisipasi baik di CES maupun di Macworld:<br />
1. Kedua <i>tradeshow</i> tersebut tidak lagi bisa memberikan kontribusi yang cukup untuk menjustifikasi investasi <i>budget</i> untuk mengkomunikasikan produk-produk mereka. <i>Channel</i> komunikasi mereka yang lain (seperti <i>Apple retail store</i>) bisa dengan jauh lebih jelas menyampaikan apa saja yang menjadi <i>brand promise</i> maupun <i>value proposition</i> setiap produk yang mereka keluarkan.<br />
2. Dengan tidak berpartisipasi di CES / Macworld, Apple tidak perlu menyesuaikan jadwal peluncuran produk baru mereka dengan jadwal trade show tersebut. Hal ini menjadi semakin penting dengan semakin banyaknya lini produk yang Apple miliki dengan <i>refresh cycle</i> yang sangat beragam. Lebih dari itu, tanpa harus ikut tradeshow apapun, perkenalan produk baru Apple sudah selalu dinanti-nantikan oleh berbagai kalangan.<br />
3. Seperti di alinea terakhir <i>blog post</i> Pak Arif, tanpa harus berpartisipasi langsung di CES, Apple tetap bisa melakukan “studi banding” mengenai dinamika industri dan penawaran kompetitor.</p>
<p>Ngomong2, sepertinya studi kasus co-branding di industri teknologi bisa menjadi ide yang baik untuk artikel Pak Arif yang selanjutnya. Kapan perusahaan menilai co-branding berguna untuk kedua belah pihak (mis: sebagian besar produsen smartphone ber-OS Android yang mencantumkan logo Google atau si robot hijau di produk mereka) dan kapan perusahaan menilai strategi co-branding tidak begitu menarik (mis: Apple dan &#8220;Intel Inside&#8221; tadi).</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on 3 Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis by ade</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2011/07/3-alasan-untuk-tidak-menggunakan-social-media-dalam-bisnis/comment-page-1/#comment-741</link>
		<dc:creator>ade</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 02:12:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kopicoklat.com/?p=487#comment-741</guid>
		<description>menurut saya, penggunaan social media tepat jika hanya melampirkan iklan di sebelah kanan “wall&quot; yang bila ditekan akan nyambung ke website utama BUKAN fan page, mengapa? karena, 
1. ketika seseorang login ke facebook (katakanlah begitu), bisa jadi facebooker akan melihat gambar iklan yang ada di kanan &quot;wall&quot; dikarenakan gambar dan teksnya sesuai dengan minat/hobi/kebutuhan facebooker, maka secara otomatis iklan tersebut berpotensi diklik olehnya. walaupun memang pada dasarnya fungsi utama facebook sebenarnya adalah untuk bersosialisasi.
2. Jika kita menyambungkan link iklan facebook tersebut ke website utama kita BUKAN fan page, maka keuntungannya adalah kita bisa mengatur web kita agar customer tidak punya hak untuk menaruh commentnya di website kita. Jika customer ingin comment langsung aja diminta menghubungi alamat email &#039;customer service&#039; yang ada di website kita. 
Sekian, terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut saya, penggunaan social media tepat jika hanya melampirkan iklan di sebelah kanan “wall&#8221; yang bila ditekan akan nyambung ke website utama BUKAN fan page, mengapa? karena,<br />
1. ketika seseorang login ke facebook (katakanlah begitu), bisa jadi facebooker akan melihat gambar iklan yang ada di kanan &#8220;wall&#8221; dikarenakan gambar dan teksnya sesuai dengan minat/hobi/kebutuhan facebooker, maka secara otomatis iklan tersebut berpotensi diklik olehnya. walaupun memang pada dasarnya fungsi utama facebook sebenarnya adalah untuk bersosialisasi.<br />
2. Jika kita menyambungkan link iklan facebook tersebut ke website utama kita BUKAN fan page, maka keuntungannya adalah kita bisa mengatur web kita agar customer tidak punya hak untuk menaruh commentnya di website kita. Jika customer ingin comment langsung aja diminta menghubungi alamat email &#8216;customer service&#8217; yang ada di website kita.<br />
Sekian, terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mencapai Keunggulan Perbankan Syariah melalui New Wave Marketing by vivi farahaya</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2009/08/mencapai-keunggulan-perbankan-syariah-melalui-new-wave-marketing/comment-page-1/#comment-650</link>
		<dc:creator>vivi farahaya</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 02:16:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bmarketer.wordpress.com/?p=110#comment-650</guid>
		<description>assalamualaikum,,pak ni masukan yang baik buat saya, smgo proposal skripsi saya mengenai pangsa pasar bank syariah bisa diterima oleh kampus,,,mau tanya,,,aspek aspek apa saja yang paling dominan mendukung dalam mecapai target angsa pasar bank syariah y pak,,,timaksh</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum,,pak ni masukan yang baik buat saya, smgo proposal skripsi saya mengenai pangsa pasar bank syariah bisa diterima oleh kampus,,,mau tanya,,,aspek aspek apa saja yang paling dominan mendukung dalam mecapai target angsa pasar bank syariah y pak,,,timaksh</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand? by arifswa</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2011/11/berapa-biaya-untuk-membangun-sebuah-brand/comment-page-1/#comment-581</link>
		<dc:creator>arifswa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 11:20:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kopicoklat.com/?p=542#comment-581</guid>
		<description>Analisanya mantab, mas Irman. Setuju bgm brand juga hrs berevolusi utk bisa survive. Madonna atau Kylie Minogue bisa jd contoh bgm personal brand berevolusi utk mencoba bertahan di industri musik.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Analisanya mantab, mas Irman. Setuju bgm brand juga hrs berevolusi utk bisa survive. Madonna atau Kylie Minogue bisa jd contoh bgm personal brand berevolusi utk mencoba bertahan di industri musik.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand? by rasirman</title>
		<link>http://kopicoklat.com/2011/11/berapa-biaya-untuk-membangun-sebuah-brand/comment-page-1/#comment-580</link>
		<dc:creator>rasirman</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 11:03:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://kopicoklat.com/?p=542#comment-580</guid>
		<description>eksistensi sebuah &#039;brand&#039; apabila dilihat dari sudut pandang kajian budaya. maka tidak akan bisa dipisahkan dari eksistensi sebuah &#039;identitas&#039;. lebih dari itu, identitas merupakan komoditas terpenting dalam hubungan sosial, baik itu secara komunikatif, politis, ekonomis dll. perlu dicermati juga bahwa identitas ini tidak bisa terbentuk dengan sendirinya. well , we may say identity is the essence of life, but how long it could be stand in life. mungkin dalam bahasa bisnis; identitas atau brand merupakan salah satu bentuk strategi pemasaran yang mendewakan differensiasi dan positioning (michael e.porter ya mas?) untuk ikut dalam kompetisi pasar. tapi identitas atau brand tidak berhenti sampai detik manapun, semenjak brand bukanlah entitas yang tetap melainkan entitas yang selalu berubah bentuk sesuai dengan perkembangan zamannya. brand juga harus di identifikasi dari siapa/apa/bagaimana/mengapa/kapan brand itu di produksi, di konsumsi, di representasi, dan diregulasi biar ketahuan kualitas brand itu sendiri.  TVRI misalnya, brand tv nasional ini dulu sempat berjaya karena tidak ada kompetitor, akan tetapi sekarang tetap masuk dalam ranah kompetisi(meski kalah) dengan differensiasi dan positioning nya sendiri. kalo saya sih curiga kalo TVRI memang di bikin seperti itu biar informasinya jadi infotainment :).
anw,kalah atau menang dalam kompetisi pasar, yang terpenting adalah brand ini berkaitan langsung dengan &quot;a matter of survival&quot; dalam sebuah kompetisi. seperti nama seseorang yang dibawa sedari lahir sampai mati. amin.
http://www.sagepub.com/upm-data/13710_Chapter3.pdf
nb:mas stickernya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>eksistensi sebuah &#8216;brand&#8217; apabila dilihat dari sudut pandang kajian budaya. maka tidak akan bisa dipisahkan dari eksistensi sebuah &#8216;identitas&#8217;. lebih dari itu, identitas merupakan komoditas terpenting dalam hubungan sosial, baik itu secara komunikatif, politis, ekonomis dll. perlu dicermati juga bahwa identitas ini tidak bisa terbentuk dengan sendirinya. well , we may say identity is the essence of life, but how long it could be stand in life. mungkin dalam bahasa bisnis; identitas atau brand merupakan salah satu bentuk strategi pemasaran yang mendewakan differensiasi dan positioning (michael e.porter ya mas?) untuk ikut dalam kompetisi pasar. tapi identitas atau brand tidak berhenti sampai detik manapun, semenjak brand bukanlah entitas yang tetap melainkan entitas yang selalu berubah bentuk sesuai dengan perkembangan zamannya. brand juga harus di identifikasi dari siapa/apa/bagaimana/mengapa/kapan brand itu di produksi, di konsumsi, di representasi, dan diregulasi biar ketahuan kualitas brand itu sendiri.  TVRI misalnya, brand tv nasional ini dulu sempat berjaya karena tidak ada kompetitor, akan tetapi sekarang tetap masuk dalam ranah kompetisi(meski kalah) dengan differensiasi dan positioning nya sendiri. kalo saya sih curiga kalo TVRI memang di bikin seperti itu biar informasinya jadi infotainment <img src='http://kopicoklat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .<br />
anw,kalah atau menang dalam kompetisi pasar, yang terpenting adalah brand ini berkaitan langsung dengan &#8220;a matter of survival&#8221; dalam sebuah kompetisi. seperti nama seseorang yang dibawa sedari lahir sampai mati. amin.<br />
<a href="http://www.sagepub.com/upm-data/13710_Chapter3.pdf" rel="nofollow">http://www.sagepub.com/upm-data/13710_Chapter3.pdf</a><br />
nb:mas stickernya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

