Posts tagged brand

Larinya Sebuah Segmen Pasar

0

Pernah mencoba berolah raga, jogging atau bersepeda, di jalanan tengah kota? Tantangannya mungkin akan mirip, khususnya akan dihadapkan pada lalu lintas kendaraan bermotor dan polusi asapnya. Itulah yang menyebabkan kawasan Car Free Day menjadi “surga” bagi orang yang mencoba meluangkan waktunya untuk berolah raga, khususnya di akhir pekan. Maraknya pembentukan kawasan Car Free Day pada akhir pekan di beberapa kota akhir-akhir ini membawa kabar gembira bagi mereka. Tetapi tentu saja pengelola kawasan Car Free Day tidak akan melewatkan peluang bisnis yang tercipta dari tumbuhnya keramaian di kawasan tersebut. Nah, di sinilah kita akan coba belajar studi kasus pemasaran tentang bagaimana memanfaatkan peluang bisnis yang tumbuh.

Mari coba kita cermati apa yang terjadi di kawasan Car Free Day (CFD) Dago, Bandung di mana saya termasuk salah satu pengunjung setianya…. dahulu…. sekarang sudah mencoba menghindari kawasan tersebut. Kenapa? Kawasan CFD Dago dibuka pada 9 Mei 2010. Pada awalnya saya termasuk salah satu penikmat kawasan tersebut, untuk melakukan aktivitas olah raga pada akhir pekan. Menikmati suasana yang langka didapatkan di daerah perkotaan. Berolah raga dengan nyaman, polusi yang minim, fasilitas yang memadai dan beberapa hiburan kecil di beberapa tempat. Semakin lama, kawasan tersebut semakin ramai, tetapi keramaian yang masih nyaman, aktivitas olah raga ringan, seperti jalan santai, jogging, bersepeda dan senam aerobik masih bisa berlangsung dengan damai. Sehingga More >

Cerita Kesaktian Brand Apple

2

Studi kasus pemasaran kali ini masih seputar penyelenggaraan salah satu trade show di bidang elektronik konsumer terbesar, yaitu Consumer Electronics Show (CES) 2012 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Tulisan sebelumnya bercerita tentang “Cara Sony Mengoptimalkan Kehadirannya di CES 2012”.  Kali ini kita akan mencoba memahami bagaimana Apple bisa merebut perhatian dalam gelaran sebesar CES tanpa kehadiran formal dalam acara tersebut. Salah satu di antara banyak cerita lain tentang kekuatan brand Apple.

Pameran elektronik konsumer ini diikuti oleh lebih dari 2.700 perusahaan dari industri yang beragam. Tidak heran penyelenggara mengklaimnya sebagai pameran teknologi elektronik konsumer terbesar di dunia. Walaupun banyak pameran lain yang menjadi pesaing dalam memberi pengaruhnya dalam industri terkait, antara lain Electronic Entertainment Expo di Los Angeles, Amerika Serikat, Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol atau CeBIT di Hannover, Jerman. Tetapi ada 1 pemain besar dunia yang tidak hadir, yaitu Apple.

Tetapi kalau kita lihat hasil studi dari Webtrends pada gelaran CES tahun sebelumnya, Apple masuk menjadi 6 besar dalam brand yang paling banyak dibicarakan di media online – atau dikenal dengan istilah buzz – terkait gelaran CES. Padahal seperti tahun-tahun sebelumnya, Apple tidak hadir dalam acara tersebut. Berurutan, enam besar tersebut adalah Samsung, Google, Microsoft, Motorola, Sony dan Apple. Semuanya hadir secara resmi, kecuali Apple.

Hebatnya lagi, More >

Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand?

2

Istilah brand berawal dari tanda yang dibuat menggunakan besi panas untuk menandai hewan ternak guna membedakannya dari hewan ternak milik orang lain. Brand kini berkembang, menunjukkan kepribadian sebuah produk, layanan atau organisasi. Tetapi masih seperti awal istilah brand yang digunakan untuk membedakan ternak, maka brand dalam marketing tetap dekat dengan fungsinya sebagai pembeda. Brand harus mampu menunjukkan diferensiasi. Brand juga harus mampu menjadi relevan dengan target pasarnya, karena dituntut mampu mewakili positioning di benak target pasarnya.

Brand yang kuat akan mampu menjadi mesin pertumbuhan sebuah organisasi. Dalam sebuah laporan pada tahun 2008, sebuah research agency Millward Brown Optimor, menyatakan brand value dari Coca Cola mencapai USD 58,2 miliar, tumbuh 17% dari tahun sebelumnya. Silakan coba hitung nilai tersebut ke dalam satuan rupiah. Pada waktu itu Coca Cola menempati posisi keempat di belakang Google, GE dan Microsoft.

Dua paragraf di atas mestinya cukup untuk sedikit menggambarkan bagaimana pentingnya brand dalam marketing. Lalu berapa biaya membangun sebuah brand? Pertanyaan ini muncul di benak setelah mendengar pernyataan dalam sebuah diskusi, “… brand sama dengan cost”. Tentu saja jawabannya bisa sangat bervariasi, tergantung kepada berbagai macam kondisi yang dipengaruhi lingkungan industri, target pasar sampai dengan strategic objective dan skala dari suatu produk, layanan atau organisasi. Hal tersebut juga tergantung bagaimana sudut More >

Belajar dari Masalah Brand Nokia

2

Benar, tahun 2010 Nokia masih menjadi global market leader pada kategori perangkat bergerak atau mobile device. Nokia memimpin dengan pangsa pasar penjualan sebesar 28,9% selama tahun 2010. Benar, bahwa pangsa pasar pabrikan pesaingnya masih berada cukup jauh. Samsung yang berada di posisi kedua, “hanya” mempunyai pangsa pasar penjualan sebesar 17,6%. Juga benar, bahwa untuk kategori ponsel pintar atau smartphone, sistem operasi Symbian yang digunakan Nokia masih memimpin penjualan sebesar 37,6%. Lalu, apa masalahnya buat Nokia? Pada kategori perangkat bergerak, pangsa pasarnya anjlok dari 36,4% pada tahun sebelumnya. Pangsa pasar sistem operasi Symbian juga anjlok dari 46,9% tahun sebelumnya pada kategori ponsel pintar. Pada sisi yang lain, sistem operasi Android tumbuh luar biasa, 888,8% dan menduduki posisi kedua dengan 22,7% dari hanya 3,9% pada tahun sebelumnya. Apple iOS juga tumbuh dari 14,4% menjadi 15,7%. Blackberry tampak turun, tetapi tidak sedrastis yang dialami oleh Nokia, yaitu dari 19,9% menjadi 16%. Harga saham Nokia pun terus cenderung menurun.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi penyebabnya? Banyak hal yang bisa dijadikan tersangka sebagai faktor penyebab anjloknya pemasaran Nokia dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi satu yang pasti adalah masalah brand. Cerita sukses Nokia dalam perjalanannya menguasai pasar ponsel adalah keberhasilannya dalam melayani semua segmen. Produknya sangat beragam, dari ponsel low-end yang sederhana dengan harga murah More >

Go to Top