Posting studi kasus pemasaran kali ini terinspirasi oleh tulisan mas Yuswohady mengenai Consumer 3000. Istilah Consumer 3000 ditujukan untuk pertumbuhan segmen kelas menengah, saat suatu negara mencapai angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar $3000. Angka ini menjadi penting karena banyak negara yang setelah mencapai angka PDB tersebut, menunjukkan lonjakan pertumbuhan yang makin tinggi. Angka tersebut menjadi titik lepas landas suatu negara dalam proses transformasi dari negara berkembang menjadi negara maju. Di Indonesia, diperkirakan titik ini akan mampu dicapai pada tahun 2011. Penjelasan selengkapnya mengenai fenomena Consumer 3000 bisa dibaca di blog Yuswohady: http://www.yuswohady.com/2010/12/04/consumer-3000/.

Dua ciri utama segmen kelas menengah ini adalah mempunyai daya beli yang meningkat dan lebih smart. Dalam proses keputusan membeli, mereka berorientasi kepada value. Dengan daya beli yang meningkat, maka produk yang selama ini masuk dalam kategori premium mulai terjangkau oleh segmen ini. Hal ini berkontribusi pada percepatan experience curve effect (baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Learning_curve_effects) sehingga economies of scale produk lebih cepat tercapai. Economies of scale akan memberi peluang pada penurunan harga. Efek dari fenomena ini adalah produk-produk yang selama ini dianggap mewah akan lebih terjangkau. Kondisi ini yang disebut oleh Yuswohady sebagai mass luxury.

Selanjutnya, strategi pemasaran dalam menyikapi perubahan pasar ini akan More >