Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant

Bagi yang sering traveling melalui jalan darat di jalur pantura atau jalur selatan Jawa, pasti akan banyak menemukan banyak pilihan tempat makan. Bagi orang yang sedang traveling, tempat makan bukan hanya diperlukan untuk tempat makan pagi, siang atau malam, tetapi juga merupakan momen untuk istirahat, ke kamar mandi / kamar kecil, sholat bagi yang muslim, cek kondisi kendaraan atau bahkan sekaligus tempat rekreasi untuk melepas kebosanan selama perjalanan. Beberapa kebutuhan sekaligus dari konsumen tersebut memerlukan komunikasi yang baik dari restoran atau tempat makan kepada target marketnya, yaitu terutama para traveler.

Pilihan cara mengkomunikasikan positioning dan diferensiasi kepada traveler tersebut cukup menantang antara lain karena persaingan yang cukup ketat dan beragamnya karakter dan kondisi traveler. Diperlukan cara komunikasi yang mampu membangun kepercayaan konsumen dan menciptakan keberadaan dan kredibilitas di benak konsumen di sepanjang jalur perjalanan. Bagi pengguna kendaraan pribadi, sebagian belum merencanakan tempat untuk berhenti, beristirahat dan makan dalam menempuh perjalanan. Sebagian lagi cenderung memilih tempat makan berdasarkan kebiasaan, pada tempat yang sudah dikenal, karena konsumen pasti tidak akan hafal atau mengenal dengan baik tempat-tempat makan di sepanjang jalur perjalanan. Hal ini menyebabkan sebagian traveler lebih memilih tempat yang sudah dikenal dan menurutnya relatif kredibel sesuai kebutuhan / keinginannya daripada mencoba tempat baru yang belum tentu sesuai selera atau fasilitas yang belum tentu lengkap dan nyaman.

Tantangan tersebut dicoba dijawab oleh Pringsewu Restaurant yang dikelola oleh PRSG (Pringsewu Restaurant Group) yang berpusat di Purwokerto dengan menciptakan gaya komunikasinya sendiri. Pertama kali saya menyaksikan gaya komunikasi Pringsewu Restaurant adalah saat menempuh perjalanan di jalur selatan Jawa, yaitu Pringsewu Restaurant yang berada di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Puluhan kilometer sebelum lokasi resturant, kita sudah bisa menemukan papan reklame pertama yang berisi informasi lokasi Pringsewu. Setelah itu selama perjalanan mengarah ke lokasi resturant kita bisa melihat puluhan sampai ratusan papan reklame Pringsewu yang khas berwarna dominan kuning. Informasi yang disampaikan berupa positioning dan diferensiasi Pringsewu lengkap dengan jarak menuju lokasi restaurant. Informasinya cukup beragam dari menu utama atau menu unggulan, fasilitas atau layanan dari Pringsewu yang unik, misalnya Magic Box, pijat elektrik, kamar mandi bersih, musholla dan lain-lain. Komunikasi pemasaran ini mendapatkan penghargaan rekor dari MURI dengan Nomor MURI No. 2108 untuk kategori “Papan Reklame Terpanjang”, yaitu 116 buah sepanjang 88 kilometer, khususnya untuk Pringsewu Tegal. Sensasi yang diciptakan melalui pengakuan dari MURI ini akan mampu meningkatkan “buzz” tanpa harus membuat kontroversi (see Miyabi Marketing)

Walaupun begitu banyak pesan dalam ratusan reklame di puluhan kilometer, Pringsewu tampak fokus pada mengkomunikasikan competitive advantage-nya, antara lain pada aspek service excellence dan menu unggulannya. Fokus ini sangat berguna untuk mencegah “confused positioning” karena terlalu menekankan kepada banyak atribut pada produk atau layanannya. Desain komunikasinya fokus pada aspek rational yang menyampaikan keunggulan produk dan layanan, serta pada aspek moral dengan munculnya beberapa pesan layanan masyarakat bagi pengguna jalan. Belum terlihat secara jelas pendekatan emosional dalam ratusan reklame tersebut.

Berbeda dengan tempat makan yang lain yang relatif hanya menempatkan beberapa reklame pada lokasi di sekitar restaurant, maka Pringsewu membangun kredibilitasnya pada sasaran pasar para traveler dengan intensitas komunikasi yang tinggi dalam bentuk sederhana yang mudah dibaca dan dimengerti. Pesan yang sederhana dengan intensitas tinggi ini sangat penting, mengingat sasaran pasar yang bergerak di sepanjang jalur pantura atau selatan Jawa. Beragam informasi keunggulan yang menjadi positioning dan diferensiasi juga menjadi mungkin untuk disampaikan sesuai dengan beragamnya atribut produk / layanan tempat makan yang menjadi bahan pertimbangan traveler seperti diceritakan di awal tulisan ini. Beragam atribut ini memang agak susah disampaikan dalam satu reklame besar kepada traveler yang bergerak, apalagi untuk membangun kredibilitas.

Untuk meningkatkan customer experience, Pringsewu juga aktif membuat event. Pada saat hari Ibu tahun ini, Pringsewu memberikan layanan istimew kepada ibu-ibu yang datang berkunjung, dengan memberi bunga dan kue tart. Konsumen yang berulang tahun pada saat berkunjung ke Pringsewu juga mendapatkan layanan khusus antara lain berupa seremonial, souvenir atau birthday beverage gratis. Beberapa layanan lain pun dipersiapkan untuk memperkuat diferensiasinya, seperti pertunjukan sulap gratis table to table.

Cukup menarik, cara Pringsewu menyiasati kondisi sasaran pasarnya untuk membangun kredibilitasnya di benak pelanggan. Akan lebih menarik kalau Pringsewu mulai memanfaatkan media horizontal untuk membangun komunitasnya, karena traveler di jalur pantura dan selatan Jawa merupakan pasar yang potensial, terbukti dari posting sebelumnya Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Share

Blue Ocean Strategy Gaya tvOne

Tampaknya tvOne sangat sadar bahwa diferensiasi menjadi salah satu kunci sukses dalam bersaing sebagai salah satu pendatang yang termasuk baru di antara para pesaingnya pada industri TV broadcasting nasional. Semboyan “Memang Beda” pun dipasang sebagai tagline yang memperkuat positioning statement-nya. Mari kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mengurai studi kasus marketing mengenai tvOne tersebut.

Intensitas persaingan di Industri TV broadcast di Indonesia memang terus meningkat dengan makin banyaknya pemain di industri ini. Penetrasi TV di Indonesia masih didominasi Free to Air (FTA) sebesar 75%, sedangkan Authorized PayTV baru mencapai 0,6% menurut salah satu sumber pada posisi tahun 2008. Dari ratusan stasiun TV yang memperoleh lisensi operasi, terdapat 10 FTA TV swasta berskala nasional yang menguasai market, yaitu RCTI, SCTV, Indosiar Visual Mandiri (IVM), Trans, TPI, Trans7, Global TV (GTV), ANTV, tvOne, Metro dan 1 stasiun TV milik negara, TVRI.

tvOne masuk ke industri ini pada tanggal 14 Februari 2008, yang merupakan transformasi dari Lativi. Transformasi ini seiring dengan pergantian kepemilikan dari mantan menteri tenaga kerja, Abdul Latief ke Aburizal Bakrie dan Erick Tohir. One pada nama tvOne bisa diasosiasikan sebagai singkatan dari Olahraga, News dan Entertainment. Akhir-akhir ini fokusnya lebih kepada Olahraga atau Sports dan News.

Sebagai pendatang baru, maka tvOne mencoba memposisikan diri berbeda dengan para pesaingnya. Sebelumnya stasiun TV swasta nasional terpolarisasi dalam dua kutub, yaitu satu sisi yang lebih berorientasi kepada muatan acara entertainment dan sisi lain yang lebih berorientasi pada tayangan berita. Sisi entertainment atau variety show diwakili oleh 8 staisun televisi, sedangkan pada sisi yang lain hanya diwakili oleh Metro. Langkah Metro terbilang cukup berani, karena rating TV nasional lebih banyak dikatrol oleh tayangan entertainment seperti sinetron, film seri/lepas, reality show, kuis, kontes, komedi atau talkshow. Dan dari rata-rata rating program TV, akhirnya memang Metro berada di bawah ke-8 stasiun televisi lainnya. tvOne mencoba membagi pasar dengan cara yang kreatif dan bermain di blue ocean, tidak secara langsung bertarung di kedua kutub tersebut. Maka masuklah tvOne dengan tayangan berita tetapi menggunakan penyajian yang lebih santai, atraktif dan fleksibel menjauhi kesan serius yang biasanya menjadi kesan pemirsa terhadap Metro. Format acara dan para anchor atau presenternya didesain untuk menyajikan berita dan informasi dengan lebih fun. Kunci dari Blue Ocean Strategy adalah diferensiasi. Studi kasus marketing mengenai diferensiasi juga terdapat pada artikel sebelumnya “Persaingan Posko Layanan di jalur Mudik”

Pertanyaannya, berhasilkah tvOne mengeksekusi positioning tersebut? Studi kasus marketing dalam eksekusi Blue Ocean Strategy ini sangat menarik bagi kita untuk sharing marketing ideas dan belajar marketing. Dari rata-rata rating TV Nasional, tvOne cukup berhasil menggeser Metro. Pada minggu IV bulan Oktober 2009, dari data sebuah lembaga survey, tvOne berhasil meraih share sebesar 5,0%, sedangkan Metro ”hanya” meraih share 2,2%. Tetapi ternyata tvOne belum berhasil menggeser stasisun televisi yang kokoh pada kutub entertainment. RCTI masih berada di puncak dengan share sebesar 17,9%. ANTV berada di posisi terendah pada kutub tersebut dengan share sebesar 5,2%.

Berdasarkan rating program TV harian, memang top rating masih dikuasai acara entertainment. Di puncak peringkat, akhir-akhir ini biasanya didominasi oleh trisula sinetron dari RCTI, yaitu: “Safa dan Marwah”, “Cinta dan Anugerah”, serta “Doa dan Karunia”. Masih sulit bagi program berita untuk masuk jajaran Top 10. Hanya sekali-sekali saja program berita bisa menusuk ke Top 20. tvOne juga pasti sadar akan kenyataan ini, maka sebagai mesin pendongkrak rating tvOne aktif mengakuisisi tayangan langsung olahraga, terutama sepakbola yang mampu masuk jajaran Top 10. Tayangan siaran langsung Liga Inggris dan beberapa pertandingan tim nasional telah menjadi bagian dari program tvOne dan terbukti efektif meraih rating tinggi. tvOne juga mempunyai acara entertainment, atau lebih tepatnya infotainment. Tetapi di kategori acara ini, infotainment bertajuk ”Expose” dari tvOne masih belum bisa mengalahkan infotainment dari stasiun televisi dari kutub entertainment, seperti “Silet” dari RCTI atau “Halo Selebriti” dari SCTV. Untuk tayangan informasi yang menghibur tvOne mungkin masih harus belajar dari Trans7 yang mampu menghadirkan tayangan edutainment “Si Bolang Bocah Petualang” dan “Laptop Si Unyil” yang beberapa kali mampu masuk ke jajaran Top 20.

Tetapi di tayangan berita, gaya penyajian ala tvOne mulai direspon dengan baik oleh pemirsa. ”Kabar Petang” tvOne sudah beberapa kali bisa mengungguli tayangan berita yang secara tradisi lebih menguasai rating, seperti ”Liputan 6” SCTV atau “Seputar Indonesia” RCTI.

tvOne juga tampak jago di tayangan berita liputan khusus. Salah satu andalannya adalah ”Breaking News” yang terbukti mencuri perhatian pemirsa televisi, seperti pada liputan peristiwa penggerebekan teroris oleh Densus88 di Temanggung dan Solo, liputan bencana gempa bumi di Padang dan Pariaman atau saat pemutaran rekaman telepon Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) pada kontroversi kasus korupsi yang melibatkan pimpinan KPK non aktif: Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Program ”Satu untuk Negeri” pun juga terbukti paling efektif menggalang dana bantuan dari pemirsa televisi untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat. Content liputan khusus yang mengandung kontroversi memang menarik, seperti yang pernah diulas dalam artikel “Miyabi Marketing”

Tetapi rating memang hanya salah satu indikator yang bisa digunakan. Dari sisi kualitas tayangan, tvOne juga mulai diakui. Menurut riset Yayasan Sains dan Estetika (SET), program tvOne juga paling unggul dalam menyajikan liputan Pemilu Legislatif tahun 2009 melalui tiga program unggulannya di kategori berita: ” Kabar Petang”, ”Kabar Malam” dan ”Kabar Pagi”, serta beberapa program unggulannya di kategori program khusus Pemilu, yaitu ”Kabar Pemilu”, ”Debat Partai”, ”Apa Kabar Indonesia Malam”, ”Uji Kandidat”, ”Interview Politik”, dan ”Jelang Pemilu Indonesia”. Kualitas dinilai oleh Yayasan SET melalui assessment terhadap informative content, social empathy, critical views, balance, factuality, objectivity dan public interest.

Bagaimana dengan aspek yang lain, efektifkah eksekusi Blue Ocean Strategy dari tvOne? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Miyabi Marketing

Bila kita cermati beberapa studi kasus marketing, sejak lama kontroversi telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu cara dalam mencuri perhatian pasar. Banyak sekali contoh marketing ideas yang kontroversial atau mendekati kontroversial digunakan para pemasar dalam menarik perhatian dan membangkitkan words of mouth, menjadikan topik ini cukup menarik bagi kita yang belajar marketing. Words of mouth atau buzz adalah mesin dari new wave marketing yang bersifat horizontal marketing. New wave marketing adalah konsep marketing yang dipopulerkan oleh Guru marketing: Hermawan Kartajaya.

Pada bulan Februari tahun ini, Southwest Airlines (SWA) pernah memancing kontroversi saat menghias badan pesawat Boeing 737 nya dengan foto besar model majalah “Sports Illustrated” yang cukup ternama asal Brasil, Bar Rafaeli, yang mengenakan bikini. Tentu saja kontroversi langsung mencuat, perdebatan di berbagai media bermunculan, baik respon negatif, netral maupun respon positif. Menurut pengakuan public relation dari SWA, seperempat respon yang masuk adalah respon negatif. Langkah maskapai ini terbilang cukup unik, karena 19 bulan sebelumnya kontroversi bertema bikini juga menghiasi publikasi SWA. Waktu itu seorang Flight Attendant SWA sempat menolak seorang penumpang wanita yang mengenakan mini skirt, karena dianggap terlalu mini sehingga kurang pantas masuk dalam pesawat dari maskapai yang memposisikan diri sebagai “family airline”.

Di dunia entertainment, episode sebuah serial dengan penonton paling banyak biasa terjadi pada episode kontroversial. Episode yang mengakhiri riwayat serial drama televisi “Friends” mencatat rekor jumlah penonton sebanyak 52,5 juta penonton saat ditayangkan pada tahun 2004 (tertinggi dalam kurun waktu 6 tahun). Komik seri Superman dari DC Comics mencatat rekor penjualan pada seri berjudul “The Death of Superman” pada tahun 1992, yang menceritakan matinya sang jagoan.

Beberapa judul buku marketing yang populer pun tidak lepas dari kontroversi, seperti “The End of Marketing, As We Know It” dan “The End of Advertising, As We Know It”, keduanya karya Sergio Zyman. Judul senada juga menjadi karya pakar marketing dan branding, Al Ries dan Laura Ries, yaitu “The Fall of Advertising, the Rise of PR”.

Bagaimana dengan studi kasus marketing atau marketing ideas yang berkembang di Indonesia? Beberapa waktu yang lalu Bakrie Telecom, operator telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, meluncurkan fitur atau layanan “esia Bispak”. Dengan fitur tersebut, pengguna esia dapat membandingkan tarif beberapa operator telekomunikasi berbasis teknologi GSM secara langsung melalui simulasi. Serangan frontal ke operator GSM ini tentu saja memicu kontroversi, belum lagi pemilihan nama “Bispak” yang juga mengandung kontroversi. Penggunaan inisial 5 operator GSM di simulasi esia tersebut pun menambah kontroversi. 5 huruf yang digunakan sebagai inisial tersebut berturut-turut adalah B, A, S, M, I. Salah satu operator GSM, yaitu XL, segera bereaksi dengan meluncurkan “Paket XL Harga CDMA”.

Yang tidak kalah serunya, adalah kalau kita belajar marketing melalui studi kasus marketing rencana produksi film layar lebar berjudul “Menculik Miyabi”. Kontroversi timbul saat ada rencana mendatangkan Miyabi, bintang film porno asal Jepang, ke Indonesia untuk ikut membintangi film tersebut. Beberapa elemen masyarakat terlibat dalam kontroversi yang seru, sampai akhirnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, memutuskan bahwa Miyabi tidak akan datang ke Indonesia. Padahal menurut beberapa sumber, naskahnya pun masih dalam proses pengerjaan oleh Raditya Dika, novelis yang mulai populer di tanah air. Coba bayangkan bagaimana serunya kontroversi yang terjadi kalau Miyabi jadi datang ke Indonesia dan syuting film “Menculik Miyabi”?

Publisitas negatif, tetaplah sebuah publisitas, dan sangat potensial dalam menarik perhatian dari publik. Pada beberapa studi kasus marketing, kontroversi cukup efektif dalam mendukung usaha pemasaran. Tetapi potensi backfire juga harus dipertimbangkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bagi kita yang belajar marketing, tampaknya sebelum memulai upaya marketing bergaya kontroversi, perlu pertimbangan segmen apa yang menjadi target market kita dan kontroversi yang dipicu akan paling besar menyinggung pada segmen pasar yang mana. Karena respon negatif dari kontroversi pada target market atau pelanggan kita bisa berpotensi pada keputusan pelanggan kita untuk tidak lagi menggunakan produk atau layanan kita. Hal tersebut terjadi pada beberapa pelanggan Southwest Airlines setelah “kontroversi bikini” seperti diceritakan di atas.

Tetapi, bagaimana menurut Anda, apakah betul potensi kontroversi dalam marketing layak untuk dipertimbangkan? Please share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar bersama di blog marketing ini.

Augmented Reality? Definisi Baru bagi Realitas!

virtualWaktu saya kecil, salah satu game yang pertama kali saya kenal adalah Donkey Kong. Pada masa itu – di saat computer belum terlalu memasyarakat – bermain game yang sangat sederhana tersebut melalui game console yang sering disebut game watch sungguh sudah terasa luar biasa. Tampilan grafis di console tersebut sudah terasa begitu menghibur. Sejak masa itu, teknologi computer graphics terus berkembang. Salah satu yang fenomenal adalah Augmented Reality.

Dalam posting belajar marketing kali ini, kita akan mencoba melihat aplikasi teknologi ini dalam mengembangkan atau menyampaikan marketing ideas. Tetapi sebelumnya akan kita lihat apa yang dimaksud dengan augmented reality. Teknologi ini menggabungkan tampilan grafis tiga dimensi yang direkayasa menggunakan computer dengan tampilan lingkungan nyata. Dengan semakin canggihnya tampilan grafis tiga dimensi, maka teknologi ini akan semakin mengaburkan batas antara tampilan yang maya dan yang nyata. Lebih dahsyat lagi, augmented reality bisa menambahkan elemen-elemen yang bisa diaplikasikan untuk semua panca indera kita. Augmented reality bisa menambahkan grafis, suara, haptic, dan bahkan bau ke dalam rekayasa computer. Haptic merupakan elemen yang diaplikasi melalui indera sentuhan. Bayangkan, dengan teknologi ini, cukup menggunakan alat seperti kaca mata dan beberapa interface atau antar muka ke beberapa indera kita seperti headset dan interface ke indera sentuhan dan penciuman, maka kita bisa memasuki alam maya. Salah satu contoh aplikasi augmented reality membutuhkan tiga komponen utama yaitu: head-mounted display, tracking system dan mobile computing power.

Pemanfaatan teknologi ini antara lain untuk bidang kesehatan, manufaktur dan reparasi, simulasi serta tentu saja…. hiburan! Salah satu bentuk sederhana yang bisa kita lihat adalah saat berita laporan cuaca di televisi. Pembawa acara berdiri dengan dikelilingi oleh tampilan virtual dari peta cuaca yang berubah-ubah. Atau bagi para penggemar sepak bola, pada beberapa siaran langsung sepakbola, kita sering melihat iklan yang seakan-akan ditempel di lapangan sepakbola.

Nah… bagaimana aplikasinya di dunia hiburan? Pengembangan video atau computer games, film dan bahkan siaran langsung hiburan di televisi bisa menggunakan teknologi ini. Salah satunya, bila Anda penasaran bisa menyaksikannya di Trans TV nanti malam, Jumat, 23 Oktober 2009 pukul 20.30 – 21.30 WIB. Acara tersebut terkait live show bertajuk “The World in Your Hand” yang merupakan rangkaian marketing event dalam acara peluncuran corporate identity baru dari Telkom Indonesia.

Bagaimana menurut Anda, ada aplikasi lain yang mungkin bisa dikembangkan untuk marketing event lainnya? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

IT Bukanlah Hal yang Penting Lagi?

computerPada era knowledge economy sekarang ini ditandai dengan semakin meningkatnya peran Information Technology (IT) dalam berbagai kegiatan ekonomi. Tidak terkecuali dalam bidang marketing. Cerita kesuksesan business & marketing ideas dari Dell, Air Asia, Southwest Airlines, Amazon.com, iPod tidak bisa lepas dari peran penting IT.

Dell meminimalkan inventory cost dengan membangun online channel langsung ke end customer, memotong supply chain. IT yang dibangun Southwest Airlines dan kemudian Air Asia menjadi salah satu kontributor penting dalam memperkuat diferensiasi mereka sebagai low cost airlines. Kustomisasi layanan dari amazon.com – online retailer terbesar di dunia – sangat ditentukan oleh sistem informasinya. Fenomena keberhasilan iPod berawal dari konsep iPod / iTunes ecosystem yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi. Pada beberapa perusahaan berskala besar pun mempunyai posisi Direktur IT atau yang disebut dengan CIO (Chief Information Officer) sebagai salah satu indikasi lagi betapa pentingnya IT.

Makanya tidak heran, saat Nicholas G. Carr menulis artikel di Harvard Business Review, edisi bulan Mei 2003 dengan judul “IT Doesn’t Matter”, kontroversi pun terjadi. Dalam artikel tersebut Nicholas G. Carr berpendapat bahwa IT berpotensi untuk menjadi komoditas di masa yang akan datang. Saat semua mempunyai akses yang sama terhadap IT, maka potensi IT untuk menjadi sumber dari competitive advantage menjadi semakin hilang. Analoginya pada awalnya listrik bisa menjadi sumber competitive advantage saat sumber energi listrik masih langka dan sumber energi alternatif masih tidak efisien. Tetapi saat listrik sudah menjadi standard an akses ke sumber energi tersebut tidak lagi langka, maka akan sangat aneh kalau kita sekarang mendengar akses ke sumber energi listrik sebagai sumber sustainable competitive advantage.

Lebih parah lagi, kalau kita kutip kalimat dalam artikel tersebut: “When a resource becomes essential to competition but inconsequential to strategy, the risks it creates become more important than the advantages it provides. Kalau melihat secara parsial pada perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham New York (NYSE), maka kalimat tersebut bisa dianggap “menjadi kenyataan”. Repotnya melaksanakan prosedur risk management yang dipersyaratkan terhadap semua perusahaan yang listing di NYSE pasti dirasakan oleh IT people di perusahaan-perusahaan tersebut. Carr menyebutnya sebagai komoditisasi IT.

Bukan hanya teknologi informasi, tetapi sebetulnya teknologi pada umumnya punya potensi dan siklus yang sama. Walaupun tidak pada semua jenis teknologi, tetapi banyak teknologi yang perlu ditinjau ulang agar bisa menjadi sumber sustainable competitive advantage. Banyak teknologi yang sudah menjadi kategori easy to imitate. Teknologi yang digunakan Blackberry akan dengan cepat diadopsi oleh berbagai perusahaan di berbagai penjuru dunia. Di pasar Indonesia, tidak terlalu lama setelah booming “Blackberry”, disusul banjir “berry“ lainnya: “Nexianberry”, “Mitoberry”, “HTC-berry” yang merupakan gadget serupa dari produsen lokal dan Cina dengan harga yang jauh lebih murah.

Penguasaan proses belajar jauh lebih penting, termasuk proses organisasi untuk belajar marketing management yang efektif sesuai karakter industri dan karakter organisasi masing-masing. Banyak teknologi, termasuk IT sekarang bisa dengan mudah diakses oleh berbagai organisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan informasi menjadi knowledge dalam proses belajar di dalam organisasi merupakan peluang besar sebagai sumber competitive advantage. Hal ini memperkuat bagaimana pada era knowledge economy, intangible assets menjadi jauh lebih penting. Brand dari Dell tetap bertahan, walaupun skema supply chain-nya bisa diimitasi oleh perusahaan lain. Brand Coca Cola tetap bisa memimpin di pasar, walaupun formula coke nya bisa diimitasi bahkan diungguli oleh kompetitornya. Proses belajar dalam memanfaatkan informasi dari customer database menjadi sumber amazon.com dalam membangun competitive advantagenya. Dibarengi dengan brand management, diferensiasi tersebut menjadi susah untuk diimitasi walaupun teknologi informasinya bisa diimitasi. Air Asia masih terus mempertahankan competitive advantage-nya meskipun liputan dan ulasan mengenai “rahasia” dan “marketing ideas”-nya dalam memimpin pasar low cost airlines di Asia Tenggara sudah sangat banyak.

Judul artikel Nicholas G. Carr di atas memang terlalu kejam, tetapi esensinya adalah: hanya organisasi yang mampu “belajar” dengan baik bisa mempertahankan sustainable competitive advantage-nya dalam iklim kompetisi yang ketat.

Tetapi bagaimana menurut Anda? Setujukah dengan pendapat Nicholas G. Carr? Benarkah learning organization menjadi hal yang utama dalam membangun sustainable competitive advantage? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka Lebaran tahun ini diwarnai dengan persaingan bisnis di jalur mudik. Persaingan ini cukup menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Berbagai posko layanan mudik bertebaran di sepanjang jalur mudik di seluruh Indonesia. Persaingan tampak lebih seru dengan pertempuran media promosi below the line, mulai dari spanduk, umbul-umbul, banner sampai digital signage.

mudikAgen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) mobil berlomba menyediakan jasa layanan purna jualnya. Sebagian di antaranya beroperasi 24 jam penuh. Nissan Motor Indonesia menyediakan 5 lokasi Nissan Rest Point (NRP) yang beroperasi 24 jam. NRP melengkapi 27 bengkel siaga yang beroperasi pada jam kerja biasa. Isuzu menyiapkan 8 lokasi posko siaga 24 jam, melengkapi 23 lokasi bengkel siaga. Dealer terbesar mobil Toyota, Auto2000 menyebar 11 lokasi posko siaga dan 4 bengkel siaga yang beroperasi 24 jam. PT Indomobil, ATPM dari mobol Suzuki menyiapkan 25 posko siaga di lima wilayah di Indonesia. Tiap posko biasanya juga dilengkapi berbagai layanan gratis, seperti kursi pijat, TV kabel, takjil gratis, dan lain-lain. Beberapa ATPM juga menyediakan mobile services yang siap melayani pemudik.

ATPM motor juga tak kalah seru bersaing, apalagi jumlah pemudik yang menggunakan motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Yamaha menyediakan 3 pos jaga dan 8 bengkel jaga. TVS menggelar 4 posko di Jawa. Suzuki mendirikan 37 posko siaga di berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakannya dengan posko mudik ATPM mobil adalah adanya layanan pengawalan bagi rombongan pemudik yang menggunakan motor.

Persaingan posko layanan mudik yang juga tampak mencolok adalah antara operator telekomunikasi. Telkom Group menggelar 26 posko Telkom Peduli. Indosat menyediakan 138 posko mudik di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Posko Mudik XL didirikan di 27 lokasi di jalur utama arus mudik. Posko mudik operator telekomunikasi biasanya banyak dilengkapi dengan fasilitas gratis yang bersifat umum melayani kebutuhan pemudik (pijat, tempat istirahat, takjil, minuman, dll), melengkapi layanan spesifik terkait produk dan layanan telekomunikasi.

Persaingan yang juga tak kalah seru juga terjadi di produsen mie instan, minuman dalam kemasan, produk minuman suplemen dan beberapa produk lain.

Selain untuk meningkatkan company atau product image dan sebagai media promosi, ritual tahunan ini juga merupakan pasar yang potensial. Perkiraan jumlah uang yang dibawa para pemudik bias mencapai triliunan rupiah. Sehingga selain menyediakan fasilitas gratis, banyak posko mudik yang ditujukan untuk meningkatkan penjualan.

Sekilas skema layanan posko mudik dari berbagai produsen tidak jauh berbeda, membuka peluang untuk diferensiasi. Tetapi pada tahun ini diwarnai juga oleh perubahan skema layanan mudik yang disiapkan menuju skema yang lebih efektif dan efisien, belajar dari implementasi pada tahun-tahun sebelumnya. Honda, misalnya, tidak menyediakan posko siaga seperti beberapa tahun sebelumnya. Tahun ini, Honda lebih memilih mengoptimalkan bengkel resminya untuk menyediakan bengkel siaga di jalur mudik, terdiri dari 52 bengkel yang beroperasi pada jam kerja dan 13 bengkel yang beroperasi 24 jam. Suzuki mengalokasikan separo dari jumlah poskonya untuk fokus di jalur pantai utara Jawa. Mazda hanya fokus di H-3 sampai dengan H+3, saat posko layanan mudik lainnya biasanya digelar selama 2 minggu, dari H-7 sampai dengan H+7.

Lokasi posko layanan mudik pun terus dimodifikasi. Pada tahun ini, menurut pengamatan saya, tampak peningkatan jumlah posko layanan mudik yang ditempatkan di SPBU. SPBU memang merupakan salah satu tempat berhenti favorit bagi banyak pemudik, mengingat bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan penting dalam perjalanan. Selain itu, SPBU biasanya dilengkapi dengan toilet dan area parkir yang memadai. Sasaran berikutnya yang menjadi lokasi posko layanan mudik adalah rumah makan atau rest area di jalan tol, terutama rumah makan yang selama ini menjadi preferensi banyak pemudik. Untuk tujuan mudik yang memakan waktu lama, rumah makan memang menjadi tempat penting untuk beristirahat dan mengisi perut. Beberapa lokasi lain yang dipilih antara lain: masjid, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, alun-alun kota dan daerah rawan kemacetan seperti Nagrek, Kanci dan kawasan Puncak.

Jadi, dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di blog belajar marketing & sharing marketing ideas ini, tampak bahwa skema, lokasi dan bahwak objective dari posko layanan mudik ini terus berevolusi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangannya adalah produktivitas, efisiensi, persaingan atau gerakan dari para kompetitor dan identifikasi kebutuhan dari pemudik. Posko layanan mudik juga menjadi langganan dari industri-industri tertentu, membuka peluang bagi pemain di industri yang selama ini belum terjun untuk membuat posko layanan yang baru dan unik. Beberapa pemain di industri yang menjadi langganan penggelar posko mudik pun tampak tidak banyak ikut bertempur di jalur mudik.

Bagaimanakah sebenarnya skema posko layanan mudik yang efektif, sesuai objective dari pendirian posko tersebut? Atau posko layanan mudik mana yang menjadi favorit Anda selama ini? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. Masukkan pendapat Anda dengan klik “tinggalkan komentar” atau “leave a comment” di bagian atas tulisan ini, atau cukup isi Fun Polling di menu sebelah kanan bawah blog ini.

Many to Many Marketing Gaya Paris van Java Mall Bandung?

Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.

pvj-mallDiferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.

Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.

Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.

Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.

Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.

Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?

Posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas kali ini mengenai salah satu trend di pasar gadget telekomunikasi sekarang adalah Blackberry. Demam Blackberry juga terjadi di Indonesia. Karena harganya masih relatif cukup tinggi, maka pada beberapa segmen pelanggan mencari alternatif untuk memperoleh “Blackberry” dengan membeli gadget serupa dari produsen selain RIM (Research In Motion). Produsen yang merilis gadget serupa kini cukup banyak, baik produsen lokal maupun beberapa produsen dari Cina, Korea dan Eropa. Gadget serupa dari produsen lokal atau dari Cina dicari karena memberikan harga yang jauh lebih ekonomis. Beberapa jenis gadget serupa yang dirilis bundling dengan layanan dari beberapa operator telekomunikasi tersedia dengan harga di kisaran 1 juta-an, jauh dari harga Blackberry RIM yang ada di kisaran 4 juta-an atau lebih, tergantung tipe. Walaupun ada beberapa Blackberry ilegal yang dijual di bawah harga 4 juta, terutama Blackberry Curve.

blackberryTetapi perang antara RIM dan Apple dalam memasarkan Blackberry dan iPhone memberikan alternatif pembeli untuk memperoleh Blackberry RIM dengan harga jauh lebih ekonomis, bahkan setara dengan gadget serupa produksi lokal atau Cina. Seperti di Indonesia saat ini, di pasar global Blackberry mulai mendapatkan tantangan dari Apple iPhone di pasar smartphone. Baru-baru ini di Amerika Serikat, Apple iPhone 3G dirilis dengan harga US$ 99 setelah disubsidi. RIM beraliansi dengan Verizon, salah satu operator telekomunikasi terkemuka di Amerika Serikat, merespon dengan meluncurkan Blackberry Storm dengan harga senilai US$ 99 atau turun 50% dari harga sebelumnya, dengan mekanisme penawaran “Buy One, Get One Free”.

Fenomena price war ini sangat menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Bahkan pada bulan ini, menurut consumerreports.org, T-Mobile meluncurkan paket baru Blackberry Curve 8520 seharga US$ 50. Dengan asumsi kurs US$ 1 sekitar 10.000 rupiah, maka harganya “hanya” sekitar 500.000 rupiah. Harga ini bahkan lebih rendah dari smartphone produksi Cina atau Korea. Di Amerika Serikat paket HTC Touch Pro dan Samsung Omnia pada paket bundling dengan layanan dari Verizon dijual pada harga US$ 100. Pada kuartal pertama tahun ini, penjualan Apple iPhone berada di posisi kedua penjualan smartphone di Amerika Serikat, terus membuntuti Blackberry Curve yang masih memimpin. Sedangkan posisi ketiga diisi oleh Blackberry Storm (hasil riset NPD Group).

Salah satu tujuan penurunan harga Blackberry tersebut, tentunya untuk mempertahankan market share dengan berusaha meningkatkan jumlah penjualan, mengantisipasi serangan kompetitor. Tetapi pola pricing dari T-Mobile tersebut juga mengantisipasi customer lifetime value-nya dengan memperpanjang periode kontrak berlangganan dan meningkatkan biaya paket penggunaan bulanan pada jumlah tertentu. T-Mobile menyediakan paket berlangganan unlimited seharga US$ 125 per bulan dengan komposisi US$ 100 untuk unlimited domestic voice, US$ 25 untuk unlimited Blackberry/Internet. Harga ini jauh lebih tinggi dari harga penjualan Blackberry Curve-nya yang “hanya” US$ 50. Paket loyalty plan-nya pun masih lebih tinggi dari US$ 50, yaitu senilai US$ 85 yang ditujukan untuk pelanggan tertentu yang memenuhi syarat. Jadi dengan penawaran paket tersebut, selain berusaha meningkatkan jumlah customer base-nya, mereka juga mencoba mempertahankan customer base dari serangan kompetitor dengan menciptakan switching barriers.

Latar belakang lain penurunan harga Blacberry Curve oleh Verizon dan RIM adalah adanya rencana peluncuran model baru Blackberry (Storm 2) yang diprediksi akan dirilis bulan November tahun ini. Dalam forum online pelanggan Verizon (forums.verizon.com), beberapa pelanggan sudah mampu membaca hal ini, karena pola penurunan harga paket Blackberry biasanya memang hampir selalu terkait munculnya model atau tipe baru dua sampai tiga bulan kemudian. Sehingga mereka mempunyai waktu beberapa bulan sebelum peluncuran model atau paket baru, yang dipergunakan untuk membersihkan inventori dari paket lamanya.

Bagaimanakah pendapat Anda mengenai respon dari Blackberry terhadap serangan kompetitornya tersebut? Please share your marketing ideas @ my marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Film “Meraih Mimpi”: Harapan Bangkitnya Kreativitas di Industri Film Indonesia

Peran diferensiasi sangat besar dalam menentukan keberhasilan pemasaran. Sehingga diferensiasi menjadi pokok bahasan yang menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Dari sembilan elemen dalam konsep pemasaran yang diusung Hermawan Kartajaya, strategi kuncinya dirumuskan lebih sederhana dalam segitiga PDB (Positioning, Differentiation, Branding) di mana tampak bahwa Diferensiasi menjadi salah satu elemen dalam core strategy. Dalam konsep New Wave Marketing, sembilan elemen pemasaran tersebut bertransformasi menjadi 12C. Diferensiasi bertransformasi menjadi Coding atau lebih lengkapnya “Coding Your DNA”. Diferensiasi atau Coding memegang peranan penting dalam membentuk pembeda yang otentik dari suatu produk, layanan atau perusahaan yang membedakannya dari produk, layanan atau perusahaan lain sehingga akan mampu menarik bagi target market tertentu. Pada akhirnya, diferensiasi akan berkontribusi dalam sustainability dari perusahaan tersebut karena merupakan sumber dari keunggulan kompetitif dari perusahaan.

meraih_mimpiDi dalam era hyper-competition seperti sekarang, diferensiasi sangat membutuhkan kreativitas. Bagaimana dengan industri film Indonesia sekarang ini? Beberapa pakar dan media akhir-akhir ini memandang industri film Indonesia mulai bangkit, setelah terpuruk sejak krisis ekonomi di akhir dekade 90-an. Pendapat ini dikuatkan dengan mulai meningkatnya komposisi film Indonesia di berbagai bioskop di tanah air. Tetapi data dari Lembaga Sensor Film Indonesia pada awal bulan Agustus 2009 menunjukkan bahwa pada tahun ini lebih dari separuh film Indonesia bertema horor. Dan dari separuh sisanya, didominasi dari kloning film-film India, Hongkong, China, Thailand, Korea atau Amerika. Dari data tersebut, belum nampak kreativitas dan diferensiasi kuat dari film Indonesia. Sehingga sustainabilitas dari “kebangkitan” industri film Indonesia masih diragukan. Salah satu sutradara film Indonesia, Jose Poernomo juga berpendapat dalam pernyataannya di showbiz.liputan6.com bahwa saat ini industri film Indonesia belum bisa dikatakan bangkit, karena kreativitas belum berkembang. Kurangnya kreativitas tersebut merupakan masalah sistemik yang kompleks, karena dengan sistem yang ada sekarang, aliran dana pembuatan film akan terfokus pada genre atau jenis film tertentu yang sempit, misalnya film horor. Sehingga perkembangan kreativitas akan terhambat.

Oleh karena itu apresiasi bagi Infinite Works (IFW) yang memproduksi film “Meraih Mimpi”, bekerja sama dengan The Media Development Authority of Singapore (MDA) dan MediaCorp Raintree Pictures. Film ini merupakan film animasi 3D pertama yang diproduksi Indonesia. Versi pertama dari film ini diluncurkan di Singapura, dan diproduksi bersama beberapa artis Singapura untuk pengisi suara, dengan judul “Sing to the Dawn”. Menurut IFW, hal ini dilakukan karena mereka mentargetkan pengakuan internasional terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke pasar domestik.

Uniknya, dalam sebuah liputan media Singapura, MDA, sebuah institusi di bawah koordinasi Kementrian Infokom Singapura, mengatakan bahwa film ini merupakan inisiatifnya yang didukung dengan alokasi dana sebesar 40% dari total biaya produksi. Sumber ceritanya sendiri memang dari novel karya penulis Singapura, Minfong Ho, dengan judul “Sing to the Dawn” yang dirilis tahun 1975. Novel ini merupakan buku wajib bagi beberapa sekolah dasar di Singapura. Tetapi faktanya, 80% produksinya dikerjakan oleh Indonesia dan dilakukan di studio animasi di Batam. Sekitar 150 orang dari Jogja, Bandung, Solo direkrut di Batam sebagai animator, dibantu lima orang asing. Versi Indonesianya dengan judul “Meraih Mimpi” disutradari oleh Nia Dinata dan direncanakan akan premier pada tanggal 8 September 2009. Erwin Gutawa berperan untuk melakukan komposisi ulang musiknya. Pengisi suara diperkuat oleh Gita Gutawa, Cut Mini, dan Shanty.

Apresiasi bagi IFW, karena dari berbagai aspek, film ini seperti oasis dalam industri film Indonesia. Sumbangan kreativitas dari film ini diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam pembentukan diferensiasi dan kekuatan dari film Indonesia. Juga sumbangan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Walaupun dari beberapa komentar penonton film versi bahasa Inggrisnya, “Sing to the Dawn”, film ini belum bisa dibandingkan dengan film animasi 3D produksi Pixar atau DreamWorks, tetapi kreativitas tema dan penggarapannya kita harapkan akan mampu menjadi salah satu pemicu kreativitas lain dalam industri film nasional. Menurut Nia Dinata, film ini mengandung unsur pendidikan, komedi dan kesadaran akan lingkungan hidup dalam kemasan cerita tentang kakak beradik yang berusaha melindungi tempat tinggal dan lingkungan mereka dari kontraktor penipu. Bagi yang penasaran dengan film-nya bisa cek movie trailernya di youtube http://www.youtube.com/watch?v=0XsgYZRyWIM

Ruang bagi kreativitas industri film nasional sebenarnya terbuka lebar. Apalagi dari menurut laporan JPNN, dalam dua tahun belakangan ini, pasar film nasional lebih diramaikan dengan tambahan penonton dari segmen ibu-ibu rumah tangga, serta komunitas yang sebelumnya tidak masuk dalam segmen pasar perfilman nasional.

Bagaimanakah menurut Anda? Apakah kira-kira potensi diferensiasi bagi film Indonesia? Perlukan peran pemerintah dalam mengembangkan kreativitas di industri film nasional dengan fakta bahwa film “Meraih Mimpi” justru merupakan inisiatif dan sebagian dananya berasal dari pemerintah Singapura padahal 80% produksinya oleh dan di Indonesia? Please share your comments dan marketing ideas @ marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Mencapai Keunggulan Perbankan Syariah melalui New Wave Marketing

Kali ini posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas mengenai Perbankan Syariah. Berbicara mengenai tantangan Perbankan Syariah pada masa yang akan datang, tidak lepas dari perkembangan industri perbankan sekarang ini. Kondisi dan perkembangan industri perbankan juga tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi global yang dipicu salah satunya dari sektor finansial yang lekat dengan industri perbankan pada tahun 2008. Kemudian, bagaimanakah perkembangan industri ini dalam masa krisis ekonomi global yang diprediksi berbagai pihak masih akan terus berlanjut?

perbankan Gambaran yang bisa dijadikan referensi salah satunya dari Deloitte ( klik http://www.deloitte.com ), sebuah kelompok kantor akuntan internasional besar di dunia. Terdapat beberapa perubahan paradigma dalam perkembangan dewasa ini, salah satunya adalah pergeseran fokus perbankan dari “alpha-market” ke “beta-market”. Alpha merupakan istilah untuk produk yang mempunyai profil high return / high risk. Menurut New York Times pada laporannya tanggal 16 April 2009, industri perbankan di Amerika Serikat telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk dua bank yang mendapat dampak sangat besar dari krisis ekonomi global, Citigroup dan Bank of America. Walaupun dikatakan beberapa sektor masih banyak mengalami kesulitan, antara lain layanan kartu kredit dan private equity.

New Wave Marketing

Nah… saya kira akan menarik kalau kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mencoba menerapkan new wave marketing dalam mendukung perkembangan perbankan syariah. Perkembangan yang juga harus menjadi perhatian kita adalah pasar atau pelanggan itu sendiri. Thomas L. Friedman, dalam bukunya mengungkapkan “The World is Flat” untuk menggambarkan dunia sebagai “level playing field” di mana semua kompetitor mempunyai kesempatan yang sama di pasar global. Kemudian Hermawan Kartajaya dalam bukunya “New Wave Marketing” mengungkapkan, “the world is still round, but the market is already flat”. Konsekuensinya terdapat perubahan paradigma dalam pemasaran menuju “many to many marketing” atau New Wave Marketing”, di mana interaksi antar pelanggan menjadi penting. Interaksi ini sebelumnya dikenal dengan istilah words of mouth atau buzz. Fenomena buzz menjadi lebih dominan dengan adanya perkembangan telekomunikasi yang memungkinkan interaksi yang luar biasa, terutama didukung oleh perkembangan internet.

Formulasi strategi marketing yang meliputi segmentasi, targeting dan positioning (STP) ditransformasikan menjadi Communitization, Confirming dan Clarifying. Pada level taktik: diferensiasi, marketing mix (yang terdiri dari 4P: Product, Price, Place, Promotion) dan Selling menjadi Coding, Crowd Combo (terdiri dari 4C: Co-Creation, Currency, Communal Activation dan Conversation) dan Commercialization. Pada tataran Value, yang meliputi Brand, Service dan Proses menjadi Character, Caring dan Collaboration. Sehingga secara keseluruhan bertransformasi menjadi formulasi 12C.

Kemudian bagaimana Perbankan Syariah menjawab tantangan perubahan di pasar tersebut? Implementasi New Wave Marketing menjadi salah satu jawaban dalam menghadapi tantangan tersebut. Pertanyaan berikutnya, bagaimana implementasi spesifik dari konsep tersebut dalam Perbankan Syariah? Apa potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank konvensional dalam menerapkan New Wave Marketing?

Karakter perbankan syariah yang spesifik dan citra layanan yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat memungkinkannya untuk lebih cepat diterima di beberapa komunitas, terutama di Indonesia. Sehingga seperti yang dirilis gulfnews.com pada tanggal 1 Agustus 2009, market share perbankan syariah Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia di kawasan Asia Tenggara. Dalam many to many marketing, peran komunitas menjadi sangat penting. Potensi besar ini menjadi tantangan perbankan syariah untuk menerapkan New Wave Marketing.

Seperti yang saya ulas dalam tulisan sebelumnya di blog ini, salah satu tantangan terbesar dalam implementasi New Wave Marketing adalah perubahan cara berpikir atau mindset. Konsep baru tersebut melibatkan perubahan paradigma dalam beberapa aspek pemasaran, mulai dari tahap strategis sampai taktis. Sehingga untuk bergeser diperlukan perubahan budaya organisasi, karena paradigma yang baru mungkin berbeda dengan espoused belief atau underlying assumptions yang berkembang dalam suatu organisasi, dalam hal ini perbankan.

Budaya organisasi menurut Edgar H. Schein, dapat direpresentasikan dalam tiga level, yaitu Artifacts, Espoused Beliefs and Values dan Underlying Assumptions. Artifacts adalah struktur dan proses dari suatu organisasi yang mudah dilihat dan dikenali. Espoused Beliefs and Values merefleksikan nilai-nilai yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah dalam praktek suatu organisasi. Atau apa yang merupakan kegiatan yang efektif dan yang tidak efektif. Sedangkan Underlying Assumptions adalah asumsi-asumsi implisit yang menjadi panduan dalam perilaku organisasi. Asumsi yang mendasari cara anggota organisasi tersebut dalam merasakan dan memikirkan mengenai sesuatu.

Tantangan berikutnya adalah dukungan Sharia Core Banking System (SCBS) terhadap implementasi New Wave Marketing. SCBS merupakan kolaborasi antara sistem perbankan dengan teknologi informasi yang terpadu. Berbeda dengan Core Banking System (CBS) untuk bank konvensional, SCBS menyesuaikan dengan prinsip-prinsip Sharia dan peraturan dari bank sentral. SCBS harus mampu mengantisipasi dan mendukung inovasi produk perbankan syariah yang customized untuk bisa mengoptimalkan pemasaran pada komunitas-komunitas yang menjadi sasaran.

Contoh lain tantangan dalam penerapan konsep tersebut adalah aspek Co-Creation yang menggantikan pilar Product dalam konsep pemasaran ‘konvensional’. Konsep ini sebenarnya sesuai dengan salah satu pilar dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yaitu “Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan”. Salah satu pemberdayaan yang bisa diwujudkan adalah melalui proses co-creation. Pertanyaannya adalah bagaimanakah mekanisme co-creation bersama nasabah dalam perbankan syariah? Kedekatan perbankan syariah dengan komunitas-komunitas tertentu bisa merupakan potensi bagi inovasi produk yang mempunyai diferensiasi terhadap produk bank konvensional terutama pada segmen beta-market. Tetapi secara lebih rinci, kita perlu mempelajari rantai nilai perbankan syariah untuk mengidentifikasi peluang co-creation dengan lebih baik.

Agar perbankan syariah bisa meraih keunggulan, terutama dibandingkan dengan bank konvensional, mereka perlu memanfaatkan karakter spesifiknya untuk menerapkan konsep New Wave Marketing. Karakter yang kuat tersebut akan menjadi kompetensi dan diferensiasi yang susah untuk bisa ditiru oleh bank konvensional. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kedekatannya dengan komunitas-komunitas yang menjadi kunci dalam penerapan many to many marketing.

Tetapi bagaimana menurut Anda? Bagaimanakah tantangan perbankan syariah dalam implementasi komponen lain dari 12C dalam New Wave Marketing? Silakan masukan, komentar dan marketing ideas Anda melalui blog ini, klik http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.