Posts tagged marketing ideas
Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant
2Bagi yang sering traveling melalui jalan darat di jalur pantura atau jalur selatan Jawa, pasti akan banyak menemukan banyak pilihan tempat makan. Bagi orang yang sedang traveling, tempat makan bukan hanya diperlukan untuk tempat makan pagi, siang atau malam, tetapi juga merupakan momen untuk istirahat, ke kamar mandi / kamar kecil, sholat bagi yang muslim, cek kondisi kendaraan atau bahkan sekaligus tempat rekreasi untuk melepas kebosanan selama perjalanan. Beberapa kebutuhan sekaligus dari konsumen tersebut memerlukan komunikasi yang baik dari restoran atau tempat makan kepada target marketnya, yaitu terutama para traveler.
Pilihan cara mengkomunikasikan positioning dan diferensiasi kepada traveler tersebut cukup menantang antara lain karena persaingan yang cukup ketat dan beragamnya karakter dan kondisi traveler. Diperlukan cara komunikasi yang mampu membangun kepercayaan konsumen dan menciptakan keberadaan dan kredibilitas di benak konsumen di sepanjang jalur perjalanan. Bagi pengguna kendaraan pribadi, sebagian belum merencanakan tempat untuk berhenti, beristirahat dan makan dalam menempuh perjalanan. Sebagian lagi cenderung memilih tempat makan berdasarkan kebiasaan, pada tempat yang sudah dikenal, karena konsumen pasti tidak akan hafal atau mengenal dengan baik tempat-tempat makan di sepanjang jalur perjalanan. Hal ini menyebabkan sebagian traveler lebih memilih tempat yang sudah dikenal dan menurutnya relatif kredibel sesuai kebutuhan / keinginannya daripada mencoba tempat baru yang belum tentu sesuai selera atau fasilitas yang belum tentu lengkap dan nyaman.
Tantangan tersebut dicoba dijawab oleh Pringsewu Restaurant yang dikelola oleh PRSG (Pringsewu Restaurant Group) yang berpusat di Purwokerto dengan menciptakan gaya komunikasinya sendiri. Pertama kali saya menyaksikan gaya komunikasi Pringsewu Restaurant adalah saat menempuh perjalanan di jalur selatan Jawa, yaitu Pringsewu Restaurant yang berada di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Puluhan kilometer sebelum lokasi resturant, kita sudah bisa menemukan papan reklame pertama yang berisi informasi lokasi Pringsewu. Setelah itu selama perjalanan mengarah ke lokasi resturant kita bisa melihat puluhan sampai ratusan papan reklame Pringsewu yang khas berwarna dominan kuning. Informasi yang disampaikan berupa positioning dan diferensiasi Pringsewu lengkap dengan jarak menuju lokasi restaurant. Informasinya cukup beragam dari menu utama atau menu unggulan, fasilitas atau layanan dari Pringsewu yang unik, misalnya Magic Box, pijat elektrik, kamar mandi bersih, musholla dan lain-lain. Komunikasi pemasaran ini mendapatkan penghargaan rekor dari MURI dengan Nomor MURI No. 2108 untuk kategori “Papan Reklame Terpanjang”, yaitu 116 buah sepanjang 88 kilometer, khususnya untuk Pringsewu Tegal. Sensasi yang diciptakan melalui pengakuan dari MURI ini akan mampu meningkatkan “buzz” tanpa harus membuat kontroversi (see Miyabi Marketing)
Walaupun begitu banyak pesan dalam ratusan reklame di puluhan kilometer, Pringsewu tampak fokus pada mengkomunikasikan competitive advantage-nya, antara lain pada aspek service excellence dan menu unggulannya. Fokus ini sangat berguna untuk mencegah “confused positioning” karena terlalu menekankan kepada banyak atribut pada produk atau layanannya. Desain komunikasinya fokus pada aspek rational yang menyampaikan keunggulan produk dan layanan, serta pada aspek moral dengan munculnya beberapa pesan layanan masyarakat bagi pengguna jalan. Belum terlihat secara jelas pendekatan emosional dalam ratusan reklame tersebut.
Berbeda dengan tempat makan yang lain yang relatif hanya menempatkan beberapa reklame pada lokasi di sekitar restaurant, maka Pringsewu membangun kredibilitasnya pada sasaran pasar para traveler dengan intensitas komunikasi yang tinggi dalam bentuk sederhana yang mudah dibaca dan dimengerti. Pesan yang sederhana dengan intensitas tinggi ini sangat penting, mengingat sasaran pasar yang bergerak di sepanjang jalur pantura atau selatan Jawa. Beragam informasi keunggulan yang menjadi positioning dan diferensiasi juga menjadi mungkin untuk disampaikan sesuai dengan beragamnya atribut produk / layanan tempat makan yang menjadi bahan pertimbangan traveler seperti diceritakan di awal tulisan ini. Beragam atribut ini memang agak susah disampaikan dalam satu reklame besar kepada traveler yang bergerak, apalagi untuk membangun kredibilitas.
Untuk meningkatkan customer experience, Pringsewu juga aktif membuat event. Pada saat hari Ibu tahun ini, Pringsewu memberikan layanan istimew kepada ibu-ibu yang datang berkunjung, dengan memberi bunga dan kue tart. Konsumen yang berulang tahun pada saat berkunjung ke Pringsewu juga mendapatkan layanan khusus antara lain berupa seremonial, souvenir atau birthday beverage gratis. Beberapa layanan lain pun dipersiapkan untuk memperkuat diferensiasinya, seperti pertunjukan sulap gratis table to table.
Cukup menarik, cara Pringsewu menyiasati kondisi sasaran pasarnya untuk membangun kredibilitasnya di benak pelanggan. Akan lebih menarik kalau Pringsewu mulai memanfaatkan media horizontal untuk membangun komunitasnya, karena traveler di jalur pantura dan selatan Jawa merupakan pasar yang potensial, terbukti dari posting sebelumnya Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.
Atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.
Blue Ocean Strategy Gaya tvOne
2Tampaknya tvOne sangat sadar bahwa diferensiasi menjadi salah satu kunci sukses dalam bersaing sebagai salah satu pendatang yang termasuk baru di antara para pesaingnya pada industri TV broadcasting nasional. Semboyan “Memang Beda” pun dipasang sebagai tagline yang memperkuat positioning statement-nya. Mari kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mengurai studi kasus marketing mengenai tvOne tersebut.
Intensitas persaingan di Industri TV broadcast di Indonesia memang terus meningkat dengan makin banyaknya pemain di industri ini. Penetrasi TV di Indonesia masih didominasi Free to Air (FTA) sebesar 75%, sedangkan Authorized PayTV baru mencapai 0,6% menurut salah satu sumber pada posisi tahun 2008. Dari ratusan stasiun TV yang memperoleh lisensi operasi, terdapat 10 FTA TV swasta berskala nasional yang menguasai market, yaitu RCTI, SCTV, Indosiar Visual Mandiri (IVM), Trans, TPI, Trans7, Global TV (GTV), ANTV, tvOne, Metro dan 1 stasiun TV milik negara, TVRI.
tvOne masuk ke industri ini pada tanggal 14 Februari 2008, yang merupakan transformasi dari Lativi. Transformasi ini seiring dengan pergantian kepemilikan dari mantan menteri tenaga kerja, Abdul Latief ke Aburizal Bakrie dan Erick Tohir. One pada nama tvOne bisa diasosiasikan sebagai singkatan dari Olahraga, News dan Entertainment. Akhir-akhir ini fokusnya lebih kepada Olahraga atau Sports dan News.
Sebagai pendatang baru, maka tvOne mencoba memposisikan diri berbeda dengan para pesaingnya. Sebelumnya stasiun TV swasta nasional terpolarisasi dalam dua kutub, yaitu satu sisi yang lebih berorientasi kepada muatan acara entertainment dan sisi lain yang lebih berorientasi pada tayangan berita. Sisi entertainment atau variety show diwakili oleh 8 staisun televisi, sedangkan pada sisi yang lain hanya diwakili oleh Metro. Langkah Metro terbilang cukup berani, karena rating TV nasional lebih banyak dikatrol oleh tayangan entertainment seperti sinetron, film seri/lepas, reality show, kuis, kontes, komedi atau talkshow. Dan dari rata-rata rating program TV, akhirnya memang Metro berada di bawah ke-8 stasiun televisi lainnya. tvOne mencoba membagi pasar dengan cara yang kreatif dan bermain di blue ocean, tidak secara langsung bertarung di kedua kutub tersebut. Maka masuklah tvOne dengan tayangan berita tetapi menggunakan penyajian yang lebih santai, atraktif dan fleksibel menjauhi kesan serius yang biasanya menjadi kesan pemirsa terhadap Metro. Format acara dan para anchor atau presenternya didesain untuk menyajikan berita dan informasi dengan lebih fun. Kunci dari Blue Ocean Strategy adalah diferensiasi. Studi kasus marketing mengenai diferensiasi juga terdapat pada artikel sebelumnya “Persaingan Posko Layanan di jalur Mudik”
Pertanyaannya, berhasilkah tvOne mengeksekusi positioning tersebut? Studi kasus marketing dalam eksekusi Blue Ocean Strategy ini sangat menarik bagi kita untuk sharing marketing ideas dan belajar marketing. Dari rata-rata rating TV Nasional, tvOne cukup berhasil menggeser Metro. Pada minggu IV bulan Oktober 2009, dari data sebuah lembaga survey, tvOne berhasil meraih share sebesar 5,0%, sedangkan Metro ”hanya” meraih share 2,2%. Tetapi ternyata tvOne belum berhasil menggeser stasisun televisi yang kokoh pada kutub entertainment. RCTI masih berada di puncak dengan share sebesar 17,9%. ANTV berada di posisi terendah pada kutub tersebut dengan share sebesar 5,2%.
Berdasarkan rating program TV harian, memang top rating masih dikuasai acara entertainment. Di puncak peringkat, akhir-akhir ini biasanya didominasi oleh trisula sinetron dari RCTI, yaitu: “Safa dan Marwah”, “Cinta dan Anugerah”, serta “Doa dan Karunia”. Masih sulit bagi program berita untuk masuk jajaran Top 10. Hanya sekali-sekali saja program berita bisa menusuk ke Top 20. tvOne juga pasti sadar akan kenyataan ini, maka sebagai mesin pendongkrak rating tvOne aktif mengakuisisi tayangan langsung olahraga, terutama sepakbola yang mampu masuk jajaran Top 10. Tayangan siaran langsung Liga Inggris dan beberapa pertandingan tim nasional telah menjadi bagian dari program tvOne dan terbukti efektif meraih rating tinggi. tvOne juga mempunyai acara entertainment, atau lebih tepatnya infotainment. Tetapi di kategori acara ini, infotainment bertajuk ”Expose” dari tvOne masih belum bisa mengalahkan infotainment dari stasiun televisi dari kutub entertainment, seperti “Silet” dari RCTI atau “Halo Selebriti” dari SCTV. Untuk tayangan informasi yang menghibur tvOne mungkin masih harus belajar dari Trans7 yang mampu menghadirkan tayangan edutainment “Si Bolang Bocah Petualang” dan “Laptop Si Unyil” yang beberapa kali mampu masuk ke jajaran Top 20.
Tetapi di tayangan berita, gaya penyajian ala tvOne mulai direspon dengan baik oleh pemirsa. ”Kabar Petang” tvOne sudah beberapa kali bisa mengungguli tayangan berita yang secara tradisi lebih menguasai rating, seperti ”Liputan 6” SCTV atau “Seputar Indonesia” RCTI.
tvOne juga tampak jago di tayangan berita liputan khusus. Salah satu andalannya adalah ”Breaking News” yang terbukti mencuri perhatian pemirsa televisi, seperti pada liputan peristiwa penggerebekan teroris oleh Densus88 di Temanggung dan Solo, liputan bencana gempa bumi di Padang dan Pariaman atau saat pemutaran rekaman telepon Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) pada kontroversi kasus korupsi yang melibatkan pimpinan KPK non aktif: Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Program ”Satu untuk Negeri” pun juga terbukti paling efektif menggalang dana bantuan dari pemirsa televisi untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat. Content liputan khusus yang mengandung kontroversi memang menarik, seperti yang pernah diulas dalam artikel “Miyabi Marketing”
Tetapi rating memang hanya salah satu indikator yang bisa digunakan. Dari sisi kualitas tayangan, tvOne juga mulai diakui. Menurut riset Yayasan Sains dan Estetika (SET), program tvOne juga paling unggul dalam menyajikan liputan Pemilu Legislatif tahun 2009 melalui tiga program unggulannya di kategori berita: ” Kabar Petang”, ”Kabar Malam” dan ”Kabar Pagi”, serta beberapa program unggulannya di kategori program khusus Pemilu, yaitu ”Kabar Pemilu”, ”Debat Partai”, ”Apa Kabar Indonesia Malam”, ”Uji Kandidat”, ”Interview Politik”, dan ”Jelang Pemilu Indonesia”. Kualitas dinilai oleh Yayasan SET melalui assessment terhadap informative content, social empathy, critical views, balance, factuality, objectivity dan public interest.
Bagaimana dengan aspek yang lain, efektifkah eksekusi Blue Ocean Strategy dari tvOne? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.
Miyabi Marketing
6Bila kita cermati beberapa studi kasus marketing, sejak lama kontroversi telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu cara dalam mencuri perhatian pasar. Banyak sekali contoh marketing ideas yang kontroversial atau mendekati kontroversial digunakan para pemasar dalam menarik perhatian dan membangkitkan words of mouth, menjadikan topik ini cukup menarik bagi kita yang belajar marketing. Words of mouth atau buzz adalah mesin dari new wave marketing yang bersifat horizontal marketing. New wave marketing adalah konsep marketing yang dipopulerkan oleh Guru marketing: Hermawan Kartajaya.
Pada bulan Februari tahun ini, Southwest Airlines (SWA) pernah memancing kontroversi saat menghias badan pesawat Boeing 737 nya dengan foto besar model majalah “Sports Illustrated” yang cukup ternama asal Brasil, Bar Rafaeli, yang mengenakan bikini. Tentu saja kontroversi langsung mencuat, perdebatan di berbagai media bermunculan, baik respon negatif, netral maupun respon positif. Menurut pengakuan public relation dari SWA, seperempat respon yang masuk adalah respon negatif. Langkah maskapai ini terbilang cukup unik, karena 19 bulan sebelumnya kontroversi bertema bikini juga menghiasi publikasi SWA. Waktu itu seorang Flight Attendant SWA sempat menolak seorang penumpang wanita yang mengenakan mini skirt, karena dianggap terlalu mini sehingga kurang pantas masuk dalam pesawat dari maskapai yang memposisikan diri sebagai “family airline”.
Di dunia entertainment, episode sebuah serial dengan penonton paling banyak biasa terjadi pada episode kontroversial. Episode yang mengakhiri riwayat serial drama televisi “Friends” mencatat rekor jumlah penonton sebanyak 52,5 juta penonton saat ditayangkan pada tahun 2004 (tertinggi dalam kurun waktu 6 tahun). Komik seri Superman dari DC Comics mencatat rekor penjualan pada seri berjudul “The Death of Superman” pada tahun 1992, yang menceritakan matinya sang jagoan.
Beberapa judul buku marketing yang populer pun tidak lepas dari kontroversi, seperti “The End of Marketing, As We Know It” dan “The End of Advertising, As We Know It”, keduanya karya Sergio Zyman. Judul senada juga menjadi karya pakar marketing dan branding, Al Ries dan Laura Ries, yaitu “The Fall of Advertising, the Rise of PR”.
Bagaimana dengan studi kasus marketing atau marketing ideas yang berkembang di Indonesia? Beberapa waktu yang lalu Bakrie Telecom, operator telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, meluncurkan fitur atau layanan “esia Bispak”. Dengan fitur tersebut, pengguna esia dapat membandingkan tarif beberapa operator telekomunikasi berbasis teknologi GSM secara langsung melalui simulasi. Serangan frontal ke operator GSM ini tentu saja memicu kontroversi, belum lagi pemilihan nama “Bispak” yang juga mengandung kontroversi. Penggunaan inisial 5 operator GSM di simulasi esia tersebut pun menambah kontroversi. 5 huruf yang digunakan sebagai inisial tersebut berturut-turut adalah B, A, S, M, I. Salah satu operator GSM, yaitu XL, segera bereaksi dengan meluncurkan “Paket XL Harga CDMA”.
Yang tidak kalah serunya, adalah kalau kita belajar marketing melalui studi kasus marketing rencana produksi film layar lebar berjudul “Menculik Miyabi”. Kontroversi timbul saat ada rencana mendatangkan Miyabi, bintang film porno asal Jepang, ke Indonesia untuk ikut membintangi film tersebut. Beberapa elemen masyarakat terlibat dalam kontroversi yang seru, sampai akhirnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, memutuskan bahwa Miyabi tidak akan datang ke Indonesia. Padahal menurut beberapa sumber, naskahnya pun masih dalam proses pengerjaan oleh Raditya Dika, novelis yang mulai populer di tanah air. Coba bayangkan bagaimana serunya kontroversi yang terjadi kalau Miyabi jadi datang ke Indonesia dan syuting film “Menculik Miyabi”?
Publisitas negatif, tetaplah sebuah publisitas, dan sangat potensial dalam menarik perhatian dari publik. Pada beberapa studi kasus marketing, kontroversi cukup efektif dalam mendukung usaha pemasaran. Tetapi potensi backfire juga harus dipertimbangkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bagi kita yang belajar marketing, tampaknya sebelum memulai upaya marketing bergaya kontroversi, perlu pertimbangan segmen apa yang menjadi target market kita dan kontroversi yang dipicu akan paling besar menyinggung pada segmen pasar yang mana. Karena respon negatif dari kontroversi pada target market atau pelanggan kita bisa berpotensi pada keputusan pelanggan kita untuk tidak lagi menggunakan produk atau layanan kita. Hal tersebut terjadi pada beberapa pelanggan Southwest Airlines setelah “kontroversi bikini” seperti diceritakan di atas.
Tetapi, bagaimana menurut Anda, apakah betul potensi kontroversi dalam marketing layak untuk dipertimbangkan? Please share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar bersama di blog marketing ini.
Augmented Reality? Definisi Baru bagi Realitas!
4
Waktu saya kecil, salah satu game yang pertama kali saya kenal adalah Donkey Kong. Pada masa itu – di saat computer belum terlalu memasyarakat – bermain game yang sangat sederhana tersebut melalui game console yang sering disebut game watch sungguh sudah terasa luar biasa. Tampilan grafis di console tersebut sudah terasa begitu menghibur. Sejak masa itu, teknologi computer graphics terus berkembang. Salah satu yang fenomenal adalah Augmented Reality.
Dalam posting belajar marketing kali ini, kita akan mencoba melihat aplikasi teknologi ini dalam mengembangkan atau menyampaikan marketing ideas. Tetapi sebelumnya akan kita lihat apa yang dimaksud dengan augmented reality. Teknologi ini menggabungkan tampilan grafis tiga dimensi yang direkayasa menggunakan computer dengan tampilan lingkungan nyata. Dengan semakin canggihnya tampilan grafis tiga dimensi, maka teknologi ini akan semakin mengaburkan batas antara tampilan yang maya dan yang nyata. Lebih dahsyat lagi, augmented reality bisa menambahkan elemen-elemen yang bisa diaplikasikan untuk semua panca indera kita. Augmented reality bisa menambahkan grafis, suara, haptic, dan bahkan bau ke dalam rekayasa computer. Haptic merupakan elemen yang diaplikasi melalui indera sentuhan. Bayangkan, dengan teknologi ini, cukup menggunakan alat seperti kaca mata dan beberapa interface atau antar muka ke beberapa indera kita seperti headset dan interface ke indera sentuhan dan penciuman, maka kita bisa memasuki alam maya. Salah satu contoh aplikasi augmented reality membutuhkan tiga komponen utama yaitu: head-mounted display, tracking system dan mobile computing power.
Pemanfaatan teknologi ini antara lain untuk bidang kesehatan, manufaktur dan reparasi, simulasi serta tentu saja…. hiburan! Salah satu bentuk sederhana yang bisa kita lihat adalah saat berita laporan cuaca di televisi. Pembawa acara berdiri dengan dikelilingi oleh tampilan virtual dari peta cuaca yang berubah-ubah. Atau bagi para penggemar sepak bola, pada beberapa siaran langsung sepakbola, kita sering melihat iklan yang seakan-akan ditempel di lapangan sepakbola.
Nah… bagaimana aplikasinya di dunia hiburan? Pengembangan video atau computer games, film dan bahkan siaran langsung hiburan di televisi bisa menggunakan teknologi ini. Salah satunya, bila Anda penasaran bisa menyaksikannya di Trans TV nanti malam, Jumat, 23 Oktober 2009 pukul 20.30 – 21.30 WIB. Acara tersebut terkait live show bertajuk “The World in Your Hand” yang merupakan rangkaian marketing event dalam acara peluncuran corporate identity baru dari Telkom Indonesia.
Bagaimana menurut Anda, ada aplikasi lain yang mungkin bisa dikembangkan untuk marketing event lainnya? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.
IT Bukanlah Hal yang Penting Lagi?
5
Pada era knowledge economy sekarang ini ditandai dengan semakin meningkatnya peran Information Technology (IT) dalam berbagai kegiatan ekonomi. Tidak terkecuali dalam bidang marketing. Cerita kesuksesan business & marketing ideas dari Dell, Air Asia, Southwest Airlines, Amazon.com, iPod tidak bisa lepas dari peran penting IT.
Dell meminimalkan inventory cost dengan membangun online channel langsung ke end customer, memotong supply chain. IT yang dibangun Southwest Airlines dan kemudian Air Asia menjadi salah satu kontributor penting dalam memperkuat diferensiasi mereka sebagai low cost airlines. Kustomisasi layanan dari amazon.com – online retailer terbesar di dunia – sangat ditentukan oleh sistem informasinya. Fenomena keberhasilan iPod berawal dari konsep iPod / iTunes ecosystem yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi. Pada beberapa perusahaan berskala besar pun mempunyai posisi Direktur IT atau yang disebut dengan CIO (Chief Information Officer) sebagai salah satu indikasi lagi betapa pentingnya IT.
Makanya tidak heran, saat Nicholas G. Carr menulis artikel di Harvard Business Review, edisi bulan Mei 2003 dengan judul “IT Doesn’t Matter”, kontroversi pun terjadi. Dalam artikel tersebut Nicholas G. Carr berpendapat bahwa IT berpotensi untuk menjadi komoditas di masa yang akan datang. Saat semua mempunyai akses yang sama terhadap IT, maka potensi IT untuk menjadi sumber dari competitive advantage menjadi semakin hilang. Analoginya pada awalnya listrik bisa menjadi sumber competitive advantage saat sumber energi listrik masih langka dan sumber energi alternatif masih tidak efisien. Tetapi saat listrik sudah menjadi standard an akses ke sumber energi tersebut tidak lagi langka, maka akan sangat aneh kalau kita sekarang mendengar akses ke sumber energi listrik sebagai sumber sustainable competitive advantage.
Lebih parah lagi, kalau kita kutip kalimat dalam artikel tersebut: “When a resource becomes essential to competition but inconsequential to strategy, the risks it creates become more important than the advantages it provides. Kalau melihat secara parsial pada perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham New York (NYSE), maka kalimat tersebut bisa dianggap “menjadi kenyataan”. Repotnya melaksanakan prosedur risk management yang dipersyaratkan terhadap semua perusahaan yang listing di NYSE pasti dirasakan oleh IT people di perusahaan-perusahaan tersebut. Carr menyebutnya sebagai komoditisasi IT.
Bukan hanya teknologi informasi, tetapi sebetulnya teknologi pada umumnya punya potensi dan siklus yang sama. Walaupun tidak pada semua jenis teknologi, tetapi banyak teknologi yang perlu ditinjau ulang agar bisa menjadi sumber sustainable competitive advantage. Banyak teknologi yang sudah menjadi kategori easy to imitate. Teknologi yang digunakan Blackberry akan dengan cepat diadopsi oleh berbagai perusahaan di berbagai penjuru dunia. Di pasar Indonesia, tidak terlalu lama setelah booming “Blackberry”, disusul banjir “berry“ lainnya: “Nexianberry”, “Mitoberry”, “HTC-berry” yang merupakan gadget serupa dari produsen lokal dan Cina dengan harga yang jauh lebih murah.
Penguasaan proses belajar jauh lebih penting, termasuk proses organisasi untuk belajar marketing management yang efektif sesuai karakter industri dan karakter organisasi masing-masing. Banyak teknologi, termasuk IT sekarang bisa dengan mudah diakses oleh berbagai organisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan informasi menjadi knowledge dalam proses belajar di dalam organisasi merupakan peluang besar sebagai sumber competitive advantage. Hal ini memperkuat bagaimana pada era knowledge economy, intangible assets menjadi jauh lebih penting. Brand dari Dell tetap bertahan, walaupun skema supply chain-nya bisa diimitasi oleh perusahaan lain. Brand Coca Cola tetap bisa memimpin di pasar, walaupun formula coke nya bisa diimitasi bahkan diungguli oleh kompetitornya. Proses belajar dalam memanfaatkan informasi dari customer database menjadi sumber amazon.com dalam membangun competitive advantagenya. Dibarengi dengan brand management, diferensiasi tersebut menjadi susah untuk diimitasi walaupun teknologi informasinya bisa diimitasi. Air Asia masih terus mempertahankan competitive advantage-nya meskipun liputan dan ulasan mengenai “rahasia” dan “marketing ideas”-nya dalam memimpin pasar low cost airlines di Asia Tenggara sudah sangat banyak.
Judul artikel Nicholas G. Carr di atas memang terlalu kejam, tetapi esensinya adalah: hanya organisasi yang mampu “belajar” dengan baik bisa mempertahankan sustainable competitive advantage-nya dalam iklim kompetisi yang ketat.
Tetapi bagaimana menurut Anda? Setujukah dengan pendapat Nicholas G. Carr? Benarkah learning organization menjadi hal yang utama dalam membangun sustainable competitive advantage? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.
Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.
0Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka Lebaran tahun ini diwarnai dengan persaingan bisnis di jalur mudik. Persaingan ini cukup menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Berbagai posko layanan mudik bertebaran di sepanjang jalur mudik di seluruh Indonesia. Persaingan tampak lebih seru dengan pertempuran media promosi below the line, mulai dari spanduk, umbul-umbul, banner sampai digital signage.
Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) mobil berlomba menyediakan jasa layanan purna jualnya. Sebagian di antaranya beroperasi 24 jam penuh. Nissan Motor Indonesia menyediakan 5 lokasi Nissan Rest Point (NRP) yang beroperasi 24 jam. NRP melengkapi 27 bengkel siaga yang beroperasi pada jam kerja biasa. Isuzu menyiapkan 8 lokasi posko siaga 24 jam, melengkapi 23 lokasi bengkel siaga. Dealer terbesar mobil Toyota, Auto2000 menyebar 11 lokasi posko siaga dan 4 bengkel siaga yang beroperasi 24 jam. PT Indomobil, ATPM dari mobol Suzuki menyiapkan 25 posko siaga di lima wilayah di Indonesia. Tiap posko biasanya juga dilengkapi berbagai layanan gratis, seperti kursi pijat, TV kabel, takjil gratis, dan lain-lain. Beberapa ATPM juga menyediakan mobile services yang siap melayani pemudik.
ATPM motor juga tak kalah seru bersaing, apalagi jumlah pemudik yang menggunakan motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Yamaha menyediakan 3 pos jaga dan 8 bengkel jaga. TVS menggelar 4 posko di Jawa. Suzuki mendirikan 37 posko siaga di berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakannya dengan posko mudik ATPM mobil adalah adanya layanan pengawalan bagi rombongan pemudik yang menggunakan motor.
Persaingan posko layanan mudik yang juga tampak mencolok adalah antara operator telekomunikasi. Telkom Group menggelar 26 posko Telkom Peduli. Indosat menyediakan 138 posko mudik di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Posko Mudik XL didirikan di 27 lokasi di jalur utama arus mudik. Posko mudik operator telekomunikasi biasanya banyak dilengkapi dengan fasilitas gratis yang bersifat umum melayani kebutuhan pemudik (pijat, tempat istirahat, takjil, minuman, dll), melengkapi layanan spesifik terkait produk dan layanan telekomunikasi.
Persaingan yang juga tak kalah seru juga terjadi di produsen mie instan, minuman dalam kemasan, produk minuman suplemen dan beberapa produk lain.
Selain untuk meningkatkan company atau product image dan sebagai media promosi, ritual tahunan ini juga merupakan pasar yang potensial. Perkiraan jumlah uang yang dibawa para pemudik bias mencapai triliunan rupiah. Sehingga selain menyediakan fasilitas gratis, banyak posko mudik yang ditujukan untuk meningkatkan penjualan.
Sekilas skema layanan posko mudik dari berbagai produsen tidak jauh berbeda, membuka peluang untuk diferensiasi. Tetapi pada tahun ini diwarnai juga oleh perubahan skema layanan mudik yang disiapkan menuju skema yang lebih efektif dan efisien, belajar dari implementasi pada tahun-tahun sebelumnya. Honda, misalnya, tidak menyediakan posko siaga seperti beberapa tahun sebelumnya. Tahun ini, Honda lebih memilih mengoptimalkan bengkel resminya untuk menyediakan bengkel siaga di jalur mudik, terdiri dari 52 bengkel yang beroperasi pada jam kerja dan 13 bengkel yang beroperasi 24 jam. Suzuki mengalokasikan separo dari jumlah poskonya untuk fokus di jalur pantai utara Jawa. Mazda hanya fokus di H-3 sampai dengan H+3, saat posko layanan mudik lainnya biasanya digelar selama 2 minggu, dari H-7 sampai dengan H+7.
Lokasi posko layanan mudik pun terus dimodifikasi. Pada tahun ini, menurut pengamatan saya, tampak peningkatan jumlah posko layanan mudik yang ditempatkan di SPBU. SPBU memang merupakan salah satu tempat berhenti favorit bagi banyak pemudik, mengingat bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan penting dalam perjalanan. Selain itu, SPBU biasanya dilengkapi dengan toilet dan area parkir yang memadai. Sasaran berikutnya yang menjadi lokasi posko layanan mudik adalah rumah makan atau rest area di jalan tol, terutama rumah makan yang selama ini menjadi preferensi banyak pemudik. Untuk tujuan mudik yang memakan waktu lama, rumah makan memang menjadi tempat penting untuk beristirahat dan mengisi perut. Beberapa lokasi lain yang dipilih antara lain: masjid, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, alun-alun kota dan daerah rawan kemacetan seperti Nagrek, Kanci dan kawasan Puncak.
Jadi, dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di blog belajar marketing & sharing marketing ideas ini, tampak bahwa skema, lokasi dan bahwak objective dari posko layanan mudik ini terus berevolusi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangannya adalah produktivitas, efisiensi, persaingan atau gerakan dari para kompetitor dan identifikasi kebutuhan dari pemudik. Posko layanan mudik juga menjadi langganan dari industri-industri tertentu, membuka peluang bagi pemain di industri yang selama ini belum terjun untuk membuat posko layanan yang baru dan unik. Beberapa pemain di industri yang menjadi langganan penggelar posko mudik pun tampak tidak banyak ikut bertempur di jalur mudik.
Bagaimanakah sebenarnya skema posko layanan mudik yang efektif, sesuai objective dari pendirian posko tersebut? Atau posko layanan mudik mana yang menjadi favorit Anda selama ini? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. Masukkan pendapat Anda dengan klik “tinggalkan komentar” atau “leave a comment” di bagian atas tulisan ini, atau cukup isi Fun Polling di menu sebelah kanan bawah blog ini.





