Indah Dewi Pertiwi Against The Chaos

Badai kekacauan menghantam industri musik Indonesia. Hmm… mungkin kalimat tersebut terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi industri musik Indonesia saat ini. Tapi coba kita ikuti beberapa fakta berikut ini. Menurut pengamat musik Bens Leo, pada tahun 2009 hanya terdapat 15 juta penjualan CD musik Indonesia dengan stiker pajak lunas, kata lain dari CD legal. Kondisi ini menurun drastis dari kondisi pada tahun kejayaan industri musik Indonesia pada periode tahun 2000 – 2005. Bayangkan pada tahun 2004, untuk 1 album saja, misalnya “Bintang di Surga” dari Peter Pan, bisa terjual 3 juta keping CD.

Hal ini berarti pembajakan musik sudah merajalela di Indonesia.  Menurut PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) penjualan lagu bajakan tahun 2008 sekitar 550 juta unit (kaset dan CD). Kerugian negara yang ditimbulkan bisa mencapai  Rp1,2 triliun dari potensi pajak yang hilang. Kerugian artis dan produser lebih besar, sekitar Rp2,7 triliun. Kondisi ini semakin memburuk dengan semakin mudahnya melakukan penggandaan rekaman musik melalui media digital, dan belum optimalnya penegakan hukum terhadap kasus pembajakan musik. Buktinya dalam empat tahun terakhir rekor penjualan album musik dicapai oleh Cinta Laura “hanya” mencapai 1 juta kopi pada awal 2010.

Tantangan bagi para pelaku industri musik belum berhenti sampai di situ, terutama untuk para artis dan produser. Fenomena pasar yang disebut dengan long tail juga harus menjadi perhatian. Istilah ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dalam bukunya yang dirilis tahun 2004. Dengan fenomena pasar yang semakin horisontal dan semakin banyaknya pilihan, statistik distribusi kategori produk menunjukkan bentuk long tail. Artinya total jumlah penjualan item “non-hit” semakin besar, atau penjualan item yang masuk kategori “hit” semakin menurun porsinya. Demikian juga dengan industri musik, yang mulai didominasi distribusi dalam bentuk digital.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk bisa sukses dalam industri musik Indonesia. Nah… sangat menarik untuk kita coba ikuti studi kasus pemasaran album musik Indah Dewi Pertiwiyang bertajuk “Hipnotis”.  Sebagai pendatang baru, Indah Dewi Pertiwi cukup fenomenal dalam kondisi industri musik Indonesia yang tertekan. Dalam 5 bulan, album “Hipnotis” terjual 1,2 juta keping. Bagaimana pencapaian tersebut bisa diraih? Jawabannya adalah new wave marketing.

Indah Dewi Pertiwi bersama Keci Music terus memperkuat Clarification atau Positioning dalam konsep new wave marketing. Klarifikasi ini semakin kuat dengan hadirnya video klip terbarunya. Judul video klipnya adalah Hipnotis, versi II. Video klip ini dibuat secara kolosal hasil kerjasama Keci Music, KFC, Telkomsel dan Flexi memperkuat karakter inovatif yang kelihatannya coba dilekatkan kepada Indah Dewi Pertiwi. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali melihat video klip kolosal Indonesia sebelum ini. Sehingga hadirnya klip ini cukup memberi warna bagi industri musik Indonesia.

Kolosal? Hal ini menjadi Coding atau diferensiasi melalui penekanan pada kreativitas dan inovasi yang superior. Mari kita cermati: pertama, video klip ini adalah yang pertama di Indonesia  dalam menggunakan teknologi Interactive Augmented Reality. Catatan ini diakui oleh Museum Rekor Indonesia. Sepanjang klip ini, kita memang akan disuguhi sentuhan teknologi tinggi dalam tiap scene. Beberapa scene sepertinya terinspirasi dari film-film yang menggunakan efek spesial berteknologi tinggi. Di antaranya seperti:  video musik Janet Jackson & Michael Jackson: “Scream” yang bernuansa putih, film “Terminator”, “Transformer”, “i,robot” dan “2012”. Kedua, video ini berdurasi 8 menit 15 detik, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata video musik yang biasa kita saksikan. Ketiga, banyak penari terlibat dan penampilannya mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Indah Dewi Pertiwi sempat berlatih menari dan cara perform kepada Luam Keflezgy selama dua minggu di Amerika Serikat. Luam adalah koreografer yang sempat melatih Rihanna, Beyonce dan Kanye West.  Keempat, setting lokasinya pun berada di beberapa tempat eksotis di Indonesia, antara lain Pantai Tanjung Aan Lombok, Air Terjun Sendang Gile di Lombok Tengah, di atas sebuah kapal di Laut Jawa, beberapa tempat di Jakarta dan kota Ambarawa. Ambarawa adalah tempat terjadinya pertempuran bersejarah mempertahankan kemerdekaan melawan pendudukan Sekutu dan NICA: Perang Palagan. Dalam video ini Indah Dewi Pertiwi juga digambarkan tengah bernyanyi di tengah suasana perang dengan peluru yang berseliweran serta beberapa ledakan bom. Kelima, biaya pembuatannya yang dikabarkan mencapai kisaran 1 miliar rupiah.

Dalam peluncurannya pun diwarnai dengan nuansa new wave marketing yang kental. New media, seperti blog dan social media menjadi preferensi utama. Antara lain diwujudkan dalam blogging contest bekerjasama dengan blogdetik. Kontes ini juga mememanfaatkan social media seperti twitter. Sensasi video klip kolosal yang diciptakan diharapkan mampu menjadi amunisi dalam membangkitkan buzz atau conversation di berbagai social mediaCo-creation dalam membuat review video klip tersebut adalah usaha untuk semakin membuat Character atau personal brand Indah Dewi Pertiwi semakin relevan dengan target marketnya. Sebelumnya, pada awal Januari Hipnotis Dance Competition pun digelar untuk mempopulerkan single keduanya. Penjualan album secara langsung melalui 390 restoran KFC di seluruh Indonesia dilakukan untuk bisa langsung menjangkau komunitas yang relevan. Cara ini juga efektif mengantisipasi maraknya pembajakan musik di Indonesia dan meningkatkan margin keuntungan. Apalagi toko-toko musik mulai bertumbangan, bahkan juga pengusung nama-nama besar, seperti Disc Tarra atau Aquarius.

Bagaimanakah pendapatmu tentang video klip tersebut? Mampukah menjadi salah satu amunisi penting dalam mendobrak chaos dalam industri musik Indonesia? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Fondasi Marketing 3.0 ala “Wedus” Jogja

Kaos Wedus JogjaPhilip Derrice Frankfureter Kotler atau yang sering dikenal dengan Philip Kotler, salah satu Global Marketing Guru, pada tahun 2009 menjadi co-author buku “Chaotics: The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence” bersama John Caslione. Kemudian disusul pada tahun 2010, bersama Global Marketing Guru dari Indonesia: Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyusun buku “Marketing 3.0”. Apa hubungan kedua buku yang diterbitkan pada waktu yang berdekatan tersebut? Dalam Chaotics, Kotler menyampaikan bagaimana dalam era sekarang adalah era turbulensi di mana terjadi banyak ketidakpastian pada banyak aspek, yang ditandai terutama pada ketidakpastian siklus ekonomi dunia dan perubahan perilaku serta preferensi pelanggan. Nah…. Marketing 3.0 sangat tepat untuk menyikapi perubahan perilaku dan preferensi pelanggan dalam era turbulensi tersebut.

Posting kali ini akan mengupas apa tantangan mendasar dalam menerapkan konsep marketing yang baru ini, seperti posting sebelumnya mengenai tantangan implementasi konsep New Wave Marketing: “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”. Studi kasus marketing yang akan digunakan untuk belajar Marketing 3.0 adalah perjalanan awal kaos khas Jogja dengan brand ”Wedus” dalam menembus kompetisi pasar kaos khas Jogja yang cukup ketat.

Perkenalan saya dengan kaos ”Wedus” terjadi dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jogja, tempat kelahiran kaos ”Wedus”. Ternyata perjalanan mudik selalu membawa banyak inspirasi dalam proses belajar marketing, seperti studi kasus marketing “Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant”, “Low Cost Carrier versi Jogja” dan “Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik”.

Perubahan mendasar pada perilaku dan preferensi pelanggan akhir-akhir ini adalah pelanggan yang semakin cerdas dan semakin kurang percaya dengan aktivitas pemasaran dari produsen. Hal ini didukung oleh pelanggan yang semakin terhubung dalam banyak jaringan dan komunitas, terutama melalui media internet. Oleh karena itu, konsep marketing pun juga harus ikut berubah agar produsen mampu mempertahankan kelanjutan bisnisnya. Dalam Marketing 3.0, konsep intinya adalah evolusi dari product-driven market pada Marketing 1.0, menjadi Differentiation pada Marketing 2.0 dan kemudian pada Marketing 3.0 bergeser ke Value of Product to Consumers Emotion. Jadi salah satu kata kuncinya adalah ”emosi”, seperti pada sub judul bukunya, “From Products to Customers to the Human Spirit”.

Tantangan mendasar penerapan Marketing 3.0 adalah bagaimana menciptakan keterkaitan emosi dengan pelanggan melalui value yang ditawarkan melalui produk dan layanan secara keseluruhan. Dengan dasar itulah, maka salah satu dari 6 penggerak utama kredibilitas brand dalam konsep Marketing 3.0 adalah “Authenticity”. Di mana untuk mencapai authenticity diperlukan nilai-nilai real & sincere atau ketulusan dari produsen. Bagaimana mungkin kita berusaha menciptakan keterkaitan emosi antara value dari produk dengan pelanggan kalau produsen tidak mempunyai keterkaitan emosi yang tulus dengan produknya sendiri? Inilah tantangan mendasar dan terberat, karena di dalam setiap bisnis, obyektif finansial hampir selalu menjadi yang terdepan, menggerus idealisme dan ketulusan, yang sering terjadi seiring berkembangnya bisnis dan struktur organisasi.

Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan Kaos “Wedus”. Saya sempat berdialog dengan penggagas konsep kaos “Wedus” tersebut dan mengamati bagaimana desain dan aktivitas pemasarannya yang baru berusia 2 bulan. Yang kemudian saya tangkap adalah, usaha ini berawal dari idealisme penggagasnya yang mempunyai obyektif bukan hanya finansial. Konsep kaos ini merupakan bagian dari perjalanan emosi para penggagasnya dalam proses menjadi diri sendiri. Emosi dan nilai-nilai tersebut coba digali dan dituangkan dalam karakter desain yang menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dan menjadi media “update status” penggunanya, seperti biasa dilakukan banyak orang melalui social media, seperti facebook atau twitter. Penggunaan bahasa Jawa, sesuai dengan bagaimana mereka melihat pasarnya, yaitu orang Jawa, orang yang berbahasa Jawa, Javanese people atau mereka yang mempunyai keterkaitan emosi dengan Jawa, khususnya Jogja. Berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa (seperti terjadi juga pada bahasa lain) memang terkadang sangat susah untuk diterjemahkan dalam bahasa lain, karena konteks dan filosofi yang berbeda. Penggunanya diharapkan mampu menggunakan kaos ini sebagai media komunikasi kepada lingkungannya yang berpijak dari kebutuhan target pasarnya untuk bereksistensi dalam komunitas dan lingkungannya..

Uniknya lagi konsep distribusinya adalah menggabungkan outlet kaos dengan coffe shops. Saat ini sudah ada 3 coffee shops dengan brand “NYOHI NYOHI”. Lokasinya di kompleks kaki lima Jalan Demangan Baru Jogja, Jalan AM Sangaji utara STM Jetis Jogja dan Jalan Raya Yogya – Klaten. Dalam bahasa plesetan Jogja, Nyohi Nyohi berarti Kopi Kopi. Salah satu counternya juga hadir di deretan kaki lima jalan Malioboro, salah satu tujuan utama wisata di Jogja.

Dalam persaingan kaos khas Jogja yang ketat, mereka berusaha konsisten menjadi dirinya sendiri dan menjaga keterkaitan emosi dengan value produk dan pelanggannya. Terus menghindarkan diri dari kecenderungan menjadi sekedar komoditas kaos oleh-oleh. Walaupun demikian, dalam usianya yang baru 2 bulan, tentu saja ada beberapa peluang pengembangan yang terbuka. Antara lain penajaman targeting dan positioning, meningkatkan brand awareness di pasar melalui desain dan komunikasi pemasaran, dan integrasi promosi melalui media konvensional dan new media. Tetapi sesuai kredo kedua dari 10 kredo Marketing 3.0, penggagas kaos Wedus menyatakan terus berusaha berinteraksi dengan pelanggannya dan siap berevolusi sesuai perubahan landskap bisnisnya. Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai tantangan dan fondasi Marketing 3.0? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Pertarungan Citizen Journalism (1)

Beberapa bentuk dan media Citizen Journalism kini sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya di tengah marak dan tumbuhnya new media. Menurut wikipedia, Citizen journalism adalah konsep yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berperan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan mendistribusikan berita dan informasi. Yang membedakannya dengan bentuk collaborative journalism, adalah tidak adanya batasan bahwa peliput berita harus seorang jurnalis profesional. Semua anggota masyarakat bisa menjadi bagian di dalamnya. Sedangkan new media yang saya maksud adalah sebutan untuk media interaktif, terutama melalui koneksi internet. Media yang lebih bersifat horizontal, karena sifat komunikasinya yang lebih terbuka dan egaliter, walaupun beberapa di antaranya tetap melalui suatu proses moderasi. Media ini semakin penting dalam era new wave marketing.

Sekarang coba kita telusuri, bagaimana masyarakat sekarang bisa berperan aktif dalam citizen journalism. Pertama, mari kita bicara mengenai medianya. Media yang bisa digunakan tentu saja media yang interaktif. Tetapi yang dibutuhkan bukan sembarang interaktif, tetapi yang responsivitasnya cukup tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya intensitas interaktif yang memadai. Beberapa di antaranya adalah Televisi, Radio, dan tentu saja Internet.

Selanjutnya, bagaimana dengan bentuk citizen journalismnya? Bentuk yang paling sederhana adalah komentar pada lipuran berita, artikel, foto atau lainnya yang menurut J. D. Lasica disebut dengan Audience participation, seperti saya kutip dari wikipedia. MetroTV dan TVOne, stasiun televisi nasional yang menjadikan acara berita sebagai salah satu andalannya telah menggunakan bentuk ini. Contohnya adalah MetroTV dengan acara ”Suara Anda”. Interaktivitasnya dibangun dengan membuka saluran telepon bagi pemirsa untuk memberikan komentar. Tampaknya citizen journalism semakin penting, dan ini disadari oleh media traditional seperti surat kabar. Beberapa suratkabar go online baik melalui situsnya sendiri atau melalui social media, seperti facebook untuk membuka kanal interaktivitas bagi pembacanya untuk memberi komentar.

Bentuk berikutnya adalah kontribusi publik bukan hanya sebagai pendengar dan komentar tetapi sebagai penyaji berita, tetapi dalam format yang sederhana dan singkat. Media yang sering digunakan adalah radio dan internet. Beberapa radio, seperti Elshinta atau Radio Suara Surabaya mengandalkan pendengarnya untuk beberapa muatan berita, terutama traffic report. New media semakin mengambil peranan untuk bentuk ini, dan yang paling seru adalah social media, terutama facebook dan twitter. Contoh kecil, seorang teman yang pada bulan Juni lalu harus menempuh perjalanan Bandung – Surabaya menggunakan Kereta Api, akhirnya mengikuti jalannya pertandingan piala dunia melalui update status teman-temannya di facebook. Sejauh pengamatan saya, Twitter kini semakin mengambil alih traffic citizen journalism dalam bentuk ini. Lihat saja setiap penayangan acara Indonesia Mencari Bakat di TransTV, maka keyword Nonton IMB hampir pasti jadi trending topics. Tidak hanya itu, peserta kontes tersebut: Putri Ayu, Brandon, Fay, Hudson adalah sebagian yang sempat nangkring di deretan Trendicng Topics. Demikian juga terjadi dalam tayangan Indonesian Idol di RCTI. Keberhasilan Twitter didukung oleh kesederhanaan dan jangkaun penyebaran informasinya yang lebih luas dibandingkan facebook.

Bentuk berikutnya adalah sajian liputan yang lebih lengkap seperti layaknya liputan jurnalis profesional tetapi dilakukan oleh anggota masyarakat pada umumnya. Media yang selama ini bisa digunakan secara optimal hanyalah yang melalui internet. Minimal ada 3 jenis, blog pribadi, media citizen journalism yang ditumpangkan pada mass media seperti kompasiana pada http://kompas.com, dan pada situs yang murni mengandalkan citizen journalism seperti pada http://kabarindonesia.com (HOKI), http://swaberita.com, http://thirdreport.com atau http://wikipedia.org.

Pertanyaannya, mana bentuk dan media yang akan bisa survive? Saya kira kuncinya adalah pada interaktivitas, keterbukaan, serta konten yang kredibel dan variatif. Karena keunggulan citizen journalism adalah cakupan berita yang sangat luas, sifatnya yang egaliter, dan bahkan kecepatannya. Tetapi saya yakin tidak hanya satu bentuk atau media saja yang survive, karena karakter masyarakat yang beragam dalam kebutuhannya berperan dalam citizen journalism. Radio yang merupakan media yang sudah ”tua” pun masih sangat mungkin bisa survive karena sifatnya yang memungkinkan informasi bisa dikonsumsi pendengarnya sambil mengerjakan kegiatan lain, antara lain sambil menyetir.

Bagaimana menurut Anda? Ada masukan, koreksi atau pendapat lain mengenai citizen journalism? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.