Posts tagged new wave marketing

Piranti Elektronik Makin Pintar. Apakah Konsumen Juga Makin Pintar?

0

Coba sebut berbagai piranti elektronik, maka kita sekarang akan mendapatkan versi pintarnya. Yang paling populer adalah telepon seluler. Versi pintar dari telepon seluler – yang dikenal dengan smartphone – tumbuh dengan pesat. Kategori ini sekarang dikuasai oleh Apple iPhone, ponsel pintar dengan sistem operasi Android dan Blackberry dari RIM. Paul Otellini, CEO Intel, pada keynote di Consumer Electronics Show 2012 di Las Vegas, berkata bahwa kemampuan komputasi dari ponsel pintar sekarang sudah lebih tinggi dibandingkan dengan komputer yang digunakan NASA untuk membantu mendaratkan manusia di bulan pada akhir tahun 1960-an.

Televisi, piranti elektronik ini pun diklaim semakin pintar dengan terkoneksi ke jaringan internet. Bahkan beberapa pabrikan menanamkan sistem operasi Android dari Google, sehingga menambah kepintaran televisi. Fungsi televisi semakin berkembang, bukan hanya sekedar menampilkan tayangan broadcast dari stasiun televisi. Kini televisi pintar bisa digunakan untuk akses ke social media, browsing dan menjalankan berbagai aplikasi lainnya yang dengan mudah diunduh dan digunakan.

AC (Air Conditioning) didesain semakin pintar, terutama ditujukan dalam rangka menghemat energi. Mulai dari kemampuan mengatur suhu ruangan sehingga AC tak terus-menerus bekerja, sampai dengan mendeteksi keberadaan manusia di dalam ruangan. AC akan bekerja optimal hanya jika terdeteksi manusia di ruangan. Bila ruangan kosong, AC didesain akan mengurangi aktivitasnya.

Mesin cuci dan kulkas pun tidak ketinggalan, menjadi semakin pintar. Kemampuan penggunanya mengendalikan kedua mesin tersebut dari jarak jauh mulai dikembangkan, menggunakan akses internet, baik dari komputer maupun dari ponsel pintar. Kemampuan komputasi kamera digital juga semakin lengkap dengan mempunyai kemampuan intelijensia buatan untuk menghasilkan gambar yang lebih baik, terkoneksi ke internet dan bahkan dilengkapi aplikasi image atau photo editing.

Pada umumnya kepintaran piranti tersebut didasari oleh peningkatan kemampuan komputasi, adanya kemampuan intelejensia buatan dan terkoneksi ke jaringan internet.

Sehingga, semakin banyak produsen piranti elektronik yang berlomba-lomba mengklaim bahwa produknya semakin pintar. Lalu, bagaimanakah dengan konsumen. Apakah konsumen yang menggunakan berbagai macam piranti pintar tersebut juga semakin pintar? Beberapa studi menunjukkan bahwa pada pasar yang semakin terhubung dengan internet, yang diperkuat dengan makin meluasnya social media menyebabkan konsumen semakin pintar. Hal ini disebabkan konsumen semakin mudah mempunyai akses ke informasi. Kemudahan akses informasi dari piranti bergerak juga memungkinkan konsumen menerima informasi kapan saja dan di mana saja. Semakin banyaknya sumber informasi menyebabkan informasi horizontal yang akan lebih dipercaya daripada informasi vertikal, khususnya dari produsen. Informasi horizontal yang dimaksud terutama adalah informasi yang berasal dari teman atau komunitas.

Tetapi, seperti kata John Nasibitt dalam bukunya “Mind Set!”, dalam perubahan yang banyak dan terus terjadi, sebetulnya lebih banyak lagi hal yang tetap, tidak berubah. Apa saja yang tidak berubah dari konsumen dan mengapa kita perlu mengenalinya? Kadang-kadang kita terjebak dalam perubahan yang terjadi tanpa menyadari esensi yang melatarbelakangi perubahan yang terjadi, sehingga menyebabkan antisipasi kita terdistraksi. Berikut, beberapa contoh hal yang tetap di antara berbagai perubahan pasar yang semakin tinggi intensitasnya.

Pertama, yang tetap adalah konsumen yang tidak suka akan kompleksitas. Hal ini menjadi sebab Google memutuskan untuk menghentikan layanan Google Wave. Google Wave sebetulnya adalah aplikasi yang dijagokan untuk merevolusi cara orang berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya. Dari sisi fungsionalitas memang sangat menjanjikan. Tetapi kompleksitas yang muncul dalam cara penggunaan Google Wave membuat orang perkembangannya kurang seperti yang diharapkan Google (Baca: “Belajar dari Wafatnya Google Wave”).  Jadi, piranti pintar haruslah tetap mudah dioperasikan agar bisa secara optimal diserap oleh pasar.

Kedua, konsumen tetaplah manusia yang merupakan makhluk sosial, yang tidak ingin ditinggalkan oleh komunitasnya. Ini menjadi kunci sukses ponsel pintar Blackberry di Indonesia, dan sekaligus menjadi sebab kunci dari kekalahan Blackberry di pasar global dari Apple dan ponsel berbasis Android. Banyak aplikasi di ponsel pintar yang menjadi trend di pasar, ternyata tidak bisa digunakan dengan Blackberry. Aplikasi di Apple iPhone dan ponsel Android jauh lebih menggoda, menjadi salah satu sebab Blackberry mulai ditinggalkan di pasar global.

Ketiga, konsumen, seperti kita semua pasti tidak suka bila dibohongi. Oleh karena itu faktor courtesy dalam lima faktor utama konsep Service with Care dari Hermawan Kartajaya sangatlah tepat. Courtesy adalah faktor pelayanan yang harus disertai oleh sikap kejujuran. Faktor ini menjadi sanagt penting karena konsumen yang semakin pintar dan semakin terhubung.

Keputusan konsumen dalam berbelanja juga tetap didasari oleh aspek rasional dan emosional. Walaupun Emotional Branding baru mulai populer setelah terbitnya buku dari Marc Gobe pada tahun 2001, bukan berarti jauh sebelum era tersebut konsumen hanya menggunakan aspek rasional dalam keputusan membeli. Istilah emotional branding pun sebetulnya pertama kali muncul pada tahun 1980-an.

Jadi seperti yang disampaikan oleh John Nasibitt, kemampuan memahami esensi yang menyebabkan perubahan ini akan sangat membantu kita untuk memahami perubahan yang terjadi. Sehingga, kita akan lebih mampu melakukan antisipasi yang lebih tepat.

Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012

0

Pada bulan Desember tahun 2011 yang baru saja berlalu, ternyata tetap berjalan sesuai tradisi akhir tahun selama ini. Bila kita mengikuti berbagai berita dan ulasan di berbagai media, baik media konvensional seperti televisi, surat kabar, tabloid atau majalah, maupun new media, nuansanya tetap sama. Kita akan banyak menemukan ulasan peristiwa selama 2011 dan prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2012. Demikian juga dalam dunia pemasaran. Kita akan banyak menemukan ulasan mengenai apa yang menjadi tren pemasaran di tahun 2012.

Dalam prediksi marketing 2012, kita akan menemukannya dalam berbagai sudut pandang, dari berbagai pakar pemasaran dan bisnis dan bersumber dari berbagai macam riset. Tetapi ada satu kata ajaib yang hampir selalu muncul di berbagai prediksi marketing tersebut. Can you guess it? Yes! It is SOCIAL.

Tidak percaya? Coba cara yang satu ini. Masukkan kata kunci “marketing prediction 2012” ke dalam mesin pencari, Google misalnya. Maka pada halaman pertama kita akan mendapatkan banyak kata “social” di dalamnya. Kalaupun tidak bisa menemukan kata social di hasil pencarian tersebut di halaman Google, coba klik link hasil pencarian tersebut. Maka kita akan menemukan lebih banyak lagi kata social di dalam isi ulasan tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Maaf, terus terang, ini pertanyaan yang sedikit basi :-) . Indonesia telah sering menjadi perhatian dunia karena pertumbuhan pengguna dan penggunaan social medianya. Saat ini jumlah akun Facebook dari Indonesia mencapai 41 juta. Nomor dua terbanyak di dunia. Tetapi, prediksi saya tahun ini, jumlah akun Facebook dari India yang berada di posisi ke-3 akan melampaui Indonesia. Tweet dari Indonesia di media Twitter memberikan kontribusi 15% dari total tweet dari seluruh dunia. Indonesia sering disebut sebagai The Twitter Capital of Asia.

Sesuai apa yang disampaikan Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat”, dunia memang semakin terhubung, terutama melalui internet yang dimotori oleh social media. Dari berbagai survey, penggunaan terbanyak saat akses internet adalah bersosialisasi melalui berbagai bentuk dan macam social media. Walaupun dari beberapa versi prediksi pertumbuhan jumlah pengguna social media apda tahun 2012 akan mulai melambat, bukan berarti sama sekali bahwa social media akan berkurang pengaruhnya terhadap dunia pemasaran. Peran social media justru akan semakin kuat. Salah satu contoh yang cukup ekstrem berasal dari Gartner: “Gartner: Next, Social Networks Will Sell Insurance, Become Banks”.

Lihatlah juga bagaimana berbagai inovasi dari beberapa social media terbesar di tahun 2011 yang akan mempengaruhi perannya di tahun 2012. Antara lain: Google+ meluncurkan Brand Pages (“Google+ Launches Branded Pages”), Facebook menyediakan tombol Subscribe untuk merespon pertumbuhan pesat Twitter (“Tombol “Subscribe” Facebook, Saingi Twitter”) dan Twitter yang juga mulai menyediakan brand pages, mengubah layout dan diprediksi akan menambah porsi iklan. Social media tampak semakin mempersiapkan diri, bersaing untuk memperkuat perannya sebagai media yang berpengaruh. Di Indonesia, preferensi media dari pengguna internet juga sudah mulai bergeser. Media konvensional bukanlah lagi menjadi preferensi utama (“Attitude dan Behavior Pengguna Internet di Indonesia“). Walapupun begitu, tentu saja bukan berarti media konvesional akan segera mati. Malah, mainstream media yang masih didominasi oleh media konvensional terbukti mampu mempengaruhi trending topics di social media, seperti sebuah stui yang dilakukan oleh Hewlett Packard di awal tahun 2011.

Lalu apa implikasinya bagi para pemasar? Desakan untuk lebih terlibat dalam percakapan di social media akan semakin tinggi. Kurangnya engagement di social media, akan membuat sebuah brand semakin tertinggal. Setiap tahapan dalam proses pemasaran tidak bisa lagi mengabaikan kata social. Saat pengembangan produk, banyak produsen yang sudah melibatkan pelanggan, yang disebut dengan proses co-creation. Dalam tahap promosi, ini saat yang tepat bagi Anda yang belum mempunyai belief atau ragu-ragu dalam memprioritaskan new media untuk menjalin conversation dengan pasar, untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas promosi yang masih terlalu fokus pada cara-cara yang konvensional. Bahkan pada tahap pasca penjualan atau dalam siklus customer relationship management (CRM), sekarang sudah berkembang konsep Social CRM.

Tetapi, tantangan terbesar utk berubah ke pola pemasaran yang lebih horisontal adalah mengubah mind set, terutama belief terhadap cara pemasaran yang baru, seperti yang telah kita diskusikan dalam “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”.  Tantangan berikutnya adalah menjalankan pemasaran yang lebih horisontal secara terpadu atau terintegrasi dalam tiap tahapan pemasaran. Jadi, mampukah kita menjawab tantangan ini?

Marketing Indonesia With The Power of the Crowd

1

Pada tanggal 15 Agustus 2011, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menarik diri dari keikutsertaan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis New Seven Wonders of Nature. Sebab utamanya adalah indikasi ketidakprofesionalan pengelolanya, yaitu New Seven Wonders of Nature Foundation. Laporan lengkapnya ada di “Komodo Menjadi Sarana Pemersatu Bangsa”.

Tetapi Pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan Marketeers berinisiatif untuk tetap mempromosikan Taman Nasional Komodo dengan tema The Real Wonder of the World. Beberapa aktivitasnya antara lain Concert for Komodo pada tanggal 30 Juli 2011, Komodo Apps Challenge, Counting Down Live Streaming Komodo Dragons Hatching dari Prague Zoo, Komodo Night di Opera Point Marquee, Sydney Opera House, 9 September 2011 dan di Crystal Garden Navy Pier Chicago, 22 September 2011. Yang menarik dari inisiatif promosi TNK tersebut adalah pemberdayaan netizen Indonesia untuk turut mendukung. Salah satu buktinya, pada gelar acara Concert for Komodo,  #komodorealwonder berhasil menjadi trending topic di Twitter. Cara pemasaran horizontal ini sebagai salah satu antisipasi terhadap keterbatasan alokasi anggaran promosi pariwisata Indonesia. Sebagai  perbandingan, menurut Menbudpar Jero Wacik yang saya kutip dari tabloiddiplomasi.org, dana promosi melalui media massa untuk Visit Indonesia Year pada tahun 2008 yang lalu adalah sebesar 3 juta dollar. Sedangkan pemerintah Malaysia mengalokasikan dana promosi sebesar 25 juta dollar untuk kegiatan Visit Malaysia Year tahun 2007. Tetapi terbatasnya dana promosi bukan berarti harus melupakan efektivitas promosi. Dengan pemberdayaan masyarakat pengguna internet, diharapkan efektivitas promosi pariwisata Indonesia akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya dengan iklan di media massa konvensional. Low cost high impact. Bayangkan potensi seperti ini kita gunakan untuk memasarkan berbagai potensi pariwisata Indonesia yang begitu beragam.

Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2011, gerakan nasionalisme netizen yang sekaligus memasarkan Indonesia di mata dunia juga mulai gencar. Inisiatif http://17an.org mulai didukung oleh berbagai komunitas. Inisiatif tersebut adalah upaya untuk mencapai 1.781.945 tweet atau SMS dengan hashtag #17an untuk mengibarkan (secara digital) bendera Merah Putih sampai ke puncak. Kita dapat memantau gerakan ini di http://17an.org dan akun @ID_17an di Twitter. Para netizen sudah mulai bergerak melalui berbagai media di internet untuk mendukung gerakan ini, antara lain melalui Twitter, Facebook, Google+ atau melalui blog.

SITTI, sebuah platform iklan online kontekstual berbahasa Indonesia yang berdiri tahun 2010 juga turut mendukung. Pada tanggal 17 Agustus 2011, SITTI akan menayangkan iklan layanan masyarakat yang diprakarsai oleh http://17an.org di seluruh situs yang memasang iklan dari SITTI.  Hal ini saya ketahui dari surat pemberitahuan dari administrator SITTI pada tanggal 16 Agustus 2011. Beberapa tokoh masyarakat yang juga netizen juga mulai tampak ikut mendukung gerakan ini melalui berbagai social media.

Dengan jumlah pengguna facebook sebanyak 39.204.200 atau kedua terbanyak di dunia dan sumbangan 15% dari total tweet di Twitter adalah tweet dari Indonesia, maka bukan tidak mungkin gerakan tersebut akan mencapai sasarannya. Gerakan horizontal semacam ini memang akhir-akhir ini tampak sangat berpengaruh di seluruh dunia. Belum lama kita banyak membaca bagaimana peran social media sangat penting dalam gerakan revolusi di berbagai negara di Timur Tengah, terutama di Mesir. Bahkan Perdana Menteri Inggris sempat mengkhawatirkan peran social media dalam kerusuhan di Inggris yang meluas di beberapa kota pada bulan ini. Potensi gerakan horizontal ini sangat besar dan akan lebih baik apabila digunakan untuk bersama membangun sesuatu yang positif.

Jadi, tertarik untuk bersama membangun Power of the Crowd dalam memasarkan Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia? Silakan bergabung melalui http://17an.org. Dirgahayu Indonesia!

3 Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis

7

Indonesia ternyata kini semakin menjadi perhatian dunia. Salah satunya karena statistik terkait keterlibatannya dalam dunia social media. Coba kita perhatikan data berikut ini. Jumlah akun facebook dari Indonesia sebanyak 38,5 juta atau terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Menurut salingsilang.com, Indonesia berkontribusi terhadap 15% dari total tweet di Twitter. Bukan hal aneh apabila kemudian ComScore menyebutnya sebagai “the most Twitter addicted nation”. CNN Tech merilis artikel “Indonesia: Twitter Nation”.

Maka pelaku bisnis pun mulai sadar beramai-ramai  masuk dalam percakapan di berbagai social media. Berbagai opini dari banyak pakar pun akan banyak kita temukan yang mengungkapkan pentingnya social media dalam pertumbuhan bisnis di era pasar yang horisontal sekarang ini. Antara lain untuk membangun kedekatan dengan pelanggan dan pasar. Di media tersebut kita juga bisa menemukan banyak masukan atau umpan balik bagi perusahaan. Co-creation juga akan mampu didukung penuh melalui interaksi dengan pelanggan melalui social media. Dan masih banyak lagi. Seiring trend tersebut, pertanyaan kontradiktif mencuat, perlukah bisnis kami melakukan engagement di social media? Banyak artikel dan pendapat yang sudah mengulas pentingnya bisnis melakukan engagement di social media, tetapi studi kasus pemasaran kali ini akan mengulas sebaliknya. Berikut ini beberapa alasan bagi bisnis Anda untuk melupakan social media.

Pertama, apabila mindset Anda masih memandang social media hanyalah media lain di samping media konvensional seperti TV, majalah, surat kabar atau radio. Di media konvensional, biasanya kita akan menggunakannya sebagai tempat untuk menempatkan iklan produk dan berharap ada konversi ke penjualan. Social media is different. Sesuai namanya, social media adalah tempat bersosialisasi. Pada media tersebut, ekspektasi penggunanya adalah bertemu dan berinteraksi dengan teman dan kerabat. Walaupun iklan di facebook menjanjikan targeted advertising dengan iming-iming efektivitas yang lebih tinggi, tetapi berapa dari kita yang memperhatikan iklan di sebelah kanan “wall”? Ini adalah tempat untuk pertemanan, bukan tempat untuk menjual. Masuk ke social media bagi bisnis bukan lagi untuk memasang iklan atau memberi penawaran produk, tetapi untuk bergabung dalam conversation, sebagai teman.

Kedua, bisnis Anda kurang berkomitmen pada kualitas dan customer relationship management. Masuk ke social media tanpa adanya komitmen pada kualitas dan customer relationship, akan menjadi bumerang. Gambaran yang mudah adalah “wall” di fan pages perusahaan akan dipenuhi oleh keluhan pelanggan atau skenario terburuknya, akan dipenuhi oleh sindiran atau umpatan. Berita buruknya di social media, keluhan pelanggan, sindiran dan umpatan tersebut akan dilihat oleh lebih banyak orang.

Ketiga, jika tidak punya perencanaan komprehensif tentang bagaimana bisnis Anda akan menggunakan interaksi di social media. Seperti alasan kedua, bila tanpa perencanaan yang jelas maka keputusan masuk ke social media bisa menjadi bumerang. Banyak yang harus kita persiapkan. Bagaimana kita akan memberi nilai pada kanal percakapan ini kepada para fan atau follower. Bagaimana kita akan merespon setiap percakapan yang terjadi, termasuk setiap inquiry, keluhan atau bahkan umpatan. Bila kita tidak siap merespon, the conversation will go wild. Tanpa nilai yang jelas maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, kanal social media dari bisnis Anda akan segera ditinggalkan. And the conversation is dead. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, percakapan yang sudah berhasil diinisiasi tidak akan bisa memberikan nilai bagi perusahaan. Tanpa nilai yang jelas, maka sumber daya perusahaan tidak akan berpaling kepada aktivitas di social media. Selanjutnya hal ini akan berdampak pada konsistensi keterlibatan bisnis dalam social media. Percakapan tidak akan mampu berkembang sehingga kontribusinya pun akan semakin melemah.

Lalu bagaimana seharusnya mengelola social media untuk bisnis. Ini adalah salah satu referensi , khususnya untuk SME (Small Medium Enterprise): Social Media Marketing for SME. Bagaimana menurut Anda? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Indah Dewi Pertiwi Against The Chaos

0

Badai kekacauan menghantam industri musik Indonesia. Hmm… mungkin kalimat tersebut terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi industri musik Indonesia saat ini. Tapi coba kita ikuti beberapa fakta berikut ini. Menurut pengamat musik Bens Leo, pada tahun 2009 hanya terdapat 15 juta penjualan CD musik Indonesia dengan stiker pajak lunas, kata lain dari CD legal. Kondisi ini menurun drastis dari kondisi pada tahun kejayaan industri musik Indonesia pada periode tahun 2000 – 2005. Bayangkan pada tahun 2004, untuk 1 album saja, misalnya “Bintang di Surga” dari Peter Pan, bisa terjual 3 juta keping CD.

Hal ini berarti pembajakan musik sudah merajalela di Indonesia.  Menurut PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) penjualan lagu bajakan tahun 2008 sekitar 550 juta unit (kaset dan CD). Kerugian negara yang ditimbulkan bisa mencapai  Rp1,2 triliun dari potensi pajak yang hilang. Kerugian artis dan produser lebih besar, sekitar Rp2,7 triliun. Kondisi ini semakin memburuk dengan semakin mudahnya melakukan penggandaan rekaman musik melalui media digital, dan belum optimalnya penegakan hukum terhadap kasus pembajakan musik. Buktinya dalam empat tahun terakhir rekor penjualan album musik dicapai oleh Cinta Laura “hanya” mencapai 1 juta kopi pada awal 2010.

Tantangan bagi para pelaku industri musik belum berhenti sampai di situ, terutama untuk para artis dan produser. Fenomena pasar yang disebut dengan long tail juga harus menjadi perhatian. Istilah ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dalam bukunya yang dirilis tahun 2004. Dengan fenomena pasar yang semakin horisontal dan semakin banyaknya pilihan, statistik distribusi kategori produk menunjukkan bentuk long tail. Artinya total jumlah penjualan item “non-hit” semakin besar, atau penjualan item yang masuk kategori “hit” semakin menurun porsinya. Demikian juga dengan industri musik, yang mulai didominasi distribusi dalam bentuk digital.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk bisa sukses dalam industri musik Indonesia. Nah… sangat menarik untuk kita coba ikuti studi kasus pemasaran album musik Indah Dewi Pertiwiyang bertajuk “Hipnotis”.  Sebagai pendatang baru, Indah Dewi Pertiwi cukup fenomenal dalam kondisi industri musik Indonesia yang tertekan. Dalam 5 bulan, album “Hipnotis” terjual 1,2 juta keping. Bagaimana pencapaian tersebut bisa diraih? Jawabannya adalah new wave marketing.

Indah Dewi Pertiwi bersama Keci Music terus memperkuat Clarification atau Positioning dalam konsep new wave marketing. Klarifikasi ini semakin kuat dengan hadirnya video klip terbarunya. Judul video klipnya adalah Hipnotis, versi II. Video klip ini dibuat secara kolosal hasil kerjasama Keci Music, KFC, Telkomsel dan Flexi memperkuat karakter inovatif yang kelihatannya coba dilekatkan kepada Indah Dewi Pertiwi. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali melihat video klip kolosal Indonesia sebelum ini. Sehingga hadirnya klip ini cukup memberi warna bagi industri musik Indonesia.

Kolosal? Hal ini menjadi Coding atau diferensiasi melalui penekanan pada kreativitas dan inovasi yang superior. Mari kita cermati: pertama, video klip ini adalah yang pertama di Indonesia  dalam menggunakan teknologi Interactive Augmented Reality. Catatan ini diakui oleh Museum Rekor Indonesia. Sepanjang klip ini, kita memang akan disuguhi sentuhan teknologi tinggi dalam tiap scene. Beberapa scene sepertinya terinspirasi dari film-film yang menggunakan efek spesial berteknologi tinggi. Di antaranya seperti:  video musik Janet Jackson & Michael Jackson: “Scream” yang bernuansa putih, film “Terminator”, “Transformer”, “i,robot” dan “2012”. Kedua, video ini berdurasi 8 menit 15 detik, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata video musik yang biasa kita saksikan. Ketiga, banyak penari terlibat dan penampilannya mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Indah Dewi Pertiwi sempat berlatih menari dan cara perform kepada Luam Keflezgy selama dua minggu di Amerika Serikat. Luam adalah koreografer yang sempat melatih Rihanna, Beyonce dan Kanye West.  Keempat, setting lokasinya pun berada di beberapa tempat eksotis di Indonesia, antara lain Pantai Tanjung Aan Lombok, Air Terjun Sendang Gile di Lombok Tengah, di atas sebuah kapal di Laut Jawa, beberapa tempat di Jakarta dan kota Ambarawa. Ambarawa adalah tempat terjadinya pertempuran bersejarah mempertahankan kemerdekaan melawan pendudukan Sekutu dan NICA: Perang Palagan. Dalam video ini Indah Dewi Pertiwi juga digambarkan tengah bernyanyi di tengah suasana perang dengan peluru yang berseliweran serta beberapa ledakan bom. Kelima, biaya pembuatannya yang dikabarkan mencapai kisaran 1 miliar rupiah.

Dalam peluncurannya pun diwarnai dengan nuansa new wave marketing yang kental. New media, seperti blog dan social media menjadi preferensi utama. Antara lain diwujudkan dalam blogging contest bekerjasama dengan blogdetik. Kontes ini juga mememanfaatkan social media seperti twitter. Sensasi video klip kolosal yang diciptakan diharapkan mampu menjadi amunisi dalam membangkitkan buzz atau conversation di berbagai social mediaCo-creation dalam membuat review video klip tersebut adalah usaha untuk semakin membuat Character atau personal brand Indah Dewi Pertiwi semakin relevan dengan target marketnya. Sebelumnya, pada awal Januari Hipnotis Dance Competition pun digelar untuk mempopulerkan single keduanya. Penjualan album secara langsung melalui 390 restoran KFC di seluruh Indonesia dilakukan untuk bisa langsung menjangkau komunitas yang relevan. Cara ini juga efektif mengantisipasi maraknya pembajakan musik di Indonesia dan meningkatkan margin keuntungan. Apalagi toko-toko musik mulai bertumbangan, bahkan juga pengusung nama-nama besar, seperti Disc Tarra atau Aquarius.

Bagaimanakah pendapatmu tentang video klip tersebut? Mampukah menjadi salah satu amunisi penting dalam mendobrak chaos dalam industri musik Indonesia? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Fondasi Marketing 3.0 ala “Wedus” Jogja

2

Kaos Wedus JogjaPhilip Derrice Frankfureter Kotler atau yang sering dikenal dengan Philip Kotler, salah satu Global Marketing Guru, pada tahun 2009 menjadi co-author buku “Chaotics: The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence” bersama John Caslione. Kemudian disusul pada tahun 2010, bersama Global Marketing Guru dari Indonesia: Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyusun buku “Marketing 3.0”. Apa hubungan kedua buku yang diterbitkan pada waktu yang berdekatan tersebut? Dalam Chaotics, Kotler menyampaikan bagaimana dalam era sekarang adalah era turbulensi di mana terjadi banyak ketidakpastian pada banyak aspek, yang ditandai terutama pada ketidakpastian siklus ekonomi dunia dan perubahan perilaku serta preferensi pelanggan. Nah…. Marketing 3.0 sangat tepat untuk menyikapi perubahan perilaku dan preferensi pelanggan dalam era turbulensi tersebut.

Posting kali ini akan mengupas apa tantangan mendasar dalam menerapkan konsep marketing yang baru ini, seperti posting sebelumnya mengenai tantangan implementasi konsep New Wave Marketing: “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”. Studi kasus marketing yang akan digunakan untuk belajar Marketing 3.0 adalah perjalanan awal kaos khas Jogja dengan brand ”Wedus” dalam menembus kompetisi pasar kaos khas Jogja yang cukup ketat.

Perkenalan saya dengan kaos ”Wedus” terjadi dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jogja, tempat kelahiran kaos ”Wedus”. Ternyata perjalanan mudik selalu membawa banyak inspirasi dalam proses belajar marketing, seperti studi kasus marketing “Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant”, “Low Cost Carrier versi Jogja” dan “Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik”.

Perubahan mendasar pada perilaku dan preferensi pelanggan akhir-akhir ini adalah pelanggan yang semakin cerdas dan semakin kurang percaya dengan aktivitas pemasaran dari produsen. Hal ini didukung oleh pelanggan yang semakin terhubung dalam banyak jaringan dan komunitas, terutama melalui media internet. Oleh karena itu, konsep marketing pun juga harus ikut berubah agar produsen mampu mempertahankan kelanjutan bisnisnya. Dalam Marketing 3.0, konsep intinya adalah evolusi dari product-driven market pada Marketing 1.0, menjadi Differentiation pada Marketing 2.0 dan kemudian pada Marketing 3.0 bergeser ke Value of Product to Consumers Emotion. Jadi salah satu kata kuncinya adalah ”emosi”, seperti pada sub judul bukunya, “From Products to Customers to the Human Spirit”.

Tantangan mendasar penerapan Marketing 3.0 adalah bagaimana menciptakan keterkaitan emosi dengan pelanggan melalui value yang ditawarkan melalui produk dan layanan secara keseluruhan. Dengan dasar itulah, maka salah satu dari 6 penggerak utama kredibilitas brand dalam konsep Marketing 3.0 adalah “Authenticity”. Di mana untuk mencapai authenticity diperlukan nilai-nilai real & sincere atau ketulusan dari produsen. Bagaimana mungkin kita berusaha menciptakan keterkaitan emosi antara value dari produk dengan pelanggan kalau produsen tidak mempunyai keterkaitan emosi yang tulus dengan produknya sendiri? Inilah tantangan mendasar dan terberat, karena di dalam setiap bisnis, obyektif finansial hampir selalu menjadi yang terdepan, menggerus idealisme dan ketulusan, yang sering terjadi seiring berkembangnya bisnis dan struktur organisasi.

Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan Kaos “Wedus”. Saya sempat berdialog dengan penggagas konsep kaos “Wedus” tersebut dan mengamati bagaimana desain dan aktivitas pemasarannya yang baru berusia 2 bulan. Yang kemudian saya tangkap adalah, usaha ini berawal dari idealisme penggagasnya yang mempunyai obyektif bukan hanya finansial. Konsep kaos ini merupakan bagian dari perjalanan emosi para penggagasnya dalam proses menjadi diri sendiri. Emosi dan nilai-nilai tersebut coba digali dan dituangkan dalam karakter desain yang menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dan menjadi media “update status” penggunanya, seperti biasa dilakukan banyak orang melalui social media, seperti facebook atau twitter. Penggunaan bahasa Jawa, sesuai dengan bagaimana mereka melihat pasarnya, yaitu orang Jawa, orang yang berbahasa Jawa, Javanese people atau mereka yang mempunyai keterkaitan emosi dengan Jawa, khususnya Jogja. Berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa (seperti terjadi juga pada bahasa lain) memang terkadang sangat susah untuk diterjemahkan dalam bahasa lain, karena konteks dan filosofi yang berbeda. Penggunanya diharapkan mampu menggunakan kaos ini sebagai media komunikasi kepada lingkungannya yang berpijak dari kebutuhan target pasarnya untuk bereksistensi dalam komunitas dan lingkungannya..

Uniknya lagi konsep distribusinya adalah menggabungkan outlet kaos dengan coffe shops. Saat ini sudah ada 3 coffee shops dengan brand “NYOHI NYOHI”. Lokasinya di kompleks kaki lima Jalan Demangan Baru Jogja, Jalan AM Sangaji utara STM Jetis Jogja dan Jalan Raya Yogya – Klaten. Dalam bahasa plesetan Jogja, Nyohi Nyohi berarti Kopi Kopi. Salah satu counternya juga hadir di deretan kaki lima jalan Malioboro, salah satu tujuan utama wisata di Jogja.

Dalam persaingan kaos khas Jogja yang ketat, mereka berusaha konsisten menjadi dirinya sendiri dan menjaga keterkaitan emosi dengan value produk dan pelanggannya. Terus menghindarkan diri dari kecenderungan menjadi sekedar komoditas kaos oleh-oleh. Walaupun demikian, dalam usianya yang baru 2 bulan, tentu saja ada beberapa peluang pengembangan yang terbuka. Antara lain penajaman targeting dan positioning, meningkatkan brand awareness di pasar melalui desain dan komunikasi pemasaran, dan integrasi promosi melalui media konvensional dan new media. Tetapi sesuai kredo kedua dari 10 kredo Marketing 3.0, penggagas kaos Wedus menyatakan terus berusaha berinteraksi dengan pelanggannya dan siap berevolusi sesuai perubahan landskap bisnisnya. Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai tantangan dan fondasi Marketing 3.0? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Go to Top