Posts tagged new wave marketing
Pertarungan Citizen Journalism (1)
0Beberapa bentuk dan media Citizen Journalism kini sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya di tengah marak dan tumbuhnya new media. Menurut wikipedia, Citizen journalism adalah konsep yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berperan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan mendistribusikan berita dan informasi. Yang membedakannya dengan bentuk collaborative journalism, adalah tidak adanya batasan bahwa peliput berita harus seorang jurnalis profesional. Semua anggota masyarakat bisa menjadi bagian di dalamnya. Sedangkan new media yang saya maksud adalah sebutan untuk media interaktif, terutama melalui koneksi internet. Media yang lebih bersifat horizontal, karena sifat komunikasinya yang lebih terbuka dan egaliter, walaupun beberapa di antaranya tetap melalui suatu proses moderasi. Media ini semakin penting dalam era new wave marketing.
Sekarang coba kita telusuri, bagaimana masyarakat sekarang bisa berperan aktif dalam citizen journalism. Pertama, mari kita bicara mengenai medianya. Media yang bisa digunakan tentu saja media yang interaktif. Tetapi yang dibutuhkan bukan sembarang interaktif, tetapi yang responsivitasnya cukup tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya intensitas interaktif yang memadai. Beberapa di antaranya adalah Televisi, Radio, dan tentu saja Internet.
Selanjutnya, bagaimana dengan bentuk citizen journalismnya? Bentuk yang paling sederhana adalah komentar pada lipuran berita, artikel, foto atau lainnya yang menurut J. D. Lasica disebut dengan Audience participation, seperti saya kutip dari wikipedia. MetroTV dan TVOne, stasiun televisi nasional yang menjadikan acara berita sebagai salah satu andalannya telah menggunakan bentuk ini. Contohnya adalah MetroTV dengan acara ”Suara Anda”. Interaktivitasnya dibangun dengan membuka saluran telepon bagi pemirsa untuk memberikan komentar. Tampaknya citizen journalism semakin penting, dan ini disadari oleh media traditional seperti surat kabar. Beberapa suratkabar go online baik melalui situsnya sendiri atau melalui social media, seperti facebook untuk membuka kanal interaktivitas bagi pembacanya untuk memberi komentar.
Bentuk berikutnya adalah kontribusi publik bukan hanya sebagai pendengar dan komentar tetapi sebagai penyaji berita, tetapi dalam format yang sederhana dan singkat. Media yang sering digunakan adalah radio dan internet. Beberapa radio, seperti Elshinta atau Radio Suara Surabaya mengandalkan pendengarnya untuk beberapa muatan berita, terutama traffic report. New media semakin mengambil peranan untuk bentuk ini, dan yang paling seru adalah social media, terutama facebook dan twitter. Contoh kecil, seorang teman yang pada bulan Juni lalu harus menempuh perjalanan Bandung – Surabaya menggunakan Kereta Api, akhirnya mengikuti jalannya pertandingan piala dunia melalui update status teman-temannya di facebook. Sejauh pengamatan saya, Twitter kini semakin mengambil alih traffic citizen journalism dalam bentuk ini. Lihat saja setiap penayangan acara Indonesia Mencari Bakat di TransTV, maka keyword Nonton IMB hampir pasti jadi trending topics. Tidak hanya itu, peserta kontes tersebut: Putri Ayu, Brandon, Fay, Hudson adalah sebagian yang sempat nangkring di deretan Trendicng Topics. Demikian juga terjadi dalam tayangan Indonesian Idol di RCTI. Keberhasilan Twitter didukung oleh kesederhanaan dan jangkaun penyebaran informasinya yang lebih luas dibandingkan facebook.
Bentuk berikutnya adalah sajian liputan yang lebih lengkap seperti layaknya liputan jurnalis profesional tetapi dilakukan oleh anggota masyarakat pada umumnya. Media yang selama ini bisa digunakan secara optimal hanyalah yang melalui internet. Minimal ada 3 jenis, blog pribadi, media citizen journalism yang ditumpangkan pada mass media seperti kompasiana pada http://kompas.com, dan pada situs yang murni mengandalkan citizen journalism seperti pada http://kabarindonesia.com (HOKI), http://swaberita.com, http://thirdreport.com atau http://wikipedia.org.
Pertanyaannya, mana bentuk dan media yang akan bisa survive? Saya kira kuncinya adalah pada interaktivitas, keterbukaan, serta konten yang kredibel dan variatif. Karena keunggulan citizen journalism adalah cakupan berita yang sangat luas, sifatnya yang egaliter, dan bahkan kecepatannya. Tetapi saya yakin tidak hanya satu bentuk atau media saja yang survive, karena karakter masyarakat yang beragam dalam kebutuhannya berperan dalam citizen journalism. Radio yang merupakan media yang sudah ”tua” pun masih sangat mungkin bisa survive karena sifatnya yang memungkinkan informasi bisa dikonsumsi pendengarnya sambil mengerjakan kegiatan lain, antara lain sambil menyetir.
Bagaimana menurut Anda? Ada masukan, koreksi atau pendapat lain mengenai citizen journalism? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.
Belajar dari Wafatnya Google Wave
0Saya termasuk salah satu orang yang cukup antusias saat Google mengumumkan akan melakukan trial Google Wave pada tahun 2009 ( Google to Launch Google Wave Public Beta in Sept.). Dan masih banyak lagi netizen yang antusias dan kemudian mengirim pesan ke google untuk menjadi salah satu user, di antara 100.000 user yang direncanakan terlibat untuk mencoba Google Wave versi Beta. Beberapa orang yang terpilih Google untuk ikut mencoba, merasa bangga dan menyampaikannya pada teman dan komunitasnya. Pada waktu itu buzz atau words of mouth mengenai Google Wave menjadi sangat kencang.
Singkatnya, Google Wave adalah perpaduan antara e-mail, chat, blog dan banyak aplikasi google lain untuk berkolaborasi secara online. Aplikasi ini diproyeksikan untuk mampu menggantikan e-mail yang sudah dianggap aplikasi “kuno”.
Tetapi, pada tanggal 4 Agustus 2010Google mengumumkan untuk menghentikan pengembangan Google Wave. (RIP Google Wave). Salah seorang Senior Vice President Google mengatakan, alasan dihentikannya pengembangan Google Wave adalah user adoption yang tidak memenuhi harapan Google. Pada proses awalnya, sebelum mengarah ke 100.000 user trial, Google terlebih dahulu melakukan trial ke para sekitar 6.000 program developers. Kalau kita merujuk pada Technology Adoption Lifecycle-nya Geoffrey Moore, maka Google sudah mencoba masuk ke segmen Innovator dan Early Adopter. Tetapi persis seperti disampaikan Geoffrey Moore, maka titik kritisnya adalah di Chasm, atau jurang antara Early Adopter dan Mainstream Customers. Dan Google Wave akhirnya menjadi salah satu korban, masuk ke jurang tersebut.
Tetapi dari studi kasus marketing ini kita bisa banyak belajar marketing dari berbagai aspek. Pertama, produk yang terlalu complicate, rumit atau ribet akan susah diserap oleh pasar. John Naisbitt pernah mengungkapkan perlunya High Touch pada produk High Tech. Sehingga untuk realisasi konsep besarnya, Google perlu kembali berpikir keras bagaimana mendeliver preposisi tersebut dalam bentuk yang mudah digunakan oleh target pasarnya.
Kedua, buzz yang luar biasa – atau meminjam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya – Conversation yang luar biasa di seputar Google Wave, ternyata tidak menjamin penyerapan pasar yang baik. Sebuah pelajaran yang penting untuk para pemasar dalam era antusiasme terhadap digital marketing dan social media.
Ketiga, kabar baiknya, konsep Google Wave saya kira masih perlu dicermati. Buzz atau Conversation yang luar biasa saat peluncuran versi Beta-nya bukan tanpa alasan. Jadi, masih terbuka kemungkinan konsep ini dikembangkan melalui produk atau aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Keempat, dibalik cerita kegagalan Google Wave, yang sebetulnya hanya satu cerita dari kegagalan aplikasi Google yang lain mengingatkan kita kepada cerita keberhasilan inovasi Thomas Alva Edison. Di balik sebuah inovasi yang sukses terdapat puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kegagalan. Jadi, keberanian mengambil resiko menjadi sangat penting. Saya kira respon Google yang cepat dalam proses pengembangan produk dan mekanismenya dalam mengembangkan inovasi bisa menjadi referensi.
Kelima, lagi-lagi merujuk pada Technology Lifecyle Adoption-nya Geoffrey Moore, untuk bisa masuk ke mainstream customers ternyata memang diperlukan produk yang siap 100%. Produk baru high tech yang belum siap sangat beresiko masuk ke chasm, jurang yang menganga di antara early adopter dan early majority.
Bagaimana menurut Anda? Ada pelajaran marketing lain yang bisa diambil? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.
Revolusi Layar Kaca
0Dalam era pemasaran vertikal, media broadcast menjadi salah satu primadona. Slot iklan di televisi atau radio pada jam-jam yang disebut dengan “prime time” mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Efektivitas yang diharapkan dari promosi yang dipasang pada saat prime time pun begitu tinggi. Program televisi unggulan dengan rating tinggi pun sangat erat hubungannya dengan alokasi waktu saat prime time. Teknologi pada media yang berkarakter komunikasi satu arah menjadi salah satu faktor penentu kuatnya pengaruh prime time. Layar kaca pada ribuan dan bahkan jutaan pemirsa televisi menampilkan sajian yang sama, menyebabkan promosi yang ditampilkan pada prime time bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan pemirsa, baik yang merupakan target pasar maupun yang bukan target pasar dari produk terkait.
Tetapi dengan perkembangan teknologi sekarang, ada satu hal yang berubah. Kini sajian program televisi yang hadir di masing-masing layar kaca pemirsa bisa berbeda-beda walaupun pada stasiun televisi dan waktu yang sama. Teknologi IP-TV salah satunya, mempunyai fitur TV on Demand, memungkinkan pelanggannya untuk memilih menonton acara yang disukainya pada waktu yang ditentukan sendiri. Teknologi siaran televisi digital yang saat ini sedang trial di Jakarta, juga mempunyai fasilitas merekam siaran yang dipilih dengan cara sangat mudah. Kondisi ini menyebabkan prime time semakin lurang efektif. Lunturnya kesaktian prime time pada media broadcast ini juga diakui oleh Presiden CNN Jon Klein pada waktu itu : “ …. it’s hard to say there’s one particular daypart or hour of the day that matters more”.
Berkembangnya “new media” seperti online social media (facebook, twitter, friendster, hi5, dll) semakin membuat media broadcast tradisional semakin kehilangan kesaktiannya. Bagi kita yang belajar marketing sudah banyak membaca artikel atau buku yang menyajikan studi kasus mengenai kesaktian social media tersebut dalam membangkitkan buzz atau words of mouth. Dalam konsep new wave marketing dari Hermawan Kartajaya, dikenal dengan istilah many to many marketing atau era horizontal marketing. Kemudahan dalam mengakses online social media di manapun kita berada dengan semakin menjamurnya Blackberry, iPhone atau smartphone yang lainnya semakin membuat banyak pemirsa televisi yang beralih ke media baru (baca artikel sebelumnya Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone. Tumbuh pesatnya smartphone ini juga dipicu oleh kompetisi yang semakin ketat, seperti diungkap pada artikel Blackberry Baru 500 ribu-an, Tertarik?.
Fenomena ini juga diikuti dengan mulai lunturnya kesaktian rating. Content dengan rating tinggi tidak lagi bisa mendominasi seperti dahulu. Chris Anderson dalam bukunya “The Long Tail” menunjukkan kepada kita bahwa beberapa produk atau content dengan demand yang rendah atau mempunyai volume penjualan yang rendah, secara kolektif bisa bersaing atau bahkan melampaui market share dari produk atau content best seller atau box office. Kondisi ini tentunya dipicu antara lain oleh berkembangnya media yang lebih interakti, terutama yang berbasis internet.
Hasil riset The Nielsen Company pada tahun 2009 menunjukkan bahwa game console PlayStation 3 dan Xbox 360 pun berperan mengurangi jam menonton televisi, termasuk pada prime time. Dari hasil survey, para gamers lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain game daripada menonton televisi pada prime time. Survey Nielsen pada bulan Mei 2008 juga menemukan bahwa 6 juta pemirsa televisi di Amerika Serikat pada prime time telah beralih ke media lain. Sebagian dari 6 juta pemirsa tersebut masih menonton acara yang sama tetapi telah memilih waktunya sendiri melalui TiVo atau digital video recorder lainnya, streaming video di internet atau cable video on demand.
Kondisi ini semakin menambah keyakinan perlunya mulai fokus pada mengelola “conversation” dalam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya. Dalam conversation, peran social media dan komunitas menjadi penting, dibandingkan media vertikal yang pada era sebelumnya mendominasi pengelolaan promosi. Bagaimana mengelola conversation? Sekarang telah cukup banyak referensi dan buku marketing yang membahasnya, atau Anda sudah membaca atau mengimplementasikannya? Please share with us, atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.
Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone
Akhir-akhir ini saya banyak menemukan artikel marketing yang mengulas Nokia vs Blackberry. Tetapi dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kali ini saya lebih tertarik untuk sharing marketing ideas dalam kebut-kebutan antara Blackberry dan iPhone. Dari laporan lembaga riset Gartner, pada tabel di bawah ini,, tampak bahwa pertumbuhan di pasar Smartphone menjadi milik HTC, RIM dan Apple. Tetapi bila dilihat market share-nya, maka tampak ”perseteruan” paling seru terjadi antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Market leader masih menjadi milik Nokia, tetapi dengan pertumbuhan 4,4% atau jauh dari ketiga pesaing terdekatnya, maka bila tidak ada perubahan signifikan, posisinya di puncak akan semakin lemah.
Banyak hal unik bila kita mencermati kebut-kebutan penjualan antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Sehingga banyak hal bisa jadi bahan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing tersebut. Salah satunya, keduanya mengandung unsur buah-buahan di brand yang menjadi mesin pertumbuhannya. RIM mengusung buah Blackberry, sedangkan buah Apple merupakan corporate brand yang menaungi iPhone.
Hal unik berikutnya adalah bisnis model serupa yang dikembangkan keduanya, yang juga membedakannya dengan Nokia yang mulai keteteran dalam mengejar pertumbuhan para pesaingnya tersebut. Bisnis model Blackberry dan iPhone adalah bisnis yang menggabungkan device, network dan application atau content seperti yang pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya: “Demam Buah di Gadget Market?”. Apple, sebelumnya memang sangat berhasil dalam mengembangkan ekosistem iTunes. Eksosistem ini menggabungkan device audio & video player iPod dengan content berupa berbagai macam musik dalam format digital di iTunes yang dihubungkan melalui koneksi jaringan internet. Ekosistem inilah yang membuat iPod dan iTunes sangat sulit untuk disaingi, walalupun setelah iPod banyak sekali mp3 player atau mp4 player diproduksi dengan berbagai merk dan harga yang jauh lebih murah. Apple iPhone pun dikembangkan dalam business model yang serupa, menantang Blackberry.
Business model ini menjadi salah satu key success factor Blackberry dan iPhone. Dari sebuah artikel di cnn.com baru-baru ini mengungkap adanya kemungkinan rencana iPhone untuk melebarkan sayap untuk menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat. Selama ini AT&T menjadi partner ekslusif iPhone untuk menyediakan layanan di Amerika Serikat. Rumor ini berkembang setelah terciumnya rencana iPhone untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “worldmode”. Sistem ini diharapkan akan menjembatani keterbatasan iPhone yang menggunakan teknologi W-CDMA (UMTS) yang tidak kompatibel dengan jaringan Verizon yang berbasis teknologi CDMA2000. Apalagi kontrak kerjasama eksklusif iPhone dengan AT&T akan berakhir tahun depan (2010). Verizon adalah pesaing terdekat AT&T pada pasar wireless di Amerika Serikat. Akhir tahun 2008, Verizon memimpin pasar dengan market share sebesar 30%, hanya berselisih 1% dengan AT&T dengan market share 29%.
Pada umumnya Apple iPhone ditawarkan dengan harga di atas Blackberry. Pada posting sebelumnya, ”Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?”, tampak bahwa RIM memulai lateral marketing, mencoba memasuki segmen-segmen baru, untuk terus berpacu menantang iPhone di jalur cepat pertumbuhan pasar smartphone. Salah satunya dengan bermain di pricing. Dari beberapa sumber, tampak kebijakan pricing Blackberry memang lebih berani dibandingkan Apple iPhone. Tetapi tampaknya brand Apple membuat para pengusung iPhone tidak gentar dengan tantangan Blackberry tersebut. Brand Apple memang identik dengan desain yang unggul. Begitu juga dengan iPhone. Walaupun iPhone bukan pelopor di smart phone dan juga bukan first mover di touch phone, tetapi desainnya yang unggul memang menawarkan user interface yang sangat menarik. Unicom, wireless carrier terbesar kedua di China setelah China Telecom, pun yakin bahwa iPhone yang diusungnya akan menjadi nomor 1 di pasar Smartphone di China walaupun harga yang ditawarkannya sekarang masih sangat tinggi. Unicom menawarkan paket iPhone dengan harga sangat tinggi, 7.999 yuan atau sekitar US$ 1.172. Bandingkan dengan paket iPhone di Amerika yang ditawarkan dengan harga US$ 299.
Yang perlu menjadi perhatian Blackberry adalah inisiatif Apple untuk mengoptimalkan ekosistem iTunes dalam jaringan iPhone. Dengan memanfaatkan ekosistem iTunes, Apple menyediakan appstore, mengembangkan jaringan content developer dengan sangat pesat karena didukung sistem billing yang sederhana dan application programming interface yang sangat mendukung para content developer dalam mengembangkan content. Seperti diuraikan di atas content adalah elemen penting dari business model Blackberry dan iPhone. Apple sukses mengembangkan mobile marketing dengan ekosistem tersebut. Tetapi tampaknya Blackberry sangat waspada akan hal tersebut. Blackberry sudah merespon dengan mengembangkan Blackberry Advertising service, sebuah platform layanan yang menawarkan layanan advertising terintegrasi dengan jaringan Blackberry.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Blackberry mampu menjawab tantangan iPhone dalam kebut-kebutan di pasar smart phone? Mari sharing marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini dengan mengurai studi kasus marketing Indonesia dan internasional.
Miyabi Marketing
6Bila kita cermati beberapa studi kasus marketing, sejak lama kontroversi telah banyak diperbincangkan sebagai salah satu cara dalam mencuri perhatian pasar. Banyak sekali contoh marketing ideas yang kontroversial atau mendekati kontroversial digunakan para pemasar dalam menarik perhatian dan membangkitkan words of mouth, menjadikan topik ini cukup menarik bagi kita yang belajar marketing. Words of mouth atau buzz adalah mesin dari new wave marketing yang bersifat horizontal marketing. New wave marketing adalah konsep marketing yang dipopulerkan oleh Guru marketing: Hermawan Kartajaya.
Pada bulan Februari tahun ini, Southwest Airlines (SWA) pernah memancing kontroversi saat menghias badan pesawat Boeing 737 nya dengan foto besar model majalah “Sports Illustrated” yang cukup ternama asal Brasil, Bar Rafaeli, yang mengenakan bikini. Tentu saja kontroversi langsung mencuat, perdebatan di berbagai media bermunculan, baik respon negatif, netral maupun respon positif. Menurut pengakuan public relation dari SWA, seperempat respon yang masuk adalah respon negatif. Langkah maskapai ini terbilang cukup unik, karena 19 bulan sebelumnya kontroversi bertema bikini juga menghiasi publikasi SWA. Waktu itu seorang Flight Attendant SWA sempat menolak seorang penumpang wanita yang mengenakan mini skirt, karena dianggap terlalu mini sehingga kurang pantas masuk dalam pesawat dari maskapai yang memposisikan diri sebagai “family airline”.
Di dunia entertainment, episode sebuah serial dengan penonton paling banyak biasa terjadi pada episode kontroversial. Episode yang mengakhiri riwayat serial drama televisi “Friends” mencatat rekor jumlah penonton sebanyak 52,5 juta penonton saat ditayangkan pada tahun 2004 (tertinggi dalam kurun waktu 6 tahun). Komik seri Superman dari DC Comics mencatat rekor penjualan pada seri berjudul “The Death of Superman” pada tahun 1992, yang menceritakan matinya sang jagoan.
Beberapa judul buku marketing yang populer pun tidak lepas dari kontroversi, seperti “The End of Marketing, As We Know It” dan “The End of Advertising, As We Know It”, keduanya karya Sergio Zyman. Judul senada juga menjadi karya pakar marketing dan branding, Al Ries dan Laura Ries, yaitu “The Fall of Advertising, the Rise of PR”.
Bagaimana dengan studi kasus marketing atau marketing ideas yang berkembang di Indonesia? Beberapa waktu yang lalu Bakrie Telecom, operator telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, meluncurkan fitur atau layanan “esia Bispak”. Dengan fitur tersebut, pengguna esia dapat membandingkan tarif beberapa operator telekomunikasi berbasis teknologi GSM secara langsung melalui simulasi. Serangan frontal ke operator GSM ini tentu saja memicu kontroversi, belum lagi pemilihan nama “Bispak” yang juga mengandung kontroversi. Penggunaan inisial 5 operator GSM di simulasi esia tersebut pun menambah kontroversi. 5 huruf yang digunakan sebagai inisial tersebut berturut-turut adalah B, A, S, M, I. Salah satu operator GSM, yaitu XL, segera bereaksi dengan meluncurkan “Paket XL Harga CDMA”.
Yang tidak kalah serunya, adalah kalau kita belajar marketing melalui studi kasus marketing rencana produksi film layar lebar berjudul “Menculik Miyabi”. Kontroversi timbul saat ada rencana mendatangkan Miyabi, bintang film porno asal Jepang, ke Indonesia untuk ikut membintangi film tersebut. Beberapa elemen masyarakat terlibat dalam kontroversi yang seru, sampai akhirnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, memutuskan bahwa Miyabi tidak akan datang ke Indonesia. Padahal menurut beberapa sumber, naskahnya pun masih dalam proses pengerjaan oleh Raditya Dika, novelis yang mulai populer di tanah air. Coba bayangkan bagaimana serunya kontroversi yang terjadi kalau Miyabi jadi datang ke Indonesia dan syuting film “Menculik Miyabi”?
Publisitas negatif, tetaplah sebuah publisitas, dan sangat potensial dalam menarik perhatian dari publik. Pada beberapa studi kasus marketing, kontroversi cukup efektif dalam mendukung usaha pemasaran. Tetapi potensi backfire juga harus dipertimbangkan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Bagi kita yang belajar marketing, tampaknya sebelum memulai upaya marketing bergaya kontroversi, perlu pertimbangan segmen apa yang menjadi target market kita dan kontroversi yang dipicu akan paling besar menyinggung pada segmen pasar yang mana. Karena respon negatif dari kontroversi pada target market atau pelanggan kita bisa berpotensi pada keputusan pelanggan kita untuk tidak lagi menggunakan produk atau layanan kita. Hal tersebut terjadi pada beberapa pelanggan Southwest Airlines setelah “kontroversi bikini” seperti diceritakan di atas.
Tetapi, bagaimana menurut Anda, apakah betul potensi kontroversi dalam marketing layak untuk dipertimbangkan? Please share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar bersama di blog marketing ini.
Many to Many Marketing Gaya Paris van Java Mall Bandung?
0Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.
Diferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.
Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.
Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.
Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.
Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.
Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.





