Mendulang Profit Sekaligus Mengentaskan Kemiskinan

Studi kasus pemasaran kali ini ditulis untuk turut memeriahkan Hari Blogger Nasional tahun ini, tanggal 27 Oktober 2011. Bermula dari pemikiran, apa yang bisa saya tulis untuk bisa sedikit berkontribusi melalui blog yang fokus pada tema studi kasus pemasaran dan inovasi di http://kopicoklat.com.

Sangat membanggakan saat membaca ulasan bangkitnya kelas menengah di Indonesia, menurut ekonom Faisal Basri. GDP (Gross Domestic Product) Indonesia sebesar $ 3.000 per capita pun diprediksi akan terlampaui pada tahun 2011. Jumlah populasi kelas menengah terus membengkak seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kondisi ini membawa pengaruh semakin larisnya berbagai produk yang selama ini masuk dalam kategori barang kebutuhan sekunder. Bahkan barang-barang mewah juga semakin terjangkau, karena volume penjualan yang semakin tinggi.

Lebih menggugah hati lagi saat membaca Entrepreneur Boom-nya mas Yuswohady, yang merupakan kelanjutan dari fenomena Consumer 3000 yang juga dikenalkan oleh mas Yuswohady. Consumer 3000 adalah istilah untuk menggambarkan kelas menengah yang mempunyai pendapatan di atas GDP per capita $ 3000. Dengan adanya lonjakan kelas menengah, diharapkan enterpreneurship di Indonesia semakin berkembang. Lebih banyak lagi kelas menengah yang memutuskan untuk mengembangkan diri menjadi entrepreneur. Hal ini didukung oleh karakter kelas menengah yang pada umumnya memiliki aset modal yang memadai, berwawasan luas, knowldgeable dan melek teknologi.

Tetapi kenyataannya di balik pertumbuhan kelas menengah, masih ada 31 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut data Bank Dunia. Bahkan sekitar 4 milyar penduduk dunia hidup dengan pendapatan di bawah $2 per hari. Yang cukup menyedihkan, gap atau jurang antara kaya dan miskin di Indonesia ternyata semakin lebar.

Jadi di balik menggairahnya pasar domestik dengan adanya lonjakan kelas menengah, apakah tidak ada peluang di segmen pasar yang berada di bawah garis kemiskinan? Menurut C. K. Prahalad dalam bukunya “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”, terdapat peluang besar bagi banyak pelaku usaha bila menggarap pasar ini dengan benar. Selain menguntungkan, menggarap pasar di segmen ini juga akan memberi nilai tambah yang luar biasa bagi pengentasan kemiskinan. Kuncinya adalah kemitraan yang sinergi antara pelaku usaha,  pemerintah, berbagai organisasi kemasyarakatan dan masyarakat di segmen ini. Tetapi memang, untuk bisa menghasilkan keuntungan di pasar ini menuntut sebuah perusahaan yang menggarapnya untuk berinovasi, mulai dari model bisnis, teknologi, pengembangan produk dan yang paling penting adalah mengubah mindset.

Mindset yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah sudut pandang bahwa masyarakat miskin bukanlah beban tetapi lebih sebagai sumber daya. Sumber daya manusia yang menurut C.K. Prahalad juga berpotensi sebagai entrepreneur yang tangguh dan kreatif. Benarkah sudut pandang ini? Coba kita tengok bagaimana Grameen Bank yang digagas oleh pemenang Nobel Perdamaian 2006, M. Yunus. Grameen Bank berhasil mengentaskan kemiskinan pada banyak keluarga di Bangladesh dengan mengembangkan model bisnis inovatif dalam produk kredit mikro. Kredit mikro tersebut didesain dalam bentuk yang tepat untuk target marketnya, yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kredit diberikan tanpa perlu adanya jaminan seperti layaknya produk kredit mikro perbankan pada umumnya.  Pinjaman diberikan secara selektif kepada kelompok perempuan produktif yang ber status sosial miskin. Kredit mikro ini berhasil mengembangkan entrepreneurship di kalangan kelompok perempuan berstatus sosial miskin, dan akhirnya berkontribusi besar dalam mengentaskan keluarga mereka dari kemiskinan. Masih banyak lagi contoh yang disampaikan Prahalad dalam buku “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”.

Jadi di balik pertumbuhan Consumer 3000 dengan daya beli yang naik dan harapan lonjakan para entrepreneur dari kalangan kelas menengah, terdapat peluang besar naiknya daya beli dan bangkitnya entrepreneurship dari masyarakat yang saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah harus mampu menjadi fasilitator dan katalisator dalam proses kemitraan yang sinergis dengan sektor swasta dan berbagai lembaga kemasyarakatan untuk mengubah mindset seperti di atas. Perubahan mindset tersebut diharapkan mampu membangkitkan inovasi di berbagai perusahaan untuk menggarap segmen ini dan sekaligus berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Bagaimana dengan UKM (Usaha Kecil Menengah)? Peluang inovasi di UKM selalu terbuka, juga dalam kaitannya dalam menggarap segmen pasar ini (baca: “Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM”). Apalagi UKM mestinya lebih dekat dengan segmen pasar ini dibandingkan perusahaan berskala besar.

Bagaimana menurut Anda? Ada pemikiran tentang pengentasan kemiskinan di Indonesia dan peran serta sektor swasta dan juga pemerintah? Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional http://kopicoklat.com.

Inovasi Kemitraan Perbankan Syariah untuk Pengentasan Kemiskinan

Dalam Pilpres di Indonesia yang baru lalu, salah satu topik menjadi perhatian dalam masa kampanye dan debat resmi capres / cawapres adalah masalah pengentasan kemiskinan. Kenapa? Karena memang masalah tersebut merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Jadi ijinkan saya ikut menulis posting mengenai masalah ini di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas ini. Dan sejauh ini perkembangan program pengentasan kemiskinan belum memenuhi harapan bagi semua pihak. Walaupun ukuran ini relatif, mengingat beberapa orang dan institusi mengklaim suksesnya beberapa program pengentasan kemiskinan. Tetapi faktanya jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut Bank Dunia hampir separo penduduk, atau 115 juta orang.

bank Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang menuntut solusi kesisteman yang komprehensif dari berbagai aspek dan melibatkan berbagai komponen dalam masyarakat. Salah satu program andalan pemerintah saat ini adalah PNPM Mandiri atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, yang dimulai pada tahun 2007. Dalam situsnya http://www.pnpm-mandiri.org, program tersebut merupakan program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Ruang lingkup program ini cukup komprehensif, meliputi: (1) Penyediaan dan perbaikan pasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial dan ekonomi secara kegiatan padat karya, (2) Penyediaan sumberdaya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro, (3) Kegiatan terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs dan (4) Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan ketrampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.

Kemudian, bagaimanakah peran Perbankan Syariah dalam pengentasan kemiskinan? Konsep dan beberapa produk Perbankan Syariah mempunyai potensi besar untuk mampu berkontribusi signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Beberapa konsep Perbankan Syariah yang sesuai, khususnya dalam kaitannya dengan microfinance antara lain: adanya pembagian keuntungan dan kerugian antara pemberi dana dan peminjam dana dari hasil kegiatan lembaga peminjam dan tidak diperbolehkannya “menghasilkan uang dari uang” akan mengurangi beban bunga kepada peminjam yang biasa ditemui pada kredit bank konvensional. Beberapa produk bank syariah yang berpotensi antara lain: Mudhorobah dan Murobahah. Mudhorobah adalah layanan untuk peminjam dana, di mana keuntungan dari hasil usaha akan dibagi, sedangkan resiko ditanggung penuh oleh bank, kecuali kerugian karena kelalaian atau kesalahan dari peminjam dana dalam mengelola usahanya, seperti penyelewengan atau penyalahgunaan. Sedangkan Murobaha adalah layanan leasing dengan sistem angsuran flat.

Dalam microfinance dengan dasar syariah, juga terdapat BMT (Baitul Maal wat Tamwil). BMT adalah lembaga yang berfungsi ganda, menjalankan fungsi sosial, yaitu mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti: zakat, infaq dan shodaqoh serta lainya yang dibagikan/disalurkan kepada yang berhak dalam rangka mengatasi kemiskinan dan fungsi ekonomi, yaitu kegiatan produktif dalam rangka nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia.

George Soros, pada tahun 2002, pernah menyatakan bahwa agar microfinance mampu menjadi faktor besar dalam perkembangan ekonomi dan politik, skala Islamic Microfinance Institutions harus secara signifikan meningkat. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. BMT bisa menjadi salah satu lembaga keuangan yang sangat sesuai untuk program pengentasan kemiskinan. Pertama, tidak ada beban bunga yang tinggi seperti bank konvensional pada umunya. Kedua, resikonya relatif lebih kecil, karena skala pinjaman dan adanya fungsi sosial dari lembaga tersebut. Ketiga, proses pinjaman yang sederhana. Hal ini bsia menjadi salah satu alternatif dalam menjawab salah satu hambatan program pengentasan kemiskinan di Indonesia menurut Bank Dunia, yaitu lemahnya lembaga layanan publik pemerintah yang erat dengan citra birokratis. Keempat, citra dari lembaga keuangan syariah dan lembaga dengan fungsi sosial yang melekat pada BMT akan lebih diterima masyarakat luas.

Potensi
Berbicara mengenai potensi, PNPM Mandiri mempunyai potensi besar. Dana PNPM untuk tahun 2010 dianggarkan sebesar 16 triliun rupiah. Organisasi pelaksana program ini sudah mencapai tingkat kecamatan, dengan adanya Penanggung jawab Operasional, Unit Pengelola Kegiatan dan Fasilitator di tingkat kecamatan. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Dunia.

Potensi Perbankan Syariah di Indonesia saat ini terus meningkat. Pasar perbankan syariah di Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia dalam pangsa pasar di kawasan Asia Tenggara, menurut gulfnews.com. Menurut data ICN (Indonesian Commercial Newsletter), jumlah kantor bank syariah pada bulan Februari 2009 sebanyak 908 kantor ditambah channeling sebanyak 1.452 kantor. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga terus meningkat tajam, rata-rata 32,8% per tahun pada periode 2004 – 2008, atau melonjak menjadi Rp 36,8 triliun pada 2008 dari Rp 11,8 triliun pada tahun 2003.

Potensi dari BMT juga tidak kalah menjanjikan. Dalam sebuah jurnal penelitian dari Teddy Lesmana, peneliti dari LIPI, pada tahun 2008 terdapat sekitar 3.100 BMT.

Inovasi Kemitraan
Potensi masing-masing dari PNPM yang mewakili pemerintah, perbankan syariah dan BMT memang menjanjikan. Tetapi bila dari ketiganya terdapat sinergi maka potensinya akan menjadi berlipat ganda. Hal ini sangat mungkin, karena kekuatan dari masing-masing pihak bisa menjadi komplemen dari kelemahan dari masing-masing pihak.

Misalnya seperti yang diungkapkan sebelumnya, BMT mampu menjadi komplemen dari hambatan birokratis lembaga pemerintahan. BMT yang biasanya mempunyai modal kecil dan masalah pada kompetensi dari sumber daya manusianya bisa dilengkapi dari besarnya modal dan tingkat kompetensi yang lebih tinggi dari Bank Syariah. Tingkat kompetensi sumber daya manusia ini akan sangat berpengaruh terhadap inovasi dari produk dan layanan yang bisa dikembangkan bagi masyarakat. Bank Syariah bisa menjalankan peran pembinaan dan mitra bagi BMT. Sehingga fokus Bank Syariah dan BMT diharapkan bukan pada persaingan tetapi pada kerjasama. Saat ini persaingan di antara keduanya makin terbuka karena produk Bank Syariah yang mulai masuk ke segmen yang secara tradisi menjadi sasaran dari BMT. Salah satu solusinya bisa dengan komitmen pembagian segmen pasar yang bisa didukung dengan kebijakan pemerintah.

Pemerintah melalui PNPM juga mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh Bank Syariah maupun BMT, yaitu kebijakan, regulasi, modal dan dukungan dari Bank Dunia. Salah satu kebijakan pemerintah yang akan sangat berpengaruh bagi perbankan syariah adalah tingkat suku bunga Bank Indonesia. Bila suku bunga diturunkan, maka perbankan syariah yang tidak menganut konsep riba akan lebih kompetitif dibandingkan bank konvensional. Cakupan gerak PNPM yang lebih luas dengan dukungan organisasi yang lebih lengkap juga bisa menjadi pelengkap kekurangan Bank Syariah dan BMT. Cakupan dan organisasi akan sangat penting dalam meningkatkan awareness masyarakat, terutama masyarakat miskin akan program pemberdayaan masyarakat melalui microfinance yang saat ini dirasakan masih sangat kurang. Peran pemerintah juga diharapkan akan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga microfinance, termasuk Bank Syariah dan BMT.

Jadi, Perbankan Syariah akan sangat berperan dalam pengentasan kemiskinan, tetapi tentunya harus dengan inovasi dalam layanan dan operasionalisasinya. Salah satunya adalah dengan membentuk kemitraan yang harmonis dengan pemerintah, dalam hal ini khususnya PNPM Mandiri, dan BMT. Sehingga diharapkan inovasi kemitraan ini akan bisa menjawab tantangan yang pernah diungkapkan George Soros. Tetapi bagaimanakah menurut Anda? Apakah kemitraan ini memang berpotensi besar atau akan sulit direalisasikan. Silakan berikan masukan dan marketing ideas Anda di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

One Free Click untuk Membantu Sesama: Terobosan Marketing untuk Organisasi Non Profit

Istilah “One Free Click” hanya sekedar istilah yang saya, yang sedang belajar marketing dan sharing marketing ideas untuk menggambarkan terobosan marketing khususnya untuk organisasi non profit. Hanya dengan 1 kali klik ternyata kita sudah dapat ikut membantu berbagai Cause atau organisasi sosial sesuai pilihan kita. Cara ini akan mempunyai impact yang lebih luar biasa pada era horizontal seperti sekarang ini dengan bantuan media internet.

Bila Anda memperhatikan “widget” atau aplikasi kecil di frame sebelah kanan blog ini, maka terdapat informasi dari World Food Programme (WFP). Gerakan sosial dari WFP ini diperuntukkan untuk membantu memerangi kelaparan dan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang. Bila Anda klik gambar atau informasi tersebut, maka Anda akan diarahkan untuk melihat satu informasi komersial dari sponsor. Dengan meluangkan waktu untuk satu kali klik dan melihat informasi komersial tersebut, maka sponsor akan memberikan donasinya dalam jumlah tertentu ke organisasi sosial tersebut (WFP).

Isn’it amazing? *at least it is for me*

social vibe

social vibe

Salah satu bentuk social networking yang diberi nama “SocialVibe” ini bekerja sama dengan penyedia layanan blog (seperti wordpress), facebook, myspace, dan lain-lain. Pemilik blog bisa menggunakan “SocialVibe” tersebut hanya dalam 3 langkah mudah. Pertama memilih gerakan atau organisasi sosial yang ingin didukung, kedua memilih sponsor dan ketiga melakukan kustomisasi dari tampilan aplikasi tersebut. Sehingga pengunjung blog akan dengan mudah berkontribusi, membantu sesama manusia yang mungkin sangat jauh dan sama sekali tidak dikenalnya hanya dengan satu klik. Just that simple. Sambil belajar marketing dan share marketing ideas, kita bisa berkontribusi memerangi kemiskinan dan kelaparan di berbagai belahan dunia.

Di era horizontal seperti sekarang ini memang diharapkan gerakan-gerakan serupa akan lebih mempunyai impact lebih besar. Belum lepas dari ingatan kita bagaimana gerakan mendukung Prita Mulyasari di facebook dalam waktu singkat bisa mencapai lebih dari 250.000 pendukung. Yang paling baru, Indonesiaunite! juga mendapat perhatian dan dukungan besar di facebook dan twitter setelah bencana bom bunuh diri di Mega Kuningan, 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Gerakan horizontal ini dibahas cukup menarik oleh Seth Godin dalam bukunya “Tribes”. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Saya menyebutnya sebagai terobosan marketing untuk organisasi non profit, khususnya dalam menghimpun dana, karena mungkin beberapa atau banyak dari kita selama ini melihat cara tradisional dalam menghimpun dana sosial adalah dengan secara langsung meminta sumbangan uang kepada “siapa saja”. Cara ini pada umumnya sudah menimbulkan berbagai keraguan dari orang yang dimintai sumbangan uang.

One free Click tersebut juga merupakan langkah nyata dari Corporate Social Responsibility dari perusahaan yang menjadi sponsor. Perusahaan sponsor juga mendapatkan benefit dari pesan komersial yang terdistribusi.

Bagaimana menurut Anda? Apakah cara ini memang bisa disebut sebagai terobosan marketing, khususnya untuk organisasi non profit? Atau ada terobosan lain yang lebih dahsyat? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.