Belajar dari Masalah Brand Nokia

Benar, tahun 2010 Nokia masih menjadi global market leader pada kategori perangkat bergerak atau mobile device. Nokia memimpin dengan pangsa pasar penjualan sebesar 28,9% selama tahun 2010. Benar, bahwa pangsa pasar pabrikan pesaingnya masih berada cukup jauh. Samsung yang berada di posisi kedua, “hanya” mempunyai pangsa pasar penjualan sebesar 17,6%. Juga benar, bahwa untuk kategori ponsel pintar atau smartphone, sistem operasi Symbian yang digunakan Nokia masih memimpin penjualan sebesar 37,6%. Lalu, apa masalahnya buat Nokia? Pada kategori perangkat bergerak, pangsa pasarnya anjlok dari 36,4% pada tahun sebelumnya. Pangsa pasar sistem operasi Symbian juga anjlok dari 46,9% tahun sebelumnya pada kategori ponsel pintar. Pada sisi yang lain, sistem operasi Android tumbuh luar biasa, 888,8% dan menduduki posisi kedua dengan 22,7% dari hanya 3,9% pada tahun sebelumnya. Apple iOS juga tumbuh dari 14,4% menjadi 15,7%. Blackberry tampak turun, tetapi tidak sedrastis yang dialami oleh Nokia, yaitu dari 19,9% menjadi 16%. Harga saham Nokia pun terus cenderung menurun.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi penyebabnya? Banyak hal yang bisa dijadikan tersangka sebagai faktor penyebab anjloknya pemasaran Nokia dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi satu yang pasti adalah masalah brand. Cerita sukses Nokia dalam perjalanannya menguasai pasar ponsel adalah keberhasilannya dalam melayani semua segmen. Produknya sangat beragam, dari ponsel low-end yang sederhana dengan harga murah sampai dengan ponsel pintar yang canggih. Nokia 3210 dulu pernah dikenal dengan ponsel sejuta umat, karena tingkat penjualannya yang tinggi sebelum era ponsel pintar.

Tantangan yang timbul untuk brand yang bermain di semua segmen adalah menjaga keunikan atau diferensiasinya agar tetap bisa relevan pada tiap segmen pasar yang menjadi sasarannya. Masalah ini kini juga dihadapi oleh Nokia, terutama di pasar ponsel pintar. Apple iPhone dan ponsel pintar berbasis Android yang terus tumbuh mempunyai diferensiasi yang kuat. Sehingga walaupun saat ini awareness terhadap brand Nokia masih tinggi, tetapi mulai kehilangan diferensiasi yang disusul dengan kehilangan relevansinya terhadap segmen pasar yang menjadi sasarannya. Kondisi ini tepat seperti yang digambarkan dalam konsep Brand Asset Valuator (BAV) dari Young & Rubicam. Menurut matriks BAV tersebut, dengan Brand Stature yang tinggi tetapi Brand Strength yang rendah, Nokia memasuki fase Eroding Potential atau Declining. Brand Stature adalah kondisi sekarang yang terdiri dari Brand Awareness dan Brand Esteem. Brand Strength terdiri dari Diferensiasi dan Relevansi yang sangat menentukan pertumbuhan dari brand.

Kondisi ini disadari oleh Nokia. Beberapa langkah strategis dicoba untuk mengatasi hal tersebut. Pada awalnya Nokia bekerjasama dengan Intel mengembangkan sistem operasi MeeGo. Sistem operasi ini diharapkan akan mampu mengatasi kelemahan Symbian yang mulai tertinggal dari pesaingnya. Tetapi kemudian dengan masuknya mantan eksekutif Microsoft, Stephen Elop menjadi CEO Nokia, akhirnya Nokia memutuskan untuk menggunakan Windows Phone 7 sebagai sistem operasi dari ponsel pintarnya (7 Alasan Nokia Memilih Microsoft). Kerjasama strategis ini tetap menyimpan berbagai tantangan untuk mampu mengangkat kembali diferensiasi dan relevansi Nokia, baca ulasannya di Tantangan Kerjasama Nokia & Microsoft.

Kemudian pada akhir Maret 2011, Nokia mulai upaya mengubah brand image-nya. Dimulai dengan perubahan pada jenis font yang digunakannya pada ponsel. Font tersebut dinamakan Nokia Pure. Logo Nokia juga berubah menjadi lebih langsing, dan akan ditargetkan mulai muncul dalam iklan pada bulan April 2011. Tagline-nya pun berubah menjadi  “Beauty in supreme usability”.

Mampukah langkah-langkah tersebut mengangkat kembali brand Nokia? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Tantangan Kerjasama Nokia & Microsoft

(cdn.pocket-lint.com)

(cdn.pocket-lint.com)

Beberapa tahun terakhir, Nokia tampak kewalahan menghadapi fenomena serbuan Apple iPhone, Android dan Blackberry pada pasar ponsel pintar. Pangsa pasar ponsel pintar Nokia terus tergerus. Akhirnya gelar penguasa pasar harus diserahkan kepada ponsel pintar berbasis Android pada kuartal IV 2010. Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu yang lalu, adalah apa langkah strategis yang akan diambil Nokia menghadapi tantangan tersebut. Dan akhirnya terjawab dengan langkah Nokia menggandeng Microsoft, seperti diulas dalam “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”. Windows Phone akan menjadi platform andalan pengembangan ponsel pintar atau smartphone Nokia berikutnya.

Tetapi langkah tersebut memicu berbagai pertanyaan lain. Efektifkah langkah strategi kemitraan dengan Microsoft tersebut? Mampukah Nokia membalikkan keadaan, kembali mencetak pertumbuhan positif dalam meraih pangsa pasar. Kenyataannya, keraguan masih meliputi para investor, yang diindikasikan dengan harga saham Nokia yang masih cenderung turun setelah pengumuman kerjasama dengan Microsoft. Sebetulnya apa saja tantangan kerjasama strategis Nokia dan Microsoft dalam memenangkan pasar ponsel pintar? Berikut beberapa hal yang bisa menjadi tantangan Nokia dan Microsoft.

Tantangan pertama justru datang dari internal Nokia. Kerjasama strategis dengan Microsoft menguatkan arah Nokia untuk kembali ke kompetensi kuncinya di pengembangan perangkat keras. Hal ini membawa konsekuensi bagi Nokia untuk mengurangi jumlah karyawan. Potensi pengurangan karyawan terjadi khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pengembangan berbagai perangkat lunak. Sebelum ini pengembangan sistem operasi Symbian dan MeeGo menjadi tumpuan Nokia, sebelum beralih ke Windows Phone. Ovi Store dan Ovi Maps juga direncanakan menjadi bagian dari pengembangan aplikasi Microsoft. Kebijakan ini langsung mendapatkan penolakan dari karyawan Nokia. Seperti diberitakan gadgetell.com, karyawan di fasilitas Nokia di Tampere, Finlandia melakukan aksi protes. Aksi protes ditujukan untuk menentang kebijakan Nokia untuk mengadopsi platform Windows Phone pada sebagian besar ponsel pintarnya.

Tantangan berikutnya juga datang dari pihak yang selama ini dekat dengan Nokia, yaitu Intel. Pengembang teknologi prosesor ternama ini terlibat penuh dengan Nokia untuk mengembangkan MeeGo. MeeGo adalah sistem operasi berbasis Linux yang disiapkan sebagai platform untuk perangkat mobile, dan salah satunya adalah ponsel pintar Nokia. Keputusan Nokia untuk fokus pada Windows Phone, tentu saja akan menghentikan penggunaan MeeGo lebih jauh. Pasti, keputusan ini disesalkan oleh Intel yang mengembangkan prosesor Atom untuk ponsel pintar dan Netbook. Sebelumnya Nokia sudah mempunyai satu seri ponsel pintar berbasis MeeGo, yaitu Nokia N9-00. Berakhirnya kemitraan strategis dengan Intel ini pasti akan mempengaruhi perkembangan Nokia.

Kemudian yang patut diperhatikan adalah relatif terlambatnya keputusan strategis ini. Apple, Google dan RIM sudah terlebih dahulu saling berpacu di pasar ponsel pintar. Bukan hanya Nokia yang terlambat. Microsoft pun juga bisa dibilang terlambat mengembangkan Windows Phone 7. Penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Windows Phone sampai dengan saat ini diberitakan baru mencapai 2 juta unit. Angka yang jauh di bawah penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Apple iOS, Android atau BBOS. Tantangan bagi Nokia dan Microsoft untuk membangun diferensiasi yang nyata bagi pengalaman pelanggan melalui produk dan layanan mereka. CEO Nokia, Stephen Elop bercita-cita membangun diferensiasi tersebut dengan bergabung dalam ekosistem Microsoft yang punya brand kuat di dunia industri ICT (Information and communication technology).

Sebagai market challenger atau market follower, mereka harus menentukan strategi yang tepat. Segmen manakah yang akan mereka tuju menjadi krusial. Berdasarkan beberapa survey, Apple dan Android kuat pada segmen muda, sedangkan Blackberry lebih kuat pada segmen yang lebih dewasa. Referensi: Today’s iPhone Users are Young, Rich, and Technically Savvy, Android is for Boys? Segmen mana yang akan ditetapkan sebagai tempat bermain akan sangat menentukan strategi berikutnya. Karena di tiap segmen, terdapat lawan-lawan yang kuat dan terus memacu inovasi produk dan layanannya. Beberapa waktu yang lalu Apple akhirnya menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat meluncurkan Verizon iPhone. Penawaran ini menyita perhatian besar dari pasar di Amerika Serikat. Seri terbaru iPhone, yang diberi nama iPhone 5 dikabarkan sudah siap segera meluncur. Aplikasi di Apple AppStore mencapai 300.000 aplikasi. Google Android yang didukung banyak pabrikan ponsel, seperti Samsung, HTC, LG, Motorola juga tidak berhenti berinovasi. Pengembangan customized dari masing-masing pabrikan ponsel justru menjadi kelebihan Android menjangkau kebutuhan dan keinginan pasar. Antara 150.000 sampai 200.000 aplikasi di Market Android menjadi salah satu sumber customer experience andalannya. Google juga diberitakan mengincar akuisisi Twitter, bersaing dengan Facebook. Ekosistem Apple dan Android terus berkembang. Sistem open-innovation yang dipraktekkan Apple dan Google terbukti ampuh memberi kontribusi bagi kemajuan keduanya.

Tantangan selanjutnya sebagai follower, bagaimana mendapatkan dukungan dari operator telekomunikasi untuk mempercepat penyerapan pasar. Skema penawaran iPhone, Android dan Blackberry saat ini sudah sangat berkembang. Beberapa di antaranya merupakan bundling dengan layanan broadband dari berbagai operator telekomunikasi. Nokia perlu mempertimbangkan dukungan dari para operator untuk bisa membuat skema penawaran yang menarik dan punya diferensiasi bagi pasar. Ekosistem device, aplikasi dan network kini menjadi penting dalam memenangkan kompetisi di industri ICT.

Nah, apabila kerjasama Nokia & Microsoft ini belum bisa menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah godaan untuk berpaling ke lain hati. Misalnya kerjasama dengan Google untuk menggunakan platform Android. Konsekuensi bila bergabung dengan Google, adalah bersaing dengan pabrikan lain yang sudah lebih dahulu melejit, khususnya rivalnya dari Korea dan Cina: Samsung dan HTC.

Tetapi peluang selalu ada. Nokia dan Microsoft juga pasti mempunyai rencana untuk mengembangkan fitur-fitur dan layanan yang akan membentuk ekosistem dan value-chain unggulan. Strategi market follower yang digagas Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya “Marketing Warfare” juga bisa jadi referensi. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Apa tantangan lain bagi Nokia dan Microsoft dan bagaimana peluang mereka dalam persaingan di pasar smartphone? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Alasan Nokia Memilih Microsoft

Kuartal IV tahun 2010 seharusnya menjadi kabar gembira bagi pabrikan smartphone. Berdasarkan data IDC, penjualan smartphone pada kuartal ini di seluruh dunia mencapai 100,9 juta unit, melampaui penjualan PC sebesar 92,1 juta unit. Penjualan smartphone tumbuh sekitar 88% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Smartphone berbasis Android paling menikmati berita ini, dengan penjualan mencapai 33,3 juta unit menurut data Canalys. Apple ikut menikmati kabar gembira ini. 14,1 juta unit iPhone berhasil dijual pada kuartal ini.

Tetapi tampaknya bukan kabar gembira bagi salah satu produsen smartphone yang selama ini dikenal sebagai penguasa pasar, Nokia. Karena penjualan smartphone berbasis Android sebesar 33,3 juta unit tersebut, berati berhasil menguasai 32,9% pangsa pasar. Kondisi itu menjadikan tahta pemimpin pasar smartphone yang selama ini dikuasai Nokia harus diserahkan kepada smartphone berbasis Android. Motor pertumbuhan Android adalah Samsung dan HTC yang menyumbang 45% dari total penjualan smartphone Android. Angka penjualan Nokia sebetulnya masih tinggi (menurut data TechSpot) sebesar 28,3 juta unit yang berarti 30,6% pangsa pasar. Tetapi trend yang terus menurun menyebabkan kabar tersebut tidak terlalu menggembirakan bagi Nokia. Pangsa pasar Nokia turun hampir 10% dari tahun sebelumnya (Baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet).

Kondisi tersebut diperkuat oleh pernyataan CEO baru Nokia, Stephen Elop. Mantan eksekutif Microsoft ini mengakui adanya krisis di Nokia, terkait pemasaran smartphone tersebut. Diakui bahwa produknya tidak mampu menjawab tantangan Apple dan Google Android. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “Nokia, our platform is burning”. Platform yang dipakai Nokia selama ini adalah Symbian dan MeeGo. MeeGo adalah platform yang dikembangkan Nokia bersama dengan Intel. Symbian secara tradisi adalah andalan Nokia. Pada saat pengembangan MeeGo, Nokia sempat mendeklarasikan Symbian go open source. Tetapi tidak beberapa lama kemudian memutuskan untuk mengembalikan pengembangan Symbian ke Nokia. Pada tahun 2010, Nokia telah menghabiskan biaya tidak kurang dari $ 4 milyar untuk penelitian dan pengembangan (Bernstein Research).

Mau tidak mau, Nokia harus mengambil langkah strategis untuk menghadapi perubahan lingkungan bisnis tersebut. Pada awal tahun ini, muncul spekulasi bahwa Nokia akan berpaling kepada platform di luar Symbian dan MeeGo. Spekulasi tersebut memunculkan dua kandidat besar: Microsfot Windows Phone atau Google Android. Februari 2011, beberapa investor mendesak Nokia untuk bekerjasama dengan Microsoft. Saham Nokia sempat naik, saat diberitakan dilayangkannya surat terbuka dari para analis kepada Nokia untuk menggunakan Windows Phone 7.

Lalu, kenapa Nokia mengumumkan bahwa mereka telah memilih Microsoft sebagai strategic partnernya? Kenapa bukan Android? Berikut ini adalah tujuh alasan yang mungkin bagi Nokia.

Pertama, Stephen Elop pada sebuah konferensi keuangan Nokia tahun ini, menyatakan keinginan untuk bergabung ke ekosistem yang kompetitif. Dan Microsoft mempunyai brand dan ekosistem yang kuat pada industri ICT (Information & Communication Technology). Kedua, bila Nokia bergabung dengan Android, maka mereka akan menghadapi tantangan besar untuk bisa mengejar Samsung dan HTC. Ketiga, Nokia pasti berharap aliansinya akan mampu membangun diferensiasi yang kuat. Diferensiasi yang kuat ini diharapkan mampu mendorong Nokia untuk membalikkan keadaan, menjadi mesin pertumbuhan smartphone Nokia. Dan harapan tersebut akan mendapat tantangan besar dengan banyaknya pabrikan yang mengusung platform Android. Keempat, tampaknya Nokia bertekad untuk kembali ke kompetensi kuncinya, yaitu pada pengembangan perangkat keras. Sedangkan pengembangan perangkat lunak akan berharap pada dukungan penuh dari Microsoft. Smartphonenya akan menggunakan Windows Phone sebagai sistem operasinya. Layanan pencarian Nokia akan menggunakan Microsfot Bing. Ovi Store akan diintegrasikan dengan Microsoft Market Place. Ovi Maps akan menjadi bagian dari Microsoft mapping service. Kelima, Microsoft bisa dianggap mempunyai nasib yang sama dengan Nokia. Windows Phone perlu dukungan untuk meningkatkan penyerapan pasar. Sampai saat ini, penjualan Windows Phone”baru” mencapai 2 juta unit. Dan salah satu dukungan penting yang diperlukan Microsoft adalah dukungan pengembangan perangkat keras yang memadai. Kondisi ini diharapkan mendukung alasan berikutnya: keenam, Microsoft diharapkan menjadi partner yang lebih seimbang. Posisi tawar Nokia diharapkan tetap kuat dalam kemitraan strategis ini. Posisi yang mungkin akan sulit didapatkan bila memilih Google yang telah mempunyai posisi yang kuat di pasar smartphone, bersama Samsung, HTC, LG, Motorolla dan beberapa pabrikan lain. Ketujuh, CEO Nokia, Stephen Elop adalah mantan eksekutif Microsoft sehingga secara psikologis mempunyai kedekatan yang lebih dibandingkan dengan Google.

Bagaimana masa depan kemitraan strategis ini? Sangat menarik untuk kita ikuti perkembangannya. Untuk sementara, investor belum yakin terhadap pilihan Nokia ini. Beberapa saat setelah pengumuman Nokia tersebut, nilai saham Nokia masih cenderung turun. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Ada alasan lain Nokia lebih memilih Microsoft? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Apa kabar Amazon vs Google?

Ramainya kompetisi di kategori tabletPC dan smartphone, selalu membawa kita mengarah ke tiga pemain besar: Apple, RIM dan Google. Kenapa? Karena ketiganya memang mempunyai pengaruh besar dalam industri tersebut. Ketiganya juga sukses membangun model bisnis yang memanfaatkan ekosistem perangkat keras, perangkat lunak dan berbagai konten internet. Apple menjadi pelopor dengan iTunes ecosystem yang terus berkembang dalam Apple App Store. RIM mengembangkan Blackberry App World, dan kemudian Google mempunyai Android Market yang bisa diakses oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi Android.

Bagaimana jalannya kompetisi antara tiga pemain besar tersebut sekarang? Trend menunjukkan Android tumbuh paling cepat, dan sudah melampaui market share Blackberry di Amerika Serikat. Dari sisi penjualan, Android dikabarkan telah mendominasi. Menurut AC Nielsen, sebesar 40% pembeli smartphone di Amerika Serikat memilih Android.

Di tingkat global, penjualan smartphone berbasis Android sudah melampaui Apple dan Blackberry, wlaupun masih di bawah Symbian-nya Nokia. Menurut Gartner, pada triwulan III tahun 2010, penjualan smartphone Android sudah mengambil porsi 25,5%. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,5%. Nokia memang masih memimpin dengan 36,6%, tetapi turun drastis dari tahun sebelumnya, 44,6%. Demikian juga dengan Blackberry, turun dari 20,7% menjadi 14,8%. Sedangkan Apple dengan sistem operasi iOS berhasil sedikit menahan serbuan Android, turun sedikit, dari 17,1% ke 16,7%.
Salah satu kekuatan Android adalah keterbukaannya terhadap penggunaan dan pengembangan oleh beberapa pabrikan smartphone, seperti HTC, Samsung, LG dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan Apple dan RIM yang secara eksklusif memproduksi smartphone-nya sendiri. Kekuatan lainnya ada pada model bisnisnya yang berbeda dengan dua pesaing utamanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Amazon? Amazon adalah nama besar dalam bisnis online retail. Tetapi di awal tahun 2011 ini, Amazon mulai membuka Amazon application store untuk para pengembang lunak. Uniknya, application store yang disiapkan Amazon ini adalah untuk aplikasi berbasis sistem operasi Android. Padahal Google sudah memiliki sendiri application store Android melalui Google Android Market.

Jadi menarik untuk kita perhatikan bagaimana Amazon akan memposisikan application store-nya terhadap Google Android Market dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kita kali ini. Kita coba lihat apa saja yang bisa menjadi keunggulan kompetitif application store Amazon tersebut. Pertama, Amazon mempunyai pengalaman luar biasa dalam bisnis online retail. Hampir semua produk retail bisa kita dapatkan di Amazon. Tetapi sebetulnya kekuatan besarnya adalah di customer base-nya.

Kedua, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi Amazon juga menguasai bagaimana cara memahami karakter para pelanggannya. Amazon mampu membuat kustomisasi layanan dan penawaran kepada para pelanggannya berdasarkan perbedaan karakter dan perilakunya. Bayangkan bila pemahaman ini diterapkan saat mereka memberikan penawarannya melalui application store. Sehingga, Amazon dinilai mampu mengatasi kekurangan Android Market dalam memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menemukan aplikasi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya. Saat ini aplikasi di Android Market sudah lebih dari 100.000 buah. Dan sebuah paradoks akan berlaku, di mana terdapat sesuatu yang berlebih, akan terdapat kelangkaan. Dengan ketersediaan aplikasi yang berlebih, orang akan menemukaan kesulitan dalam memperoleh aplikasi yang berkualitas dan relevan. Saat ini bila kita melihat Android Market, belum bisa kita temukan recommended item yang customized untuk setiap penggunanya. Para penggunanya lebih mengandalkan review dari pengguna lainnya.

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan untuk studi kasus marketing kita ini 🙂 Co-opetition bisa menjadi istilah yang lebih tepat. Kerjasama di dalam suatu kompetisi, antara Amazon application store dengan Google Android Market. Bagaimana menurut Anda, apa keunggulan kompetitif yang bisa menjadi andalah Amazon di pasar aplikasi ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas. Untuk memahami industri ini, silakan baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet dan Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet

Menurut IDC (International Data Corporation), penjualan tablet PC pada tahun 2010 akan mencapai 7,6 juta unit. Pada tahun 2014 diperkirakan menjadi 46 juta. Bahkan menurut Forrester Research, di Amerika Serikat jumlah pengguna tablet PC akan lebih banyak dari pada pengguna netbook pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 penjualan tablet PC mencapai 23% dari total penjualan PC. Sebetulnya masih susah mendefinisikan tablet PC, masih belum ada kesepakatan yang jelas, tetapi menurut Wikipedia, tablet PC adalah laptop atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer. Mudahnya, tablet bagaikan perpaduan atau konvergensi dari smartphone dan notebook. Ukuran tablet PC bervariasi, sekitar 7 inchi sampai 9,7 inchi.

Sehingga, tidak aneh bila kita search di internet dengan keyword “will produce tablet”, maka hampir semua produsen PC, smartphone atau gadget ternama akan kita lihat dalam peluncuran atau rencana pengembangan tablet. Pertama, tentu saja Apple iPad. Disusul kemudian oleh produsen lain, seperti: Samsung, Toshiba, Acer, HP, Fujitsu, Lenovo, Motorola, Dell, RIM (Blackberry), dan bahkan Intel dan Amazon. Kecuali Nokia! Setelah kata “will” akan diikuti oleh “not”. Seperti diberitakan heretechs.com, dalam forum Nokia World 2010 di London, VP Product Nokia Media Group menyatakan Nokia tidak akan memproduksi tablet PC. Nokia masih akan berkonsentrasi pada kategori smartphone.

Ada apa dengan Nokia? Apakah Nokia tidak tertarik dengan angka-angka prediksi penjualan tablet seperti di paragraf pertama tulisan ini, atau masih trauma 2 kali kegagalannya masuk ke industri PC? Nokia pernah memproduksi PC tetapi didivestasi tahun 1991. Tahun 2009, Nokia kembali memproduksi PC: Nokia Booklet 3G, tetapi juga tidak terlalu berhasil di pasar. Beberapa waktu lalu, Nokia mengakui kalah di pasar smartphone, salah satunya karena tertinggal dari para pesaingnya dalam mengembangkan smartphone. Pada kelas smartphone, Nokia dihajar oleh Apple (iPhone), RIM (Blackberry). Kini Nokia juga dihadapkan pada banyak produsen yang menggunakan sistem operasi Android yang menunjukkan angka pertumbuhan penjualan hampir 900% pada kuartal kedua tahun 2010. Di Amerika Serikat, penjualan handset Android telah melampaui penjualan Apple iPhone. Lalu, apakah Nokia ingin mengulangi kesalahan dengan terlambat mengembangkan tablet PC?

Sudut Pandang yang Lain
Tunggu dulu, kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dari sisi yang berbeda. Seperti diungkapkan pada awal posting ini, menurut Forrester Research, pertumbuhan tablet PC akan memakan pasar netbook, bukan smartphone. Banyak hal bisa yang dengan efektif dilakukan dengan smartphone, dan tidak bisa efektif dilakukan dengan tablet PC. Pertama, melakukan panggilan telepon atau video call. Pengguna tablet PC harus menggunakan alat tambahan untuk melakukannya, seperti Bluetooth earset / earpiece. Kemudian memotret atau merekan dengan video. Saat ini Apple iPad tidak dilengkapi kamera. Walaupun ada kemungkinan produksi iPad berikutnya dilengkapi kamera, bayangkan bagaimana Anda akan memotret menggunakan alat yang berbentuk seperti buku dengan ukuran 7 sampai 10 inchi. Smartphone juga masih “mewarisi” keunggulan dari karakter handphone yang sangat portable, mudah dibawa dan digunakan hanya dengan 1 tangan. Tidak demikian dengan tablet PC yang efektif dioperasikan dengan 2 tangan. Dari segi ergonomis, tablet PC juga kurang sesuai untuk penggunaan jangka panjang seperti notebook yang memungkinkan telapak tangan bisa mempunyai posisi nyaman karena bisa “beristirahat” di bagian papan ketik.

Tantangan dan Pilihan
Jadi pasar smartphone masih mempunyai peluang untuk bertahan dan terus berkembang. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan Nokia. Walaupun begitu, jelas tergambar banyak sekali tantangan terhadap pilihan Nokia tersebut. Faktanya penjualan iPad sangat menjanjikan. Sekitar bulan Mei, Apple mengumumkan bahwa iPad telah meraih angka penjualan 1 juta unit hanya dalam waktu 28 hari. Angka-angka prediksi penjualan tablet PC di atas juga bukan tanpa dasar yang jelas. Peluang pertumbuhan di industri gadget yang menjanjikan ini yang akan dilewatkan oleh Nokia, apabila mereka memang tidak akan bermain di pasar tablet.

Lalu apa saja pilihan yang tersedia bagi Nokia bila tetap bertahan di smartphone? Salah satunya adalah dengan memperkuat pengembangan di smartphone besar. Produk yang masih membawa keunggulan smartphone dibandingkan tablet, tetapi mampu mendekati keunggulan tablet, salah satunya dari sisi kenyamanan layar yang lebih lebar. Misalnya dengan ukuran 5 inchi, seperti salah satu desain dari Dell yang mulai dikenal sebagai kategori big smartphone. Beberapa analis juga memprediksi akan adanya konvergensi antara smartphone dan tablet PC. Hal ini mengingatkan kita perang di pasar gadget: Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone atau Demam Buah di Gadget Market?

Tetapi publikasi keputusan Nokia tersebut masih menyimpan misteri, yang menjadikan studi kasus marketing ini menarik. Beberapa blog sempat menampilkan bocoran tampilan dari tablet yang direncanakan oleh Nokia. Beberapa analis juga sempat memprediksi Nokia akan meluncurkan tablet PC pada akhir 2010 seperti pernah diberitakan inilah.com pada bulan April 2010. Nokia saat ini juga mengembangkan sistem operasi bernama MeeGo bersama dengan Intel. Sistem operasi berbasis open source ini dipersiapkan untuk berbagai jenis hardware, antara lain handset, netbook, televisi dan tablet PC. Tablet WeTab dari Neofonie yang dipasarkan bulan September menggunakan sistem operasi MeeGo. Intel sendiri sempat membuat protoype tablet PC yang menggunakan MeeGo.

Bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai misteri keputusan Nokia dalam studi kasus pemasaran ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.