Social Media Indonesia Infographic 2012

Social Media Indonesia Infographic 2012

Indonesia dikenal dengan pertumbuhan pengguna social media, terutama Facebook dan Twitter. Oleh karena itu di blog studi kasus pemasaran ini, saya mencoba menampilkan infographic mengenai pengguna social media di Indonesia. Informasi tersebut saya summary kan dari socialbakers.com dan semiocast.com. Silakan klik untuk melihat infographic tersebut.

Cara Sony Mengoptimalkan Kehadirannya di CES 2012

Di dalam industri ICT (Information & Communications Technology), ajang pameran atau trade show tahunan Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas adalah salah satu pameran penting. CES tahun ini, mulai pada hari ini, tanggal 10 Januari 2012 sampai dengan 13 Januari 2012. Dalam pergelaran ini, biasanya ditunggu terobosan produk baru dari para pemain besar di industri ICT.

Pada tahun sebelumnya, CES 2011, beberapa tampilan yang menarik perhatian dunia adalah PC Tablet (Motorolla Xoom, Blackberry Playbook), Connected TV (Samsung Smart TV), Teknologi 3D pada TV dan Camcorder, Ponsel pintar (Motorolla Atrix 4G), Microsoft Kinect, Ultrabook (Samsung 9 Series), dan masih banyak lagi. Menurut Webtrends, pada CES 2011 brand yang paling sering dibicarakan di dunia maya adalah Samsung, disusul oleh Google, Microsoft dan Motorolla. Sony tidak masuk dalam 5 besar. Apple mampu mencuri perhatian melalui iPhone yang menjadi produk pada kategori ponsel pintar yang paling banyak dibicarakan.

Tidak terkecuali di CES 2012 ini, banyak pihak menunggu peluncuran produk baru yang akan menjadi bintang dalam pameran ini. Beberapa di antaranya adalah dari kategori Ultrabook yang kini menjadi tren, menyusul suksesnya Macbook Air, Sistem Operasi Microsoft Windows 8 atau Sistem Operasi Android 4.0 Ice Cream Sandwich. Dari pembicaraan di social media, beberapa pihak penasaran apakah Sony akan meluncurkan PS4.

Tetapi dari konferensi pers di hari pertama CES 2012, Sony belum tampak menampilkan PS4, tetapi menampilkan layanan musik premium: Sony Music Unlimited, Ponsel pintar: Sony Xperia Ion 4G dan Xperia S, 4K Home Theater Projector dan memperkenalkan perubahan Sony Ericsson menjadi Sony Mobile Communications. Produk-produk tersebut ini tampaknya belum mendapatkan sambutan yang besar. Bila datang dengan produk yang tidak ditunggu oleh pasar, lalu bagaimana Sony akan mengoptimalkan ajang pameran ini?

Pertama, Sony datang dengan konsep produk. Pada konferensi pers hari pertama, Sony menyampaikan konsep produk konvergensi PC dan TV. Percakapan seputar konsep ini diharapkan mampu membantu brand Sony tetap diingat dan menjadi perhatian pasar. Dari presentasi konsep ini diharapkan akan muncul respon pasar yang bisa menjadi masukan dalam proses pengembangan produk selanjutnya. Sebuah bentuk dari proses co-creation. Sejauh ini, Apple sebetulnya yang paling jago dalam hal ini. Pembicaraan tentang iPhone 5 sudah dimulai beberapa waktu yang lalu, bahkan sebelum meluncurnya iPhone 4S, padahal sampai saat ini iPhone 5 belum meluncur.

Kedua, Sony menghadirkan liputan acara di panggung Sony dalam CES 2012 melalui UStream (http://t.co/lEkAdXCA). Liputan ini termasuk konferensi pers dan penampilan Kelly Clarkson dan Will Smith di panggung Sony.

Ketiga, tentu saja social media. Social media memang sekarang sudah menajdi bagian pentign dalam proses pemasaran yang lebih horizontal (baca: “Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012”). Sony menggunakan tagar #SonyCES di Twitter untuk pembicaraan seputar Sony di CES 2012. Liputan ini tampak terintegrasi dengan liputan melalui video streaming di UStream. Mereka juga hadir melalui blog http://sony.com/ces. Halaman facebook mereka pun penuh dengan liputan dari pameran ini. Tidak ketinggalan, 10 video (sampai tulisan ini dibuat) terkait berbagai produk yang dijagokan di CES 2012 diunggah melalui kanal SGNL di Youtube. Uniknya video yang paling banyak dilihat adalah video tentang produk-produk lama Sony yang cukup mewarnai dunia elektronik konsumer, seperti walkman dan Betamax. Video tentang produk-produk barunya malah kurang mendapat sambutan.

Sony memang sudah lama belum menghasilkan kembali produk yang mampu menjadi ikon dalam dunia elektronik konsumer setelah walkman. Oleh karena itu tampilan konsep masa depan konvergensi TV dan PC di konferensi pers hari ini adalah cara yang cukup cerdas dalam menyikapi kondisi pasar dan kondisi internal Sony. Selanjutnya bagaimanakah hasil dari presentasi Sony di ajang ini? Apa lagi cara yang digunakan untuk meningkatkan manfaat penampilan mereka? Mari kita ikuti perkembangan event ini dan bersama belajar marketing.

Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012

Pada bulan Desember tahun 2011 yang baru saja berlalu, ternyata tetap berjalan sesuai tradisi akhir tahun selama ini. Bila kita mengikuti berbagai berita dan ulasan di berbagai media, baik media konvensional seperti televisi, surat kabar, tabloid atau majalah, maupun new media, nuansanya tetap sama. Kita akan banyak menemukan ulasan peristiwa selama 2011 dan prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2012. Demikian juga dalam dunia pemasaran. Kita akan banyak menemukan ulasan mengenai apa yang menjadi tren pemasaran di tahun 2012.

Dalam prediksi marketing 2012, kita akan menemukannya dalam berbagai sudut pandang, dari berbagai pakar pemasaran dan bisnis dan bersumber dari berbagai macam riset. Tetapi ada satu kata ajaib yang hampir selalu muncul di berbagai prediksi marketing tersebut. Can you guess it? Yes! It is SOCIAL.

Tidak percaya? Coba cara yang satu ini. Masukkan kata kunci “marketing prediction 2012” ke dalam mesin pencari, Google misalnya. Maka pada halaman pertama kita akan mendapatkan banyak kata “social” di dalamnya. Kalaupun tidak bisa menemukan kata social di hasil pencarian tersebut di halaman Google, coba klik link hasil pencarian tersebut. Maka kita akan menemukan lebih banyak lagi kata social di dalam isi ulasan tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Maaf, terus terang, ini pertanyaan yang sedikit basi :-). Indonesia telah sering menjadi perhatian dunia karena pertumbuhan pengguna dan penggunaan social medianya. Saat ini jumlah akun Facebook dari Indonesia mencapai 41 juta. Nomor dua terbanyak di dunia. Tetapi, prediksi saya tahun ini, jumlah akun Facebook dari India yang berada di posisi ke-3 akan melampaui Indonesia. Tweet dari Indonesia di media Twitter memberikan kontribusi 15% dari total tweet dari seluruh dunia. Indonesia sering disebut sebagai The Twitter Capital of Asia.

Sesuai apa yang disampaikan Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat”, dunia memang semakin terhubung, terutama melalui internet yang dimotori oleh social media. Dari berbagai survey, penggunaan terbanyak saat akses internet adalah bersosialisasi melalui berbagai bentuk dan macam social media. Walaupun dari beberapa versi prediksi pertumbuhan jumlah pengguna social media apda tahun 2012 akan mulai melambat, bukan berarti sama sekali bahwa social media akan berkurang pengaruhnya terhadap dunia pemasaran. Peran social media justru akan semakin kuat. Salah satu contoh yang cukup ekstrem berasal dari Gartner: “Gartner: Next, Social Networks Will Sell Insurance, Become Banks”.

Lihatlah juga bagaimana berbagai inovasi dari beberapa social media terbesar di tahun 2011 yang akan mempengaruhi perannya di tahun 2012. Antara lain: Google+ meluncurkan Brand Pages (“Google+ Launches Branded Pages”), Facebook menyediakan tombol Subscribe untuk merespon pertumbuhan pesat Twitter (“Tombol “Subscribe” Facebook, Saingi Twitter”) dan Twitter yang juga mulai menyediakan brand pages, mengubah layout dan diprediksi akan menambah porsi iklan. Social media tampak semakin mempersiapkan diri, bersaing untuk memperkuat perannya sebagai media yang berpengaruh. Di Indonesia, preferensi media dari pengguna internet juga sudah mulai bergeser. Media konvensional bukanlah lagi menjadi preferensi utama (“Attitude dan Behavior Pengguna Internet di Indonesia“). Walapupun begitu, tentu saja bukan berarti media konvesional akan segera mati. Malah, mainstream media yang masih didominasi oleh media konvensional terbukti mampu mempengaruhi trending topics di social media, seperti sebuah stui yang dilakukan oleh Hewlett Packard di awal tahun 2011.

Lalu apa implikasinya bagi para pemasar? Desakan untuk lebih terlibat dalam percakapan di social media akan semakin tinggi. Kurangnya engagement di social media, akan membuat sebuah brand semakin tertinggal. Setiap tahapan dalam proses pemasaran tidak bisa lagi mengabaikan kata social. Saat pengembangan produk, banyak produsen yang sudah melibatkan pelanggan, yang disebut dengan proses co-creation. Dalam tahap promosi, ini saat yang tepat bagi Anda yang belum mempunyai belief atau ragu-ragu dalam memprioritaskan new media untuk menjalin conversation dengan pasar, untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas promosi yang masih terlalu fokus pada cara-cara yang konvensional. Bahkan pada tahap pasca penjualan atau dalam siklus customer relationship management (CRM), sekarang sudah berkembang konsep Social CRM.

Tetapi, tantangan terbesar utk berubah ke pola pemasaran yang lebih horisontal adalah mengubah mind set, terutama belief terhadap cara pemasaran yang baru, seperti yang telah kita diskusikan dalam “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”.  Tantangan berikutnya adalah menjalankan pemasaran yang lebih horisontal secara terpadu atau terintegrasi dalam tiap tahapan pemasaran. Jadi, mampukah kita menjawab tantangan ini?

3 Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis

Indonesia ternyata kini semakin menjadi perhatian dunia. Salah satunya karena statistik terkait keterlibatannya dalam dunia social media. Coba kita perhatikan data berikut ini. Jumlah akun facebook dari Indonesia sebanyak 38,5 juta atau terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Menurut salingsilang.com, Indonesia berkontribusi terhadap 15% dari total tweet di Twitter. Bukan hal aneh apabila kemudian ComScore menyebutnya sebagai “the most Twitter addicted nation”. CNN Tech merilis artikel “Indonesia: Twitter Nation”.

Maka pelaku bisnis pun mulai sadar beramai-ramai  masuk dalam percakapan di berbagai social media. Berbagai opini dari banyak pakar pun akan banyak kita temukan yang mengungkapkan pentingnya social media dalam pertumbuhan bisnis di era pasar yang horisontal sekarang ini. Antara lain untuk membangun kedekatan dengan pelanggan dan pasar. Di media tersebut kita juga bisa menemukan banyak masukan atau umpan balik bagi perusahaan. Co-creation juga akan mampu didukung penuh melalui interaksi dengan pelanggan melalui social media. Dan masih banyak lagi. Seiring trend tersebut, pertanyaan kontradiktif mencuat, perlukah bisnis kami melakukan engagement di social media? Banyak artikel dan pendapat yang sudah mengulas pentingnya bisnis melakukan engagement di social media, tetapi studi kasus pemasaran kali ini akan mengulas sebaliknya. Berikut ini beberapa alasan bagi bisnis Anda untuk melupakan social media.

Pertama, apabila mindset Anda masih memandang social media hanyalah media lain di samping media konvensional seperti TV, majalah, surat kabar atau radio. Di media konvensional, biasanya kita akan menggunakannya sebagai tempat untuk menempatkan iklan produk dan berharap ada konversi ke penjualan. Social media is different. Sesuai namanya, social media adalah tempat bersosialisasi. Pada media tersebut, ekspektasi penggunanya adalah bertemu dan berinteraksi dengan teman dan kerabat. Walaupun iklan di facebook menjanjikan targeted advertising dengan iming-iming efektivitas yang lebih tinggi, tetapi berapa dari kita yang memperhatikan iklan di sebelah kanan “wall”? Ini adalah tempat untuk pertemanan, bukan tempat untuk menjual. Masuk ke social media bagi bisnis bukan lagi untuk memasang iklan atau memberi penawaran produk, tetapi untuk bergabung dalam conversation, sebagai teman.

Kedua, bisnis Anda kurang berkomitmen pada kualitas dan customer relationship management. Masuk ke social media tanpa adanya komitmen pada kualitas dan customer relationship, akan menjadi bumerang. Gambaran yang mudah adalah “wall” di fan pages perusahaan akan dipenuhi oleh keluhan pelanggan atau skenario terburuknya, akan dipenuhi oleh sindiran atau umpatan. Berita buruknya di social media, keluhan pelanggan, sindiran dan umpatan tersebut akan dilihat oleh lebih banyak orang.

Ketiga, jika tidak punya perencanaan komprehensif tentang bagaimana bisnis Anda akan menggunakan interaksi di social media. Seperti alasan kedua, bila tanpa perencanaan yang jelas maka keputusan masuk ke social media bisa menjadi bumerang. Banyak yang harus kita persiapkan. Bagaimana kita akan memberi nilai pada kanal percakapan ini kepada para fan atau follower. Bagaimana kita akan merespon setiap percakapan yang terjadi, termasuk setiap inquiry, keluhan atau bahkan umpatan. Bila kita tidak siap merespon, the conversation will go wild. Tanpa nilai yang jelas maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, kanal social media dari bisnis Anda akan segera ditinggalkan. And the conversation is dead. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, percakapan yang sudah berhasil diinisiasi tidak akan bisa memberikan nilai bagi perusahaan. Tanpa nilai yang jelas, maka sumber daya perusahaan tidak akan berpaling kepada aktivitas di social media. Selanjutnya hal ini akan berdampak pada konsistensi keterlibatan bisnis dalam social media. Percakapan tidak akan mampu berkembang sehingga kontribusinya pun akan semakin melemah.

Lalu bagaimana seharusnya mengelola social media untuk bisnis. Ini adalah salah satu referensi , khususnya untuk SME (Small Medium Enterprise): Social Media Marketing for SME. Bagaimana menurut Anda? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Indah Dewi Pertiwi Against The Chaos

Badai kekacauan menghantam industri musik Indonesia. Hmm… mungkin kalimat tersebut terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi industri musik Indonesia saat ini. Tapi coba kita ikuti beberapa fakta berikut ini. Menurut pengamat musik Bens Leo, pada tahun 2009 hanya terdapat 15 juta penjualan CD musik Indonesia dengan stiker pajak lunas, kata lain dari CD legal. Kondisi ini menurun drastis dari kondisi pada tahun kejayaan industri musik Indonesia pada periode tahun 2000 – 2005. Bayangkan pada tahun 2004, untuk 1 album saja, misalnya “Bintang di Surga” dari Peter Pan, bisa terjual 3 juta keping CD.

Hal ini berarti pembajakan musik sudah merajalela di Indonesia.  Menurut PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) penjualan lagu bajakan tahun 2008 sekitar 550 juta unit (kaset dan CD). Kerugian negara yang ditimbulkan bisa mencapai  Rp1,2 triliun dari potensi pajak yang hilang. Kerugian artis dan produser lebih besar, sekitar Rp2,7 triliun. Kondisi ini semakin memburuk dengan semakin mudahnya melakukan penggandaan rekaman musik melalui media digital, dan belum optimalnya penegakan hukum terhadap kasus pembajakan musik. Buktinya dalam empat tahun terakhir rekor penjualan album musik dicapai oleh Cinta Laura “hanya” mencapai 1 juta kopi pada awal 2010.

Tantangan bagi para pelaku industri musik belum berhenti sampai di situ, terutama untuk para artis dan produser. Fenomena pasar yang disebut dengan long tail juga harus menjadi perhatian. Istilah ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dalam bukunya yang dirilis tahun 2004. Dengan fenomena pasar yang semakin horisontal dan semakin banyaknya pilihan, statistik distribusi kategori produk menunjukkan bentuk long tail. Artinya total jumlah penjualan item “non-hit” semakin besar, atau penjualan item yang masuk kategori “hit” semakin menurun porsinya. Demikian juga dengan industri musik, yang mulai didominasi distribusi dalam bentuk digital.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk bisa sukses dalam industri musik Indonesia. Nah… sangat menarik untuk kita coba ikuti studi kasus pemasaran album musik Indah Dewi Pertiwiyang bertajuk “Hipnotis”.  Sebagai pendatang baru, Indah Dewi Pertiwi cukup fenomenal dalam kondisi industri musik Indonesia yang tertekan. Dalam 5 bulan, album “Hipnotis” terjual 1,2 juta keping. Bagaimana pencapaian tersebut bisa diraih? Jawabannya adalah new wave marketing.

Indah Dewi Pertiwi bersama Keci Music terus memperkuat Clarification atau Positioning dalam konsep new wave marketing. Klarifikasi ini semakin kuat dengan hadirnya video klip terbarunya. Judul video klipnya adalah Hipnotis, versi II. Video klip ini dibuat secara kolosal hasil kerjasama Keci Music, KFC, Telkomsel dan Flexi memperkuat karakter inovatif yang kelihatannya coba dilekatkan kepada Indah Dewi Pertiwi. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali melihat video klip kolosal Indonesia sebelum ini. Sehingga hadirnya klip ini cukup memberi warna bagi industri musik Indonesia.

Kolosal? Hal ini menjadi Coding atau diferensiasi melalui penekanan pada kreativitas dan inovasi yang superior. Mari kita cermati: pertama, video klip ini adalah yang pertama di Indonesia  dalam menggunakan teknologi Interactive Augmented Reality. Catatan ini diakui oleh Museum Rekor Indonesia. Sepanjang klip ini, kita memang akan disuguhi sentuhan teknologi tinggi dalam tiap scene. Beberapa scene sepertinya terinspirasi dari film-film yang menggunakan efek spesial berteknologi tinggi. Di antaranya seperti:  video musik Janet Jackson & Michael Jackson: “Scream” yang bernuansa putih, film “Terminator”, “Transformer”, “i,robot” dan “2012”. Kedua, video ini berdurasi 8 menit 15 detik, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata video musik yang biasa kita saksikan. Ketiga, banyak penari terlibat dan penampilannya mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Indah Dewi Pertiwi sempat berlatih menari dan cara perform kepada Luam Keflezgy selama dua minggu di Amerika Serikat. Luam adalah koreografer yang sempat melatih Rihanna, Beyonce dan Kanye West.  Keempat, setting lokasinya pun berada di beberapa tempat eksotis di Indonesia, antara lain Pantai Tanjung Aan Lombok, Air Terjun Sendang Gile di Lombok Tengah, di atas sebuah kapal di Laut Jawa, beberapa tempat di Jakarta dan kota Ambarawa. Ambarawa adalah tempat terjadinya pertempuran bersejarah mempertahankan kemerdekaan melawan pendudukan Sekutu dan NICA: Perang Palagan. Dalam video ini Indah Dewi Pertiwi juga digambarkan tengah bernyanyi di tengah suasana perang dengan peluru yang berseliweran serta beberapa ledakan bom. Kelima, biaya pembuatannya yang dikabarkan mencapai kisaran 1 miliar rupiah.

Dalam peluncurannya pun diwarnai dengan nuansa new wave marketing yang kental. New media, seperti blog dan social media menjadi preferensi utama. Antara lain diwujudkan dalam blogging contest bekerjasama dengan blogdetik. Kontes ini juga mememanfaatkan social media seperti twitter. Sensasi video klip kolosal yang diciptakan diharapkan mampu menjadi amunisi dalam membangkitkan buzz atau conversation di berbagai social mediaCo-creation dalam membuat review video klip tersebut adalah usaha untuk semakin membuat Character atau personal brand Indah Dewi Pertiwi semakin relevan dengan target marketnya. Sebelumnya, pada awal Januari Hipnotis Dance Competition pun digelar untuk mempopulerkan single keduanya. Penjualan album secara langsung melalui 390 restoran KFC di seluruh Indonesia dilakukan untuk bisa langsung menjangkau komunitas yang relevan. Cara ini juga efektif mengantisipasi maraknya pembajakan musik di Indonesia dan meningkatkan margin keuntungan. Apalagi toko-toko musik mulai bertumbangan, bahkan juga pengusung nama-nama besar, seperti Disc Tarra atau Aquarius.

Bagaimanakah pendapatmu tentang video klip tersebut? Mampukah menjadi salah satu amunisi penting dalam mendobrak chaos dalam industri musik Indonesia? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Haruskah Crowd Sourcing Menjadi Solusi Transformasi (Logo) Starbucks?

Ini adalah posting studi kasus pemasaran dari kopicoklat.com yang memenangkan lomba artikel majalah Marketeers mengenai perubahan logo Starbucks. Artikel ini juga dimuat pada blog dan majalah Marketeers yang terbit bulan Februari 2011. Selamat menikmati 🙂

Rabu, 5 Januari 2011 menjadi tanggal penting bagi Starbucks. Starbucks, yang hadir melalui sekitar 15.000 outlet di 42 negara, memperkenalkan logo baru. Perubahan logo adalah hal biasa dalam perjalanan sebuah bisnis, termasuk Starbucks. Tampak biasa, karena perubahan logo yang terjadi seperti sebuah evolusi. Dari tiga perubahan logonya, semuanya merupakan zoom-in dari tokoh Siren, sebangsa putri duyung dalam mitologi Yunani.

Tetapi tunggu sebentar, kali ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Pertama, perubahan logo ini sejalan dengan transformasi bisnis Starbucks, yang akan menggali peluang lain dalam bisnis makanan dan gaya hidup. Starbucks menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnisnya setelah ekspansi bisnis ke berbagai negara. Kedua, dari berbagai situs dan media di internet, mayoritas respon masyarakat bernada negatif. Ketiga, walaupun perubahan logo ini seperti evolusi, tetapi bisa dianggap sebuah revolusi. Anggapan ini dikuatkan oleh respon yang mayoritas negatif, yang biasanya menyertai sebuah perubahan besar.

Tokoh Siren keluar dari “kungkungan” lingkaran luar yang selama ini menaunginya. Tidak ada lagi lingkaran, tidak lagi tertulis nama Starbucks di dalam lingkaran dan tidak ada lagi kata “Coffee” di dalam lingkaran tersebut. Hal ini mewakili transformasi bisnis Starbucks. Juga mewakili kehadirannya yang semakin luas di berbagai belahan dunia. Nama Starbucks yang menggunakan alfabel latin, mungkin tidak lagi relevan saat ditampilkan di Cina atau negara lain yang tidak menggunakan alfabet latin. Saat ini, di Cina terdapat sekitar 400 outlet Starbucks. Fenomena ini mirip yang terjadi pada Nike atau Apple, yang melepas nama merk dari logonya.

Warna hijau kini juga tampil sendiri. Selama ini paduan hijau dan hitam seperti sudah melekat pada brand Starbucks. Paduan warna ini sebetulnya mewakili transformasi Starbucks pada tahun 1987, saat Howard Schultz mengambil alih Starbucks. Schultz kembali, setelah sempat keluar dan mendirikan Il Giornale coffee house yang bergaya espresso café yang pada awalnya ingin diterapkan di Starbucks, tetapi ditentang oleh para pendiri lain. Kemudian, logo Starbucks awal dikawinkan dengan logo Il Giornale, dan sejak itu hitam-hijau menjadi nyawa Starbucks.

Selain kata “Coffee”, lingkaran luar, tipografi yang digunakan dan tokoh Siren, warna hijau-hitam dianggap telah mewakili Starbucks sebagai “tempat ketiga”. Tempat ketiga setelah rumah dan kantor yang menjadi tujuan utama para pelanggannya. Tempat ketiga yang melambangkan gaya hidup dan kesan relaks, kenyamanan, melepas penat setelah jam kerja dan tempat ngobrol.

Nah, mampukah logo tersebut mewakili transformasi bisnis sekaligus mewakili gaya hidup para pelanggannya? Yang pasti logo baru sudah mampu mewakili transformasi bisnis yang dijalaninya. Tetapi respon negatif dari pasar, mitra kerja dan pelanggannya merupakan indikasi gaya hidup yang diembannya terancam tidak terwakili. Padahal inilah yang menjadi salah satu keunggulan kompetitifnya selama ini.

Pada pertengahan dekade 80-an, fokus bisnis yang keluar dari keunggulan kompetitif tersebut menyebabkan penurunan kinerja bisnis Starbucks. Banyak outletnya yang mulai bergeser dari gaya hidup yang ditawarkan sebelumnya, sehingga sempat dianalogikan menjadi seperti Wal-Mart Coffee. Analogi yang mengarah kepada pergeseran citra, seperti kedai kopi cepat saji yang menawarkan kepraktisan. Saat Howard Schultz kembali tahun 1987, banyak outlet ditutup untuk mengembalikan fokus ke konsep gaya hidup “tempat ketiga”. Perubahan logo saat itu juga sukses, karena mampu mewakili transformasi bisnis sekaligus tetap mewarisi gambaran gaya hidup ala Starbucks.

Nah, selanjutnya bagaimana Starbucks harus menyikapi perkembangan respons pasar terhadap logo baru ini menjadi menarik. Langkah Gap, produsen pakaian kasual yang membatalkan logo baru karena respon negatif pelanggan yang merasa gaya hidupnya tidak terwakili logo baru, bisa jadi referensi. Akhirnya Gap menggunakan crowd sourcing untuk eksplorasi ide logo baru yang tepat.Crowd sourcing memang bisa menjadi alternatif bagi Starbucks, tetapi esensinya adalah Starbucks harus mampu mendengar dan menyikapi conversation para pelanggannya dalam isu ini dan memastikan logo barunya mampu mewakili gaya hidup pelanggannya.

Consumer 3000 Sebagai Jembatan Menuju Mainstream Market

Posting studi kasus pemasaran kali ini terinspirasi oleh tulisan mas Yuswohady mengenai Consumer 3000. Istilah Consumer 3000 ditujukan untuk pertumbuhan segmen kelas menengah, saat suatu negara mencapai angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar $3000. Angka ini menjadi penting karena banyak negara yang setelah mencapai angka PDB tersebut, menunjukkan lonjakan pertumbuhan yang makin tinggi. Angka tersebut menjadi titik lepas landas suatu negara dalam proses transformasi dari negara berkembang menjadi negara maju. Di Indonesia, diperkirakan titik ini akan mampu dicapai pada tahun 2011. Penjelasan selengkapnya mengenai fenomena Consumer 3000 bisa dibaca di blog Yuswohady: http://www.yuswohady.com/2010/12/04/consumer-3000/.

Dua ciri utama segmen kelas menengah ini adalah mempunyai daya beli yang meningkat dan lebih smart. Dalam proses keputusan membeli, mereka berorientasi kepada value. Dengan daya beli yang meningkat, maka produk yang selama ini masuk dalam kategori premium mulai terjangkau oleh segmen ini. Hal ini berkontribusi pada percepatan experience curve effect (baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Learning_curve_effects) sehingga economies of scale produk lebih cepat tercapai. Economies of scale akan memberi peluang pada penurunan harga. Efek dari fenomena ini adalah produk-produk yang selama ini dianggap mewah akan lebih terjangkau. Kondisi ini yang disebut oleh Yuswohady sebagai mass luxury.

Selanjutnya, strategi pemasaran dalam menyikapi perubahan pasar ini akan menjadi sangat menarik. Dalam studi kasus marketing ini, kita coba lihat bagaimana implikasi strateginya pada produk-produk berteknologi tinggi. Fokus ini dipilih karena sesuai karakter Consumer 3000 yang lebih modern dan lebih melek teknologi atau technology savvy. Hal ini mengingatkan saya pada buku Geoffrey A. Moore ayng berjudul “Crossing the Chasm”, yang pasti juga sudah sangat Anda kenal. Dalam buku tersebut digambarkan sebuah perjalanan penyerapan pasar terhadap produk berteknologi tinggi, yang disebut Technology Adoption Lifecyle. Dalam siklus ini, penyerapan pasar terjadi secara bertahap, dari segmen pasar yang disebut innovator, early adopter, early majority, late majority dan akhirnya laggard.

Innovator dan Early adopter menjadi pintu gerbang bagi produk hi-tech untuk bsia menikmati tingkat penyerapan pasar yang tinggi pada mainstream market, yaitu early majority dan late majority. Lalu, bagaimana hubungan segmen kelas menengah Consumer 3000 dengan technology adoption life cycle? Dengan daya beli yang makin kuat dan semakin melek teknologi, maka peluang bagi tumbuhnya segmen early adopter di pasar menjadi semakin terbuka. Pengguna Blackberry di Indonesia diperkirakan sudah mencapai lebih dari 3 juta orang. Penjualan smartphone berbasis Android tumbuh pesat. Pada beberapa even, tampak antrian dalam pembelian produk tablet PC. Tetapi Consumer 3000 yang dibagi dalam 3 sub segmen: Reasonable, Critical dan Functional menunjukkan segmen tersebut sebenarnya bukanlah identik dengan Early Adopter, tetapi lebih terdistribusi dalam segmen Early Adopter dan Early Majority.

Uniknya karena melek teknologi, salah satu fenomena yang sangat penting adalah mereka terhubung satu sama lain, melalui berbagai media. Tetapi media yang sangat penting adalah internet dan berbagai aplikasi di dalamnya, terutama social media. Akun Facebook Indonesia sudah mencapai lebih dari 34 juta, pengguna Twitter tidak kurang dari 8 juta, sehingga sering disebut sebagai Pusat Twitter di Asia. Dan mereka terhubung hampir setiap waktu. Data dari Twitter, 40% tweets berasal dari perangkat mobile.

Jadi, gambarannya begini: bayangkan apa yang bisa terjadi saat terjadi pertumbuhan pada segmen Early Adopter dan Early Majority. Kemudian mereka terhubung satu sama lain melalui media internet, hampir setiap waktu: 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Informasi disalurkan ke seluruh lapisan segmen tersebut secepat kecepatan cahaya. Ada ide?

Para provider produk dan layanan berteknologi tinggi harus bisa memanfaatkan momen ini. Chasm atau jurang kegagalan sebuah produk hi-tech masuk ke mainstream market digambarkan berada di antara segmen Early Adopter dan Early Majority. Tetapi kini keduanya makin terhubung, semakin melek teknologi dan mempunyai daya beli yang semakin meningkat. Bila produsen mampu memanfaatkan dengan baik momen ini, maka waktu yang dibutuhkan untuk menuju mainstream market bisa lebih cepat. Perjalanan sebuah produk pada technology adoption lifecyle bisa lebih cepat. Hal ini terjadi pada penyerapan pasar terhadap ponsel pintar berbasis Android dan Tablet PC. Edukasi pasar terhadap berbagai macam fitur yang lekat dengan teknologi baru, bisa menjadi lebih mudah, karena pemahaman segmen Consumer 3000 terhadap teknologi yang lebih baik.

Tetapi bukan berarti jurang atau chasm menjadi lebih mudah untuk diseberangi. Strategi dasar untuk bisa melewati jurang tersebut tetap harus menjadi perhatian. Produk yang ditawarkan harus siap 100%, harus bisa menjamin adanya alasan yang kuat bagi Consumer 3000 untuk membeli. Produk yang tidak siap bisa menjadi bulan-bulanan di social media. Kesiapan pemasar juga harus 100%, end to end. Karena Consumer 3000 lebih smart. Produsen juga tetap harus jeli dalam fokus mencapai sasaran pasar yang tepat. Karena Consumer 3000 lebih tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan. Mereka berorientasi pada value. Produk yang ditawarkan juga tetap harus mampu menunjukkan positioning dan diferensiasi yang jelas di mata Consumer 3000.

Wah jadi semakin tidak sabar, nunggu buku Consumer 3000 nya mas Yuswohady 🙂 . Bagaimana pendapat Anda? Apa saja implikasi strategi yang sesuai untuk fenomena Consumer 3000? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Fakta Unik di Era Broadband

Indonesia menjadi salah satu tempat pertumbuhan layanan broadband tertinggi di dunia. Menurut reportase Radio Australia, pertumbuhan pengguna broadband di Indonesia pada tahun lalu mencapai 142%, walaupun dari tingkat penetrasi terhadap populasi masih rendah. Sedangkan pengguna internet di Indonesia diprediksi mencapai 30.000.000 orang, menurut internetworldstats.com. Hal ini, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap perilaku atau gaya hidup kita. Nah… berikut beberapa cerita unik dan ringan mengenai perubahan gaya hidup kita sehari-hari yang dipengaruhi internet dan broadband, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sharing bersama teman-teman, baik secara offline maupun online. Fakta unik dan ringan dalam studi kasus marketing ini hanyalah indikasi dari banyak perubahan karakter di era broadband economy. Semoga memberikan penyegaran dan wawasan bagi kita untuk belajar marketing dan menangkap peluang dari perubahan perilaku pasar.

Fakta Satu. Tampaknya kita harus mulai mengantisipasi fenomena yang satu ini, yaitu tingkat okupansi toilet yang bertambah. Akses internet dan broadband yang semakin lancar, ditambah berbagai macam aplikasi yang tersedia melalui smartphone ternyata membuat banyak orang tertarik untuk mengisi waktu di toilet menggunakan smartphone. Kalau dahulu, beberapa orang membawa koran atau merokok saat melakukan “kegiatan wajib” di toilet, maka beberapa orang kini tidak lupa membawa smartphone ke toilet. Entah itu untuk sekedar main game, browsing, chatting, facebook-an, twitter-an atau bahkan download aplikasi atau content di internet.

Fakta Dua. Berbagai tipe smartphone, sekarang dilengkapi dengan fungsi GPS dan aplikasi navigasi berbasis GPS. Dikombinasikan dengan browser, maka smartphone telah menjadi sumber informasi dan panduan yang luar biasa dalam mencari dan menemukan berbagai macam point of interest, mulai dari lokasi ATM, hotel, gedung, tempat ibadah, tempat belanja sampai tujuan wisata kuliner.
Dalam suatu perjalanan ke Jogja, berdasarkan rekomendasi yang saya temukan di internet, saya mencoba menemukan Bakmi Goreng Jawa “Pak Pele” dengan dipandu GPS. Ternyata aplikasi navigasi GPS berbasis Android yang saya gunakan, memaksa saya memutar kendaraan, karena aplikasi tersebut memandu ke arah jalan di lingkungan Kraton Yogyakarta yang ternyata malam itu menjadi jalan buntu, karena terdapat pintu gerbang yang ditutup. Uniknya, waktu memutar kendaraan, dari arah berlawanan bertemu dengan dua kendaraan lain dengan plat nomor luar kota Jogja, yang ternyata juga harus memutar setelah “tersesat” karena juga dipandu navigasi berbasis GPS. Cerita unik berikutnya, adalah seorang teman yang terpaksa menempuh perjalanan Jogja – Jember melebihi waktu tempuh normal, justru setelah menggunakan navigasi berbasis GPS. Salah satu sebabnya adalah kemungkinan kesalahan dalam melakukan setting “routing options” pada alat navigasi GPS yang digunakannya.

Fakta Tiga. Berdasarkan hasil salah satu riset pasar, pada segmen pelajar, internet dan broadband telah menjadi salah satu kebutuhan utama. Beberapa pelajar mengaku, memilih menggunakan uang sakunya untuk membeli “pulsa” daripada untuk “jajan” membeli makanan atau minuman. Pulsa yang dimaksud, tentu saja sebagian untuk tetap bisa mengakses internet, terutama untuk tetap bisa update status di beberapa social media seperti facebook atau twitter.

Fakta Empat. Pengguna e-commerce diprediksi akan terus meningkat di tahun 2011. Salah satunya ternyata dikontribusi oleh pembelian secara online melallui social media. Segmen potensialnya adalah segmen wanita, yang berdasarkan hasil survey pada beberapa periode sebelumnya sebetulnya bukanlah segmen potensial dalam e-commerce. Akhir-akhir ini bisa kita lihat di facebook, banyak teman kita dari segmen ini, para ibu-ibu atau remaja wanita yang di-“tag” pada foto produk yang di-share oleh para penjual berbagai macam produk secara online. Mulai dari produk kosmetik, fashion sampai berbagai produk kesehatan.

Fakta Lima. Di beberapa kota besar, terutama Jakarta, mulai marak café yang beroperasi 24 jam. Café tersebut tetap ramai, walaupun waktu sudah menunjukkan melewati tengah malam. Beberapa orang tampak tetap mencoba produktif, baik diskusi, meeting atau sibuk di depan komputer pribadinya dengan dukungan internet hotspot di lokasi tersebut atau USB modem di komputernya. Beberapa tempat makan yang dulu biasa kita temui di dalam mall, kini beberapa di antaranya mulai mencari tempat operasi di luar mall, demi untuk bisa beroperasi 24 jam.

Fakta Enam. Ada yang berubah dalam kegiatan sarapan di pagi hari. Bukan menunya, dan bukan waktu sarapannya. Tetapi banyak orang kini saat sarapan di pagi hari, di sampingnya terdapat smartphone atau bahkan mungkin tablet PC yang tetap aktif dioperasikannya. Beberapa orang menggunakannya untuk browsing berbagai berita terbaru di media online, seperti detik.com, kompas.com, vivanews.com atau di social media, sambil terus melakukan update status atau sharing berita baru yang ditemukannya melalui akun social medianya.

Fakta Tujuh. Banyak akun palsu di social media. Twitter pun menyediakan tambahan informasi “verified account” untuk membedakan official twiiter account dengan akun-akun lain yang serupa. Identifikasi ini sangat penting, terutama bagi entitas bisnis atau selebritis yang sering menjadi target akuisisi nama akun yang serupa. Tempo Interaktif, pada hari Rabu, 5 Januari 2011 memberitakan bahwa terdapat ratusan akun di facebook yang menggunakan nama “Gayus Tambunan”. Gayus Tambunan adalah tersangka kasus korupsi pajak yang kini sedang menjalani sidang. Berbagai macam motif menjadi latar belakang orang mengakuisisi akun social media, mulai dari iseng sampai dengan untuk keperluan pembajakan informasi atau merusak citra individu atau entitas bisnis.

Bagaimana dengan Anda? Ada cerita unik yang ingin Anda share? Please give comments or share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas untuk memanfaatkan perubahan perilaku ini.