Belajar dari Wafatnya Google Wave

Saya termasuk salah satu orang yang cukup antusias saat Google mengumumkan akan melakukan trial Google Wave pada tahun 2009 ( Google to Launch Google Wave Public Beta in Sept.). Dan masih banyak lagi netizen yang antusias dan kemudian mengirim pesan ke google untuk menjadi salah satu user, di antara 100.000 user yang direncanakan terlibat untuk mencoba Google Wave versi Beta. Beberapa orang yang terpilih Google untuk ikut mencoba, merasa bangga dan menyampaikannya pada teman dan komunitasnya. Pada waktu itu buzz atau words of mouth mengenai Google Wave menjadi sangat kencang.

Singkatnya, Google Wave adalah perpaduan antara e-mail, chat, blog dan banyak aplikasi google lain untuk berkolaborasi secara online. Aplikasi ini diproyeksikan untuk mampu menggantikan e-mail yang sudah dianggap aplikasi “kuno”.

Tetapi, pada tanggal 4 Agustus 2010Google mengumumkan untuk menghentikan pengembangan Google Wave. (RIP Google Wave). Salah seorang Senior Vice President Google mengatakan, alasan dihentikannya pengembangan Google Wave adalah user adoption yang tidak memenuhi harapan Google. Pada proses awalnya, sebelum mengarah ke 100.000 user trial, Google terlebih dahulu melakukan trial ke para sekitar 6.000 program developers. Kalau kita merujuk pada Technology Adoption Lifecycle-nya Geoffrey Moore, maka Google sudah mencoba masuk ke segmen Innovator dan Early Adopter. Tetapi persis seperti disampaikan Geoffrey Moore, maka titik kritisnya adalah di Chasm, atau jurang antara Early Adopter dan Mainstream Customers. Dan Google Wave akhirnya menjadi salah satu korban, masuk ke jurang tersebut.

Tetapi dari studi kasus marketing ini kita bisa banyak belajar marketing dari berbagai aspek. Pertama, produk yang terlalu complicate, rumit atau ribet akan susah diserap oleh pasar. John Naisbitt pernah mengungkapkan perlunya High Touch pada produk High Tech. Sehingga untuk realisasi konsep besarnya, Google perlu kembali berpikir keras bagaimana mendeliver preposisi tersebut dalam bentuk yang mudah digunakan oleh target pasarnya.

Kedua, buzz yang luar biasa – atau meminjam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya – Conversation yang luar biasa di seputar Google Wave, ternyata tidak menjamin penyerapan pasar yang baik. Sebuah pelajaran yang penting untuk para pemasar dalam era antusiasme terhadap digital marketing dan social media.

Ketiga, kabar baiknya, konsep Google Wave saya kira masih perlu dicermati. Buzz atau Conversation yang luar biasa saat peluncuran versi Beta-nya bukan tanpa alasan. Jadi, masih terbuka kemungkinan konsep ini dikembangkan melalui produk atau aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keempat, dibalik cerita kegagalan Google Wave, yang sebetulnya hanya satu cerita dari kegagalan aplikasi Google yang lain mengingatkan kita kepada cerita keberhasilan inovasi Thomas Alva Edison. Di balik sebuah inovasi yang sukses terdapat puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kegagalan. Jadi, keberanian mengambil resiko menjadi sangat penting. Saya kira respon Google yang cepat dalam proses pengembangan produk dan mekanismenya dalam mengembangkan inovasi bisa menjadi referensi.

Kelima, lagi-lagi merujuk pada Technology Lifecyle Adoption-nya Geoffrey Moore, untuk bisa masuk ke mainstream customers ternyata memang diperlukan produk yang siap 100%. Produk baru high tech yang belum siap sangat beresiko masuk ke chasm, jurang yang menganga di antara early adopter dan early majority.

Bagaimana menurut Anda? Ada pelajaran marketing lain yang bisa diambil? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Penjualan Kindle melampaui iPod?

Cerita iPod dan tantangannya menjadi sumber banyak marketing ideas dan membuat belajar marketing menjadi menarik. Tantangan berikutnya dari iPod adalah Kindle. Kindle adalah sebuah e-reader yang dikembangkan atau dipopulerkan oleh amazon.com. Kindle menyediakan akses yang mudah dan cepat ke perpustakaan e-book yang sangat besar untuk didownload ke alat tersebut, sekaligus dengan mudah membaca e-book tersebut. Pada saat membaca e-book menggunakan Kindle, pengguna dapat melakukan text highlight, menambah catatan pribadi dan lookup informasi terkait melalui internet. Pada saat peluncurannya terdapat 90.000 pilihan buku.

Mungkin beberapa tahun yang lalu alat seperti ini baru muncul di beberapa film bertema science-fiction. Tetapi tahun 2008 kurang lebih 500.000 unit kindle terjual. Tahun 2009 Citi Investment Research membuat estimasi penjualan Kindle akan naik menjadi 1.027.000 unit dan pada tahun 2010 menjadi 3.533.000 unit.

Jadi dibandingkan dengan penjualan iPod pada tahun 2008 dan estimasi tahun 2009, maka penjualan Kindle telah melampaui iPod. Tetapi pada tahun 2010 penjualan iPod diestimasikan akan kembali mengungguli Kindle. Walaupun masih ada yang meragukan estimasi penjualan Kindle pada tahun 2009 dan 2010 akan meningkat setajam itu, tetapi penjualan tahun 2008 sudah menunjukkan angka yang fantastis. Perlu diketahui harga Kindle masih tergolong mahal. Versi pertama Kindle dijual dengan harga USD 350 – 379 pada tahun 2008, bandingkan dengan iPod Shuffle yang ‘hanya’ USD 99. Harga Kindle diprediksikan akan terus turun seiring kencangnya adoption rate Kindle di pasar. Harga rata-rata per buku (USD 9.99) juga lebih tinggi dari harga per lagu di iTunes.

Walaupun secara fungsional Kindle dan iPod mempunyai diferensiasi, tetapi ada beberapa karakter di antara keduanya yang mirip. Keduanya adalah ‘player’ yang dilengkapi akses yang mudah ke konten. Salah satu faktor yang membuat iPod perkasa adalah ekosistem yang dikembangkan. Ekosistem iPod (ada juga yang menyebut ekosistem iTunes) adalah ekosistem antara iPod, iTunes, internet dan jaringan content provider. Bahkan ekosistem ini terus berkembang, dengan bergabungnya radio melalui layanan iTunes tagging dan produsen aksesori iPod. iTunes tagging memungkinkan pendengar radio untuk secara lanngsung memperoleh informasi mengenai lagu yang didengarnya di HD Radio Receiver, transfer info tersebut ke iPod, masuk ke playlist di iTunes di mana kita bisa memperoleh preview, membeli dan mengunduh lagu tersebut.

Pertanyaanya adalah bagaimana Kindle mampu menjawab keraguan sebagian pengamat terhadap estimasi pertumbuhan penjualannya? Apakah dengan menurunkan harga yang masih jauh lebih tinggi dari iPod, membuat variasi produk yang lebih banyak yang disesuaikan dengan beberapa karakteristik komunitas penggunanya, atau membangun ekosistem yang lebih luas dan kuat seperti iPod? Share your marketing ideas! Ini tantangan bagi kita yang ingin belajar marketing.

Bagaimana menurut Anda, please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.