Google Plus: Valuing Failure

Studi kasus pemasaran Google Plus atau Google+ memang sangat menarik dan berliku. Banyak cara untuk menceritakannya. Jadi mohon maaf apabila posting kali ini agak lebih panjang dari biasanya. Baiklah, kita coba mulai penelusuran jalan berliku ini pada bulan Mei 2010. Saat itu Google mengakui salah satu kegagalannya. Hal yang jarang kita temui dalam komunikasi perusahaan yang lain. Bagaimana dengan perusahaan atau organisasi Anda? Secara spesifik, saat itu Google mengakui kekurangannya dalam pengembangan social networking atau jejaring sosial. Pengakuan ini terungkap dalam surat rekrutasi untuk posisi “Head of Social”. Cuplikan dari sebagian kalimat dalam surat tersebut yang dirilis computerworld.com adalah “…as Google knows it is late on this front and is appropriately humble about it. In Google’s view, conceptually, there are two ways to tackle social…”.

Orkut, jejaring sosial yang dirilis tahun 2004 belum memenuhi ambisi Google. Orkut hanya cukup populer di Brazil dan India, tetapi justru kurang berhasil di negara asalnya, Amerika Serikat. Salah satu sebab yang diungkapkan Marissa Mayer (Vice President of Location and Local Services Google) di techcrunch.com adalah keterlambatan mereka mengantisipasi lonjakan jumlah pengguna pada awal peluncurannya. Orkut sempat mencapai beberapa juta pengguna dalam beberapa hari, tetapi kemudian terhambat karena koneksi ke situs Orkut menjadi terganggu.

Bulan Mei 2009, proyek Google Wave meluncur, sebuah media kolaborasi online. Media ini menjanjikan cara baru dalam berkomunikasi secara online. Para penggunanya dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dalam suatu percakapan atau dengan dokumen dengan berbagai macam format, termasuk teks, foto, video, peta, dan sebagainya. Tetapi layanan ini akhirnya diputuskan untuk dihentikan pada tanggal 4 Agustus 2010. Mengapa Google Wave juga gagal? Simak ulasannya di “Belajar dari Wafatnya Google Wave”.

Kegagalan Google dalam jejaring sosial sempat memicu spekulasi adanya rencana akuisisi terhadap Twitter pada tahun 2009. Apakah mereka jera mengembangkan sendiri jejaring sosialnya? Ternyata tidak! Mereka mencoba bangkit  melalui Google Buzz pada tahun 2010. Layanan yang terintegrasi dengan gmail ini menyediakan media bagi penggunanya untuk berbagi posting berupa antara lain: status updates, link, foto, video dan komentar. Layanan ini sebenarnya memiliki salah satu karakteristik dasar yang mirip dengan Google+. Penggunanya dapat memilih bagaimana mereka akan berbagi post, baik secara publik maupun dalam beberapa grup tertentu. Tetapi Google Buzz belum berhasil menunjukkan diferensiasinya kepada para pengguna jejaring sosial. Apalagi layanan ini terintegrasi dengan Twitter. Sehingga sebagian besar isinya sama dengan timeline Twitter dari penggunanya. Kondisi ini justru mengurangi orisinalitas isinya. Sehingga tidak cukup alasan yang tepat bagi pengguna Facebook atau Twitter untuk beralih atau menambahkan Google Buzz dalam aktivitas social medianya. Belum lagi adanya masalah kekhawatiran adanya aplikasi di dalamnya yang berpotensi menganggu privasi para penggunanya.

Tetapi Google belum menyerah. Mereka harus berbuat sesuatu dan berhasil dalam jejaring sosial ini. Pengaruh jejaring sosial sudah semakin menekan Google yang terlebih dahulu dikenal dengan mesin pencarinya. Menurut analis trafik Hitwise, pada Desember 2010, trafik ke jejaring sosial telah melampaui trafik ke mesin pencari. Pencarian melalui jejaring sosial juga makin populer.

Akhirnya pada penghujung bulan Juni 2011, proyek Google+ (http://plus.google.com) diperkenalkan melalui sebuah field trial untuk pengguna terbatas. Kemudian mulai terbuka untuk umum pada 7 Juli 2011. Bulan Juli 2011 diberitakan Google+ berhasil mencapai 20 juta pengguna dan 25 juta pengunjung situsnya. Menurut mashable.com, angka ini menjunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Facebook, Twitter atau Myspace pada periode awal peluncurannya.

Belajar dari kegagalan sebelumnya, kali ini jejaring sosial ini menunjukkan diferensiasinya. Google juga tampak mulai menangkap keinginan pengguna jejaring sosial dan kekurangan dari jejaring sosial yang ada, terutama Facebook dan Twitter. Akhir-akhir ini pengguna Facebook mulai merasa kesulitan dalam menemukan pertemanan yang otentik. Euforia menambah jumlah teman pada awal bergabung dengan Facebook menyebabkan jumlah teman yang sangat banyak. Tetapi berlakulah paradoks, pada suatu kondisi yang berlebih, mulai muncul kelangkaan. Pertemanan yang otentik mulai langka saat jumlah teman di jejaring sosial mulai berlebih. Pada kondisi inilah “Circles” dalam Google+ menjadi solusi. “Circles” memberi fasilitas bagi pengguna mengatur kontak menjadi kelompok tertentu untuk berbagi. Uniknya orang yang dikelompokkan dalam “Circles” tersebut tidak bisa melihat nama yang digunakan oleh pembuat atau pemilik “Circles”. Jejaring sosial ini juga tidak memerlukan persetujuan apabila pengguna ingin menambahkan teman, kenalan atau orang lain dalam “Circles”. Nilai lebih dibandingkan Facebook yang fokus pada proses persetujuan, dan Twitter yang fokus pada konsep following.

Pengguna Facebook juga mulai terganggu dengan berbagai macam iklan. Baik iklan resmi yang biasanya tampil di sisi kanan, maupun melalui teman-temannya yang di-tag dalam posting iklan di “Wall” dari para pengiklan. Akhir-akhir ini juga mulai marak pembajakan akun pengguna yang digunakan untuk mengiklankan berbagai macam produk. Dan Google+ pun tampil bersih dari segala jenis iklan.

Kemudahan melakukan video chat melalui difasilitasi dengan “Hangouts”. Pertumbuhan pengguna ponsel pintar ditangkap melalui kemudahan instant messaging melalui aplikasi di ponsel dengan fasilitas “Huddle”. Fasilitas “Sparks” membantu pengguna dalam melakukan pencarian terintegrasi terhadap topik yang akan dibagi melalui media ini. Berbagi foto dan video pun didukung oleh fasilitas “Instant Uploads”. Tetapi walaupun fasilitas yang disediakan cukup lengkap, tetapi kemudahan penggunaannya tetap dijaga dengan baik. Mereka tidak mengulangi kesalahan yang terjadi pada kompleksitas penggunaan Google Wave.

Indikasi keberhasilan layanan ini mulai terbayang. Persistensi Google dalam mengembangkan jejaring sosial melalui jalan yang berliku didukung oleh kemampuan organisasi ini untuk terus belajar. Kemampuannya menghargai kegagalan menjadi salah satu penopang kebangkitannya setelah gagal dengan Orkut, Google Wave dan Google Buzz. Valuing Failure memang menjadi salah satu faktor penting dalam budaya organisasi dalam membentuk manajemen inovasi yang andal, seperti hasil riset yang saya lakukan pada tahun 2008-2009. Sebuah teladan yang juga ditunjukkan oleh Thomas Edison dalam “Keistimewaan Kucing dalam Bisnis: A Tribute to Thomas Edison”.

Bagaimana menurut Anda, apakah keunggulan lain dari Google+ atau apa faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan sistem inovasi di Google? Benarkah Google+ akan berhasil? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Fakta Unik di Era Broadband

Indonesia menjadi salah satu tempat pertumbuhan layanan broadband tertinggi di dunia. Menurut reportase Radio Australia, pertumbuhan pengguna broadband di Indonesia pada tahun lalu mencapai 142%, walaupun dari tingkat penetrasi terhadap populasi masih rendah. Sedangkan pengguna internet di Indonesia diprediksi mencapai 30.000.000 orang, menurut internetworldstats.com. Hal ini, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap perilaku atau gaya hidup kita. Nah… berikut beberapa cerita unik dan ringan mengenai perubahan gaya hidup kita sehari-hari yang dipengaruhi internet dan broadband, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sharing bersama teman-teman, baik secara offline maupun online. Fakta unik dan ringan dalam studi kasus marketing ini hanyalah indikasi dari banyak perubahan karakter di era broadband economy. Semoga memberikan penyegaran dan wawasan bagi kita untuk belajar marketing dan menangkap peluang dari perubahan perilaku pasar.

Fakta Satu. Tampaknya kita harus mulai mengantisipasi fenomena yang satu ini, yaitu tingkat okupansi toilet yang bertambah. Akses internet dan broadband yang semakin lancar, ditambah berbagai macam aplikasi yang tersedia melalui smartphone ternyata membuat banyak orang tertarik untuk mengisi waktu di toilet menggunakan smartphone. Kalau dahulu, beberapa orang membawa koran atau merokok saat melakukan “kegiatan wajib” di toilet, maka beberapa orang kini tidak lupa membawa smartphone ke toilet. Entah itu untuk sekedar main game, browsing, chatting, facebook-an, twitter-an atau bahkan download aplikasi atau content di internet.

Fakta Dua. Berbagai tipe smartphone, sekarang dilengkapi dengan fungsi GPS dan aplikasi navigasi berbasis GPS. Dikombinasikan dengan browser, maka smartphone telah menjadi sumber informasi dan panduan yang luar biasa dalam mencari dan menemukan berbagai macam point of interest, mulai dari lokasi ATM, hotel, gedung, tempat ibadah, tempat belanja sampai tujuan wisata kuliner.
Dalam suatu perjalanan ke Jogja, berdasarkan rekomendasi yang saya temukan di internet, saya mencoba menemukan Bakmi Goreng Jawa “Pak Pele” dengan dipandu GPS. Ternyata aplikasi navigasi GPS berbasis Android yang saya gunakan, memaksa saya memutar kendaraan, karena aplikasi tersebut memandu ke arah jalan di lingkungan Kraton Yogyakarta yang ternyata malam itu menjadi jalan buntu, karena terdapat pintu gerbang yang ditutup. Uniknya, waktu memutar kendaraan, dari arah berlawanan bertemu dengan dua kendaraan lain dengan plat nomor luar kota Jogja, yang ternyata juga harus memutar setelah “tersesat” karena juga dipandu navigasi berbasis GPS. Cerita unik berikutnya, adalah seorang teman yang terpaksa menempuh perjalanan Jogja – Jember melebihi waktu tempuh normal, justru setelah menggunakan navigasi berbasis GPS. Salah satu sebabnya adalah kemungkinan kesalahan dalam melakukan setting “routing options” pada alat navigasi GPS yang digunakannya.

Fakta Tiga. Berdasarkan hasil salah satu riset pasar, pada segmen pelajar, internet dan broadband telah menjadi salah satu kebutuhan utama. Beberapa pelajar mengaku, memilih menggunakan uang sakunya untuk membeli “pulsa” daripada untuk “jajan” membeli makanan atau minuman. Pulsa yang dimaksud, tentu saja sebagian untuk tetap bisa mengakses internet, terutama untuk tetap bisa update status di beberapa social media seperti facebook atau twitter.

Fakta Empat. Pengguna e-commerce diprediksi akan terus meningkat di tahun 2011. Salah satunya ternyata dikontribusi oleh pembelian secara online melallui social media. Segmen potensialnya adalah segmen wanita, yang berdasarkan hasil survey pada beberapa periode sebelumnya sebetulnya bukanlah segmen potensial dalam e-commerce. Akhir-akhir ini bisa kita lihat di facebook, banyak teman kita dari segmen ini, para ibu-ibu atau remaja wanita yang di-“tag” pada foto produk yang di-share oleh para penjual berbagai macam produk secara online. Mulai dari produk kosmetik, fashion sampai berbagai produk kesehatan.

Fakta Lima. Di beberapa kota besar, terutama Jakarta, mulai marak café yang beroperasi 24 jam. Café tersebut tetap ramai, walaupun waktu sudah menunjukkan melewati tengah malam. Beberapa orang tampak tetap mencoba produktif, baik diskusi, meeting atau sibuk di depan komputer pribadinya dengan dukungan internet hotspot di lokasi tersebut atau USB modem di komputernya. Beberapa tempat makan yang dulu biasa kita temui di dalam mall, kini beberapa di antaranya mulai mencari tempat operasi di luar mall, demi untuk bisa beroperasi 24 jam.

Fakta Enam. Ada yang berubah dalam kegiatan sarapan di pagi hari. Bukan menunya, dan bukan waktu sarapannya. Tetapi banyak orang kini saat sarapan di pagi hari, di sampingnya terdapat smartphone atau bahkan mungkin tablet PC yang tetap aktif dioperasikannya. Beberapa orang menggunakannya untuk browsing berbagai berita terbaru di media online, seperti detik.com, kompas.com, vivanews.com atau di social media, sambil terus melakukan update status atau sharing berita baru yang ditemukannya melalui akun social medianya.

Fakta Tujuh. Banyak akun palsu di social media. Twitter pun menyediakan tambahan informasi “verified account” untuk membedakan official twiiter account dengan akun-akun lain yang serupa. Identifikasi ini sangat penting, terutama bagi entitas bisnis atau selebritis yang sering menjadi target akuisisi nama akun yang serupa. Tempo Interaktif, pada hari Rabu, 5 Januari 2011 memberitakan bahwa terdapat ratusan akun di facebook yang menggunakan nama “Gayus Tambunan”. Gayus Tambunan adalah tersangka kasus korupsi pajak yang kini sedang menjalani sidang. Berbagai macam motif menjadi latar belakang orang mengakuisisi akun social media, mulai dari iseng sampai dengan untuk keperluan pembajakan informasi atau merusak citra individu atau entitas bisnis.

Bagaimana dengan Anda? Ada cerita unik yang ingin Anda share? Please give comments or share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas untuk memanfaatkan perubahan perilaku ini.

Fondasi Marketing 3.0 ala “Wedus” Jogja

Kaos Wedus JogjaPhilip Derrice Frankfureter Kotler atau yang sering dikenal dengan Philip Kotler, salah satu Global Marketing Guru, pada tahun 2009 menjadi co-author buku “Chaotics: The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence” bersama John Caslione. Kemudian disusul pada tahun 2010, bersama Global Marketing Guru dari Indonesia: Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyusun buku “Marketing 3.0”. Apa hubungan kedua buku yang diterbitkan pada waktu yang berdekatan tersebut? Dalam Chaotics, Kotler menyampaikan bagaimana dalam era sekarang adalah era turbulensi di mana terjadi banyak ketidakpastian pada banyak aspek, yang ditandai terutama pada ketidakpastian siklus ekonomi dunia dan perubahan perilaku serta preferensi pelanggan. Nah…. Marketing 3.0 sangat tepat untuk menyikapi perubahan perilaku dan preferensi pelanggan dalam era turbulensi tersebut.

Posting kali ini akan mengupas apa tantangan mendasar dalam menerapkan konsep marketing yang baru ini, seperti posting sebelumnya mengenai tantangan implementasi konsep New Wave Marketing: “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”. Studi kasus marketing yang akan digunakan untuk belajar Marketing 3.0 adalah perjalanan awal kaos khas Jogja dengan brand ”Wedus” dalam menembus kompetisi pasar kaos khas Jogja yang cukup ketat.

Perkenalan saya dengan kaos ”Wedus” terjadi dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jogja, tempat kelahiran kaos ”Wedus”. Ternyata perjalanan mudik selalu membawa banyak inspirasi dalam proses belajar marketing, seperti studi kasus marketing “Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant”, “Low Cost Carrier versi Jogja” dan “Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik”.

Perubahan mendasar pada perilaku dan preferensi pelanggan akhir-akhir ini adalah pelanggan yang semakin cerdas dan semakin kurang percaya dengan aktivitas pemasaran dari produsen. Hal ini didukung oleh pelanggan yang semakin terhubung dalam banyak jaringan dan komunitas, terutama melalui media internet. Oleh karena itu, konsep marketing pun juga harus ikut berubah agar produsen mampu mempertahankan kelanjutan bisnisnya. Dalam Marketing 3.0, konsep intinya adalah evolusi dari product-driven market pada Marketing 1.0, menjadi Differentiation pada Marketing 2.0 dan kemudian pada Marketing 3.0 bergeser ke Value of Product to Consumers Emotion. Jadi salah satu kata kuncinya adalah ”emosi”, seperti pada sub judul bukunya, “From Products to Customers to the Human Spirit”.

Tantangan mendasar penerapan Marketing 3.0 adalah bagaimana menciptakan keterkaitan emosi dengan pelanggan melalui value yang ditawarkan melalui produk dan layanan secara keseluruhan. Dengan dasar itulah, maka salah satu dari 6 penggerak utama kredibilitas brand dalam konsep Marketing 3.0 adalah “Authenticity”. Di mana untuk mencapai authenticity diperlukan nilai-nilai real & sincere atau ketulusan dari produsen. Bagaimana mungkin kita berusaha menciptakan keterkaitan emosi antara value dari produk dengan pelanggan kalau produsen tidak mempunyai keterkaitan emosi yang tulus dengan produknya sendiri? Inilah tantangan mendasar dan terberat, karena di dalam setiap bisnis, obyektif finansial hampir selalu menjadi yang terdepan, menggerus idealisme dan ketulusan, yang sering terjadi seiring berkembangnya bisnis dan struktur organisasi.

Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan Kaos “Wedus”. Saya sempat berdialog dengan penggagas konsep kaos “Wedus” tersebut dan mengamati bagaimana desain dan aktivitas pemasarannya yang baru berusia 2 bulan. Yang kemudian saya tangkap adalah, usaha ini berawal dari idealisme penggagasnya yang mempunyai obyektif bukan hanya finansial. Konsep kaos ini merupakan bagian dari perjalanan emosi para penggagasnya dalam proses menjadi diri sendiri. Emosi dan nilai-nilai tersebut coba digali dan dituangkan dalam karakter desain yang menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dan menjadi media “update status” penggunanya, seperti biasa dilakukan banyak orang melalui social media, seperti facebook atau twitter. Penggunaan bahasa Jawa, sesuai dengan bagaimana mereka melihat pasarnya, yaitu orang Jawa, orang yang berbahasa Jawa, Javanese people atau mereka yang mempunyai keterkaitan emosi dengan Jawa, khususnya Jogja. Berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa (seperti terjadi juga pada bahasa lain) memang terkadang sangat susah untuk diterjemahkan dalam bahasa lain, karena konteks dan filosofi yang berbeda. Penggunanya diharapkan mampu menggunakan kaos ini sebagai media komunikasi kepada lingkungannya yang berpijak dari kebutuhan target pasarnya untuk bereksistensi dalam komunitas dan lingkungannya..

Uniknya lagi konsep distribusinya adalah menggabungkan outlet kaos dengan coffe shops. Saat ini sudah ada 3 coffee shops dengan brand “NYOHI NYOHI”. Lokasinya di kompleks kaki lima Jalan Demangan Baru Jogja, Jalan AM Sangaji utara STM Jetis Jogja dan Jalan Raya Yogya – Klaten. Dalam bahasa plesetan Jogja, Nyohi Nyohi berarti Kopi Kopi. Salah satu counternya juga hadir di deretan kaki lima jalan Malioboro, salah satu tujuan utama wisata di Jogja.

Dalam persaingan kaos khas Jogja yang ketat, mereka berusaha konsisten menjadi dirinya sendiri dan menjaga keterkaitan emosi dengan value produk dan pelanggannya. Terus menghindarkan diri dari kecenderungan menjadi sekedar komoditas kaos oleh-oleh. Walaupun demikian, dalam usianya yang baru 2 bulan, tentu saja ada beberapa peluang pengembangan yang terbuka. Antara lain penajaman targeting dan positioning, meningkatkan brand awareness di pasar melalui desain dan komunikasi pemasaran, dan integrasi promosi melalui media konvensional dan new media. Tetapi sesuai kredo kedua dari 10 kredo Marketing 3.0, penggagas kaos Wedus menyatakan terus berusaha berinteraksi dengan pelanggannya dan siap berevolusi sesuai perubahan landskap bisnisnya. Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai tantangan dan fondasi Marketing 3.0? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Pertarungan Citizen Journalism (1)

Beberapa bentuk dan media Citizen Journalism kini sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya di tengah marak dan tumbuhnya new media. Menurut wikipedia, Citizen journalism adalah konsep yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berperan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan mendistribusikan berita dan informasi. Yang membedakannya dengan bentuk collaborative journalism, adalah tidak adanya batasan bahwa peliput berita harus seorang jurnalis profesional. Semua anggota masyarakat bisa menjadi bagian di dalamnya. Sedangkan new media yang saya maksud adalah sebutan untuk media interaktif, terutama melalui koneksi internet. Media yang lebih bersifat horizontal, karena sifat komunikasinya yang lebih terbuka dan egaliter, walaupun beberapa di antaranya tetap melalui suatu proses moderasi. Media ini semakin penting dalam era new wave marketing.

Sekarang coba kita telusuri, bagaimana masyarakat sekarang bisa berperan aktif dalam citizen journalism. Pertama, mari kita bicara mengenai medianya. Media yang bisa digunakan tentu saja media yang interaktif. Tetapi yang dibutuhkan bukan sembarang interaktif, tetapi yang responsivitasnya cukup tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya intensitas interaktif yang memadai. Beberapa di antaranya adalah Televisi, Radio, dan tentu saja Internet.

Selanjutnya, bagaimana dengan bentuk citizen journalismnya? Bentuk yang paling sederhana adalah komentar pada lipuran berita, artikel, foto atau lainnya yang menurut J. D. Lasica disebut dengan Audience participation, seperti saya kutip dari wikipedia. MetroTV dan TVOne, stasiun televisi nasional yang menjadikan acara berita sebagai salah satu andalannya telah menggunakan bentuk ini. Contohnya adalah MetroTV dengan acara ”Suara Anda”. Interaktivitasnya dibangun dengan membuka saluran telepon bagi pemirsa untuk memberikan komentar. Tampaknya citizen journalism semakin penting, dan ini disadari oleh media traditional seperti surat kabar. Beberapa suratkabar go online baik melalui situsnya sendiri atau melalui social media, seperti facebook untuk membuka kanal interaktivitas bagi pembacanya untuk memberi komentar.

Bentuk berikutnya adalah kontribusi publik bukan hanya sebagai pendengar dan komentar tetapi sebagai penyaji berita, tetapi dalam format yang sederhana dan singkat. Media yang sering digunakan adalah radio dan internet. Beberapa radio, seperti Elshinta atau Radio Suara Surabaya mengandalkan pendengarnya untuk beberapa muatan berita, terutama traffic report. New media semakin mengambil peranan untuk bentuk ini, dan yang paling seru adalah social media, terutama facebook dan twitter. Contoh kecil, seorang teman yang pada bulan Juni lalu harus menempuh perjalanan Bandung – Surabaya menggunakan Kereta Api, akhirnya mengikuti jalannya pertandingan piala dunia melalui update status teman-temannya di facebook. Sejauh pengamatan saya, Twitter kini semakin mengambil alih traffic citizen journalism dalam bentuk ini. Lihat saja setiap penayangan acara Indonesia Mencari Bakat di TransTV, maka keyword Nonton IMB hampir pasti jadi trending topics. Tidak hanya itu, peserta kontes tersebut: Putri Ayu, Brandon, Fay, Hudson adalah sebagian yang sempat nangkring di deretan Trendicng Topics. Demikian juga terjadi dalam tayangan Indonesian Idol di RCTI. Keberhasilan Twitter didukung oleh kesederhanaan dan jangkaun penyebaran informasinya yang lebih luas dibandingkan facebook.

Bentuk berikutnya adalah sajian liputan yang lebih lengkap seperti layaknya liputan jurnalis profesional tetapi dilakukan oleh anggota masyarakat pada umumnya. Media yang selama ini bisa digunakan secara optimal hanyalah yang melalui internet. Minimal ada 3 jenis, blog pribadi, media citizen journalism yang ditumpangkan pada mass media seperti kompasiana pada http://kompas.com, dan pada situs yang murni mengandalkan citizen journalism seperti pada http://kabarindonesia.com (HOKI), http://swaberita.com, http://thirdreport.com atau http://wikipedia.org.

Pertanyaannya, mana bentuk dan media yang akan bisa survive? Saya kira kuncinya adalah pada interaktivitas, keterbukaan, serta konten yang kredibel dan variatif. Karena keunggulan citizen journalism adalah cakupan berita yang sangat luas, sifatnya yang egaliter, dan bahkan kecepatannya. Tetapi saya yakin tidak hanya satu bentuk atau media saja yang survive, karena karakter masyarakat yang beragam dalam kebutuhannya berperan dalam citizen journalism. Radio yang merupakan media yang sudah ”tua” pun masih sangat mungkin bisa survive karena sifatnya yang memungkinkan informasi bisa dikonsumsi pendengarnya sambil mengerjakan kegiatan lain, antara lain sambil menyetir.

Bagaimana menurut Anda? Ada masukan, koreksi atau pendapat lain mengenai citizen journalism? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.