Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, maka Lebaran tahun ini diwarnai dengan persaingan bisnis di jalur mudik. Persaingan ini cukup menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Berbagai posko layanan mudik bertebaran di sepanjang jalur mudik di seluruh Indonesia. Persaingan tampak lebih seru dengan pertempuran media promosi below the line, mulai dari spanduk, umbul-umbul, banner sampai digital signage.

mudikAgen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) mobil berlomba menyediakan jasa layanan purna jualnya. Sebagian di antaranya beroperasi 24 jam penuh. Nissan Motor Indonesia menyediakan 5 lokasi Nissan Rest Point (NRP) yang beroperasi 24 jam. NRP melengkapi 27 bengkel siaga yang beroperasi pada jam kerja biasa. Isuzu menyiapkan 8 lokasi posko siaga 24 jam, melengkapi 23 lokasi bengkel siaga. Dealer terbesar mobil Toyota, Auto2000 menyebar 11 lokasi posko siaga dan 4 bengkel siaga yang beroperasi 24 jam. PT Indomobil, ATPM dari mobol Suzuki menyiapkan 25 posko siaga di lima wilayah di Indonesia. Tiap posko biasanya juga dilengkapi berbagai layanan gratis, seperti kursi pijat, TV kabel, takjil gratis, dan lain-lain. Beberapa ATPM juga menyediakan mobile services yang siap melayani pemudik.

ATPM motor juga tak kalah seru bersaing, apalagi jumlah pemudik yang menggunakan motor terus meningkat dari tahun ke tahun. Yamaha menyediakan 3 pos jaga dan 8 bengkel jaga. TVS menggelar 4 posko di Jawa. Suzuki mendirikan 37 posko siaga di berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakannya dengan posko mudik ATPM mobil adalah adanya layanan pengawalan bagi rombongan pemudik yang menggunakan motor.

Persaingan posko layanan mudik yang juga tampak mencolok adalah antara operator telekomunikasi. Telkom Group menggelar 26 posko Telkom Peduli. Indosat menyediakan 138 posko mudik di berbagai daerah di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Posko Mudik XL didirikan di 27 lokasi di jalur utama arus mudik. Posko mudik operator telekomunikasi biasanya banyak dilengkapi dengan fasilitas gratis yang bersifat umum melayani kebutuhan pemudik (pijat, tempat istirahat, takjil, minuman, dll), melengkapi layanan spesifik terkait produk dan layanan telekomunikasi.

Persaingan yang juga tak kalah seru juga terjadi di produsen mie instan, minuman dalam kemasan, produk minuman suplemen dan beberapa produk lain.

Selain untuk meningkatkan company atau product image dan sebagai media promosi, ritual tahunan ini juga merupakan pasar yang potensial. Perkiraan jumlah uang yang dibawa para pemudik bias mencapai triliunan rupiah. Sehingga selain menyediakan fasilitas gratis, banyak posko mudik yang ditujukan untuk meningkatkan penjualan.

Sekilas skema layanan posko mudik dari berbagai produsen tidak jauh berbeda, membuka peluang untuk diferensiasi. Tetapi pada tahun ini diwarnai juga oleh perubahan skema layanan mudik yang disiapkan menuju skema yang lebih efektif dan efisien, belajar dari implementasi pada tahun-tahun sebelumnya. Honda, misalnya, tidak menyediakan posko siaga seperti beberapa tahun sebelumnya. Tahun ini, Honda lebih memilih mengoptimalkan bengkel resminya untuk menyediakan bengkel siaga di jalur mudik, terdiri dari 52 bengkel yang beroperasi pada jam kerja dan 13 bengkel yang beroperasi 24 jam. Suzuki mengalokasikan separo dari jumlah poskonya untuk fokus di jalur pantai utara Jawa. Mazda hanya fokus di H-3 sampai dengan H+3, saat posko layanan mudik lainnya biasanya digelar selama 2 minggu, dari H-7 sampai dengan H+7.

Lokasi posko layanan mudik pun terus dimodifikasi. Pada tahun ini, menurut pengamatan saya, tampak peningkatan jumlah posko layanan mudik yang ditempatkan di SPBU. SPBU memang merupakan salah satu tempat berhenti favorit bagi banyak pemudik, mengingat bahan bakar merupakan salah satu kebutuhan penting dalam perjalanan. Selain itu, SPBU biasanya dilengkapi dengan toilet dan area parkir yang memadai. Sasaran berikutnya yang menjadi lokasi posko layanan mudik adalah rumah makan atau rest area di jalan tol, terutama rumah makan yang selama ini menjadi preferensi banyak pemudik. Untuk tujuan mudik yang memakan waktu lama, rumah makan memang menjadi tempat penting untuk beristirahat dan mengisi perut. Beberapa lokasi lain yang dipilih antara lain: masjid, terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, alun-alun kota dan daerah rawan kemacetan seperti Nagrek, Kanci dan kawasan Puncak.

Jadi, dari berbagai informasi yang berhasil dikumpulkan di blog belajar marketing & sharing marketing ideas ini, tampak bahwa skema, lokasi dan bahwak objective dari posko layanan mudik ini terus berevolusi. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangannya adalah produktivitas, efisiensi, persaingan atau gerakan dari para kompetitor dan identifikasi kebutuhan dari pemudik. Posko layanan mudik juga menjadi langganan dari industri-industri tertentu, membuka peluang bagi pemain di industri yang selama ini belum terjun untuk membuat posko layanan yang baru dan unik. Beberapa pemain di industri yang menjadi langganan penggelar posko mudik pun tampak tidak banyak ikut bertempur di jalur mudik.

Bagaimanakah sebenarnya skema posko layanan mudik yang efektif, sesuai objective dari pendirian posko tersebut? Atau posko layanan mudik mana yang menjadi favorit Anda selama ini? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini. Masukkan pendapat Anda dengan klik “tinggalkan komentar” atau “leave a comment” di bagian atas tulisan ini, atau cukup isi Fun Polling di menu sebelah kanan bawah blog ini.

Many to Many Marketing Gaya Paris van Java Mall Bandung?

Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.

pvj-mallDiferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.

Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.

Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.

Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.

Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.

Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.