Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet

Menurut IDC (International Data Corporation), penjualan tablet PC pada tahun 2010 akan mencapai 7,6 juta unit. Pada tahun 2014 diperkirakan menjadi 46 juta. Bahkan menurut Forrester Research, di Amerika Serikat jumlah pengguna tablet PC akan lebih banyak dari pada pengguna netbook pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 penjualan tablet PC mencapai 23% dari total penjualan PC. Sebetulnya masih susah mendefinisikan tablet PC, masih belum ada kesepakatan yang jelas, tetapi menurut Wikipedia, tablet PC adalah laptop atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer. Mudahnya, tablet bagaikan perpaduan atau konvergensi dari smartphone dan notebook. Ukuran tablet PC bervariasi, sekitar 7 inchi sampai 9,7 inchi.

Sehingga, tidak aneh bila kita search di internet dengan keyword “will produce tablet”, maka hampir semua produsen PC, smartphone atau gadget ternama akan kita lihat dalam peluncuran atau rencana pengembangan tablet. Pertama, tentu saja Apple iPad. Disusul kemudian oleh produsen lain, seperti: Samsung, Toshiba, Acer, HP, Fujitsu, Lenovo, Motorola, Dell, RIM (Blackberry), dan bahkan Intel dan Amazon. Kecuali Nokia! Setelah kata “will” akan diikuti oleh “not”. Seperti diberitakan heretechs.com, dalam forum Nokia World 2010 di London, VP Product Nokia Media Group menyatakan Nokia tidak akan memproduksi tablet PC. Nokia masih akan berkonsentrasi pada kategori smartphone.

Ada apa dengan Nokia? Apakah Nokia tidak tertarik dengan angka-angka prediksi penjualan tablet seperti di paragraf pertama tulisan ini, atau masih trauma 2 kali kegagalannya masuk ke industri PC? Nokia pernah memproduksi PC tetapi didivestasi tahun 1991. Tahun 2009, Nokia kembali memproduksi PC: Nokia Booklet 3G, tetapi juga tidak terlalu berhasil di pasar. Beberapa waktu lalu, Nokia mengakui kalah di pasar smartphone, salah satunya karena tertinggal dari para pesaingnya dalam mengembangkan smartphone. Pada kelas smartphone, Nokia dihajar oleh Apple (iPhone), RIM (Blackberry). Kini Nokia juga dihadapkan pada banyak produsen yang menggunakan sistem operasi Android yang menunjukkan angka pertumbuhan penjualan hampir 900% pada kuartal kedua tahun 2010. Di Amerika Serikat, penjualan handset Android telah melampaui penjualan Apple iPhone. Lalu, apakah Nokia ingin mengulangi kesalahan dengan terlambat mengembangkan tablet PC?

Sudut Pandang yang Lain
Tunggu dulu, kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dari sisi yang berbeda. Seperti diungkapkan pada awal posting ini, menurut Forrester Research, pertumbuhan tablet PC akan memakan pasar netbook, bukan smartphone. Banyak hal bisa yang dengan efektif dilakukan dengan smartphone, dan tidak bisa efektif dilakukan dengan tablet PC. Pertama, melakukan panggilan telepon atau video call. Pengguna tablet PC harus menggunakan alat tambahan untuk melakukannya, seperti Bluetooth earset / earpiece. Kemudian memotret atau merekan dengan video. Saat ini Apple iPad tidak dilengkapi kamera. Walaupun ada kemungkinan produksi iPad berikutnya dilengkapi kamera, bayangkan bagaimana Anda akan memotret menggunakan alat yang berbentuk seperti buku dengan ukuran 7 sampai 10 inchi. Smartphone juga masih “mewarisi” keunggulan dari karakter handphone yang sangat portable, mudah dibawa dan digunakan hanya dengan 1 tangan. Tidak demikian dengan tablet PC yang efektif dioperasikan dengan 2 tangan. Dari segi ergonomis, tablet PC juga kurang sesuai untuk penggunaan jangka panjang seperti notebook yang memungkinkan telapak tangan bisa mempunyai posisi nyaman karena bisa “beristirahat” di bagian papan ketik.

Tantangan dan Pilihan
Jadi pasar smartphone masih mempunyai peluang untuk bertahan dan terus berkembang. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan Nokia. Walaupun begitu, jelas tergambar banyak sekali tantangan terhadap pilihan Nokia tersebut. Faktanya penjualan iPad sangat menjanjikan. Sekitar bulan Mei, Apple mengumumkan bahwa iPad telah meraih angka penjualan 1 juta unit hanya dalam waktu 28 hari. Angka-angka prediksi penjualan tablet PC di atas juga bukan tanpa dasar yang jelas. Peluang pertumbuhan di industri gadget yang menjanjikan ini yang akan dilewatkan oleh Nokia, apabila mereka memang tidak akan bermain di pasar tablet.

Lalu apa saja pilihan yang tersedia bagi Nokia bila tetap bertahan di smartphone? Salah satunya adalah dengan memperkuat pengembangan di smartphone besar. Produk yang masih membawa keunggulan smartphone dibandingkan tablet, tetapi mampu mendekati keunggulan tablet, salah satunya dari sisi kenyamanan layar yang lebih lebar. Misalnya dengan ukuran 5 inchi, seperti salah satu desain dari Dell yang mulai dikenal sebagai kategori big smartphone. Beberapa analis juga memprediksi akan adanya konvergensi antara smartphone dan tablet PC. Hal ini mengingatkan kita perang di pasar gadget: Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone atau Demam Buah di Gadget Market?

Tetapi publikasi keputusan Nokia tersebut masih menyimpan misteri, yang menjadikan studi kasus marketing ini menarik. Beberapa blog sempat menampilkan bocoran tampilan dari tablet yang direncanakan oleh Nokia. Beberapa analis juga sempat memprediksi Nokia akan meluncurkan tablet PC pada akhir 2010 seperti pernah diberitakan inilah.com pada bulan April 2010. Nokia saat ini juga mengembangkan sistem operasi bernama MeeGo bersama dengan Intel. Sistem operasi berbasis open source ini dipersiapkan untuk berbagai jenis hardware, antara lain handset, netbook, televisi dan tablet PC. Tablet WeTab dari Neofonie yang dipasarkan bulan September menggunakan sistem operasi MeeGo. Intel sendiri sempat membuat protoype tablet PC yang menggunakan MeeGo.

Bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai misteri keputusan Nokia dalam studi kasus pemasaran ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Fondasi Marketing 3.0 ala “Wedus” Jogja

Kaos Wedus JogjaPhilip Derrice Frankfureter Kotler atau yang sering dikenal dengan Philip Kotler, salah satu Global Marketing Guru, pada tahun 2009 menjadi co-author buku “Chaotics: The Business of Managing and Marketing in The Age of Turbulence” bersama John Caslione. Kemudian disusul pada tahun 2010, bersama Global Marketing Guru dari Indonesia: Hermawan Kartajaya dan Iwan Setiawan menyusun buku “Marketing 3.0”. Apa hubungan kedua buku yang diterbitkan pada waktu yang berdekatan tersebut? Dalam Chaotics, Kotler menyampaikan bagaimana dalam era sekarang adalah era turbulensi di mana terjadi banyak ketidakpastian pada banyak aspek, yang ditandai terutama pada ketidakpastian siklus ekonomi dunia dan perubahan perilaku serta preferensi pelanggan. Nah…. Marketing 3.0 sangat tepat untuk menyikapi perubahan perilaku dan preferensi pelanggan dalam era turbulensi tersebut.

Posting kali ini akan mengupas apa tantangan mendasar dalam menerapkan konsep marketing yang baru ini, seperti posting sebelumnya mengenai tantangan implementasi konsep New Wave Marketing: “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”. Studi kasus marketing yang akan digunakan untuk belajar Marketing 3.0 adalah perjalanan awal kaos khas Jogja dengan brand ”Wedus” dalam menembus kompetisi pasar kaos khas Jogja yang cukup ketat.

Perkenalan saya dengan kaos ”Wedus” terjadi dalam perjalanan mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur, melalui Jogja, tempat kelahiran kaos ”Wedus”. Ternyata perjalanan mudik selalu membawa banyak inspirasi dalam proses belajar marketing, seperti studi kasus marketing “Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant”, “Low Cost Carrier versi Jogja” dan “Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik”.

Perubahan mendasar pada perilaku dan preferensi pelanggan akhir-akhir ini adalah pelanggan yang semakin cerdas dan semakin kurang percaya dengan aktivitas pemasaran dari produsen. Hal ini didukung oleh pelanggan yang semakin terhubung dalam banyak jaringan dan komunitas, terutama melalui media internet. Oleh karena itu, konsep marketing pun juga harus ikut berubah agar produsen mampu mempertahankan kelanjutan bisnisnya. Dalam Marketing 3.0, konsep intinya adalah evolusi dari product-driven market pada Marketing 1.0, menjadi Differentiation pada Marketing 2.0 dan kemudian pada Marketing 3.0 bergeser ke Value of Product to Consumers Emotion. Jadi salah satu kata kuncinya adalah ”emosi”, seperti pada sub judul bukunya, “From Products to Customers to the Human Spirit”.

Tantangan mendasar penerapan Marketing 3.0 adalah bagaimana menciptakan keterkaitan emosi dengan pelanggan melalui value yang ditawarkan melalui produk dan layanan secara keseluruhan. Dengan dasar itulah, maka salah satu dari 6 penggerak utama kredibilitas brand dalam konsep Marketing 3.0 adalah “Authenticity”. Di mana untuk mencapai authenticity diperlukan nilai-nilai real & sincere atau ketulusan dari produsen. Bagaimana mungkin kita berusaha menciptakan keterkaitan emosi antara value dari produk dengan pelanggan kalau produsen tidak mempunyai keterkaitan emosi yang tulus dengan produknya sendiri? Inilah tantangan mendasar dan terberat, karena di dalam setiap bisnis, obyektif finansial hampir selalu menjadi yang terdepan, menggerus idealisme dan ketulusan, yang sering terjadi seiring berkembangnya bisnis dan struktur organisasi.

Hal inilah yang membuat saya sangat tertarik dengan Kaos “Wedus”. Saya sempat berdialog dengan penggagas konsep kaos “Wedus” tersebut dan mengamati bagaimana desain dan aktivitas pemasarannya yang baru berusia 2 bulan. Yang kemudian saya tangkap adalah, usaha ini berawal dari idealisme penggagasnya yang mempunyai obyektif bukan hanya finansial. Konsep kaos ini merupakan bagian dari perjalanan emosi para penggagasnya dalam proses menjadi diri sendiri. Emosi dan nilai-nilai tersebut coba digali dan dituangkan dalam karakter desain yang menggunakan ungkapan dalam bahasa Jawa dan menjadi media “update status” penggunanya, seperti biasa dilakukan banyak orang melalui social media, seperti facebook atau twitter. Penggunaan bahasa Jawa, sesuai dengan bagaimana mereka melihat pasarnya, yaitu orang Jawa, orang yang berbahasa Jawa, Javanese people atau mereka yang mempunyai keterkaitan emosi dengan Jawa, khususnya Jogja. Berbagai ungkapan dalam bahasa Jawa (seperti terjadi juga pada bahasa lain) memang terkadang sangat susah untuk diterjemahkan dalam bahasa lain, karena konteks dan filosofi yang berbeda. Penggunanya diharapkan mampu menggunakan kaos ini sebagai media komunikasi kepada lingkungannya yang berpijak dari kebutuhan target pasarnya untuk bereksistensi dalam komunitas dan lingkungannya..

Uniknya lagi konsep distribusinya adalah menggabungkan outlet kaos dengan coffe shops. Saat ini sudah ada 3 coffee shops dengan brand “NYOHI NYOHI”. Lokasinya di kompleks kaki lima Jalan Demangan Baru Jogja, Jalan AM Sangaji utara STM Jetis Jogja dan Jalan Raya Yogya – Klaten. Dalam bahasa plesetan Jogja, Nyohi Nyohi berarti Kopi Kopi. Salah satu counternya juga hadir di deretan kaki lima jalan Malioboro, salah satu tujuan utama wisata di Jogja.

Dalam persaingan kaos khas Jogja yang ketat, mereka berusaha konsisten menjadi dirinya sendiri dan menjaga keterkaitan emosi dengan value produk dan pelanggannya. Terus menghindarkan diri dari kecenderungan menjadi sekedar komoditas kaos oleh-oleh. Walaupun demikian, dalam usianya yang baru 2 bulan, tentu saja ada beberapa peluang pengembangan yang terbuka. Antara lain penajaman targeting dan positioning, meningkatkan brand awareness di pasar melalui desain dan komunikasi pemasaran, dan integrasi promosi melalui media konvensional dan new media. Tetapi sesuai kredo kedua dari 10 kredo Marketing 3.0, penggagas kaos Wedus menyatakan terus berusaha berinteraksi dengan pelanggannya dan siap berevolusi sesuai perubahan landskap bisnisnya. Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai tantangan dan fondasi Marketing 3.0? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.