Akuarium di Tepi jalan

Masih pagi, warung kopi baru saja buka. Dari luar, tampak bagian dalam warung kopi dari sela kaca yang bertuliskan nama tempat itu. Beberapa baris meja dan kursi yang masih kosong, diterangi sebaris lampu hias, cahayanya berwarna putih kekuninggan berpendar ke segala arah. Musik pagi mulai terdengar membangkitkan suasana hati. Dua orang tampak sudah sibuk di balik meja counter layanan. Entah apa yang mereka kerjakan.

Sejenak kemudian, pintu depan dibuka dari luar. Seseorang masuk dengan pelan-pelan. Pakaiannya sederhana, tas ransel lusuh di punggungnya. Topi yang tampak sudah lepas jahitannya di sana-sini, melindungi bagian kepalanya dari panas terik Jakarta. Tangan kanannya memegang erat tumpukan koran dan majalah, barang dagangannya. Maju ragu-ragu, langkahnya tampak terasa berat, mendekati counter layanan dekat mesin kasir.

Lalu, terdengar suaranya menyapa barista di seberang, “Mas, ada lowongan pekerjaan? Emm….. ini untuk anak saya. Dia lulusan SMA, tapi masih nganggur. Sekarang kerjaannya cuma main aja… sama main hape”.

Selanjutnya terdengar beberapa baris dialog antaranya dan barista yang berbagi pengalaman mengikuti pelatihan menyeduh kopi dan menjadi karyawan di tempat itu. Sang barista tampak sabar menjelaskan semuanya dan sempat mengarahkan tangan ke arah jalan, “…mungkin ada lowongan di seberang jalan, pak”.

Gurat dan lekuk di wajah bapak penjual koran tidak mampu menahan semangatnya. Seperti akuarium di pinggir jalan, yang mampu membatasi gerak ikan tapi tidak mampu menahan keindahannya, menumbuhkan kekaguman di hati dan pikiran orang-orang yang melintas.

Anaknya itu, seharusnya melihat ini baik-baik, dan menghancurkan akuariumnya sendiri, lalu membebaskan semangat, imajinasi, keringat, darah dan karyanya.

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” –maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata (Amsal 6:9-11).

This entry was posted in Life Lessons. Bookmark the permalink.