Marketing Indonesia With The Power of the Crowd

Pada tanggal 15 Agustus 2011, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menarik diri dari keikutsertaan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis New Seven Wonders of Nature. Sebab utamanya adalah indikasi ketidakprofesionalan pengelolanya, yaitu New Seven Wonders of Nature Foundation. Laporan lengkapnya ada di “Komodo Menjadi Sarana Pemersatu Bangsa”.

Tetapi Pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan Marketeers berinisiatif untuk tetap mempromosikan Taman Nasional Komodo dengan tema The Real Wonder of the World. Beberapa aktivitasnya antara lain Concert for Komodo pada tanggal 30 Juli 2011, Komodo Apps Challenge, Counting Down Live Streaming Komodo Dragons Hatching dari Prague Zoo, Komodo Night di Opera Point Marquee, Sydney Opera House, 9 September 2011 dan di Crystal Garden Navy Pier Chicago, 22 September 2011. Yang menarik dari inisiatif promosi TNK tersebut adalah pemberdayaan netizen Indonesia untuk turut mendukung. Salah satu buktinya, pada gelar acara Concert for Komodo,  #komodorealwonder berhasil menjadi trending topic di Twitter. Cara pemasaran horizontal ini sebagai salah satu antisipasi terhadap keterbatasan alokasi anggaran promosi pariwisata Indonesia. Sebagai  perbandingan, menurut Menbudpar Jero Wacik yang saya kutip dari tabloiddiplomasi.org, dana promosi melalui media massa untuk Visit Indonesia Year pada tahun 2008 yang lalu adalah sebesar 3 juta dollar. Sedangkan pemerintah Malaysia mengalokasikan dana promosi sebesar 25 juta dollar untuk kegiatan Visit Malaysia Year tahun 2007. Tetapi terbatasnya dana promosi bukan berarti harus melupakan efektivitas promosi. Dengan pemberdayaan masyarakat pengguna internet, diharapkan efektivitas promosi pariwisata Indonesia akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya dengan iklan di media massa konvensional. Low cost high impact. Bayangkan potensi seperti ini kita gunakan untuk memasarkan berbagai potensi pariwisata Indonesia yang begitu beragam.

Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2011, gerakan nasionalisme netizen yang sekaligus memasarkan Indonesia di mata dunia juga mulai gencar. Inisiatif http://17an.org mulai didukung oleh berbagai komunitas. Inisiatif tersebut adalah upaya untuk mencapai 1.781.945 tweet atau SMS dengan hashtag #17an untuk mengibarkan (secara digital) bendera Merah Putih sampai ke puncak. Kita dapat memantau gerakan ini di http://17an.org dan akun @ID_17an di Twitter. Para netizen sudah mulai bergerak melalui berbagai media di internet untuk mendukung gerakan ini, antara lain melalui Twitter, Facebook, Google+ atau melalui blog.

SITTI, sebuah platform iklan online kontekstual berbahasa Indonesia yang berdiri tahun 2010 juga turut mendukung. Pada tanggal 17 Agustus 2011, SITTI akan menayangkan iklan layanan masyarakat yang diprakarsai oleh http://17an.org di seluruh situs yang memasang iklan dari SITTI.  Hal ini saya ketahui dari surat pemberitahuan dari administrator SITTI pada tanggal 16 Agustus 2011. Beberapa tokoh masyarakat yang juga netizen juga mulai tampak ikut mendukung gerakan ini melalui berbagai social media.

Dengan jumlah pengguna facebook sebanyak 39.204.200 atau kedua terbanyak di dunia dan sumbangan 15% dari total tweet di Twitter adalah tweet dari Indonesia, maka bukan tidak mungkin gerakan tersebut akan mencapai sasarannya. Gerakan horizontal semacam ini memang akhir-akhir ini tampak sangat berpengaruh di seluruh dunia. Belum lama kita banyak membaca bagaimana peran social media sangat penting dalam gerakan revolusi di berbagai negara di Timur Tengah, terutama di Mesir. Bahkan Perdana Menteri Inggris sempat mengkhawatirkan peran social media dalam kerusuhan di Inggris yang meluas di beberapa kota pada bulan ini. Potensi gerakan horizontal ini sangat besar dan akan lebih baik apabila digunakan untuk bersama membangun sesuatu yang positif.

Jadi, tertarik untuk bersama membangun Power of the Crowd dalam memasarkan Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia? Silakan bergabung melalui http://17an.org. Dirgahayu Indonesia!

3 Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis

Indonesia ternyata kini semakin menjadi perhatian dunia. Salah satunya karena statistik terkait keterlibatannya dalam dunia social media. Coba kita perhatikan data berikut ini. Jumlah akun facebook dari Indonesia sebanyak 38,5 juta atau terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Menurut salingsilang.com, Indonesia berkontribusi terhadap 15% dari total tweet di Twitter. Bukan hal aneh apabila kemudian ComScore menyebutnya sebagai “the most Twitter addicted nation”. CNN Tech merilis artikel “Indonesia: Twitter Nation”.

Maka pelaku bisnis pun mulai sadar beramai-ramai  masuk dalam percakapan di berbagai social media. Berbagai opini dari banyak pakar pun akan banyak kita temukan yang mengungkapkan pentingnya social media dalam pertumbuhan bisnis di era pasar yang horisontal sekarang ini. Antara lain untuk membangun kedekatan dengan pelanggan dan pasar. Di media tersebut kita juga bisa menemukan banyak masukan atau umpan balik bagi perusahaan. Co-creation juga akan mampu didukung penuh melalui interaksi dengan pelanggan melalui social media. Dan masih banyak lagi. Seiring trend tersebut, pertanyaan kontradiktif mencuat, perlukah bisnis kami melakukan engagement di social media? Banyak artikel dan pendapat yang sudah mengulas pentingnya bisnis melakukan engagement di social media, tetapi studi kasus pemasaran kali ini akan mengulas sebaliknya. Berikut ini beberapa alasan bagi bisnis Anda untuk melupakan social media.

Pertama, apabila mindset Anda masih memandang social media hanyalah media lain di samping media konvensional seperti TV, majalah, surat kabar atau radio. Di media konvensional, biasanya kita akan menggunakannya sebagai tempat untuk menempatkan iklan produk dan berharap ada konversi ke penjualan. Social media is different. Sesuai namanya, social media adalah tempat bersosialisasi. Pada media tersebut, ekspektasi penggunanya adalah bertemu dan berinteraksi dengan teman dan kerabat. Walaupun iklan di facebook menjanjikan targeted advertising dengan iming-iming efektivitas yang lebih tinggi, tetapi berapa dari kita yang memperhatikan iklan di sebelah kanan “wall”? Ini adalah tempat untuk pertemanan, bukan tempat untuk menjual. Masuk ke social media bagi bisnis bukan lagi untuk memasang iklan atau memberi penawaran produk, tetapi untuk bergabung dalam conversation, sebagai teman.

Kedua, bisnis Anda kurang berkomitmen pada kualitas dan customer relationship management. Masuk ke social media tanpa adanya komitmen pada kualitas dan customer relationship, akan menjadi bumerang. Gambaran yang mudah adalah “wall” di fan pages perusahaan akan dipenuhi oleh keluhan pelanggan atau skenario terburuknya, akan dipenuhi oleh sindiran atau umpatan. Berita buruknya di social media, keluhan pelanggan, sindiran dan umpatan tersebut akan dilihat oleh lebih banyak orang.

Ketiga, jika tidak punya perencanaan komprehensif tentang bagaimana bisnis Anda akan menggunakan interaksi di social media. Seperti alasan kedua, bila tanpa perencanaan yang jelas maka keputusan masuk ke social media bisa menjadi bumerang. Banyak yang harus kita persiapkan. Bagaimana kita akan memberi nilai pada kanal percakapan ini kepada para fan atau follower. Bagaimana kita akan merespon setiap percakapan yang terjadi, termasuk setiap inquiry, keluhan atau bahkan umpatan. Bila kita tidak siap merespon, the conversation will go wild. Tanpa nilai yang jelas maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, kanal social media dari bisnis Anda akan segera ditinggalkan. And the conversation is dead. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, percakapan yang sudah berhasil diinisiasi tidak akan bisa memberikan nilai bagi perusahaan. Tanpa nilai yang jelas, maka sumber daya perusahaan tidak akan berpaling kepada aktivitas di social media. Selanjutnya hal ini akan berdampak pada konsistensi keterlibatan bisnis dalam social media. Percakapan tidak akan mampu berkembang sehingga kontribusinya pun akan semakin melemah.

Lalu bagaimana seharusnya mengelola social media untuk bisnis. Ini adalah salah satu referensi , khususnya untuk SME (Small Medium Enterprise): Social Media Marketing for SME. Bagaimana menurut Anda? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Indah Dewi Pertiwi Against The Chaos

Badai kekacauan menghantam industri musik Indonesia. Hmm… mungkin kalimat tersebut terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi industri musik Indonesia saat ini. Tapi coba kita ikuti beberapa fakta berikut ini. Menurut pengamat musik Bens Leo, pada tahun 2009 hanya terdapat 15 juta penjualan CD musik Indonesia dengan stiker pajak lunas, kata lain dari CD legal. Kondisi ini menurun drastis dari kondisi pada tahun kejayaan industri musik Indonesia pada periode tahun 2000 – 2005. Bayangkan pada tahun 2004, untuk 1 album saja, misalnya “Bintang di Surga” dari Peter Pan, bisa terjual 3 juta keping CD.

Hal ini berarti pembajakan musik sudah merajalela di Indonesia.  Menurut PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) penjualan lagu bajakan tahun 2008 sekitar 550 juta unit (kaset dan CD). Kerugian negara yang ditimbulkan bisa mencapai  Rp1,2 triliun dari potensi pajak yang hilang. Kerugian artis dan produser lebih besar, sekitar Rp2,7 triliun. Kondisi ini semakin memburuk dengan semakin mudahnya melakukan penggandaan rekaman musik melalui media digital, dan belum optimalnya penegakan hukum terhadap kasus pembajakan musik. Buktinya dalam empat tahun terakhir rekor penjualan album musik dicapai oleh Cinta Laura “hanya” mencapai 1 juta kopi pada awal 2010.

Tantangan bagi para pelaku industri musik belum berhenti sampai di situ, terutama untuk para artis dan produser. Fenomena pasar yang disebut dengan long tail juga harus menjadi perhatian. Istilah ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dalam bukunya yang dirilis tahun 2004. Dengan fenomena pasar yang semakin horisontal dan semakin banyaknya pilihan, statistik distribusi kategori produk menunjukkan bentuk long tail. Artinya total jumlah penjualan item “non-hit” semakin besar, atau penjualan item yang masuk kategori “hit” semakin menurun porsinya. Demikian juga dengan industri musik, yang mulai didominasi distribusi dalam bentuk digital.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk bisa sukses dalam industri musik Indonesia. Nah… sangat menarik untuk kita coba ikuti studi kasus pemasaran album musik Indah Dewi Pertiwiyang bertajuk “Hipnotis”.  Sebagai pendatang baru, Indah Dewi Pertiwi cukup fenomenal dalam kondisi industri musik Indonesia yang tertekan. Dalam 5 bulan, album “Hipnotis” terjual 1,2 juta keping. Bagaimana pencapaian tersebut bisa diraih? Jawabannya adalah new wave marketing.

Indah Dewi Pertiwi bersama Keci Music terus memperkuat Clarification atau Positioning dalam konsep new wave marketing. Klarifikasi ini semakin kuat dengan hadirnya video klip terbarunya. Judul video klipnya adalah Hipnotis, versi II. Video klip ini dibuat secara kolosal hasil kerjasama Keci Music, KFC, Telkomsel dan Flexi memperkuat karakter inovatif yang kelihatannya coba dilekatkan kepada Indah Dewi Pertiwi. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali melihat video klip kolosal Indonesia sebelum ini. Sehingga hadirnya klip ini cukup memberi warna bagi industri musik Indonesia.

Kolosal? Hal ini menjadi Coding atau diferensiasi melalui penekanan pada kreativitas dan inovasi yang superior. Mari kita cermati: pertama, video klip ini adalah yang pertama di Indonesia  dalam menggunakan teknologi Interactive Augmented Reality. Catatan ini diakui oleh Museum Rekor Indonesia. Sepanjang klip ini, kita memang akan disuguhi sentuhan teknologi tinggi dalam tiap scene. Beberapa scene sepertinya terinspirasi dari film-film yang menggunakan efek spesial berteknologi tinggi. Di antaranya seperti:  video musik Janet Jackson & Michael Jackson: “Scream” yang bernuansa putih, film “Terminator”, “Transformer”, “i,robot” dan “2012”. Kedua, video ini berdurasi 8 menit 15 detik, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata video musik yang biasa kita saksikan. Ketiga, banyak penari terlibat dan penampilannya mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Indah Dewi Pertiwi sempat berlatih menari dan cara perform kepada Luam Keflezgy selama dua minggu di Amerika Serikat. Luam adalah koreografer yang sempat melatih Rihanna, Beyonce dan Kanye West.  Keempat, setting lokasinya pun berada di beberapa tempat eksotis di Indonesia, antara lain Pantai Tanjung Aan Lombok, Air Terjun Sendang Gile di Lombok Tengah, di atas sebuah kapal di Laut Jawa, beberapa tempat di Jakarta dan kota Ambarawa. Ambarawa adalah tempat terjadinya pertempuran bersejarah mempertahankan kemerdekaan melawan pendudukan Sekutu dan NICA: Perang Palagan. Dalam video ini Indah Dewi Pertiwi juga digambarkan tengah bernyanyi di tengah suasana perang dengan peluru yang berseliweran serta beberapa ledakan bom. Kelima, biaya pembuatannya yang dikabarkan mencapai kisaran 1 miliar rupiah.

Dalam peluncurannya pun diwarnai dengan nuansa new wave marketing yang kental. New media, seperti blog dan social media menjadi preferensi utama. Antara lain diwujudkan dalam blogging contest bekerjasama dengan blogdetik. Kontes ini juga mememanfaatkan social media seperti twitter. Sensasi video klip kolosal yang diciptakan diharapkan mampu menjadi amunisi dalam membangkitkan buzz atau conversation di berbagai social mediaCo-creation dalam membuat review video klip tersebut adalah usaha untuk semakin membuat Character atau personal brand Indah Dewi Pertiwi semakin relevan dengan target marketnya. Sebelumnya, pada awal Januari Hipnotis Dance Competition pun digelar untuk mempopulerkan single keduanya. Penjualan album secara langsung melalui 390 restoran KFC di seluruh Indonesia dilakukan untuk bisa langsung menjangkau komunitas yang relevan. Cara ini juga efektif mengantisipasi maraknya pembajakan musik di Indonesia dan meningkatkan margin keuntungan. Apalagi toko-toko musik mulai bertumbangan, bahkan juga pengusung nama-nama besar, seperti Disc Tarra atau Aquarius.

Bagaimanakah pendapatmu tentang video klip tersebut? Mampukah menjadi salah satu amunisi penting dalam mendobrak chaos dalam industri musik Indonesia? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Haruskah Crowd Sourcing Menjadi Solusi Transformasi (Logo) Starbucks?

Ini adalah posting studi kasus pemasaran dari kopicoklat.com yang memenangkan lomba artikel majalah Marketeers mengenai perubahan logo Starbucks. Artikel ini juga dimuat pada blog dan majalah Marketeers yang terbit bulan Februari 2011. Selamat menikmati 🙂

Rabu, 5 Januari 2011 menjadi tanggal penting bagi Starbucks. Starbucks, yang hadir melalui sekitar 15.000 outlet di 42 negara, memperkenalkan logo baru. Perubahan logo adalah hal biasa dalam perjalanan sebuah bisnis, termasuk Starbucks. Tampak biasa, karena perubahan logo yang terjadi seperti sebuah evolusi. Dari tiga perubahan logonya, semuanya merupakan zoom-in dari tokoh Siren, sebangsa putri duyung dalam mitologi Yunani.

Tetapi tunggu sebentar, kali ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Pertama, perubahan logo ini sejalan dengan transformasi bisnis Starbucks, yang akan menggali peluang lain dalam bisnis makanan dan gaya hidup. Starbucks menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnisnya setelah ekspansi bisnis ke berbagai negara. Kedua, dari berbagai situs dan media di internet, mayoritas respon masyarakat bernada negatif. Ketiga, walaupun perubahan logo ini seperti evolusi, tetapi bisa dianggap sebuah revolusi. Anggapan ini dikuatkan oleh respon yang mayoritas negatif, yang biasanya menyertai sebuah perubahan besar.

Tokoh Siren keluar dari “kungkungan” lingkaran luar yang selama ini menaunginya. Tidak ada lagi lingkaran, tidak lagi tertulis nama Starbucks di dalam lingkaran dan tidak ada lagi kata “Coffee” di dalam lingkaran tersebut. Hal ini mewakili transformasi bisnis Starbucks. Juga mewakili kehadirannya yang semakin luas di berbagai belahan dunia. Nama Starbucks yang menggunakan alfabel latin, mungkin tidak lagi relevan saat ditampilkan di Cina atau negara lain yang tidak menggunakan alfabet latin. Saat ini, di Cina terdapat sekitar 400 outlet Starbucks. Fenomena ini mirip yang terjadi pada Nike atau Apple, yang melepas nama merk dari logonya.

Warna hijau kini juga tampil sendiri. Selama ini paduan hijau dan hitam seperti sudah melekat pada brand Starbucks. Paduan warna ini sebetulnya mewakili transformasi Starbucks pada tahun 1987, saat Howard Schultz mengambil alih Starbucks. Schultz kembali, setelah sempat keluar dan mendirikan Il Giornale coffee house yang bergaya espresso café yang pada awalnya ingin diterapkan di Starbucks, tetapi ditentang oleh para pendiri lain. Kemudian, logo Starbucks awal dikawinkan dengan logo Il Giornale, dan sejak itu hitam-hijau menjadi nyawa Starbucks.

Selain kata “Coffee”, lingkaran luar, tipografi yang digunakan dan tokoh Siren, warna hijau-hitam dianggap telah mewakili Starbucks sebagai “tempat ketiga”. Tempat ketiga setelah rumah dan kantor yang menjadi tujuan utama para pelanggannya. Tempat ketiga yang melambangkan gaya hidup dan kesan relaks, kenyamanan, melepas penat setelah jam kerja dan tempat ngobrol.

Nah, mampukah logo tersebut mewakili transformasi bisnis sekaligus mewakili gaya hidup para pelanggannya? Yang pasti logo baru sudah mampu mewakili transformasi bisnis yang dijalaninya. Tetapi respon negatif dari pasar, mitra kerja dan pelanggannya merupakan indikasi gaya hidup yang diembannya terancam tidak terwakili. Padahal inilah yang menjadi salah satu keunggulan kompetitifnya selama ini.

Pada pertengahan dekade 80-an, fokus bisnis yang keluar dari keunggulan kompetitif tersebut menyebabkan penurunan kinerja bisnis Starbucks. Banyak outletnya yang mulai bergeser dari gaya hidup yang ditawarkan sebelumnya, sehingga sempat dianalogikan menjadi seperti Wal-Mart Coffee. Analogi yang mengarah kepada pergeseran citra, seperti kedai kopi cepat saji yang menawarkan kepraktisan. Saat Howard Schultz kembali tahun 1987, banyak outlet ditutup untuk mengembalikan fokus ke konsep gaya hidup “tempat ketiga”. Perubahan logo saat itu juga sukses, karena mampu mewakili transformasi bisnis sekaligus tetap mewarisi gambaran gaya hidup ala Starbucks.

Nah, selanjutnya bagaimana Starbucks harus menyikapi perkembangan respons pasar terhadap logo baru ini menjadi menarik. Langkah Gap, produsen pakaian kasual yang membatalkan logo baru karena respon negatif pelanggan yang merasa gaya hidupnya tidak terwakili logo baru, bisa jadi referensi. Akhirnya Gap menggunakan crowd sourcing untuk eksplorasi ide logo baru yang tepat.Crowd sourcing memang bisa menjadi alternatif bagi Starbucks, tetapi esensinya adalah Starbucks harus mampu mendengar dan menyikapi conversation para pelanggannya dalam isu ini dan memastikan logo barunya mampu mewakili gaya hidup pelanggannya.

Pertarungan Citizen Journalism (1)

Beberapa bentuk dan media Citizen Journalism kini sedang berjuang demi keberlangsungan hidupnya di tengah marak dan tumbuhnya new media. Menurut wikipedia, Citizen journalism adalah konsep yang memungkinkan anggota masyarakat untuk berperan aktif dalam proses mengumpulkan, melaporkan, menganalisa dan mendistribusikan berita dan informasi. Yang membedakannya dengan bentuk collaborative journalism, adalah tidak adanya batasan bahwa peliput berita harus seorang jurnalis profesional. Semua anggota masyarakat bisa menjadi bagian di dalamnya. Sedangkan new media yang saya maksud adalah sebutan untuk media interaktif, terutama melalui koneksi internet. Media yang lebih bersifat horizontal, karena sifat komunikasinya yang lebih terbuka dan egaliter, walaupun beberapa di antaranya tetap melalui suatu proses moderasi. Media ini semakin penting dalam era new wave marketing.

Sekarang coba kita telusuri, bagaimana masyarakat sekarang bisa berperan aktif dalam citizen journalism. Pertama, mari kita bicara mengenai medianya. Media yang bisa digunakan tentu saja media yang interaktif. Tetapi yang dibutuhkan bukan sembarang interaktif, tetapi yang responsivitasnya cukup tinggi, sehingga memungkinkan terjadinya intensitas interaktif yang memadai. Beberapa di antaranya adalah Televisi, Radio, dan tentu saja Internet.

Selanjutnya, bagaimana dengan bentuk citizen journalismnya? Bentuk yang paling sederhana adalah komentar pada lipuran berita, artikel, foto atau lainnya yang menurut J. D. Lasica disebut dengan Audience participation, seperti saya kutip dari wikipedia. MetroTV dan TVOne, stasiun televisi nasional yang menjadikan acara berita sebagai salah satu andalannya telah menggunakan bentuk ini. Contohnya adalah MetroTV dengan acara ”Suara Anda”. Interaktivitasnya dibangun dengan membuka saluran telepon bagi pemirsa untuk memberikan komentar. Tampaknya citizen journalism semakin penting, dan ini disadari oleh media traditional seperti surat kabar. Beberapa suratkabar go online baik melalui situsnya sendiri atau melalui social media, seperti facebook untuk membuka kanal interaktivitas bagi pembacanya untuk memberi komentar.

Bentuk berikutnya adalah kontribusi publik bukan hanya sebagai pendengar dan komentar tetapi sebagai penyaji berita, tetapi dalam format yang sederhana dan singkat. Media yang sering digunakan adalah radio dan internet. Beberapa radio, seperti Elshinta atau Radio Suara Surabaya mengandalkan pendengarnya untuk beberapa muatan berita, terutama traffic report. New media semakin mengambil peranan untuk bentuk ini, dan yang paling seru adalah social media, terutama facebook dan twitter. Contoh kecil, seorang teman yang pada bulan Juni lalu harus menempuh perjalanan Bandung – Surabaya menggunakan Kereta Api, akhirnya mengikuti jalannya pertandingan piala dunia melalui update status teman-temannya di facebook. Sejauh pengamatan saya, Twitter kini semakin mengambil alih traffic citizen journalism dalam bentuk ini. Lihat saja setiap penayangan acara Indonesia Mencari Bakat di TransTV, maka keyword Nonton IMB hampir pasti jadi trending topics. Tidak hanya itu, peserta kontes tersebut: Putri Ayu, Brandon, Fay, Hudson adalah sebagian yang sempat nangkring di deretan Trendicng Topics. Demikian juga terjadi dalam tayangan Indonesian Idol di RCTI. Keberhasilan Twitter didukung oleh kesederhanaan dan jangkaun penyebaran informasinya yang lebih luas dibandingkan facebook.

Bentuk berikutnya adalah sajian liputan yang lebih lengkap seperti layaknya liputan jurnalis profesional tetapi dilakukan oleh anggota masyarakat pada umumnya. Media yang selama ini bisa digunakan secara optimal hanyalah yang melalui internet. Minimal ada 3 jenis, blog pribadi, media citizen journalism yang ditumpangkan pada mass media seperti kompasiana pada http://kompas.com, dan pada situs yang murni mengandalkan citizen journalism seperti pada http://kabarindonesia.com (HOKI), http://swaberita.com, http://thirdreport.com atau http://wikipedia.org.

Pertanyaannya, mana bentuk dan media yang akan bisa survive? Saya kira kuncinya adalah pada interaktivitas, keterbukaan, serta konten yang kredibel dan variatif. Karena keunggulan citizen journalism adalah cakupan berita yang sangat luas, sifatnya yang egaliter, dan bahkan kecepatannya. Tetapi saya yakin tidak hanya satu bentuk atau media saja yang survive, karena karakter masyarakat yang beragam dalam kebutuhannya berperan dalam citizen journalism. Radio yang merupakan media yang sudah ”tua” pun masih sangat mungkin bisa survive karena sifatnya yang memungkinkan informasi bisa dikonsumsi pendengarnya sambil mengerjakan kegiatan lain, antara lain sambil menyetir.

Bagaimana menurut Anda? Ada masukan, koreksi atau pendapat lain mengenai citizen journalism? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Belajar dari Wafatnya Google Wave

Saya termasuk salah satu orang yang cukup antusias saat Google mengumumkan akan melakukan trial Google Wave pada tahun 2009 ( Google to Launch Google Wave Public Beta in Sept.). Dan masih banyak lagi netizen yang antusias dan kemudian mengirim pesan ke google untuk menjadi salah satu user, di antara 100.000 user yang direncanakan terlibat untuk mencoba Google Wave versi Beta. Beberapa orang yang terpilih Google untuk ikut mencoba, merasa bangga dan menyampaikannya pada teman dan komunitasnya. Pada waktu itu buzz atau words of mouth mengenai Google Wave menjadi sangat kencang.

Singkatnya, Google Wave adalah perpaduan antara e-mail, chat, blog dan banyak aplikasi google lain untuk berkolaborasi secara online. Aplikasi ini diproyeksikan untuk mampu menggantikan e-mail yang sudah dianggap aplikasi “kuno”.

Tetapi, pada tanggal 4 Agustus 2010Google mengumumkan untuk menghentikan pengembangan Google Wave. (RIP Google Wave). Salah seorang Senior Vice President Google mengatakan, alasan dihentikannya pengembangan Google Wave adalah user adoption yang tidak memenuhi harapan Google. Pada proses awalnya, sebelum mengarah ke 100.000 user trial, Google terlebih dahulu melakukan trial ke para sekitar 6.000 program developers. Kalau kita merujuk pada Technology Adoption Lifecycle-nya Geoffrey Moore, maka Google sudah mencoba masuk ke segmen Innovator dan Early Adopter. Tetapi persis seperti disampaikan Geoffrey Moore, maka titik kritisnya adalah di Chasm, atau jurang antara Early Adopter dan Mainstream Customers. Dan Google Wave akhirnya menjadi salah satu korban, masuk ke jurang tersebut.

Tetapi dari studi kasus marketing ini kita bisa banyak belajar marketing dari berbagai aspek. Pertama, produk yang terlalu complicate, rumit atau ribet akan susah diserap oleh pasar. John Naisbitt pernah mengungkapkan perlunya High Touch pada produk High Tech. Sehingga untuk realisasi konsep besarnya, Google perlu kembali berpikir keras bagaimana mendeliver preposisi tersebut dalam bentuk yang mudah digunakan oleh target pasarnya.

Kedua, buzz yang luar biasa – atau meminjam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya – Conversation yang luar biasa di seputar Google Wave, ternyata tidak menjamin penyerapan pasar yang baik. Sebuah pelajaran yang penting untuk para pemasar dalam era antusiasme terhadap digital marketing dan social media.

Ketiga, kabar baiknya, konsep Google Wave saya kira masih perlu dicermati. Buzz atau Conversation yang luar biasa saat peluncuran versi Beta-nya bukan tanpa alasan. Jadi, masih terbuka kemungkinan konsep ini dikembangkan melalui produk atau aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keempat, dibalik cerita kegagalan Google Wave, yang sebetulnya hanya satu cerita dari kegagalan aplikasi Google yang lain mengingatkan kita kepada cerita keberhasilan inovasi Thomas Alva Edison. Di balik sebuah inovasi yang sukses terdapat puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kegagalan. Jadi, keberanian mengambil resiko menjadi sangat penting. Saya kira respon Google yang cepat dalam proses pengembangan produk dan mekanismenya dalam mengembangkan inovasi bisa menjadi referensi.

Kelima, lagi-lagi merujuk pada Technology Lifecyle Adoption-nya Geoffrey Moore, untuk bisa masuk ke mainstream customers ternyata memang diperlukan produk yang siap 100%. Produk baru high tech yang belum siap sangat beresiko masuk ke chasm, jurang yang menganga di antara early adopter dan early majority.

Bagaimana menurut Anda? Ada pelajaran marketing lain yang bisa diambil? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Revolusi Layar Kaca

Dalam era pemasaran vertikal, media broadcast menjadi salah satu primadona. Slot iklan di televisi atau radio pada jam-jam yang disebut dengan “prime time” mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Efektivitas yang diharapkan dari promosi yang dipasang pada saat prime time pun begitu tinggi. Program televisi unggulan dengan rating tinggi pun sangat erat hubungannya dengan alokasi waktu saat prime time. Teknologi pada media yang berkarakter komunikasi satu arah menjadi salah satu faktor penentu kuatnya pengaruh prime time. Layar kaca pada ribuan dan bahkan jutaan pemirsa televisi menampilkan sajian yang sama, menyebabkan promosi yang ditampilkan pada prime time bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan pemirsa, baik yang merupakan target pasar maupun yang bukan target pasar dari produk terkait.

Tetapi dengan perkembangan teknologi sekarang, ada satu hal yang berubah. Kini sajian program televisi yang hadir di masing-masing layar kaca pemirsa bisa berbeda-beda walaupun pada stasiun televisi dan waktu yang sama. Teknologi IP-TV salah satunya, mempunyai fitur TV on Demand, memungkinkan pelanggannya untuk memilih menonton acara yang disukainya pada waktu yang ditentukan sendiri. Teknologi siaran televisi digital yang saat ini sedang trial di Jakarta, juga mempunyai fasilitas merekam siaran yang dipilih dengan cara sangat mudah. Kondisi ini menyebabkan prime time semakin lurang efektif. Lunturnya kesaktian prime time pada media broadcast ini juga diakui oleh Presiden CNN Jon Klein pada waktu itu : “ …. it’s hard to say there’s one particular daypart or hour of the day that matters more”.

Berkembangnya “new media” seperti online social media (facebook, twitter, friendster, hi5, dll) semakin membuat media broadcast tradisional semakin kehilangan kesaktiannya. Bagi kita yang belajar marketing sudah banyak membaca artikel atau buku yang menyajikan studi kasus mengenai kesaktian social media tersebut dalam membangkitkan buzz atau words of mouth. Dalam konsep new wave marketing dari Hermawan Kartajaya, dikenal dengan istilah many to many marketing atau era horizontal marketing. Kemudahan dalam mengakses online social media di manapun kita berada dengan semakin menjamurnya Blackberry, iPhone atau smartphone yang lainnya semakin membuat banyak pemirsa televisi yang beralih ke media baru (baca artikel sebelumnya Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone. Tumbuh pesatnya smartphone ini juga dipicu oleh kompetisi yang semakin ketat, seperti diungkap pada artikel Blackberry Baru 500 ribu-an, Tertarik?.

Fenomena ini juga diikuti dengan mulai lunturnya kesaktian rating. Content dengan rating tinggi tidak lagi bisa mendominasi seperti dahulu. Chris Anderson dalam bukunya “The Long Tail” menunjukkan kepada kita bahwa beberapa produk atau content dengan demand yang rendah atau mempunyai volume penjualan yang rendah, secara kolektif bisa bersaing atau bahkan melampaui market share dari produk atau content best seller atau box office. Kondisi ini tentunya dipicu antara lain oleh berkembangnya media yang lebih interakti, terutama yang berbasis internet.

Hasil riset The Nielsen Company pada tahun 2009 menunjukkan bahwa game console PlayStation 3 dan Xbox 360 pun berperan mengurangi jam menonton televisi, termasuk pada prime time. Dari hasil survey, para gamers lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain game daripada menonton televisi pada prime time. Survey Nielsen pada bulan Mei 2008 juga menemukan bahwa 6 juta pemirsa televisi di Amerika Serikat pada prime time telah beralih ke media lain. Sebagian dari 6 juta pemirsa tersebut masih menonton acara yang sama tetapi telah memilih waktunya sendiri melalui TiVo atau digital video recorder lainnya, streaming video di internet atau cable video on demand.

Kondisi ini semakin menambah keyakinan perlunya mulai fokus pada mengelola “conversation” dalam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya. Dalam conversation, peran social media dan komunitas menjadi penting, dibandingkan media vertikal yang pada era sebelumnya mendominasi pengelolaan promosi. Bagaimana mengelola conversation? Sekarang telah cukup banyak referensi dan buku marketing yang membahasnya, atau Anda sudah membaca atau mengimplementasikannya? Please share with us, atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Blue Ocean Strategy Gaya tvOne

Tampaknya tvOne sangat sadar bahwa diferensiasi menjadi salah satu kunci sukses dalam bersaing sebagai salah satu pendatang yang termasuk baru di antara para pesaingnya pada industri TV broadcasting nasional. Semboyan “Memang Beda” pun dipasang sebagai tagline yang memperkuat positioning statement-nya. Mari kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mengurai studi kasus marketing mengenai tvOne tersebut.

Intensitas persaingan di Industri TV broadcast di Indonesia memang terus meningkat dengan makin banyaknya pemain di industri ini. Penetrasi TV di Indonesia masih didominasi Free to Air (FTA) sebesar 75%, sedangkan Authorized PayTV baru mencapai 0,6% menurut salah satu sumber pada posisi tahun 2008. Dari ratusan stasiun TV yang memperoleh lisensi operasi, terdapat 10 FTA TV swasta berskala nasional yang menguasai market, yaitu RCTI, SCTV, Indosiar Visual Mandiri (IVM), Trans, TPI, Trans7, Global TV (GTV), ANTV, tvOne, Metro dan 1 stasiun TV milik negara, TVRI.

tvOne masuk ke industri ini pada tanggal 14 Februari 2008, yang merupakan transformasi dari Lativi. Transformasi ini seiring dengan pergantian kepemilikan dari mantan menteri tenaga kerja, Abdul Latief ke Aburizal Bakrie dan Erick Tohir. One pada nama tvOne bisa diasosiasikan sebagai singkatan dari Olahraga, News dan Entertainment. Akhir-akhir ini fokusnya lebih kepada Olahraga atau Sports dan News.

Sebagai pendatang baru, maka tvOne mencoba memposisikan diri berbeda dengan para pesaingnya. Sebelumnya stasiun TV swasta nasional terpolarisasi dalam dua kutub, yaitu satu sisi yang lebih berorientasi kepada muatan acara entertainment dan sisi lain yang lebih berorientasi pada tayangan berita. Sisi entertainment atau variety show diwakili oleh 8 staisun televisi, sedangkan pada sisi yang lain hanya diwakili oleh Metro. Langkah Metro terbilang cukup berani, karena rating TV nasional lebih banyak dikatrol oleh tayangan entertainment seperti sinetron, film seri/lepas, reality show, kuis, kontes, komedi atau talkshow. Dan dari rata-rata rating program TV, akhirnya memang Metro berada di bawah ke-8 stasiun televisi lainnya. tvOne mencoba membagi pasar dengan cara yang kreatif dan bermain di blue ocean, tidak secara langsung bertarung di kedua kutub tersebut. Maka masuklah tvOne dengan tayangan berita tetapi menggunakan penyajian yang lebih santai, atraktif dan fleksibel menjauhi kesan serius yang biasanya menjadi kesan pemirsa terhadap Metro. Format acara dan para anchor atau presenternya didesain untuk menyajikan berita dan informasi dengan lebih fun. Kunci dari Blue Ocean Strategy adalah diferensiasi. Studi kasus marketing mengenai diferensiasi juga terdapat pada artikel sebelumnya “Persaingan Posko Layanan di jalur Mudik”

Pertanyaannya, berhasilkah tvOne mengeksekusi positioning tersebut? Studi kasus marketing dalam eksekusi Blue Ocean Strategy ini sangat menarik bagi kita untuk sharing marketing ideas dan belajar marketing. Dari rata-rata rating TV Nasional, tvOne cukup berhasil menggeser Metro. Pada minggu IV bulan Oktober 2009, dari data sebuah lembaga survey, tvOne berhasil meraih share sebesar 5,0%, sedangkan Metro ”hanya” meraih share 2,2%. Tetapi ternyata tvOne belum berhasil menggeser stasisun televisi yang kokoh pada kutub entertainment. RCTI masih berada di puncak dengan share sebesar 17,9%. ANTV berada di posisi terendah pada kutub tersebut dengan share sebesar 5,2%.

Berdasarkan rating program TV harian, memang top rating masih dikuasai acara entertainment. Di puncak peringkat, akhir-akhir ini biasanya didominasi oleh trisula sinetron dari RCTI, yaitu: “Safa dan Marwah”, “Cinta dan Anugerah”, serta “Doa dan Karunia”. Masih sulit bagi program berita untuk masuk jajaran Top 10. Hanya sekali-sekali saja program berita bisa menusuk ke Top 20. tvOne juga pasti sadar akan kenyataan ini, maka sebagai mesin pendongkrak rating tvOne aktif mengakuisisi tayangan langsung olahraga, terutama sepakbola yang mampu masuk jajaran Top 10. Tayangan siaran langsung Liga Inggris dan beberapa pertandingan tim nasional telah menjadi bagian dari program tvOne dan terbukti efektif meraih rating tinggi. tvOne juga mempunyai acara entertainment, atau lebih tepatnya infotainment. Tetapi di kategori acara ini, infotainment bertajuk ”Expose” dari tvOne masih belum bisa mengalahkan infotainment dari stasiun televisi dari kutub entertainment, seperti “Silet” dari RCTI atau “Halo Selebriti” dari SCTV. Untuk tayangan informasi yang menghibur tvOne mungkin masih harus belajar dari Trans7 yang mampu menghadirkan tayangan edutainment “Si Bolang Bocah Petualang” dan “Laptop Si Unyil” yang beberapa kali mampu masuk ke jajaran Top 20.

Tetapi di tayangan berita, gaya penyajian ala tvOne mulai direspon dengan baik oleh pemirsa. ”Kabar Petang” tvOne sudah beberapa kali bisa mengungguli tayangan berita yang secara tradisi lebih menguasai rating, seperti ”Liputan 6” SCTV atau “Seputar Indonesia” RCTI.

tvOne juga tampak jago di tayangan berita liputan khusus. Salah satu andalannya adalah ”Breaking News” yang terbukti mencuri perhatian pemirsa televisi, seperti pada liputan peristiwa penggerebekan teroris oleh Densus88 di Temanggung dan Solo, liputan bencana gempa bumi di Padang dan Pariaman atau saat pemutaran rekaman telepon Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) pada kontroversi kasus korupsi yang melibatkan pimpinan KPK non aktif: Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Program ”Satu untuk Negeri” pun juga terbukti paling efektif menggalang dana bantuan dari pemirsa televisi untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat. Content liputan khusus yang mengandung kontroversi memang menarik, seperti yang pernah diulas dalam artikel “Miyabi Marketing”

Tetapi rating memang hanya salah satu indikator yang bisa digunakan. Dari sisi kualitas tayangan, tvOne juga mulai diakui. Menurut riset Yayasan Sains dan Estetika (SET), program tvOne juga paling unggul dalam menyajikan liputan Pemilu Legislatif tahun 2009 melalui tiga program unggulannya di kategori berita: ” Kabar Petang”, ”Kabar Malam” dan ”Kabar Pagi”, serta beberapa program unggulannya di kategori program khusus Pemilu, yaitu ”Kabar Pemilu”, ”Debat Partai”, ”Apa Kabar Indonesia Malam”, ”Uji Kandidat”, ”Interview Politik”, dan ”Jelang Pemilu Indonesia”. Kualitas dinilai oleh Yayasan SET melalui assessment terhadap informative content, social empathy, critical views, balance, factuality, objectivity dan public interest.

Bagaimana dengan aspek yang lain, efektifkah eksekusi Blue Ocean Strategy dari tvOne? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone

Akhir-akhir ini saya banyak menemukan artikel marketing yang mengulas Nokia vs Blackberry. Tetapi dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kali ini saya lebih tertarik untuk sharing marketing ideas dalam kebut-kebutan antara Blackberry dan iPhone. Dari laporan lembaga riset Gartner, pada tabel di bawah ini,, tampak bahwa pertumbuhan di pasar Smartphone menjadi milik HTC, RIM dan Apple. Tetapi bila dilihat market share-nya, maka tampak ”perseteruan” paling seru terjadi antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Market leader masih menjadi milik Nokia, tetapi dengan pertumbuhan 4,4% atau jauh dari ketiga pesaing terdekatnya, maka bila tidak ada perubahan signifikan, posisinya di puncak akan semakin lemah.

smart-phone-market

Banyak hal unik bila kita mencermati kebut-kebutan penjualan antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Sehingga banyak hal bisa jadi bahan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing tersebut. Salah satunya, keduanya mengandung unsur buah-buahan di brand yang menjadi mesin pertumbuhannya. RIM mengusung buah Blackberry, sedangkan buah Apple merupakan corporate brand yang menaungi iPhone.

Hal unik berikutnya adalah bisnis model serupa yang dikembangkan keduanya, yang juga membedakannya dengan Nokia yang mulai keteteran dalam mengejar pertumbuhan para pesaingnya tersebut. Bisnis model Blackberry dan iPhone adalah bisnis yang menggabungkan device, network dan application atau content seperti yang pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya: “Demam Buah di Gadget Market?”. Apple, sebelumnya memang sangat berhasil dalam mengembangkan ekosistem iTunes. Eksosistem ini menggabungkan device audio & video player iPod dengan content berupa berbagai macam musik dalam format digital di iTunes yang dihubungkan melalui koneksi jaringan internet. Ekosistem inilah yang membuat iPod dan iTunes sangat sulit untuk disaingi, walalupun setelah iPod banyak sekali mp3 player atau mp4 player diproduksi dengan berbagai merk dan harga yang jauh lebih murah. Apple iPhone pun dikembangkan dalam business model yang serupa, menantang Blackberry.

Business model ini menjadi salah satu key success factor Blackberry dan iPhone. Dari sebuah artikel di cnn.com baru-baru ini mengungkap adanya kemungkinan rencana iPhone untuk melebarkan sayap untuk menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat. Selama ini AT&T menjadi partner ekslusif iPhone untuk menyediakan layanan di Amerika Serikat. Rumor ini berkembang setelah terciumnya rencana iPhone untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “worldmode”. Sistem ini diharapkan akan menjembatani keterbatasan iPhone yang menggunakan teknologi W-CDMA (UMTS) yang tidak kompatibel dengan jaringan Verizon yang berbasis teknologi CDMA2000. Apalagi kontrak kerjasama eksklusif iPhone dengan AT&T akan berakhir tahun depan (2010). Verizon adalah pesaing terdekat AT&T pada pasar wireless di Amerika Serikat. Akhir tahun 2008, Verizon memimpin pasar dengan market share sebesar 30%, hanya berselisih 1% dengan AT&T dengan market share 29%.

Pada umumnya Apple iPhone ditawarkan dengan harga di atas Blackberry. Pada posting sebelumnya, ”Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?”, tampak bahwa RIM memulai lateral marketing, mencoba memasuki segmen-segmen baru, untuk terus berpacu menantang iPhone di jalur cepat pertumbuhan pasar smartphone. Salah satunya dengan bermain di pricing. Dari beberapa sumber, tampak kebijakan pricing Blackberry memang lebih berani dibandingkan Apple iPhone. Tetapi tampaknya brand Apple membuat para pengusung iPhone tidak gentar dengan tantangan Blackberry tersebut. Brand Apple memang identik dengan desain yang unggul. Begitu juga dengan iPhone. Walaupun iPhone bukan pelopor di smart phone dan juga bukan first mover di touch phone, tetapi desainnya yang unggul memang menawarkan user interface yang sangat menarik. Unicom, wireless carrier terbesar kedua di China setelah China Telecom, pun yakin bahwa iPhone yang diusungnya akan menjadi nomor 1 di pasar Smartphone di China walaupun harga yang ditawarkannya sekarang masih sangat tinggi. Unicom menawarkan paket iPhone dengan harga sangat tinggi, 7.999 yuan atau sekitar US$ 1.172. Bandingkan dengan paket iPhone di Amerika yang ditawarkan dengan harga US$ 299.

Yang perlu menjadi perhatian Blackberry adalah inisiatif Apple untuk mengoptimalkan ekosistem iTunes dalam jaringan iPhone. Dengan memanfaatkan ekosistem iTunes, Apple menyediakan appstore, mengembangkan jaringan content developer dengan sangat pesat karena didukung sistem billing yang sederhana dan application programming interface yang sangat mendukung para content developer dalam mengembangkan content. Seperti diuraikan di atas content adalah elemen penting dari business model Blackberry dan iPhone. Apple sukses mengembangkan mobile marketing dengan ekosistem tersebut. Tetapi tampaknya Blackberry sangat waspada akan hal tersebut. Blackberry sudah merespon dengan mengembangkan Blackberry Advertising service, sebuah platform layanan yang menawarkan layanan advertising terintegrasi dengan jaringan Blackberry.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Blackberry mampu menjawab tantangan iPhone dalam kebut-kebutan di pasar smart phone? Mari sharing marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini dengan mengurai studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Many to Many Marketing Gaya Paris van Java Mall Bandung?

Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.

pvj-mallDiferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.

Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.

Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.

Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.

Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.

Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.