Film “Meraih Mimpi”: Harapan Bangkitnya Kreativitas di Industri Film Indonesia

Peran diferensiasi sangat besar dalam menentukan keberhasilan pemasaran. Sehingga diferensiasi menjadi pokok bahasan yang menarik bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Dari sembilan elemen dalam konsep pemasaran yang diusung Hermawan Kartajaya, strategi kuncinya dirumuskan lebih sederhana dalam segitiga PDB (Positioning, Differentiation, Branding) di mana tampak bahwa Diferensiasi menjadi salah satu elemen dalam core strategy. Dalam konsep New Wave Marketing, sembilan elemen pemasaran tersebut bertransformasi menjadi 12C. Diferensiasi bertransformasi menjadi Coding atau lebih lengkapnya “Coding Your DNA”. Diferensiasi atau Coding memegang peranan penting dalam membentuk pembeda yang otentik dari suatu produk, layanan atau perusahaan yang membedakannya dari produk, layanan atau perusahaan lain sehingga akan mampu menarik bagi target market tertentu. Pada akhirnya, diferensiasi akan berkontribusi dalam sustainability dari perusahaan tersebut karena merupakan sumber dari keunggulan kompetitif dari perusahaan.

meraih_mimpiDi dalam era hyper-competition seperti sekarang, diferensiasi sangat membutuhkan kreativitas. Bagaimana dengan industri film Indonesia sekarang ini? Beberapa pakar dan media akhir-akhir ini memandang industri film Indonesia mulai bangkit, setelah terpuruk sejak krisis ekonomi di akhir dekade 90-an. Pendapat ini dikuatkan dengan mulai meningkatnya komposisi film Indonesia di berbagai bioskop di tanah air. Tetapi data dari Lembaga Sensor Film Indonesia pada awal bulan Agustus 2009 menunjukkan bahwa pada tahun ini lebih dari separuh film Indonesia bertema horor. Dan dari separuh sisanya, didominasi dari kloning film-film India, Hongkong, China, Thailand, Korea atau Amerika. Dari data tersebut, belum nampak kreativitas dan diferensiasi kuat dari film Indonesia. Sehingga sustainabilitas dari “kebangkitan” industri film Indonesia masih diragukan. Salah satu sutradara film Indonesia, Jose Poernomo juga berpendapat dalam pernyataannya di showbiz.liputan6.com bahwa saat ini industri film Indonesia belum bisa dikatakan bangkit, karena kreativitas belum berkembang. Kurangnya kreativitas tersebut merupakan masalah sistemik yang kompleks, karena dengan sistem yang ada sekarang, aliran dana pembuatan film akan terfokus pada genre atau jenis film tertentu yang sempit, misalnya film horor. Sehingga perkembangan kreativitas akan terhambat.

Oleh karena itu apresiasi bagi Infinite Works (IFW) yang memproduksi film “Meraih Mimpi”, bekerja sama dengan The Media Development Authority of Singapore (MDA) dan MediaCorp Raintree Pictures. Film ini merupakan film animasi 3D pertama yang diproduksi Indonesia. Versi pertama dari film ini diluncurkan di Singapura, dan diproduksi bersama beberapa artis Singapura untuk pengisi suara, dengan judul “Sing to the Dawn”. Menurut IFW, hal ini dilakukan karena mereka mentargetkan pengakuan internasional terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke pasar domestik.

Uniknya, dalam sebuah liputan media Singapura, MDA, sebuah institusi di bawah koordinasi Kementrian Infokom Singapura, mengatakan bahwa film ini merupakan inisiatifnya yang didukung dengan alokasi dana sebesar 40% dari total biaya produksi. Sumber ceritanya sendiri memang dari novel karya penulis Singapura, Minfong Ho, dengan judul “Sing to the Dawn” yang dirilis tahun 1975. Novel ini merupakan buku wajib bagi beberapa sekolah dasar di Singapura. Tetapi faktanya, 80% produksinya dikerjakan oleh Indonesia dan dilakukan di studio animasi di Batam. Sekitar 150 orang dari Jogja, Bandung, Solo direkrut di Batam sebagai animator, dibantu lima orang asing. Versi Indonesianya dengan judul “Meraih Mimpi” disutradari oleh Nia Dinata dan direncanakan akan premier pada tanggal 8 September 2009. Erwin Gutawa berperan untuk melakukan komposisi ulang musiknya. Pengisi suara diperkuat oleh Gita Gutawa, Cut Mini, dan Shanty.

Apresiasi bagi IFW, karena dari berbagai aspek, film ini seperti oasis dalam industri film Indonesia. Sumbangan kreativitas dari film ini diharapkan menjadi salah satu alternatif dalam pembentukan diferensiasi dan kekuatan dari film Indonesia. Juga sumbangan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Walaupun dari beberapa komentar penonton film versi bahasa Inggrisnya, “Sing to the Dawn”, film ini belum bisa dibandingkan dengan film animasi 3D produksi Pixar atau DreamWorks, tetapi kreativitas tema dan penggarapannya kita harapkan akan mampu menjadi salah satu pemicu kreativitas lain dalam industri film nasional. Menurut Nia Dinata, film ini mengandung unsur pendidikan, komedi dan kesadaran akan lingkungan hidup dalam kemasan cerita tentang kakak beradik yang berusaha melindungi tempat tinggal dan lingkungan mereka dari kontraktor penipu. Bagi yang penasaran dengan film-nya bisa cek movie trailernya di youtube http://www.youtube.com/watch?v=0XsgYZRyWIM

Ruang bagi kreativitas industri film nasional sebenarnya terbuka lebar. Apalagi dari menurut laporan JPNN, dalam dua tahun belakangan ini, pasar film nasional lebih diramaikan dengan tambahan penonton dari segmen ibu-ibu rumah tangga, serta komunitas yang sebelumnya tidak masuk dalam segmen pasar perfilman nasional.

Bagaimanakah menurut Anda? Apakah kira-kira potensi diferensiasi bagi film Indonesia? Perlukan peran pemerintah dalam mengembangkan kreativitas di industri film nasional dengan fakta bahwa film “Meraih Mimpi” justru merupakan inisiatif dan sebagian dananya berasal dari pemerintah Singapura padahal 80% produksinya oleh dan di Indonesia? Please share your comments dan marketing ideas @ marketing blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Mencapai Keunggulan Perbankan Syariah melalui New Wave Marketing

Kali ini posting di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas mengenai Perbankan Syariah. Berbicara mengenai tantangan Perbankan Syariah pada masa yang akan datang, tidak lepas dari perkembangan industri perbankan sekarang ini. Kondisi dan perkembangan industri perbankan juga tidak bisa dilepaskan dari krisis ekonomi global yang dipicu salah satunya dari sektor finansial yang lekat dengan industri perbankan pada tahun 2008. Kemudian, bagaimanakah perkembangan industri ini dalam masa krisis ekonomi global yang diprediksi berbagai pihak masih akan terus berlanjut?

perbankan Gambaran yang bisa dijadikan referensi salah satunya dari Deloitte ( klik http://www.deloitte.com ), sebuah kelompok kantor akuntan internasional besar di dunia. Terdapat beberapa perubahan paradigma dalam perkembangan dewasa ini, salah satunya adalah pergeseran fokus perbankan dari “alpha-market” ke “beta-market”. Alpha merupakan istilah untuk produk yang mempunyai profil high return / high risk. Menurut New York Times pada laporannya tanggal 16 April 2009, industri perbankan di Amerika Serikat telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, termasuk dua bank yang mendapat dampak sangat besar dari krisis ekonomi global, Citigroup dan Bank of America. Walaupun dikatakan beberapa sektor masih banyak mengalami kesulitan, antara lain layanan kartu kredit dan private equity.

New Wave Marketing

Nah… saya kira akan menarik kalau kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mencoba menerapkan new wave marketing dalam mendukung perkembangan perbankan syariah. Perkembangan yang juga harus menjadi perhatian kita adalah pasar atau pelanggan itu sendiri. Thomas L. Friedman, dalam bukunya mengungkapkan “The World is Flat” untuk menggambarkan dunia sebagai “level playing field” di mana semua kompetitor mempunyai kesempatan yang sama di pasar global. Kemudian Hermawan Kartajaya dalam bukunya “New Wave Marketing” mengungkapkan, “the world is still round, but the market is already flat”. Konsekuensinya terdapat perubahan paradigma dalam pemasaran menuju “many to many marketing” atau New Wave Marketing”, di mana interaksi antar pelanggan menjadi penting. Interaksi ini sebelumnya dikenal dengan istilah words of mouth atau buzz. Fenomena buzz menjadi lebih dominan dengan adanya perkembangan telekomunikasi yang memungkinkan interaksi yang luar biasa, terutama didukung oleh perkembangan internet.

Formulasi strategi marketing yang meliputi segmentasi, targeting dan positioning (STP) ditransformasikan menjadi Communitization, Confirming dan Clarifying. Pada level taktik: diferensiasi, marketing mix (yang terdiri dari 4P: Product, Price, Place, Promotion) dan Selling menjadi Coding, Crowd Combo (terdiri dari 4C: Co-Creation, Currency, Communal Activation dan Conversation) dan Commercialization. Pada tataran Value, yang meliputi Brand, Service dan Proses menjadi Character, Caring dan Collaboration. Sehingga secara keseluruhan bertransformasi menjadi formulasi 12C.

Kemudian bagaimana Perbankan Syariah menjawab tantangan perubahan di pasar tersebut? Implementasi New Wave Marketing menjadi salah satu jawaban dalam menghadapi tantangan tersebut. Pertanyaan berikutnya, bagaimana implementasi spesifik dari konsep tersebut dalam Perbankan Syariah? Apa potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank konvensional dalam menerapkan New Wave Marketing?

Karakter perbankan syariah yang spesifik dan citra layanan yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat memungkinkannya untuk lebih cepat diterima di beberapa komunitas, terutama di Indonesia. Sehingga seperti yang dirilis gulfnews.com pada tanggal 1 Agustus 2009, market share perbankan syariah Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia di kawasan Asia Tenggara. Dalam many to many marketing, peran komunitas menjadi sangat penting. Potensi besar ini menjadi tantangan perbankan syariah untuk menerapkan New Wave Marketing.

Seperti yang saya ulas dalam tulisan sebelumnya di blog ini, salah satu tantangan terbesar dalam implementasi New Wave Marketing adalah perubahan cara berpikir atau mindset. Konsep baru tersebut melibatkan perubahan paradigma dalam beberapa aspek pemasaran, mulai dari tahap strategis sampai taktis. Sehingga untuk bergeser diperlukan perubahan budaya organisasi, karena paradigma yang baru mungkin berbeda dengan espoused belief atau underlying assumptions yang berkembang dalam suatu organisasi, dalam hal ini perbankan.

Budaya organisasi menurut Edgar H. Schein, dapat direpresentasikan dalam tiga level, yaitu Artifacts, Espoused Beliefs and Values dan Underlying Assumptions. Artifacts adalah struktur dan proses dari suatu organisasi yang mudah dilihat dan dikenali. Espoused Beliefs and Values merefleksikan nilai-nilai yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah dalam praktek suatu organisasi. Atau apa yang merupakan kegiatan yang efektif dan yang tidak efektif. Sedangkan Underlying Assumptions adalah asumsi-asumsi implisit yang menjadi panduan dalam perilaku organisasi. Asumsi yang mendasari cara anggota organisasi tersebut dalam merasakan dan memikirkan mengenai sesuatu.

Tantangan berikutnya adalah dukungan Sharia Core Banking System (SCBS) terhadap implementasi New Wave Marketing. SCBS merupakan kolaborasi antara sistem perbankan dengan teknologi informasi yang terpadu. Berbeda dengan Core Banking System (CBS) untuk bank konvensional, SCBS menyesuaikan dengan prinsip-prinsip Sharia dan peraturan dari bank sentral. SCBS harus mampu mengantisipasi dan mendukung inovasi produk perbankan syariah yang customized untuk bisa mengoptimalkan pemasaran pada komunitas-komunitas yang menjadi sasaran.

Contoh lain tantangan dalam penerapan konsep tersebut adalah aspek Co-Creation yang menggantikan pilar Product dalam konsep pemasaran ‘konvensional’. Konsep ini sebenarnya sesuai dengan salah satu pilar dari Arsitektur Perbankan Indonesia (API), yaitu “Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan”. Salah satu pemberdayaan yang bisa diwujudkan adalah melalui proses co-creation. Pertanyaannya adalah bagaimanakah mekanisme co-creation bersama nasabah dalam perbankan syariah? Kedekatan perbankan syariah dengan komunitas-komunitas tertentu bisa merupakan potensi bagi inovasi produk yang mempunyai diferensiasi terhadap produk bank konvensional terutama pada segmen beta-market. Tetapi secara lebih rinci, kita perlu mempelajari rantai nilai perbankan syariah untuk mengidentifikasi peluang co-creation dengan lebih baik.

Agar perbankan syariah bisa meraih keunggulan, terutama dibandingkan dengan bank konvensional, mereka perlu memanfaatkan karakter spesifiknya untuk menerapkan konsep New Wave Marketing. Karakter yang kuat tersebut akan menjadi kompetensi dan diferensiasi yang susah untuk bisa ditiru oleh bank konvensional. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan kedekatannya dengan komunitas-komunitas yang menjadi kunci dalam penerapan many to many marketing.

Tetapi bagaimana menurut Anda? Bagaimanakah tantangan perbankan syariah dalam implementasi komponen lain dari 12C dalam New Wave Marketing? Silakan masukan, komentar dan marketing ideas Anda melalui blog ini, klik http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Mbah Surip dan Fenomena Angsa Hitam

Mbah Surip adalah sosok yang mampu memberi inspirasi, termasuk memberi inspirasi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas mengenai industri musik Indonesia. Bagaimanakah kita bisa menggambarkan industri musik Indonesia saat ini? Beberapa kondisi yang bisa mewakili antara lain: industri musik Indonesia saat ini didominasi oleh group band muda, artis atau presenter tenar yang kemudian terjun ke dunia nyanyi dan pada umumnya mengusung aliran musik pop dengan beberapa variasi. Group band atau penyanyi akan mencapai puncak popularitas saat usia muda dan mulai menurun saat usia beranjak senja, tidak terkecuali misalnya salah satu diva musik pop Indonesia: Kris Dayanti atau KD. Lagu, baik single maupun dalam album akan tenar saat awal perilisannya yang dibarengi dengan promosi yang gencar. Tarif lagu maupun artis musisi akan berbanding lurus dengan tingkat popularitasnya.

reggae Tetapi mbah Surip yang bernama lengkap Urip Ariyanto dan lahir pada tanggal 5 Mei 1949, merupakan pengecualian dari semua kondisi di atas. Beliau bagaikan “pencilan” dalam statistik di industri musik Indonesia. Beliau mencapai puncak popularitas justru di saat usianya senja, 60 tahun. Lagu-lagunya baru saja populer pada tahun ini, 2009, padahal sudah dirilis sejak beberapa tahun silam. Sebagai contoh lagu “Tak Gendong” sudah dirilis tahun 2003 dalam album dengan judul yang sama. Di dalam album tersebut juga terdapat lagu “Bangun Tidur” yang juga tidak kalah populer baru-baru ini. Menurut salah satu versi media, RBT lagu “Tak Gendong” dipakai oleh jutaan pelanggan layanan komunikasi seluler yang bernilai ratusan juta rupiah lebih bagi penyanyinya. Nilai RBT lagu tersebut akan jauh lebih besar bagi operator, karena operator seluler memperoleh 63% lebih dari nilai penjualan RBT, sedangkan artis / penyanyi hanya memperoleh 4,5%. Di saat popularitasnya mencapai puncak, harga CD album mbah Surip tetap dijual dengan harga Rp 20.000,- Harga ini jauh lebih murah dari harga CD album penyanyi lainnya yang biasanya dijual pada kisaran Rp 40.000,- atau lebih. Harga CD album mbah Surip yang jauh lebih murah tersebut tidak lepas dari komitmen beliau yang tidak ingin meraup untung terlalu besar dari penjualan albumnya.

Kemudian bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena mbah Surip tersebut di tengah industri musik Indonesia? Karena fenomena ini sangat menarik bagi kita untuk belajar marketing, apalagi untuk sharing marketing ideas. Dalam salah satu wawancara di stasiun televisi swasta kemarin, Minggu, 9 Agustus 2009, seorang sahabatnya menyampaikan pada awalnya banyak yang pesimis akan nilai komersial dari lagu-lagu mbah Surip, bahkan dikatakan produsernya pun tidak yakin. Hal ini menunjukkan fenomena mbah Surip pada awalnya susah untuk diprediksi akan bisa terjadi dengan lonjakan popularitas seperti sekarang ini. Beberapa pakar di industri musik Indonesia kemudian mencoa menjelaskan fenomena tersebut. Bisnis RBT menyebabkan beberapa pergeseran, antara lain lagu yang sederhana dan kuat pada bagian refrain-nya akan lebih menjual, sehingga lagu-lagu mbah Surip yang berkesan sederhana sesuai dengan selera pasar. Tetapi penjelasan ini masih parsial, belum bisa menjelaskan bagaimana popularitasnya melambung sebagai pribadi. Topik mengenai wafatnya beliau sempat menjadi “Trending Topics” di twitter mengalahkan topik mengenai Michael Jackson. Masyarakat Mojokerto berencana membangun monumen mbah Surip. Sebuah jalan di Belitung (cmiiw) yang penuh dengan penjual minuman kopi, yang menjadi inspirasi istilah “I Love You Full”, akan dinamakan Jalan Mbah Surip. Sebuah liputan di salah satu stasiun TV swasta kemarin membahas kepergian dua seniman: WS Rendra dan Mbah Surip. Hal ini secara implisit membuktikan pengakuan kontribusinya terhadap dunia seni di Indonesia, hampir sejajar dengan nama besar WS Rendra.

Beberapa penjelasan lain akan fenomena tersebut terus digali. Tetapi menurut saya, Mbah Surip tetaplah “pencilan”. Beliau tetaplah “Black Swan” atau Angsa Hitam dalam industri musik Indonesia. Istilah “Black Swan” dipopulerkan oleh Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya “The Black Swan: The Impact of the Highly Improbable”. Dalam bukunya tersebut, Taleb menyatakan sejarah tidak merangkak tetapi melompat, sehingga sebetulnya banyak hal yang tidak bisa kita prediksi dan tidak bisa kita jelaskan dengan baik. Penjelasan lebih banyak digali setelah esuatu terjadi, seakan-akan kita bisa memahaminya secara komprehensif dan seakan-akan kita bisa memprediksinya. Taleb menyebutnya dengan Triplet of Opacity, yaitu pertama adalah ilusi dari pemahaman manusia, atau bagaimana manusia berpikir mereka memahami betul apa yang terjadi yang sebetulnya jauh lebih kompleks dari yang disadarinya. Kedua, retrospective distortion (maaf saya belum bisa memperoleh terjemahan yang pas), yaitu kecenderungan di mana manusia lebih bisa menjelaskan suatu kejadian setelah semuanya terjadi. Ketiga, kecenderungan overvaluasi dari informasi faktual.

Fenomena Mbah Surip saya kira dekat dengan gambaran tersebut, karena seakan-akan kita memahaminya setelah popularitasnya mencapai puncaknya. Seakan-akan penjelasan-penjelasan tersebut bisa dengan tepat memprediksi bila terdapat seniman lain yang sesuai dengan kriteria tersebut akan juga mampu mencapai puncak popularitas di industri musik Indonesia. Fenomena mbah Surip lebih mirip dengan fenomena Black Swan yang sebetulnya tidak bisa kita pahami secara menyeluruh dengan tepat.

Tetapi bagaimanakah pendapat Anda? Apakah fenomena ini termasuk Black Swan atau sebetulnya fenomena ini sederhana saja, dan bisa dijelaskan dengan tepat dan mudah? Sehingga fenomena Black Swan adalah sekedar ilusi? Ataukah pemahaman kita akan fenomena inilah yang merupakan ilusi? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!

Bagi kita yang sedang belajar marketing, mungkin sudah cukup familiar dengan istilah “New Wave Marketing”, yang dipopulerkan oleh Hermawan Kartajaya. Jadi sekarang mari kita sharing marketing ideas mengenai implementasi new wave marketing. Formulasi strategi marketing yang meliputi segmentasi, targeting dan positioning (STP) ditransformasikan menjadi Communitization, Confirming dan Clarifying. Pada level taktik: diferensiasi, marketing mix (yang terdiri dari 4P: Product, Price, Place, Promotion) dan Selling menjadi Coding, Crowd Combo (terdiri dari 4C: Co-Creation, Currency, Communal Activation dan Conversation) dan Commercialization. Pada tataran Value, yang meliputi Brand, Service dan Proses menjadi Character, Caring da Collaboration. Sehingga secara keseluruhan bertransformasi menjadi formulasi 12C.

mindset Dalam belajar marketing, khususnya new wave marketing, sangat penting untuk memahami latar belakang munculnya konsep tersebut. Salah satu esensi dari transformasi ini adalah perubahan dari era vertical marketing menuju horizontal marketing. Era horizontal ini salah satunya bisa kita pahami dari buku Thomas L. Friedman berjudul “The World is Flat”. Saat ini konsep new wave marketing sudah mulai berkembang secara komprehensif dari berbagai sumber. Kita sudah bisa menemukan berbagai referensi yang gres dari konsep dalam tiap aspek 12C tersebut. Best practices juga sudah mulai banyak kita temukan mengenai implementasi dari horizontal marketing tersebut. Contohnya adalah bagaimana Starbucks dan Coca Cola membangun conversation melalui facebook. Member dari Starbucks pages sudah mencapai 3,7 juta orang dan tercatat sebagai tertinggi di facebook. Member Coca Cola pages mencapai 3,5 juta orang.

Kemudian, pertanyaannya adalah apakah tantangan implementasi dari new wave marketing ini? Imho, tantangan terbesar dari suatu organisasi yang telah mempraktekkan dan menikmati buah dari horizontal marketing adalah mengubah mindset!

Budaya organisasi menurut Edgar H. Schein, dapat direpresentasikan dalam tiga level, yaitu Artifacts, Espoused Beliefs and Values dan Underlying Assumptions. Artifacts adalah struktur dan proses dari suatu organisasi yang mudah dilihat dan dikenali. Espoused Beliefs and Values merefleksikan nilai-nilai yang menentukan apa yang dianggap benar dan salah dalam praktek suatu organisasi. Atau apa yang merupakan kegiatan yang efektif dan yang tidak efektif. Sedangkan Underlying Assumptions adalah asumsi-asumsi implisit yang menjadi panduan dalam perilaku organisasi. Asumsi yang mendasari cara anggota organisasi tersebut dalam merasakan dan memikirkan mengenai sesuatu.

Salah satu contoh tantangan mengubah mindset dalam menjalankan fungsi marketing dan mengembangkan new wave marketing ideas dalam suatu organisasi adalah dalam aspek promosi. Bila penjualan suatu produk mulai menurun, maka dalam aspek promosi biasanya akan disikapi dengan peningkatan intensitas promosi melalui iklan. Hal ini bisa terjadi karena sudah tertanam espoused beliefs bahwa peningkatan intensitas promosi melalui iklan berkorelasi tinggi terhadap volume penjualan. Espoused beliefs tersebut berkembang dari pengalaman anggota organisasi dalam menjalankan fungsi marketing. Dan pengalaman ini telah melampaui social validation, melalui sharing pengalaman dan keyakinan akan hal tersebut dari anggota-anggota organisasi. Dalam periklanan, espoused beliefs yang biasanya berkembang juga adalah iklan melalui media above the line adalah sangat ampuh dan efektif mampu mencapai target yang luas. Sehingga organisasi akan ‘rela’ membayar mahal untuk melakukan komunikasi pemasaran melalui iklan di media above the line.

Sehingga usaha penerapan Conversation (yang menggantikan Promotion) akan menemui tantangan untuk mengubah espoused beliefs dalam organisasi tersebut. Conversation akan mengubah preferensi komunikasi pemasaran dari fokus pada media above the line kepada media below the line atau ke media-media alternatif, seperti social networking. Conversation lebih menuntut organisasi untuk lebih mengenali pelanggannya dan lebih konsisten dalam membangun komunikasi dua arah. Dua tuntutan tersebut sangat bertolak belakang dengan metoda yang sebelumnya telah diyakini ampuh, yaitu iklan above the line yang lebih bersifat mass dan komunikasi vertical satu arah. Apalagi perubahan orientasi komunikasi pemasaran tersebut akan mengubha juga orientasi alokasi sumber daya organsasi, termasuk sumber daya finansial. Faktor tranformasi kompetensi individu dan organisasi juga akan menjadi penentu dalam mendukung perubahan mindset.

Untuk mengubah mindset tersebut diperlokan change management yang menuntut komitmen seluruh anggota organisasi, terutama dari para senior leaders. Mengapa senior leaders? Karena dinamika dari proses pembentukan dan manajemen budaya organisasi adalah esensi dari kepemimpinan.

Tetapi, bagaimana menurut Anda? What do you think? Apakah tantangan terbesar dalam implementasi new wave marketing? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Co-creation bersama nasabah di retail banking? Mungkinkah?

Elemen marketing yang dulu kita kenal saat belajar marketing konvensional terdiri dari 9 elemen, yaitu: segmentation, targeting, positioning, differentiation, marketing mix (product, price, promotion, place), sales, brand, service, process. Dalam new wave marketing ideas, yang akhir-akhir ini dipopulerkan oleh “The Guru” Hermawan Kartajaya, elemen marketing-nya menjadi 12C, yaitu communitization, confirming, clarifying, coding, crowd combo (co-creation, currency, conversation, communal activation), character, caring dan collaboration.

Salah satu elemen yang menarik adalah co-creation. Co-creation menurut Dr. Ajit Kambil, adalah membangun suatu dinamika baru terhadap relationship antara produsen dan konsumen dengan cara melibatkan konsumen secara langsung dalam proses produksi atau distribusi dari value. Saat ini beberapa pelaku bisnis telah dikenal karena menjalankan co-creation dengan sukses, antara lain: Wikipedia, Linux, Dell dan lainnya. Dell memberikan tools bagi pelanggannya untuk mendesain sendiri PC yang diinginkannya dan memesannya secara online. Beberapa industri memang lebih mudah bermigrasi ke co-creation, terutama industri yang berbasis teknologi tinggi. Linux dengan cepat memobilisasi ribuan programmer yang berkolaborasi dengan orientasi non-profit membangun sistem operasi open-source.

Bagaimana dengan perbankan? Sebagai bagian dari tatanan ekonomi baru, industri ini tidak akan lepas dari paradigma baru pasar yang ditandai oleh pelanggan yang semakin pintar, empowered, skeptis, connected, demanding dan cenderung tidak loyal. Oleh karena itu pelaku bisnis perbankan harus mulai berpikir ke arah co-creation.

Jadi tantangan dalam belajar marketing dan share marketing ideas kita kali ini adalah bagaimana membuat bisnis model co-creation yang memberi value bagi retail banking dan pelanggan (dalam hal ini adalah end user atau nasabah). Bagaimanakah alternatif cara membangun co-creation antara bank dan nasabahnya dalam retail banking? Retail banking fokus pada transaksi segmen perorangan secara langsung, bukan dengan segmen korporasi atau antar sesama bank.

bank-vc1

Sebagai referensi, saya sertakan gambar value chain dari bisnis perbankan dari survey University of St. Gallen, Swiss. Sengaja saya cari referensi dari industri perbankan yang cukup terkenal di dunia: Swiss. Semoga memudahkan kita dalam mencari dan mengeksplorasi simpul-simpul dalam value chain tersebut untuk memberi alternatif model co-creation yang bisa dikembangkan. Silakan posting kreasi dan marketing ideas Anda via comment di blog marketing http://kopicoklat.com. Everyone’s invited because everyone is a marketer. Selamat berkreasi dan terus belajar marketing! Salam kreatif!