Apa kabar Amazon vs Google?

Ramainya kompetisi di kategori tabletPC dan smartphone, selalu membawa kita mengarah ke tiga pemain besar: Apple, RIM dan Google. Kenapa? Karena ketiganya memang mempunyai pengaruh besar dalam industri tersebut. Ketiganya juga sukses membangun model bisnis yang memanfaatkan ekosistem perangkat keras, perangkat lunak dan berbagai konten internet. Apple menjadi pelopor dengan iTunes ecosystem yang terus berkembang dalam Apple App Store. RIM mengembangkan Blackberry App World, dan kemudian Google mempunyai Android Market yang bisa diakses oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi Android.

Bagaimana jalannya kompetisi antara tiga pemain besar tersebut sekarang? Trend menunjukkan Android tumbuh paling cepat, dan sudah melampaui market share Blackberry di Amerika Serikat. Dari sisi penjualan, Android dikabarkan telah mendominasi. Menurut AC Nielsen, sebesar 40% pembeli smartphone di Amerika Serikat memilih Android.

Di tingkat global, penjualan smartphone berbasis Android sudah melampaui Apple dan Blackberry, wlaupun masih di bawah Symbian-nya Nokia. Menurut Gartner, pada triwulan III tahun 2010, penjualan smartphone Android sudah mengambil porsi 25,5%. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,5%. Nokia memang masih memimpin dengan 36,6%, tetapi turun drastis dari tahun sebelumnya, 44,6%. Demikian juga dengan Blackberry, turun dari 20,7% menjadi 14,8%. Sedangkan Apple dengan sistem operasi iOS berhasil sedikit menahan serbuan Android, turun sedikit, dari 17,1% ke 16,7%.
Salah satu kekuatan Android adalah keterbukaannya terhadap penggunaan dan pengembangan oleh beberapa pabrikan smartphone, seperti HTC, Samsung, LG dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan Apple dan RIM yang secara eksklusif memproduksi smartphone-nya sendiri. Kekuatan lainnya ada pada model bisnisnya yang berbeda dengan dua pesaing utamanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Amazon? Amazon adalah nama besar dalam bisnis online retail. Tetapi di awal tahun 2011 ini, Amazon mulai membuka Amazon application store untuk para pengembang lunak. Uniknya, application store yang disiapkan Amazon ini adalah untuk aplikasi berbasis sistem operasi Android. Padahal Google sudah memiliki sendiri application store Android melalui Google Android Market.

Jadi menarik untuk kita perhatikan bagaimana Amazon akan memposisikan application store-nya terhadap Google Android Market dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kita kali ini. Kita coba lihat apa saja yang bisa menjadi keunggulan kompetitif application store Amazon tersebut. Pertama, Amazon mempunyai pengalaman luar biasa dalam bisnis online retail. Hampir semua produk retail bisa kita dapatkan di Amazon. Tetapi sebetulnya kekuatan besarnya adalah di customer base-nya.

Kedua, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi Amazon juga menguasai bagaimana cara memahami karakter para pelanggannya. Amazon mampu membuat kustomisasi layanan dan penawaran kepada para pelanggannya berdasarkan perbedaan karakter dan perilakunya. Bayangkan bila pemahaman ini diterapkan saat mereka memberikan penawarannya melalui application store. Sehingga, Amazon dinilai mampu mengatasi kekurangan Android Market dalam memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menemukan aplikasi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya. Saat ini aplikasi di Android Market sudah lebih dari 100.000 buah. Dan sebuah paradoks akan berlaku, di mana terdapat sesuatu yang berlebih, akan terdapat kelangkaan. Dengan ketersediaan aplikasi yang berlebih, orang akan menemukaan kesulitan dalam memperoleh aplikasi yang berkualitas dan relevan. Saat ini bila kita melihat Android Market, belum bisa kita temukan recommended item yang customized untuk setiap penggunanya. Para penggunanya lebih mengandalkan review dari pengguna lainnya.

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan untuk studi kasus marketing kita ini 🙂 Co-opetition bisa menjadi istilah yang lebih tepat. Kerjasama di dalam suatu kompetisi, antara Amazon application store dengan Google Android Market. Bagaimana menurut Anda, apa keunggulan kompetitif yang bisa menjadi andalah Amazon di pasar aplikasi ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas. Untuk memahami industri ini, silakan baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet dan Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Baru-baru ini berita teknologi didominasi oleh hebohnya respon masyarakat ICT (Information, Communication Technology) terhadap proposal bersama Google dan Verizon ke regulator telekomunikasi, FCC (Federal Communication Commission) Amerika Serikat. Banyak hal yang menyebabkan proposal ini membawa banyak kejutan. Berikut tiga kejutan besar di antaranya.

Kejutan pertama, proposal ini diajukan oleh dua perusahaan yang dalam era konvergensi teknologi dan industri telekomunikasi, media dan informasi, sudah bisa dikatakan sebagai pesaing bagi satu sama lain. Keduanya adalah pemain besar di industri telekomunikasi, media dan informasi global. Verizon adalah operator telekomunikasi yang bermarkas di Amerika Serikat, yang mampu mencatat pendapatan sebesar USD 107,808 miliar pada tahun 2009. Jumlah pegawainya sekitar 222.000 orang dengan daerah operasi sebagian besar di Amerika Serikat. Google adalah perusahaan yang memberikan berbagai layanan berbasis internet, dengan pendapatan utama berasal dari advertising di internet, terutama melalui program AdWords dan mesin pencarinya. Pendapatan pada tahun 2009, menurut Wikipedia tercatat sebesar USD 23.651 miliar.

Kenapa keduanya bisa dianggap sebagai pesaing satu sama lain? Dalam industri dan teknologi yang konvergen, produk dari keduanya bisa menjadi substitusi. Pergeseran pola komunikasi dari suara ke data, salah satunya. Industri telekomunikasi yang biasanya didominasi oleh layanan telepon dari operator telekomunikasi seperti Verizon, kini bisa disediakan oleh perusahan berbasis layanan internet, seperti Google. Banyak aplikasi google yang memberikan media komunikasi tersebut, seperti gmail, google talk, youtube, dan lain-lain. Pada tahun ini Google pun mulai membangun jaringan broadband berbasis fiber optik yang akan menyediakan layanan sampai 1 Gbps untuk sekitar 500.000 pelanggan di Amerika Serikat.

Bisnis keduanya pun semakin menggurita. Sampai posisi kuartal pertama tahun ini Google telah mengakuisisi 63 perusahaan. Baru-baru ini Google juga meluncurkan smartphone Nexus One dengan operating system Android yang dikembangkannya dengan system open source. Walapun Nexus One kurang berhasil di pasaran, tetapi sistem operasi Android berhasil mencatat pertumbuhan yang sangat tinggi didukung pabrikan seperti HTC, Samsung, LG, Motorola dan lain-lain. Bahkan menurut lembaga riset Canalys dan NPD Group, Android sudah mendominasi penjualan di Amerika Serikat mengalahkan Blackberry dan iPhone di pasar Smartphone. Verizon pun sekarang bukan hanya operator telekomunikasi. Lini bisnisnya pun merambah ke industri informasi dan media. Hal ini menyebabkan Google dan Verizon sudah benar-benar berhadap-hadapan di industri telekomunikasi, media dan informasi.

Kejutan kedua, adalah inti proposal dari Google dan Verizon adalah menggoyang prinsip net neutrality dalam layanan akses internet. Konsep net neutrality pada dasarnya berprinsip bahwa semua layanan dan informasi di internet diberlakukan sama, tidak ada pembatasan dari ISP (internet service provider) atau pemerintah. Hal ini didesain untuk menjaga apa yang disebut dengan open internet yang menjamin hak pengguna internet untuk menggunakan atau mengakses layanan dan content pilihannya, serta untuk menjaga keseimbangan kompetisi di layanan broadband. Konsep inilah yang juga membawa Barack Obama ke kursi presiden Amerika Serikat sekarang, karena dukungannya terhadap net neutrality. Lebih dalam mengenai net neutrality, bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Network_neutrality

Salah satu poin dalam proposal tersebut memungkinkan service provider membuat layanan khusus. Layanan khusus ini pun dimungkinkan untuk mendapatkan prioritas trafik, sehingga berpotensi mengurangi kualitas layanan atau content yang lain. Konsekuensi berikutnya adalah adanya kemungkinan tarif premium yang ditetapkan untuk layanan ini.

Kejutan ketiga, selama ini Google dianggap sebagai pendukung utama dari konsep net neutrality. Jadi proposal yang merupakan inisiatif Google bersama Verizon ini benar-benar mengejutkan banyak pihak.

Pertanyaan berikutnya, apa untungnya buat Google dan Verizon? Dengan proposal tersebut, Google yang merupakan penguasa berbagai content dan aplikasi di internet saat ini mempunyai peluang sangat besar untuk mengembangkan layanan-layanan khusus ini. Verizon yang menguasai jaringan broadband, pun sangat berpeluang mengelola berbagai jenis layanan ini melalui jaringannya. Dalam jangka pendek dan menengah, Google yang lebih focus di industri informasi & media bisa bekerja sama dengan Verizon yang kini lebih kuat di industri telekomunikasi. Tetapi dalam jangka panjang, keduanya bisa betul-betul berhadapan sebagai seteru. Jadi akan sangat menarik bagi kita untuk mencermati bagaimana selanjutnya Verizon dan Google melakukan manuvernya dalam co-opetition ini, kerjasama sekaligus kompetisi.

Tetapi bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai proposal heboh Google dan Verizon ini. Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Belajar dari Wafatnya Google Wave

Saya termasuk salah satu orang yang cukup antusias saat Google mengumumkan akan melakukan trial Google Wave pada tahun 2009 ( Google to Launch Google Wave Public Beta in Sept.). Dan masih banyak lagi netizen yang antusias dan kemudian mengirim pesan ke google untuk menjadi salah satu user, di antara 100.000 user yang direncanakan terlibat untuk mencoba Google Wave versi Beta. Beberapa orang yang terpilih Google untuk ikut mencoba, merasa bangga dan menyampaikannya pada teman dan komunitasnya. Pada waktu itu buzz atau words of mouth mengenai Google Wave menjadi sangat kencang.

Singkatnya, Google Wave adalah perpaduan antara e-mail, chat, blog dan banyak aplikasi google lain untuk berkolaborasi secara online. Aplikasi ini diproyeksikan untuk mampu menggantikan e-mail yang sudah dianggap aplikasi “kuno”.

Tetapi, pada tanggal 4 Agustus 2010Google mengumumkan untuk menghentikan pengembangan Google Wave. (RIP Google Wave). Salah seorang Senior Vice President Google mengatakan, alasan dihentikannya pengembangan Google Wave adalah user adoption yang tidak memenuhi harapan Google. Pada proses awalnya, sebelum mengarah ke 100.000 user trial, Google terlebih dahulu melakukan trial ke para sekitar 6.000 program developers. Kalau kita merujuk pada Technology Adoption Lifecycle-nya Geoffrey Moore, maka Google sudah mencoba masuk ke segmen Innovator dan Early Adopter. Tetapi persis seperti disampaikan Geoffrey Moore, maka titik kritisnya adalah di Chasm, atau jurang antara Early Adopter dan Mainstream Customers. Dan Google Wave akhirnya menjadi salah satu korban, masuk ke jurang tersebut.

Tetapi dari studi kasus marketing ini kita bisa banyak belajar marketing dari berbagai aspek. Pertama, produk yang terlalu complicate, rumit atau ribet akan susah diserap oleh pasar. John Naisbitt pernah mengungkapkan perlunya High Touch pada produk High Tech. Sehingga untuk realisasi konsep besarnya, Google perlu kembali berpikir keras bagaimana mendeliver preposisi tersebut dalam bentuk yang mudah digunakan oleh target pasarnya.

Kedua, buzz yang luar biasa – atau meminjam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya – Conversation yang luar biasa di seputar Google Wave, ternyata tidak menjamin penyerapan pasar yang baik. Sebuah pelajaran yang penting untuk para pemasar dalam era antusiasme terhadap digital marketing dan social media.

Ketiga, kabar baiknya, konsep Google Wave saya kira masih perlu dicermati. Buzz atau Conversation yang luar biasa saat peluncuran versi Beta-nya bukan tanpa alasan. Jadi, masih terbuka kemungkinan konsep ini dikembangkan melalui produk atau aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keempat, dibalik cerita kegagalan Google Wave, yang sebetulnya hanya satu cerita dari kegagalan aplikasi Google yang lain mengingatkan kita kepada cerita keberhasilan inovasi Thomas Alva Edison. Di balik sebuah inovasi yang sukses terdapat puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kegagalan. Jadi, keberanian mengambil resiko menjadi sangat penting. Saya kira respon Google yang cepat dalam proses pengembangan produk dan mekanismenya dalam mengembangkan inovasi bisa menjadi referensi.

Kelima, lagi-lagi merujuk pada Technology Lifecyle Adoption-nya Geoffrey Moore, untuk bisa masuk ke mainstream customers ternyata memang diperlukan produk yang siap 100%. Produk baru high tech yang belum siap sangat beresiko masuk ke chasm, jurang yang menganga di antara early adopter dan early majority.

Bagaimana menurut Anda? Ada pelajaran marketing lain yang bisa diambil? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Di Balik Kasus Recall Toyota & Honda

Belum mereda, hingar bingar liputan kasus recall jutaan mobil Toyota, Honda juga memutuskan untuk melakukan recall terhadap hampir 950.000 kendaraannya karena permasalahan pada Airbag model Inflator Dual Igniter dan masalah pada power window system. Tetapi virus recall mobil ternyata belum berhenti. Bulan ini VW menyusul dengan menarik 200.000 mobil model Novo Gol dan Novo Voyage di Brasil karena bearing roda belakang yang sering kekurangan pelumas. Produsen mobil ternama asal Prancis, Peugeot Citroen juga menarik 97.000 mobilnya di Eropa dengan model Peugeot 107 and Citroen C1 karena permasalahan yang sama dengan Toyota, yaitu pedal gas yang tidak kembali ke posisi normal saat tidak diinjak. Selanjutnya Rabu, 10/02/2010 giliran Suzuki diberitakan berencana menarik 10.000 Suzuki Alto di China karena masalah pada penyaring udaranya yang menyebabkan resiko minyak menetes menjadi besar. ZVFYPM8YUMY3 .

Tetapi fokus masyarakat tetap tertuju pada kedua produsen mobil terbesar dari Jepang, Toyota dan Honda karena masifnya jumlah recall dan efek yang terjadi. Diberitakan detikOto pada hari Jumat 12/02/2010 Toyota menarik lebih dari 8,5 juta kendaraan. Efek domino pun dirasakan Toyota, mulai menurunnya penjualan hingga 20.000 pada bulan Januari tahun ini karena penurunan pada pekan terakhir. Harga jual mobil Toyota di pasar Amerika dan Eropa pun terus melorot, seperti dilaporkan oleh Business Week. Harga sahamnya pun ikut turun sampai 8% di NYSE pada awal Februari 2010.

“Pandemi” recall itu akhirnya menimbulkan tanda tanya besar pada banyak pihak. Apa yang sebetulnya terjadi di balik fenomena ini? Kasus ini cukup menarik untuk kita ulas, termasuk bagi kita yang belajar marketing. Beberapa pihak menduga adanya perang dagang dalam kompetisi dagang otomotif internasional di balik kejadian tersebut. Kompetisi yang ketat memang selalu menarik untuk diperhatikan. Artikel sebelumnya “Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone” dan “Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?” telah membahas hyper competition di pasar smart phone. Kini coba kita diskusikan kompetisi ketat di industri otomotif internasional melalui studi kasus recall Toyota dan Honda.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhunata, menyatakan adanya indikasi ke arah perang dagang tersebut, seperti diungkapkannya kepada Vivanews pada awal Februari. Menurutnya, salah satu kemungkinan motifnya adalah untuk mengurangi kepercayaan pasar terhadap produk mobil dari prinsipal Jepang. Sinyalemen ini bukan tanpa alasan. Di Amerika tudingan ke arah perang dagang pun cukup kencang, salah satunya disebabkan adanya tekanan cukup keras dari pemerintah yang dalam hal ini dimotori oleh Ray LaHood (U.S. Transportation Secretary). Ray LaHood sempat membuat pernyataan bahwa pemerintah AS sangat serius dalam melakukan investigasi dari kasus recall Toyota tersebut. Apalagi menurut beberapa sumber, pemasok pedal gas yang menjadi sumber masalah Toyota adalah dari produsen Amerika Serikat. Dari diskusi di hillbuzz.org, bahkan ada tudingan bahwa kejadian tersebut terkait dengan adanya rencana Toyota beberapa waktu sebelumnya untuk menutup fasilitas produksinya di California.

Walaupun kasus recall di dunia otomotif khususnya mobil termasuk “normal”, tetapi kecurigaan terhadap indikasi perang dagang menjadi kuat karena kasus pedal gas termasuk dalam kejadian yang sangat jarang terjadi. Dan menurut laporan Ed Wallace di Business Week, dari hasil wawancaranya dengan beberapa dealer Toyota di Dallas, semuanya menjawab dalam kurun waktu 10 tahun sebelumnya kasus keluhan pedal gas belum pernah dialami mobil-mobil Toyota. Dalam ulasannya, Ed Wallace juga memberi beberapa contoh indikasi perang dagang sebelumnya di dunia otomotif Amerika yang menimpa Audi5000, Suzuki Samurai, Ford Crown Victoria dan produsen ban Firestone.

Kecurigaan semakin kuat, saat tidak lama kemudian Honda juga terpaksa melakukan recall terhadap hampir 1 juta mobilnya. Padahal beberapa saat setelah Toyota memutuskan kebijakan recall, Time.com sempat membuat analisa bahwa Honda adalah pihak yang paling diuntungkan atas kebijakan recall Toyota. Beberapa pihak dalam diskusi di hillbuzz.org pun mengarahkan tudingan ke Ray LaHood, sekretaris transportasi dalam pemerintahan AS.

Dengan adanya musibah yang menimpa Toyota dan Honda, maka General Motors, produsen mobil dari AS, dikabarkan terus mengobarkan perang urat syaraf di pasar otomotif dunia untuk mencaplok pasar produk Toyota dan Honda. Tetapi dikabarkan juga, GM ternyata belum berhasil mengalihkan perhatian konsumen Toyota kepada produk GM.

Tetapi Toyota tidak tinggal diam, Akio Toyoda, CEO Toyota yang juga cucu pendiri Toyota, menyatakan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan indikasi adanya penurunan komitmen Toyota terhadap kualitas. Toyota Production System memang saat ini dikenal sebagai salah satu manajemen kualitas yang terdepan di dunia. Salah satu prinsipnya adalah menghentikan proses produksi dan memperbaiki, bila terdapat kesalahan atau yang dikenal dengan prinsip “Jidoka”. Hal ini juga tampak dalam bagaimana Toyota menyikapi kasus ini seperti uraian di atas. Toyota juga menunda produksi dua varian mobil hybridnya menyusul mencuatnya kasus recall tersebut.

Bagaimana menurut Anda? Apakah memang ada indikasi perang dagang? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Low Cost Carrier versi Jogja

Saat ini terdapat banyak low cost carriers di dunia. Beberapa yang terkenal antara lain Southwest Airlines, JetBlue Airways (Amerika Serikat), Air Asia (Malaysia), Flybe (UK), ValuAir (Singapura) atau Lucky Air (China). Di Indonesia kita mengenal Lion Air, Batavia Air, Indonesia AirAsia, dan lain-lain.

Kini di Yogyakarta atau juga dikenal dengan Jogja, kita bisa menemukan low cost carrier yang baru. Bukan maskapai penerbangan tetapi taksi yang menggunakan MPV (multi purpose vehicle) Daihatsu Xenia sebagai armadanya. Armada Taksi MPV ini diluncurkan mulai 28 Januari 2009 dengan tahap awal terdiri dari 28 unit mobil berwarna hitam dengan tulisan besar 373737 dan aksen garis merah di lambungnya.Angka tersebut adalah call center dari layanan taksi JAS dan Taksi Citra. Menurut informasi dari beberapa sumber, pada awalnya taksi ini sempat booming di Jogja karena merupakan alat transportasi nyaman dan hemat. Hemat bukan berarti tarifnya lebih murah dari taksi yang lain, tetapi dari sudut pandang penumpang, taksi ini mempunyai daya muat yang lebih banyak, baik dari sisi jumlah penumpang atau volume bagasi yang bisa ditampung. Dari sudut pandang pengelola taksi, jelas efisiensi biaya operasional dari konsumsi BBM sampai biaya pemeliharaan armada bisa diraih. Sebetulnya tarif yang lebih hemat bisa dipasang mengingat biaya yang bisa ditekan. Tetapi karena adanya regulasi mengenai layanan transportasi taksi yang berlaku, menyebabkan tarif yang dikenakan menjadi standar.

Kita bisa belajar marketing dengan mempelajari studi kasus marketing tersebut, bagaimana Taksi JAS dan Taksi Citra dalam melihat peluang pasar di Jogja yang merupakan salah satu tujuan utama wisata di Indonesia. Pasar wisatawan yang sangat potensial membuka peluang bagi jasa transportasi umum yang lebih efisien. Entah diinspirasi oleh Southwest Airlines (yang pernah dibahas juga di artikel “Miyabi Marketing”) atau tidak, kemudian Taksi JAS dan Taksi Citra membuat diferensiasi dari armadanya dengan menggunakan MPV menggantikan armada taksi yang secara tradisi biasa menggunakan kendaraan jenis sedan untuk membentuk low cost carrier versi taksi. Beberapa kebutuhan wisatawan atau penumpang lain yang pas bagi diferensiasi ini antara lain yang bepergian secara berkelompok, antara 5 – 7 orang tidak lagi harus menggunakan 2 taksi sekaligus untuk bersamaan menuju tempat tujuan. Kemudian barang bawaan wisatawan yang biasanya cukup banyak, terdiri dari perlengkapan pribadi dan berbagai jenis souvenir atau oleh-oleh yang berukuran besar atau banyak yang tidak muat secara optimal di sedan akan bisa menikmati layanan taksi dengan MPV.

Tetapi dari informasi narasumber yang diperoleh, booming taksi jenis ini kemudian terhambat oleh adanya protes dari penyedia layanan taksi yang lain di Jogja, sehingga Organda (Organisasi Angkutan Darat) Jogja, sebuah Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan, mengambil kebijakan untuk mengurangi daya muat penumpang taksi tersebut. Pengelola Taksi MPV tersebut terpaksa melepas tempat duduk di baris paling belakang dari MPV tersebut, sehingga daya muat penumpangnya menjadi setara dengan taksi lain yang menggunakan kendaraan jenis sedan. Walaupun demikian diferensiasinya tidak sekaligus lenyap dengan regulasi tersebut, daya muat bagasi masih bisa menjadi keunggulan taksi ini di samping efisiensi dari sudut pandang pengelola.

Menarik untuk kita tunggu bagaimana langkah selanjutnya dari pengelola taksi MPV tersebut agar mempertahankan dan meningkatkan keunggulan bersaing. Kita juga dapat belajar marketing dengan menunggu bagaimana respon kompetitif dari para kompetitornya kemudian. Bagaimana menurut Anda? Please share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Blue Ocean Strategy Gaya tvOne

Tampaknya tvOne sangat sadar bahwa diferensiasi menjadi salah satu kunci sukses dalam bersaing sebagai salah satu pendatang yang termasuk baru di antara para pesaingnya pada industri TV broadcasting nasional. Semboyan “Memang Beda” pun dipasang sebagai tagline yang memperkuat positioning statement-nya. Mari kita coba belajar marketing dan sharing marketing ideas dengan mengurai studi kasus marketing mengenai tvOne tersebut.

Intensitas persaingan di Industri TV broadcast di Indonesia memang terus meningkat dengan makin banyaknya pemain di industri ini. Penetrasi TV di Indonesia masih didominasi Free to Air (FTA) sebesar 75%, sedangkan Authorized PayTV baru mencapai 0,6% menurut salah satu sumber pada posisi tahun 2008. Dari ratusan stasiun TV yang memperoleh lisensi operasi, terdapat 10 FTA TV swasta berskala nasional yang menguasai market, yaitu RCTI, SCTV, Indosiar Visual Mandiri (IVM), Trans, TPI, Trans7, Global TV (GTV), ANTV, tvOne, Metro dan 1 stasiun TV milik negara, TVRI.

tvOne masuk ke industri ini pada tanggal 14 Februari 2008, yang merupakan transformasi dari Lativi. Transformasi ini seiring dengan pergantian kepemilikan dari mantan menteri tenaga kerja, Abdul Latief ke Aburizal Bakrie dan Erick Tohir. One pada nama tvOne bisa diasosiasikan sebagai singkatan dari Olahraga, News dan Entertainment. Akhir-akhir ini fokusnya lebih kepada Olahraga atau Sports dan News.

Sebagai pendatang baru, maka tvOne mencoba memposisikan diri berbeda dengan para pesaingnya. Sebelumnya stasiun TV swasta nasional terpolarisasi dalam dua kutub, yaitu satu sisi yang lebih berorientasi kepada muatan acara entertainment dan sisi lain yang lebih berorientasi pada tayangan berita. Sisi entertainment atau variety show diwakili oleh 8 staisun televisi, sedangkan pada sisi yang lain hanya diwakili oleh Metro. Langkah Metro terbilang cukup berani, karena rating TV nasional lebih banyak dikatrol oleh tayangan entertainment seperti sinetron, film seri/lepas, reality show, kuis, kontes, komedi atau talkshow. Dan dari rata-rata rating program TV, akhirnya memang Metro berada di bawah ke-8 stasiun televisi lainnya. tvOne mencoba membagi pasar dengan cara yang kreatif dan bermain di blue ocean, tidak secara langsung bertarung di kedua kutub tersebut. Maka masuklah tvOne dengan tayangan berita tetapi menggunakan penyajian yang lebih santai, atraktif dan fleksibel menjauhi kesan serius yang biasanya menjadi kesan pemirsa terhadap Metro. Format acara dan para anchor atau presenternya didesain untuk menyajikan berita dan informasi dengan lebih fun. Kunci dari Blue Ocean Strategy adalah diferensiasi. Studi kasus marketing mengenai diferensiasi juga terdapat pada artikel sebelumnya “Persaingan Posko Layanan di jalur Mudik”

Pertanyaannya, berhasilkah tvOne mengeksekusi positioning tersebut? Studi kasus marketing dalam eksekusi Blue Ocean Strategy ini sangat menarik bagi kita untuk sharing marketing ideas dan belajar marketing. Dari rata-rata rating TV Nasional, tvOne cukup berhasil menggeser Metro. Pada minggu IV bulan Oktober 2009, dari data sebuah lembaga survey, tvOne berhasil meraih share sebesar 5,0%, sedangkan Metro ”hanya” meraih share 2,2%. Tetapi ternyata tvOne belum berhasil menggeser stasisun televisi yang kokoh pada kutub entertainment. RCTI masih berada di puncak dengan share sebesar 17,9%. ANTV berada di posisi terendah pada kutub tersebut dengan share sebesar 5,2%.

Berdasarkan rating program TV harian, memang top rating masih dikuasai acara entertainment. Di puncak peringkat, akhir-akhir ini biasanya didominasi oleh trisula sinetron dari RCTI, yaitu: “Safa dan Marwah”, “Cinta dan Anugerah”, serta “Doa dan Karunia”. Masih sulit bagi program berita untuk masuk jajaran Top 10. Hanya sekali-sekali saja program berita bisa menusuk ke Top 20. tvOne juga pasti sadar akan kenyataan ini, maka sebagai mesin pendongkrak rating tvOne aktif mengakuisisi tayangan langsung olahraga, terutama sepakbola yang mampu masuk jajaran Top 10. Tayangan siaran langsung Liga Inggris dan beberapa pertandingan tim nasional telah menjadi bagian dari program tvOne dan terbukti efektif meraih rating tinggi. tvOne juga mempunyai acara entertainment, atau lebih tepatnya infotainment. Tetapi di kategori acara ini, infotainment bertajuk ”Expose” dari tvOne masih belum bisa mengalahkan infotainment dari stasiun televisi dari kutub entertainment, seperti “Silet” dari RCTI atau “Halo Selebriti” dari SCTV. Untuk tayangan informasi yang menghibur tvOne mungkin masih harus belajar dari Trans7 yang mampu menghadirkan tayangan edutainment “Si Bolang Bocah Petualang” dan “Laptop Si Unyil” yang beberapa kali mampu masuk ke jajaran Top 20.

Tetapi di tayangan berita, gaya penyajian ala tvOne mulai direspon dengan baik oleh pemirsa. ”Kabar Petang” tvOne sudah beberapa kali bisa mengungguli tayangan berita yang secara tradisi lebih menguasai rating, seperti ”Liputan 6” SCTV atau “Seputar Indonesia” RCTI.

tvOne juga tampak jago di tayangan berita liputan khusus. Salah satu andalannya adalah ”Breaking News” yang terbukti mencuri perhatian pemirsa televisi, seperti pada liputan peristiwa penggerebekan teroris oleh Densus88 di Temanggung dan Solo, liputan bencana gempa bumi di Padang dan Pariaman atau saat pemutaran rekaman telepon Anggodo di Mahkamah Konstitusi (MK) pada kontroversi kasus korupsi yang melibatkan pimpinan KPK non aktif: Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. Program ”Satu untuk Negeri” pun juga terbukti paling efektif menggalang dana bantuan dari pemirsa televisi untuk korban bencana gempa di Sumatera Barat. Content liputan khusus yang mengandung kontroversi memang menarik, seperti yang pernah diulas dalam artikel “Miyabi Marketing”

Tetapi rating memang hanya salah satu indikator yang bisa digunakan. Dari sisi kualitas tayangan, tvOne juga mulai diakui. Menurut riset Yayasan Sains dan Estetika (SET), program tvOne juga paling unggul dalam menyajikan liputan Pemilu Legislatif tahun 2009 melalui tiga program unggulannya di kategori berita: ” Kabar Petang”, ”Kabar Malam” dan ”Kabar Pagi”, serta beberapa program unggulannya di kategori program khusus Pemilu, yaitu ”Kabar Pemilu”, ”Debat Partai”, ”Apa Kabar Indonesia Malam”, ”Uji Kandidat”, ”Interview Politik”, dan ”Jelang Pemilu Indonesia”. Kualitas dinilai oleh Yayasan SET melalui assessment terhadap informative content, social empathy, critical views, balance, factuality, objectivity dan public interest.

Bagaimana dengan aspek yang lain, efektifkah eksekusi Blue Ocean Strategy dari tvOne? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone

Akhir-akhir ini saya banyak menemukan artikel marketing yang mengulas Nokia vs Blackberry. Tetapi dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kali ini saya lebih tertarik untuk sharing marketing ideas dalam kebut-kebutan antara Blackberry dan iPhone. Dari laporan lembaga riset Gartner, pada tabel di bawah ini,, tampak bahwa pertumbuhan di pasar Smartphone menjadi milik HTC, RIM dan Apple. Tetapi bila dilihat market share-nya, maka tampak ”perseteruan” paling seru terjadi antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Market leader masih menjadi milik Nokia, tetapi dengan pertumbuhan 4,4% atau jauh dari ketiga pesaing terdekatnya, maka bila tidak ada perubahan signifikan, posisinya di puncak akan semakin lemah.

smart-phone-market

Banyak hal unik bila kita mencermati kebut-kebutan penjualan antara RIM Blackberry dan Apple iPhone. Sehingga banyak hal bisa jadi bahan bagi kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing tersebut. Salah satunya, keduanya mengandung unsur buah-buahan di brand yang menjadi mesin pertumbuhannya. RIM mengusung buah Blackberry, sedangkan buah Apple merupakan corporate brand yang menaungi iPhone.

Hal unik berikutnya adalah bisnis model serupa yang dikembangkan keduanya, yang juga membedakannya dengan Nokia yang mulai keteteran dalam mengejar pertumbuhan para pesaingnya tersebut. Bisnis model Blackberry dan iPhone adalah bisnis yang menggabungkan device, network dan application atau content seperti yang pernah dibahas dalam tulisan sebelumnya: “Demam Buah di Gadget Market?”. Apple, sebelumnya memang sangat berhasil dalam mengembangkan ekosistem iTunes. Eksosistem ini menggabungkan device audio & video player iPod dengan content berupa berbagai macam musik dalam format digital di iTunes yang dihubungkan melalui koneksi jaringan internet. Ekosistem inilah yang membuat iPod dan iTunes sangat sulit untuk disaingi, walalupun setelah iPod banyak sekali mp3 player atau mp4 player diproduksi dengan berbagai merk dan harga yang jauh lebih murah. Apple iPhone pun dikembangkan dalam business model yang serupa, menantang Blackberry.

Business model ini menjadi salah satu key success factor Blackberry dan iPhone. Dari sebuah artikel di cnn.com baru-baru ini mengungkap adanya kemungkinan rencana iPhone untuk melebarkan sayap untuk menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat. Selama ini AT&T menjadi partner ekslusif iPhone untuk menyediakan layanan di Amerika Serikat. Rumor ini berkembang setelah terciumnya rencana iPhone untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai “worldmode”. Sistem ini diharapkan akan menjembatani keterbatasan iPhone yang menggunakan teknologi W-CDMA (UMTS) yang tidak kompatibel dengan jaringan Verizon yang berbasis teknologi CDMA2000. Apalagi kontrak kerjasama eksklusif iPhone dengan AT&T akan berakhir tahun depan (2010). Verizon adalah pesaing terdekat AT&T pada pasar wireless di Amerika Serikat. Akhir tahun 2008, Verizon memimpin pasar dengan market share sebesar 30%, hanya berselisih 1% dengan AT&T dengan market share 29%.

Pada umumnya Apple iPhone ditawarkan dengan harga di atas Blackberry. Pada posting sebelumnya, ”Blackberry Baru, 500 ribu-an. Tertarik?”, tampak bahwa RIM memulai lateral marketing, mencoba memasuki segmen-segmen baru, untuk terus berpacu menantang iPhone di jalur cepat pertumbuhan pasar smartphone. Salah satunya dengan bermain di pricing. Dari beberapa sumber, tampak kebijakan pricing Blackberry memang lebih berani dibandingkan Apple iPhone. Tetapi tampaknya brand Apple membuat para pengusung iPhone tidak gentar dengan tantangan Blackberry tersebut. Brand Apple memang identik dengan desain yang unggul. Begitu juga dengan iPhone. Walaupun iPhone bukan pelopor di smart phone dan juga bukan first mover di touch phone, tetapi desainnya yang unggul memang menawarkan user interface yang sangat menarik. Unicom, wireless carrier terbesar kedua di China setelah China Telecom, pun yakin bahwa iPhone yang diusungnya akan menjadi nomor 1 di pasar Smartphone di China walaupun harga yang ditawarkannya sekarang masih sangat tinggi. Unicom menawarkan paket iPhone dengan harga sangat tinggi, 7.999 yuan atau sekitar US$ 1.172. Bandingkan dengan paket iPhone di Amerika yang ditawarkan dengan harga US$ 299.

Yang perlu menjadi perhatian Blackberry adalah inisiatif Apple untuk mengoptimalkan ekosistem iTunes dalam jaringan iPhone. Dengan memanfaatkan ekosistem iTunes, Apple menyediakan appstore, mengembangkan jaringan content developer dengan sangat pesat karena didukung sistem billing yang sederhana dan application programming interface yang sangat mendukung para content developer dalam mengembangkan content. Seperti diuraikan di atas content adalah elemen penting dari business model Blackberry dan iPhone. Apple sukses mengembangkan mobile marketing dengan ekosistem tersebut. Tetapi tampaknya Blackberry sangat waspada akan hal tersebut. Blackberry sudah merespon dengan mengembangkan Blackberry Advertising service, sebuah platform layanan yang menawarkan layanan advertising terintegrasi dengan jaringan Blackberry.

Bagaimana menurut Anda? Apakah Blackberry mampu menjawab tantangan iPhone dalam kebut-kebutan di pasar smart phone? Mari sharing marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini dengan mengurai studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

IT Bukanlah Hal yang Penting Lagi?

computerPada era knowledge economy sekarang ini ditandai dengan semakin meningkatnya peran Information Technology (IT) dalam berbagai kegiatan ekonomi. Tidak terkecuali dalam bidang marketing. Cerita kesuksesan business & marketing ideas dari Dell, Air Asia, Southwest Airlines, Amazon.com, iPod tidak bisa lepas dari peran penting IT.

Dell meminimalkan inventory cost dengan membangun online channel langsung ke end customer, memotong supply chain. IT yang dibangun Southwest Airlines dan kemudian Air Asia menjadi salah satu kontributor penting dalam memperkuat diferensiasi mereka sebagai low cost airlines. Kustomisasi layanan dari amazon.com – online retailer terbesar di dunia – sangat ditentukan oleh sistem informasinya. Fenomena keberhasilan iPod berawal dari konsep iPod / iTunes ecosystem yang sangat didukung oleh perkembangan teknologi informasi. Pada beberapa perusahaan berskala besar pun mempunyai posisi Direktur IT atau yang disebut dengan CIO (Chief Information Officer) sebagai salah satu indikasi lagi betapa pentingnya IT.

Makanya tidak heran, saat Nicholas G. Carr menulis artikel di Harvard Business Review, edisi bulan Mei 2003 dengan judul “IT Doesn’t Matter”, kontroversi pun terjadi. Dalam artikel tersebut Nicholas G. Carr berpendapat bahwa IT berpotensi untuk menjadi komoditas di masa yang akan datang. Saat semua mempunyai akses yang sama terhadap IT, maka potensi IT untuk menjadi sumber dari competitive advantage menjadi semakin hilang. Analoginya pada awalnya listrik bisa menjadi sumber competitive advantage saat sumber energi listrik masih langka dan sumber energi alternatif masih tidak efisien. Tetapi saat listrik sudah menjadi standard an akses ke sumber energi tersebut tidak lagi langka, maka akan sangat aneh kalau kita sekarang mendengar akses ke sumber energi listrik sebagai sumber sustainable competitive advantage.

Lebih parah lagi, kalau kita kutip kalimat dalam artikel tersebut: “When a resource becomes essential to competition but inconsequential to strategy, the risks it creates become more important than the advantages it provides. Kalau melihat secara parsial pada perusahaan-perusahaan yang listing di bursa saham New York (NYSE), maka kalimat tersebut bisa dianggap “menjadi kenyataan”. Repotnya melaksanakan prosedur risk management yang dipersyaratkan terhadap semua perusahaan yang listing di NYSE pasti dirasakan oleh IT people di perusahaan-perusahaan tersebut. Carr menyebutnya sebagai komoditisasi IT.

Bukan hanya teknologi informasi, tetapi sebetulnya teknologi pada umumnya punya potensi dan siklus yang sama. Walaupun tidak pada semua jenis teknologi, tetapi banyak teknologi yang perlu ditinjau ulang agar bisa menjadi sumber sustainable competitive advantage. Banyak teknologi yang sudah menjadi kategori easy to imitate. Teknologi yang digunakan Blackberry akan dengan cepat diadopsi oleh berbagai perusahaan di berbagai penjuru dunia. Di pasar Indonesia, tidak terlalu lama setelah booming “Blackberry”, disusul banjir “berry“ lainnya: “Nexianberry”, “Mitoberry”, “HTC-berry” yang merupakan gadget serupa dari produsen lokal dan Cina dengan harga yang jauh lebih murah.

Penguasaan proses belajar jauh lebih penting, termasuk proses organisasi untuk belajar marketing management yang efektif sesuai karakter industri dan karakter organisasi masing-masing. Banyak teknologi, termasuk IT sekarang bisa dengan mudah diakses oleh berbagai organisasi. Tetapi bagaimana memanfaatkan informasi menjadi knowledge dalam proses belajar di dalam organisasi merupakan peluang besar sebagai sumber competitive advantage. Hal ini memperkuat bagaimana pada era knowledge economy, intangible assets menjadi jauh lebih penting. Brand dari Dell tetap bertahan, walaupun skema supply chain-nya bisa diimitasi oleh perusahaan lain. Brand Coca Cola tetap bisa memimpin di pasar, walaupun formula coke nya bisa diimitasi bahkan diungguli oleh kompetitornya. Proses belajar dalam memanfaatkan informasi dari customer database menjadi sumber amazon.com dalam membangun competitive advantagenya. Dibarengi dengan brand management, diferensiasi tersebut menjadi susah untuk diimitasi walaupun teknologi informasinya bisa diimitasi. Air Asia masih terus mempertahankan competitive advantage-nya meskipun liputan dan ulasan mengenai “rahasia” dan “marketing ideas”-nya dalam memimpin pasar low cost airlines di Asia Tenggara sudah sangat banyak.

Judul artikel Nicholas G. Carr di atas memang terlalu kejam, tetapi esensinya adalah: hanya organisasi yang mampu “belajar” dengan baik bisa mempertahankan sustainable competitive advantage-nya dalam iklim kompetisi yang ketat.

Tetapi bagaimana menurut Anda? Setujukah dengan pendapat Nicholas G. Carr? Benarkah learning organization menjadi hal yang utama dalam membangun sustainable competitive advantage? Please share your marketing ideas @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Inovasi Kemitraan Perbankan Syariah untuk Pengentasan Kemiskinan

Dalam Pilpres di Indonesia yang baru lalu, salah satu topik menjadi perhatian dalam masa kampanye dan debat resmi capres / cawapres adalah masalah pengentasan kemiskinan. Kenapa? Karena memang masalah tersebut merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Jadi ijinkan saya ikut menulis posting mengenai masalah ini di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas ini. Dan sejauh ini perkembangan program pengentasan kemiskinan belum memenuhi harapan bagi semua pihak. Walaupun ukuran ini relatif, mengingat beberapa orang dan institusi mengklaim suksesnya beberapa program pengentasan kemiskinan. Tetapi faktanya jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut Bank Dunia hampir separo penduduk, atau 115 juta orang.

bank Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang menuntut solusi kesisteman yang komprehensif dari berbagai aspek dan melibatkan berbagai komponen dalam masyarakat. Salah satu program andalan pemerintah saat ini adalah PNPM Mandiri atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, yang dimulai pada tahun 2007. Dalam situsnya http://www.pnpm-mandiri.org, program tersebut merupakan program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Ruang lingkup program ini cukup komprehensif, meliputi: (1) Penyediaan dan perbaikan pasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial dan ekonomi secara kegiatan padat karya, (2) Penyediaan sumberdaya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro, (3) Kegiatan terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs dan (4) Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan ketrampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.

Kemudian, bagaimanakah peran Perbankan Syariah dalam pengentasan kemiskinan? Konsep dan beberapa produk Perbankan Syariah mempunyai potensi besar untuk mampu berkontribusi signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Beberapa konsep Perbankan Syariah yang sesuai, khususnya dalam kaitannya dengan microfinance antara lain: adanya pembagian keuntungan dan kerugian antara pemberi dana dan peminjam dana dari hasil kegiatan lembaga peminjam dan tidak diperbolehkannya “menghasilkan uang dari uang” akan mengurangi beban bunga kepada peminjam yang biasa ditemui pada kredit bank konvensional. Beberapa produk bank syariah yang berpotensi antara lain: Mudhorobah dan Murobahah. Mudhorobah adalah layanan untuk peminjam dana, di mana keuntungan dari hasil usaha akan dibagi, sedangkan resiko ditanggung penuh oleh bank, kecuali kerugian karena kelalaian atau kesalahan dari peminjam dana dalam mengelola usahanya, seperti penyelewengan atau penyalahgunaan. Sedangkan Murobaha adalah layanan leasing dengan sistem angsuran flat.

Dalam microfinance dengan dasar syariah, juga terdapat BMT (Baitul Maal wat Tamwil). BMT adalah lembaga yang berfungsi ganda, menjalankan fungsi sosial, yaitu mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti: zakat, infaq dan shodaqoh serta lainya yang dibagikan/disalurkan kepada yang berhak dalam rangka mengatasi kemiskinan dan fungsi ekonomi, yaitu kegiatan produktif dalam rangka nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia.

George Soros, pada tahun 2002, pernah menyatakan bahwa agar microfinance mampu menjadi faktor besar dalam perkembangan ekonomi dan politik, skala Islamic Microfinance Institutions harus secara signifikan meningkat. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. BMT bisa menjadi salah satu lembaga keuangan yang sangat sesuai untuk program pengentasan kemiskinan. Pertama, tidak ada beban bunga yang tinggi seperti bank konvensional pada umunya. Kedua, resikonya relatif lebih kecil, karena skala pinjaman dan adanya fungsi sosial dari lembaga tersebut. Ketiga, proses pinjaman yang sederhana. Hal ini bsia menjadi salah satu alternatif dalam menjawab salah satu hambatan program pengentasan kemiskinan di Indonesia menurut Bank Dunia, yaitu lemahnya lembaga layanan publik pemerintah yang erat dengan citra birokratis. Keempat, citra dari lembaga keuangan syariah dan lembaga dengan fungsi sosial yang melekat pada BMT akan lebih diterima masyarakat luas.

Potensi
Berbicara mengenai potensi, PNPM Mandiri mempunyai potensi besar. Dana PNPM untuk tahun 2010 dianggarkan sebesar 16 triliun rupiah. Organisasi pelaksana program ini sudah mencapai tingkat kecamatan, dengan adanya Penanggung jawab Operasional, Unit Pengelola Kegiatan dan Fasilitator di tingkat kecamatan. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Dunia.

Potensi Perbankan Syariah di Indonesia saat ini terus meningkat. Pasar perbankan syariah di Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia dalam pangsa pasar di kawasan Asia Tenggara, menurut gulfnews.com. Menurut data ICN (Indonesian Commercial Newsletter), jumlah kantor bank syariah pada bulan Februari 2009 sebanyak 908 kantor ditambah channeling sebanyak 1.452 kantor. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga terus meningkat tajam, rata-rata 32,8% per tahun pada periode 2004 – 2008, atau melonjak menjadi Rp 36,8 triliun pada 2008 dari Rp 11,8 triliun pada tahun 2003.

Potensi dari BMT juga tidak kalah menjanjikan. Dalam sebuah jurnal penelitian dari Teddy Lesmana, peneliti dari LIPI, pada tahun 2008 terdapat sekitar 3.100 BMT.

Inovasi Kemitraan
Potensi masing-masing dari PNPM yang mewakili pemerintah, perbankan syariah dan BMT memang menjanjikan. Tetapi bila dari ketiganya terdapat sinergi maka potensinya akan menjadi berlipat ganda. Hal ini sangat mungkin, karena kekuatan dari masing-masing pihak bisa menjadi komplemen dari kelemahan dari masing-masing pihak.

Misalnya seperti yang diungkapkan sebelumnya, BMT mampu menjadi komplemen dari hambatan birokratis lembaga pemerintahan. BMT yang biasanya mempunyai modal kecil dan masalah pada kompetensi dari sumber daya manusianya bisa dilengkapi dari besarnya modal dan tingkat kompetensi yang lebih tinggi dari Bank Syariah. Tingkat kompetensi sumber daya manusia ini akan sangat berpengaruh terhadap inovasi dari produk dan layanan yang bisa dikembangkan bagi masyarakat. Bank Syariah bisa menjalankan peran pembinaan dan mitra bagi BMT. Sehingga fokus Bank Syariah dan BMT diharapkan bukan pada persaingan tetapi pada kerjasama. Saat ini persaingan di antara keduanya makin terbuka karena produk Bank Syariah yang mulai masuk ke segmen yang secara tradisi menjadi sasaran dari BMT. Salah satu solusinya bisa dengan komitmen pembagian segmen pasar yang bisa didukung dengan kebijakan pemerintah.

Pemerintah melalui PNPM juga mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh Bank Syariah maupun BMT, yaitu kebijakan, regulasi, modal dan dukungan dari Bank Dunia. Salah satu kebijakan pemerintah yang akan sangat berpengaruh bagi perbankan syariah adalah tingkat suku bunga Bank Indonesia. Bila suku bunga diturunkan, maka perbankan syariah yang tidak menganut konsep riba akan lebih kompetitif dibandingkan bank konvensional. Cakupan gerak PNPM yang lebih luas dengan dukungan organisasi yang lebih lengkap juga bisa menjadi pelengkap kekurangan Bank Syariah dan BMT. Cakupan dan organisasi akan sangat penting dalam meningkatkan awareness masyarakat, terutama masyarakat miskin akan program pemberdayaan masyarakat melalui microfinance yang saat ini dirasakan masih sangat kurang. Peran pemerintah juga diharapkan akan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga microfinance, termasuk Bank Syariah dan BMT.

Jadi, Perbankan Syariah akan sangat berperan dalam pengentasan kemiskinan, tetapi tentunya harus dengan inovasi dalam layanan dan operasionalisasinya. Salah satunya adalah dengan membentuk kemitraan yang harmonis dengan pemerintah, dalam hal ini khususnya PNPM Mandiri, dan BMT. Sehingga diharapkan inovasi kemitraan ini akan bisa menjawab tantangan yang pernah diungkapkan George Soros. Tetapi bagaimanakah menurut Anda? Apakah kemitraan ini memang berpotensi besar atau akan sulit direalisasikan. Silakan berikan masukan dan marketing ideas Anda di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Location Based Services: The Next Killer App?

Killer Application atau disingkat dengan Killer App menurut Wikipedia adalah program komputer yang sangat diperlukan atau diinginkan. Killer App dapat secara substansial meningkatkan penjualan dari platform yang digunakan untuk menjalankan program komputer tersebut.

Tidak ada batasan yang sangat kaku akan jargon ini. Beberapa contoh aplikasi yang bisa dikategorikan sebagai killer application antara lain: e-mail, World Wide Web dengan kontribusi Mosaic GUI (Graphic User Interface), beberapa online games dan yang akhir-akhir ini menjadi perhatian adalah online social media networks.

Dengan terus meningkatnya persaingan di layanan broadband, maka killer app sangat dinantikan untuk menjadi sumber pertumbuhan. Persaingan selalu merupakan kondisi yang menarik untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Akses broadband memungkinkan berkembangnya berbagai jenis aplikasi baru yang akan lebih sulit dinikmati oleh pengguna tanpa menggunakan akses broadband tersebut. Salah satu aplikasi yang kini diharapkan menjadi salah satu killer app untuk layanan broadband, khususnya mobile broadband adalah Location Based Services.

lbsLocation Based Services (LBS) menurut SearchNetworking.com adalah aplikasi software yang memanfaatkan informasi mengenai lokasi dari piranti bergerak (mobile-devices). Salah satu contoh sederhana adalah informasi lokasi ATM terdekat yang dikirimkan ke salah satu piranti bergerak sesuai dengan lokasi piranti tersebut berada. Contoh lain adalah mobile advertising, yaitu informasi komersial yang dikirimkan ke piranti bergerak yang relevan dengan posisi piranti tersebut. Misalnya informasi komersial mengenai program diskon menu tertentu di salah satu café yang berlokasi dekat dengan posisi piranti bergerak.

Aplikasi LBS ini memerlukan lima komponen utama, yaitu (1) aplikasi software dari service provider, (2) jaringan bergerak (mobile network) untuk mengirimkan data dan permintaan layanan, (3) content provider yang menyediakan informasi geo-specific yang relevan bagi end-user, (4) komponen positioning (Global Positioning System / GPS) dan (5) piranti bergerak dari end user.

Bila kita membayangkan apa yang bisa dimanfaatkan dari layanan ini memang akan sangat luar biasa. Lingkup pemanfaatan dan jenis layanan yang bisa dikembangkan bisa sangat luas dan beragam. Strategi bisnis yang menekankan pada karakter lokal dalam lingkungan global akan sangat terbantu . Pengenalan profil dan karakter pelanggan bisa sangat detail. Bayangkan kegiatan kita sehari-hari bisa dikenali oleh provider layanan ini. Kebiasaan belanja, kebiasaan makan, preferensi hotel untuk menginap dan sebagainya akan bisa dikenali dan direkam. Kemudian bayangkan data dari sekian banyak individu dapat dikumpulkan dan bisa menjadi senjata dalam marketing yang sangat ampuh dalam mengenali market dan customer.

Belum lagi kalau kita berpikir layanan many to many. Sebuah layanan bernama Loopt yang dikembangkan oleh seorang mahasiswa di Stanford memungkinkan end user untuk mem-broadcast posisi dia ke teman-temannya. Layanan ini kemudian digunakan oleh dua operator telekomunikasi besar di Amerika, Verizon dan Sprint. Awalnya layanan ini adalah layanan gratis, tetapi pada tahun 2008 menjadi layanan berbayar. Manfaat dari layanan ini sangat beragam, mulai dari just for fun sampai dengan para orang tua yang ingin mengetahui dan mengawasi keberadaan anak-anaknya.

Menurut survey dari ipbusinessmag.com tahun ini, Top 5 aplikasi LBS adalah: (1) Driving Directions, (2) Maps on Mobile Phone Display, (3) Local Traffic Updates, (4) Mobile City Guide dan (5) Local Weather Information.

Tetapi bagaimana menurut Anda? What do you think about the future of LBS? Is it really the next killer app? Please share your marketing ideas with us @ http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.