Mari Berbagi sambil Belajar Marketing Bersama

Untuk merayakan proses belajar kita dalam memahami pemasaran, hari ini diluncurkan versi ebook dari studi kasus pemasaran Indonesia dan Internasional yang kita diskusikan dalam blog http://kopicoklat.com ini.

eBook 43 Studi Kasus Pemasaran Indonesia dan Internasional

E-book ini disusun dari posting dari penulis pada blog di http://kopicoklat.com pada kurun waktu Juni 2009 sampai dengan Juli 2011. Jadi e-book ini dibuat dalam rangka merayakan ulang tahun kedua http://kopicoklat.com bersama teman-teman dan para sahabat. Blog ini merupakan ajang bagi penuangan ide dan pemikiran yang fokus pada studi kasus pemasaran, baik di Indonesia maupun internasional. Pada awalnya, blog tersebut ditujukan untuk bersama-sama belajar tentang pemasaran.

Oleh karena itu untuk menjangkau teman-teman yang ingin belajar pemasaran dengan lebih luas, e-book ini bisa diunduh kapan pun dan oleh siapa pun. Lalu, berapa harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan atau mengunduh e-book ini? Sesuai semangat belajar yang menjadi fondasi blog http://kopicoklat.com, maka Anda bebas menentukan sendiri harga e-book ini. Dan berita gembiranya, kisaran harganya dimulai dari NOL rupiah, atau gratis 🙂

Untuk melakukan pembayaran setelah mengunduh e-book ini, silakan melakukan transfer ke rekening:

Bank Mandiri KCP Jkt Grha Citra Caraka
Nomor Rekening: 070-00-0653258-9
a.n. Arif Swasono

Tentu saja, transfer pembayaran perlu dilakukan hanya apabila Anda menentukan harga e-book ini lebih dari NOL rupiah. Karena petugas bank atau aplikasi e-banking akan menemui kesulitan bila Anda ingin melakukan transfer pembayaran sebesar NOL rupiah 🙂
.
Semua hasil penjualan e-book ini kemudian akan digunakan untuk proses penerbitan sendiri buku ini dalam versi cetak. Buku versi cetak akan didistribusikan secara gratis kepada para pelajar, mahasiswa atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), khususnya Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang membutuhkan. Berdasarkan studi salah satu lembaga riset di Indonesia, salah satu kendala yang umum ditemui di UMKM adalah aspek pemasaran yang belum dikelola dengan baik. Oleh karena itu sebagai kontribusi kita bagi pengembangan UMKM yang berkontribusi 53,1% dari PDB nasional atau sekitar Rp 3.466,4 triliun pada tahun 2010. Kontribusi ini terus menunjukkan pertumbuhan dan bisa menjadi fondasi yang kuat bagi perekonomian nasional.

Dengan cara ini, diharapkan bisa lebih banyak lagi teman-teman dan para sahabat yang kita ajak bersama untuk belajar pemasaran dan berbagi ide dan pemikiran. Semoga cara ini dapat diterima dengan baik, dan berguna bagi kita semua untuk bisa lebih maju, dan ikut sedikit berperan serta memajukan nusantara Indonesia.

Silakan dapatkan, baca, download bukunya di http://www.scribd.com/doc/99665431/The-Right-Marketing-Questions-43-Studi-Kasus-Pemasaran-Indonesia-dan-Internasional atau di  http://kopicoklat.com/download/The_Right_Marketing_Questions.pdf. Have a great and joyful learning, please feel free to give any comments and feedbacks.

Meningkatkan Penjualan dengan Berbagi

Salah satu fenomena di dalam ekonomi Indonesia saat ini adalah lonjakan jumlah kelas menengah. Jumlah kelas menengah tumbuh seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita yang diindikasikan dengan peningkatan GDP (Gross Domestic Product) perkapita Indonesia yang melampaui angka $ 3.000 pada tahun 2011 yang lalu. Dengan meningkatnya kekuatan ekonomi dari kelas menengah akan diikuti dengan fokus pemenuhan kebutuhan hidup yang bergeser. Kebutuhan dasar yang relatif sudah terpenuhi, akan menggeser fokus kelas menengah untuk memenuhi kebutuhan pada level berikutnya, seperti pada hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow. Kebutuhan hidup pada level berikutnya lebih erat dengan aktualisasi diri dan kesadaran manusia sebagai bagian diri dari lingkungan.

Kesadaran akan lingkungan tersebut membuka peluang baru bagi para pelaku bisnis. Peluang ini juga sejalan dengan salah satu tanggung jawab pelaku usaha, yaitu corporate social responsibility. Beberapa perusahaan berusaha menggabungkan tanggung jawab sosial tersebut dalam proses penjualan. Mereka mencoba memanfaatkan kesadaran sosial dari target marketnya untuk bersama melakukan kegiatan berorientasi sosial, tetapi sekaligus mendukung proses penjualan. Cara ini sering disebut juga dengan cause related marketing, yaitu program pemasaran yang diarahkan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah dengan kampanye kesadaran sosial dengan cara menyumbangkan sejumlah uang untuk setiap produk yang dibeli. Salah satu studi kasus pemasaran yang bisa menjadi contoh dari cara ini adalah sabun mandi Lifebuoy dari Unilever. Mulai tahun 2004, Lifebuoy mengkampanyekan gerakan Lifebuoy Berbagi Sehat. Lifebuoy Berbagi Sehat telah mencoba gerakan sosial untuk menggalang sumbangan bagi peningkatan fasilitas kesehatan di daerah yang membutuhkan, antara lain daerah dengan insiden diare tertinggi di Indonesia. Sumbangan ini digalang dengan cara menyisihkan Rp 10,- untuk setiap pembelian sabun mandi Lifebuoy. Pada tahun 2007, Aqua memulai gerakan sosial untuk penyediaan air bersih di daerah yang membutuhkan. Skemanya adalah dengan menyumbangkan 10 liter air bersih untuk setiap pembelian Aqua 1 liter. Coca-cola juga pernah menggunakan skema ini. Bentuk ini menjadi salah satu bentuk yang paling lazim dalam skema cause related marketing.

Bentuk lainnya adalah dengan melakukan gerakan sosial yang terkait dengan solusi yang didukung oleh produk atau brand. Pada tahun 2007, masih dengan Lifebuoy Berbagi Sehat, Lifebuoy menangkap momentum Gerakan Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun yang dicanangkan pemerintah. Lifebuoy mengadakan berbagai kegiatan dalam mendukung gerakan nasional tersebut. Tentu saja ini sejalan dengan komunikasi pemasaran produk sabun mandinya yang sangat terkait dengan gerakan ini. Beberapa jenis kegiatannya meliputi Workshop Guru, Dokter Kecil, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat melalui School Program, Pembinaan Kader Kesehatan dan Mass Media Competition yang berupa lomba liputan berita dengan tema “Sehat Ada di Tangan Kita”. Tentu saja kegiatan ini lebih dekat dengan usaha memperkuat brand daripada pengaruhnya terhadap penjualan langsung.

Gramedia pernah mencoba bentuk yang lebih langsung, yaitu menawarkan kepada para pembeli untuk secara langsung menyumbangkan barang yang dibelinya. Melalui jaringan toko buku Gramedia yang tersebar di seluruh Indonesia, Gramedia menawarkan para pembeli buku di tokonya tersebut untuk membeli beberapa buku yang akan disalurkan oleh Gramedia untuk daerah yang membutuhkan. Jadi pada salah satu sudut di toko bukunya, Gramedia menyediakan berbagai buku, khususnya buku anak-anak yang dapat dibeli dan langsung dimasukkan dalam kotak sumbangan buku yang tersedia di sebelahnya.

Masih ada beberapa bentuk yang lain, tetapi bagaimana dengan efektivitas cause related marketing? Walaupun kegiatan ini lebih banyak dikaitkan dengan benefit bagi pelaku usaha dalam meningkatkan positive public relation, corporate image dan usaha memperkuat brand, tetapi juga bisa secara langsung berpengaruh pada peningkatan penjualan. Dari beberapa studi kasus pemasaran di atas bisa kita lihat bahwa ada peluang besar dalam peningkatan penjualan dari berbagai jenis bentuk cause related marketing.

Pada tahun 1997, Coca-cola menyumbangkan 15 sen untuk tiap pembelian dalam jangka waktu 6 minggu masa promosi di jaringan retail Wal-Mart. Hasilnya, penjualan Coca-cola naik 490% selama masa promosi di Wal-Mart. Pada tahun 1995 Caphalon Corporation bekerjasama dengan gerakan sosial “Share Our Strength”. Caphalon melakukan co-branding menggunakan logo dan nama “Share Our Strength” dan menyumbangkan $5 untuk setiap penjualan produk panci yang sebelumnya menunjukkan penjualan yang kurang bagus. Hasilnya, penjualan panci tersebut naik 250%.

Beberapa studi memperkuat pendapat bahwa terdapat korelasi dari cause related marketing terhadap peningkatan penjualan. Salah satunya, sebuah penelitian mengenai perilaku konsumer dari Cone Communication yang pernah dimuat di Reuters pada tahaun 2008, mengkonfirmasi bahwa cause related marketing mampu secara signifikan meningkatkan penjualan. Jadi, berbagi bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan penjualan.

Piranti Elektronik Makin Pintar. Apakah Konsumen Juga Makin Pintar?

Coba sebut berbagai piranti elektronik, maka kita sekarang akan mendapatkan versi pintarnya. Yang paling populer adalah telepon seluler. Versi pintar dari telepon seluler – yang dikenal dengan smartphone – tumbuh dengan pesat. Kategori ini sekarang dikuasai oleh Apple iPhone, ponsel pintar dengan sistem operasi Android dan Blackberry dari RIM. Paul Otellini, CEO Intel, pada keynote di Consumer Electronics Show 2012 di Las Vegas, berkata bahwa kemampuan komputasi dari ponsel pintar sekarang sudah lebih tinggi dibandingkan dengan komputer yang digunakan NASA untuk membantu mendaratkan manusia di bulan pada akhir tahun 1960-an.

Televisi, piranti elektronik ini pun diklaim semakin pintar dengan terkoneksi ke jaringan internet. Bahkan beberapa pabrikan menanamkan sistem operasi Android dari Google, sehingga menambah kepintaran televisi. Fungsi televisi semakin berkembang, bukan hanya sekedar menampilkan tayangan broadcast dari stasiun televisi. Kini televisi pintar bisa digunakan untuk akses ke social media, browsing dan menjalankan berbagai aplikasi lainnya yang dengan mudah diunduh dan digunakan.

AC (Air Conditioning) didesain semakin pintar, terutama ditujukan dalam rangka menghemat energi. Mulai dari kemampuan mengatur suhu ruangan sehingga AC tak terus-menerus bekerja, sampai dengan mendeteksi keberadaan manusia di dalam ruangan. AC akan bekerja optimal hanya jika terdeteksi manusia di ruangan. Bila ruangan kosong, AC didesain akan mengurangi aktivitasnya.

Mesin cuci dan kulkas pun tidak ketinggalan, menjadi semakin pintar. Kemampuan penggunanya mengendalikan kedua mesin tersebut dari jarak jauh mulai dikembangkan, menggunakan akses internet, baik dari komputer maupun dari ponsel pintar. Kemampuan komputasi kamera digital juga semakin lengkap dengan mempunyai kemampuan intelijensia buatan untuk menghasilkan gambar yang lebih baik, terkoneksi ke internet dan bahkan dilengkapi aplikasi image atau photo editing.

Pada umumnya kepintaran piranti tersebut didasari oleh peningkatan kemampuan komputasi, adanya kemampuan intelejensia buatan dan terkoneksi ke jaringan internet.

Sehingga, semakin banyak produsen piranti elektronik yang berlomba-lomba mengklaim bahwa produknya semakin pintar. Lalu, bagaimanakah dengan konsumen. Apakah konsumen yang menggunakan berbagai macam piranti pintar tersebut juga semakin pintar? Beberapa studi menunjukkan bahwa pada pasar yang semakin terhubung dengan internet, yang diperkuat dengan makin meluasnya social media menyebabkan konsumen semakin pintar. Hal ini disebabkan konsumen semakin mudah mempunyai akses ke informasi. Kemudahan akses informasi dari piranti bergerak juga memungkinkan konsumen menerima informasi kapan saja dan di mana saja. Semakin banyaknya sumber informasi menyebabkan informasi horizontal yang akan lebih dipercaya daripada informasi vertikal, khususnya dari produsen. Informasi horizontal yang dimaksud terutama adalah informasi yang berasal dari teman atau komunitas.

Tetapi, seperti kata John Nasibitt dalam bukunya “Mind Set!”, dalam perubahan yang banyak dan terus terjadi, sebetulnya lebih banyak lagi hal yang tetap, tidak berubah. Apa saja yang tidak berubah dari konsumen dan mengapa kita perlu mengenalinya? Kadang-kadang kita terjebak dalam perubahan yang terjadi tanpa menyadari esensi yang melatarbelakangi perubahan yang terjadi, sehingga menyebabkan antisipasi kita terdistraksi. Berikut, beberapa contoh hal yang tetap di antara berbagai perubahan pasar yang semakin tinggi intensitasnya.

Pertama, yang tetap adalah konsumen yang tidak suka akan kompleksitas. Hal ini menjadi sebab Google memutuskan untuk menghentikan layanan Google Wave. Google Wave sebetulnya adalah aplikasi yang dijagokan untuk merevolusi cara orang berkomunikasi dan berinteraksi di dunia maya. Dari sisi fungsionalitas memang sangat menjanjikan. Tetapi kompleksitas yang muncul dalam cara penggunaan Google Wave membuat orang perkembangannya kurang seperti yang diharapkan Google (Baca: “Belajar dari Wafatnya Google Wave”).  Jadi, piranti pintar haruslah tetap mudah dioperasikan agar bisa secara optimal diserap oleh pasar.

Kedua, konsumen tetaplah manusia yang merupakan makhluk sosial, yang tidak ingin ditinggalkan oleh komunitasnya. Ini menjadi kunci sukses ponsel pintar Blackberry di Indonesia, dan sekaligus menjadi sebab kunci dari kekalahan Blackberry di pasar global dari Apple dan ponsel berbasis Android. Banyak aplikasi di ponsel pintar yang menjadi trend di pasar, ternyata tidak bisa digunakan dengan Blackberry. Aplikasi di Apple iPhone dan ponsel Android jauh lebih menggoda, menjadi salah satu sebab Blackberry mulai ditinggalkan di pasar global.

Ketiga, konsumen, seperti kita semua pasti tidak suka bila dibohongi. Oleh karena itu faktor courtesy dalam lima faktor utama konsep Service with Care dari Hermawan Kartajaya sangatlah tepat. Courtesy adalah faktor pelayanan yang harus disertai oleh sikap kejujuran. Faktor ini menjadi sanagt penting karena konsumen yang semakin pintar dan semakin terhubung.

Keputusan konsumen dalam berbelanja juga tetap didasari oleh aspek rasional dan emosional. Walaupun Emotional Branding baru mulai populer setelah terbitnya buku dari Marc Gobe pada tahun 2001, bukan berarti jauh sebelum era tersebut konsumen hanya menggunakan aspek rasional dalam keputusan membeli. Istilah emotional branding pun sebetulnya pertama kali muncul pada tahun 1980-an.

Jadi seperti yang disampaikan oleh John Nasibitt, kemampuan memahami esensi yang menyebabkan perubahan ini akan sangat membantu kita untuk memahami perubahan yang terjadi. Sehingga, kita akan lebih mampu melakukan antisipasi yang lebih tepat.

Cerita Kesaktian Brand Apple

Studi kasus pemasaran kali ini masih seputar penyelenggaraan salah satu trade show di bidang elektronik konsumer terbesar, yaitu Consumer Electronics Show (CES) 2012 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Tulisan sebelumnya bercerita tentang “Cara Sony Mengoptimalkan Kehadirannya di CES 2012”.  Kali ini kita akan mencoba memahami bagaimana Apple bisa merebut perhatian dalam gelaran sebesar CES tanpa kehadiran formal dalam acara tersebut. Salah satu di antara banyak cerita lain tentang kekuatan brand Apple.

Pameran elektronik konsumer ini diikuti oleh lebih dari 2.700 perusahaan dari industri yang beragam. Tidak heran penyelenggara mengklaimnya sebagai pameran teknologi elektronik konsumer terbesar di dunia. Walaupun banyak pameran lain yang menjadi pesaing dalam memberi pengaruhnya dalam industri terkait, antara lain Electronic Entertainment Expo di Los Angeles, Amerika Serikat, Mobile World Congress di Barcelona, Spanyol atau CeBIT di Hannover, Jerman. Tetapi ada 1 pemain besar dunia yang tidak hadir, yaitu Apple.

Tetapi kalau kita lihat hasil studi dari Webtrends pada gelaran CES tahun sebelumnya, Apple masuk menjadi 6 besar dalam brand yang paling banyak dibicarakan di media online – atau dikenal dengan istilah buzz – terkait gelaran CES. Padahal seperti tahun-tahun sebelumnya, Apple tidak hadir dalam acara tersebut. Berurutan, enam besar tersebut adalah Samsung, Google, Microsoft, Motorola, Sony dan Apple. Semuanya hadir secara resmi, kecuali Apple.

Hebatnya lagi, biasanya banyak partisipan yang berlomba-lomba mengumumkan produk baru unggulannya. Tetapi brand Apple tetap bisa merebut perhatian di tengah banjirnya informasi. Pada tahun 2011, CES dibanjiri oleh produk PC tablet dan ponsel pintar. Tetapi buzz tentang Apple tetap mampu mengimbangi sistem operasi Android. Webtrends menyebut angka Android : Apple = 51:49, walaupun masih untuk kemenangan Android yang hadir melalui berbagai macam pabrikan. Tetapi bisa kita lihat selisihnya tidaklah signifikan. Seperti kita tahu, Apple menjadi pionir dalam kategori PC tablet melalui iPad, dan masuk ke kategori ponsel pintar melalui iPhone. Seakan-akan apa pun jenis PC tablet yang diluncurkan atau dipresentasikan di CES akan langsung dibandingkan dengan Apple iPad. Demikian juga dengan ponsel pintar, akan banyak yang mencoba membandingkannya dengan Apple iPhone. Bahkan bila dibandingkan antara semua brand terkait (bukan berdasarkan sistem operasi), Apple berada di urutan pertama baik di kategori PC tablet maupun ponsel pintar. Di kategori PC tablet, Apple iPad merebut 18,1% buzz disusul Motorola dan Microsoft. Untuk ponsel pintar, Apple iPhone merebut 47,6% buzz disusul Sony Ericsson Xperia dan Windows Phone.

Semua itu tidak akan terjadi tanpa kekuatan sebuah brand. Menurut Interbrand, pada tahun 2011 brand value dari Apple menunjukkan pertumbuhan paling tinggi, mencapai 58%. Menurut WPP Plc dalam liputan bloomberg.com pada Mei 2011, disebutkan brand value Apple mencapai US$ 153 milyar, melampaui Google dan IBM.

Mungkin ini menjadi salah satu alasan bagi Apple untuk lebih memilih mengadakan sendiri acara peluncuran produknya daripada memilih menggunakan pameran. Pada CES 2012 ini, penyelenggara juga mendapatkan tantangan dari Microsoft. Microsoft mengumumkan bahwa tahun ini adalah tahun terakhir keikursertaannya di CES. Microsoft memutuskan untuk tidak hadir secara resmi dalam CES tahun 2013.

Tetapi bukan berarti Apple mengecilkan arti pameran besar tersebut. Seperti dilaporkan situs gizmodo.com, Apple dikabarkan menerjunkan sampai dengan 250 karyawannya untuk mengamati dinamika industri dan persaingan di CES 2012. Pameran seperti ini bukanlah hanya sebuah event untuk mempertemukan produsen dan calon pembeli. Pengunjungnya akan beragam dari calon pembeli, investor, pengamat teknologi atau industri terkait, pemerintah atau regulator, para jurnalis atau bahkan event organizer yang ingin melakukan studi banding. Interaksi berbagai pihak ini membuat manfaat sebuah pameran sangat beragam, mulai dari mencari pembeli, mencari mitra bisnis, mencari investor dan mencari informasi dalam proses memahami dinamika persaingan atau mencari ide inovasi. Dengan kekuatan brand sekuat sekarang Apple lebih memilih untuk fokus mencari informasi daripada hadir secara resmi dan memamerkan berbagai produk dan inovasinya.

Cara Sony Mengoptimalkan Kehadirannya di CES 2012

Di dalam industri ICT (Information & Communications Technology), ajang pameran atau trade show tahunan Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas adalah salah satu pameran penting. CES tahun ini, mulai pada hari ini, tanggal 10 Januari 2012 sampai dengan 13 Januari 2012. Dalam pergelaran ini, biasanya ditunggu terobosan produk baru dari para pemain besar di industri ICT.

Pada tahun sebelumnya, CES 2011, beberapa tampilan yang menarik perhatian dunia adalah PC Tablet (Motorolla Xoom, Blackberry Playbook), Connected TV (Samsung Smart TV), Teknologi 3D pada TV dan Camcorder, Ponsel pintar (Motorolla Atrix 4G), Microsoft Kinect, Ultrabook (Samsung 9 Series), dan masih banyak lagi. Menurut Webtrends, pada CES 2011 brand yang paling sering dibicarakan di dunia maya adalah Samsung, disusul oleh Google, Microsoft dan Motorolla. Sony tidak masuk dalam 5 besar. Apple mampu mencuri perhatian melalui iPhone yang menjadi produk pada kategori ponsel pintar yang paling banyak dibicarakan.

Tidak terkecuali di CES 2012 ini, banyak pihak menunggu peluncuran produk baru yang akan menjadi bintang dalam pameran ini. Beberapa di antaranya adalah dari kategori Ultrabook yang kini menjadi tren, menyusul suksesnya Macbook Air, Sistem Operasi Microsoft Windows 8 atau Sistem Operasi Android 4.0 Ice Cream Sandwich. Dari pembicaraan di social media, beberapa pihak penasaran apakah Sony akan meluncurkan PS4.

Tetapi dari konferensi pers di hari pertama CES 2012, Sony belum tampak menampilkan PS4, tetapi menampilkan layanan musik premium: Sony Music Unlimited, Ponsel pintar: Sony Xperia Ion 4G dan Xperia S, 4K Home Theater Projector dan memperkenalkan perubahan Sony Ericsson menjadi Sony Mobile Communications. Produk-produk tersebut ini tampaknya belum mendapatkan sambutan yang besar. Bila datang dengan produk yang tidak ditunggu oleh pasar, lalu bagaimana Sony akan mengoptimalkan ajang pameran ini?

Pertama, Sony datang dengan konsep produk. Pada konferensi pers hari pertama, Sony menyampaikan konsep produk konvergensi PC dan TV. Percakapan seputar konsep ini diharapkan mampu membantu brand Sony tetap diingat dan menjadi perhatian pasar. Dari presentasi konsep ini diharapkan akan muncul respon pasar yang bisa menjadi masukan dalam proses pengembangan produk selanjutnya. Sebuah bentuk dari proses co-creation. Sejauh ini, Apple sebetulnya yang paling jago dalam hal ini. Pembicaraan tentang iPhone 5 sudah dimulai beberapa waktu yang lalu, bahkan sebelum meluncurnya iPhone 4S, padahal sampai saat ini iPhone 5 belum meluncur.

Kedua, Sony menghadirkan liputan acara di panggung Sony dalam CES 2012 melalui UStream (http://t.co/lEkAdXCA). Liputan ini termasuk konferensi pers dan penampilan Kelly Clarkson dan Will Smith di panggung Sony.

Ketiga, tentu saja social media. Social media memang sekarang sudah menajdi bagian pentign dalam proses pemasaran yang lebih horizontal (baca: “Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012”). Sony menggunakan tagar #SonyCES di Twitter untuk pembicaraan seputar Sony di CES 2012. Liputan ini tampak terintegrasi dengan liputan melalui video streaming di UStream. Mereka juga hadir melalui blog http://sony.com/ces. Halaman facebook mereka pun penuh dengan liputan dari pameran ini. Tidak ketinggalan, 10 video (sampai tulisan ini dibuat) terkait berbagai produk yang dijagokan di CES 2012 diunggah melalui kanal SGNL di Youtube. Uniknya video yang paling banyak dilihat adalah video tentang produk-produk lama Sony yang cukup mewarnai dunia elektronik konsumer, seperti walkman dan Betamax. Video tentang produk-produk barunya malah kurang mendapat sambutan.

Sony memang sudah lama belum menghasilkan kembali produk yang mampu menjadi ikon dalam dunia elektronik konsumer setelah walkman. Oleh karena itu tampilan konsep masa depan konvergensi TV dan PC di konferensi pers hari ini adalah cara yang cukup cerdas dalam menyikapi kondisi pasar dan kondisi internal Sony. Selanjutnya bagaimanakah hasil dari presentasi Sony di ajang ini? Apa lagi cara yang digunakan untuk meningkatkan manfaat penampilan mereka? Mari kita ikuti perkembangan event ini dan bersama belajar marketing.

Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012

Pada bulan Desember tahun 2011 yang baru saja berlalu, ternyata tetap berjalan sesuai tradisi akhir tahun selama ini. Bila kita mengikuti berbagai berita dan ulasan di berbagai media, baik media konvensional seperti televisi, surat kabar, tabloid atau majalah, maupun new media, nuansanya tetap sama. Kita akan banyak menemukan ulasan peristiwa selama 2011 dan prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2012. Demikian juga dalam dunia pemasaran. Kita akan banyak menemukan ulasan mengenai apa yang menjadi tren pemasaran di tahun 2012.

Dalam prediksi marketing 2012, kita akan menemukannya dalam berbagai sudut pandang, dari berbagai pakar pemasaran dan bisnis dan bersumber dari berbagai macam riset. Tetapi ada satu kata ajaib yang hampir selalu muncul di berbagai prediksi marketing tersebut. Can you guess it? Yes! It is SOCIAL.

Tidak percaya? Coba cara yang satu ini. Masukkan kata kunci “marketing prediction 2012” ke dalam mesin pencari, Google misalnya. Maka pada halaman pertama kita akan mendapatkan banyak kata “social” di dalamnya. Kalaupun tidak bisa menemukan kata social di hasil pencarian tersebut di halaman Google, coba klik link hasil pencarian tersebut. Maka kita akan menemukan lebih banyak lagi kata social di dalam isi ulasan tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Maaf, terus terang, ini pertanyaan yang sedikit basi :-). Indonesia telah sering menjadi perhatian dunia karena pertumbuhan pengguna dan penggunaan social medianya. Saat ini jumlah akun Facebook dari Indonesia mencapai 41 juta. Nomor dua terbanyak di dunia. Tetapi, prediksi saya tahun ini, jumlah akun Facebook dari India yang berada di posisi ke-3 akan melampaui Indonesia. Tweet dari Indonesia di media Twitter memberikan kontribusi 15% dari total tweet dari seluruh dunia. Indonesia sering disebut sebagai The Twitter Capital of Asia.

Sesuai apa yang disampaikan Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat”, dunia memang semakin terhubung, terutama melalui internet yang dimotori oleh social media. Dari berbagai survey, penggunaan terbanyak saat akses internet adalah bersosialisasi melalui berbagai bentuk dan macam social media. Walaupun dari beberapa versi prediksi pertumbuhan jumlah pengguna social media apda tahun 2012 akan mulai melambat, bukan berarti sama sekali bahwa social media akan berkurang pengaruhnya terhadap dunia pemasaran. Peran social media justru akan semakin kuat. Salah satu contoh yang cukup ekstrem berasal dari Gartner: “Gartner: Next, Social Networks Will Sell Insurance, Become Banks”.

Lihatlah juga bagaimana berbagai inovasi dari beberapa social media terbesar di tahun 2011 yang akan mempengaruhi perannya di tahun 2012. Antara lain: Google+ meluncurkan Brand Pages (“Google+ Launches Branded Pages”), Facebook menyediakan tombol Subscribe untuk merespon pertumbuhan pesat Twitter (“Tombol “Subscribe” Facebook, Saingi Twitter”) dan Twitter yang juga mulai menyediakan brand pages, mengubah layout dan diprediksi akan menambah porsi iklan. Social media tampak semakin mempersiapkan diri, bersaing untuk memperkuat perannya sebagai media yang berpengaruh. Di Indonesia, preferensi media dari pengguna internet juga sudah mulai bergeser. Media konvensional bukanlah lagi menjadi preferensi utama (“Attitude dan Behavior Pengguna Internet di Indonesia“). Walapupun begitu, tentu saja bukan berarti media konvesional akan segera mati. Malah, mainstream media yang masih didominasi oleh media konvensional terbukti mampu mempengaruhi trending topics di social media, seperti sebuah stui yang dilakukan oleh Hewlett Packard di awal tahun 2011.

Lalu apa implikasinya bagi para pemasar? Desakan untuk lebih terlibat dalam percakapan di social media akan semakin tinggi. Kurangnya engagement di social media, akan membuat sebuah brand semakin tertinggal. Setiap tahapan dalam proses pemasaran tidak bisa lagi mengabaikan kata social. Saat pengembangan produk, banyak produsen yang sudah melibatkan pelanggan, yang disebut dengan proses co-creation. Dalam tahap promosi, ini saat yang tepat bagi Anda yang belum mempunyai belief atau ragu-ragu dalam memprioritaskan new media untuk menjalin conversation dengan pasar, untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas promosi yang masih terlalu fokus pada cara-cara yang konvensional. Bahkan pada tahap pasca penjualan atau dalam siklus customer relationship management (CRM), sekarang sudah berkembang konsep Social CRM.

Tetapi, tantangan terbesar utk berubah ke pola pemasaran yang lebih horisontal adalah mengubah mind set, terutama belief terhadap cara pemasaran yang baru, seperti yang telah kita diskusikan dalam “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”.  Tantangan berikutnya adalah menjalankan pemasaran yang lebih horisontal secara terpadu atau terintegrasi dalam tiap tahapan pemasaran. Jadi, mampukah kita menjawab tantangan ini?

Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand?

Istilah brand berawal dari tanda yang dibuat menggunakan besi panas untuk menandai hewan ternak guna membedakannya dari hewan ternak milik orang lain. Brand kini berkembang, menunjukkan kepribadian sebuah produk, layanan atau organisasi. Tetapi masih seperti awal istilah brand yang digunakan untuk membedakan ternak, maka brand dalam marketing tetap dekat dengan fungsinya sebagai pembeda. Brand harus mampu menunjukkan diferensiasi. Brand juga harus mampu menjadi relevan dengan target pasarnya, karena dituntut mampu mewakili positioning di benak target pasarnya.

Brand yang kuat akan mampu menjadi mesin pertumbuhan sebuah organisasi. Dalam sebuah laporan pada tahun 2008, sebuah research agency Millward Brown Optimor, menyatakan brand value dari Coca Cola mencapai USD 58,2 miliar, tumbuh 17% dari tahun sebelumnya. Silakan coba hitung nilai tersebut ke dalam satuan rupiah. Pada waktu itu Coca Cola menempati posisi keempat di belakang Google, GE dan Microsoft.

Dua paragraf di atas mestinya cukup untuk sedikit menggambarkan bagaimana pentingnya brand dalam marketing. Lalu berapa biaya membangun sebuah brand? Pertanyaan ini muncul di benak setelah mendengar pernyataan dalam sebuah diskusi, “… brand sama dengan cost”. Tentu saja jawabannya bisa sangat bervariasi, tergantung kepada berbagai macam kondisi yang dipengaruhi lingkungan industri, target pasar sampai dengan strategic objective dan skala dari suatu produk, layanan atau organisasi. Hal tersebut juga tergantung bagaimana sudut pandang yang digunakan. Bisa saja sesederhana membayar beberapa ribu rupiah untuk memesan stempel di tukang stempel kaki lima atau membayar miliaran rupiah kepada konsultan branding untuk sebuah perusahaan berskala nasional.

Sebagai gambaran, berikut ini ada sebuah riset yang dirilis di graphicdesignblog.org pada tahun 2010. Riset tersebut mengungkap biaya yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan multinasional dalam proses rebranding. Lingkupnya bukan hanya dalam proses mengubah logo. Tetapi lingkup yang dimaksud lebih luas, termasuk di dalamnya proses komunikasi pemasaran yang dilakukan. Proses rebranding sangat memerlukan komunikasi pemasaran yang kuat karena biasanya merupakan desain ulang pada positioning atau diferensiasi. Dalam laporan tersebut, Pepsi dikatakan memerlukan  sekitar 1 juta dolar dalam proses rebranding. BBC One menghabiskan 1,2 juta poundsterling, ANZ:  15 juta dolar, Accenture: 100 juta dolar. Biaya paling tinggi dicatatkan oleh BP (British Petroleum), yaitu sebesar 136 juta poundsterling.

Tetapi berapa pun biaya yang dikeluarkan, biaya tersebut adalah sebuah investasi jangka panjang. Brand adalah intangible asset. Membangun sebuah brand adalah sebuah proses yang berkelanjutan, yang tidak bisa dipisahkan dengan proses membangun keunggulan kompetitif. Komunikasi pemasaran yang hingar bingar dari sebuah brand tidak akan efektif dalam jangka panjang bila tidak ada usaha yang kontinu dalam mempertahankan dan mengembangkan diferensiasi dan inovasi untuk membangun keunggulan kompetitif. Awareness dari target pasar yang tinggi tidak akan berarti banyak bila diferensiasi dan relevansinya mulai tergerus, seperti studi kasus pemasaran: “Belajar dari Masalah Brand Nokia”.

Brand yang sangat dikenal bukanlah brand yang sehat apabila kualitasnya tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan dari target pasar, yang akan memberikan banyak masalah bagi organisasi. Brand yang benar-benar mewakili diferensiasi, relevansi dan kualitas akan mampu menjadi kepribadian dari produk, layanan atau organisasi. Tetapi komunikasi brand yang tidak diimbangi dengan kualitas yang dijanjikan akan hanya menjadi sebuah stempel yang mungkin saja dikenal tetapi tidak mempunyai nilai di mata target pasarnya. Brand bukanlah sekedar logo atau stempel. Itulah sebabnya Coca Cola mempunyai brand value yang luar biasa. Android, sebuah brand yang berusia muda, sering kita lihat tampil dalam berbagai bentuk dan warna. Walaupun logo Android tampil dalam berbagai bentuk, tetapi tidak mengurangi nilai brand tersebut di mata target pasarnya. Tetapi di sisi yang lain, TVRI sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi mulai ditinggalkan oleh para pemirsa televisi.

Karena membangun brand adalah proses berkelanjutan yang tidak terpisahkan dalam proses membangun keunggulan kompetitif, maka selain sudut pandang finansial, banyak harga tersembunyi yang perlu kita perhatikan. Kurangnya menjaga kualitas, sebetulnya mempunyai konsekuensi harga yang harus ditanggung karena akan mengurangi nilai dari sebuah brand.

Mendulang Profit Sekaligus Mengentaskan Kemiskinan

Studi kasus pemasaran kali ini ditulis untuk turut memeriahkan Hari Blogger Nasional tahun ini, tanggal 27 Oktober 2011. Bermula dari pemikiran, apa yang bisa saya tulis untuk bisa sedikit berkontribusi melalui blog yang fokus pada tema studi kasus pemasaran dan inovasi di http://kopicoklat.com.

Sangat membanggakan saat membaca ulasan bangkitnya kelas menengah di Indonesia, menurut ekonom Faisal Basri. GDP (Gross Domestic Product) Indonesia sebesar $ 3.000 per capita pun diprediksi akan terlampaui pada tahun 2011. Jumlah populasi kelas menengah terus membengkak seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kondisi ini membawa pengaruh semakin larisnya berbagai produk yang selama ini masuk dalam kategori barang kebutuhan sekunder. Bahkan barang-barang mewah juga semakin terjangkau, karena volume penjualan yang semakin tinggi.

Lebih menggugah hati lagi saat membaca Entrepreneur Boom-nya mas Yuswohady, yang merupakan kelanjutan dari fenomena Consumer 3000 yang juga dikenalkan oleh mas Yuswohady. Consumer 3000 adalah istilah untuk menggambarkan kelas menengah yang mempunyai pendapatan di atas GDP per capita $ 3000. Dengan adanya lonjakan kelas menengah, diharapkan enterpreneurship di Indonesia semakin berkembang. Lebih banyak lagi kelas menengah yang memutuskan untuk mengembangkan diri menjadi entrepreneur. Hal ini didukung oleh karakter kelas menengah yang pada umumnya memiliki aset modal yang memadai, berwawasan luas, knowldgeable dan melek teknologi.

Tetapi kenyataannya di balik pertumbuhan kelas menengah, masih ada 31 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut data Bank Dunia. Bahkan sekitar 4 milyar penduduk dunia hidup dengan pendapatan di bawah $2 per hari. Yang cukup menyedihkan, gap atau jurang antara kaya dan miskin di Indonesia ternyata semakin lebar.

Jadi di balik menggairahnya pasar domestik dengan adanya lonjakan kelas menengah, apakah tidak ada peluang di segmen pasar yang berada di bawah garis kemiskinan? Menurut C. K. Prahalad dalam bukunya “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”, terdapat peluang besar bagi banyak pelaku usaha bila menggarap pasar ini dengan benar. Selain menguntungkan, menggarap pasar di segmen ini juga akan memberi nilai tambah yang luar biasa bagi pengentasan kemiskinan. Kuncinya adalah kemitraan yang sinergi antara pelaku usaha,  pemerintah, berbagai organisasi kemasyarakatan dan masyarakat di segmen ini. Tetapi memang, untuk bisa menghasilkan keuntungan di pasar ini menuntut sebuah perusahaan yang menggarapnya untuk berinovasi, mulai dari model bisnis, teknologi, pengembangan produk dan yang paling penting adalah mengubah mindset.

Mindset yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah sudut pandang bahwa masyarakat miskin bukanlah beban tetapi lebih sebagai sumber daya. Sumber daya manusia yang menurut C.K. Prahalad juga berpotensi sebagai entrepreneur yang tangguh dan kreatif. Benarkah sudut pandang ini? Coba kita tengok bagaimana Grameen Bank yang digagas oleh pemenang Nobel Perdamaian 2006, M. Yunus. Grameen Bank berhasil mengentaskan kemiskinan pada banyak keluarga di Bangladesh dengan mengembangkan model bisnis inovatif dalam produk kredit mikro. Kredit mikro tersebut didesain dalam bentuk yang tepat untuk target marketnya, yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kredit diberikan tanpa perlu adanya jaminan seperti layaknya produk kredit mikro perbankan pada umumnya.  Pinjaman diberikan secara selektif kepada kelompok perempuan produktif yang ber status sosial miskin. Kredit mikro ini berhasil mengembangkan entrepreneurship di kalangan kelompok perempuan berstatus sosial miskin, dan akhirnya berkontribusi besar dalam mengentaskan keluarga mereka dari kemiskinan. Masih banyak lagi contoh yang disampaikan Prahalad dalam buku “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”.

Jadi di balik pertumbuhan Consumer 3000 dengan daya beli yang naik dan harapan lonjakan para entrepreneur dari kalangan kelas menengah, terdapat peluang besar naiknya daya beli dan bangkitnya entrepreneurship dari masyarakat yang saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah harus mampu menjadi fasilitator dan katalisator dalam proses kemitraan yang sinergis dengan sektor swasta dan berbagai lembaga kemasyarakatan untuk mengubah mindset seperti di atas. Perubahan mindset tersebut diharapkan mampu membangkitkan inovasi di berbagai perusahaan untuk menggarap segmen ini dan sekaligus berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Bagaimana dengan UKM (Usaha Kecil Menengah)? Peluang inovasi di UKM selalu terbuka, juga dalam kaitannya dalam menggarap segmen pasar ini (baca: “Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM”). Apalagi UKM mestinya lebih dekat dengan segmen pasar ini dibandingkan perusahaan berskala besar.

Bagaimana menurut Anda? Ada pemikiran tentang pengentasan kemiskinan di Indonesia dan peran serta sektor swasta dan juga pemerintah? Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional http://kopicoklat.com.

Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM

Tulisan studi kasus pemasaran kali ini ditulis setelah pada hari ini (26/09/2011), Inc. Magazine merilis sebuah artikel yang berisi tantangan. Tantangan tersebut ditujukan untuk segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM): “A Challenge to the Small Business Image”. Dari hasil survey University of Chicago Booth School of Business, hanya 5% – 6% UKM yang mendaftarkan paten, copyright atau trademark dalaam 5 tahun pertama. Bahkan 80% pemilik UKM menyatakan tidak berniat berinovasi dengan mengembangkan teknologi atau proses baru.

Survey ini memang dilakukan terhadap UKM di Amerika Serikat dan sayangnya saya tidak menemukan referensi mengenai survey mengenai inovasi UKM di Indonesia. Ada yang mau membantu berbagi informasi? Tetapi Bappenas mengemukakan bahwa diakui daya saing UKM Indonesia masih rendah dibandingkan UKM di kawasan regional Asia Pasifik. Bahkan di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia atau Philippines. Apalagi pemerintah Cina dikabarkan akan meningkatkan fokusnya kepada UKM. Menurut survey Doing Business 2011 versi International Finance Corporation (IFC), peringkat daya saing UKM Indonesia turun. Hal ini dirilis oleh kantor berita Antara di antaranews.com. Daya saing sangat erat kaitannya dengan inovasi. Proses inovasi adalah bentuk daya saing yang berkelanjutan, karena berlandaskan pada transformasi.

Kemudian, apa hambatan dalam proses berinovasi di UKM? Silakan sebut berbagai macam sebabnya, mulai dari tingkat pengetahuan dan ketrampilan sampai iklim usaha . Tetapi yang hampir pasti selalu dikeluhkan sebagai hambatan atau tantangan adalah sumber daya, terutama dari sisi keuangan. Tetapi tantangan yang mendasar adalah fokus terhadap proses inovasi itu sendiri. Dengan asumsi yang terus bertahan bahwa inovasi membutuhkan sumber daya yang besar, maka bisa saja UKM memalingkan diri dari fokus dan upaya dalam proses inovasi. Menyerah sebelum berperang. Terbukti dari hasil survey di atas.

Kemudian saya teringat akan istilah Elegant Solutions yang digagas oleh Matthew E. May. Coba perhatikan data ini. Toyota berhasil mengimplementasikan 1 juta ide tiap tahun, berarti sekitar 3.000 ide per harinya. Jadi sumber inovasi ini dihasilkan bukan dari kemampuan finansial Toyota yang hebat. Tetapi sumbernya adalah fokus dan kedisiplinan Toyota dalam menjalankan proses berinovasi, yang dilakukan oleh semua jajaran di organisasi tanpa kecuali. Menghasilkan ide perbaikan sekecil apa pun selalu dimotivasi dan dihargai. Inilah jalan awal dari proses inovasi Toyota yang sering menjadi panutan di berbagai organisasi di seluruh dunia.

Inovasi jangan dipandang sebagai sesuatu yang megah dan mewah, sebuah solusi yang memecahkan masalah besar dengan cara yang luar biasa sehingga menguras sumber daya yang sangat banyak. Inovasi bukanlah hasil super team yang hanya berisikan orang-orang pilihan yang brilian di dalam suatu organisasi. Inovasi tidaklah selalu melibatkan teknologi super canggih. Inovasi lebih merupakan solusi pada masalah-masalah yang nyata yang dihadapi setiap hari. Proses yang menuntut setiap orang tanpa kecuali untuk berperan serta. Seperti studi kasus pada Toyota di atas. Perbaikan yang berkelanjutan, hari demi hari. Ide demi ide. Sedikit demi sedikit. Kekuatan dalam sebuah kesederhanaan. Angka 3.000 implementasi ide per hari di Toyota adalah angka yang fantastis. Tetapi dengan pemahaman tersebut angka tersebut bukanlah mustahil. Istilah disruptive innovation adalah sesuatu yang mewah, tetapi hanya bisa dihasilkan dari kedisiplinan pada continuous innovation. Oleh karena itu lingkungan kondusif harus dibentuk dengan dipimpin oleh keteladanan para leader dalam mengambil resiko dan disiplin berinovasi.

Seperti pada konsep elegant solutions, merujuk kepada solusi yang optimal yang dicapai dengan usaha dan sumber daya yang minimal. Konsep yang memberi inspirasi bagi UKM bahwa kekuatan finansial bukanlah suatu hambatan. Mungkinkah elegant solutions hadir dalam kehidupan yang nyata di dalam organisasi? Asumsi dan belief yang berkembang dan selalu kita dengar adalah solusi = sumber daya besar, yang membuat rintangan di dalam pikiran kita. Rintangan yang kita bangun sendiri. Tetapi organisasi seperti Toyota telah membuktikannya. Sebuah penelitian tentang inovasi yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 juga menunjukkan bahwa masalah besar bukan pada kekuatan finansial yang diperlukan. Masalah utama adalah pada keteladanan dan kurangnya pendekatan inovasi kesisteman yang disiplin.

Lalu, bagaimana mencapai dan menemukan elegant solutions? Dari berbagai studi dan penelitian yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 tersebut, salah satu pendekatan yang efektif adalah systems thinking. Systems thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang didahului dengan identifikasi masalah secara komprehensif. Memperhatikan dinamika berbagai faktor yang terlibat yang saling mempengaruhi dalam suatu sistem. Sehingga solusi yang dihasilkan akan mampu menyelesaikan inti atau sumber permasalahan dengan tepat. Solusi yang tidak harus rumit, tetapi efektif. Saya juga akan coba membahas systems thinking dalam beberapa posting selanjutnya di blog ini. Karena saya secara pribadi juga sangat tertarik dan mencoba menerapkannya dalam berbagai masalah. Anda juga penasaran dan tertarik? Mari berbagi, dan berdialog dan menunjukkan bahwa UKM Indonesia juga mampu berinovasi dan meningkatkan daya saing di level global. Bagaimana menurut pendapat Anda, mampukah UKM Indonesia berinovasi, dan bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam menumbuhkan inovasi di UKM. Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional ini: http://kopicoklat.com.

Marketing Indonesia With The Power of the Crowd

Pada tanggal 15 Agustus 2011, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menarik diri dari keikutsertaan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis New Seven Wonders of Nature. Sebab utamanya adalah indikasi ketidakprofesionalan pengelolanya, yaitu New Seven Wonders of Nature Foundation. Laporan lengkapnya ada di “Komodo Menjadi Sarana Pemersatu Bangsa”.

Tetapi Pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan Marketeers berinisiatif untuk tetap mempromosikan Taman Nasional Komodo dengan tema The Real Wonder of the World. Beberapa aktivitasnya antara lain Concert for Komodo pada tanggal 30 Juli 2011, Komodo Apps Challenge, Counting Down Live Streaming Komodo Dragons Hatching dari Prague Zoo, Komodo Night di Opera Point Marquee, Sydney Opera House, 9 September 2011 dan di Crystal Garden Navy Pier Chicago, 22 September 2011. Yang menarik dari inisiatif promosi TNK tersebut adalah pemberdayaan netizen Indonesia untuk turut mendukung. Salah satu buktinya, pada gelar acara Concert for Komodo,  #komodorealwonder berhasil menjadi trending topic di Twitter. Cara pemasaran horizontal ini sebagai salah satu antisipasi terhadap keterbatasan alokasi anggaran promosi pariwisata Indonesia. Sebagai  perbandingan, menurut Menbudpar Jero Wacik yang saya kutip dari tabloiddiplomasi.org, dana promosi melalui media massa untuk Visit Indonesia Year pada tahun 2008 yang lalu adalah sebesar 3 juta dollar. Sedangkan pemerintah Malaysia mengalokasikan dana promosi sebesar 25 juta dollar untuk kegiatan Visit Malaysia Year tahun 2007. Tetapi terbatasnya dana promosi bukan berarti harus melupakan efektivitas promosi. Dengan pemberdayaan masyarakat pengguna internet, diharapkan efektivitas promosi pariwisata Indonesia akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya dengan iklan di media massa konvensional. Low cost high impact. Bayangkan potensi seperti ini kita gunakan untuk memasarkan berbagai potensi pariwisata Indonesia yang begitu beragam.

Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2011, gerakan nasionalisme netizen yang sekaligus memasarkan Indonesia di mata dunia juga mulai gencar. Inisiatif http://17an.org mulai didukung oleh berbagai komunitas. Inisiatif tersebut adalah upaya untuk mencapai 1.781.945 tweet atau SMS dengan hashtag #17an untuk mengibarkan (secara digital) bendera Merah Putih sampai ke puncak. Kita dapat memantau gerakan ini di http://17an.org dan akun @ID_17an di Twitter. Para netizen sudah mulai bergerak melalui berbagai media di internet untuk mendukung gerakan ini, antara lain melalui Twitter, Facebook, Google+ atau melalui blog.

SITTI, sebuah platform iklan online kontekstual berbahasa Indonesia yang berdiri tahun 2010 juga turut mendukung. Pada tanggal 17 Agustus 2011, SITTI akan menayangkan iklan layanan masyarakat yang diprakarsai oleh http://17an.org di seluruh situs yang memasang iklan dari SITTI.  Hal ini saya ketahui dari surat pemberitahuan dari administrator SITTI pada tanggal 16 Agustus 2011. Beberapa tokoh masyarakat yang juga netizen juga mulai tampak ikut mendukung gerakan ini melalui berbagai social media.

Dengan jumlah pengguna facebook sebanyak 39.204.200 atau kedua terbanyak di dunia dan sumbangan 15% dari total tweet di Twitter adalah tweet dari Indonesia, maka bukan tidak mungkin gerakan tersebut akan mencapai sasarannya. Gerakan horizontal semacam ini memang akhir-akhir ini tampak sangat berpengaruh di seluruh dunia. Belum lama kita banyak membaca bagaimana peran social media sangat penting dalam gerakan revolusi di berbagai negara di Timur Tengah, terutama di Mesir. Bahkan Perdana Menteri Inggris sempat mengkhawatirkan peran social media dalam kerusuhan di Inggris yang meluas di beberapa kota pada bulan ini. Potensi gerakan horizontal ini sangat besar dan akan lebih baik apabila digunakan untuk bersama membangun sesuatu yang positif.

Jadi, tertarik untuk bersama membangun Power of the Crowd dalam memasarkan Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia? Silakan bergabung melalui http://17an.org. Dirgahayu Indonesia!