Perang Antara Para Pengantar Pesan

Akhir-akhir ini mulai tampak peningkatan intensitas komunikasi pemasaran melalui layar televisi di Indonesia yang dilakukan oleh beberapa layanan messaging. Kakao Talk menggunakan artis, penyanyi, penulis lagu Sherina, berduet dengan artis Korea Big Bang sebagai endorser. Pemilihan kedua artis tersebut tentu bukan tanpa alasan. Sherina adalah artis muda yang mempunyai 6 juta follower di Twitter dan Big Bang artis asal Korea, seperti asal perusahaan yang menghasilkan Kakao Talk. Seperti kita ketahui musik pop Korea sedang naik daun di level global, termasuk di Indonesia. Aplikasi messaging lainnya, Line, juga tidak mau kalah dengan mengusung Agnes Monica dan Nidji sebagai endorser. Iklan Line di televisi juga mempunyai intensitas yang cukup tinggi. Agnes Monica mempunyai 7,7 juta follower di Twitter yang merupakan akun Twitter Indonesia yang mempunyai follower paling banyak.

Komunikasi pemasaran di media digital juga tidak kalah seru dibandingkan dengan yang tampak di media above the line tersebut. Kakao Talk bekerja sama dengan salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia untuk terus muncul di browser pelanggannya saat mulai browsing, sebelum mencapai halaman situs tujuannya.Beberapa kali Sherina dan Agnes Monica juga mengirim tweet yang memuat promosi Kakao Talk dan Line. Line juga menyiapkan edisi sticker khusus tentang Agnes Monica. Sticker adalah istilah untuk gambar atau emoticon pada saat ngobrol di aplikasi Line, untuk mengungkapkan berbagai macam perasaan atau ungkapan dari penggunanya. Berbagai bentuk promosi lain juga terus dilancarkan oleh kedua layanan messaging tersebut.

Hasilnya? Pada bulan April 2013, Kakao Talk menyatakan telah mendapatkan 120 ribu pendaftar harian. Pada akhir Mei 2013, tercatat 23 juta kali download aplikasi Line di Indonesia, peringkat lima di dunia. Tampaknya penyedia layanan messagin tersebut masih fokus untuk membangun awareness dan menambah jumlah pengguna di Indonesia.

Line dirilis pada Juni 2011 oleh NHN Japan yang merupakan afiliasi NHN Corporation yang bermarkas di Korea Selatan. Sedangkan KakaoTalk lahir lebih dulu pada Maret 2010 oleh Kakao Corp. Uniknya Kakao Corp didirikan oleh Beom-Soo Kim, mantan CEO NHN Corporation, Korea. Oleh karena itu, penetrasi Line paling besar di tanah kelahirannya, Jepang. Kakao Talk juga mencatatkan penetrasi terbesar di rumahnya, Korea Selatan. Keduanya adalah layanan messaging cross platform, yang berarti tidak dibatasi hanya pada sistem operasi tertentu. Demikian juga dengan Whatsapp yang lebih dulu populer di Indonesia. Tetapi pada bulan Mei 2013, Line mengklaim bahwa jumlah download di Google Play Store telah melampaui Whatsapp. Whatsapp lebih populer di Brazil, Russia dan Eropa Barat. WeChat, layanan messaging keluaran Tencent dari China juga mulai agresif melakukan komunikasi pemasaran. Tencent bekerjasama dengan MNC (Media Nusantara Citra) Group. WeChat juga populer di negara asalnya, China bersama dengan Tencent QQ yang juga keluaran Tencent. Berbeda dengan Blackberry Messenger (BBM) yang saat ini masih terbatas bisa digunakan pada ponsel dan sistem operasi Blackberry. Pangsa pasar Blackberry yang terus menurun, digerus pertumbuhan ponsel pintar berbasis Apple iOS dan Google Android, menjadi salah satu alasan kuat bagi RIM (produsen Blackberry) untuk segera memigrasikan BBM menjadi cross platform. Kabar terbaru yang dirilis TechCrunch, RIM akan meluncurkan BBM untuk Android dan iOS pada tanggal 27 Juni 2013.

Perubahan pola komunikasi, khususnya pada perangkat komunikasi bergerak, menyebabkan aplikasi messaging terus berkembang. Layanan ini menggantikan pola komunikasi bergerak sebelumnya yang didominasi oleh komunikasi suara dan SMS (Short Message Service). Model bisnis yang diusung oleh masing-masing penyedia layanan ini pun bervariasi. Saat ini Kakao Talk dan Line masih gratis. Line mendulang pendapatan dari penjualan sticker. Di laporan keuangan kuartal pertama tahun 2013, Line berhasil memperoleh pendapatan 17 juta dollar AS dari sticker. Angka tersebut menyumbang 30% dari total pendapatannya. Pendapatan lain berasal dari iklan dan game. Kakao Talk mempunyai model bisnis yang mirip, atau kebalikannya, model bisnis Line mirip dengan Kakao Talk, karena kakao Talk lahir lebih dulu ?. Kakao Talk juga mengembangkan kerjasama dengan beberapa operator telekomunikasi, seperti Telkomsel dan Axis untuk membentuk paket data yang ditawarkan kepada pelanggan. Alur pendapatan Kakao Talk juga berasal dari iklan, game, mobile commerce dan penjualan sticker atau emoticon seperti yang dilakukan Line. Sedangkan Whatsapp mencoba untuk mengurangi ketergantungannya terhadap penadapatan dari iklan dengan memperkenalkan annual fee untuk semua platform. Awalnya annual fee hanya diterapkan untuk platform Apple iOS. Walaupun pada prakteknya Whatsapp masih memberikan perpanjangan masa gratisnya kepada banyak pelanggan yang belum mau membayar annual fee. Untuk meningkatkan loyalitas pelanggannya, Line dan KakaoTalk juga sedang terus bertransformasi dari kapabilitas layanan messaging dan panggilan suara menjadi layanan social networking. Social networking akan meningkatkan “biaya” bagi pelanggannya untuk pindah ke layanan kompetitor, yang berarti menciptakan switching barrier. Social networking di Indonesia masih terus tumbuh pesat (baca: Social Media Indonesia Infographic 2012). Google juga mulai mengintegrasikan social networkingnya Google+ dengan layanan messaging Google Hangout yang menggantikan Google Talk.

Lalu manakah dari layanan pengantar pesan ini yang mampu terus tumbuh dan berkembang pada persaingan yang semakin tajam? Model bisnis manakah yang mampu bertahan? Walapun kompetisi tampak terus menajam, tetapi masih dalam tahap awal. Persaingan terkeras adalah untuk terus meningkatkan jumlah pengguna dan menemukan serta implementasi model bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui inovasi dan kolaborasi, baik dengan operator telekomunikasi dan tentunya: pelanggan.

Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand?

Istilah brand berawal dari tanda yang dibuat menggunakan besi panas untuk menandai hewan ternak guna membedakannya dari hewan ternak milik orang lain. Brand kini berkembang, menunjukkan kepribadian sebuah produk, layanan atau organisasi. Tetapi masih seperti awal istilah brand yang digunakan untuk membedakan ternak, maka brand dalam marketing tetap dekat dengan fungsinya sebagai pembeda. Brand harus mampu menunjukkan diferensiasi. Brand juga harus mampu menjadi relevan dengan target pasarnya, karena dituntut mampu mewakili positioning di benak target pasarnya.

Brand yang kuat akan mampu menjadi mesin pertumbuhan sebuah organisasi. Dalam sebuah laporan pada tahun 2008, sebuah research agency Millward Brown Optimor, menyatakan brand value dari Coca Cola mencapai USD 58,2 miliar, tumbuh 17% dari tahun sebelumnya. Silakan coba hitung nilai tersebut ke dalam satuan rupiah. Pada waktu itu Coca Cola menempati posisi keempat di belakang Google, GE dan Microsoft.

Dua paragraf di atas mestinya cukup untuk sedikit menggambarkan bagaimana pentingnya brand dalam marketing. Lalu berapa biaya membangun sebuah brand? Pertanyaan ini muncul di benak setelah mendengar pernyataan dalam sebuah diskusi, “… brand sama dengan cost”. Tentu saja jawabannya bisa sangat bervariasi, tergantung kepada berbagai macam kondisi yang dipengaruhi lingkungan industri, target pasar sampai dengan strategic objective dan skala dari suatu produk, layanan atau organisasi. Hal tersebut juga tergantung bagaimana sudut pandang yang digunakan. Bisa saja sesederhana membayar beberapa ribu rupiah untuk memesan stempel di tukang stempel kaki lima atau membayar miliaran rupiah kepada konsultan branding untuk sebuah perusahaan berskala nasional.

Sebagai gambaran, berikut ini ada sebuah riset yang dirilis di graphicdesignblog.org pada tahun 2010. Riset tersebut mengungkap biaya yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan multinasional dalam proses rebranding. Lingkupnya bukan hanya dalam proses mengubah logo. Tetapi lingkup yang dimaksud lebih luas, termasuk di dalamnya proses komunikasi pemasaran yang dilakukan. Proses rebranding sangat memerlukan komunikasi pemasaran yang kuat karena biasanya merupakan desain ulang pada positioning atau diferensiasi. Dalam laporan tersebut, Pepsi dikatakan memerlukan  sekitar 1 juta dolar dalam proses rebranding. BBC One menghabiskan 1,2 juta poundsterling, ANZ:  15 juta dolar, Accenture: 100 juta dolar. Biaya paling tinggi dicatatkan oleh BP (British Petroleum), yaitu sebesar 136 juta poundsterling.

Tetapi berapa pun biaya yang dikeluarkan, biaya tersebut adalah sebuah investasi jangka panjang. Brand adalah intangible asset. Membangun sebuah brand adalah sebuah proses yang berkelanjutan, yang tidak bisa dipisahkan dengan proses membangun keunggulan kompetitif. Komunikasi pemasaran yang hingar bingar dari sebuah brand tidak akan efektif dalam jangka panjang bila tidak ada usaha yang kontinu dalam mempertahankan dan mengembangkan diferensiasi dan inovasi untuk membangun keunggulan kompetitif. Awareness dari target pasar yang tinggi tidak akan berarti banyak bila diferensiasi dan relevansinya mulai tergerus, seperti studi kasus pemasaran: “Belajar dari Masalah Brand Nokia”.

Brand yang sangat dikenal bukanlah brand yang sehat apabila kualitasnya tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan dari target pasar, yang akan memberikan banyak masalah bagi organisasi. Brand yang benar-benar mewakili diferensiasi, relevansi dan kualitas akan mampu menjadi kepribadian dari produk, layanan atau organisasi. Tetapi komunikasi brand yang tidak diimbangi dengan kualitas yang dijanjikan akan hanya menjadi sebuah stempel yang mungkin saja dikenal tetapi tidak mempunyai nilai di mata target pasarnya. Brand bukanlah sekedar logo atau stempel. Itulah sebabnya Coca Cola mempunyai brand value yang luar biasa. Android, sebuah brand yang berusia muda, sering kita lihat tampil dalam berbagai bentuk dan warna. Walaupun logo Android tampil dalam berbagai bentuk, tetapi tidak mengurangi nilai brand tersebut di mata target pasarnya. Tetapi di sisi yang lain, TVRI sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi mulai ditinggalkan oleh para pemirsa televisi.

Karena membangun brand adalah proses berkelanjutan yang tidak terpisahkan dalam proses membangun keunggulan kompetitif, maka selain sudut pandang finansial, banyak harga tersembunyi yang perlu kita perhatikan. Kurangnya menjaga kualitas, sebetulnya mempunyai konsekuensi harga yang harus ditanggung karena akan mengurangi nilai dari sebuah brand.

Borders Runtuh Karena Serangan Ebooks? Pikirkan Lagi!

Borders adalah jaringan retail toko buku dan musik yang berbasis di Michigan, Amerika Serikat. Selama ini Borders adalah jaringan toko buku terbesar kedua di Amerika Serikat, di belakang pemimpin pasar: Barnes & Nobles. Tetapi keadaan semakin tidak menguntungkan pada 5 tahun terakhir. Setelah tahun 2006, jaringan toko buku yang diakuisisi oleh Kmart pada tahun 1992 ini tidak pernah lagi mampu lagi membukukan laba. Pada Februari 2011, mereka mengumumkan segera menutup 226 tokonya di Amerika Serikat. Puncaknya, pada bulan Juli 2011, mereka memutuskan untuk secara bertahap menutup seluruh tokonya. Pada waktu itu masih terdapat 399 toko.

Berbagai ulasan di beberapa media segera mengkaitkan runtuhnya jaringan toko buku ini pada melonjaknya popularitas ebook. Popularitas ebook pada tahun 2010 memang semakin meroket, antara lain dibantu oleh pertumbuhan penjualan PC Tablet yang pesat. Penjualan PC Tablet semakin populer, terutama Apple iPad dan berbagai jenis PC Tablet berbasis sistem operasi Google Android. Sebelum PC Tablet populer, Amazon telah membentuk ekosistem ebook dengan meluncurkan perangkat e-reader bertajuk Kindle pada tahun 2007. Ekosistem ini semakin memudahkan pelanggan Amazon mengakses lebih dari 950.000 judul ebook. Barnes & Nobles segera merespons dengan merilis e-reader yang mereka beri nama Nook pada tahun 2009. Nook menggunakan system operasi Android. Borders dinilai terlambat beraliansi dengan Kobo dalam membentuk ekosistem penjualan ebook-nya yang baru dimulai pada bulan Juli 2010.

Tetapi kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dengan lebih dalam. Pertumbuhan penjualan ebook dari AAP (Association of American Publishers) pada tahun 2010 memang tumbuh luar biasa, 164,4%. Penjualan Audio Book juga naik pesat, 56,7%. Di sisi yang lain, penjualan buku cetak hanya tumbuh 3,6% dan penjualan pada bulan Desember hanya naik tidak lebih dari 2,5%. Data ini bisa digunakan untuk menyalahkan ebook sebagai sebab runtuhnya Borders. Tetapi ternyata volume penjualan ebook masih 8,3% dari pasar penjualan buku tahun 2010. Ternyata pasar masih didominasi oleh buku dalam versi cetak. Amazon boleh mengklaim bahwa penjualan ebooknya telah melampaui penjualan buku hardcover. Dari setiap 100 penjualan buku hardcover, Amazon berhasil menjual 143 ebook. Tetapi ebook yang dijual Amazon, menurut davidweedmark.com banyak yang merupakan ebook gratis. Banyak juga yang hanya merupakan semacam brosur atau summary. Banyak ebook yang diberikan gratis, untuk mempromosikan buku dalam versi cetaknya.

Jadi apa yang meruntuhkan Borders di luar keterlambatannya dalam menyikapi pertumbuhan dan peran ebook? Terdapat beberapa informasi yang berguna dalam studi kasus pemasaran ini. Pertama, Borders tidak mengelola tokonya dengan optimal dalam menyikapi perubahan lingkungan industri. Pada tahun 2000-an Borders menyediakan bagian yang luas untuk penjualan CD dan DVD di tokonya. Padahal distribusi musik dalam bentuk CD dan DVD mulai tergerus oleh format digital yang lebih fleksibel. Popularitas iPod yang mulai dipasarakan pada tahun 2001 yang diikuti pertumbuhan mp3 player lain dan berbagai ponsel dengan fitur pemutar musik digital mempercepat penurunan penjualan musik dalam format CD dan DVD. Respon dari Borders juga sangat tidak efektif, antara lain dengan menyediakan counter download musik digital di tokonya. Tentu saja pelanggan lebih memilih download musik dari rumah atau dari gadget-nya sendiri dibandingkan harus download di lokasi toko Borders. Pengelolaan toko yang kurang optimal juga disampaikan beberapa penulis ternama di Amerika Serikat, antara lain Larry Correia dan John Brown. Banyak penulis buku yang merasa tidak didukung oleh toko Borders saat mengadakan event penandatanganan buku. Padahal event seperti ini bisa mendongkrak penjualan, karena penjualan buku yang ditandatangani langsung oleh penulisnya mempunyai nilai lebih bagi pembacanya. Bahkan dikatakan bahwa Borders adalah satu-satunya jaringan toko buku yang tidak memesan tambahan buku kepada penerbit pada saat event penandatanganan buku langsung oleh penulisnya. Dari beberapa pendapat para pelanggannya, jumlah persediaan buku best-seller di toko buku Borders jauh lebih sedikit dibandingkan toko buku yang lain, terutama Barnes & Nobles. Hal ini berpotensi menyebabkan mereka kehilangan banyak peluang. Stock di toko Borders dinilai lebih banyak didominasi oleh buku yang kurang populer dengan tingkat penjualan yang rendah. Siklus penjualan di toko mereka menjadi melambat.

Kedua, Borders kurang sigap dalam menyikapi pertumbuhan model bisnis penjualan buku online. Berbeda dengan pesaing terdekatnya, Barnes & Nobles, Borders memilih untuk menyerahkan penjualan buku melalui saluran online kepada raksasa online retail: Amazon mulai tahun 2000. Bahkan pada tahun 2002 toko Borders justru menjadi tempat alternatif bagi pembeli buku di Amazon untuk mengambil buku yang telah dibelinya melalui pembelian online di Amazon.com.  Tentu saja ini justru memperkuat posisi Amazon, apalagi Amazon mempunyai akses langsung ke customer base Borders. Hal ini akhirnya disadari oleh Borders dan menghentikan kerjasama dengan Amazon tersebut pada tahun 2008. Keputusan yang terlambat?

Ketiga, ekspansi yang agresif dengan format toko yang besar dan luas, yang mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan 1.249 toko. Format toko yang besar dan luas ini tetap dipertahankan walaupun tingkat penjualan yang terus menurun. Hal ini membuat operasinya menjadi tidak efiesien dan memberikan beban yang besar dalam bisnisnya.

Dari ketiga informasi tersebut, ditambah kondisi bahwa Borders terlambat mengantisipasi pertumbuhan ebook, tampak bahwa semuanya merepresentasikan bagaimana Borders kurang cepat dan tepat mengantisipasi perubahan lingkungan industrinya. Kenyataan ini jauh lebih kompleks daripada menyalahkan ebook sebagai sebab keruntuhannya. Bagaimana menurut Anda? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Belajar dari Masalah Brand Nokia

Benar, tahun 2010 Nokia masih menjadi global market leader pada kategori perangkat bergerak atau mobile device. Nokia memimpin dengan pangsa pasar penjualan sebesar 28,9% selama tahun 2010. Benar, bahwa pangsa pasar pabrikan pesaingnya masih berada cukup jauh. Samsung yang berada di posisi kedua, “hanya” mempunyai pangsa pasar penjualan sebesar 17,6%. Juga benar, bahwa untuk kategori ponsel pintar atau smartphone, sistem operasi Symbian yang digunakan Nokia masih memimpin penjualan sebesar 37,6%. Lalu, apa masalahnya buat Nokia? Pada kategori perangkat bergerak, pangsa pasarnya anjlok dari 36,4% pada tahun sebelumnya. Pangsa pasar sistem operasi Symbian juga anjlok dari 46,9% tahun sebelumnya pada kategori ponsel pintar. Pada sisi yang lain, sistem operasi Android tumbuh luar biasa, 888,8% dan menduduki posisi kedua dengan 22,7% dari hanya 3,9% pada tahun sebelumnya. Apple iOS juga tumbuh dari 14,4% menjadi 15,7%. Blackberry tampak turun, tetapi tidak sedrastis yang dialami oleh Nokia, yaitu dari 19,9% menjadi 16%. Harga saham Nokia pun terus cenderung menurun.

Pertanyaan selanjutnya, apa yang menjadi penyebabnya? Banyak hal yang bisa dijadikan tersangka sebagai faktor penyebab anjloknya pemasaran Nokia dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi satu yang pasti adalah masalah brand. Cerita sukses Nokia dalam perjalanannya menguasai pasar ponsel adalah keberhasilannya dalam melayani semua segmen. Produknya sangat beragam, dari ponsel low-end yang sederhana dengan harga murah sampai dengan ponsel pintar yang canggih. Nokia 3210 dulu pernah dikenal dengan ponsel sejuta umat, karena tingkat penjualannya yang tinggi sebelum era ponsel pintar.

Tantangan yang timbul untuk brand yang bermain di semua segmen adalah menjaga keunikan atau diferensiasinya agar tetap bisa relevan pada tiap segmen pasar yang menjadi sasarannya. Masalah ini kini juga dihadapi oleh Nokia, terutama di pasar ponsel pintar. Apple iPhone dan ponsel pintar berbasis Android yang terus tumbuh mempunyai diferensiasi yang kuat. Sehingga walaupun saat ini awareness terhadap brand Nokia masih tinggi, tetapi mulai kehilangan diferensiasi yang disusul dengan kehilangan relevansinya terhadap segmen pasar yang menjadi sasarannya. Kondisi ini tepat seperti yang digambarkan dalam konsep Brand Asset Valuator (BAV) dari Young & Rubicam. Menurut matriks BAV tersebut, dengan Brand Stature yang tinggi tetapi Brand Strength yang rendah, Nokia memasuki fase Eroding Potential atau Declining. Brand Stature adalah kondisi sekarang yang terdiri dari Brand Awareness dan Brand Esteem. Brand Strength terdiri dari Diferensiasi dan Relevansi yang sangat menentukan pertumbuhan dari brand.

Kondisi ini disadari oleh Nokia. Beberapa langkah strategis dicoba untuk mengatasi hal tersebut. Pada awalnya Nokia bekerjasama dengan Intel mengembangkan sistem operasi MeeGo. Sistem operasi ini diharapkan akan mampu mengatasi kelemahan Symbian yang mulai tertinggal dari pesaingnya. Tetapi kemudian dengan masuknya mantan eksekutif Microsoft, Stephen Elop menjadi CEO Nokia, akhirnya Nokia memutuskan untuk menggunakan Windows Phone 7 sebagai sistem operasi dari ponsel pintarnya (7 Alasan Nokia Memilih Microsoft). Kerjasama strategis ini tetap menyimpan berbagai tantangan untuk mampu mengangkat kembali diferensiasi dan relevansi Nokia, baca ulasannya di Tantangan Kerjasama Nokia & Microsoft.

Kemudian pada akhir Maret 2011, Nokia mulai upaya mengubah brand image-nya. Dimulai dengan perubahan pada jenis font yang digunakannya pada ponsel. Font tersebut dinamakan Nokia Pure. Logo Nokia juga berubah menjadi lebih langsing, dan akan ditargetkan mulai muncul dalam iklan pada bulan April 2011. Tagline-nya pun berubah menjadi  “Beauty in supreme usability”.

Mampukah langkah-langkah tersebut mengangkat kembali brand Nokia? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Kisah Inovasi Amazon

Berbicara tentang studi kasus pemasaran dalam industri ICT (Information & Communication Technology) akhir-akhir ini kita cenderung fokus pada Google, Apple, RIM, Microsoft atau social media seperti Facebook, Twitter atau bahkan Groupon. Beberapa contoh studi kasus pemasaran tersebut antara lain “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”, “Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?”, atau “Apa Kabar RIM, Sudahkah Anda Menerapkan Marketing 3.0?

Amazon.com yang didirikan oleh Jeff Bezos tahun 1994 dan mulai tayang online pada tahun 1995 mulai sedikit jarang dibicarakan. Gaungnya kini kalah dengan adik-adiknya sesama internet companies, seperti Facebook, Twitter atau Groupon yang menguasai social media. Lalu apa yang menarik bila kita membicarakan Amazon? Salah satu yang bisa kita cermati adalah bagaimana mereka membangun sustainable competitive advantage untuk terus bisa bertahan di industrinya. Amazon termasuk satu dari sedikit perusahaan yang lahir dari era dotcom bubble yang terus mampu tumbuh dan bertahan sampai sekarang.

Dalam membangun sustainable competitive advantage, faktor yang penting adalah membentuk keunggulan yang berbasis pada kemampuan melakukan transformasi, terutama inovasi. Hal ini dibutuhkan karena lingkungan bisnis yang terus berubah. Apalagi trend menunjukkan perubahan lingkungan bisnis semakin tinggi intensitasnya. Philip Kotler pun berpendapat serupa dalam bukunya “Chaotics”, yang menggunakan istilah “The Age of Turbulence” untuk menggambarkan lingkungan bisnis yang terus berubah cepat. Dalam paparan selanjutnya kita akan melihat bagaimana Amazon terus berubah dan berinovasi dalam menyikapi perubahan lingkungan bisnisnya.

Amazon berawal dari toko buku online. Kemudian Amazon terus berkembang menjual  berbagai macam consumer goods, terutama yang mudah untuk dikirimkakepada pelanggan. Kemudian pada bulan November 2000, Amazon berinovasi dengan menjadi broker buku bekas melalui layanan Amazon Market Place. Layanan ini secara langsung juga memposisikan Amazon menjadi pesaing langsung eBay. Revenue diperoleh dari komisi penjualan buku bekas dari mitra-mitranya.

Inovasi kemitraan Amazon juga terbilang sukses. 40% penjualan di Amazon berasal dari third party sellers atau yang biasa disebut Amazon Associates. Layanan utk Amazon Associates terus dikembangkan melalui aStore. aStore adalah layanan dalam program afiliasi yang membantu mitra Amazon untuk membuat toko online dengan mudah. Kini jumlah Amazon Associates mencapai lebih dari 1 juta member. Program afiliasi ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Amazon.com sangat dikenal dengan kemampuannya dalam mempelajari pola belanja para pelanggannya. Sehingga mereka bisa memberikan rekomendasi yang personalized kepada setiap pelanggannya. Bahkan kemudian melalui Project Genesis, Amazon melebarkan rekomendasi yang personalized tersebut bukan hanya utk pembeli, tetapi juga untuk penjual. Dari data history browsing pembeli, Amazon mampu memberi rekomendasi, tentang apa yang cocok dijual oleh third party sellers melalui Amazon.com. Trend cloud computing services juga tidak dilewatkan oleh Amazon dengan mengembangkan Amazon Web Services (AWS).

Inovasi berikutnya dari Amazon yang cukup menyita perhatian adalah Kindle. Kindle adalah sebuah portable e-book reader. Layanan Kindle merupakan ekosistem piranti lunak, perangkat keras dan network platform yang terhubung ke Amazon.com. Konektivitas ke internet disediakan agar pengguna lebih mudah membeli dan kemudian membaca buku, majalah, surat kabar dan media digital lainnya, terutama dari Amazon. Ekosistem ini mirip dengan yang dikembangkan oleh Apple pada iPod dan iTunes untuk kategori musik digital.

Kindle yang pertama kali dirilis bulan November 2007 dengan harga $ 399 dan stok pertamanya terjual habis hanya dalam waktu 5,5 jam. Keberhasilan ini diteruskan dengan meluncurkan versi-versi pengembangan dari Kindle. Tetapi kemudian Kindle terancam oleh popularitas tablet PC akhir-akhir ini. Tablet PC bukan sekedar portable e-book reader, tetapi sudah merupakan komputer lengkap dalam bentuk tablet yang mempunyai fungsi jauh lebih lengkap daripada Kindle. Siapa lagi kalau bukan dimulai oleh Apple dengan iPad dengan ekosistem App Store nya. Apple mengembangkan iPad yang menguasai 90% market share tablet PC dan menggerus pasar Kindle dan juga pasar netbook. Era tablet PC semakin kuat saat berkembangnya berbagai tablet PC yang menggunakan sistem operasi Google Android dengan ekosistem Android Market-nya.

Menghadapi kondisi ini bagaimana reaksi Amazon? Pada bulan Maret 2011, Amazon meluncurkan Amazon Android Appstore! Inovasi yang berani, menantang Google di kandang Google sendiri. Apa yang bisa menjadi keunggulan Amazon dibandingkan Android Market yang menjual dan mendistribusikan berbagai konten dan aplikasi berbasis Google Android? Pertama, tentu saja kemampuan Amazon dalam membuat rekomendasi yang personal bagi pelanggannya. Rekomendasi personal sampai saat ini belum tampak di Android Market. Kedua, pengalaman bertahun-tahun Amazon dalam mengelola e-commerce pasti akan mempengaruhi keberhasilannya dalam mengelola pasar konten dan aplikasi.

Masuknya Amazon dalam pasar konten dan aplikasi Android tersebut akan membuka lebar peluang pada inovasi berikutnya. Tidak menutup kemungkinan, Kindle juga akan bertransformasi dari e-book reader menjadi tablet PC. Inovasi yg berani sekaligus masuk akal, karena setelah Kindle diancam popularitas tablet PC, saatnya transformasi menajdi tablet PC juga. Dan sistem operasi Android menjadi pilihan yang masuk akal. Dalam tekanan, Amazon bisa mengubah ancaman yang datang menjadi peluang. Sejalan dengan salah satu prinsip Jeff Bezos mengenai inovasi: “One of the only ways to get out of a tight box is to invent your way out”

Apakah Amazon Android Appstore akan berhasil dan bahkan mengalahkan Google Android Market? Apakah Kindle akan bertransformasi menjadi tablet PC? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Tantangan Kerjasama Nokia & Microsoft

(cdn.pocket-lint.com)

(cdn.pocket-lint.com)

Beberapa tahun terakhir, Nokia tampak kewalahan menghadapi fenomena serbuan Apple iPhone, Android dan Blackberry pada pasar ponsel pintar. Pangsa pasar ponsel pintar Nokia terus tergerus. Akhirnya gelar penguasa pasar harus diserahkan kepada ponsel pintar berbasis Android pada kuartal IV 2010. Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu yang lalu, adalah apa langkah strategis yang akan diambil Nokia menghadapi tantangan tersebut. Dan akhirnya terjawab dengan langkah Nokia menggandeng Microsoft, seperti diulas dalam “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”. Windows Phone akan menjadi platform andalan pengembangan ponsel pintar atau smartphone Nokia berikutnya.

Tetapi langkah tersebut memicu berbagai pertanyaan lain. Efektifkah langkah strategi kemitraan dengan Microsoft tersebut? Mampukah Nokia membalikkan keadaan, kembali mencetak pertumbuhan positif dalam meraih pangsa pasar. Kenyataannya, keraguan masih meliputi para investor, yang diindikasikan dengan harga saham Nokia yang masih cenderung turun setelah pengumuman kerjasama dengan Microsoft. Sebetulnya apa saja tantangan kerjasama strategis Nokia dan Microsoft dalam memenangkan pasar ponsel pintar? Berikut beberapa hal yang bisa menjadi tantangan Nokia dan Microsoft.

Tantangan pertama justru datang dari internal Nokia. Kerjasama strategis dengan Microsoft menguatkan arah Nokia untuk kembali ke kompetensi kuncinya di pengembangan perangkat keras. Hal ini membawa konsekuensi bagi Nokia untuk mengurangi jumlah karyawan. Potensi pengurangan karyawan terjadi khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pengembangan berbagai perangkat lunak. Sebelum ini pengembangan sistem operasi Symbian dan MeeGo menjadi tumpuan Nokia, sebelum beralih ke Windows Phone. Ovi Store dan Ovi Maps juga direncanakan menjadi bagian dari pengembangan aplikasi Microsoft. Kebijakan ini langsung mendapatkan penolakan dari karyawan Nokia. Seperti diberitakan gadgetell.com, karyawan di fasilitas Nokia di Tampere, Finlandia melakukan aksi protes. Aksi protes ditujukan untuk menentang kebijakan Nokia untuk mengadopsi platform Windows Phone pada sebagian besar ponsel pintarnya.

Tantangan berikutnya juga datang dari pihak yang selama ini dekat dengan Nokia, yaitu Intel. Pengembang teknologi prosesor ternama ini terlibat penuh dengan Nokia untuk mengembangkan MeeGo. MeeGo adalah sistem operasi berbasis Linux yang disiapkan sebagai platform untuk perangkat mobile, dan salah satunya adalah ponsel pintar Nokia. Keputusan Nokia untuk fokus pada Windows Phone, tentu saja akan menghentikan penggunaan MeeGo lebih jauh. Pasti, keputusan ini disesalkan oleh Intel yang mengembangkan prosesor Atom untuk ponsel pintar dan Netbook. Sebelumnya Nokia sudah mempunyai satu seri ponsel pintar berbasis MeeGo, yaitu Nokia N9-00. Berakhirnya kemitraan strategis dengan Intel ini pasti akan mempengaruhi perkembangan Nokia.

Kemudian yang patut diperhatikan adalah relatif terlambatnya keputusan strategis ini. Apple, Google dan RIM sudah terlebih dahulu saling berpacu di pasar ponsel pintar. Bukan hanya Nokia yang terlambat. Microsoft pun juga bisa dibilang terlambat mengembangkan Windows Phone 7. Penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Windows Phone sampai dengan saat ini diberitakan baru mencapai 2 juta unit. Angka yang jauh di bawah penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Apple iOS, Android atau BBOS. Tantangan bagi Nokia dan Microsoft untuk membangun diferensiasi yang nyata bagi pengalaman pelanggan melalui produk dan layanan mereka. CEO Nokia, Stephen Elop bercita-cita membangun diferensiasi tersebut dengan bergabung dalam ekosistem Microsoft yang punya brand kuat di dunia industri ICT (Information and communication technology).

Sebagai market challenger atau market follower, mereka harus menentukan strategi yang tepat. Segmen manakah yang akan mereka tuju menjadi krusial. Berdasarkan beberapa survey, Apple dan Android kuat pada segmen muda, sedangkan Blackberry lebih kuat pada segmen yang lebih dewasa. Referensi: Today’s iPhone Users are Young, Rich, and Technically Savvy, Android is for Boys? Segmen mana yang akan ditetapkan sebagai tempat bermain akan sangat menentukan strategi berikutnya. Karena di tiap segmen, terdapat lawan-lawan yang kuat dan terus memacu inovasi produk dan layanannya. Beberapa waktu yang lalu Apple akhirnya menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat meluncurkan Verizon iPhone. Penawaran ini menyita perhatian besar dari pasar di Amerika Serikat. Seri terbaru iPhone, yang diberi nama iPhone 5 dikabarkan sudah siap segera meluncur. Aplikasi di Apple AppStore mencapai 300.000 aplikasi. Google Android yang didukung banyak pabrikan ponsel, seperti Samsung, HTC, LG, Motorola juga tidak berhenti berinovasi. Pengembangan customized dari masing-masing pabrikan ponsel justru menjadi kelebihan Android menjangkau kebutuhan dan keinginan pasar. Antara 150.000 sampai 200.000 aplikasi di Market Android menjadi salah satu sumber customer experience andalannya. Google juga diberitakan mengincar akuisisi Twitter, bersaing dengan Facebook. Ekosistem Apple dan Android terus berkembang. Sistem open-innovation yang dipraktekkan Apple dan Google terbukti ampuh memberi kontribusi bagi kemajuan keduanya.

Tantangan selanjutnya sebagai follower, bagaimana mendapatkan dukungan dari operator telekomunikasi untuk mempercepat penyerapan pasar. Skema penawaran iPhone, Android dan Blackberry saat ini sudah sangat berkembang. Beberapa di antaranya merupakan bundling dengan layanan broadband dari berbagai operator telekomunikasi. Nokia perlu mempertimbangkan dukungan dari para operator untuk bisa membuat skema penawaran yang menarik dan punya diferensiasi bagi pasar. Ekosistem device, aplikasi dan network kini menjadi penting dalam memenangkan kompetisi di industri ICT.

Nah, apabila kerjasama Nokia & Microsoft ini belum bisa menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah godaan untuk berpaling ke lain hati. Misalnya kerjasama dengan Google untuk menggunakan platform Android. Konsekuensi bila bergabung dengan Google, adalah bersaing dengan pabrikan lain yang sudah lebih dahulu melejit, khususnya rivalnya dari Korea dan Cina: Samsung dan HTC.

Tetapi peluang selalu ada. Nokia dan Microsoft juga pasti mempunyai rencana untuk mengembangkan fitur-fitur dan layanan yang akan membentuk ekosistem dan value-chain unggulan. Strategi market follower yang digagas Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya “Marketing Warfare” juga bisa jadi referensi. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Apa tantangan lain bagi Nokia dan Microsoft dan bagaimana peluang mereka dalam persaingan di pasar smartphone? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Alasan Nokia Memilih Microsoft

Kuartal IV tahun 2010 seharusnya menjadi kabar gembira bagi pabrikan smartphone. Berdasarkan data IDC, penjualan smartphone pada kuartal ini di seluruh dunia mencapai 100,9 juta unit, melampaui penjualan PC sebesar 92,1 juta unit. Penjualan smartphone tumbuh sekitar 88% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Smartphone berbasis Android paling menikmati berita ini, dengan penjualan mencapai 33,3 juta unit menurut data Canalys. Apple ikut menikmati kabar gembira ini. 14,1 juta unit iPhone berhasil dijual pada kuartal ini.

Tetapi tampaknya bukan kabar gembira bagi salah satu produsen smartphone yang selama ini dikenal sebagai penguasa pasar, Nokia. Karena penjualan smartphone berbasis Android sebesar 33,3 juta unit tersebut, berati berhasil menguasai 32,9% pangsa pasar. Kondisi itu menjadikan tahta pemimpin pasar smartphone yang selama ini dikuasai Nokia harus diserahkan kepada smartphone berbasis Android. Motor pertumbuhan Android adalah Samsung dan HTC yang menyumbang 45% dari total penjualan smartphone Android. Angka penjualan Nokia sebetulnya masih tinggi (menurut data TechSpot) sebesar 28,3 juta unit yang berarti 30,6% pangsa pasar. Tetapi trend yang terus menurun menyebabkan kabar tersebut tidak terlalu menggembirakan bagi Nokia. Pangsa pasar Nokia turun hampir 10% dari tahun sebelumnya (Baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet).

Kondisi tersebut diperkuat oleh pernyataan CEO baru Nokia, Stephen Elop. Mantan eksekutif Microsoft ini mengakui adanya krisis di Nokia, terkait pemasaran smartphone tersebut. Diakui bahwa produknya tidak mampu menjawab tantangan Apple dan Google Android. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “Nokia, our platform is burning”. Platform yang dipakai Nokia selama ini adalah Symbian dan MeeGo. MeeGo adalah platform yang dikembangkan Nokia bersama dengan Intel. Symbian secara tradisi adalah andalan Nokia. Pada saat pengembangan MeeGo, Nokia sempat mendeklarasikan Symbian go open source. Tetapi tidak beberapa lama kemudian memutuskan untuk mengembalikan pengembangan Symbian ke Nokia. Pada tahun 2010, Nokia telah menghabiskan biaya tidak kurang dari $ 4 milyar untuk penelitian dan pengembangan (Bernstein Research).

Mau tidak mau, Nokia harus mengambil langkah strategis untuk menghadapi perubahan lingkungan bisnis tersebut. Pada awal tahun ini, muncul spekulasi bahwa Nokia akan berpaling kepada platform di luar Symbian dan MeeGo. Spekulasi tersebut memunculkan dua kandidat besar: Microsfot Windows Phone atau Google Android. Februari 2011, beberapa investor mendesak Nokia untuk bekerjasama dengan Microsoft. Saham Nokia sempat naik, saat diberitakan dilayangkannya surat terbuka dari para analis kepada Nokia untuk menggunakan Windows Phone 7.

Lalu, kenapa Nokia mengumumkan bahwa mereka telah memilih Microsoft sebagai strategic partnernya? Kenapa bukan Android? Berikut ini adalah tujuh alasan yang mungkin bagi Nokia.

Pertama, Stephen Elop pada sebuah konferensi keuangan Nokia tahun ini, menyatakan keinginan untuk bergabung ke ekosistem yang kompetitif. Dan Microsoft mempunyai brand dan ekosistem yang kuat pada industri ICT (Information & Communication Technology). Kedua, bila Nokia bergabung dengan Android, maka mereka akan menghadapi tantangan besar untuk bisa mengejar Samsung dan HTC. Ketiga, Nokia pasti berharap aliansinya akan mampu membangun diferensiasi yang kuat. Diferensiasi yang kuat ini diharapkan mampu mendorong Nokia untuk membalikkan keadaan, menjadi mesin pertumbuhan smartphone Nokia. Dan harapan tersebut akan mendapat tantangan besar dengan banyaknya pabrikan yang mengusung platform Android. Keempat, tampaknya Nokia bertekad untuk kembali ke kompetensi kuncinya, yaitu pada pengembangan perangkat keras. Sedangkan pengembangan perangkat lunak akan berharap pada dukungan penuh dari Microsoft. Smartphonenya akan menggunakan Windows Phone sebagai sistem operasinya. Layanan pencarian Nokia akan menggunakan Microsfot Bing. Ovi Store akan diintegrasikan dengan Microsoft Market Place. Ovi Maps akan menjadi bagian dari Microsoft mapping service. Kelima, Microsoft bisa dianggap mempunyai nasib yang sama dengan Nokia. Windows Phone perlu dukungan untuk meningkatkan penyerapan pasar. Sampai saat ini, penjualan Windows Phone”baru” mencapai 2 juta unit. Dan salah satu dukungan penting yang diperlukan Microsoft adalah dukungan pengembangan perangkat keras yang memadai. Kondisi ini diharapkan mendukung alasan berikutnya: keenam, Microsoft diharapkan menjadi partner yang lebih seimbang. Posisi tawar Nokia diharapkan tetap kuat dalam kemitraan strategis ini. Posisi yang mungkin akan sulit didapatkan bila memilih Google yang telah mempunyai posisi yang kuat di pasar smartphone, bersama Samsung, HTC, LG, Motorolla dan beberapa pabrikan lain. Ketujuh, CEO Nokia, Stephen Elop adalah mantan eksekutif Microsoft sehingga secara psikologis mempunyai kedekatan yang lebih dibandingkan dengan Google.

Bagaimana masa depan kemitraan strategis ini? Sangat menarik untuk kita ikuti perkembangannya. Untuk sementara, investor belum yakin terhadap pilihan Nokia ini. Beberapa saat setelah pengumuman Nokia tersebut, nilai saham Nokia masih cenderung turun. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Ada alasan lain Nokia lebih memilih Microsoft? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Apa kabar Amazon vs Google?

Ramainya kompetisi di kategori tabletPC dan smartphone, selalu membawa kita mengarah ke tiga pemain besar: Apple, RIM dan Google. Kenapa? Karena ketiganya memang mempunyai pengaruh besar dalam industri tersebut. Ketiganya juga sukses membangun model bisnis yang memanfaatkan ekosistem perangkat keras, perangkat lunak dan berbagai konten internet. Apple menjadi pelopor dengan iTunes ecosystem yang terus berkembang dalam Apple App Store. RIM mengembangkan Blackberry App World, dan kemudian Google mempunyai Android Market yang bisa diakses oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi Android.

Bagaimana jalannya kompetisi antara tiga pemain besar tersebut sekarang? Trend menunjukkan Android tumbuh paling cepat, dan sudah melampaui market share Blackberry di Amerika Serikat. Dari sisi penjualan, Android dikabarkan telah mendominasi. Menurut AC Nielsen, sebesar 40% pembeli smartphone di Amerika Serikat memilih Android.

Di tingkat global, penjualan smartphone berbasis Android sudah melampaui Apple dan Blackberry, wlaupun masih di bawah Symbian-nya Nokia. Menurut Gartner, pada triwulan III tahun 2010, penjualan smartphone Android sudah mengambil porsi 25,5%. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,5%. Nokia memang masih memimpin dengan 36,6%, tetapi turun drastis dari tahun sebelumnya, 44,6%. Demikian juga dengan Blackberry, turun dari 20,7% menjadi 14,8%. Sedangkan Apple dengan sistem operasi iOS berhasil sedikit menahan serbuan Android, turun sedikit, dari 17,1% ke 16,7%.
Salah satu kekuatan Android adalah keterbukaannya terhadap penggunaan dan pengembangan oleh beberapa pabrikan smartphone, seperti HTC, Samsung, LG dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan Apple dan RIM yang secara eksklusif memproduksi smartphone-nya sendiri. Kekuatan lainnya ada pada model bisnisnya yang berbeda dengan dua pesaing utamanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Amazon? Amazon adalah nama besar dalam bisnis online retail. Tetapi di awal tahun 2011 ini, Amazon mulai membuka Amazon application store untuk para pengembang lunak. Uniknya, application store yang disiapkan Amazon ini adalah untuk aplikasi berbasis sistem operasi Android. Padahal Google sudah memiliki sendiri application store Android melalui Google Android Market.

Jadi menarik untuk kita perhatikan bagaimana Amazon akan memposisikan application store-nya terhadap Google Android Market dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kita kali ini. Kita coba lihat apa saja yang bisa menjadi keunggulan kompetitif application store Amazon tersebut. Pertama, Amazon mempunyai pengalaman luar biasa dalam bisnis online retail. Hampir semua produk retail bisa kita dapatkan di Amazon. Tetapi sebetulnya kekuatan besarnya adalah di customer base-nya.

Kedua, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi Amazon juga menguasai bagaimana cara memahami karakter para pelanggannya. Amazon mampu membuat kustomisasi layanan dan penawaran kepada para pelanggannya berdasarkan perbedaan karakter dan perilakunya. Bayangkan bila pemahaman ini diterapkan saat mereka memberikan penawarannya melalui application store. Sehingga, Amazon dinilai mampu mengatasi kekurangan Android Market dalam memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menemukan aplikasi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya. Saat ini aplikasi di Android Market sudah lebih dari 100.000 buah. Dan sebuah paradoks akan berlaku, di mana terdapat sesuatu yang berlebih, akan terdapat kelangkaan. Dengan ketersediaan aplikasi yang berlebih, orang akan menemukaan kesulitan dalam memperoleh aplikasi yang berkualitas dan relevan. Saat ini bila kita melihat Android Market, belum bisa kita temukan recommended item yang customized untuk setiap penggunanya. Para penggunanya lebih mengandalkan review dari pengguna lainnya.

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan untuk studi kasus marketing kita ini 🙂 Co-opetition bisa menjadi istilah yang lebih tepat. Kerjasama di dalam suatu kompetisi, antara Amazon application store dengan Google Android Market. Bagaimana menurut Anda, apa keunggulan kompetitif yang bisa menjadi andalah Amazon di pasar aplikasi ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas. Untuk memahami industri ini, silakan baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet dan Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet

Menurut IDC (International Data Corporation), penjualan tablet PC pada tahun 2010 akan mencapai 7,6 juta unit. Pada tahun 2014 diperkirakan menjadi 46 juta. Bahkan menurut Forrester Research, di Amerika Serikat jumlah pengguna tablet PC akan lebih banyak dari pada pengguna netbook pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 penjualan tablet PC mencapai 23% dari total penjualan PC. Sebetulnya masih susah mendefinisikan tablet PC, masih belum ada kesepakatan yang jelas, tetapi menurut Wikipedia, tablet PC adalah laptop atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer. Mudahnya, tablet bagaikan perpaduan atau konvergensi dari smartphone dan notebook. Ukuran tablet PC bervariasi, sekitar 7 inchi sampai 9,7 inchi.

Sehingga, tidak aneh bila kita search di internet dengan keyword “will produce tablet”, maka hampir semua produsen PC, smartphone atau gadget ternama akan kita lihat dalam peluncuran atau rencana pengembangan tablet. Pertama, tentu saja Apple iPad. Disusul kemudian oleh produsen lain, seperti: Samsung, Toshiba, Acer, HP, Fujitsu, Lenovo, Motorola, Dell, RIM (Blackberry), dan bahkan Intel dan Amazon. Kecuali Nokia! Setelah kata “will” akan diikuti oleh “not”. Seperti diberitakan heretechs.com, dalam forum Nokia World 2010 di London, VP Product Nokia Media Group menyatakan Nokia tidak akan memproduksi tablet PC. Nokia masih akan berkonsentrasi pada kategori smartphone.

Ada apa dengan Nokia? Apakah Nokia tidak tertarik dengan angka-angka prediksi penjualan tablet seperti di paragraf pertama tulisan ini, atau masih trauma 2 kali kegagalannya masuk ke industri PC? Nokia pernah memproduksi PC tetapi didivestasi tahun 1991. Tahun 2009, Nokia kembali memproduksi PC: Nokia Booklet 3G, tetapi juga tidak terlalu berhasil di pasar. Beberapa waktu lalu, Nokia mengakui kalah di pasar smartphone, salah satunya karena tertinggal dari para pesaingnya dalam mengembangkan smartphone. Pada kelas smartphone, Nokia dihajar oleh Apple (iPhone), RIM (Blackberry). Kini Nokia juga dihadapkan pada banyak produsen yang menggunakan sistem operasi Android yang menunjukkan angka pertumbuhan penjualan hampir 900% pada kuartal kedua tahun 2010. Di Amerika Serikat, penjualan handset Android telah melampaui penjualan Apple iPhone. Lalu, apakah Nokia ingin mengulangi kesalahan dengan terlambat mengembangkan tablet PC?

Sudut Pandang yang Lain
Tunggu dulu, kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dari sisi yang berbeda. Seperti diungkapkan pada awal posting ini, menurut Forrester Research, pertumbuhan tablet PC akan memakan pasar netbook, bukan smartphone. Banyak hal bisa yang dengan efektif dilakukan dengan smartphone, dan tidak bisa efektif dilakukan dengan tablet PC. Pertama, melakukan panggilan telepon atau video call. Pengguna tablet PC harus menggunakan alat tambahan untuk melakukannya, seperti Bluetooth earset / earpiece. Kemudian memotret atau merekan dengan video. Saat ini Apple iPad tidak dilengkapi kamera. Walaupun ada kemungkinan produksi iPad berikutnya dilengkapi kamera, bayangkan bagaimana Anda akan memotret menggunakan alat yang berbentuk seperti buku dengan ukuran 7 sampai 10 inchi. Smartphone juga masih “mewarisi” keunggulan dari karakter handphone yang sangat portable, mudah dibawa dan digunakan hanya dengan 1 tangan. Tidak demikian dengan tablet PC yang efektif dioperasikan dengan 2 tangan. Dari segi ergonomis, tablet PC juga kurang sesuai untuk penggunaan jangka panjang seperti notebook yang memungkinkan telapak tangan bisa mempunyai posisi nyaman karena bisa “beristirahat” di bagian papan ketik.

Tantangan dan Pilihan
Jadi pasar smartphone masih mempunyai peluang untuk bertahan dan terus berkembang. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan Nokia. Walaupun begitu, jelas tergambar banyak sekali tantangan terhadap pilihan Nokia tersebut. Faktanya penjualan iPad sangat menjanjikan. Sekitar bulan Mei, Apple mengumumkan bahwa iPad telah meraih angka penjualan 1 juta unit hanya dalam waktu 28 hari. Angka-angka prediksi penjualan tablet PC di atas juga bukan tanpa dasar yang jelas. Peluang pertumbuhan di industri gadget yang menjanjikan ini yang akan dilewatkan oleh Nokia, apabila mereka memang tidak akan bermain di pasar tablet.

Lalu apa saja pilihan yang tersedia bagi Nokia bila tetap bertahan di smartphone? Salah satunya adalah dengan memperkuat pengembangan di smartphone besar. Produk yang masih membawa keunggulan smartphone dibandingkan tablet, tetapi mampu mendekati keunggulan tablet, salah satunya dari sisi kenyamanan layar yang lebih lebar. Misalnya dengan ukuran 5 inchi, seperti salah satu desain dari Dell yang mulai dikenal sebagai kategori big smartphone. Beberapa analis juga memprediksi akan adanya konvergensi antara smartphone dan tablet PC. Hal ini mengingatkan kita perang di pasar gadget: Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone atau Demam Buah di Gadget Market?

Tetapi publikasi keputusan Nokia tersebut masih menyimpan misteri, yang menjadikan studi kasus marketing ini menarik. Beberapa blog sempat menampilkan bocoran tampilan dari tablet yang direncanakan oleh Nokia. Beberapa analis juga sempat memprediksi Nokia akan meluncurkan tablet PC pada akhir 2010 seperti pernah diberitakan inilah.com pada bulan April 2010. Nokia saat ini juga mengembangkan sistem operasi bernama MeeGo bersama dengan Intel. Sistem operasi berbasis open source ini dipersiapkan untuk berbagai jenis hardware, antara lain handset, netbook, televisi dan tablet PC. Tablet WeTab dari Neofonie yang dipasarkan bulan September menggunakan sistem operasi MeeGo. Intel sendiri sempat membuat protoype tablet PC yang menggunakan MeeGo.

Bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai misteri keputusan Nokia dalam studi kasus pemasaran ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.