Kisah Inovasi Amazon

Berbicara tentang studi kasus pemasaran dalam industri ICT (Information & Communication Technology) akhir-akhir ini kita cenderung fokus pada Google, Apple, RIM, Microsoft atau social media seperti Facebook, Twitter atau bahkan Groupon. Beberapa contoh studi kasus pemasaran tersebut antara lain “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”, “Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?”, atau “Apa Kabar RIM, Sudahkah Anda Menerapkan Marketing 3.0?

Amazon.com yang didirikan oleh Jeff Bezos tahun 1994 dan mulai tayang online pada tahun 1995 mulai sedikit jarang dibicarakan. Gaungnya kini kalah dengan adik-adiknya sesama internet companies, seperti Facebook, Twitter atau Groupon yang menguasai social media. Lalu apa yang menarik bila kita membicarakan Amazon? Salah satu yang bisa kita cermati adalah bagaimana mereka membangun sustainable competitive advantage untuk terus bisa bertahan di industrinya. Amazon termasuk satu dari sedikit perusahaan yang lahir dari era dotcom bubble yang terus mampu tumbuh dan bertahan sampai sekarang.

Dalam membangun sustainable competitive advantage, faktor yang penting adalah membentuk keunggulan yang berbasis pada kemampuan melakukan transformasi, terutama inovasi. Hal ini dibutuhkan karena lingkungan bisnis yang terus berubah. Apalagi trend menunjukkan perubahan lingkungan bisnis semakin tinggi intensitasnya. Philip Kotler pun berpendapat serupa dalam bukunya “Chaotics”, yang menggunakan istilah “The Age of Turbulence” untuk menggambarkan lingkungan bisnis yang terus berubah cepat. Dalam paparan selanjutnya kita akan melihat bagaimana Amazon terus berubah dan berinovasi dalam menyikapi perubahan lingkungan bisnisnya.

Amazon berawal dari toko buku online. Kemudian Amazon terus berkembang menjual  berbagai macam consumer goods, terutama yang mudah untuk dikirimkakepada pelanggan. Kemudian pada bulan November 2000, Amazon berinovasi dengan menjadi broker buku bekas melalui layanan Amazon Market Place. Layanan ini secara langsung juga memposisikan Amazon menjadi pesaing langsung eBay. Revenue diperoleh dari komisi penjualan buku bekas dari mitra-mitranya.

Inovasi kemitraan Amazon juga terbilang sukses. 40% penjualan di Amazon berasal dari third party sellers atau yang biasa disebut Amazon Associates. Layanan utk Amazon Associates terus dikembangkan melalui aStore. aStore adalah layanan dalam program afiliasi yang membantu mitra Amazon untuk membuat toko online dengan mudah. Kini jumlah Amazon Associates mencapai lebih dari 1 juta member. Program afiliasi ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Amazon.com sangat dikenal dengan kemampuannya dalam mempelajari pola belanja para pelanggannya. Sehingga mereka bisa memberikan rekomendasi yang personalized kepada setiap pelanggannya. Bahkan kemudian melalui Project Genesis, Amazon melebarkan rekomendasi yang personalized tersebut bukan hanya utk pembeli, tetapi juga untuk penjual. Dari data history browsing pembeli, Amazon mampu memberi rekomendasi, tentang apa yang cocok dijual oleh third party sellers melalui Amazon.com. Trend cloud computing services juga tidak dilewatkan oleh Amazon dengan mengembangkan Amazon Web Services (AWS).

Inovasi berikutnya dari Amazon yang cukup menyita perhatian adalah Kindle. Kindle adalah sebuah portable e-book reader. Layanan Kindle merupakan ekosistem piranti lunak, perangkat keras dan network platform yang terhubung ke Amazon.com. Konektivitas ke internet disediakan agar pengguna lebih mudah membeli dan kemudian membaca buku, majalah, surat kabar dan media digital lainnya, terutama dari Amazon. Ekosistem ini mirip dengan yang dikembangkan oleh Apple pada iPod dan iTunes untuk kategori musik digital.

Kindle yang pertama kali dirilis bulan November 2007 dengan harga $ 399 dan stok pertamanya terjual habis hanya dalam waktu 5,5 jam. Keberhasilan ini diteruskan dengan meluncurkan versi-versi pengembangan dari Kindle. Tetapi kemudian Kindle terancam oleh popularitas tablet PC akhir-akhir ini. Tablet PC bukan sekedar portable e-book reader, tetapi sudah merupakan komputer lengkap dalam bentuk tablet yang mempunyai fungsi jauh lebih lengkap daripada Kindle. Siapa lagi kalau bukan dimulai oleh Apple dengan iPad dengan ekosistem App Store nya. Apple mengembangkan iPad yang menguasai 90% market share tablet PC dan menggerus pasar Kindle dan juga pasar netbook. Era tablet PC semakin kuat saat berkembangnya berbagai tablet PC yang menggunakan sistem operasi Google Android dengan ekosistem Android Market-nya.

Menghadapi kondisi ini bagaimana reaksi Amazon? Pada bulan Maret 2011, Amazon meluncurkan Amazon Android Appstore! Inovasi yang berani, menantang Google di kandang Google sendiri. Apa yang bisa menjadi keunggulan Amazon dibandingkan Android Market yang menjual dan mendistribusikan berbagai konten dan aplikasi berbasis Google Android? Pertama, tentu saja kemampuan Amazon dalam membuat rekomendasi yang personal bagi pelanggannya. Rekomendasi personal sampai saat ini belum tampak di Android Market. Kedua, pengalaman bertahun-tahun Amazon dalam mengelola e-commerce pasti akan mempengaruhi keberhasilannya dalam mengelola pasar konten dan aplikasi.

Masuknya Amazon dalam pasar konten dan aplikasi Android tersebut akan membuka lebar peluang pada inovasi berikutnya. Tidak menutup kemungkinan, Kindle juga akan bertransformasi dari e-book reader menjadi tablet PC. Inovasi yg berani sekaligus masuk akal, karena setelah Kindle diancam popularitas tablet PC, saatnya transformasi menajdi tablet PC juga. Dan sistem operasi Android menjadi pilihan yang masuk akal. Dalam tekanan, Amazon bisa mengubah ancaman yang datang menjadi peluang. Sejalan dengan salah satu prinsip Jeff Bezos mengenai inovasi: “One of the only ways to get out of a tight box is to invent your way out”

Apakah Amazon Android Appstore akan berhasil dan bahkan mengalahkan Google Android Market? Apakah Kindle akan bertransformasi menjadi tablet PC? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Tantangan Kerjasama Nokia & Microsoft

(cdn.pocket-lint.com)

(cdn.pocket-lint.com)

Beberapa tahun terakhir, Nokia tampak kewalahan menghadapi fenomena serbuan Apple iPhone, Android dan Blackberry pada pasar ponsel pintar. Pangsa pasar ponsel pintar Nokia terus tergerus. Akhirnya gelar penguasa pasar harus diserahkan kepada ponsel pintar berbasis Android pada kuartal IV 2010. Pertanyaan yang sering muncul beberapa waktu yang lalu, adalah apa langkah strategis yang akan diambil Nokia menghadapi tantangan tersebut. Dan akhirnya terjawab dengan langkah Nokia menggandeng Microsoft, seperti diulas dalam “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”. Windows Phone akan menjadi platform andalan pengembangan ponsel pintar atau smartphone Nokia berikutnya.

Tetapi langkah tersebut memicu berbagai pertanyaan lain. Efektifkah langkah strategi kemitraan dengan Microsoft tersebut? Mampukah Nokia membalikkan keadaan, kembali mencetak pertumbuhan positif dalam meraih pangsa pasar. Kenyataannya, keraguan masih meliputi para investor, yang diindikasikan dengan harga saham Nokia yang masih cenderung turun setelah pengumuman kerjasama dengan Microsoft. Sebetulnya apa saja tantangan kerjasama strategis Nokia dan Microsoft dalam memenangkan pasar ponsel pintar? Berikut beberapa hal yang bisa menjadi tantangan Nokia dan Microsoft.

Tantangan pertama justru datang dari internal Nokia. Kerjasama strategis dengan Microsoft menguatkan arah Nokia untuk kembali ke kompetensi kuncinya di pengembangan perangkat keras. Hal ini membawa konsekuensi bagi Nokia untuk mengurangi jumlah karyawan. Potensi pengurangan karyawan terjadi khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pengembangan berbagai perangkat lunak. Sebelum ini pengembangan sistem operasi Symbian dan MeeGo menjadi tumpuan Nokia, sebelum beralih ke Windows Phone. Ovi Store dan Ovi Maps juga direncanakan menjadi bagian dari pengembangan aplikasi Microsoft. Kebijakan ini langsung mendapatkan penolakan dari karyawan Nokia. Seperti diberitakan gadgetell.com, karyawan di fasilitas Nokia di Tampere, Finlandia melakukan aksi protes. Aksi protes ditujukan untuk menentang kebijakan Nokia untuk mengadopsi platform Windows Phone pada sebagian besar ponsel pintarnya.

Tantangan berikutnya juga datang dari pihak yang selama ini dekat dengan Nokia, yaitu Intel. Pengembang teknologi prosesor ternama ini terlibat penuh dengan Nokia untuk mengembangkan MeeGo. MeeGo adalah sistem operasi berbasis Linux yang disiapkan sebagai platform untuk perangkat mobile, dan salah satunya adalah ponsel pintar Nokia. Keputusan Nokia untuk fokus pada Windows Phone, tentu saja akan menghentikan penggunaan MeeGo lebih jauh. Pasti, keputusan ini disesalkan oleh Intel yang mengembangkan prosesor Atom untuk ponsel pintar dan Netbook. Sebelumnya Nokia sudah mempunyai satu seri ponsel pintar berbasis MeeGo, yaitu Nokia N9-00. Berakhirnya kemitraan strategis dengan Intel ini pasti akan mempengaruhi perkembangan Nokia.

Kemudian yang patut diperhatikan adalah relatif terlambatnya keputusan strategis ini. Apple, Google dan RIM sudah terlebih dahulu saling berpacu di pasar ponsel pintar. Bukan hanya Nokia yang terlambat. Microsoft pun juga bisa dibilang terlambat mengembangkan Windows Phone 7. Penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Windows Phone sampai dengan saat ini diberitakan baru mencapai 2 juta unit. Angka yang jauh di bawah penyerapan pasar ponsel pintar berbasis Apple iOS, Android atau BBOS. Tantangan bagi Nokia dan Microsoft untuk membangun diferensiasi yang nyata bagi pengalaman pelanggan melalui produk dan layanan mereka. CEO Nokia, Stephen Elop bercita-cita membangun diferensiasi tersebut dengan bergabung dalam ekosistem Microsoft yang punya brand kuat di dunia industri ICT (Information and communication technology).

Sebagai market challenger atau market follower, mereka harus menentukan strategi yang tepat. Segmen manakah yang akan mereka tuju menjadi krusial. Berdasarkan beberapa survey, Apple dan Android kuat pada segmen muda, sedangkan Blackberry lebih kuat pada segmen yang lebih dewasa. Referensi: Today’s iPhone Users are Young, Rich, and Technically Savvy, Android is for Boys? Segmen mana yang akan ditetapkan sebagai tempat bermain akan sangat menentukan strategi berikutnya. Karena di tiap segmen, terdapat lawan-lawan yang kuat dan terus memacu inovasi produk dan layanannya. Beberapa waktu yang lalu Apple akhirnya menggandeng Verizon di pasar Amerika Serikat meluncurkan Verizon iPhone. Penawaran ini menyita perhatian besar dari pasar di Amerika Serikat. Seri terbaru iPhone, yang diberi nama iPhone 5 dikabarkan sudah siap segera meluncur. Aplikasi di Apple AppStore mencapai 300.000 aplikasi. Google Android yang didukung banyak pabrikan ponsel, seperti Samsung, HTC, LG, Motorola juga tidak berhenti berinovasi. Pengembangan customized dari masing-masing pabrikan ponsel justru menjadi kelebihan Android menjangkau kebutuhan dan keinginan pasar. Antara 150.000 sampai 200.000 aplikasi di Market Android menjadi salah satu sumber customer experience andalannya. Google juga diberitakan mengincar akuisisi Twitter, bersaing dengan Facebook. Ekosistem Apple dan Android terus berkembang. Sistem open-innovation yang dipraktekkan Apple dan Google terbukti ampuh memberi kontribusi bagi kemajuan keduanya.

Tantangan selanjutnya sebagai follower, bagaimana mendapatkan dukungan dari operator telekomunikasi untuk mempercepat penyerapan pasar. Skema penawaran iPhone, Android dan Blackberry saat ini sudah sangat berkembang. Beberapa di antaranya merupakan bundling dengan layanan broadband dari berbagai operator telekomunikasi. Nokia perlu mempertimbangkan dukungan dari para operator untuk bisa membuat skema penawaran yang menarik dan punya diferensiasi bagi pasar. Ekosistem device, aplikasi dan network kini menjadi penting dalam memenangkan kompetisi di industri ICT.

Nah, apabila kerjasama Nokia & Microsoft ini belum bisa menunjukkan kemajuan signifikan, tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah godaan untuk berpaling ke lain hati. Misalnya kerjasama dengan Google untuk menggunakan platform Android. Konsekuensi bila bergabung dengan Google, adalah bersaing dengan pabrikan lain yang sudah lebih dahulu melejit, khususnya rivalnya dari Korea dan Cina: Samsung dan HTC.

Tetapi peluang selalu ada. Nokia dan Microsoft juga pasti mempunyai rencana untuk mengembangkan fitur-fitur dan layanan yang akan membentuk ekosistem dan value-chain unggulan. Strategi market follower yang digagas Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya “Marketing Warfare” juga bisa jadi referensi. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Apa tantangan lain bagi Nokia dan Microsoft dan bagaimana peluang mereka dalam persaingan di pasar smartphone? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Alasan Nokia Memilih Microsoft

Kuartal IV tahun 2010 seharusnya menjadi kabar gembira bagi pabrikan smartphone. Berdasarkan data IDC, penjualan smartphone pada kuartal ini di seluruh dunia mencapai 100,9 juta unit, melampaui penjualan PC sebesar 92,1 juta unit. Penjualan smartphone tumbuh sekitar 88% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Smartphone berbasis Android paling menikmati berita ini, dengan penjualan mencapai 33,3 juta unit menurut data Canalys. Apple ikut menikmati kabar gembira ini. 14,1 juta unit iPhone berhasil dijual pada kuartal ini.

Tetapi tampaknya bukan kabar gembira bagi salah satu produsen smartphone yang selama ini dikenal sebagai penguasa pasar, Nokia. Karena penjualan smartphone berbasis Android sebesar 33,3 juta unit tersebut, berati berhasil menguasai 32,9% pangsa pasar. Kondisi itu menjadikan tahta pemimpin pasar smartphone yang selama ini dikuasai Nokia harus diserahkan kepada smartphone berbasis Android. Motor pertumbuhan Android adalah Samsung dan HTC yang menyumbang 45% dari total penjualan smartphone Android. Angka penjualan Nokia sebetulnya masih tinggi (menurut data TechSpot) sebesar 28,3 juta unit yang berarti 30,6% pangsa pasar. Tetapi trend yang terus menurun menyebabkan kabar tersebut tidak terlalu menggembirakan bagi Nokia. Pangsa pasar Nokia turun hampir 10% dari tahun sebelumnya (Baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet).

Kondisi tersebut diperkuat oleh pernyataan CEO baru Nokia, Stephen Elop. Mantan eksekutif Microsoft ini mengakui adanya krisis di Nokia, terkait pemasaran smartphone tersebut. Diakui bahwa produknya tidak mampu menjawab tantangan Apple dan Google Android. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah: “Nokia, our platform is burning”. Platform yang dipakai Nokia selama ini adalah Symbian dan MeeGo. MeeGo adalah platform yang dikembangkan Nokia bersama dengan Intel. Symbian secara tradisi adalah andalan Nokia. Pada saat pengembangan MeeGo, Nokia sempat mendeklarasikan Symbian go open source. Tetapi tidak beberapa lama kemudian memutuskan untuk mengembalikan pengembangan Symbian ke Nokia. Pada tahun 2010, Nokia telah menghabiskan biaya tidak kurang dari $ 4 milyar untuk penelitian dan pengembangan (Bernstein Research).

Mau tidak mau, Nokia harus mengambil langkah strategis untuk menghadapi perubahan lingkungan bisnis tersebut. Pada awal tahun ini, muncul spekulasi bahwa Nokia akan berpaling kepada platform di luar Symbian dan MeeGo. Spekulasi tersebut memunculkan dua kandidat besar: Microsfot Windows Phone atau Google Android. Februari 2011, beberapa investor mendesak Nokia untuk bekerjasama dengan Microsoft. Saham Nokia sempat naik, saat diberitakan dilayangkannya surat terbuka dari para analis kepada Nokia untuk menggunakan Windows Phone 7.

Lalu, kenapa Nokia mengumumkan bahwa mereka telah memilih Microsoft sebagai strategic partnernya? Kenapa bukan Android? Berikut ini adalah tujuh alasan yang mungkin bagi Nokia.

Pertama, Stephen Elop pada sebuah konferensi keuangan Nokia tahun ini, menyatakan keinginan untuk bergabung ke ekosistem yang kompetitif. Dan Microsoft mempunyai brand dan ekosistem yang kuat pada industri ICT (Information & Communication Technology). Kedua, bila Nokia bergabung dengan Android, maka mereka akan menghadapi tantangan besar untuk bisa mengejar Samsung dan HTC. Ketiga, Nokia pasti berharap aliansinya akan mampu membangun diferensiasi yang kuat. Diferensiasi yang kuat ini diharapkan mampu mendorong Nokia untuk membalikkan keadaan, menjadi mesin pertumbuhan smartphone Nokia. Dan harapan tersebut akan mendapat tantangan besar dengan banyaknya pabrikan yang mengusung platform Android. Keempat, tampaknya Nokia bertekad untuk kembali ke kompetensi kuncinya, yaitu pada pengembangan perangkat keras. Sedangkan pengembangan perangkat lunak akan berharap pada dukungan penuh dari Microsoft. Smartphonenya akan menggunakan Windows Phone sebagai sistem operasinya. Layanan pencarian Nokia akan menggunakan Microsfot Bing. Ovi Store akan diintegrasikan dengan Microsoft Market Place. Ovi Maps akan menjadi bagian dari Microsoft mapping service. Kelima, Microsoft bisa dianggap mempunyai nasib yang sama dengan Nokia. Windows Phone perlu dukungan untuk meningkatkan penyerapan pasar. Sampai saat ini, penjualan Windows Phone”baru” mencapai 2 juta unit. Dan salah satu dukungan penting yang diperlukan Microsoft adalah dukungan pengembangan perangkat keras yang memadai. Kondisi ini diharapkan mendukung alasan berikutnya: keenam, Microsoft diharapkan menjadi partner yang lebih seimbang. Posisi tawar Nokia diharapkan tetap kuat dalam kemitraan strategis ini. Posisi yang mungkin akan sulit didapatkan bila memilih Google yang telah mempunyai posisi yang kuat di pasar smartphone, bersama Samsung, HTC, LG, Motorolla dan beberapa pabrikan lain. Ketujuh, CEO Nokia, Stephen Elop adalah mantan eksekutif Microsoft sehingga secara psikologis mempunyai kedekatan yang lebih dibandingkan dengan Google.

Bagaimana masa depan kemitraan strategis ini? Sangat menarik untuk kita ikuti perkembangannya. Untuk sementara, investor belum yakin terhadap pilihan Nokia ini. Beberapa saat setelah pengumuman Nokia tersebut, nilai saham Nokia masih cenderung turun. Tetapi, bagaimana pendapat Anda? Ada alasan lain Nokia lebih memilih Microsoft? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Keistimewaan Kucing dalam Bisnis: A Tribute to Thomas Edison

Thomas Edison Google

Seekor kucing mampu mencapai tempat-tempat yang tinggi. Semua tahu kalau kucing mampu melakukannya, karena anatomi kucing memungkinkannya untuk melompat tinggi. Tetapi yang lebih penting adalah kucing selalu siap jatuh, siap terjun bebas. Siap gagal saat melakukan lompatan, tetapi untuk kemudian selalu siap untuk mencoba melompat lagi.

Hari ini, 11 Februari 2011, Thomas Alva Edison berulang tahun yang ke-164. Posting dalam studi kasus pemasaran kali ini didedikasikan untuk Thomas Edison. Google pun hari ini menghormati Thomas Edison dengan gambar khusus untuk logo di search engine-nya seperti gambar di atas. Thomas Alva Edison yang lahir 11 Februari 1847 merupakan tokoh inventor yang penting. Banyak yang mengenalnya karena penemuannya yang paling populer: bola lampu. Tetapi sebenarnya beliau memegang rekor 1.093 paten penemuan di Amerika atas namanya. Banyak paten juga dia catatkan di Inggris, Perancis dan Jerman. Seorang inventor sekaligus pengusaha yang sangat produktif.

Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana dia menghargai kegagalan, dan belajar dari kegagalan tersebut. Sebuah determinasi yang sesuai dengan analogi kucing di atas. Hal tersebut digambarkan dalam kutipan Napoleon Hill, “Edison gagal 10.000 kali sebelum menghasilkan bola lampu listrik”. Walaupun dari sisi yang lain, gaya penemuan Edison dianggap tidak efisien.

Pada tahun 2011 ini, Apple diperkirakan akan mampu menyalip Exxon Mobil dalam nilai kapitalisasi pasar. Pada awal bulan Januari 2011 kapitalisasi pasar Apple sebesar $ 302.5 milyar, sedangkan Exxon mencapai $ 375.9 milyar. Walaupun dengan pergerakan harga minyak yang terus menanjak akhir-akhir ini bisa membuyarkan prediksi tersebut. Tetapi apa yang menyebabkan Apple punya nilai sedemikian besar dan kuat? Dari sisi penjualan, pada kuartal keempat tahun 2010, Apple berhasil menjual 3,89 juta komputer Mac, 14,1 juta iPhone, 9,05 juta iPod,dan  4,19 juta iPad. Ketiganya memang merupakan inovasi Apple yang jadi motor penggerak kinerja. Inovasi seakan lekat dengan Apple. Inovasi produknya menjadi standar pada tiap industri. Pada waktu yang tidak lama setelah peluncuran produk-produk inovasinya, hampir dipastikan akan banyak pengikutnya. iPad yang merupakan kategori tablet PC inovasi dari Apple, langsung ditantang banyak pabrikan, seperti Samsung, Dell, Fujitsu yang banyak mengusung sistem operasi Google Android. Bahkan RIM, produsen Blackberry juga ikut meluncurkan Playbook.

Inovasi memang menjadi salah satu keunggulan kompetitif berkelanjutan yang sangat penting. Seperti yang dicontohkan oleh Apple. Walaupun banyak pengikut pada setiap inovasi produknya, tetapi Apple mampu bertahan menjadi yang terdepan di setiap kategori produk andalannya. Tetapi cerita Apple juga tidak lepas dari kegagalan. Beberapa produk invoasinya yang dinilai gagal antara lain: Apple “puck” mouse, G4 Cube, iPod HiFi, Fire Wire, dan lain-lain.

Untuk membangun budaya inovasi, salah satu landasan yang penting adalah bagaimana menghargai sebuah kegagalan. Teresa Amabile dalam tulisannya “How To Kill Creativity” dalam Harvard Business Review, September 1998 mengungkapkan pentingnya menghargai kegagalan dalam proses inovasi dalam menumbuhkan motivasi dan kreativitas. Proses ini penting bagi organisasi untuk terus mampu belajar.

Jadi, dalam lingkungan yang hiper-kompetitif, maka untuk mencapai bisnis yang berkelanjutan diperlukan keunggulan kompetitif yang mampu beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang terus berubah. Di situlah pentingnya inovasi. Dan keisitimewaan mentalitas kucing dalam menghargai kegagalan dan terus mengambil resiko untuk mencoba menjadi salah satu komponen penting.

Bagaimana pendapat Anda? Mau berbagi cerita tentang inovasi? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Apa Kabar RIM, Sudahkah Anda Menerapkan Marketing 3.0?

“Izin RIM Indonesia” sempat masuk dalam trending topics di Twitter beberapa waktu lalu. Berawal dari ultimatum Menkominfo, Tifatul Sembiring kepada RIM (produsen BlackBerry) untuk segera mematuhi peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, atau pemerintah akan memblokir layanan browsing BlackBerry pada 21 Januari 2011.

Terdapat tujuh tuntutan utama yang disampaikan Menkominfo. Dari tujuh tuntutan tersebut, pada saat ultimatum tersebut diberikan, empat poin telah dipenuhi oleh RIM, yaitu pembangunan service center di Indonesia, pendirian perwakilan resmi, penyerapan tenaga kerja Indonesia secara layak dan proporsional dan penggunaan konten lokal. Tiga tuntutan yang belum dipenuhi adalah RIM harus patuh pada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, pemblokiran situs porno dan pembangunan server di Indonesia. Tuntutan dari pemerintah untuk blokir situs porno sudah ditekankan sejak bulan Agustus tahun lalu.

Respons pro dan kontra pun berlangsung cukup seru, walaupun ternyata respons negatif lebih mendominasi. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pertama karena pengguna BlackBerry di Indonesia yang terancam terpengaruh kebijakan pemerintah tersebut cukup banyak. Diperkirakan terdapat 2,5 juta pelanggan BlackBerry melalui beberapa operator telekomunikasi.Kedua, bisnis beberapa operator telekomunikasi bisa terganggu. Hal ini diperkuat pernyataan dari Telkomsel, Indosat dan XL yang ditemukan di beberapa media. RIM dan operator telekomunikasi bisa kehilangan potensi pendapatan 200 miliar rupiah lebih tiap bulan. Ketiga, karena sebagian masyarakat ternyata belum paham seluruhnya mengenai permasalahan yang terjadi. Contoh kecil, sebagian belum mengetahui kalau ultimatum blokir tersebut diarahkan pada layanan browsing, sehingga layanan lain seperti BlackBerry Messenger akan tetap bisa digunakan. Begitu juga pemahaman terhadap tujuh tuntutan tersebut, pembahasan pro dan kontra lebih berpusat pada tuntutan blokir situs porno. Padahal esensinya adalah pada tuntutan yang pertama, yaitu RIM seharusnya patuh pada peraturan perundangan di Indonesia. Peraturan yang terkait adalah UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, serta UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Nah, ijinkan dalam tulisan ini tidak membahas konten dari pro dan kontra tersebut, tetapi lebih membahas konteksnya, yang sangat terkait dengan esensi tuntutan Menkominfo. Terlepas dari pro atau kontra terhadap ultimatum tersebut, pertentangan antara RIM dan Menkominfo ini hanyalah sebagian dari beberapa cerita konflik sebelumnya yang melibatkan RIM dengan otoritas di berbagai negara. Sebut saja pemerintah Uni Emirat Arab, India, Pakistan, Aljazair atau Arab Saudi, seperti dikutip dari pemberitaan di detikinet. Prancis dan Jerman juga dikabarkan melarang penggunaan Blackberry di sebagian jajaran pemerintah, dengan alasan keamanan.

Catatan panjang pertentangan RIM dengan otoritas lokal tersebut, berpotensi membatasi pertumbuhan BlackBerry. Dari laporan penjualan ponsel pintar pada triwulan ketiga 2010 yang dirilis Gartner, penjualan BlackBerry terus anjlok. Blackberry hanya mampu mengambil 14,8% pangsa pasar, turun dari 20,7% dari periode yang sama tahun 2009. Pangsa pasar yang hilang tersebut, terutama dilibas oleh Apple (16,7%) dan ponsel pintar berbasis Android (25,5%) yang terus tumbuh.

Gejala ini mau tidak mau harus menjadi perhatian dari RIM. Yang harus dilakukan pertama kali oleh RIM adalah melihat kembali orientasi bisnisnya. Di dalam pasar yang semakin horizontal, tuntutan terhadap bisnis yang lebih berorientasi secara proporsional terhadap ProfitPeople dan Planet seperti yang digagas dalam konsep Marketing 3.0 semakin besar. Marketing 3.0 adalah konsep marketing yang berfokus pada kemanusiaan, atau human-centricity.

Profit yang diperoleh RIM di pasar Indonesia, menurut Sekjen Indonesia Telecommunications Users Group M. Jumadi, berkisar 20 juta dollar per bulan, tanpa membayar pajak dan biaya internet service provider. Jumlah yang tidak sedikit. Kini saatnya RIM untuk mau lebih mengarahkan orientasi bisnisnya kepada People dan Planet untuk membangun bisnis yang berkelanjutan. Orientasi kepada People menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam bisnis RIM yang terus mendunia. Salah satunya harus diwujudkan dalam keberpihakannya juga pada kepentingan lokal, antara lain diwakili oleh otoritas telekomunikasi negara setempat. Jadi, apa kabar RIM, sudahkah Anda menerapkan Marketing 3.0?

Haruskah Crowd Sourcing Menjadi Solusi Transformasi (Logo) Starbucks?

Ini adalah posting studi kasus pemasaran dari kopicoklat.com yang memenangkan lomba artikel majalah Marketeers mengenai perubahan logo Starbucks. Artikel ini juga dimuat pada blog dan majalah Marketeers yang terbit bulan Februari 2011. Selamat menikmati 🙂

Rabu, 5 Januari 2011 menjadi tanggal penting bagi Starbucks. Starbucks, yang hadir melalui sekitar 15.000 outlet di 42 negara, memperkenalkan logo baru. Perubahan logo adalah hal biasa dalam perjalanan sebuah bisnis, termasuk Starbucks. Tampak biasa, karena perubahan logo yang terjadi seperti sebuah evolusi. Dari tiga perubahan logonya, semuanya merupakan zoom-in dari tokoh Siren, sebangsa putri duyung dalam mitologi Yunani.

Tetapi tunggu sebentar, kali ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Pertama, perubahan logo ini sejalan dengan transformasi bisnis Starbucks, yang akan menggali peluang lain dalam bisnis makanan dan gaya hidup. Starbucks menyesuaikan diri dengan lingkungan bisnisnya setelah ekspansi bisnis ke berbagai negara. Kedua, dari berbagai situs dan media di internet, mayoritas respon masyarakat bernada negatif. Ketiga, walaupun perubahan logo ini seperti evolusi, tetapi bisa dianggap sebuah revolusi. Anggapan ini dikuatkan oleh respon yang mayoritas negatif, yang biasanya menyertai sebuah perubahan besar.

Tokoh Siren keluar dari “kungkungan” lingkaran luar yang selama ini menaunginya. Tidak ada lagi lingkaran, tidak lagi tertulis nama Starbucks di dalam lingkaran dan tidak ada lagi kata “Coffee” di dalam lingkaran tersebut. Hal ini mewakili transformasi bisnis Starbucks. Juga mewakili kehadirannya yang semakin luas di berbagai belahan dunia. Nama Starbucks yang menggunakan alfabel latin, mungkin tidak lagi relevan saat ditampilkan di Cina atau negara lain yang tidak menggunakan alfabet latin. Saat ini, di Cina terdapat sekitar 400 outlet Starbucks. Fenomena ini mirip yang terjadi pada Nike atau Apple, yang melepas nama merk dari logonya.

Warna hijau kini juga tampil sendiri. Selama ini paduan hijau dan hitam seperti sudah melekat pada brand Starbucks. Paduan warna ini sebetulnya mewakili transformasi Starbucks pada tahun 1987, saat Howard Schultz mengambil alih Starbucks. Schultz kembali, setelah sempat keluar dan mendirikan Il Giornale coffee house yang bergaya espresso café yang pada awalnya ingin diterapkan di Starbucks, tetapi ditentang oleh para pendiri lain. Kemudian, logo Starbucks awal dikawinkan dengan logo Il Giornale, dan sejak itu hitam-hijau menjadi nyawa Starbucks.

Selain kata “Coffee”, lingkaran luar, tipografi yang digunakan dan tokoh Siren, warna hijau-hitam dianggap telah mewakili Starbucks sebagai “tempat ketiga”. Tempat ketiga setelah rumah dan kantor yang menjadi tujuan utama para pelanggannya. Tempat ketiga yang melambangkan gaya hidup dan kesan relaks, kenyamanan, melepas penat setelah jam kerja dan tempat ngobrol.

Nah, mampukah logo tersebut mewakili transformasi bisnis sekaligus mewakili gaya hidup para pelanggannya? Yang pasti logo baru sudah mampu mewakili transformasi bisnis yang dijalaninya. Tetapi respon negatif dari pasar, mitra kerja dan pelanggannya merupakan indikasi gaya hidup yang diembannya terancam tidak terwakili. Padahal inilah yang menjadi salah satu keunggulan kompetitifnya selama ini.

Pada pertengahan dekade 80-an, fokus bisnis yang keluar dari keunggulan kompetitif tersebut menyebabkan penurunan kinerja bisnis Starbucks. Banyak outletnya yang mulai bergeser dari gaya hidup yang ditawarkan sebelumnya, sehingga sempat dianalogikan menjadi seperti Wal-Mart Coffee. Analogi yang mengarah kepada pergeseran citra, seperti kedai kopi cepat saji yang menawarkan kepraktisan. Saat Howard Schultz kembali tahun 1987, banyak outlet ditutup untuk mengembalikan fokus ke konsep gaya hidup “tempat ketiga”. Perubahan logo saat itu juga sukses, karena mampu mewakili transformasi bisnis sekaligus tetap mewarisi gambaran gaya hidup ala Starbucks.

Nah, selanjutnya bagaimana Starbucks harus menyikapi perkembangan respons pasar terhadap logo baru ini menjadi menarik. Langkah Gap, produsen pakaian kasual yang membatalkan logo baru karena respon negatif pelanggan yang merasa gaya hidupnya tidak terwakili logo baru, bisa jadi referensi. Akhirnya Gap menggunakan crowd sourcing untuk eksplorasi ide logo baru yang tepat.Crowd sourcing memang bisa menjadi alternatif bagi Starbucks, tetapi esensinya adalah Starbucks harus mampu mendengar dan menyikapi conversation para pelanggannya dalam isu ini dan memastikan logo barunya mampu mewakili gaya hidup pelanggannya.

Consumer 3000 Sebagai Jembatan Menuju Mainstream Market

Posting studi kasus pemasaran kali ini terinspirasi oleh tulisan mas Yuswohady mengenai Consumer 3000. Istilah Consumer 3000 ditujukan untuk pertumbuhan segmen kelas menengah, saat suatu negara mencapai angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar $3000. Angka ini menjadi penting karena banyak negara yang setelah mencapai angka PDB tersebut, menunjukkan lonjakan pertumbuhan yang makin tinggi. Angka tersebut menjadi titik lepas landas suatu negara dalam proses transformasi dari negara berkembang menjadi negara maju. Di Indonesia, diperkirakan titik ini akan mampu dicapai pada tahun 2011. Penjelasan selengkapnya mengenai fenomena Consumer 3000 bisa dibaca di blog Yuswohady: http://www.yuswohady.com/2010/12/04/consumer-3000/.

Dua ciri utama segmen kelas menengah ini adalah mempunyai daya beli yang meningkat dan lebih smart. Dalam proses keputusan membeli, mereka berorientasi kepada value. Dengan daya beli yang meningkat, maka produk yang selama ini masuk dalam kategori premium mulai terjangkau oleh segmen ini. Hal ini berkontribusi pada percepatan experience curve effect (baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Learning_curve_effects) sehingga economies of scale produk lebih cepat tercapai. Economies of scale akan memberi peluang pada penurunan harga. Efek dari fenomena ini adalah produk-produk yang selama ini dianggap mewah akan lebih terjangkau. Kondisi ini yang disebut oleh Yuswohady sebagai mass luxury.

Selanjutnya, strategi pemasaran dalam menyikapi perubahan pasar ini akan menjadi sangat menarik. Dalam studi kasus marketing ini, kita coba lihat bagaimana implikasi strateginya pada produk-produk berteknologi tinggi. Fokus ini dipilih karena sesuai karakter Consumer 3000 yang lebih modern dan lebih melek teknologi atau technology savvy. Hal ini mengingatkan saya pada buku Geoffrey A. Moore ayng berjudul “Crossing the Chasm”, yang pasti juga sudah sangat Anda kenal. Dalam buku tersebut digambarkan sebuah perjalanan penyerapan pasar terhadap produk berteknologi tinggi, yang disebut Technology Adoption Lifecyle. Dalam siklus ini, penyerapan pasar terjadi secara bertahap, dari segmen pasar yang disebut innovator, early adopter, early majority, late majority dan akhirnya laggard.

Innovator dan Early adopter menjadi pintu gerbang bagi produk hi-tech untuk bsia menikmati tingkat penyerapan pasar yang tinggi pada mainstream market, yaitu early majority dan late majority. Lalu, bagaimana hubungan segmen kelas menengah Consumer 3000 dengan technology adoption life cycle? Dengan daya beli yang makin kuat dan semakin melek teknologi, maka peluang bagi tumbuhnya segmen early adopter di pasar menjadi semakin terbuka. Pengguna Blackberry di Indonesia diperkirakan sudah mencapai lebih dari 3 juta orang. Penjualan smartphone berbasis Android tumbuh pesat. Pada beberapa even, tampak antrian dalam pembelian produk tablet PC. Tetapi Consumer 3000 yang dibagi dalam 3 sub segmen: Reasonable, Critical dan Functional menunjukkan segmen tersebut sebenarnya bukanlah identik dengan Early Adopter, tetapi lebih terdistribusi dalam segmen Early Adopter dan Early Majority.

Uniknya karena melek teknologi, salah satu fenomena yang sangat penting adalah mereka terhubung satu sama lain, melalui berbagai media. Tetapi media yang sangat penting adalah internet dan berbagai aplikasi di dalamnya, terutama social media. Akun Facebook Indonesia sudah mencapai lebih dari 34 juta, pengguna Twitter tidak kurang dari 8 juta, sehingga sering disebut sebagai Pusat Twitter di Asia. Dan mereka terhubung hampir setiap waktu. Data dari Twitter, 40% tweets berasal dari perangkat mobile.

Jadi, gambarannya begini: bayangkan apa yang bisa terjadi saat terjadi pertumbuhan pada segmen Early Adopter dan Early Majority. Kemudian mereka terhubung satu sama lain melalui media internet, hampir setiap waktu: 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Informasi disalurkan ke seluruh lapisan segmen tersebut secepat kecepatan cahaya. Ada ide?

Para provider produk dan layanan berteknologi tinggi harus bisa memanfaatkan momen ini. Chasm atau jurang kegagalan sebuah produk hi-tech masuk ke mainstream market digambarkan berada di antara segmen Early Adopter dan Early Majority. Tetapi kini keduanya makin terhubung, semakin melek teknologi dan mempunyai daya beli yang semakin meningkat. Bila produsen mampu memanfaatkan dengan baik momen ini, maka waktu yang dibutuhkan untuk menuju mainstream market bisa lebih cepat. Perjalanan sebuah produk pada technology adoption lifecyle bisa lebih cepat. Hal ini terjadi pada penyerapan pasar terhadap ponsel pintar berbasis Android dan Tablet PC. Edukasi pasar terhadap berbagai macam fitur yang lekat dengan teknologi baru, bisa menjadi lebih mudah, karena pemahaman segmen Consumer 3000 terhadap teknologi yang lebih baik.

Tetapi bukan berarti jurang atau chasm menjadi lebih mudah untuk diseberangi. Strategi dasar untuk bisa melewati jurang tersebut tetap harus menjadi perhatian. Produk yang ditawarkan harus siap 100%, harus bisa menjamin adanya alasan yang kuat bagi Consumer 3000 untuk membeli. Produk yang tidak siap bisa menjadi bulan-bulanan di social media. Kesiapan pemasar juga harus 100%, end to end. Karena Consumer 3000 lebih smart. Produsen juga tetap harus jeli dalam fokus mencapai sasaran pasar yang tepat. Karena Consumer 3000 lebih tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan. Mereka berorientasi pada value. Produk yang ditawarkan juga tetap harus mampu menunjukkan positioning dan diferensiasi yang jelas di mata Consumer 3000.

Wah jadi semakin tidak sabar, nunggu buku Consumer 3000 nya mas Yuswohady 🙂 . Bagaimana pendapat Anda? Apa saja implikasi strategi yang sesuai untuk fenomena Consumer 3000? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

7 Fakta Unik di Era Broadband

Indonesia menjadi salah satu tempat pertumbuhan layanan broadband tertinggi di dunia. Menurut reportase Radio Australia, pertumbuhan pengguna broadband di Indonesia pada tahun lalu mencapai 142%, walaupun dari tingkat penetrasi terhadap populasi masih rendah. Sedangkan pengguna internet di Indonesia diprediksi mencapai 30.000.000 orang, menurut internetworldstats.com. Hal ini, mau tidak mau akan berpengaruh terhadap perilaku atau gaya hidup kita. Nah… berikut beberapa cerita unik dan ringan mengenai perubahan gaya hidup kita sehari-hari yang dipengaruhi internet dan broadband, berdasarkan pengamatan, pengalaman dan sharing bersama teman-teman, baik secara offline maupun online. Fakta unik dan ringan dalam studi kasus marketing ini hanyalah indikasi dari banyak perubahan karakter di era broadband economy. Semoga memberikan penyegaran dan wawasan bagi kita untuk belajar marketing dan menangkap peluang dari perubahan perilaku pasar.

Fakta Satu. Tampaknya kita harus mulai mengantisipasi fenomena yang satu ini, yaitu tingkat okupansi toilet yang bertambah. Akses internet dan broadband yang semakin lancar, ditambah berbagai macam aplikasi yang tersedia melalui smartphone ternyata membuat banyak orang tertarik untuk mengisi waktu di toilet menggunakan smartphone. Kalau dahulu, beberapa orang membawa koran atau merokok saat melakukan “kegiatan wajib” di toilet, maka beberapa orang kini tidak lupa membawa smartphone ke toilet. Entah itu untuk sekedar main game, browsing, chatting, facebook-an, twitter-an atau bahkan download aplikasi atau content di internet.

Fakta Dua. Berbagai tipe smartphone, sekarang dilengkapi dengan fungsi GPS dan aplikasi navigasi berbasis GPS. Dikombinasikan dengan browser, maka smartphone telah menjadi sumber informasi dan panduan yang luar biasa dalam mencari dan menemukan berbagai macam point of interest, mulai dari lokasi ATM, hotel, gedung, tempat ibadah, tempat belanja sampai tujuan wisata kuliner.
Dalam suatu perjalanan ke Jogja, berdasarkan rekomendasi yang saya temukan di internet, saya mencoba menemukan Bakmi Goreng Jawa “Pak Pele” dengan dipandu GPS. Ternyata aplikasi navigasi GPS berbasis Android yang saya gunakan, memaksa saya memutar kendaraan, karena aplikasi tersebut memandu ke arah jalan di lingkungan Kraton Yogyakarta yang ternyata malam itu menjadi jalan buntu, karena terdapat pintu gerbang yang ditutup. Uniknya, waktu memutar kendaraan, dari arah berlawanan bertemu dengan dua kendaraan lain dengan plat nomor luar kota Jogja, yang ternyata juga harus memutar setelah “tersesat” karena juga dipandu navigasi berbasis GPS. Cerita unik berikutnya, adalah seorang teman yang terpaksa menempuh perjalanan Jogja – Jember melebihi waktu tempuh normal, justru setelah menggunakan navigasi berbasis GPS. Salah satu sebabnya adalah kemungkinan kesalahan dalam melakukan setting “routing options” pada alat navigasi GPS yang digunakannya.

Fakta Tiga. Berdasarkan hasil salah satu riset pasar, pada segmen pelajar, internet dan broadband telah menjadi salah satu kebutuhan utama. Beberapa pelajar mengaku, memilih menggunakan uang sakunya untuk membeli “pulsa” daripada untuk “jajan” membeli makanan atau minuman. Pulsa yang dimaksud, tentu saja sebagian untuk tetap bisa mengakses internet, terutama untuk tetap bisa update status di beberapa social media seperti facebook atau twitter.

Fakta Empat. Pengguna e-commerce diprediksi akan terus meningkat di tahun 2011. Salah satunya ternyata dikontribusi oleh pembelian secara online melallui social media. Segmen potensialnya adalah segmen wanita, yang berdasarkan hasil survey pada beberapa periode sebelumnya sebetulnya bukanlah segmen potensial dalam e-commerce. Akhir-akhir ini bisa kita lihat di facebook, banyak teman kita dari segmen ini, para ibu-ibu atau remaja wanita yang di-“tag” pada foto produk yang di-share oleh para penjual berbagai macam produk secara online. Mulai dari produk kosmetik, fashion sampai berbagai produk kesehatan.

Fakta Lima. Di beberapa kota besar, terutama Jakarta, mulai marak café yang beroperasi 24 jam. Café tersebut tetap ramai, walaupun waktu sudah menunjukkan melewati tengah malam. Beberapa orang tampak tetap mencoba produktif, baik diskusi, meeting atau sibuk di depan komputer pribadinya dengan dukungan internet hotspot di lokasi tersebut atau USB modem di komputernya. Beberapa tempat makan yang dulu biasa kita temui di dalam mall, kini beberapa di antaranya mulai mencari tempat operasi di luar mall, demi untuk bisa beroperasi 24 jam.

Fakta Enam. Ada yang berubah dalam kegiatan sarapan di pagi hari. Bukan menunya, dan bukan waktu sarapannya. Tetapi banyak orang kini saat sarapan di pagi hari, di sampingnya terdapat smartphone atau bahkan mungkin tablet PC yang tetap aktif dioperasikannya. Beberapa orang menggunakannya untuk browsing berbagai berita terbaru di media online, seperti detik.com, kompas.com, vivanews.com atau di social media, sambil terus melakukan update status atau sharing berita baru yang ditemukannya melalui akun social medianya.

Fakta Tujuh. Banyak akun palsu di social media. Twitter pun menyediakan tambahan informasi “verified account” untuk membedakan official twiiter account dengan akun-akun lain yang serupa. Identifikasi ini sangat penting, terutama bagi entitas bisnis atau selebritis yang sering menjadi target akuisisi nama akun yang serupa. Tempo Interaktif, pada hari Rabu, 5 Januari 2011 memberitakan bahwa terdapat ratusan akun di facebook yang menggunakan nama “Gayus Tambunan”. Gayus Tambunan adalah tersangka kasus korupsi pajak yang kini sedang menjalani sidang. Berbagai macam motif menjadi latar belakang orang mengakuisisi akun social media, mulai dari iseng sampai dengan untuk keperluan pembajakan informasi atau merusak citra individu atau entitas bisnis.

Bagaimana dengan Anda? Ada cerita unik yang ingin Anda share? Please give comments or share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas untuk memanfaatkan perubahan perilaku ini.

Apa kabar Amazon vs Google?

Ramainya kompetisi di kategori tabletPC dan smartphone, selalu membawa kita mengarah ke tiga pemain besar: Apple, RIM dan Google. Kenapa? Karena ketiganya memang mempunyai pengaruh besar dalam industri tersebut. Ketiganya juga sukses membangun model bisnis yang memanfaatkan ekosistem perangkat keras, perangkat lunak dan berbagai konten internet. Apple menjadi pelopor dengan iTunes ecosystem yang terus berkembang dalam Apple App Store. RIM mengembangkan Blackberry App World, dan kemudian Google mempunyai Android Market yang bisa diakses oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi Android.

Bagaimana jalannya kompetisi antara tiga pemain besar tersebut sekarang? Trend menunjukkan Android tumbuh paling cepat, dan sudah melampaui market share Blackberry di Amerika Serikat. Dari sisi penjualan, Android dikabarkan telah mendominasi. Menurut AC Nielsen, sebesar 40% pembeli smartphone di Amerika Serikat memilih Android.

Di tingkat global, penjualan smartphone berbasis Android sudah melampaui Apple dan Blackberry, wlaupun masih di bawah Symbian-nya Nokia. Menurut Gartner, pada triwulan III tahun 2010, penjualan smartphone Android sudah mengambil porsi 25,5%. Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya hanya 3,5%. Nokia memang masih memimpin dengan 36,6%, tetapi turun drastis dari tahun sebelumnya, 44,6%. Demikian juga dengan Blackberry, turun dari 20,7% menjadi 14,8%. Sedangkan Apple dengan sistem operasi iOS berhasil sedikit menahan serbuan Android, turun sedikit, dari 17,1% ke 16,7%.
Salah satu kekuatan Android adalah keterbukaannya terhadap penggunaan dan pengembangan oleh beberapa pabrikan smartphone, seperti HTC, Samsung, LG dan lain-lain. Hal ini berbeda dengan Apple dan RIM yang secara eksklusif memproduksi smartphone-nya sendiri. Kekuatan lainnya ada pada model bisnisnya yang berbeda dengan dua pesaing utamanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Amazon? Amazon adalah nama besar dalam bisnis online retail. Tetapi di awal tahun 2011 ini, Amazon mulai membuka Amazon application store untuk para pengembang lunak. Uniknya, application store yang disiapkan Amazon ini adalah untuk aplikasi berbasis sistem operasi Android. Padahal Google sudah memiliki sendiri application store Android melalui Google Android Market.

Jadi menarik untuk kita perhatikan bagaimana Amazon akan memposisikan application store-nya terhadap Google Android Market dalam belajar marketing melalui studi kasus marketing kita kali ini. Kita coba lihat apa saja yang bisa menjadi keunggulan kompetitif application store Amazon tersebut. Pertama, Amazon mempunyai pengalaman luar biasa dalam bisnis online retail. Hampir semua produk retail bisa kita dapatkan di Amazon. Tetapi sebetulnya kekuatan besarnya adalah di customer base-nya.

Kedua, bukan hanya dari sisi jumlah, tetapi Amazon juga menguasai bagaimana cara memahami karakter para pelanggannya. Amazon mampu membuat kustomisasi layanan dan penawaran kepada para pelanggannya berdasarkan perbedaan karakter dan perilakunya. Bayangkan bila pemahaman ini diterapkan saat mereka memberikan penawarannya melalui application store. Sehingga, Amazon dinilai mampu mengatasi kekurangan Android Market dalam memberikan kemudahan bagi pelanggannya untuk menemukan aplikasi yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya. Saat ini aplikasi di Android Market sudah lebih dari 100.000 buah. Dan sebuah paradoks akan berlaku, di mana terdapat sesuatu yang berlebih, akan terdapat kelangkaan. Dengan ketersediaan aplikasi yang berlebih, orang akan menemukaan kesulitan dalam memperoleh aplikasi yang berkualitas dan relevan. Saat ini bila kita melihat Android Market, belum bisa kita temukan recommended item yang customized untuk setiap penggunanya. Para penggunanya lebih mengandalkan review dari pengguna lainnya.

Mungkin judul di atas terlalu berlebihan untuk studi kasus marketing kita ini 🙂 Co-opetition bisa menjadi istilah yang lebih tepat. Kerjasama di dalam suatu kompetisi, antara Amazon application store dengan Google Android Market. Bagaimana menurut Anda, apa keunggulan kompetitif yang bisa menjadi andalah Amazon di pasar aplikasi ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas. Untuk memahami industri ini, silakan baca juga Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet dan Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?

Misteri Nokia dalam Episode Smartphone vs Tablet

Menurut IDC (International Data Corporation), penjualan tablet PC pada tahun 2010 akan mencapai 7,6 juta unit. Pada tahun 2014 diperkirakan menjadi 46 juta. Bahkan menurut Forrester Research, di Amerika Serikat jumlah pengguna tablet PC akan lebih banyak dari pada pengguna netbook pada tahun 2014 dan pada tahun 2015 penjualan tablet PC mencapai 23% dari total penjualan PC. Sebetulnya masih susah mendefinisikan tablet PC, masih belum ada kesepakatan yang jelas, tetapi menurut Wikipedia, tablet PC adalah laptop atau komputer portable berbentuk buku. Memiliki layar sentuh atau teknologi tablet digital yang memungkinkan pengguna komputer mempergunakan stylus atau pulpen digital selain keyboard ataupun mouse komputer. Mudahnya, tablet bagaikan perpaduan atau konvergensi dari smartphone dan notebook. Ukuran tablet PC bervariasi, sekitar 7 inchi sampai 9,7 inchi.

Sehingga, tidak aneh bila kita search di internet dengan keyword “will produce tablet”, maka hampir semua produsen PC, smartphone atau gadget ternama akan kita lihat dalam peluncuran atau rencana pengembangan tablet. Pertama, tentu saja Apple iPad. Disusul kemudian oleh produsen lain, seperti: Samsung, Toshiba, Acer, HP, Fujitsu, Lenovo, Motorola, Dell, RIM (Blackberry), dan bahkan Intel dan Amazon. Kecuali Nokia! Setelah kata “will” akan diikuti oleh “not”. Seperti diberitakan heretechs.com, dalam forum Nokia World 2010 di London, VP Product Nokia Media Group menyatakan Nokia tidak akan memproduksi tablet PC. Nokia masih akan berkonsentrasi pada kategori smartphone.

Ada apa dengan Nokia? Apakah Nokia tidak tertarik dengan angka-angka prediksi penjualan tablet seperti di paragraf pertama tulisan ini, atau masih trauma 2 kali kegagalannya masuk ke industri PC? Nokia pernah memproduksi PC tetapi didivestasi tahun 1991. Tahun 2009, Nokia kembali memproduksi PC: Nokia Booklet 3G, tetapi juga tidak terlalu berhasil di pasar. Beberapa waktu lalu, Nokia mengakui kalah di pasar smartphone, salah satunya karena tertinggal dari para pesaingnya dalam mengembangkan smartphone. Pada kelas smartphone, Nokia dihajar oleh Apple (iPhone), RIM (Blackberry). Kini Nokia juga dihadapkan pada banyak produsen yang menggunakan sistem operasi Android yang menunjukkan angka pertumbuhan penjualan hampir 900% pada kuartal kedua tahun 2010. Di Amerika Serikat, penjualan handset Android telah melampaui penjualan Apple iPhone. Lalu, apakah Nokia ingin mengulangi kesalahan dengan terlambat mengembangkan tablet PC?

Sudut Pandang yang Lain
Tunggu dulu, kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dari sisi yang berbeda. Seperti diungkapkan pada awal posting ini, menurut Forrester Research, pertumbuhan tablet PC akan memakan pasar netbook, bukan smartphone. Banyak hal bisa yang dengan efektif dilakukan dengan smartphone, dan tidak bisa efektif dilakukan dengan tablet PC. Pertama, melakukan panggilan telepon atau video call. Pengguna tablet PC harus menggunakan alat tambahan untuk melakukannya, seperti Bluetooth earset / earpiece. Kemudian memotret atau merekan dengan video. Saat ini Apple iPad tidak dilengkapi kamera. Walaupun ada kemungkinan produksi iPad berikutnya dilengkapi kamera, bayangkan bagaimana Anda akan memotret menggunakan alat yang berbentuk seperti buku dengan ukuran 7 sampai 10 inchi. Smartphone juga masih “mewarisi” keunggulan dari karakter handphone yang sangat portable, mudah dibawa dan digunakan hanya dengan 1 tangan. Tidak demikian dengan tablet PC yang efektif dioperasikan dengan 2 tangan. Dari segi ergonomis, tablet PC juga kurang sesuai untuk penggunaan jangka panjang seperti notebook yang memungkinkan telapak tangan bisa mempunyai posisi nyaman karena bisa “beristirahat” di bagian papan ketik.

Tantangan dan Pilihan
Jadi pasar smartphone masih mempunyai peluang untuk bertahan dan terus berkembang. Ini bisa menjadi salah satu pertimbangan Nokia. Walaupun begitu, jelas tergambar banyak sekali tantangan terhadap pilihan Nokia tersebut. Faktanya penjualan iPad sangat menjanjikan. Sekitar bulan Mei, Apple mengumumkan bahwa iPad telah meraih angka penjualan 1 juta unit hanya dalam waktu 28 hari. Angka-angka prediksi penjualan tablet PC di atas juga bukan tanpa dasar yang jelas. Peluang pertumbuhan di industri gadget yang menjanjikan ini yang akan dilewatkan oleh Nokia, apabila mereka memang tidak akan bermain di pasar tablet.

Lalu apa saja pilihan yang tersedia bagi Nokia bila tetap bertahan di smartphone? Salah satunya adalah dengan memperkuat pengembangan di smartphone besar. Produk yang masih membawa keunggulan smartphone dibandingkan tablet, tetapi mampu mendekati keunggulan tablet, salah satunya dari sisi kenyamanan layar yang lebih lebar. Misalnya dengan ukuran 5 inchi, seperti salah satu desain dari Dell yang mulai dikenal sebagai kategori big smartphone. Beberapa analis juga memprediksi akan adanya konvergensi antara smartphone dan tablet PC. Hal ini mengingatkan kita perang di pasar gadget: Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone atau Demam Buah di Gadget Market?

Tetapi publikasi keputusan Nokia tersebut masih menyimpan misteri, yang menjadikan studi kasus marketing ini menarik. Beberapa blog sempat menampilkan bocoran tampilan dari tablet yang direncanakan oleh Nokia. Beberapa analis juga sempat memprediksi Nokia akan meluncurkan tablet PC pada akhir 2010 seperti pernah diberitakan inilah.com pada bulan April 2010. Nokia saat ini juga mengembangkan sistem operasi bernama MeeGo bersama dengan Intel. Sistem operasi berbasis open source ini dipersiapkan untuk berbagai jenis hardware, antara lain handset, netbook, televisi dan tablet PC. Tablet WeTab dari Neofonie yang dipasarkan bulan September menggunakan sistem operasi MeeGo. Intel sendiri sempat membuat protoype tablet PC yang menggunakan MeeGo.

Bagaimana menurut Anda, ada koreksi, masukan atau pendapat lain mengenai misteri keputusan Nokia dalam studi kasus pemasaran ini? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.