Meningkatkan Penjualan dengan Berbagi

Salah satu fenomena di dalam ekonomi Indonesia saat ini adalah lonjakan jumlah kelas menengah. Jumlah kelas menengah tumbuh seiring dengan peningkatan pendapatan perkapita yang diindikasikan dengan peningkatan GDP (Gross Domestic Product) perkapita Indonesia yang melampaui angka $ 3.000 pada tahun 2011 yang lalu. Dengan meningkatnya kekuatan ekonomi dari kelas menengah akan diikuti dengan fokus pemenuhan kebutuhan hidup yang bergeser. Kebutuhan dasar yang relatif sudah terpenuhi, akan menggeser fokus kelas menengah untuk memenuhi kebutuhan pada level berikutnya, seperti pada hirarki kebutuhan menurut Abraham Maslow. Kebutuhan hidup pada level berikutnya lebih erat dengan aktualisasi diri dan kesadaran manusia sebagai bagian diri dari lingkungan.

Kesadaran akan lingkungan tersebut membuka peluang baru bagi para pelaku bisnis. Peluang ini juga sejalan dengan salah satu tanggung jawab pelaku usaha, yaitu corporate social responsibility. Beberapa perusahaan berusaha menggabungkan tanggung jawab sosial tersebut dalam proses penjualan. Mereka mencoba memanfaatkan kesadaran sosial dari target marketnya untuk bersama melakukan kegiatan berorientasi sosial, tetapi sekaligus mendukung proses penjualan. Cara ini sering disebut juga dengan cause related marketing, yaitu program pemasaran yang diarahkan untuk memecahkan masalah di masyarakat.

Salah satu bentuknya adalah dengan kampanye kesadaran sosial dengan cara menyumbangkan sejumlah uang untuk setiap produk yang dibeli. Salah satu studi kasus pemasaran yang bisa menjadi contoh dari cara ini adalah sabun mandi Lifebuoy dari Unilever. Mulai tahun 2004, Lifebuoy mengkampanyekan gerakan Lifebuoy Berbagi Sehat. Lifebuoy Berbagi Sehat telah mencoba gerakan sosial untuk menggalang sumbangan bagi peningkatan fasilitas kesehatan di daerah yang membutuhkan, antara lain daerah dengan insiden diare tertinggi di Indonesia. Sumbangan ini digalang dengan cara menyisihkan Rp 10,- untuk setiap pembelian sabun mandi Lifebuoy. Pada tahun 2007, Aqua memulai gerakan sosial untuk penyediaan air bersih di daerah yang membutuhkan. Skemanya adalah dengan menyumbangkan 10 liter air bersih untuk setiap pembelian Aqua 1 liter. Coca-cola juga pernah menggunakan skema ini. Bentuk ini menjadi salah satu bentuk yang paling lazim dalam skema cause related marketing.

Bentuk lainnya adalah dengan melakukan gerakan sosial yang terkait dengan solusi yang didukung oleh produk atau brand. Pada tahun 2007, masih dengan Lifebuoy Berbagi Sehat, Lifebuoy menangkap momentum Gerakan Nasional Cuci Tangan Pakai Sabun yang dicanangkan pemerintah. Lifebuoy mengadakan berbagai kegiatan dalam mendukung gerakan nasional tersebut. Tentu saja ini sejalan dengan komunikasi pemasaran produk sabun mandinya yang sangat terkait dengan gerakan ini. Beberapa jenis kegiatannya meliputi Workshop Guru, Dokter Kecil, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat melalui School Program, Pembinaan Kader Kesehatan dan Mass Media Competition yang berupa lomba liputan berita dengan tema “Sehat Ada di Tangan Kita”. Tentu saja kegiatan ini lebih dekat dengan usaha memperkuat brand daripada pengaruhnya terhadap penjualan langsung.

Gramedia pernah mencoba bentuk yang lebih langsung, yaitu menawarkan kepada para pembeli untuk secara langsung menyumbangkan barang yang dibelinya. Melalui jaringan toko buku Gramedia yang tersebar di seluruh Indonesia, Gramedia menawarkan para pembeli buku di tokonya tersebut untuk membeli beberapa buku yang akan disalurkan oleh Gramedia untuk daerah yang membutuhkan. Jadi pada salah satu sudut di toko bukunya, Gramedia menyediakan berbagai buku, khususnya buku anak-anak yang dapat dibeli dan langsung dimasukkan dalam kotak sumbangan buku yang tersedia di sebelahnya.

Masih ada beberapa bentuk yang lain, tetapi bagaimana dengan efektivitas cause related marketing? Walaupun kegiatan ini lebih banyak dikaitkan dengan benefit bagi pelaku usaha dalam meningkatkan positive public relation, corporate image dan usaha memperkuat brand, tetapi juga bisa secara langsung berpengaruh pada peningkatan penjualan. Dari beberapa studi kasus pemasaran di atas bisa kita lihat bahwa ada peluang besar dalam peningkatan penjualan dari berbagai jenis bentuk cause related marketing.

Pada tahun 1997, Coca-cola menyumbangkan 15 sen untuk tiap pembelian dalam jangka waktu 6 minggu masa promosi di jaringan retail Wal-Mart. Hasilnya, penjualan Coca-cola naik 490% selama masa promosi di Wal-Mart. Pada tahun 1995 Caphalon Corporation bekerjasama dengan gerakan sosial “Share Our Strength”. Caphalon melakukan co-branding menggunakan logo dan nama “Share Our Strength” dan menyumbangkan $5 untuk setiap penjualan produk panci yang sebelumnya menunjukkan penjualan yang kurang bagus. Hasilnya, penjualan panci tersebut naik 250%.

Beberapa studi memperkuat pendapat bahwa terdapat korelasi dari cause related marketing terhadap peningkatan penjualan. Salah satunya, sebuah penelitian mengenai perilaku konsumer dari Cone Communication yang pernah dimuat di Reuters pada tahaun 2008, mengkonfirmasi bahwa cause related marketing mampu secara signifikan meningkatkan penjualan. Jadi, berbagi bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan penjualan.

Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand?

Istilah brand berawal dari tanda yang dibuat menggunakan besi panas untuk menandai hewan ternak guna membedakannya dari hewan ternak milik orang lain. Brand kini berkembang, menunjukkan kepribadian sebuah produk, layanan atau organisasi. Tetapi masih seperti awal istilah brand yang digunakan untuk membedakan ternak, maka brand dalam marketing tetap dekat dengan fungsinya sebagai pembeda. Brand harus mampu menunjukkan diferensiasi. Brand juga harus mampu menjadi relevan dengan target pasarnya, karena dituntut mampu mewakili positioning di benak target pasarnya.

Brand yang kuat akan mampu menjadi mesin pertumbuhan sebuah organisasi. Dalam sebuah laporan pada tahun 2008, sebuah research agency Millward Brown Optimor, menyatakan brand value dari Coca Cola mencapai USD 58,2 miliar, tumbuh 17% dari tahun sebelumnya. Silakan coba hitung nilai tersebut ke dalam satuan rupiah. Pada waktu itu Coca Cola menempati posisi keempat di belakang Google, GE dan Microsoft.

Dua paragraf di atas mestinya cukup untuk sedikit menggambarkan bagaimana pentingnya brand dalam marketing. Lalu berapa biaya membangun sebuah brand? Pertanyaan ini muncul di benak setelah mendengar pernyataan dalam sebuah diskusi, “… brand sama dengan cost”. Tentu saja jawabannya bisa sangat bervariasi, tergantung kepada berbagai macam kondisi yang dipengaruhi lingkungan industri, target pasar sampai dengan strategic objective dan skala dari suatu produk, layanan atau organisasi. Hal tersebut juga tergantung bagaimana sudut pandang yang digunakan. Bisa saja sesederhana membayar beberapa ribu rupiah untuk memesan stempel di tukang stempel kaki lima atau membayar miliaran rupiah kepada konsultan branding untuk sebuah perusahaan berskala nasional.

Sebagai gambaran, berikut ini ada sebuah riset yang dirilis di graphicdesignblog.org pada tahun 2010. Riset tersebut mengungkap biaya yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan multinasional dalam proses rebranding. Lingkupnya bukan hanya dalam proses mengubah logo. Tetapi lingkup yang dimaksud lebih luas, termasuk di dalamnya proses komunikasi pemasaran yang dilakukan. Proses rebranding sangat memerlukan komunikasi pemasaran yang kuat karena biasanya merupakan desain ulang pada positioning atau diferensiasi. Dalam laporan tersebut, Pepsi dikatakan memerlukan  sekitar 1 juta dolar dalam proses rebranding. BBC One menghabiskan 1,2 juta poundsterling, ANZ:  15 juta dolar, Accenture: 100 juta dolar. Biaya paling tinggi dicatatkan oleh BP (British Petroleum), yaitu sebesar 136 juta poundsterling.

Tetapi berapa pun biaya yang dikeluarkan, biaya tersebut adalah sebuah investasi jangka panjang. Brand adalah intangible asset. Membangun sebuah brand adalah sebuah proses yang berkelanjutan, yang tidak bisa dipisahkan dengan proses membangun keunggulan kompetitif. Komunikasi pemasaran yang hingar bingar dari sebuah brand tidak akan efektif dalam jangka panjang bila tidak ada usaha yang kontinu dalam mempertahankan dan mengembangkan diferensiasi dan inovasi untuk membangun keunggulan kompetitif. Awareness dari target pasar yang tinggi tidak akan berarti banyak bila diferensiasi dan relevansinya mulai tergerus, seperti studi kasus pemasaran: “Belajar dari Masalah Brand Nokia”.

Brand yang sangat dikenal bukanlah brand yang sehat apabila kualitasnya tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan dari target pasar, yang akan memberikan banyak masalah bagi organisasi. Brand yang benar-benar mewakili diferensiasi, relevansi dan kualitas akan mampu menjadi kepribadian dari produk, layanan atau organisasi. Tetapi komunikasi brand yang tidak diimbangi dengan kualitas yang dijanjikan akan hanya menjadi sebuah stempel yang mungkin saja dikenal tetapi tidak mempunyai nilai di mata target pasarnya. Brand bukanlah sekedar logo atau stempel. Itulah sebabnya Coca Cola mempunyai brand value yang luar biasa. Android, sebuah brand yang berusia muda, sering kita lihat tampil dalam berbagai bentuk dan warna. Walaupun logo Android tampil dalam berbagai bentuk, tetapi tidak mengurangi nilai brand tersebut di mata target pasarnya. Tetapi di sisi yang lain, TVRI sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi mulai ditinggalkan oleh para pemirsa televisi.

Karena membangun brand adalah proses berkelanjutan yang tidak terpisahkan dalam proses membangun keunggulan kompetitif, maka selain sudut pandang finansial, banyak harga tersembunyi yang perlu kita perhatikan. Kurangnya menjaga kualitas, sebetulnya mempunyai konsekuensi harga yang harus ditanggung karena akan mengurangi nilai dari sebuah brand.