Belajar Tentang Hidup dari Angkot dan Warung Kopi (2 – Kisah Pemasaran)

Inilah bagian kedua dari tulisan “Belajar Tentang Hidup dari Angkot dan Warung Kopi”. Bagian pertama bisa ditemukan di http://kopicoklat.com/2019/11/belajar-tentang-hidup-di-angkot-dan-warung-kopi-1/. Dua tempat yang biasa-biasa saja. Benar-benar biasa, seperti kalau menemui banyaknya hujatan di media sosial akhir-akhir ini. Atau melihat orang membuang sampah di jalanan di Indonesia, tanpa merasa bersalah. Dan, sebuah pepatah Jawa berusaha memandu respon kita, “Ojo gumunan, ojo kagetan”.

Tetapi dari tempat biasa saja itu, ada peluang mendapatkan pelajaran tentang hidup. Tidak sekedar peluang, tetapi banyak peluang. Kali ini cerita kehidupan yang bisa jadi inspirasi studi kasus pemasaran.

Hari kerja, selepas senja di kota Bandung, hampir menjadi kalimat yang bisa menyeret perasaan menjadi sesak. Seperti di kota besar lainnya di Indonesia, maka pemandangan di jalan-jalan utama akan menjadi penuh sesak dengan kendaraan bermotor, macet di beberapa titik. Khusus di Bandung, maka menambahkan keterangan lokasi Ujungberung ke dalam kalimat itu akan membawa kesesakan yang lebih. Apalagi saat itu baru saja hujan lebat, meninggalkan genangan-genangan air di beberapa tempat. Gerimis juga belum mau menyerah.

Ujungberung pun macet parah. Beberapa pengemudi angkot yang mengarah ke Ujungberung mulai menyerah. Mereka berputar balik, setelah meminta penumpangnya berganti angkot. Cerita klasik bagi penumpang angkot, cerita sedih.

Saya berada di salah satu angkot yang bergerak menuju Ujungberung. Penumpang di dalam angkot tidak terlalu banyak. Sesekali pengemudi angkot bertukar kata dengan perempuan di kursi penumpang sebelahnya. Dari sikap, cara bicara dan panggilannya, perempuan itu adalah istrinya. Terdengar samar-samar dialog untuk memutuskan untuk terus maju atau putar balik. Sedikit cemas muncul, enggan berganti angkot di tengah hujan gerimis. Berharap pengemudi angkot ini berhati tangguh.

Tidak berapa lama, terdengarlah pengemudi setengah teriak kepada orang-orang di pinggir jalan, “Ujungberung, Cibiru, Cileunyi…..” Ha… dia tidak menyerah, maju terus, kawan. Gerimis masih seperti tadi, tapi tiba-tiba terasa lebih segar. Kecemasan berderap turun. Terima kasih Tuhan, harapanku Engkau kabulkan.

Lalu satu per satu penumpang naik. Menariknya, setiap satu penumpang bertambah, pengemudinya mengucap kata syukur, menoleh ke kiri, dan bertukar senyum dengan istrinya.

Ini bukan pemandangaan biasa. Tidak biasa ditemukan di angkot, tidak juga biasa ditemukan di banyak unit bisnis yang mempunyai target penjualan menjulang. Di beberapa unit bisnis seperti itu, pelanggan sudah mulai sulit dibedakan dengan angka. Kata syukur yang dalam dan raut bahagia pada tiap satu per satu pelanggan yang diraih sudah langka, apalagi pada tiap satu per satu pelanggan yang dipertahankan…. lebih langka lagi.

Apa kabar para marketer? Pernah merasakan hal yang sama? Saya berharap jawabannya adalah tidak. 

Di tengah tantangan yang semakin berat, kata syukur yang dalam dan cara pandang terhadap pelanggan bukan hanya sebagai angka-angka seharusnya tetap dapat dijaga. Di era disrupsi ini, justru banyak bisnis ditentukan oleh kemampuan para pemasar dalam memandang, memahami, memperlakukan, berinteraksi dengan pelanggannya tetap sebagai manusia seutuhnya, bukan hanya sebagai angka. Sebut saja kata-kata keren seperti big data, artificial intelligence (AI), machine learning, semuanya banyak ditujukan utnuk memahami pelanggannya sebagai manusia. Seutuhnya, punya kebutuhan, keinginan, emosi dan spirit.

Mari Berbagi sambil Belajar Marketing Bersama

Untuk merayakan proses belajar kita dalam memahami pemasaran, hari ini diluncurkan versi ebook dari studi kasus pemasaran Indonesia dan Internasional yang kita diskusikan dalam blog http://kopicoklat.com ini.

eBook 43 Studi Kasus Pemasaran Indonesia dan Internasional

E-book ini disusun dari posting dari penulis pada blog di http://kopicoklat.com pada kurun waktu Juni 2009 sampai dengan Juli 2011. Jadi e-book ini dibuat dalam rangka merayakan ulang tahun kedua http://kopicoklat.com bersama teman-teman dan para sahabat. Blog ini merupakan ajang bagi penuangan ide dan pemikiran yang fokus pada studi kasus pemasaran, baik di Indonesia maupun internasional. Pada awalnya, blog tersebut ditujukan untuk bersama-sama belajar tentang pemasaran.

Oleh karena itu untuk menjangkau teman-teman yang ingin belajar pemasaran dengan lebih luas, e-book ini bisa diunduh kapan pun dan oleh siapa pun. Lalu, berapa harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkan atau mengunduh e-book ini? Sesuai semangat belajar yang menjadi fondasi blog http://kopicoklat.com, maka Anda bebas menentukan sendiri harga e-book ini. Dan berita gembiranya, kisaran harganya dimulai dari NOL rupiah, atau gratis 🙂

Untuk melakukan pembayaran setelah mengunduh e-book ini, silakan melakukan transfer ke rekening:

Bank Mandiri KCP Jkt Grha Citra Caraka
Nomor Rekening: 070-00-0653258-9
a.n. Arif Swasono

Tentu saja, transfer pembayaran perlu dilakukan hanya apabila Anda menentukan harga e-book ini lebih dari NOL rupiah. Karena petugas bank atau aplikasi e-banking akan menemui kesulitan bila Anda ingin melakukan transfer pembayaran sebesar NOL rupiah 🙂
.
Semua hasil penjualan e-book ini kemudian akan digunakan untuk proses penerbitan sendiri buku ini dalam versi cetak. Buku versi cetak akan didistribusikan secara gratis kepada para pelajar, mahasiswa atau UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah), khususnya Usaha Mikro dan Usaha Kecil yang membutuhkan. Berdasarkan studi salah satu lembaga riset di Indonesia, salah satu kendala yang umum ditemui di UMKM adalah aspek pemasaran yang belum dikelola dengan baik. Oleh karena itu sebagai kontribusi kita bagi pengembangan UMKM yang berkontribusi 53,1% dari PDB nasional atau sekitar Rp 3.466,4 triliun pada tahun 2010. Kontribusi ini terus menunjukkan pertumbuhan dan bisa menjadi fondasi yang kuat bagi perekonomian nasional.

Dengan cara ini, diharapkan bisa lebih banyak lagi teman-teman dan para sahabat yang kita ajak bersama untuk belajar pemasaran dan berbagi ide dan pemikiran. Semoga cara ini dapat diterima dengan baik, dan berguna bagi kita semua untuk bisa lebih maju, dan ikut sedikit berperan serta memajukan nusantara Indonesia.

Silakan dapatkan, baca, download bukunya di http://www.scribd.com/doc/99665431/The-Right-Marketing-Questions-43-Studi-Kasus-Pemasaran-Indonesia-dan-Internasional atau di  http://kopicoklat.com/download/The_Right_Marketing_Questions.pdf. Have a great and joyful learning, please feel free to give any comments and feedbacks.

Mendulang Profit Sekaligus Mengentaskan Kemiskinan

Studi kasus pemasaran kali ini ditulis untuk turut memeriahkan Hari Blogger Nasional tahun ini, tanggal 27 Oktober 2011. Bermula dari pemikiran, apa yang bisa saya tulis untuk bisa sedikit berkontribusi melalui blog yang fokus pada tema studi kasus pemasaran dan inovasi di http://kopicoklat.com.

Sangat membanggakan saat membaca ulasan bangkitnya kelas menengah di Indonesia, menurut ekonom Faisal Basri. GDP (Gross Domestic Product) Indonesia sebesar $ 3.000 per capita pun diprediksi akan terlampaui pada tahun 2011. Jumlah populasi kelas menengah terus membengkak seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kondisi ini membawa pengaruh semakin larisnya berbagai produk yang selama ini masuk dalam kategori barang kebutuhan sekunder. Bahkan barang-barang mewah juga semakin terjangkau, karena volume penjualan yang semakin tinggi.

Lebih menggugah hati lagi saat membaca Entrepreneur Boom-nya mas Yuswohady, yang merupakan kelanjutan dari fenomena Consumer 3000 yang juga dikenalkan oleh mas Yuswohady. Consumer 3000 adalah istilah untuk menggambarkan kelas menengah yang mempunyai pendapatan di atas GDP per capita $ 3000. Dengan adanya lonjakan kelas menengah, diharapkan enterpreneurship di Indonesia semakin berkembang. Lebih banyak lagi kelas menengah yang memutuskan untuk mengembangkan diri menjadi entrepreneur. Hal ini didukung oleh karakter kelas menengah yang pada umumnya memiliki aset modal yang memadai, berwawasan luas, knowldgeable dan melek teknologi.

Tetapi kenyataannya di balik pertumbuhan kelas menengah, masih ada 31 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut data Bank Dunia. Bahkan sekitar 4 milyar penduduk dunia hidup dengan pendapatan di bawah $2 per hari. Yang cukup menyedihkan, gap atau jurang antara kaya dan miskin di Indonesia ternyata semakin lebar.

Jadi di balik menggairahnya pasar domestik dengan adanya lonjakan kelas menengah, apakah tidak ada peluang di segmen pasar yang berada di bawah garis kemiskinan? Menurut C. K. Prahalad dalam bukunya “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”, terdapat peluang besar bagi banyak pelaku usaha bila menggarap pasar ini dengan benar. Selain menguntungkan, menggarap pasar di segmen ini juga akan memberi nilai tambah yang luar biasa bagi pengentasan kemiskinan. Kuncinya adalah kemitraan yang sinergi antara pelaku usaha,  pemerintah, berbagai organisasi kemasyarakatan dan masyarakat di segmen ini. Tetapi memang, untuk bisa menghasilkan keuntungan di pasar ini menuntut sebuah perusahaan yang menggarapnya untuk berinovasi, mulai dari model bisnis, teknologi, pengembangan produk dan yang paling penting adalah mengubah mindset.

Mindset yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah sudut pandang bahwa masyarakat miskin bukanlah beban tetapi lebih sebagai sumber daya. Sumber daya manusia yang menurut C.K. Prahalad juga berpotensi sebagai entrepreneur yang tangguh dan kreatif. Benarkah sudut pandang ini? Coba kita tengok bagaimana Grameen Bank yang digagas oleh pemenang Nobel Perdamaian 2006, M. Yunus. Grameen Bank berhasil mengentaskan kemiskinan pada banyak keluarga di Bangladesh dengan mengembangkan model bisnis inovatif dalam produk kredit mikro. Kredit mikro tersebut didesain dalam bentuk yang tepat untuk target marketnya, yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kredit diberikan tanpa perlu adanya jaminan seperti layaknya produk kredit mikro perbankan pada umumnya.  Pinjaman diberikan secara selektif kepada kelompok perempuan produktif yang ber status sosial miskin. Kredit mikro ini berhasil mengembangkan entrepreneurship di kalangan kelompok perempuan berstatus sosial miskin, dan akhirnya berkontribusi besar dalam mengentaskan keluarga mereka dari kemiskinan. Masih banyak lagi contoh yang disampaikan Prahalad dalam buku “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”.

Jadi di balik pertumbuhan Consumer 3000 dengan daya beli yang naik dan harapan lonjakan para entrepreneur dari kalangan kelas menengah, terdapat peluang besar naiknya daya beli dan bangkitnya entrepreneurship dari masyarakat yang saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah harus mampu menjadi fasilitator dan katalisator dalam proses kemitraan yang sinergis dengan sektor swasta dan berbagai lembaga kemasyarakatan untuk mengubah mindset seperti di atas. Perubahan mindset tersebut diharapkan mampu membangkitkan inovasi di berbagai perusahaan untuk menggarap segmen ini dan sekaligus berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Bagaimana dengan UKM (Usaha Kecil Menengah)? Peluang inovasi di UKM selalu terbuka, juga dalam kaitannya dalam menggarap segmen pasar ini (baca: “Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM”). Apalagi UKM mestinya lebih dekat dengan segmen pasar ini dibandingkan perusahaan berskala besar.

Bagaimana menurut Anda? Ada pemikiran tentang pengentasan kemiskinan di Indonesia dan peran serta sektor swasta dan juga pemerintah? Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional http://kopicoklat.com.

Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM

Tulisan studi kasus pemasaran kali ini ditulis setelah pada hari ini (26/09/2011), Inc. Magazine merilis sebuah artikel yang berisi tantangan. Tantangan tersebut ditujukan untuk segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM): “A Challenge to the Small Business Image”. Dari hasil survey University of Chicago Booth School of Business, hanya 5% – 6% UKM yang mendaftarkan paten, copyright atau trademark dalaam 5 tahun pertama. Bahkan 80% pemilik UKM menyatakan tidak berniat berinovasi dengan mengembangkan teknologi atau proses baru.

Survey ini memang dilakukan terhadap UKM di Amerika Serikat dan sayangnya saya tidak menemukan referensi mengenai survey mengenai inovasi UKM di Indonesia. Ada yang mau membantu berbagi informasi? Tetapi Bappenas mengemukakan bahwa diakui daya saing UKM Indonesia masih rendah dibandingkan UKM di kawasan regional Asia Pasifik. Bahkan di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia atau Philippines. Apalagi pemerintah Cina dikabarkan akan meningkatkan fokusnya kepada UKM. Menurut survey Doing Business 2011 versi International Finance Corporation (IFC), peringkat daya saing UKM Indonesia turun. Hal ini dirilis oleh kantor berita Antara di antaranews.com. Daya saing sangat erat kaitannya dengan inovasi. Proses inovasi adalah bentuk daya saing yang berkelanjutan, karena berlandaskan pada transformasi.

Kemudian, apa hambatan dalam proses berinovasi di UKM? Silakan sebut berbagai macam sebabnya, mulai dari tingkat pengetahuan dan ketrampilan sampai iklim usaha . Tetapi yang hampir pasti selalu dikeluhkan sebagai hambatan atau tantangan adalah sumber daya, terutama dari sisi keuangan. Tetapi tantangan yang mendasar adalah fokus terhadap proses inovasi itu sendiri. Dengan asumsi yang terus bertahan bahwa inovasi membutuhkan sumber daya yang besar, maka bisa saja UKM memalingkan diri dari fokus dan upaya dalam proses inovasi. Menyerah sebelum berperang. Terbukti dari hasil survey di atas.

Kemudian saya teringat akan istilah Elegant Solutions yang digagas oleh Matthew E. May. Coba perhatikan data ini. Toyota berhasil mengimplementasikan 1 juta ide tiap tahun, berarti sekitar 3.000 ide per harinya. Jadi sumber inovasi ini dihasilkan bukan dari kemampuan finansial Toyota yang hebat. Tetapi sumbernya adalah fokus dan kedisiplinan Toyota dalam menjalankan proses berinovasi, yang dilakukan oleh semua jajaran di organisasi tanpa kecuali. Menghasilkan ide perbaikan sekecil apa pun selalu dimotivasi dan dihargai. Inilah jalan awal dari proses inovasi Toyota yang sering menjadi panutan di berbagai organisasi di seluruh dunia.

Inovasi jangan dipandang sebagai sesuatu yang megah dan mewah, sebuah solusi yang memecahkan masalah besar dengan cara yang luar biasa sehingga menguras sumber daya yang sangat banyak. Inovasi bukanlah hasil super team yang hanya berisikan orang-orang pilihan yang brilian di dalam suatu organisasi. Inovasi tidaklah selalu melibatkan teknologi super canggih. Inovasi lebih merupakan solusi pada masalah-masalah yang nyata yang dihadapi setiap hari. Proses yang menuntut setiap orang tanpa kecuali untuk berperan serta. Seperti studi kasus pada Toyota di atas. Perbaikan yang berkelanjutan, hari demi hari. Ide demi ide. Sedikit demi sedikit. Kekuatan dalam sebuah kesederhanaan. Angka 3.000 implementasi ide per hari di Toyota adalah angka yang fantastis. Tetapi dengan pemahaman tersebut angka tersebut bukanlah mustahil. Istilah disruptive innovation adalah sesuatu yang mewah, tetapi hanya bisa dihasilkan dari kedisiplinan pada continuous innovation. Oleh karena itu lingkungan kondusif harus dibentuk dengan dipimpin oleh keteladanan para leader dalam mengambil resiko dan disiplin berinovasi.

Seperti pada konsep elegant solutions, merujuk kepada solusi yang optimal yang dicapai dengan usaha dan sumber daya yang minimal. Konsep yang memberi inspirasi bagi UKM bahwa kekuatan finansial bukanlah suatu hambatan. Mungkinkah elegant solutions hadir dalam kehidupan yang nyata di dalam organisasi? Asumsi dan belief yang berkembang dan selalu kita dengar adalah solusi = sumber daya besar, yang membuat rintangan di dalam pikiran kita. Rintangan yang kita bangun sendiri. Tetapi organisasi seperti Toyota telah membuktikannya. Sebuah penelitian tentang inovasi yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 juga menunjukkan bahwa masalah besar bukan pada kekuatan finansial yang diperlukan. Masalah utama adalah pada keteladanan dan kurangnya pendekatan inovasi kesisteman yang disiplin.

Lalu, bagaimana mencapai dan menemukan elegant solutions? Dari berbagai studi dan penelitian yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 tersebut, salah satu pendekatan yang efektif adalah systems thinking. Systems thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang didahului dengan identifikasi masalah secara komprehensif. Memperhatikan dinamika berbagai faktor yang terlibat yang saling mempengaruhi dalam suatu sistem. Sehingga solusi yang dihasilkan akan mampu menyelesaikan inti atau sumber permasalahan dengan tepat. Solusi yang tidak harus rumit, tetapi efektif. Saya juga akan coba membahas systems thinking dalam beberapa posting selanjutnya di blog ini. Karena saya secara pribadi juga sangat tertarik dan mencoba menerapkannya dalam berbagai masalah. Anda juga penasaran dan tertarik? Mari berbagi, dan berdialog dan menunjukkan bahwa UKM Indonesia juga mampu berinovasi dan meningkatkan daya saing di level global. Bagaimana menurut pendapat Anda, mampukah UKM Indonesia berinovasi, dan bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam menumbuhkan inovasi di UKM. Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional ini: http://kopicoklat.com.

Google Plus: Valuing Failure

Studi kasus pemasaran Google Plus atau Google+ memang sangat menarik dan berliku. Banyak cara untuk menceritakannya. Jadi mohon maaf apabila posting kali ini agak lebih panjang dari biasanya. Baiklah, kita coba mulai penelusuran jalan berliku ini pada bulan Mei 2010. Saat itu Google mengakui salah satu kegagalannya. Hal yang jarang kita temui dalam komunikasi perusahaan yang lain. Bagaimana dengan perusahaan atau organisasi Anda? Secara spesifik, saat itu Google mengakui kekurangannya dalam pengembangan social networking atau jejaring sosial. Pengakuan ini terungkap dalam surat rekrutasi untuk posisi “Head of Social”. Cuplikan dari sebagian kalimat dalam surat tersebut yang dirilis computerworld.com adalah “…as Google knows it is late on this front and is appropriately humble about it. In Google’s view, conceptually, there are two ways to tackle social…”.

Orkut, jejaring sosial yang dirilis tahun 2004 belum memenuhi ambisi Google. Orkut hanya cukup populer di Brazil dan India, tetapi justru kurang berhasil di negara asalnya, Amerika Serikat. Salah satu sebab yang diungkapkan Marissa Mayer (Vice President of Location and Local Services Google) di techcrunch.com adalah keterlambatan mereka mengantisipasi lonjakan jumlah pengguna pada awal peluncurannya. Orkut sempat mencapai beberapa juta pengguna dalam beberapa hari, tetapi kemudian terhambat karena koneksi ke situs Orkut menjadi terganggu.

Bulan Mei 2009, proyek Google Wave meluncur, sebuah media kolaborasi online. Media ini menjanjikan cara baru dalam berkomunikasi secara online. Para penggunanya dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dalam suatu percakapan atau dengan dokumen dengan berbagai macam format, termasuk teks, foto, video, peta, dan sebagainya. Tetapi layanan ini akhirnya diputuskan untuk dihentikan pada tanggal 4 Agustus 2010. Mengapa Google Wave juga gagal? Simak ulasannya di “Belajar dari Wafatnya Google Wave”.

Kegagalan Google dalam jejaring sosial sempat memicu spekulasi adanya rencana akuisisi terhadap Twitter pada tahun 2009. Apakah mereka jera mengembangkan sendiri jejaring sosialnya? Ternyata tidak! Mereka mencoba bangkit  melalui Google Buzz pada tahun 2010. Layanan yang terintegrasi dengan gmail ini menyediakan media bagi penggunanya untuk berbagi posting berupa antara lain: status updates, link, foto, video dan komentar. Layanan ini sebenarnya memiliki salah satu karakteristik dasar yang mirip dengan Google+. Penggunanya dapat memilih bagaimana mereka akan berbagi post, baik secara publik maupun dalam beberapa grup tertentu. Tetapi Google Buzz belum berhasil menunjukkan diferensiasinya kepada para pengguna jejaring sosial. Apalagi layanan ini terintegrasi dengan Twitter. Sehingga sebagian besar isinya sama dengan timeline Twitter dari penggunanya. Kondisi ini justru mengurangi orisinalitas isinya. Sehingga tidak cukup alasan yang tepat bagi pengguna Facebook atau Twitter untuk beralih atau menambahkan Google Buzz dalam aktivitas social medianya. Belum lagi adanya masalah kekhawatiran adanya aplikasi di dalamnya yang berpotensi menganggu privasi para penggunanya.

Tetapi Google belum menyerah. Mereka harus berbuat sesuatu dan berhasil dalam jejaring sosial ini. Pengaruh jejaring sosial sudah semakin menekan Google yang terlebih dahulu dikenal dengan mesin pencarinya. Menurut analis trafik Hitwise, pada Desember 2010, trafik ke jejaring sosial telah melampaui trafik ke mesin pencari. Pencarian melalui jejaring sosial juga makin populer.

Akhirnya pada penghujung bulan Juni 2011, proyek Google+ (http://plus.google.com) diperkenalkan melalui sebuah field trial untuk pengguna terbatas. Kemudian mulai terbuka untuk umum pada 7 Juli 2011. Bulan Juli 2011 diberitakan Google+ berhasil mencapai 20 juta pengguna dan 25 juta pengunjung situsnya. Menurut mashable.com, angka ini menjunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Facebook, Twitter atau Myspace pada periode awal peluncurannya.

Belajar dari kegagalan sebelumnya, kali ini jejaring sosial ini menunjukkan diferensiasinya. Google juga tampak mulai menangkap keinginan pengguna jejaring sosial dan kekurangan dari jejaring sosial yang ada, terutama Facebook dan Twitter. Akhir-akhir ini pengguna Facebook mulai merasa kesulitan dalam menemukan pertemanan yang otentik. Euforia menambah jumlah teman pada awal bergabung dengan Facebook menyebabkan jumlah teman yang sangat banyak. Tetapi berlakulah paradoks, pada suatu kondisi yang berlebih, mulai muncul kelangkaan. Pertemanan yang otentik mulai langka saat jumlah teman di jejaring sosial mulai berlebih. Pada kondisi inilah “Circles” dalam Google+ menjadi solusi. “Circles” memberi fasilitas bagi pengguna mengatur kontak menjadi kelompok tertentu untuk berbagi. Uniknya orang yang dikelompokkan dalam “Circles” tersebut tidak bisa melihat nama yang digunakan oleh pembuat atau pemilik “Circles”. Jejaring sosial ini juga tidak memerlukan persetujuan apabila pengguna ingin menambahkan teman, kenalan atau orang lain dalam “Circles”. Nilai lebih dibandingkan Facebook yang fokus pada proses persetujuan, dan Twitter yang fokus pada konsep following.

Pengguna Facebook juga mulai terganggu dengan berbagai macam iklan. Baik iklan resmi yang biasanya tampil di sisi kanan, maupun melalui teman-temannya yang di-tag dalam posting iklan di “Wall” dari para pengiklan. Akhir-akhir ini juga mulai marak pembajakan akun pengguna yang digunakan untuk mengiklankan berbagai macam produk. Dan Google+ pun tampil bersih dari segala jenis iklan.

Kemudahan melakukan video chat melalui difasilitasi dengan “Hangouts”. Pertumbuhan pengguna ponsel pintar ditangkap melalui kemudahan instant messaging melalui aplikasi di ponsel dengan fasilitas “Huddle”. Fasilitas “Sparks” membantu pengguna dalam melakukan pencarian terintegrasi terhadap topik yang akan dibagi melalui media ini. Berbagi foto dan video pun didukung oleh fasilitas “Instant Uploads”. Tetapi walaupun fasilitas yang disediakan cukup lengkap, tetapi kemudahan penggunaannya tetap dijaga dengan baik. Mereka tidak mengulangi kesalahan yang terjadi pada kompleksitas penggunaan Google Wave.

Indikasi keberhasilan layanan ini mulai terbayang. Persistensi Google dalam mengembangkan jejaring sosial melalui jalan yang berliku didukung oleh kemampuan organisasi ini untuk terus belajar. Kemampuannya menghargai kegagalan menjadi salah satu penopang kebangkitannya setelah gagal dengan Orkut, Google Wave dan Google Buzz. Valuing Failure memang menjadi salah satu faktor penting dalam budaya organisasi dalam membentuk manajemen inovasi yang andal, seperti hasil riset yang saya lakukan pada tahun 2008-2009. Sebuah teladan yang juga ditunjukkan oleh Thomas Edison dalam “Keistimewaan Kucing dalam Bisnis: A Tribute to Thomas Edison”.

Bagaimana menurut Anda, apakah keunggulan lain dari Google+ atau apa faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan sistem inovasi di Google? Benarkah Google+ akan berhasil? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Kisah Inovasi Amazon

Berbicara tentang studi kasus pemasaran dalam industri ICT (Information & Communication Technology) akhir-akhir ini kita cenderung fokus pada Google, Apple, RIM, Microsoft atau social media seperti Facebook, Twitter atau bahkan Groupon. Beberapa contoh studi kasus pemasaran tersebut antara lain “7 Alasan Nokia Memilih Microsoft”, “Ada Apa Di Balik Proposal Google & Verizon?”, atau “Apa Kabar RIM, Sudahkah Anda Menerapkan Marketing 3.0?

Amazon.com yang didirikan oleh Jeff Bezos tahun 1994 dan mulai tayang online pada tahun 1995 mulai sedikit jarang dibicarakan. Gaungnya kini kalah dengan adik-adiknya sesama internet companies, seperti Facebook, Twitter atau Groupon yang menguasai social media. Lalu apa yang menarik bila kita membicarakan Amazon? Salah satu yang bisa kita cermati adalah bagaimana mereka membangun sustainable competitive advantage untuk terus bisa bertahan di industrinya. Amazon termasuk satu dari sedikit perusahaan yang lahir dari era dotcom bubble yang terus mampu tumbuh dan bertahan sampai sekarang.

Dalam membangun sustainable competitive advantage, faktor yang penting adalah membentuk keunggulan yang berbasis pada kemampuan melakukan transformasi, terutama inovasi. Hal ini dibutuhkan karena lingkungan bisnis yang terus berubah. Apalagi trend menunjukkan perubahan lingkungan bisnis semakin tinggi intensitasnya. Philip Kotler pun berpendapat serupa dalam bukunya “Chaotics”, yang menggunakan istilah “The Age of Turbulence” untuk menggambarkan lingkungan bisnis yang terus berubah cepat. Dalam paparan selanjutnya kita akan melihat bagaimana Amazon terus berubah dan berinovasi dalam menyikapi perubahan lingkungan bisnisnya.

Amazon berawal dari toko buku online. Kemudian Amazon terus berkembang menjual  berbagai macam consumer goods, terutama yang mudah untuk dikirimkakepada pelanggan. Kemudian pada bulan November 2000, Amazon berinovasi dengan menjadi broker buku bekas melalui layanan Amazon Market Place. Layanan ini secara langsung juga memposisikan Amazon menjadi pesaing langsung eBay. Revenue diperoleh dari komisi penjualan buku bekas dari mitra-mitranya.

Inovasi kemitraan Amazon juga terbilang sukses. 40% penjualan di Amazon berasal dari third party sellers atau yang biasa disebut Amazon Associates. Layanan utk Amazon Associates terus dikembangkan melalui aStore. aStore adalah layanan dalam program afiliasi yang membantu mitra Amazon untuk membuat toko online dengan mudah. Kini jumlah Amazon Associates mencapai lebih dari 1 juta member. Program afiliasi ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Amazon.com sangat dikenal dengan kemampuannya dalam mempelajari pola belanja para pelanggannya. Sehingga mereka bisa memberikan rekomendasi yang personalized kepada setiap pelanggannya. Bahkan kemudian melalui Project Genesis, Amazon melebarkan rekomendasi yang personalized tersebut bukan hanya utk pembeli, tetapi juga untuk penjual. Dari data history browsing pembeli, Amazon mampu memberi rekomendasi, tentang apa yang cocok dijual oleh third party sellers melalui Amazon.com. Trend cloud computing services juga tidak dilewatkan oleh Amazon dengan mengembangkan Amazon Web Services (AWS).

Inovasi berikutnya dari Amazon yang cukup menyita perhatian adalah Kindle. Kindle adalah sebuah portable e-book reader. Layanan Kindle merupakan ekosistem piranti lunak, perangkat keras dan network platform yang terhubung ke Amazon.com. Konektivitas ke internet disediakan agar pengguna lebih mudah membeli dan kemudian membaca buku, majalah, surat kabar dan media digital lainnya, terutama dari Amazon. Ekosistem ini mirip dengan yang dikembangkan oleh Apple pada iPod dan iTunes untuk kategori musik digital.

Kindle yang pertama kali dirilis bulan November 2007 dengan harga $ 399 dan stok pertamanya terjual habis hanya dalam waktu 5,5 jam. Keberhasilan ini diteruskan dengan meluncurkan versi-versi pengembangan dari Kindle. Tetapi kemudian Kindle terancam oleh popularitas tablet PC akhir-akhir ini. Tablet PC bukan sekedar portable e-book reader, tetapi sudah merupakan komputer lengkap dalam bentuk tablet yang mempunyai fungsi jauh lebih lengkap daripada Kindle. Siapa lagi kalau bukan dimulai oleh Apple dengan iPad dengan ekosistem App Store nya. Apple mengembangkan iPad yang menguasai 90% market share tablet PC dan menggerus pasar Kindle dan juga pasar netbook. Era tablet PC semakin kuat saat berkembangnya berbagai tablet PC yang menggunakan sistem operasi Google Android dengan ekosistem Android Market-nya.

Menghadapi kondisi ini bagaimana reaksi Amazon? Pada bulan Maret 2011, Amazon meluncurkan Amazon Android Appstore! Inovasi yang berani, menantang Google di kandang Google sendiri. Apa yang bisa menjadi keunggulan Amazon dibandingkan Android Market yang menjual dan mendistribusikan berbagai konten dan aplikasi berbasis Google Android? Pertama, tentu saja kemampuan Amazon dalam membuat rekomendasi yang personal bagi pelanggannya. Rekomendasi personal sampai saat ini belum tampak di Android Market. Kedua, pengalaman bertahun-tahun Amazon dalam mengelola e-commerce pasti akan mempengaruhi keberhasilannya dalam mengelola pasar konten dan aplikasi.

Masuknya Amazon dalam pasar konten dan aplikasi Android tersebut akan membuka lebar peluang pada inovasi berikutnya. Tidak menutup kemungkinan, Kindle juga akan bertransformasi dari e-book reader menjadi tablet PC. Inovasi yg berani sekaligus masuk akal, karena setelah Kindle diancam popularitas tablet PC, saatnya transformasi menajdi tablet PC juga. Dan sistem operasi Android menjadi pilihan yang masuk akal. Dalam tekanan, Amazon bisa mengubah ancaman yang datang menjadi peluang. Sejalan dengan salah satu prinsip Jeff Bezos mengenai inovasi: “One of the only ways to get out of a tight box is to invent your way out”

Apakah Amazon Android Appstore akan berhasil dan bahkan mengalahkan Google Android Market? Apakah Kindle akan bertransformasi menjadi tablet PC? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Keistimewaan Kucing dalam Bisnis: A Tribute to Thomas Edison

Thomas Edison Google

Seekor kucing mampu mencapai tempat-tempat yang tinggi. Semua tahu kalau kucing mampu melakukannya, karena anatomi kucing memungkinkannya untuk melompat tinggi. Tetapi yang lebih penting adalah kucing selalu siap jatuh, siap terjun bebas. Siap gagal saat melakukan lompatan, tetapi untuk kemudian selalu siap untuk mencoba melompat lagi.

Hari ini, 11 Februari 2011, Thomas Alva Edison berulang tahun yang ke-164. Posting dalam studi kasus pemasaran kali ini didedikasikan untuk Thomas Edison. Google pun hari ini menghormati Thomas Edison dengan gambar khusus untuk logo di search engine-nya seperti gambar di atas. Thomas Alva Edison yang lahir 11 Februari 1847 merupakan tokoh inventor yang penting. Banyak yang mengenalnya karena penemuannya yang paling populer: bola lampu. Tetapi sebenarnya beliau memegang rekor 1.093 paten penemuan di Amerika atas namanya. Banyak paten juga dia catatkan di Inggris, Perancis dan Jerman. Seorang inventor sekaligus pengusaha yang sangat produktif.

Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana dia menghargai kegagalan, dan belajar dari kegagalan tersebut. Sebuah determinasi yang sesuai dengan analogi kucing di atas. Hal tersebut digambarkan dalam kutipan Napoleon Hill, “Edison gagal 10.000 kali sebelum menghasilkan bola lampu listrik”. Walaupun dari sisi yang lain, gaya penemuan Edison dianggap tidak efisien.

Pada tahun 2011 ini, Apple diperkirakan akan mampu menyalip Exxon Mobil dalam nilai kapitalisasi pasar. Pada awal bulan Januari 2011 kapitalisasi pasar Apple sebesar $ 302.5 milyar, sedangkan Exxon mencapai $ 375.9 milyar. Walaupun dengan pergerakan harga minyak yang terus menanjak akhir-akhir ini bisa membuyarkan prediksi tersebut. Tetapi apa yang menyebabkan Apple punya nilai sedemikian besar dan kuat? Dari sisi penjualan, pada kuartal keempat tahun 2010, Apple berhasil menjual 3,89 juta komputer Mac, 14,1 juta iPhone, 9,05 juta iPod,dan  4,19 juta iPad. Ketiganya memang merupakan inovasi Apple yang jadi motor penggerak kinerja. Inovasi seakan lekat dengan Apple. Inovasi produknya menjadi standar pada tiap industri. Pada waktu yang tidak lama setelah peluncuran produk-produk inovasinya, hampir dipastikan akan banyak pengikutnya. iPad yang merupakan kategori tablet PC inovasi dari Apple, langsung ditantang banyak pabrikan, seperti Samsung, Dell, Fujitsu yang banyak mengusung sistem operasi Google Android. Bahkan RIM, produsen Blackberry juga ikut meluncurkan Playbook.

Inovasi memang menjadi salah satu keunggulan kompetitif berkelanjutan yang sangat penting. Seperti yang dicontohkan oleh Apple. Walaupun banyak pengikut pada setiap inovasi produknya, tetapi Apple mampu bertahan menjadi yang terdepan di setiap kategori produk andalannya. Tetapi cerita Apple juga tidak lepas dari kegagalan. Beberapa produk invoasinya yang dinilai gagal antara lain: Apple “puck” mouse, G4 Cube, iPod HiFi, Fire Wire, dan lain-lain.

Untuk membangun budaya inovasi, salah satu landasan yang penting adalah bagaimana menghargai sebuah kegagalan. Teresa Amabile dalam tulisannya “How To Kill Creativity” dalam Harvard Business Review, September 1998 mengungkapkan pentingnya menghargai kegagalan dalam proses inovasi dalam menumbuhkan motivasi dan kreativitas. Proses ini penting bagi organisasi untuk terus mampu belajar.

Jadi, dalam lingkungan yang hiper-kompetitif, maka untuk mencapai bisnis yang berkelanjutan diperlukan keunggulan kompetitif yang mampu beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang terus berubah. Di situlah pentingnya inovasi. Dan keisitimewaan mentalitas kucing dalam menghargai kegagalan dan terus mengambil resiko untuk mencoba menjadi salah satu komponen penting.

Bagaimana pendapat Anda? Mau berbagi cerita tentang inovasi? Please share with us @ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Motor Penggerak Pertumbuhan Pendapatan Google di Q4 2010

Tidak salah kalau Peter F. Drucker, begawan manajemen dunia saat bilang, hanya marketing dan inovasi yang menghasilkan revenue. Ungkapan yang cukup kontroversial, tetapi kalau kita melihat kinerja Google di Q4 2010 yang dimotori berbagai inovasi Google kita akan mulai memahaminya. Mulai dari Google Display Ads, Boutiques.com, Android dan lain-lain. Tertarik? Ikuti tweets saya pada serial #googlereport di twitter. Follow @arifswa di twitter

Bagaimana dengan Anda? Please give comments or share with us @ http://kopicoklat.com atau melalui twitter dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional serta sharing marketing ideas.

Belajar dari Wafatnya Google Wave

Saya termasuk salah satu orang yang cukup antusias saat Google mengumumkan akan melakukan trial Google Wave pada tahun 2009 ( Google to Launch Google Wave Public Beta in Sept.). Dan masih banyak lagi netizen yang antusias dan kemudian mengirim pesan ke google untuk menjadi salah satu user, di antara 100.000 user yang direncanakan terlibat untuk mencoba Google Wave versi Beta. Beberapa orang yang terpilih Google untuk ikut mencoba, merasa bangga dan menyampaikannya pada teman dan komunitasnya. Pada waktu itu buzz atau words of mouth mengenai Google Wave menjadi sangat kencang.

Singkatnya, Google Wave adalah perpaduan antara e-mail, chat, blog dan banyak aplikasi google lain untuk berkolaborasi secara online. Aplikasi ini diproyeksikan untuk mampu menggantikan e-mail yang sudah dianggap aplikasi “kuno”.

Tetapi, pada tanggal 4 Agustus 2010Google mengumumkan untuk menghentikan pengembangan Google Wave. (RIP Google Wave). Salah seorang Senior Vice President Google mengatakan, alasan dihentikannya pengembangan Google Wave adalah user adoption yang tidak memenuhi harapan Google. Pada proses awalnya, sebelum mengarah ke 100.000 user trial, Google terlebih dahulu melakukan trial ke para sekitar 6.000 program developers. Kalau kita merujuk pada Technology Adoption Lifecycle-nya Geoffrey Moore, maka Google sudah mencoba masuk ke segmen Innovator dan Early Adopter. Tetapi persis seperti disampaikan Geoffrey Moore, maka titik kritisnya adalah di Chasm, atau jurang antara Early Adopter dan Mainstream Customers. Dan Google Wave akhirnya menjadi salah satu korban, masuk ke jurang tersebut.

Tetapi dari studi kasus marketing ini kita bisa banyak belajar marketing dari berbagai aspek. Pertama, produk yang terlalu complicate, rumit atau ribet akan susah diserap oleh pasar. John Naisbitt pernah mengungkapkan perlunya High Touch pada produk High Tech. Sehingga untuk realisasi konsep besarnya, Google perlu kembali berpikir keras bagaimana mendeliver preposisi tersebut dalam bentuk yang mudah digunakan oleh target pasarnya.

Kedua, buzz yang luar biasa – atau meminjam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya – Conversation yang luar biasa di seputar Google Wave, ternyata tidak menjamin penyerapan pasar yang baik. Sebuah pelajaran yang penting untuk para pemasar dalam era antusiasme terhadap digital marketing dan social media.

Ketiga, kabar baiknya, konsep Google Wave saya kira masih perlu dicermati. Buzz atau Conversation yang luar biasa saat peluncuran versi Beta-nya bukan tanpa alasan. Jadi, masih terbuka kemungkinan konsep ini dikembangkan melalui produk atau aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Keempat, dibalik cerita kegagalan Google Wave, yang sebetulnya hanya satu cerita dari kegagalan aplikasi Google yang lain mengingatkan kita kepada cerita keberhasilan inovasi Thomas Alva Edison. Di balik sebuah inovasi yang sukses terdapat puluhan, ratusan atau bahkan ribuan kegagalan. Jadi, keberanian mengambil resiko menjadi sangat penting. Saya kira respon Google yang cepat dalam proses pengembangan produk dan mekanismenya dalam mengembangkan inovasi bisa menjadi referensi.

Kelima, lagi-lagi merujuk pada Technology Lifecyle Adoption-nya Geoffrey Moore, untuk bisa masuk ke mainstream customers ternyata memang diperlukan produk yang siap 100%. Produk baru high tech yang belum siap sangat beresiko masuk ke chasm, jurang yang menganga di antara early adopter dan early majority.

Bagaimana menurut Anda? Ada pelajaran marketing lain yang bisa diambil? Please share with us @ http://kopicoklat.com untuk belajar marketing bersama dan sharing marketing ideas melalui studi kasus marketing Indonesia dan internasional.

Inovasi Kemitraan Perbankan Syariah untuk Pengentasan Kemiskinan

Dalam Pilpres di Indonesia yang baru lalu, salah satu topik menjadi perhatian dalam masa kampanye dan debat resmi capres / cawapres adalah masalah pengentasan kemiskinan. Kenapa? Karena memang masalah tersebut merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Jadi ijinkan saya ikut menulis posting mengenai masalah ini di blog belajar marketing dan sharing marketing ideas ini. Dan sejauh ini perkembangan program pengentasan kemiskinan belum memenuhi harapan bagi semua pihak. Walaupun ukuran ini relatif, mengingat beberapa orang dan institusi mengklaim suksesnya beberapa program pengentasan kemiskinan. Tetapi faktanya jumlah penduduk miskin di Indonesia menurut Bank Dunia hampir separo penduduk, atau 115 juta orang.

bank Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang menuntut solusi kesisteman yang komprehensif dari berbagai aspek dan melibatkan berbagai komponen dalam masyarakat. Salah satu program andalan pemerintah saat ini adalah PNPM Mandiri atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri, yang dimulai pada tahun 2007. Dalam situsnya http://www.pnpm-mandiri.org, program tersebut merupakan program nasional penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Ruang lingkup program ini cukup komprehensif, meliputi: (1) Penyediaan dan perbaikan pasarana/sarana lingkungan permukiman, sosial dan ekonomi secara kegiatan padat karya, (2) Penyediaan sumberdaya keuangan melalui dana bergulir dan kredit mikro, (3) Kegiatan terkait peningkatan kualitas sumberdaya manusia, terutama yang bertujuan mempercepat pencapaian target MDGs dan (4) Peningkatan kapasitas masyarakat dan pemerintahan lokal melalui penyadaran kritis, pelatihan ketrampilan usaha, manajemen organisasi dan keuangan, serta penerapan tata kepemerintahan yang baik.

Kemudian, bagaimanakah peran Perbankan Syariah dalam pengentasan kemiskinan? Konsep dan beberapa produk Perbankan Syariah mempunyai potensi besar untuk mampu berkontribusi signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Beberapa konsep Perbankan Syariah yang sesuai, khususnya dalam kaitannya dengan microfinance antara lain: adanya pembagian keuntungan dan kerugian antara pemberi dana dan peminjam dana dari hasil kegiatan lembaga peminjam dan tidak diperbolehkannya “menghasilkan uang dari uang” akan mengurangi beban bunga kepada peminjam yang biasa ditemui pada kredit bank konvensional. Beberapa produk bank syariah yang berpotensi antara lain: Mudhorobah dan Murobahah. Mudhorobah adalah layanan untuk peminjam dana, di mana keuntungan dari hasil usaha akan dibagi, sedangkan resiko ditanggung penuh oleh bank, kecuali kerugian karena kelalaian atau kesalahan dari peminjam dana dalam mengelola usahanya, seperti penyelewengan atau penyalahgunaan. Sedangkan Murobaha adalah layanan leasing dengan sistem angsuran flat.

Dalam microfinance dengan dasar syariah, juga terdapat BMT (Baitul Maal wat Tamwil). BMT adalah lembaga yang berfungsi ganda, menjalankan fungsi sosial, yaitu mengumpulkan dana dari berbagai sumber seperti: zakat, infaq dan shodaqoh serta lainya yang dibagikan/disalurkan kepada yang berhak dalam rangka mengatasi kemiskinan dan fungsi ekonomi, yaitu kegiatan produktif dalam rangka nilai tambah baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang bersumber daya manusia.

George Soros, pada tahun 2002, pernah menyatakan bahwa agar microfinance mampu menjadi faktor besar dalam perkembangan ekonomi dan politik, skala Islamic Microfinance Institutions harus secara signifikan meningkat. Pernyataan ini bukan tanpa alasan. BMT bisa menjadi salah satu lembaga keuangan yang sangat sesuai untuk program pengentasan kemiskinan. Pertama, tidak ada beban bunga yang tinggi seperti bank konvensional pada umunya. Kedua, resikonya relatif lebih kecil, karena skala pinjaman dan adanya fungsi sosial dari lembaga tersebut. Ketiga, proses pinjaman yang sederhana. Hal ini bsia menjadi salah satu alternatif dalam menjawab salah satu hambatan program pengentasan kemiskinan di Indonesia menurut Bank Dunia, yaitu lemahnya lembaga layanan publik pemerintah yang erat dengan citra birokratis. Keempat, citra dari lembaga keuangan syariah dan lembaga dengan fungsi sosial yang melekat pada BMT akan lebih diterima masyarakat luas.

Potensi
Berbicara mengenai potensi, PNPM Mandiri mempunyai potensi besar. Dana PNPM untuk tahun 2010 dianggarkan sebesar 16 triliun rupiah. Organisasi pelaksana program ini sudah mencapai tingkat kecamatan, dengan adanya Penanggung jawab Operasional, Unit Pengelola Kegiatan dan Fasilitator di tingkat kecamatan. Program ini juga mendapat dukungan penuh dari Bank Dunia.

Potensi Perbankan Syariah di Indonesia saat ini terus meningkat. Pasar perbankan syariah di Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia dalam pangsa pasar di kawasan Asia Tenggara, menurut gulfnews.com. Menurut data ICN (Indonesian Commercial Newsletter), jumlah kantor bank syariah pada bulan Februari 2009 sebanyak 908 kantor ditambah channeling sebanyak 1.452 kantor. Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga terus meningkat tajam, rata-rata 32,8% per tahun pada periode 2004 – 2008, atau melonjak menjadi Rp 36,8 triliun pada 2008 dari Rp 11,8 triliun pada tahun 2003.

Potensi dari BMT juga tidak kalah menjanjikan. Dalam sebuah jurnal penelitian dari Teddy Lesmana, peneliti dari LIPI, pada tahun 2008 terdapat sekitar 3.100 BMT.

Inovasi Kemitraan
Potensi masing-masing dari PNPM yang mewakili pemerintah, perbankan syariah dan BMT memang menjanjikan. Tetapi bila dari ketiganya terdapat sinergi maka potensinya akan menjadi berlipat ganda. Hal ini sangat mungkin, karena kekuatan dari masing-masing pihak bisa menjadi komplemen dari kelemahan dari masing-masing pihak.

Misalnya seperti yang diungkapkan sebelumnya, BMT mampu menjadi komplemen dari hambatan birokratis lembaga pemerintahan. BMT yang biasanya mempunyai modal kecil dan masalah pada kompetensi dari sumber daya manusianya bisa dilengkapi dari besarnya modal dan tingkat kompetensi yang lebih tinggi dari Bank Syariah. Tingkat kompetensi sumber daya manusia ini akan sangat berpengaruh terhadap inovasi dari produk dan layanan yang bisa dikembangkan bagi masyarakat. Bank Syariah bisa menjalankan peran pembinaan dan mitra bagi BMT. Sehingga fokus Bank Syariah dan BMT diharapkan bukan pada persaingan tetapi pada kerjasama. Saat ini persaingan di antara keduanya makin terbuka karena produk Bank Syariah yang mulai masuk ke segmen yang secara tradisi menjadi sasaran dari BMT. Salah satu solusinya bisa dengan komitmen pembagian segmen pasar yang bisa didukung dengan kebijakan pemerintah.

Pemerintah melalui PNPM juga mempunyai kekuatan yang tidak dimiliki oleh Bank Syariah maupun BMT, yaitu kebijakan, regulasi, modal dan dukungan dari Bank Dunia. Salah satu kebijakan pemerintah yang akan sangat berpengaruh bagi perbankan syariah adalah tingkat suku bunga Bank Indonesia. Bila suku bunga diturunkan, maka perbankan syariah yang tidak menganut konsep riba akan lebih kompetitif dibandingkan bank konvensional. Cakupan gerak PNPM yang lebih luas dengan dukungan organisasi yang lebih lengkap juga bisa menjadi pelengkap kekurangan Bank Syariah dan BMT. Cakupan dan organisasi akan sangat penting dalam meningkatkan awareness masyarakat, terutama masyarakat miskin akan program pemberdayaan masyarakat melalui microfinance yang saat ini dirasakan masih sangat kurang. Peran pemerintah juga diharapkan akan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga microfinance, termasuk Bank Syariah dan BMT.

Jadi, Perbankan Syariah akan sangat berperan dalam pengentasan kemiskinan, tetapi tentunya harus dengan inovasi dalam layanan dan operasionalisasinya. Salah satunya adalah dengan membentuk kemitraan yang harmonis dengan pemerintah, dalam hal ini khususnya PNPM Mandiri, dan BMT. Sehingga diharapkan inovasi kemitraan ini akan bisa menjawab tantangan yang pernah diungkapkan George Soros. Tetapi bagaimanakah menurut Anda? Apakah kemitraan ini memang berpotensi besar atau akan sulit direalisasikan. Silakan berikan masukan dan marketing ideas Anda di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.