Cara Sony Mengoptimalkan Kehadirannya di CES 2012

Di dalam industri ICT (Information & Communications Technology), ajang pameran atau trade show tahunan Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas adalah salah satu pameran penting. CES tahun ini, mulai pada hari ini, tanggal 10 Januari 2012 sampai dengan 13 Januari 2012. Dalam pergelaran ini, biasanya ditunggu terobosan produk baru dari para pemain besar di industri ICT.

Pada tahun sebelumnya, CES 2011, beberapa tampilan yang menarik perhatian dunia adalah PC Tablet (Motorolla Xoom, Blackberry Playbook), Connected TV (Samsung Smart TV), Teknologi 3D pada TV dan Camcorder, Ponsel pintar (Motorolla Atrix 4G), Microsoft Kinect, Ultrabook (Samsung 9 Series), dan masih banyak lagi. Menurut Webtrends, pada CES 2011 brand yang paling sering dibicarakan di dunia maya adalah Samsung, disusul oleh Google, Microsoft dan Motorolla. Sony tidak masuk dalam 5 besar. Apple mampu mencuri perhatian melalui iPhone yang menjadi produk pada kategori ponsel pintar yang paling banyak dibicarakan.

Tidak terkecuali di CES 2012 ini, banyak pihak menunggu peluncuran produk baru yang akan menjadi bintang dalam pameran ini. Beberapa di antaranya adalah dari kategori Ultrabook yang kini menjadi tren, menyusul suksesnya Macbook Air, Sistem Operasi Microsoft Windows 8 atau Sistem Operasi Android 4.0 Ice Cream Sandwich. Dari pembicaraan di social media, beberapa pihak penasaran apakah Sony akan meluncurkan PS4.

Tetapi dari konferensi pers di hari pertama CES 2012, Sony belum tampak menampilkan PS4, tetapi menampilkan layanan musik premium: Sony Music Unlimited, Ponsel pintar: Sony Xperia Ion 4G dan Xperia S, 4K Home Theater Projector dan memperkenalkan perubahan Sony Ericsson menjadi Sony Mobile Communications. Produk-produk tersebut ini tampaknya belum mendapatkan sambutan yang besar. Bila datang dengan produk yang tidak ditunggu oleh pasar, lalu bagaimana Sony akan mengoptimalkan ajang pameran ini?

Pertama, Sony datang dengan konsep produk. Pada konferensi pers hari pertama, Sony menyampaikan konsep produk konvergensi PC dan TV. Percakapan seputar konsep ini diharapkan mampu membantu brand Sony tetap diingat dan menjadi perhatian pasar. Dari presentasi konsep ini diharapkan akan muncul respon pasar yang bisa menjadi masukan dalam proses pengembangan produk selanjutnya. Sebuah bentuk dari proses co-creation. Sejauh ini, Apple sebetulnya yang paling jago dalam hal ini. Pembicaraan tentang iPhone 5 sudah dimulai beberapa waktu yang lalu, bahkan sebelum meluncurnya iPhone 4S, padahal sampai saat ini iPhone 5 belum meluncur.

Kedua, Sony menghadirkan liputan acara di panggung Sony dalam CES 2012 melalui UStream (http://t.co/lEkAdXCA). Liputan ini termasuk konferensi pers dan penampilan Kelly Clarkson dan Will Smith di panggung Sony.

Ketiga, tentu saja social media. Social media memang sekarang sudah menajdi bagian pentign dalam proses pemasaran yang lebih horizontal (baca: “Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012”). Sony menggunakan tagar #SonyCES di Twitter untuk pembicaraan seputar Sony di CES 2012. Liputan ini tampak terintegrasi dengan liputan melalui video streaming di UStream. Mereka juga hadir melalui blog http://sony.com/ces. Halaman facebook mereka pun penuh dengan liputan dari pameran ini. Tidak ketinggalan, 10 video (sampai tulisan ini dibuat) terkait berbagai produk yang dijagokan di CES 2012 diunggah melalui kanal SGNL di Youtube. Uniknya video yang paling banyak dilihat adalah video tentang produk-produk lama Sony yang cukup mewarnai dunia elektronik konsumer, seperti walkman dan Betamax. Video tentang produk-produk barunya malah kurang mendapat sambutan.

Sony memang sudah lama belum menghasilkan kembali produk yang mampu menjadi ikon dalam dunia elektronik konsumer setelah walkman. Oleh karena itu tampilan konsep masa depan konvergensi TV dan PC di konferensi pers hari ini adalah cara yang cukup cerdas dalam menyikapi kondisi pasar dan kondisi internal Sony. Selanjutnya bagaimanakah hasil dari presentasi Sony di ajang ini? Apa lagi cara yang digunakan untuk meningkatkan manfaat penampilan mereka? Mari kita ikuti perkembangan event ini dan bersama belajar marketing.

Coba Temukan Kata Ajaib di Prediksi Marketing 2012

Pada bulan Desember tahun 2011 yang baru saja berlalu, ternyata tetap berjalan sesuai tradisi akhir tahun selama ini. Bila kita mengikuti berbagai berita dan ulasan di berbagai media, baik media konvensional seperti televisi, surat kabar, tabloid atau majalah, maupun new media, nuansanya tetap sama. Kita akan banyak menemukan ulasan peristiwa selama 2011 dan prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2012. Demikian juga dalam dunia pemasaran. Kita akan banyak menemukan ulasan mengenai apa yang menjadi tren pemasaran di tahun 2012.

Dalam prediksi marketing 2012, kita akan menemukannya dalam berbagai sudut pandang, dari berbagai pakar pemasaran dan bisnis dan bersumber dari berbagai macam riset. Tetapi ada satu kata ajaib yang hampir selalu muncul di berbagai prediksi marketing tersebut. Can you guess it? Yes! It is SOCIAL.

Tidak percaya? Coba cara yang satu ini. Masukkan kata kunci “marketing prediction 2012” ke dalam mesin pencari, Google misalnya. Maka pada halaman pertama kita akan mendapatkan banyak kata “social” di dalamnya. Kalaupun tidak bisa menemukan kata social di hasil pencarian tersebut di halaman Google, coba klik link hasil pencarian tersebut. Maka kita akan menemukan lebih banyak lagi kata social di dalam isi ulasan tersebut.

Bagaimana dengan di Indonesia? Maaf, terus terang, ini pertanyaan yang sedikit basi :-). Indonesia telah sering menjadi perhatian dunia karena pertumbuhan pengguna dan penggunaan social medianya. Saat ini jumlah akun Facebook dari Indonesia mencapai 41 juta. Nomor dua terbanyak di dunia. Tetapi, prediksi saya tahun ini, jumlah akun Facebook dari India yang berada di posisi ke-3 akan melampaui Indonesia. Tweet dari Indonesia di media Twitter memberikan kontribusi 15% dari total tweet dari seluruh dunia. Indonesia sering disebut sebagai The Twitter Capital of Asia.

Sesuai apa yang disampaikan Thomas L. Friedman dalam bukunya “The World is Flat”, dunia memang semakin terhubung, terutama melalui internet yang dimotori oleh social media. Dari berbagai survey, penggunaan terbanyak saat akses internet adalah bersosialisasi melalui berbagai bentuk dan macam social media. Walaupun dari beberapa versi prediksi pertumbuhan jumlah pengguna social media apda tahun 2012 akan mulai melambat, bukan berarti sama sekali bahwa social media akan berkurang pengaruhnya terhadap dunia pemasaran. Peran social media justru akan semakin kuat. Salah satu contoh yang cukup ekstrem berasal dari Gartner: “Gartner: Next, Social Networks Will Sell Insurance, Become Banks”.

Lihatlah juga bagaimana berbagai inovasi dari beberapa social media terbesar di tahun 2011 yang akan mempengaruhi perannya di tahun 2012. Antara lain: Google+ meluncurkan Brand Pages (“Google+ Launches Branded Pages”), Facebook menyediakan tombol Subscribe untuk merespon pertumbuhan pesat Twitter (“Tombol “Subscribe” Facebook, Saingi Twitter”) dan Twitter yang juga mulai menyediakan brand pages, mengubah layout dan diprediksi akan menambah porsi iklan. Social media tampak semakin mempersiapkan diri, bersaing untuk memperkuat perannya sebagai media yang berpengaruh. Di Indonesia, preferensi media dari pengguna internet juga sudah mulai bergeser. Media konvensional bukanlah lagi menjadi preferensi utama (“Attitude dan Behavior Pengguna Internet di Indonesia“). Walapupun begitu, tentu saja bukan berarti media konvesional akan segera mati. Malah, mainstream media yang masih didominasi oleh media konvensional terbukti mampu mempengaruhi trending topics di social media, seperti sebuah stui yang dilakukan oleh Hewlett Packard di awal tahun 2011.

Lalu apa implikasinya bagi para pemasar? Desakan untuk lebih terlibat dalam percakapan di social media akan semakin tinggi. Kurangnya engagement di social media, akan membuat sebuah brand semakin tertinggal. Setiap tahapan dalam proses pemasaran tidak bisa lagi mengabaikan kata social. Saat pengembangan produk, banyak produsen yang sudah melibatkan pelanggan, yang disebut dengan proses co-creation. Dalam tahap promosi, ini saat yang tepat bagi Anda yang belum mempunyai belief atau ragu-ragu dalam memprioritaskan new media untuk menjalin conversation dengan pasar, untuk melakukan evaluasi terhadap efektivitas promosi yang masih terlalu fokus pada cara-cara yang konvensional. Bahkan pada tahap pasca penjualan atau dalam siklus customer relationship management (CRM), sekarang sudah berkembang konsep Social CRM.

Tetapi, tantangan terbesar utk berubah ke pola pemasaran yang lebih horisontal adalah mengubah mind set, terutama belief terhadap cara pemasaran yang baru, seperti yang telah kita diskusikan dalam “Tantangan Menuju New Wave Marketing: Change the Mindset!”.  Tantangan berikutnya adalah menjalankan pemasaran yang lebih horisontal secara terpadu atau terintegrasi dalam tiap tahapan pemasaran. Jadi, mampukah kita menjawab tantangan ini?

Berapa Biaya untuk Membangun Sebuah Brand?

Istilah brand berawal dari tanda yang dibuat menggunakan besi panas untuk menandai hewan ternak guna membedakannya dari hewan ternak milik orang lain. Brand kini berkembang, menunjukkan kepribadian sebuah produk, layanan atau organisasi. Tetapi masih seperti awal istilah brand yang digunakan untuk membedakan ternak, maka brand dalam marketing tetap dekat dengan fungsinya sebagai pembeda. Brand harus mampu menunjukkan diferensiasi. Brand juga harus mampu menjadi relevan dengan target pasarnya, karena dituntut mampu mewakili positioning di benak target pasarnya.

Brand yang kuat akan mampu menjadi mesin pertumbuhan sebuah organisasi. Dalam sebuah laporan pada tahun 2008, sebuah research agency Millward Brown Optimor, menyatakan brand value dari Coca Cola mencapai USD 58,2 miliar, tumbuh 17% dari tahun sebelumnya. Silakan coba hitung nilai tersebut ke dalam satuan rupiah. Pada waktu itu Coca Cola menempati posisi keempat di belakang Google, GE dan Microsoft.

Dua paragraf di atas mestinya cukup untuk sedikit menggambarkan bagaimana pentingnya brand dalam marketing. Lalu berapa biaya membangun sebuah brand? Pertanyaan ini muncul di benak setelah mendengar pernyataan dalam sebuah diskusi, “… brand sama dengan cost”. Tentu saja jawabannya bisa sangat bervariasi, tergantung kepada berbagai macam kondisi yang dipengaruhi lingkungan industri, target pasar sampai dengan strategic objective dan skala dari suatu produk, layanan atau organisasi. Hal tersebut juga tergantung bagaimana sudut pandang yang digunakan. Bisa saja sesederhana membayar beberapa ribu rupiah untuk memesan stempel di tukang stempel kaki lima atau membayar miliaran rupiah kepada konsultan branding untuk sebuah perusahaan berskala nasional.

Sebagai gambaran, berikut ini ada sebuah riset yang dirilis di graphicdesignblog.org pada tahun 2010. Riset tersebut mengungkap biaya yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan multinasional dalam proses rebranding. Lingkupnya bukan hanya dalam proses mengubah logo. Tetapi lingkup yang dimaksud lebih luas, termasuk di dalamnya proses komunikasi pemasaran yang dilakukan. Proses rebranding sangat memerlukan komunikasi pemasaran yang kuat karena biasanya merupakan desain ulang pada positioning atau diferensiasi. Dalam laporan tersebut, Pepsi dikatakan memerlukan  sekitar 1 juta dolar dalam proses rebranding. BBC One menghabiskan 1,2 juta poundsterling, ANZ:  15 juta dolar, Accenture: 100 juta dolar. Biaya paling tinggi dicatatkan oleh BP (British Petroleum), yaitu sebesar 136 juta poundsterling.

Tetapi berapa pun biaya yang dikeluarkan, biaya tersebut adalah sebuah investasi jangka panjang. Brand adalah intangible asset. Membangun sebuah brand adalah sebuah proses yang berkelanjutan, yang tidak bisa dipisahkan dengan proses membangun keunggulan kompetitif. Komunikasi pemasaran yang hingar bingar dari sebuah brand tidak akan efektif dalam jangka panjang bila tidak ada usaha yang kontinu dalam mempertahankan dan mengembangkan diferensiasi dan inovasi untuk membangun keunggulan kompetitif. Awareness dari target pasar yang tinggi tidak akan berarti banyak bila diferensiasi dan relevansinya mulai tergerus, seperti studi kasus pemasaran: “Belajar dari Masalah Brand Nokia”.

Brand yang sangat dikenal bukanlah brand yang sehat apabila kualitasnya tidak mampu memenuhi tuntutan atau harapan dari target pasar, yang akan memberikan banyak masalah bagi organisasi. Brand yang benar-benar mewakili diferensiasi, relevansi dan kualitas akan mampu menjadi kepribadian dari produk, layanan atau organisasi. Tetapi komunikasi brand yang tidak diimbangi dengan kualitas yang dijanjikan akan hanya menjadi sebuah stempel yang mungkin saja dikenal tetapi tidak mempunyai nilai di mata target pasarnya. Brand bukanlah sekedar logo atau stempel. Itulah sebabnya Coca Cola mempunyai brand value yang luar biasa. Android, sebuah brand yang berusia muda, sering kita lihat tampil dalam berbagai bentuk dan warna. Walaupun logo Android tampil dalam berbagai bentuk, tetapi tidak mengurangi nilai brand tersebut di mata target pasarnya. Tetapi di sisi yang lain, TVRI sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi mulai ditinggalkan oleh para pemirsa televisi.

Karena membangun brand adalah proses berkelanjutan yang tidak terpisahkan dalam proses membangun keunggulan kompetitif, maka selain sudut pandang finansial, banyak harga tersembunyi yang perlu kita perhatikan. Kurangnya menjaga kualitas, sebetulnya mempunyai konsekuensi harga yang harus ditanggung karena akan mengurangi nilai dari sebuah brand.

Mendulang Profit Sekaligus Mengentaskan Kemiskinan

Studi kasus pemasaran kali ini ditulis untuk turut memeriahkan Hari Blogger Nasional tahun ini, tanggal 27 Oktober 2011. Bermula dari pemikiran, apa yang bisa saya tulis untuk bisa sedikit berkontribusi melalui blog yang fokus pada tema studi kasus pemasaran dan inovasi di http://kopicoklat.com.

Sangat membanggakan saat membaca ulasan bangkitnya kelas menengah di Indonesia, menurut ekonom Faisal Basri. GDP (Gross Domestic Product) Indonesia sebesar $ 3.000 per capita pun diprediksi akan terlampaui pada tahun 2011. Jumlah populasi kelas menengah terus membengkak seiring pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Kondisi ini membawa pengaruh semakin larisnya berbagai produk yang selama ini masuk dalam kategori barang kebutuhan sekunder. Bahkan barang-barang mewah juga semakin terjangkau, karena volume penjualan yang semakin tinggi.

Lebih menggugah hati lagi saat membaca Entrepreneur Boom-nya mas Yuswohady, yang merupakan kelanjutan dari fenomena Consumer 3000 yang juga dikenalkan oleh mas Yuswohady. Consumer 3000 adalah istilah untuk menggambarkan kelas menengah yang mempunyai pendapatan di atas GDP per capita $ 3000. Dengan adanya lonjakan kelas menengah, diharapkan enterpreneurship di Indonesia semakin berkembang. Lebih banyak lagi kelas menengah yang memutuskan untuk mengembangkan diri menjadi entrepreneur. Hal ini didukung oleh karakter kelas menengah yang pada umumnya memiliki aset modal yang memadai, berwawasan luas, knowldgeable dan melek teknologi.

Tetapi kenyataannya di balik pertumbuhan kelas menengah, masih ada 31 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan menurut data Bank Dunia. Bahkan sekitar 4 milyar penduduk dunia hidup dengan pendapatan di bawah $2 per hari. Yang cukup menyedihkan, gap atau jurang antara kaya dan miskin di Indonesia ternyata semakin lebar.

Jadi di balik menggairahnya pasar domestik dengan adanya lonjakan kelas menengah, apakah tidak ada peluang di segmen pasar yang berada di bawah garis kemiskinan? Menurut C. K. Prahalad dalam bukunya “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”, terdapat peluang besar bagi banyak pelaku usaha bila menggarap pasar ini dengan benar. Selain menguntungkan, menggarap pasar di segmen ini juga akan memberi nilai tambah yang luar biasa bagi pengentasan kemiskinan. Kuncinya adalah kemitraan yang sinergi antara pelaku usaha,  pemerintah, berbagai organisasi kemasyarakatan dan masyarakat di segmen ini. Tetapi memang, untuk bisa menghasilkan keuntungan di pasar ini menuntut sebuah perusahaan yang menggarapnya untuk berinovasi, mulai dari model bisnis, teknologi, pengembangan produk dan yang paling penting adalah mengubah mindset.

Mindset yang penting dalam pengentasan kemiskinan adalah sudut pandang bahwa masyarakat miskin bukanlah beban tetapi lebih sebagai sumber daya. Sumber daya manusia yang menurut C.K. Prahalad juga berpotensi sebagai entrepreneur yang tangguh dan kreatif. Benarkah sudut pandang ini? Coba kita tengok bagaimana Grameen Bank yang digagas oleh pemenang Nobel Perdamaian 2006, M. Yunus. Grameen Bank berhasil mengentaskan kemiskinan pada banyak keluarga di Bangladesh dengan mengembangkan model bisnis inovatif dalam produk kredit mikro. Kredit mikro tersebut didesain dalam bentuk yang tepat untuk target marketnya, yaitu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kredit diberikan tanpa perlu adanya jaminan seperti layaknya produk kredit mikro perbankan pada umumnya.  Pinjaman diberikan secara selektif kepada kelompok perempuan produktif yang ber status sosial miskin. Kredit mikro ini berhasil mengembangkan entrepreneurship di kalangan kelompok perempuan berstatus sosial miskin, dan akhirnya berkontribusi besar dalam mengentaskan keluarga mereka dari kemiskinan. Masih banyak lagi contoh yang disampaikan Prahalad dalam buku “The Fortune at the Bottom of the Pyramid”.

Jadi di balik pertumbuhan Consumer 3000 dengan daya beli yang naik dan harapan lonjakan para entrepreneur dari kalangan kelas menengah, terdapat peluang besar naiknya daya beli dan bangkitnya entrepreneurship dari masyarakat yang saat ini masih berada di bawah garis kemiskinan. Pemerintah harus mampu menjadi fasilitator dan katalisator dalam proses kemitraan yang sinergis dengan sektor swasta dan berbagai lembaga kemasyarakatan untuk mengubah mindset seperti di atas. Perubahan mindset tersebut diharapkan mampu membangkitkan inovasi di berbagai perusahaan untuk menggarap segmen ini dan sekaligus berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Bagaimana dengan UKM (Usaha Kecil Menengah)? Peluang inovasi di UKM selalu terbuka, juga dalam kaitannya dalam menggarap segmen pasar ini (baca: “Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM”). Apalagi UKM mestinya lebih dekat dengan segmen pasar ini dibandingkan perusahaan berskala besar.

Bagaimana menurut Anda? Ada pemikiran tentang pengentasan kemiskinan di Indonesia dan peran serta sektor swasta dan juga pemerintah? Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional http://kopicoklat.com.

Jalan Terbuka Lebar untuk Inovasi oleh UKM

Tulisan studi kasus pemasaran kali ini ditulis setelah pada hari ini (26/09/2011), Inc. Magazine merilis sebuah artikel yang berisi tantangan. Tantangan tersebut ditujukan untuk segmen Usaha Kecil dan Menengah (UKM): “A Challenge to the Small Business Image”. Dari hasil survey University of Chicago Booth School of Business, hanya 5% – 6% UKM yang mendaftarkan paten, copyright atau trademark dalaam 5 tahun pertama. Bahkan 80% pemilik UKM menyatakan tidak berniat berinovasi dengan mengembangkan teknologi atau proses baru.

Survey ini memang dilakukan terhadap UKM di Amerika Serikat dan sayangnya saya tidak menemukan referensi mengenai survey mengenai inovasi UKM di Indonesia. Ada yang mau membantu berbagi informasi? Tetapi Bappenas mengemukakan bahwa diakui daya saing UKM Indonesia masih rendah dibandingkan UKM di kawasan regional Asia Pasifik. Bahkan di bawah negara-negara ASEAN, seperti Thailand, Malaysia atau Philippines. Apalagi pemerintah Cina dikabarkan akan meningkatkan fokusnya kepada UKM. Menurut survey Doing Business 2011 versi International Finance Corporation (IFC), peringkat daya saing UKM Indonesia turun. Hal ini dirilis oleh kantor berita Antara di antaranews.com. Daya saing sangat erat kaitannya dengan inovasi. Proses inovasi adalah bentuk daya saing yang berkelanjutan, karena berlandaskan pada transformasi.

Kemudian, apa hambatan dalam proses berinovasi di UKM? Silakan sebut berbagai macam sebabnya, mulai dari tingkat pengetahuan dan ketrampilan sampai iklim usaha . Tetapi yang hampir pasti selalu dikeluhkan sebagai hambatan atau tantangan adalah sumber daya, terutama dari sisi keuangan. Tetapi tantangan yang mendasar adalah fokus terhadap proses inovasi itu sendiri. Dengan asumsi yang terus bertahan bahwa inovasi membutuhkan sumber daya yang besar, maka bisa saja UKM memalingkan diri dari fokus dan upaya dalam proses inovasi. Menyerah sebelum berperang. Terbukti dari hasil survey di atas.

Kemudian saya teringat akan istilah Elegant Solutions yang digagas oleh Matthew E. May. Coba perhatikan data ini. Toyota berhasil mengimplementasikan 1 juta ide tiap tahun, berarti sekitar 3.000 ide per harinya. Jadi sumber inovasi ini dihasilkan bukan dari kemampuan finansial Toyota yang hebat. Tetapi sumbernya adalah fokus dan kedisiplinan Toyota dalam menjalankan proses berinovasi, yang dilakukan oleh semua jajaran di organisasi tanpa kecuali. Menghasilkan ide perbaikan sekecil apa pun selalu dimotivasi dan dihargai. Inilah jalan awal dari proses inovasi Toyota yang sering menjadi panutan di berbagai organisasi di seluruh dunia.

Inovasi jangan dipandang sebagai sesuatu yang megah dan mewah, sebuah solusi yang memecahkan masalah besar dengan cara yang luar biasa sehingga menguras sumber daya yang sangat banyak. Inovasi bukanlah hasil super team yang hanya berisikan orang-orang pilihan yang brilian di dalam suatu organisasi. Inovasi tidaklah selalu melibatkan teknologi super canggih. Inovasi lebih merupakan solusi pada masalah-masalah yang nyata yang dihadapi setiap hari. Proses yang menuntut setiap orang tanpa kecuali untuk berperan serta. Seperti studi kasus pada Toyota di atas. Perbaikan yang berkelanjutan, hari demi hari. Ide demi ide. Sedikit demi sedikit. Kekuatan dalam sebuah kesederhanaan. Angka 3.000 implementasi ide per hari di Toyota adalah angka yang fantastis. Tetapi dengan pemahaman tersebut angka tersebut bukanlah mustahil. Istilah disruptive innovation adalah sesuatu yang mewah, tetapi hanya bisa dihasilkan dari kedisiplinan pada continuous innovation. Oleh karena itu lingkungan kondusif harus dibentuk dengan dipimpin oleh keteladanan para leader dalam mengambil resiko dan disiplin berinovasi.

Seperti pada konsep elegant solutions, merujuk kepada solusi yang optimal yang dicapai dengan usaha dan sumber daya yang minimal. Konsep yang memberi inspirasi bagi UKM bahwa kekuatan finansial bukanlah suatu hambatan. Mungkinkah elegant solutions hadir dalam kehidupan yang nyata di dalam organisasi? Asumsi dan belief yang berkembang dan selalu kita dengar adalah solusi = sumber daya besar, yang membuat rintangan di dalam pikiran kita. Rintangan yang kita bangun sendiri. Tetapi organisasi seperti Toyota telah membuktikannya. Sebuah penelitian tentang inovasi yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 juga menunjukkan bahwa masalah besar bukan pada kekuatan finansial yang diperlukan. Masalah utama adalah pada keteladanan dan kurangnya pendekatan inovasi kesisteman yang disiplin.

Lalu, bagaimana mencapai dan menemukan elegant solutions? Dari berbagai studi dan penelitian yang saya lakukan pada tahun 2008 – 2009 tersebut, salah satu pendekatan yang efektif adalah systems thinking. Systems thinking adalah pendekatan pemecahan masalah yang didahului dengan identifikasi masalah secara komprehensif. Memperhatikan dinamika berbagai faktor yang terlibat yang saling mempengaruhi dalam suatu sistem. Sehingga solusi yang dihasilkan akan mampu menyelesaikan inti atau sumber permasalahan dengan tepat. Solusi yang tidak harus rumit, tetapi efektif. Saya juga akan coba membahas systems thinking dalam beberapa posting selanjutnya di blog ini. Karena saya secara pribadi juga sangat tertarik dan mencoba menerapkannya dalam berbagai masalah. Anda juga penasaran dan tertarik? Mari berbagi, dan berdialog dan menunjukkan bahwa UKM Indonesia juga mampu berinovasi dan meningkatkan daya saing di level global. Bagaimana menurut pendapat Anda, mampukah UKM Indonesia berinovasi, dan bagaimana seharusnya peran pemerintah dalam menumbuhkan inovasi di UKM. Please share with us di blog studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional ini: http://kopicoklat.com.

Marketing Indonesia With The Power of the Crowd

Pada tanggal 15 Agustus 2011, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menarik diri dari keikutsertaan Taman Nasional Komodo (TNK) sebagai finalis New Seven Wonders of Nature. Sebab utamanya adalah indikasi ketidakprofesionalan pengelolanya, yaitu New Seven Wonders of Nature Foundation. Laporan lengkapnya ada di “Komodo Menjadi Sarana Pemersatu Bangsa”.

Tetapi Pemerintah Republik Indonesia bekerjasama dengan Marketeers berinisiatif untuk tetap mempromosikan Taman Nasional Komodo dengan tema The Real Wonder of the World. Beberapa aktivitasnya antara lain Concert for Komodo pada tanggal 30 Juli 2011, Komodo Apps Challenge, Counting Down Live Streaming Komodo Dragons Hatching dari Prague Zoo, Komodo Night di Opera Point Marquee, Sydney Opera House, 9 September 2011 dan di Crystal Garden Navy Pier Chicago, 22 September 2011. Yang menarik dari inisiatif promosi TNK tersebut adalah pemberdayaan netizen Indonesia untuk turut mendukung. Salah satu buktinya, pada gelar acara Concert for Komodo,  #komodorealwonder berhasil menjadi trending topic di Twitter. Cara pemasaran horizontal ini sebagai salah satu antisipasi terhadap keterbatasan alokasi anggaran promosi pariwisata Indonesia. Sebagai  perbandingan, menurut Menbudpar Jero Wacik yang saya kutip dari tabloiddiplomasi.org, dana promosi melalui media massa untuk Visit Indonesia Year pada tahun 2008 yang lalu adalah sebesar 3 juta dollar. Sedangkan pemerintah Malaysia mengalokasikan dana promosi sebesar 25 juta dollar untuk kegiatan Visit Malaysia Year tahun 2007. Tetapi terbatasnya dana promosi bukan berarti harus melupakan efektivitas promosi. Dengan pemberdayaan masyarakat pengguna internet, diharapkan efektivitas promosi pariwisata Indonesia akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya dengan iklan di media massa konvensional. Low cost high impact. Bayangkan potensi seperti ini kita gunakan untuk memasarkan berbagai potensi pariwisata Indonesia yang begitu beragam.

Menjelang peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2011, gerakan nasionalisme netizen yang sekaligus memasarkan Indonesia di mata dunia juga mulai gencar. Inisiatif http://17an.org mulai didukung oleh berbagai komunitas. Inisiatif tersebut adalah upaya untuk mencapai 1.781.945 tweet atau SMS dengan hashtag #17an untuk mengibarkan (secara digital) bendera Merah Putih sampai ke puncak. Kita dapat memantau gerakan ini di http://17an.org dan akun @ID_17an di Twitter. Para netizen sudah mulai bergerak melalui berbagai media di internet untuk mendukung gerakan ini, antara lain melalui Twitter, Facebook, Google+ atau melalui blog.

SITTI, sebuah platform iklan online kontekstual berbahasa Indonesia yang berdiri tahun 2010 juga turut mendukung. Pada tanggal 17 Agustus 2011, SITTI akan menayangkan iklan layanan masyarakat yang diprakarsai oleh http://17an.org di seluruh situs yang memasang iklan dari SITTI.  Hal ini saya ketahui dari surat pemberitahuan dari administrator SITTI pada tanggal 16 Agustus 2011. Beberapa tokoh masyarakat yang juga netizen juga mulai tampak ikut mendukung gerakan ini melalui berbagai social media.

Dengan jumlah pengguna facebook sebanyak 39.204.200 atau kedua terbanyak di dunia dan sumbangan 15% dari total tweet di Twitter adalah tweet dari Indonesia, maka bukan tidak mungkin gerakan tersebut akan mencapai sasarannya. Gerakan horizontal semacam ini memang akhir-akhir ini tampak sangat berpengaruh di seluruh dunia. Belum lama kita banyak membaca bagaimana peran social media sangat penting dalam gerakan revolusi di berbagai negara di Timur Tengah, terutama di Mesir. Bahkan Perdana Menteri Inggris sempat mengkhawatirkan peran social media dalam kerusuhan di Inggris yang meluas di beberapa kota pada bulan ini. Potensi gerakan horizontal ini sangat besar dan akan lebih baik apabila digunakan untuk bersama membangun sesuatu yang positif.

Jadi, tertarik untuk bersama membangun Power of the Crowd dalam memasarkan Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia? Silakan bergabung melalui http://17an.org. Dirgahayu Indonesia!

Google Plus: Valuing Failure

Studi kasus pemasaran Google Plus atau Google+ memang sangat menarik dan berliku. Banyak cara untuk menceritakannya. Jadi mohon maaf apabila posting kali ini agak lebih panjang dari biasanya. Baiklah, kita coba mulai penelusuran jalan berliku ini pada bulan Mei 2010. Saat itu Google mengakui salah satu kegagalannya. Hal yang jarang kita temui dalam komunikasi perusahaan yang lain. Bagaimana dengan perusahaan atau organisasi Anda? Secara spesifik, saat itu Google mengakui kekurangannya dalam pengembangan social networking atau jejaring sosial. Pengakuan ini terungkap dalam surat rekrutasi untuk posisi “Head of Social”. Cuplikan dari sebagian kalimat dalam surat tersebut yang dirilis computerworld.com adalah “…as Google knows it is late on this front and is appropriately humble about it. In Google’s view, conceptually, there are two ways to tackle social…”.

Orkut, jejaring sosial yang dirilis tahun 2004 belum memenuhi ambisi Google. Orkut hanya cukup populer di Brazil dan India, tetapi justru kurang berhasil di negara asalnya, Amerika Serikat. Salah satu sebab yang diungkapkan Marissa Mayer (Vice President of Location and Local Services Google) di techcrunch.com adalah keterlambatan mereka mengantisipasi lonjakan jumlah pengguna pada awal peluncurannya. Orkut sempat mencapai beberapa juta pengguna dalam beberapa hari, tetapi kemudian terhambat karena koneksi ke situs Orkut menjadi terganggu.

Bulan Mei 2009, proyek Google Wave meluncur, sebuah media kolaborasi online. Media ini menjanjikan cara baru dalam berkomunikasi secara online. Para penggunanya dapat berkomunikasi dan berkolaborasi dalam suatu percakapan atau dengan dokumen dengan berbagai macam format, termasuk teks, foto, video, peta, dan sebagainya. Tetapi layanan ini akhirnya diputuskan untuk dihentikan pada tanggal 4 Agustus 2010. Mengapa Google Wave juga gagal? Simak ulasannya di “Belajar dari Wafatnya Google Wave”.

Kegagalan Google dalam jejaring sosial sempat memicu spekulasi adanya rencana akuisisi terhadap Twitter pada tahun 2009. Apakah mereka jera mengembangkan sendiri jejaring sosialnya? Ternyata tidak! Mereka mencoba bangkit  melalui Google Buzz pada tahun 2010. Layanan yang terintegrasi dengan gmail ini menyediakan media bagi penggunanya untuk berbagi posting berupa antara lain: status updates, link, foto, video dan komentar. Layanan ini sebenarnya memiliki salah satu karakteristik dasar yang mirip dengan Google+. Penggunanya dapat memilih bagaimana mereka akan berbagi post, baik secara publik maupun dalam beberapa grup tertentu. Tetapi Google Buzz belum berhasil menunjukkan diferensiasinya kepada para pengguna jejaring sosial. Apalagi layanan ini terintegrasi dengan Twitter. Sehingga sebagian besar isinya sama dengan timeline Twitter dari penggunanya. Kondisi ini justru mengurangi orisinalitas isinya. Sehingga tidak cukup alasan yang tepat bagi pengguna Facebook atau Twitter untuk beralih atau menambahkan Google Buzz dalam aktivitas social medianya. Belum lagi adanya masalah kekhawatiran adanya aplikasi di dalamnya yang berpotensi menganggu privasi para penggunanya.

Tetapi Google belum menyerah. Mereka harus berbuat sesuatu dan berhasil dalam jejaring sosial ini. Pengaruh jejaring sosial sudah semakin menekan Google yang terlebih dahulu dikenal dengan mesin pencarinya. Menurut analis trafik Hitwise, pada Desember 2010, trafik ke jejaring sosial telah melampaui trafik ke mesin pencari. Pencarian melalui jejaring sosial juga makin populer.

Akhirnya pada penghujung bulan Juni 2011, proyek Google+ (http://plus.google.com) diperkenalkan melalui sebuah field trial untuk pengguna terbatas. Kemudian mulai terbuka untuk umum pada 7 Juli 2011. Bulan Juli 2011 diberitakan Google+ berhasil mencapai 20 juta pengguna dan 25 juta pengunjung situsnya. Menurut mashable.com, angka ini menjunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan Facebook, Twitter atau Myspace pada periode awal peluncurannya.

Belajar dari kegagalan sebelumnya, kali ini jejaring sosial ini menunjukkan diferensiasinya. Google juga tampak mulai menangkap keinginan pengguna jejaring sosial dan kekurangan dari jejaring sosial yang ada, terutama Facebook dan Twitter. Akhir-akhir ini pengguna Facebook mulai merasa kesulitan dalam menemukan pertemanan yang otentik. Euforia menambah jumlah teman pada awal bergabung dengan Facebook menyebabkan jumlah teman yang sangat banyak. Tetapi berlakulah paradoks, pada suatu kondisi yang berlebih, mulai muncul kelangkaan. Pertemanan yang otentik mulai langka saat jumlah teman di jejaring sosial mulai berlebih. Pada kondisi inilah “Circles” dalam Google+ menjadi solusi. “Circles” memberi fasilitas bagi pengguna mengatur kontak menjadi kelompok tertentu untuk berbagi. Uniknya orang yang dikelompokkan dalam “Circles” tersebut tidak bisa melihat nama yang digunakan oleh pembuat atau pemilik “Circles”. Jejaring sosial ini juga tidak memerlukan persetujuan apabila pengguna ingin menambahkan teman, kenalan atau orang lain dalam “Circles”. Nilai lebih dibandingkan Facebook yang fokus pada proses persetujuan, dan Twitter yang fokus pada konsep following.

Pengguna Facebook juga mulai terganggu dengan berbagai macam iklan. Baik iklan resmi yang biasanya tampil di sisi kanan, maupun melalui teman-temannya yang di-tag dalam posting iklan di “Wall” dari para pengiklan. Akhir-akhir ini juga mulai marak pembajakan akun pengguna yang digunakan untuk mengiklankan berbagai macam produk. Dan Google+ pun tampil bersih dari segala jenis iklan.

Kemudahan melakukan video chat melalui difasilitasi dengan “Hangouts”. Pertumbuhan pengguna ponsel pintar ditangkap melalui kemudahan instant messaging melalui aplikasi di ponsel dengan fasilitas “Huddle”. Fasilitas “Sparks” membantu pengguna dalam melakukan pencarian terintegrasi terhadap topik yang akan dibagi melalui media ini. Berbagi foto dan video pun didukung oleh fasilitas “Instant Uploads”. Tetapi walaupun fasilitas yang disediakan cukup lengkap, tetapi kemudahan penggunaannya tetap dijaga dengan baik. Mereka tidak mengulangi kesalahan yang terjadi pada kompleksitas penggunaan Google Wave.

Indikasi keberhasilan layanan ini mulai terbayang. Persistensi Google dalam mengembangkan jejaring sosial melalui jalan yang berliku didukung oleh kemampuan organisasi ini untuk terus belajar. Kemampuannya menghargai kegagalan menjadi salah satu penopang kebangkitannya setelah gagal dengan Orkut, Google Wave dan Google Buzz. Valuing Failure memang menjadi salah satu faktor penting dalam budaya organisasi dalam membentuk manajemen inovasi yang andal, seperti hasil riset yang saya lakukan pada tahun 2008-2009. Sebuah teladan yang juga ditunjukkan oleh Thomas Edison dalam “Keistimewaan Kucing dalam Bisnis: A Tribute to Thomas Edison”.

Bagaimana menurut Anda, apakah keunggulan lain dari Google+ atau apa faktor lain yang menjadi kunci keberhasilan sistem inovasi di Google? Benarkah Google+ akan berhasil? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Borders Runtuh Karena Serangan Ebooks? Pikirkan Lagi!

Borders adalah jaringan retail toko buku dan musik yang berbasis di Michigan, Amerika Serikat. Selama ini Borders adalah jaringan toko buku terbesar kedua di Amerika Serikat, di belakang pemimpin pasar: Barnes & Nobles. Tetapi keadaan semakin tidak menguntungkan pada 5 tahun terakhir. Setelah tahun 2006, jaringan toko buku yang diakuisisi oleh Kmart pada tahun 1992 ini tidak pernah lagi mampu lagi membukukan laba. Pada Februari 2011, mereka mengumumkan segera menutup 226 tokonya di Amerika Serikat. Puncaknya, pada bulan Juli 2011, mereka memutuskan untuk secara bertahap menutup seluruh tokonya. Pada waktu itu masih terdapat 399 toko.

Berbagai ulasan di beberapa media segera mengkaitkan runtuhnya jaringan toko buku ini pada melonjaknya popularitas ebook. Popularitas ebook pada tahun 2010 memang semakin meroket, antara lain dibantu oleh pertumbuhan penjualan PC Tablet yang pesat. Penjualan PC Tablet semakin populer, terutama Apple iPad dan berbagai jenis PC Tablet berbasis sistem operasi Google Android. Sebelum PC Tablet populer, Amazon telah membentuk ekosistem ebook dengan meluncurkan perangkat e-reader bertajuk Kindle pada tahun 2007. Ekosistem ini semakin memudahkan pelanggan Amazon mengakses lebih dari 950.000 judul ebook. Barnes & Nobles segera merespons dengan merilis e-reader yang mereka beri nama Nook pada tahun 2009. Nook menggunakan system operasi Android. Borders dinilai terlambat beraliansi dengan Kobo dalam membentuk ekosistem penjualan ebook-nya yang baru dimulai pada bulan Juli 2010.

Tetapi kita coba lihat studi kasus pemasaran ini dengan lebih dalam. Pertumbuhan penjualan ebook dari AAP (Association of American Publishers) pada tahun 2010 memang tumbuh luar biasa, 164,4%. Penjualan Audio Book juga naik pesat, 56,7%. Di sisi yang lain, penjualan buku cetak hanya tumbuh 3,6% dan penjualan pada bulan Desember hanya naik tidak lebih dari 2,5%. Data ini bisa digunakan untuk menyalahkan ebook sebagai sebab runtuhnya Borders. Tetapi ternyata volume penjualan ebook masih 8,3% dari pasar penjualan buku tahun 2010. Ternyata pasar masih didominasi oleh buku dalam versi cetak. Amazon boleh mengklaim bahwa penjualan ebooknya telah melampaui penjualan buku hardcover. Dari setiap 100 penjualan buku hardcover, Amazon berhasil menjual 143 ebook. Tetapi ebook yang dijual Amazon, menurut davidweedmark.com banyak yang merupakan ebook gratis. Banyak juga yang hanya merupakan semacam brosur atau summary. Banyak ebook yang diberikan gratis, untuk mempromosikan buku dalam versi cetaknya.

Jadi apa yang meruntuhkan Borders di luar keterlambatannya dalam menyikapi pertumbuhan dan peran ebook? Terdapat beberapa informasi yang berguna dalam studi kasus pemasaran ini. Pertama, Borders tidak mengelola tokonya dengan optimal dalam menyikapi perubahan lingkungan industri. Pada tahun 2000-an Borders menyediakan bagian yang luas untuk penjualan CD dan DVD di tokonya. Padahal distribusi musik dalam bentuk CD dan DVD mulai tergerus oleh format digital yang lebih fleksibel. Popularitas iPod yang mulai dipasarakan pada tahun 2001 yang diikuti pertumbuhan mp3 player lain dan berbagai ponsel dengan fitur pemutar musik digital mempercepat penurunan penjualan musik dalam format CD dan DVD. Respon dari Borders juga sangat tidak efektif, antara lain dengan menyediakan counter download musik digital di tokonya. Tentu saja pelanggan lebih memilih download musik dari rumah atau dari gadget-nya sendiri dibandingkan harus download di lokasi toko Borders. Pengelolaan toko yang kurang optimal juga disampaikan beberapa penulis ternama di Amerika Serikat, antara lain Larry Correia dan John Brown. Banyak penulis buku yang merasa tidak didukung oleh toko Borders saat mengadakan event penandatanganan buku. Padahal event seperti ini bisa mendongkrak penjualan, karena penjualan buku yang ditandatangani langsung oleh penulisnya mempunyai nilai lebih bagi pembacanya. Bahkan dikatakan bahwa Borders adalah satu-satunya jaringan toko buku yang tidak memesan tambahan buku kepada penerbit pada saat event penandatanganan buku langsung oleh penulisnya. Dari beberapa pendapat para pelanggannya, jumlah persediaan buku best-seller di toko buku Borders jauh lebih sedikit dibandingkan toko buku yang lain, terutama Barnes & Nobles. Hal ini berpotensi menyebabkan mereka kehilangan banyak peluang. Stock di toko Borders dinilai lebih banyak didominasi oleh buku yang kurang populer dengan tingkat penjualan yang rendah. Siklus penjualan di toko mereka menjadi melambat.

Kedua, Borders kurang sigap dalam menyikapi pertumbuhan model bisnis penjualan buku online. Berbeda dengan pesaing terdekatnya, Barnes & Nobles, Borders memilih untuk menyerahkan penjualan buku melalui saluran online kepada raksasa online retail: Amazon mulai tahun 2000. Bahkan pada tahun 2002 toko Borders justru menjadi tempat alternatif bagi pembeli buku di Amazon untuk mengambil buku yang telah dibelinya melalui pembelian online di Amazon.com.  Tentu saja ini justru memperkuat posisi Amazon, apalagi Amazon mempunyai akses langsung ke customer base Borders. Hal ini akhirnya disadari oleh Borders dan menghentikan kerjasama dengan Amazon tersebut pada tahun 2008. Keputusan yang terlambat?

Ketiga, ekspansi yang agresif dengan format toko yang besar dan luas, yang mencapai puncaknya pada tahun 2003 dengan 1.249 toko. Format toko yang besar dan luas ini tetap dipertahankan walaupun tingkat penjualan yang terus menurun. Hal ini membuat operasinya menjadi tidak efiesien dan memberikan beban yang besar dalam bisnisnya.

Dari ketiga informasi tersebut, ditambah kondisi bahwa Borders terlambat mengantisipasi pertumbuhan ebook, tampak bahwa semuanya merepresentasikan bagaimana Borders kurang cepat dan tepat mengantisipasi perubahan lingkungan industrinya. Kenyataan ini jauh lebih kompleks daripada menyalahkan ebook sebagai sebab keruntuhannya. Bagaimana menurut Anda? Please share with us@ http://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

3 Alasan untuk Tidak Menggunakan Social Media dalam Bisnis

Indonesia ternyata kini semakin menjadi perhatian dunia. Salah satunya karena statistik terkait keterlibatannya dalam dunia social media. Coba kita perhatikan data berikut ini. Jumlah akun facebook dari Indonesia sebanyak 38,5 juta atau terbanyak kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Menurut salingsilang.com, Indonesia berkontribusi terhadap 15% dari total tweet di Twitter. Bukan hal aneh apabila kemudian ComScore menyebutnya sebagai “the most Twitter addicted nation”. CNN Tech merilis artikel “Indonesia: Twitter Nation”.

Maka pelaku bisnis pun mulai sadar beramai-ramai  masuk dalam percakapan di berbagai social media. Berbagai opini dari banyak pakar pun akan banyak kita temukan yang mengungkapkan pentingnya social media dalam pertumbuhan bisnis di era pasar yang horisontal sekarang ini. Antara lain untuk membangun kedekatan dengan pelanggan dan pasar. Di media tersebut kita juga bisa menemukan banyak masukan atau umpan balik bagi perusahaan. Co-creation juga akan mampu didukung penuh melalui interaksi dengan pelanggan melalui social media. Dan masih banyak lagi. Seiring trend tersebut, pertanyaan kontradiktif mencuat, perlukah bisnis kami melakukan engagement di social media? Banyak artikel dan pendapat yang sudah mengulas pentingnya bisnis melakukan engagement di social media, tetapi studi kasus pemasaran kali ini akan mengulas sebaliknya. Berikut ini beberapa alasan bagi bisnis Anda untuk melupakan social media.

Pertama, apabila mindset Anda masih memandang social media hanyalah media lain di samping media konvensional seperti TV, majalah, surat kabar atau radio. Di media konvensional, biasanya kita akan menggunakannya sebagai tempat untuk menempatkan iklan produk dan berharap ada konversi ke penjualan. Social media is different. Sesuai namanya, social media adalah tempat bersosialisasi. Pada media tersebut, ekspektasi penggunanya adalah bertemu dan berinteraksi dengan teman dan kerabat. Walaupun iklan di facebook menjanjikan targeted advertising dengan iming-iming efektivitas yang lebih tinggi, tetapi berapa dari kita yang memperhatikan iklan di sebelah kanan “wall”? Ini adalah tempat untuk pertemanan, bukan tempat untuk menjual. Masuk ke social media bagi bisnis bukan lagi untuk memasang iklan atau memberi penawaran produk, tetapi untuk bergabung dalam conversation, sebagai teman.

Kedua, bisnis Anda kurang berkomitmen pada kualitas dan customer relationship management. Masuk ke social media tanpa adanya komitmen pada kualitas dan customer relationship, akan menjadi bumerang. Gambaran yang mudah adalah “wall” di fan pages perusahaan akan dipenuhi oleh keluhan pelanggan atau skenario terburuknya, akan dipenuhi oleh sindiran atau umpatan. Berita buruknya di social media, keluhan pelanggan, sindiran dan umpatan tersebut akan dilihat oleh lebih banyak orang.

Ketiga, jika tidak punya perencanaan komprehensif tentang bagaimana bisnis Anda akan menggunakan interaksi di social media. Seperti alasan kedua, bila tanpa perencanaan yang jelas maka keputusan masuk ke social media bisa menjadi bumerang. Banyak yang harus kita persiapkan. Bagaimana kita akan memberi nilai pada kanal percakapan ini kepada para fan atau follower. Bagaimana kita akan merespon setiap percakapan yang terjadi, termasuk setiap inquiry, keluhan atau bahkan umpatan. Bila kita tidak siap merespon, the conversation will go wild. Tanpa nilai yang jelas maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, kanal social media dari bisnis Anda akan segera ditinggalkan. And the conversation is dead. Tanpa perencanaan yang terintegrasi, percakapan yang sudah berhasil diinisiasi tidak akan bisa memberikan nilai bagi perusahaan. Tanpa nilai yang jelas, maka sumber daya perusahaan tidak akan berpaling kepada aktivitas di social media. Selanjutnya hal ini akan berdampak pada konsistensi keterlibatan bisnis dalam social media. Percakapan tidak akan mampu berkembang sehingga kontribusinya pun akan semakin melemah.

Lalu bagaimana seharusnya mengelola social media untuk bisnis. Ini adalah salah satu referensi , khususnya untuk SME (Small Medium Enterprise): Social Media Marketing for SME. Bagaimana menurut Anda? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.

Indah Dewi Pertiwi Against The Chaos

Badai kekacauan menghantam industri musik Indonesia. Hmm… mungkin kalimat tersebut terlalu berlebihan dalam menggambarkan kondisi industri musik Indonesia saat ini. Tapi coba kita ikuti beberapa fakta berikut ini. Menurut pengamat musik Bens Leo, pada tahun 2009 hanya terdapat 15 juta penjualan CD musik Indonesia dengan stiker pajak lunas, kata lain dari CD legal. Kondisi ini menurun drastis dari kondisi pada tahun kejayaan industri musik Indonesia pada periode tahun 2000 – 2005. Bayangkan pada tahun 2004, untuk 1 album saja, misalnya “Bintang di Surga” dari Peter Pan, bisa terjual 3 juta keping CD.

Hal ini berarti pembajakan musik sudah merajalela di Indonesia.  Menurut PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia) penjualan lagu bajakan tahun 2008 sekitar 550 juta unit (kaset dan CD). Kerugian negara yang ditimbulkan bisa mencapai  Rp1,2 triliun dari potensi pajak yang hilang. Kerugian artis dan produser lebih besar, sekitar Rp2,7 triliun. Kondisi ini semakin memburuk dengan semakin mudahnya melakukan penggandaan rekaman musik melalui media digital, dan belum optimalnya penegakan hukum terhadap kasus pembajakan musik. Buktinya dalam empat tahun terakhir rekor penjualan album musik dicapai oleh Cinta Laura “hanya” mencapai 1 juta kopi pada awal 2010.

Tantangan bagi para pelaku industri musik belum berhenti sampai di situ, terutama untuk para artis dan produser. Fenomena pasar yang disebut dengan long tail juga harus menjadi perhatian. Istilah ini dipopulerkan oleh Chris Anderson dalam bukunya yang dirilis tahun 2004. Dengan fenomena pasar yang semakin horisontal dan semakin banyaknya pilihan, statistik distribusi kategori produk menunjukkan bentuk long tail. Artinya total jumlah penjualan item “non-hit” semakin besar, atau penjualan item yang masuk kategori “hit” semakin menurun porsinya. Demikian juga dengan industri musik, yang mulai didominasi distribusi dalam bentuk digital.

Lalu apa yang dibutuhkan untuk bisa sukses dalam industri musik Indonesia. Nah… sangat menarik untuk kita coba ikuti studi kasus pemasaran album musik Indah Dewi Pertiwiyang bertajuk “Hipnotis”.  Sebagai pendatang baru, Indah Dewi Pertiwi cukup fenomenal dalam kondisi industri musik Indonesia yang tertekan. Dalam 5 bulan, album “Hipnotis” terjual 1,2 juta keping. Bagaimana pencapaian tersebut bisa diraih? Jawabannya adalah new wave marketing.

Indah Dewi Pertiwi bersama Keci Music terus memperkuat Clarification atau Positioning dalam konsep new wave marketing. Klarifikasi ini semakin kuat dengan hadirnya video klip terbarunya. Judul video klipnya adalah Hipnotis, versi II. Video klip ini dibuat secara kolosal hasil kerjasama Keci Music, KFC, Telkomsel dan Flexi memperkuat karakter inovatif yang kelihatannya coba dilekatkan kepada Indah Dewi Pertiwi. Saya sendiri tidak ingat kapan terakhir kali melihat video klip kolosal Indonesia sebelum ini. Sehingga hadirnya klip ini cukup memberi warna bagi industri musik Indonesia.

Kolosal? Hal ini menjadi Coding atau diferensiasi melalui penekanan pada kreativitas dan inovasi yang superior. Mari kita cermati: pertama, video klip ini adalah yang pertama di Indonesia  dalam menggunakan teknologi Interactive Augmented Reality. Catatan ini diakui oleh Museum Rekor Indonesia. Sepanjang klip ini, kita memang akan disuguhi sentuhan teknologi tinggi dalam tiap scene. Beberapa scene sepertinya terinspirasi dari film-film yang menggunakan efek spesial berteknologi tinggi. Di antaranya seperti:  video musik Janet Jackson & Michael Jackson: “Scream” yang bernuansa putih, film “Terminator”, “Transformer”, “i,robot” dan “2012”. Kedua, video ini berdurasi 8 menit 15 detik, jauh lebih lama dibandingkan rata-rata video musik yang biasa kita saksikan. Ketiga, banyak penari terlibat dan penampilannya mendapatkan porsi yang cukup signifikan. Indah Dewi Pertiwi sempat berlatih menari dan cara perform kepada Luam Keflezgy selama dua minggu di Amerika Serikat. Luam adalah koreografer yang sempat melatih Rihanna, Beyonce dan Kanye West.  Keempat, setting lokasinya pun berada di beberapa tempat eksotis di Indonesia, antara lain Pantai Tanjung Aan Lombok, Air Terjun Sendang Gile di Lombok Tengah, di atas sebuah kapal di Laut Jawa, beberapa tempat di Jakarta dan kota Ambarawa. Ambarawa adalah tempat terjadinya pertempuran bersejarah mempertahankan kemerdekaan melawan pendudukan Sekutu dan NICA: Perang Palagan. Dalam video ini Indah Dewi Pertiwi juga digambarkan tengah bernyanyi di tengah suasana perang dengan peluru yang berseliweran serta beberapa ledakan bom. Kelima, biaya pembuatannya yang dikabarkan mencapai kisaran 1 miliar rupiah.

Dalam peluncurannya pun diwarnai dengan nuansa new wave marketing yang kental. New media, seperti blog dan social media menjadi preferensi utama. Antara lain diwujudkan dalam blogging contest bekerjasama dengan blogdetik. Kontes ini juga mememanfaatkan social media seperti twitter. Sensasi video klip kolosal yang diciptakan diharapkan mampu menjadi amunisi dalam membangkitkan buzz atau conversation di berbagai social mediaCo-creation dalam membuat review video klip tersebut adalah usaha untuk semakin membuat Character atau personal brand Indah Dewi Pertiwi semakin relevan dengan target marketnya. Sebelumnya, pada awal Januari Hipnotis Dance Competition pun digelar untuk mempopulerkan single keduanya. Penjualan album secara langsung melalui 390 restoran KFC di seluruh Indonesia dilakukan untuk bisa langsung menjangkau komunitas yang relevan. Cara ini juga efektif mengantisipasi maraknya pembajakan musik di Indonesia dan meningkatkan margin keuntungan. Apalagi toko-toko musik mulai bertumbangan, bahkan juga pengusung nama-nama besar, seperti Disc Tarra atau Aquarius.

Bagaimanakah pendapatmu tentang video klip tersebut? Mampukah menjadi salah satu amunisi penting dalam mendobrak chaos dalam industri musik Indonesia? Please share with ushttp://kopicoklat.com dan bersama belajar marketing melalui studi kasus marketing atau studi kasus pemasaran Indonesia dan internasional.