Minggu malam kemarin (06/09) saya sempat mengunjungi salah satu dari sekian banyak mall di kota Bandung, yaitu Paris van Java ( www.paris-van-java.com ). Di sini saya menemukan hal yang menarik kita bahas untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas. Konsep mall tersebut cukup unik, berbeda dari konsep mall kebanyakan. Arsitektur bangunan didesain bertemakan bangunan dan ruko Eropa. Di Ground level, koridornya merupakan ruang terbuka dengan beberapa burung merpati beterbangan bebas di sekitar kandang yang dipasang di pohon-pohon di tengah koridor tersebut. Jalan di koridornya pun didesain khusus dengan konsep alami disusun dari bebatuan dan kayu. Beberapa anchor tenants yang juga menjadi daya tarik mall tersebut antara lain Blitz Megaplex, Carrefour, Gramedia dan Sogo.
Diferensiasi dengan konsep open air alami dan tema bangunan dan koridor dengan desain Eropa tersebut membuat mall yang diresmikan bulan Juli 2006 ini setiap weekend tidak sepi pengunjung. Bahkan hampir bisa dipastikan akan terjadi kemacetan lalu lintas di Jalan Sukajadi – tempat mall tersebut berada – pada setiap weekend karena banyaknya kendaraan pengunjung yang keluar masuk mall.
Saya sudah cukup lama tidak mengunjungi mall ini hingga kemarin malam, dan saya melihat salah satu tambahan fasilitas yang cukup menarik. Di posisi depan mall, dekat dengan lahan parkir utama, dibangum sebuah lahan berbentuk persegi panjang, mungkin dengan ukuran sedikit lebih besar dari lapangan basket, tetapi tanpa garis lapangan dan tanpa ring basket. Lahan open-air tersebut dikelilingi oleh “tempat duduk” berupa tangga tiga level. Level tangga paling atas selevel dengan Ground floor mall. Sehingga lahan utamanya mempunyai level dibawah ground level, hampir menyerupai kolam, tetapi tanpa air. Karena saya sampai di lokasi tersebut sudah mendekati waktu tutup mall, saya belum sempat mencari informasi, apakah rencana pengelola mall dengan lahan tersebut, akan dijadikan kolam atau atrium.
Tetapi yang terjadi pada malam hari itu cukup menarik. Saat pertama kali saya beserta keluarga duduk di “tempat duduk” di lahan tersebut baru ada sekitar lima orang. Tak lama kemudian tanpa saya sadari lahan tersebut telah penuh dengan pengunjung mall yang sekedar duduk-duduk melepas lelah setelah berbelanja, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Tampak beberapa kelompok pengunjung yang duduk di tangga mengelilingi lahan tersebut. Hanya beberapa anak kecil yang tampak berlarian di tengah lahan tersebut.
Tetapi hanya beberapa menit setelah itu, lahan tersebut berubah menjadi “panggung”. Beberapa pemuda berlatih Capoeira, bela diri artistik asal Brasil. Beberapa anak kecil dari beberapa kelompok pengunjung mengadakan lomba lari dari ujung “panggung” ke ujung yang lain. Beberapa orang mulai bergaya seperti model di tengah bidikan kamera digital teman-temannya. “Tontonan” dadakan kreasi para pengunjung mall tersebut mendapat respon yang baik dari pengunjung yang duduk mengitari “panggung“ tersebut. Interaksi dalam masing-masing kelompok pegunjung mulai berbaur, berubah menjadi perbincangan antar kelompok, sehingga tampak bahwa batasan antar kelompok pengunjung mulai susah dilihat.
Lahan yang datar dan tak banyak asesoris tersebut berubah menjadi media co-creation dan conversation, many to many antar pengunjung mall Paris van Java. Sebuah media yang sangat potensial untuk menjadi “kendaraan” praktek many to many marketing atau new wave marketing. Yang diperlukan tinggallah cara untuk memanfaatkan media dan “memimpin” crowd yang tercipta di media tersebut. Kejadian yang kemungkinan besar tidak disengaja ini bisa membantu kita untuk belajar marketing dan sharing marketing ideas, khsusunya dalam memahami new wave marketing.
Tetapi apakah lahan tersebut memang didesain sebagai media many to many marketing? Tepatkah lahan tersebut sebagai media potensial untuk implementasi many to many marketing? Bagaimanakah tanggapan Anda? Please share your marketing ideas @ this blog http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.