Revolusi Layar Kaca

Dalam era pemasaran vertikal, media broadcast menjadi salah satu primadona. Slot iklan di televisi atau radio pada jam-jam yang disebut dengan “prime time” mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Efektivitas yang diharapkan dari promosi yang dipasang pada saat prime time pun begitu tinggi. Program televisi unggulan dengan rating tinggi pun sangat erat hubungannya dengan alokasi waktu saat prime time. Teknologi pada media yang berkarakter komunikasi satu arah menjadi salah satu faktor penentu kuatnya pengaruh prime time. Layar kaca pada ribuan dan bahkan jutaan pemirsa televisi menampilkan sajian yang sama, menyebabkan promosi yang ditampilkan pada prime time bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan pemirsa, baik yang merupakan target pasar maupun yang bukan target pasar dari produk terkait.

Tetapi dengan perkembangan teknologi sekarang, ada satu hal yang berubah. Kini sajian program televisi yang hadir di masing-masing layar kaca pemirsa bisa berbeda-beda walaupun pada stasiun televisi dan waktu yang sama. Teknologi IP-TV salah satunya, mempunyai fitur TV on Demand, memungkinkan pelanggannya untuk memilih menonton acara yang disukainya pada waktu yang ditentukan sendiri. Teknologi siaran televisi digital yang saat ini sedang trial di Jakarta, juga mempunyai fasilitas merekam siaran yang dipilih dengan cara sangat mudah. Kondisi ini menyebabkan prime time semakin lurang efektif. Lunturnya kesaktian prime time pada media broadcast ini juga diakui oleh Presiden CNN Jon Klein pada waktu itu : “ …. it’s hard to say there’s one particular daypart or hour of the day that matters more”.

Berkembangnya “new media” seperti online social media (facebook, twitter, friendster, hi5, dll) semakin membuat media broadcast tradisional semakin kehilangan kesaktiannya. Bagi kita yang belajar marketing sudah banyak membaca artikel atau buku yang menyajikan studi kasus mengenai kesaktian social media tersebut dalam membangkitkan buzz atau words of mouth. Dalam konsep new wave marketing dari Hermawan Kartajaya, dikenal dengan istilah many to many marketing atau era horizontal marketing. Kemudahan dalam mengakses online social media di manapun kita berada dengan semakin menjamurnya Blackberry, iPhone atau smartphone yang lainnya semakin membuat banyak pemirsa televisi yang beralih ke media baru (baca artikel sebelumnya Kebut-kebutan Blackberry vs iPhone. Tumbuh pesatnya smartphone ini juga dipicu oleh kompetisi yang semakin ketat, seperti diungkap pada artikel Blackberry Baru 500 ribu-an, Tertarik?.

Fenomena ini juga diikuti dengan mulai lunturnya kesaktian rating. Content dengan rating tinggi tidak lagi bisa mendominasi seperti dahulu. Chris Anderson dalam bukunya “The Long Tail” menunjukkan kepada kita bahwa beberapa produk atau content dengan demand yang rendah atau mempunyai volume penjualan yang rendah, secara kolektif bisa bersaing atau bahkan melampaui market share dari produk atau content best seller atau box office. Kondisi ini tentunya dipicu antara lain oleh berkembangnya media yang lebih interakti, terutama yang berbasis internet.

Hasil riset The Nielsen Company pada tahun 2009 menunjukkan bahwa game console PlayStation 3 dan Xbox 360 pun berperan mengurangi jam menonton televisi, termasuk pada prime time. Dari hasil survey, para gamers lebih banyak menggunakan waktunya untuk bermain game daripada menonton televisi pada prime time. Survey Nielsen pada bulan Mei 2008 juga menemukan bahwa 6 juta pemirsa televisi di Amerika Serikat pada prime time telah beralih ke media lain. Sebagian dari 6 juta pemirsa tersebut masih menonton acara yang sama tetapi telah memilih waktunya sendiri melalui TiVo atau digital video recorder lainnya, streaming video di internet atau cable video on demand.

Kondisi ini semakin menambah keyakinan perlunya mulai fokus pada mengelola “conversation” dalam istilah New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya. Dalam conversation, peran social media dan komunitas menjadi penting, dibandingkan media vertikal yang pada era sebelumnya mendominasi pengelolaan promosi. Bagaimana mengelola conversation? Sekarang telah cukup banyak referensi dan buku marketing yang membahasnya, atau Anda sudah membaca atau mengimplementasikannya? Please share with us, atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Sensasi Komunikasi Pemasaran Pringsewu Restaurant

Bagi yang sering traveling melalui jalan darat di jalur pantura atau jalur selatan Jawa, pasti akan banyak menemukan banyak pilihan tempat makan. Bagi orang yang sedang traveling, tempat makan bukan hanya diperlukan untuk tempat makan pagi, siang atau malam, tetapi juga merupakan momen untuk istirahat, ke kamar mandi / kamar kecil, sholat bagi yang muslim, cek kondisi kendaraan atau bahkan sekaligus tempat rekreasi untuk melepas kebosanan selama perjalanan. Beberapa kebutuhan sekaligus dari konsumen tersebut memerlukan komunikasi yang baik dari restoran atau tempat makan kepada target marketnya, yaitu terutama para traveler.

Pilihan cara mengkomunikasikan positioning dan diferensiasi kepada traveler tersebut cukup menantang antara lain karena persaingan yang cukup ketat dan beragamnya karakter dan kondisi traveler. Diperlukan cara komunikasi yang mampu membangun kepercayaan konsumen dan menciptakan keberadaan dan kredibilitas di benak konsumen di sepanjang jalur perjalanan. Bagi pengguna kendaraan pribadi, sebagian belum merencanakan tempat untuk berhenti, beristirahat dan makan dalam menempuh perjalanan. Sebagian lagi cenderung memilih tempat makan berdasarkan kebiasaan, pada tempat yang sudah dikenal, karena konsumen pasti tidak akan hafal atau mengenal dengan baik tempat-tempat makan di sepanjang jalur perjalanan. Hal ini menyebabkan sebagian traveler lebih memilih tempat yang sudah dikenal dan menurutnya relatif kredibel sesuai kebutuhan / keinginannya daripada mencoba tempat baru yang belum tentu sesuai selera atau fasilitas yang belum tentu lengkap dan nyaman.

Tantangan tersebut dicoba dijawab oleh Pringsewu Restaurant yang dikelola oleh PRSG (Pringsewu Restaurant Group) yang berpusat di Purwokerto dengan menciptakan gaya komunikasinya sendiri. Pertama kali saya menyaksikan gaya komunikasi Pringsewu Restaurant adalah saat menempuh perjalanan di jalur selatan Jawa, yaitu Pringsewu Restaurant yang berada di dekat perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Puluhan kilometer sebelum lokasi resturant, kita sudah bisa menemukan papan reklame pertama yang berisi informasi lokasi Pringsewu. Setelah itu selama perjalanan mengarah ke lokasi resturant kita bisa melihat puluhan sampai ratusan papan reklame Pringsewu yang khas berwarna dominan kuning. Informasi yang disampaikan berupa positioning dan diferensiasi Pringsewu lengkap dengan jarak menuju lokasi restaurant. Informasinya cukup beragam dari menu utama atau menu unggulan, fasilitas atau layanan dari Pringsewu yang unik, misalnya Magic Box, pijat elektrik, kamar mandi bersih, musholla dan lain-lain. Komunikasi pemasaran ini mendapatkan penghargaan rekor dari MURI dengan Nomor MURI No. 2108 untuk kategori “Papan Reklame Terpanjang”, yaitu 116 buah sepanjang 88 kilometer, khususnya untuk Pringsewu Tegal. Sensasi yang diciptakan melalui pengakuan dari MURI ini akan mampu meningkatkan “buzz” tanpa harus membuat kontroversi (see Miyabi Marketing)

Walaupun begitu banyak pesan dalam ratusan reklame di puluhan kilometer, Pringsewu tampak fokus pada mengkomunikasikan competitive advantage-nya, antara lain pada aspek service excellence dan menu unggulannya. Fokus ini sangat berguna untuk mencegah “confused positioning” karena terlalu menekankan kepada banyak atribut pada produk atau layanannya. Desain komunikasinya fokus pada aspek rational yang menyampaikan keunggulan produk dan layanan, serta pada aspek moral dengan munculnya beberapa pesan layanan masyarakat bagi pengguna jalan. Belum terlihat secara jelas pendekatan emosional dalam ratusan reklame tersebut.

Berbeda dengan tempat makan yang lain yang relatif hanya menempatkan beberapa reklame pada lokasi di sekitar restaurant, maka Pringsewu membangun kredibilitasnya pada sasaran pasar para traveler dengan intensitas komunikasi yang tinggi dalam bentuk sederhana yang mudah dibaca dan dimengerti. Pesan yang sederhana dengan intensitas tinggi ini sangat penting, mengingat sasaran pasar yang bergerak di sepanjang jalur pantura atau selatan Jawa. Beragam informasi keunggulan yang menjadi positioning dan diferensiasi juga menjadi mungkin untuk disampaikan sesuai dengan beragamnya atribut produk / layanan tempat makan yang menjadi bahan pertimbangan traveler seperti diceritakan di awal tulisan ini. Beragam atribut ini memang agak susah disampaikan dalam satu reklame besar kepada traveler yang bergerak, apalagi untuk membangun kredibilitas.

Untuk meningkatkan customer experience, Pringsewu juga aktif membuat event. Pada saat hari Ibu tahun ini, Pringsewu memberikan layanan istimew kepada ibu-ibu yang datang berkunjung, dengan memberi bunga dan kue tart. Konsumen yang berulang tahun pada saat berkunjung ke Pringsewu juga mendapatkan layanan khusus antara lain berupa seremonial, souvenir atau birthday beverage gratis. Beberapa layanan lain pun dipersiapkan untuk memperkuat diferensiasinya, seperti pertunjukan sulap gratis table to table.

Cukup menarik, cara Pringsewu menyiasati kondisi sasaran pasarnya untuk membangun kredibilitasnya di benak pelanggan. Akan lebih menarik kalau Pringsewu mulai memanfaatkan media horizontal untuk membangun komunitasnya, karena traveler di jalur pantura dan selatan Jawa merupakan pasar yang potensial, terbukti dari posting sebelumnya Persaingan Posko Layanan di Jalur Mudik.

Atau ada pendapat lain? Share your marketing ideas di http://kopicoklat.com dan belajar marketing bersama di blog ini.

Share