Di bagian ketiga ini, hadir cerita di warung kopi yang bisa menjadi inspirasi kehidupan dan studi kasus pemasaran.
Akuarium di Pinggir Jalan
Masih pagi, warung kopi baru saja buka. Dari luar, tampak bagian dalam warung kopi dari sela sticker kaca yang bertuliskan nama tempat itu. Beberapa baris meja dan kursi yang masih kosong, diterangi sebaris lampu hias, cahayanya berwarna putih kekuninggan berpendar ke segala arah. Musik pagi mulai terdengar membangkitkan suasana hati. Dua orang tampak sudah sibuk di balik meja counter layanan. Entah apa yang mereka kerjakan.
Sejenak kemudian, pintu depan dibuka dari luar. Seseorang masuk dengan pelan-pelan. Pakaiannya sederhana, tas ransel lusuh di punggungnya. Topi yang tampak sudah lepas jahitannya di sana-sini, melindungi bagian kepalanya dari panas terik Jakarta. Tangan kanannya memegang erat tumpukan koran dan majalah, barang dagangannya. Maju ragu-ragu, langkahnya tampak terasa berat, mendekati counter layanan dekat mesin kasir.
Lalu, terdengar suaranya menyapa barista di seberang counter, “Mas, ada lowongan pekerjaan? Emm….. ini untuk anak saya. Dia lulusan SMA, tapi masih nganggur. Sekarang kerjaannya cuma main aja… sama main hape”.
Selanjutnya terdengar beberapa baris dialog antaranya dan barista yang berbagi pengalaman mengikuti pelatihan menyeduh kopi dan menjadi karyawan di tempat itu. Sang barista tampak sabar menjelaskan semuanya dan sempat mengarahkan tangan ke arah jalan, “…mungkin ada lowongan di cafe seberang jalan, pak”.
Gurat dan lekuk di wajah bapak penjual koran tidak mampu menahan semangatnya. Seperti akuarium di pinggir jalan, yang mampu membatasi gerak ikan tapi tidak mampu menahan keindahannya, menumbuhkan kekaguman di hati dan pikiran orang-orang yang melintas.
Anaknya itu, seharusnya melihat ini baik-baik, dan menghancurkan akuariumnya sendiri, lalu membebaskan semangat, imajinasi, keringat, darah dan karyanya.
Barista Penyeduh Semangat
Di tempat yang sama, barista yang sama, uap yang menghiasi ruangan dari mesin kopi yang sama, pada kehangatan pagi dan kopi yang berbeda.
Kembali pintu depan terbuka, kali ini dengan cepat, tegas, buru-buru. Seseorang berjaket hijau dengan lambang aplikasi ojek online di punggungnya, masuk tanpa ragu menuju counter. Masih buru-buru, dia segera menyodorkan ponselnya ke barista yang belum sempat berkata-kata untuk menyambutnya. Orderan.
Secepat itu juga, setelah menjelaskan pesanannya, dia membuka pintu depan lagi. Kali ini dibukanya dari dalam, dan segera keluar, duduk di depan warung kopi menunggu pesanannya selesai. Mungkin sambil mengumpulkan rencana, tenaga dan semangat untuk nanti mengantarkan pesanan.
Tidak kalah sigap, barista segera sibuk, tidak mau tahu matahari belum sepenuhnya menghangatkan udara pagi Jakarta. Tapi, di tengah kesibukannya, tiba-tiba dia membawa secangkir kopi, lengkap dengan sebayang uap di atasnya, dan menaruhnya dengan rapi di salah satu meja di bagian depan. Meja yang kosong. Aneh.
Seperti cerita silat, jurusnya belum selesai, dia bergegas melangkah keluar menghampiri orang berjaket hijau itu. Tidak lama, keduanya masuk kembali, dengan senyumnya masing-masing. Pengemudi ojek online itu lalu duduk di meja depan yang tidak lagi kosong, karena ada kopi di atasnya. Sambil menunggu pesanan, sekarang dia bisa menunggu di ruangan sejuk dan menikmati kopi gratis.
Ternyata pagi itu, sang barista tidak hanya menyeduh kopi. Dia juga menyeduh semangat.
Betul sekali, sebagai studi kasus marketing, itu bisa disebut sebagai insentif untuk saluran distribusi. Insentif yang diberikan kepada saluran distribusi untuk meningkatkan motivasi dan kinerja. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan compassionate marketing. Pemasaran dengan hati dan ketulusan.
Tulisan ini adalah bagian ketiga dari tulisan “Belajar Tentang Hidup dari Angkot dan Warung Kopi”. Bagian pertama bisa ditemukan di http://kopicoklat.com/2019/11/belajar-tentang-hidup-di-angkot-dan-warung-kopi-1/ dan bagian kedua di https://kopicoklat.com/2019/11/20/belajar-tentang-hidup-di-angkot-dan-warung-kopi-2-kisah-pemasaran/.